Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Lakpesdam Sampang Minta Ormas Anti-Pancasila “Taubat Kebangsaan”

Sampang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kabupaten Sampang, Jawa Timur meminta ormas yang tidak berasaskan Pancasila agar melakukan “taubat kebangsaan”.

Lakpesdam Sampang Minta Ormas Anti-Pancasila “Taubat Kebangsaan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Sampang Minta Ormas Anti-Pancasila “Taubat Kebangsaan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Sampang Minta Ormas Anti-Pancasila “Taubat Kebangsaan”

Pernyataan itu di sampaikan Ketua Lakpesdam NU Kabupaten Sampang Faisol Ramdhoni Rabu (13/12) saat menyikapi keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak judicial review (hak uji materil) tentang Perppu No. 2 tahun 2017 yang dilakukan sejumlah ormas.

Menurut Faisol, dengan keputusan MK, Selasa (12/12), itu, maka pemerintah berhak untuk membubarkan dan melarang ormas yang yang tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

"Keputusan MK merupakan kemenangan Rakyat Indonesia dalam menjaga Pancasila sebagai dasar negara dan mempertahankan NKRI," katanya. 

Dengan demikian, ia mengimbau ormas terlarang menurut Perppr Ormas itu agar melakukan "taubat massal kebangsaan" serta mengucapkan ikrar mengakui Pancasila dan kembali ke NKRI. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Mereka harus melakukan Ikrar, janji setia untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara dan NKRI sebagai bentuk asas negara yang final."

Pihaknya mengaku akan mengawal terus putusan MK tersebut dan akan melaporkan ke pihak-pihak terkait.

"Kami akan melaporkan ke pihak pihak terkait bila nanti di lapangan masih ditemukan aktivitas-aktivitas ormas anti-Pancasila itu," tegasnya. (Redo/Abdullah Alawi)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Habib, News Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 09 Februari 2018

Aplikasi Android untuk Hisab Waktu Shalat

Malang,Rohis Tegal - Rohani Islam. Ponsel pintar atau smartphone berbasis android makin digemari pengguna telepon seluler di tanah air. Berbagai vendor seakan terus berlomba menjajakan produknya masing-masing untuk memanjakan para penikmat gadget canggih ini.

Selain bermanfaat untuk hubungan jara jauh, fungsi smartphone juga memberikan fasilitas kemudahan untuk menagakses internet, jaringan media sosial dan beragam aplikasi lainnya.

Aplikasi Android untuk Hisab Waktu Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Aplikasi Android untuk Hisab Waktu Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Aplikasi Android untuk Hisab Waktu Shalat

Di antara ribuan aplikasi yang berkembang, ada beberapa aplikasi berbasis android yang terkait dengan pelaksanaan ibadah umat Islam seperti aplikasi waktu shalat dan arah kiblat. Namun sayangnya, aplikasi yang tersedia kadang-kadang tidak sesuai dengan standar perhitungan waktu shalat dan arah kiblat yang benar. Sehingga justru aplikasi itu dikhawatirkan bisa menyesatkan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Atasa dasar itulah, Pimpinan Wilayah Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (PW LFNU Jatim) menggagas pelatihan yang bertajuk Kaderisasi Ulama Hisab dan Rukyat angkatan XV dengan materi utama pembuatan apliakasi perhitungan waktu shalat berbasis android.

Pelatihan ini dilaksanakan pada Sabtu-Ahad (17-18/5) di Ponpes Darul Falah Dadaprejo, Junrejo, Batu.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kami turut prihatin banyak aplikasi berbasis android terkait dengan waktu shalat yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu falak. Makanya kami mengadakan pelatihan ini agar makin banyak ahli di bidang ini dan memberikan kontribusi untuk menciptakan aplikas-aplikasi baru yang benar,” kata Ketua PW LFNU Jatim KH Shofiyulloh, ST, MSi.

Dalam kesempatan tersebut, terdapat sekitar 70 peserta yang hadir dari berbagai daerah di Jatim. Mereka adalah utusan dari para pengurus LFNU se-Jatim, santri pondok pesantren, Kemenag se-Jatim dan para dosen ilmu falak di sejumlah perguruan tinggi. Sedangkan untuk memberikan materi berwawasan teknologi ini, PW LFNU Jatim mengundang Ustadz Tolhah Ma’ruf dari Pasuruan. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam News, Khutbah Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 06 Februari 2018

Kepada IKA PMII, Bupati Banyumas: Kalian adalah Emas bukan Tanah

Banyumas, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sebuah emas tidak bisa muncul begitu saja dari tanah, tapi harus melalui beberapa proses yang panjang dan berat. Tahap demi tahap harus dilaluinya, setelah itu baru terbentuklah sebuah emas.?

Demikian disampikan Bupati Banyumas, Ahmad Husein pada saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan Ikatan Keluarga Alumni Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Cabang Kabupaten Banyumas periode 2017-2022, Sabtu malam (13/5) di Pendopo Kabupaten Banyumas.?

Husain menggambarkan, semua kader IKA PMII adalah tanah yang nantinya akan menjadi emas. Emas yang dimaksudkan Husain adalah kesuksesan.

Kepada IKA PMII, Bupati Banyumas: Kalian adalah Emas bukan Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepada IKA PMII, Bupati Banyumas: Kalian adalah Emas bukan Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepada IKA PMII, Bupati Banyumas: Kalian adalah Emas bukan Tanah

"Namun tidak mudah untuk menjadi emas, harus malaui ujian yang panjang, kader-kader IKA-PMII harus kuat menghadapi ujian demi ujian tersebut," katanya.?

Husain juga menjelaskan, tidak semua tanah bisa menjadi emas. Ada yang menjadi tembaga, aluminium, besi dan sebagiannya.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Hanya tanah yang bagus yang bisa menjadi emas, hanya kader yang kuat dan cerdas yang bisa sukses," lanjutnya.

Selain itu, Husain juga berharap kepada kader IKA-PMII yang telah dilantik untuk bisa berperan aktif memajukan perekonomian desa tempat tinggalnya. "Kembangkan ide-ide kemajuan ekonomi kalian didalam lingkungan masyarakat," jelasnya.

"Tunjukan bahwa kalian adalah emas, bukan tanah," tegas Husain.? (Kifayatul Ahyar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam News, Humor Islam, IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 31 Januari 2018

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan

Sejak didirikan tahun 1926, Nahdlatul Ulama langsung menyebar ke banyak wilayah di Nusantara. Para ulama tidak mengalami kesulitan berarti mengajak orang-orang untuk menjunjung tinggi Islam dan berjuang di Nusantara melalui NU. Sebab, para ulama sudah menjalin hubungan melalui para guru atau pesantren.  

Setelah tujuh tahun berdiri, pada tahun 1933 NU sudah berkembang di Kalimantan Timur. Setidaknya bisa dilacak di Kabupaten Brau, 12 jam perjalanan darat ke sebelah utara dari Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur.

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan

Menurut Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, faktor utama penerimaan Nusantara terhadap NU adalah karena jauh sebelum NU lahir dalam bentuk jam’iyyah, ia terlebih dahulu ada dan berwujud jama’ah yang terikat kuat oleh aktivitas sosial keagamaan yang mempunyai karakter sama.   

Untuk mengetahui perkembangan NU Kaltim terkini, Abdullah Alawi dari Rohis Tegal - Rohani Islam berhasil mewawancari Ketua PWNU Kalimantan Timur KH Muhammad Rasyid (53 tahun) di sela-sela Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2012 di pesantren Kempek Cirebon paruh September lalu.  

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bapak bisa cerita sejarah NU di Kaltim?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kita, generasi belakangan tidak terwarisi satu dokumen yang pasti, kapan NU, secara organisasi, berdiri di Kalimantan Timur. Cuma ada data yang saya temukan di Brau itu, salah satu kabupaten, NU sudah ada sejak tahun 1933. Apakah Brau itu lebih duluan dari Samarinda, wallahu ‘alam. Yang di Brau itu dibawa dari Banjarmasin oleh dzuriyah keempat Muhammad Arsyad Al-Banjari. Ia membawa NU ke Brau, kemudian menjadi mufti kerajaan Gunung Tabur di Brau. Itu di utara.

Berapa jauh dari Samarinda?

Perjalanan pesawat terbang satu jam. Kalau darat mungkin 12 jam. Di Samarinda, yang pertama kali secara resmi adalah KH Abdullah Marisi. Beliau Rais pertama wilayah Kalimantan Timur. Kalau ini ada dokumennya. Tapi saya lupa, nanti bisa kita akurkan.  Apakah bersamaan dengan Samarinda? Wallahu ‘alam. Tapi yang kita lihat KH Abdullah Marisi itu. Tetapi tidak berarti semua kabupaten dan kota bisa berdiri secara periodik, walaupun amaliyahnya iya, NU, Aswaja. 

Tapi struktur secara periodik, tidak berarti itu berjalan dengan baik. Keculi pada10 tahun terakhir atau 15 tahun terakhir, cabang-cabang sudah terbentuk semua secara periodik. Artinya, sudah sesuai dengan ketentuan. 15 tahun terakhir. Itu artinya setalah Reformasi.

Penyebabnya apa?

Karena kepengurusan sudah bisa dipilah antara kepengurusan NU dan kepengurusan partai. Dulu kan selalu sejalan antara kepengurusan NU dan partai politik. Maka praktis, 15 tahun yang lalu, struktur kita sudah terbenahi dengan bagus sampai pada tingkat cabang. Sampai pada tingkat kecamatan mungkin 10 tahun terakhir. Sekarang kita sudah masuk ke ranting-ranting. Oke, itu strukturnya.

Bagaimana dengan programnya?

Program NU Kalimantan Timur, tampaknya kita lebih banyak pada konsolidasi supaya terbentuk secara periodik, tidak berarti langsung mulus, karena kelemahan kita adalah pada tingkat SDM. Ada juga problem trauma politik. Selama Orde Baru kan tidak ada pegawai yang berani menamapakkan NU-nya, dan tidak ada pengusaha, aghniya, yang berani terang-terangan mengaku NU karena itu kan berarti mengalami satu kesulitan. 

Ini yang menjadi kendala kita dalam pembentukan kepengurusan NU. Orang yang status sosialnya tinggi akan merasa kesulitan kalau jadi pengurus NU. Ini baru bisa menjadi longgar setelah kembali ke khittah. Baru terasa bahwa sudah ada yang berani mengaku saya NU. Kalau sebelumnya, diam-diam.

Pengaruh Khittah NU?

Iya, pengaruhnya dari situ. Lima tahun setelah khittah, sudah berani pegawai mengatakan “saya NU”. Jadi, memang sangat kuat Pak Harto itu mengeliminir potensi NU. 

Program PWNU yang lain?

Pendidikan kita memang banyak berdiri, tapi tidak memakai nama NU. Saya kira sama dimana-mana, di sini berdiri pondok, di sana berdiri pondok. Itu tokoh-tokoh perorangan, rata-rata kiainya NU. Salah satu contoh misalnya, sekolah yang sangat bagus sekarang di Samarinda adalah Bunga Bangsa. Itu sudah go internasional. Ini miliknya mantan Ketua PWNU. Bukan punyanya NU. Nah, periode yang terakhir, 2008 sampai nanti berakhir tahun 2013 meminta semua cabang memfungsikan lembaga Ma’arif. 

Dan sekarang, dalam periode inilah baru berdiri lembaga-lembaga pendidikan Ma’arif di Kalimantan Timur, walaupun tidak semua kabupaten mampu. Tapi ada, misalnya di kabupaten Nunukan, di wilayah perbatasan sudah berdiri Aliyah. Sudah langsung Ma’arif NU. Di Brau itu ada 3 SMK Ma’arif NU. Dan masyarakat menyambut lulusannya karena dia pariwisata, pertanian. Begitu. 

Di Balikpapan juga sudah berdiri SMK Ma’arif NU. Cuma yang di Balikpapan ini masih numpang di pondoknya Rais Syuriyah. Di Kutai Timur sudah berdiri SMK Ma’arif. Jadi kita mengarahkan ke pendidikan-pendidikan SMK. Kenapa bukan Aliyah? Itu kurang pasarnya. Tapi kesulitannya SMK adalah SDM tenaga pendidik.

Di Samarinda justru mulai dari bawah. Mulai dari RA, TK-nya Muslimat, tapi namanya juga bukan Muslimat. Mereka memakai An-Nisa, itu banyak. Sama dengan di Brau. Itu ada 20 TK. Itu semua punya Muslimat. Kenapa tidak memakai nama Muslimat? Itu karena dari dulu didirikan seperti itu. Juga merupakan satu strategi supaya tidak terlalu kentara NU-nya.

Ya itu tadi karena kondisinya NU pada zaman Orde Baru. Jadi sebelum periode ini, (Reformasi), tidak ada yang memakai nama Ma’arif. Nah, sekarang, di Samarinda sudah ada 13 lembaga Ma’arif. Hanya baru sampai pada tingkat MTs. Dari TK, MI, MTs itu sudah berjumlah 13. Itu pendidikan.

Kemudian pada periode ini kita sudah mampu mendirikan fisiknya, operasional belum; adalah rumah sakit bersalin Muslimat. Belum diresmikan karena bangunannya dirancang tiga lantai, baru selesai dua lantai dan izinnya memang belum keluar. Itu di bidang kesehatan sudah ada itu, rumah sakit bersalin Muslimat NU di Samarinda.

Lalu kemampuan cabang-cabang dalam menampakkan eksistensinya ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan sekretariat yang cukup bagus. Dengan nilai bangunan yang cukup tinggi karena kita sudah bisa membuat akses NU kepada para kepala daerah. Di Kutai Kartanegara, kabupaten yang sangat kaya itu sudah berdiri gedung sekretariat berlantai 3 dan nilainya besar, sekitar 4 milyar. Dari bupati. Jadi kita sudah punya akses seperti itu. Di Bontang juga sudah berdiri yang bagus berlantai tiga. Kemudian Balikpapan sedang membangun, mungkin baru mencapai 80%.

Tapi kenapa lambat? 

Karena mereka membangun terlalu besar. Mereka membuat empat lantai. Di Pasir dua lantai. Di Samarinda akan dibangunkan oleh walikota dengan nilai yang besar dengan syarat menyediakan tanah. Kendalanya di Samarinda tanah. Kenapa? Bangunan-bangunan ini kan wakaf, Kutai itu wakaf, Pasir, wakaf, Balikpapan wakaf. Di Samarinda tidak ada wakaf karena harga mahal.

Nah, itu perkembangannya. Jadi, saya merasa, insya Allah lima tahun lagi, periode ke depan, akan makin banyak kelihatan semakin baik. Jadi, kalau sekarang membenahi struktur, membenahi sarana, kemudian pendidikan. Mungkin lima tahun ke depan sudah lebih mengarah kepada operasional. Maka akan lebih semarak kegiatannya. Januari nanti kita akan konferensi wilayah. Mudah-mudahan kepengurusan yang akan datang,lebih bagus dari yang sekarang. Itu yang kita harapkan.

Apa Kendala-kendala dalam melaksanakan program?

Ada kendala yang sangat dominan yang saya rasa sekarng ini adalah kita tidak lagi memiliki satu semangat yang tingkat ikhlasnya tinggi. Kita sudah terbawa arus "kota" termasuk di kalangan pengurus. Itu kendala yang sangat kita rasakan karena tarik-menarik kepentingan dengan para politisi. Dan semua mengaku NU. Dan kita terbiasa kalau ada kegiatan. Itu yang menjadi masalah.

Upaya untuk menanggulangi itu apa?

Saya kira melalui kaderisasi, pendidikan-pendidikan. Itu yang mungkin harus dilaksanakan periode yang akan datang. Kaderisasi untuk memahamkan bahwa berjuang di NU itu harus lebih ikhlas. Saya sangat merasakan itu. Sulit. Kita dulu biasa bekerja, bergerak, tetap dengan ikhlas. Sekarang kita bekerja dengan memikirkan biayanya mana? Uang jalannya mana? Itu kendala yang paling berat.

Yang kedua, perjuangan kita menjaga netralitas dari berbagai kepentingan ingin menarik NU ke dalam politik. Semua ingin mengatakan NU. Sekarang netralitas itu harus kita jaga. Jangan sampai kepengurusan nanti terpecah karena misalnya ada dua kubu dalam tubuh organisasi yang mendukung dua calon. Ini harus kita jaga betul dengan satu konsekuensi. Konsekuensinya adalah, karena semua orang yang ingin mendekati kita itu adalah ingin memanfaatkan kita. Dan kalau dia berhasil, kita diperhatikan. Kalau dia tidak berhasil, kita tidak diperhatikan. Nah, sekarang kalau kita netral, tidak ada yang menyambut seperti itu. Maka harus ada kemandirian, termasuk dalam pembiayaan.

Ada upaya ke arah itu?

Ada. Seperti yang kami lakukan adalah membentuk badan wakaf uang Nahdlatul Ulama. Sudah berjalan baru setahun lebih.

Bagaimana konsepnya?

Kita minta sumbangan, masuk kepada wakaf dan nanti akan diusahakan. Sekarang nilai wakaf itu sudah ada seratus juta. Baru satu tahun. Nanti hasilnya yang boleh dipakai karena wakaf. Sekarang 50 juta sedang proses membeli tanah untuk plasma kelapa sawit. Tapi baru proses. Sertifikat tanahnya pun belum keluar. Itu sedang kita proses. Nanti kalau dapat, akan ada 10 hektare. Baru tanahnya.

Itu satu. Yang kedua, untuk membiayai lembaga-lembaga pendidikan kita juga setiap tahun mengefektifkan Lazisnu. Itu sebenarnya potensi yang sangat besar. Tapi kita terlambat untuk memulainya. Dan setiap bulan itu sudah masuk, walaupun masih kecil. Tapi yang kita perlukan itu bukan besarnya, tapi rutinitasnya. Laporan terakhir, sampai tiga jutaan per bulan. Per bulan tiga juta itu kecil, tapi ini kan baru memulai. Saya ingin membangun Lazisnu Kalimanatan Timur.

Di Kalimantan Timur, BMH itu punyanya Hidayatullah, itu kan nasional, itu yang terkuat. Mereka sudah membangun sebelas tahun yang lalu. Tidak langsung kuat seperti sekarang. Mungkin baru tahun kelima, keenam, baru kelihatan. Nah, NU baru memulai satu tahun. Saya bilang sama teman-teman. Tiga juta satu bulan, itu awal yang bagus asal nanti bisa naik bisa menjadi empat juta satu bulan, lima juta sebulan. Mungkin pada tahun ketiga akan kelihatan.

Pandangan komunitas-komuntas lain terhadap NU di Kaltim?

Begini, saya pernah didatangi ketua PGI. Dia bilang, “Pak Rasyid, kami dapat pesan dari pusat kami supaya bisa menjalin kerjasama dengan Nahdlatul Ulama”. Itu PGI, Persatuan Gereja-Gereja Indonesia. Saya tanya, “Kenapa ada pesan yang seperti itu?”

Dia menjawab, “Karena pandangan pimpinan kami di Jakarta, yang memiliki wawasan yang memungkinkan bekerjasama hanya NU, yang lain masih sulit kita nilai.”Itu pandangan mereka terhadap NU.

Selama ini, bagaimana kerjasama NU dengan kalangan itu? 

Kerjasamanya sering mengadakan rapat bersama untuk saling menjaga kerukunan bersama. Atau misalnya dalam pendirian rumah ibadah, kami umat Islam dan umat Kristen sepakat sama-sama tunduk dengan keputusan bersama pemerintah dalam pendirian rumah ibadah. 

Kalau sesama ormas Islam, misalnya dengan Muhamadiyah?

Dalam peringatan Hari Besar Islam kita selalu bekerjasama. Yang terlibat misalnya Aisyiyah dan Fatayat atau Muslimat bersama Imam masjid. [] 

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Meme Islam, News, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 26 Januari 2018

LTNNU Sumedang Rumuskan Penerbitan Buletin An-Nahdlah

Sumedang, Rohis Tegal - Rohani Islam?

Pengurus Cabang Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (24/9) melaksanakan musyawarah kerja. Musyawarah ini di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Desa Sukamantri, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang.

Musyawarah yang dipimpin oleh Ketua LTNNU Sumedang Ayi Abdu Kohar itu salah satu agendanya membahas tentang pembentukan tim redaksi untuk peluncuran buletin. Sudah disepakati bersama oleh peserta musyawarah bahwa buletin yang akan diterbitkan bernama buletin An-Nahdlah.

LTNNU Sumedang Rumuskan Penerbitan Buletin An-Nahdlah (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Sumedang Rumuskan Penerbitan Buletin An-Nahdlah (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Sumedang Rumuskan Penerbitan Buletin An-Nahdlah

Ayi mengatakan bahwa penerbitan buletin ini merupakan salah satu tugas LTNNU. Di bidang percetakan saat ini LTNNU Sumedang baru bisa menerbitkan buletin, seiring dengan berjalannya waktu kedepannya LTNNU ingin menerbitkan buku-buku atau majalah yang ada hubungannya dengan ke-NU-an.

"Rencana buletin ini akan terbit seminggu sekali. Pendistribusiannya akan bekerja sama dengan pengurus Lembaga Takmir Masjid Kabupaten Sumedang, dan nantinya akan dibagikan ke masjid-masjid yang ada di Kabupaten Sumedang," kata Ayi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sementara Pimpinan Redaksi Buletin An-Nahdlah Muhammad Sholeh Nahru Ulumuddin mengatakan bawah dalam tampilannya buletin ini akan dibuat semenarik mungkin. Isi rubrik yang akan dimunculkan dalam buletin tersebut sekitar ke-NU-an. Bisa berupa berita kegiatan NU, ubudiyah, humor, dan apapun yang ada hubungannya dengan NU.

Mudah-mudahan, lanjut Sholeh, buletin ini bisa memuaskan warga NU di Sumedang yang sudah merasa kangen dengan hadirnya buletin NU di tangan mereka. Memang selama ini sudah ada beberapa buletin yang sering dibagikan di masjid-masjid. Tapi buletin itu bukan terbitan NU. Malahan isinya banyak yang tidak sesuai dengan kultur NU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Semoga buletin anahdlah terbitnya bisa istiqomah,” tutup Sholeh Nahru. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Tegal, News Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 15 Januari 2018

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa

Jember, Rohis Tegal - Rohani Islam. Umat Islam di berbagai daerah di Indonesia, Jumat (19/1) tadi malam, memanjatkan doa keselamatan menyambut datangnya tahun baru Hijriyah 1428. Perpindahan tahun baru kali ini diharapkan juga berarti perpindahan atau hijrah dari yang tidak sempurna menuju ke tingkatan yang lebih sempurna, dari dosa dan salah menjadi pahala dan keutamaan.

Di Pondok Pesantren Al Qodiri Jember, malam tahun baru Islam diisi dengan menggelar hataman Al Quran bersama para santri dan warga sekitar pesantren. Para jamaah membaca doa bersama dan membaca wirid, untuk keselamatan semua umat manusia dan warga yang tertimpa musibah seperti banjir lumpur Lapindo, kapal hilang, banjir, longsor dan serangan penyakit.

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa

Pimpinan Ponpes Al Qodiri, KH Achmad Muzakky Syah, Jumat (19/1) malam, mengatakan, sebagai ummat manusia sudah saatnya melakukan kajian terhadap diri sendiri dengan menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada Allah SWT.

Diakui atau tidak, katanya, kita sering melakukan kesalahan baik kepada manusia maupun kepada Allah dengan tetap menganggap bahwa diri kita benar.  "Kalaupun belum dikabulkan maka kita terus meminta ampun pada Allah," ujarnya.

Warga Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, juga mengadakan hataman Al-Quran di Sekretariat Cabang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumenep.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Selama ini gema pergantian tahun baru Islam hampir tidak pernah dirayakan, makanya MUI memulai dengan kegiatan menghatamkan Al-Quran," ujar Ketua MUI Sumenep, KH Safraji, Sabtu.

Kegiatan menghatamkan Al-Quran, kata Safraji, akan dijadikan kalender tahunan. Masyarakat diharapkan mengikuti acara tersebut, selain memanjatkan doa juga sebagai wahana silaturrahmi sesama muslim.

Malam Tahun Baru 1428 Hijriah di Semarang, Jawa Tengah, dirayakan secara sederhana dan bernuansa kontemplasi tanpa ada bunyi trompet dan konvoi kendaraan bermotor seperti ditemui setiap pergantian tarikh Masehi.

Menyambut datangnya bulan Muharam atau Sura, Kamis malam, warga Kota Semarang berkumpul untuk tirakatan yang diselenggarakan secara swadaya oleh warga tingkat RT, RW, maupun kelurahan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Berbeda dengan pergantian tahun baru tarikh Masehi yang disambut gegap gempita, malam satu Sura ini disambut dengan segala kesederhanaannya. Aneka makanan yang disajikan semuanya bernuansa tradisional, termasuk nasi tumpeng. Kalau pun ada hiburan, berkaraoke bersama sudah mampu memberi kegembiraan warga.

Di  Yogyakarta umat Islam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1428 Hijriyah dengan melakukan berbagai kegiatan religius di antaranya pengajian maupun tadarus Al Quran di masjid-masjid, Jumat malam.

Di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta tampak puluhan umat Islam dengan tekun melakukan kajian dan tadarus kitab suci Al-Quran dipimpin seorang ustadz.

Tadarus Al Quran yang diselenggarakan Takmir Masjid Gedhe itu, dimaksudkan agar jemaah Masjid Gedhe Kauman bisa mendalami isi Al Quran.

 "Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menghindarkan umat Islam melakukan kegiatan di luar ajaran agamanya serta yang bisa menjauhkan dari keimanan mereka," kata salah seorang pengurus Takmir Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang enggan disebut namanya. (ant/fur/nam/han/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, News Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 04 Januari 2018

Para Seniman dan Pendekar Peringati Harlah Ke-93 NU di Sidoarjo

Sidoarjo, Rohis Tegal - Rohani Islam

Peringatan hari lahir (harlah) ke-93 NU di Sidoarjo, Jawa Timur, tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, para seniman dan pendekar sekabupaten bersama-sama menggelar pertunjukan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Para Seniman dan Pendekar Peringati Harlah Ke-93 NU di Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Seniman dan Pendekar Peringati Harlah Ke-93 NU di Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Seniman dan Pendekar Peringati Harlah Ke-93 NU di Sidoarjo

Ainul Yaqin, Ketua Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) NU Sidoarjo menjelaskan, peringatan harlah NU tahun ini dipelopori oleh pihaknya dengan menggelar berbagai kreasi dan atraksi selama tiga hari di tiga tempat yang berbeda.

Diawali dengan seminar budaya pada Sabtu (14/5) di Hall PCNU Sidoarjo, pentas seni pada Sabtu (21/5) di panggung seni Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Sidoarjo, dan atraksi Silat Pagar Nusa serta lomba mewarnai pada Ahad (22/5) di alun-alun dan Pendopo kabupaten Sidoarjo.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Gelaran tersebut, lajut Yaqin, sekaligus menandai kebangkitan Lesbumi Sidoarjo yang selama puluhan tahun tidak tampak aktivitasnya. Selain itu, untuk menggali potensi seni, seniman, dan budayawan Kota Delta Sidoarjo.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Sudah puluhan tahun Lesbumi Sidoarjo tidak ada aktivitas. Harlah tahun ini merupakan momentum bagi Lesbumi membuktikan eksistensinya kepada masyarakat," tegas Ainul Yaqin saat ditemui usai gelaran berakhir, Ahad (22/5).

Turut hadir budayawan dan penulis buku, Ilung Sufi Enha, Sosiawan Leak, Bupati Sidoarjo H Saiful Illah, dan Wakil Bupati Sidoarjo H Nur Ahmad Saifudin, serta ketua DPRD Sidoarjo Sulamul Hadi Nurmawan.

Mas Wawan, sapaan Ketua DPRD Sidoarjo yang hadir menyaksikan acara pentas seni mengatakan, peran Lesbumi di Sidoarjo harus dioptimalkan karena banyak seniman yang perlu ditampilkan kreasinya. "Peran Lesbumi harus maksimal, karena itu saya rela didemo demi majunya kesenian Sidoarjo," tegasnya.

Senada, Cak Nur, panggilan akrab Wakil Bupati Sidoarjo yang merupakan mantan ketua PSNU Pagar Nusa Sidoarjo yang hadir menyaksikan atraksi Pagar Nusa mengungkapkan kegembiraannya, karena pada peringatan harlah kali ini para pendekar Pagar Nusa sekabupaten bisa berkumpul kembali dan menggelar aksi.

H. Saiful Illah saat memberikan sambutan berpesan kepada para pendekar agar kemampuannya digunakan untuk hal yang positif, dan membantu pemerintah menjaga kondusivitas wilayah Sidoarjo.

Ada sekitar 700 pendekar Pagar Nusa hadir dalam peringatan tersebut dan mereka menggelar atraksi tenaga dalam, bantengan, serta silat seni. Selain itu, di Pendopo Delta Wibawa juga ada 700 peserta lomba mewarnai dari TK/RA Muslimat sekabupaten setempat. (Aprilia Zahrani/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam PonPes, Kajian Sunnah, News Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock