Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono

Pekalongan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sepekan setelah Lebaran warga Pekalongan dan sekitarnya biasanya merayakan Syawalan atau ‘Lebaran’ kedua, setelah sebagian warga yang berpuasa sunah selama enam hari, mulai pada tanggal 2 Syawal. Syawalan inilah yang menjadi pertanda puasa mereka berakhir. Di daerah lain Syawalan ini disebut pula dengan nama Lebaran Ketupat.

Syawalan di Pekalongan, beberapa tahun belakangan ini terpusat di dua tempat, di Krapyak dan Linggoasri. Meskipun esensinya sama, yakni merayakan Syawalan, akan tetapi keduanya dikemas dengan cara berbeda.

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono (Sumber Gambar : Nu Online)
Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono (Sumber Gambar : Nu Online)

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono

Di Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan, tradisi Syawalan yang digelar pada hari Kamis (15/8) dimeriahkan dengan dua lopis raksasa. Dua lopis raksasa dengan berat masing-masing 1,3 ton dan 900 kilogram itu mulai dimasak oleh warga Gang VIII dan warga di Gang III Kelurahan Krapyak Lor tiga hari sebelum hari-H.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Lopis diangkat dengan bantuan mobil derek. Lopis ini dimasak selama empat hari tiga malam," terang Syaiful, Sekretaris Panitia Syawalan dan Lopis Ageng.

Simbol perekat silaturahmi

Pada hari-H, dua lopis sudah ditempatkan di tempat pemotongan. Walikota Pekalongan, HM Basyir Ahmad, secara simbolis memotong kedua lopis kemudian membagikan kepada warga. Selang kemudian, para pengunjung yang datang dari berbagai daerah berebut lopis raksasa tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Para pengunjung memperebutkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat lopis yang lengket.

Warga sekitar biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung. Setelah pembagian lopis selesai, biasanya para pengunjung berbondong-bondong ke obyek wisata Pantai Slamaran Indah untuk menikmati pantai atau menikmati meriahnya hiburan gratis. Sebelumnya acara juga dimeriahkan dengan acara kirab budaya yang menampilkan berbagai macam kebudayaan.

Gunungan Megono

Berbeda dengan warga Krapyak yang menampilkan lupis raksasa, masyarakat Kabupaten Pekalongan memeriahkan Syawalan dengan membuat gunungan nasi megono. Megono adalah nama kuliner khas Pekalongan, yang bahannya dari buah nangka.

Objek Wisata Linggo Asri Kecamatan Kajen menjadi lokasi rebutan gunungan warga. Ribuan warga yang hadir rela berdesak-desakan memperebutkan makanan khas berasal dari Kabupaten Pekalongan itu.

Seorang warga, Tuti, mengaku ikut senang berebut gunungan nasi megono sebagai upaya mendapatkan berkah dalam hidupnya. 

"Gunungan nasi megono ini dipercaya masyarakat mempunyai kelebihan jika orang itu mampu makan nasi itu sehingga saya ikut berebut supaya dapat berkah dan tambah rejeki," ungkapnya.

Acara ini juga dimeriahkan kirab dan pertunjukan tari "Kuda Lumping" dan "Jatilan Satriyo Budoyo" dari Karanggondang, Kecamatan Karanganyar. Sedangkan kirab diikuti peserta yang terdiri atas "cucuk lampah" sebagai pimpinan rombongan yang diikuti rombongan silat temanten, grup rebana, kesenian "ngarak pengatin sunat", kuda kepang, egrang, dan sepasang gajah membawa gunungan nasi megono dan hasil bumi dari Balai Desa Linggoasri menuju lapangan parkir Wana Wisata.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pendidikan, Kiai, Bahtsul Masail Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 12 Februari 2018

Lima Program PCNU Tapanuli Tengah untuk Mandiri

Tapanuli Tengah, Rohis Tegal - Rohani Islam?

PCNU Tapanuli Tengah menggelar agenda tahunan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) yang diikuti seluruh pengurus MWCNU. Kegiatan yang dibuka Kepala Kantor Kementerian Agama Tapteng H. Sarmadan Nur menghasilkan beberapa program kerja PCNU.

Lima Program PCNU Tapanuli Tengah untuk Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Program PCNU Tapanuli Tengah untuk Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Program PCNU Tapanuli Tengah untuk Mandiri

Lima program kerja yang dihasilkan dalam Muskercab tersebut adalah, Pengurus NU harus berbenah menuju tahun 2017. Kedua, mendirikan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ketiga, mengaktifkan Madrasah Diniyah Awaliyah milik NU. Keempat, melaksanakan pengkaderan NU. Serta kelima, menambah aset NU.?

"Muskercab ini bertujuan untuk mengevaluasi program kerja dan mengkaji pekembangan organisasi serta peranan NU di tengah masyarakat dan juga melaksanakan hasil dari konferensi kemarin," ucap ketua panitia pelaksana Samrul Bahri Hutabarat pada Muskercab yang berlangsung di kantor PCNU Tapanuli Tengah ? Jalan Junjungan Lubis Pandan, Sabtu (3/12).

Muskercab tersebut, menurut Samrul, bukan hanya sebagai seremonial, melainkan sebuah rancangan kerja untuk membentuk jama’ah lebih mandiri.

“Harapannya, bukan hanya sekadar rukun wajib organisasi. Tetapi benar-benar bisa menjadi sebuah rencana kerja untuk penguatan kemandirian,” tambahnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sementara Ketua PCNU Tapteng H. Misran Tanjung menyampaikan, pemantapan sangatlah perlu untuk pengurus dalam mengemban fungsi edukatif yang senantiasa berupaya agar hak dan kewajibanya terhadap bangsa, negara dan sesama umat manusia guna menuju kekuatan jamiyah (organisasi). ?

Ia berharap kepada kader-kader ataupun pengurus-pengurus cabang agar tetap menjaga keamanan dalam menjelang Pilkada bulan Februari 2017.?

Muskercab dihadiri Kapolres Tapanuli Tengah ? AKBP Hari Setyo Budi, Rais Syuriyah PCNU Tapteng H. Kifli Mujahid Batubara, Sekretaris PCNU H. Alfan Surya Hutagalung dan beberapa ulama serta pengurus lembaga dan banom NU. (Bung Sb/Abdullah Alawi)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 11 Februari 2018

Pendidikan di Indonesia

Oleh KH Azka Hammam Syaerozi

Dewasa ini pendidikan formal dipandang oleh masyarakat sebagai pendidikan yang sesungguhnya. Dengan beranggapan bahwa hanya dengan pendidikan formal seseorang bisa dianggap berpendidikan. Hal ini tentu berakibat fatal bagi pendidikan yang berada di luar pendidikan formal atau yang biasa disebut sebagai pendidikan informal (baca: pesantren). Ada beberapa faktor yang menjadikan pola pikir masyarakat kita seperti itu.

Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan di Indonesia

Pertama, pendidikan formal adalah program pendidikan yang digalakkan langsung oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan ukuran pendidikan di negara kita ini condong dengan apa yang dianjurkan oleh pemerintah. Karena diadakan oleh pemerintah, maka banyak program-program dan fasilitas yang diberikan pemerintah bagi pendidikan ini. Sangat berbeda dengan pendidikan informal yang sepertinya dianggap anak tiri oleh pemerintah, meski beberapa dianggap keberadaannya, tetapi pendidikan informal tetap dipandang sebelah mata dan tetap tidak dijadikan ukuran seseorang dianggap berpendidikan.

Kedua, dalam pendidikan formal tenaga pengajar mendapatkan upah yang pasti dan terjamin langsung oleh pemerintah. Berbeda dari pendidikan pesantren pemerintah tidak memberikan jaminan secara pasti bagi setiap pengajarnya. Hal ini menjadikan pendidikan formal lebih dipercaya dan dianggap lebih prospektif dibandingkan dengan pendidikan pesantren.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketiga, pendidikan formal memberikan ijazah yang secara de jure dianggap dan legal di kancah nasional maupun internasional. Hal ini berlawanan dengan pendidikan pesantren yang ijazahnya tidak diakui, atau bahkan tidak memiliki ijazah sama sekali.

Apa Hubungan antara Keduanya?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebenarnya, hubungan antara ilmu agama yang diadakan pesantren dan pendidikan umum yang diadakan sekolah formal itu sangat erat sekali. Ilmu pesantren adalah sebuah ‘asal’ yang menjadi tetap dan kokohnya sesuatu. Sedangkan ilmu umum adalah ‘cabang’ yang membentang luas dalam segala bidang kehidupan. Jika diibaratkan, pendidikan pesantren adalah makanan pokok, dan pendidikan formal adalah lauk pauknya. Maka tidaklah dinamakan makan jika seseorang hanya menyantap lauk pauk saja, dan jika hanya nasi saja maka tidak tercukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Mana Yang Mesti Didahulukan?

Secara kurikulum, pendidikan pesantren (baca: agama) harus didahulukan karena pendidikan agama menanamkan tauhid, hukum dan akhlaq. Manusia hidup di dunia itu tentu harus bermodalkan tauhid yang benar dan kuat, mengetahui hukum-hukum agar tidak sembarang berperilaku dan juga harus bisa menerapkan akhlaqul karimah sebagai modal dasar dalam etika pergaulan sosial yang selaras dengan prinsip ajaran agama sebagai kasih sayang bagi seluruh alam.

Kurikulum di sekolah formal, meski telah mengajarkan pengenalan pendidikan agama dan moral dalam pendidikan kewarganegaraan, tetapi pengajaran yang hanya diberikan selama dua sampai tiga jam saja per pekan, tentu belumlah bisa mencukupi tujuan pendidikan agama sebagai penanaman karakter bagi siswa. Sebab pendidikan agama, tak cukup dengan hanya sebatas pengenalan. Di sinilah perlunya pendidikan madrasah diniyah, sebagai sarana menanamkan pendidikan karakter bagi siswa yang tidak berkesempatan untuk mempelajari nilai-nilai pendidikan pesantren.

Di tengah dua kutub tersebut sebagian pesantren telah menerapkan kurikulum terpadu yang mengajarkan para santrinya untuk menguasai materi pelajaran yang di sekolah formal, sekaligus dididik sebagaimana pesantren pada umumnya. Kombinasi kurikulum pendidikan pesantren dan kurikulum pendidikan formal ini telah berlaku di berbagai pesantren selama puluhan tahun silam. Banyak pesantren, kini telah membuktikan bahwa pelaksanakan pendidikan pesantren dan formal tidaklah harus meninggalkan salah satunya melainkan secara bersama-sama berjalan beriringan. Dengan berjalan beriringan seperti itu, maka akan terbentuklah pribadi yang berpendidikan secara kâffah.

Di antara Yang Menekuni Salah Satu dari Keduanya, Siapakah Yang Lebih Berkompeten?

Pribadi yang benar-benar berkompeten adalah yang benar-benar belajar, paham akan ilmu yang dipelajarinya, lalu mengamalkannya kepada masyarakat. Sebab jika tidak diamalkan, keduanya sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi masyarakat. Jika salah satu dari keduanya memandang sebelah mata, itu karena mereka tidak memaklumi nilai min dan plus yang ada pada keduanya.

Bagaimana Kita Menerapkan Ilmu Formal dan Ilmu Salaf di Tengah Masyarakat?

Kita bisa menerapkan keduanya dengan selalu berupaya berkarya semampunya ? ? dengan didasari tauhid yang benar, hukum, dan akhlaq. Sebagai komunitas pesantren yang hidup di antara dua dimensi ini, kalangan santri tidak perlu ikut memandang sebelah mata pada yang lain. Kita cukup menjaga hal-hal lama yang baik dan masih layak dan menyempurnakannya dengan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik dan layak.

Bagaimana Sebaiknya Sikap Pemerintah Menyikapi Hal Ini?

Pemerintah sebaiknya memandang kedua sistem ini sebagai unsur yang saling menguatkan dalam membangun sumber daya manusia pada yang lebih baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

*) Pengasuh Pesantren Putra-Putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon. Kini ia diamanahi sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat. (Tulisan ini sudah dimodofikasi setelah dikutip dari Majalah Salafuna, Edisi 32 Tahun 2013).

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Kajian, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 09 Februari 2018

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama

Kudus, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sudah menjadi kebiasaan mayoritas muslim di Indonesia pada momentum Lebaran tidak ketinggalan mengadakan tradisi yang dinamakan Halal bihalal. Acara yang rutin digelar oleh masyarakat di bulan Syawal sejak puluhan tahun silam ini diyakini sebagai tradisi yang selaras dengan ajaran Islam.

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama

Masyarakat dari generasi ke generasi berupaya melestarikan tradisi Halal bihalal bukan tanpa sebab. Misal yang dijalani oleh keluarga besar keturunan Mbah Mastam dan Mbah Zonah. Pasangan yang wafat puluhan tahun silam itu pernah tinggal di desa Papringan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mempunyai 7 anak, kemudian hingga kini beranak pinak sampai melahirkan anak, cucu dan cicit yang jumlahnya sudah ratusan.

Sementara itu, Halal bihalal keluarga besar yang menyebut keluarga mereka sebagai Bani Mastam-Zonah itu pada tahun ini terselenggara sudah berlangsung 17 kali, diselenggarakan setiap pekan pertama bulan Syawal.

Menariknya, Halal bihalal keluarga besar tersebut selalu diisi dengan pembacaan tahlil dan surat Yasin untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, ceramah agama serta ditutup dengan bersalam-salaman.

Dalam kesempatan tersebut, KH Masykuri yang ditunjuk mengisi ceramah menyampaikan pada dasarnya silaturrahim merupakan inti dari Halal bihalal yang bertujuan untuk menyambung kasih sayang dan menghilangkan rasa dendam, sehingga antarkeluarga bisa saling mengasihi dan saling mencintai.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Kalau berkumpul seperti ini rasanya senang bukan? Rasanya kita ingin berlama-lama sebab setahun ada yang tidak bertemu," tutur kiai Masykuri di hadapan ratusan anggota keluarga Bani Mastam-Zonah, Jumat (8/7) siang, di salah satu kediaman keluarga di desa Daren, Jepara, Jawa Tengah.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia menjelaskan bahwa silaturrahim itu bukan budaya, tapi memang syariat Allah. Hal ini sudah diterangkan di berbagai hadis Nabi yang menerangkan keutamaan pentingnya silaturrahim.

Dalam bulan Ramadhan, lanjut Kiai Masykuri, apabila seseorang dalam keadaan beriman maka akan diampuni dosa-dosa yang hubungannya dengan Allah semata. Ia mengingatkan bahwa dosa-dosa yang hubungannya dengan manusia akan diampuni apabila saling memaafkan satu sama lain.

"Dosa-dosa yang kaitannya dengan sesama manusia tidak akan diproses Allah apabila tidak ada acara Halal bihalal," tegas guru di MTs NU TBS Kudus itu. “Dengan niat yang sama, mari kita dari rumah saling memaafkan,” ajaknya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Berita, Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 02 Februari 2018

Hujan Gol di Laga Terakhir, 16 Tim Melaju ke Fase Knock Out Liga Santri

Bandung, Rohis Tegal - Rohani Islam - Pertandingan akhir babak penyisihan grup Liga Santri Nusantara 2017 dihujani banyak gol. Dalam pertandingan di grup B, Alhusaeni Kabupaten Bandung mengungguli 3-0 atas Al-Huda Cianjur, sementara hasil yang sama didapat tatkala Nurul Ilmi Sijunjung dibekuk 0-3 oleh Darul Arafah Deli Serdang.

Banjir gol juga tersaji di grup D, Babussalam FC Rohul menghantam 5-0 Al-Madaniyah, di pertandingan lain DDI Kaballangan tidak memberi ampun RIAB dengan melesatkan 5 gol tanpa balas. Lebih mengerikan lagi pertandingan Mambaul Maarif Denanyar yang membantai 7-0 Al-Ijtihad Danger di grup E.

Hujan Gol di Laga Terakhir, 16 Tim Melaju ke Fase Knock Out Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Hujan Gol di Laga Terakhir, 16 Tim Melaju ke Fase Knock Out Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Hujan Gol di Laga Terakhir, 16 Tim Melaju ke Fase Knock Out Liga Santri

Adapun di grup H, Minhajussalam Subulussalam tak kuasa dilibas 0-4 oleh Darul Hikmah Cirebon, dan  Al-Kahfi Kebumen menghempaskan 4-1 Nurul Khaeraat Lil Muhibbin.

Setelah semua tim memainkan tiga pertandingan di masing-masing grup, akhirnya 16 tim telah memastikan lolos ke babak 16 besar atau fase knock out. Juara di setiap grup akan menghadapi runner up di grup lainnya. Berikut tim yang lolos serta jadwal pertandingan yang akan berlangsung pada Kamis siang (26/10).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Waktu 10.00-11.20:

Darul Huda Ponorogo vs Asshiddiqiyah Jakarta Barat di Siliwangi

Alhusaeni Kabupaten Bandung vs Birul Walidain di Brigif

Nurul Iman Bantul vs Manbaul Hikmah United di Pusdikif

Mambaul Maarif Denanyar vs Walisongo Sragen di Arcamanik

Waktu 13.00 - 14.20:

DDI Kaballangan vs Al-Kahfi Kebumen di Siliwangi

Arraisiyah Tangsel vs Al-Huda Cianjur di Brigif

AIAI Babel vs Assalam Bangkalan di Pusdikif

Darul Hikmah Cirebon vs Babussalam FC Rohul di Arcamanik. (M Zidni Nafi’/Alhafiz )

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Sholawat Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 31 Januari 2018

Umat Islam Agar Tak Terpancing Emosi

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Kasus pencemaran terhadap Kitab Suci Al-Quran masih saja terjadi, namun demikian umat Islam diminta tidak terpancing emosi dan menyikapi permasalahan itu dengan tenang, arif dan bijaksana. Demikian dikemukakan para tokoh ormas Islam menanggapi penemuan mushaf Al-Quran yang disisipi nukilan Kitab Injil di Jombang, Jawa Timur.

Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Endang Turmudzi, meminta agar umat Islam berhati-hati dan tenang. PBNU mendesak penerbit PT Maqbul Jaya untuk bertanggung jawab, dan menarik Al Qur’an yang dicetaknya dari peredaran. “Ini bukan Alquran yang murni, tapi sudah menyesatkan,” tandasnya.

Umat Islam Agar Tak Terpancing Emosi (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Agar Tak Terpancing Emosi (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Agar Tak Terpancing Emosi

Selain itu itu lanjut Endang, pihaknya meminta aparat kepolisian bertindak cepat, agar tidak menimbulkan emosi umat Islam. “Memang selalu saja ada orang yang nakal,” imbuhnya.

Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar yang juga Katib Aam PBNU mengatakan, pihaknya belum melihat secara langsung Kitab Al-Quran yang disisipi nukilan Kitab Injil itu. “Saya belum bisa berkomentar, karena belum lihat. Tolong bantu carikan yaa,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, telah ditemukan dua buah mushaf yang dicetak oleh PT Maqbul Jaya Surabaya pada tahun 1994 itu, oleh Taufiq, guru Taman Pendidikan Alquran Syubbanul Khoir, Desa Pojok Kulon, Kesamben, Jombang pada 7 April lalu. Sekilas Mushaf Al-Quran itu seperti Al-Quran biasanya, namun jika setiap halamannya diteliti satu-persatu akan terdapat selembar tulisan latin berbahasa Indonesia berisi nukilan Kitab Injil.

Menurut Kepala Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Jombang Warsito Hadi, sampai sekarang, dua mushaf ini berada di kantornya, untuk selanjutnya akan dikirim ke Kanwil Depag Jatim. Selain itu, Depag juga telah melaporkan temuan itu kepada pihak kepolisian setempat untuk diselidiki lebih lanjut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam catatan media, kasus yang sama pernah terjadi pada tahun 2004 di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ditemukan kalimat Kitab Injil pada kulit bagian dalam Kitab Al-Quran yang diterbitkan oleh PT Madu Jaya Maqbul Surabaya. Kronologis ditemukan tulisan tersebut berawal dari salah seorang siswa dari SMP Negeri I Kecamatan Tilatang Kamang, yang menjatuhkan Al-Quran dan secara tidak sengaja melihat tulisan Yesus Kristus dan ajaran Nasrani pada kulit dalam Al-Quran.(dpg/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Sholawat Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 29 Januari 2018

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan

Pekalongan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pekalongan akan mengawali program barunya dengan meresmikan radio komunitas Aswaja yang berjalur FM dengan kanal 107.8 M.Hz.

Acara peresmian Radio Aswaja dibarengkan dengan pembukaan Muskercab dan Pelantikan PCNU Kota Pekalongan Jumat (22/2) di Gedung Aswaja Pekalongan.

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan

Pilihan radio sebagai upaya untuk mensinergikan program program dari lembaga dan lajnah yang memerlukan media agar bisa sampai di tengah tengah warga NU di Kota Pekalongan yang cukup banyak.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Ahmad Rofiq mengungkapkan, biaya radio cukup murah juga masih sanggup bersaing dengan media televisi, koran maupun internet.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Dengan radio, berbagai program informasi dan pesan pesan keagamaan bisa sampai kepada masyarakat yang nantinya akan dikemas dengan baik sehingga pendengar tidak bosan," ujarnya.

Dikatakan, sebagai radio komunitas, Aswaja FM akan berusaha semaksimal mungkin dikelola secara profesional, sehingga pendengar tidak jenuh dan justru lebih terhibur dengan informasi informasi pendidikan dan dakwah dengan kemasan yang lebih menarik.

"Saya sudah punya beberapa tenaga ahli yang bisa mengelola radio Aswaja FM dan kesemuanya merupakan kader kader NU pilihan," ujar Rofiq perihal siapa yang akan mengelola radio.

Bertempat di komplek Gedung Aswaja Pekalongan, beberapa acara unggulan sudah disiapkan oleh pengelola radio antara lain, ngaji kitab kuning, tausiyah kiyai, membedah ahlus sunnah wal jamaah dan program dialog masalah rumah tangga, kesehatan, pendidikan dan santri bertanya kiyai menjawab dengan nara sumber yang cukup mumpuni.

Namun demikian, pada dua bulan pertama baru akan diluncurkan dengan lagu lagu saja, sedangkan siaran resminya baru akan dimulai pada April atau Mei mendatang.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 28 Januari 2018

Kiai Hasyim Ingatkan Bahaya yang Mengancam NU

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Rais Syuriah PBNU KH Hasyim Muzadi mengingatkan semua elemen NU Jombang agar turut memikirkan arah perjuangan organisasi Islam terbesar ini ke depan. Nilai-nilai perjuangan NU harus senantiasa dijaga dengan teguh, tidak boleh tersusupi ideologi lain yang bisa merusak organisasi.

Kiai Hasyim Ingatkan Bahaya yang Mengancam NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Ingatkan Bahaya yang Mengancam NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Ingatkan Bahaya yang Mengancam NU

"Saya datang bukan karena ingin memperoleh dukungan untuk menduduki jabatan tertentu di kepengurusan NU, ini karena menjalankan amanah sebagai perwujudan komitmennya menjadi kader NU," paparnya.

Kiai Hasyim menyampaikan hal itu pada acara halaqah "Tantangan Masa Depan Ideologi Aswaja Annahdliyah” oleh kader muda NU yang tergabung dalam Kampoeng Nahdliyin, di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan, Sabtu (31/1).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di hadapan sekitar 100 peserta yang memenuhi Aula Pesantren Darul Ulum, mantan ketua umum PBNU ini mengatakan, NU membutuhkan pikiran bersama. Kemajuan NU menjadi tanggung jawab semua kader-kader muda NU. Apalagi, katanya, banyak gerakan yang tidak rela NU menjadi besar. Upaya-upaya pelemahan baik dari dalam maupun dari luar harus benar-benar diwaspadai.

"Jangan sampai NU disusupi oleh orang-orang yang nyata-nyata tidak sepaham dengan nilai-nilai ideologi NU," tambahnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hasyim yang juga anggota Watimpres ini menambahkan,  sekarang sudah banyak ideologi-ideologi dari luar telah masuk ke Indonesia, tak terkecuali di Jombang. Ancaman tersebut, menurutnya, di antaranya adalah fundamaentalisme, radikalisme, serta kapitalisme.

“Karenanya, ideologi Aswaja Annahdiiyah harus menjadi benteng dalam meng-counter masuknya budaya-budaya dari luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia," tandasnya.

Selain itu, ia menegaskan sebentar lagi Jombang akan menjadi tuan rumah pagelaran akbar Muktamar ke-33 NU. Ia berharap khususnya pada generasi muda NU untuk senantiasa teguh mengawal komitmen nilai-nilai perjuangan organisasi.

"Di sini ada kelompok Gawagis, perkumpulan gus gus pesantren, kalian semua yang akan melanjutkan perjuangan kami setelahnya nanti," pungkasnya, sembari berpesan, menjelang muktamar kaum muda harus bisa menjaga diri dari politik uang dan kecurangan, karena KPK juga sudah memantau Jawa Timur.

Sementara itu, Sholahul Am Notobuwono, ketua Kampoeng Nahdliyin, mengatakan, sarasehan Kampoeng Nahdliyin tidak hanya digelar di Jombang, tapi juga akan bersambung di beberapa kabupaten/kota lain di Jawa Timur.

"Selain di Jombang, kegiatan seperti ini akan diadakan juga di Pasuruan, Pacitan mungkin juga di Sidoarjo, karena kaum muda sekarang yang akan memimpin NU masa depan," ujarnya seraya mengatakan kaum muda harus paham tantangan dan misi NU ke depan. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Islam, Kiai, Anti Hoax Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 26 Januari 2018

Warga NU di Lumajang Wakafkan Tanah Senilai 150 Juta

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam - Seorang warga di Kabupaten Lumajang, Amir, mewakafkan tanah senilai 150 juta rupiah. Tanah yang berlokasi di Panjaitan Regency, Lumajang, Jawa Timur, dengan luas 8 meter x 18 meter ini diserahkan melalui NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU) Lumajang pada 15 Februari lalu. Demikian rilis yang diterima Rohis Tegal - Rohani Islam, Selasa (21/2).

Ketua NU Care-LAZISNU Lumajang H Hadiyatullah menyatakan tanah wakaf akan dimanfaatkan untuk pembangunan musala dan kantor manajemen NU Care Kabupaten Lumajang.

Warga NU di Lumajang Wakafkan Tanah Senilai 150 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU di Lumajang Wakafkan Tanah Senilai 150 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU di Lumajang Wakafkan Tanah Senilai 150 Juta

Amir, warga Jalan Panjaitan Kelurahan Citrodiwangsan Kecamatan Lumajang, merupakan seorang wiraswasta. Ia mewakafkan tanah tersebut dengan niat agar pahalanya dihadiahkan kepada saudaranya yang telah meninggal dunia.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Biar pahala mengalir kepada almarhum saudara saya, apa lagi kalau dibuat musala dan pelayanan bagi dluafa,” ungkap Amir.

Amir menyatakan senang dapat menyalurkan wakaf melalui NU Care LAZISNU, karena menurutnya NU Care LAZISNU merupakan lembaga yang banyak didukung kiai. “Agar para kiai setiap hari mendoakan keluarga saya,” harapnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Direktur NU Care LAZISNU Lumajang Mortamin Syah, mengungkapkan selain telah menerima wakaf tanah, NU Care Lumajang juga menerima wakaf berupa Juz Amma dan pupuk organic. Jumlah Juz Amma sebanyak 1000 eksemplar senilai lima juta rupiah pada 18 Februari 2017. Juz Amma tersebut disalurkan ke 50 TPQ di bawah naungan RMINU Lumajang. Adapun pupuk organic seberat 1 ton bernilai lima juta rupiah).

“Alhamdullah ada peningkatan signifikan pada Februari ini NU Care Lumajang mengumpulkan dana senilai Rp173.948.000. Padahal di tahun 2016 untuk mengumpulkan dana senilai tersebut, NU Care Lumajang harus menunggu selama satu tahun,” kata Mortamin. ?

Pihaknya menyampaikan terima kasih atas kepercayaan masyarakat kepada NU Care LAZISNU Lumajang. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Doa, Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 18 Januari 2018

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu

Oleh Cecep Zakarias El Bilad

Tujuh puluh dua tahun lalu era penjajahan berakhir. Kita baru saja memperingatinya. Perjuangan panjang nenek moyang kita, mempertaruhkan jiwa dan raga, akhirnya berhasil mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Namun betapapun beratnya sebuah perjuangan kemerdekaan, musuh yang dihadapi jelas wujudnya. Jelas pula posisinya, sehingga kita bisa bersembunyi, lari atau hadapi dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)
Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu

Tetapi, akan jauh lebih berat lagi ketika penjajah itu tak nampak wujudnya, dan tak jauh pula posisinya. Musuh itu bahkan menyatu dalam diri kita masing-masing, sehingga tak mungkin bersembuyi, lari atau menghadapinya langsung secara vis ? vis, yaitu hawa nafsu. Tanpa maksud mengurangi nilai kemuliaan jihad f? sab?llâh, jihad melawan hawa nafsu adalah perjuangan panjang dan sulit yang dijalani setiap orang sepanjang hidupnya. Sebagaimana diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya:

? ? ? ? ?

“Orang yang berjihad sejati adalah orang yang memerangi hawa nafsunya karena Allah.” (HR. Ahmad).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mahluk merdeka

Manusia tercipta sebagai mahluk merdeka. Ia lahir tidak menjadi budak siapapun, dan tidak pula untuk kepentingan siapapun. Namun, ini tentunya bukan berarti merdeka secara mutlak. Sebab sebagai mahluk, wujud manusia tidaklah berdiri sendiri. Ia semula tidak ada, lalu diadakan oleh Tuhan. Sebagai mahluk, ia juga tidak berdaya apapun.

Semua kemampuan yang ia miliki ialah juga ciptaan dan pemberian dari Sang Pencipta. Statusnya sebagai mahluk ini tidak akan pernah memberinya kebebasan/kemerdekaan yang mutlak. Ia merdeka dalam arti, tidak tunduk pada apapun dan siapapun sesama mahluk di alam semesta ini. Ia hamba Allah dan menghamba hanya kepada-Nya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Jauh sebelum kelahirannya di dunia, manusia sudah sepenuhnya sadar akan status kehambaannya itu. Ia sadar bahwa kehidupanya di dunia kelak hanya mengemban satu visi yakni menjadi hamba Allah dan satu misi, menghamba kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-nya:

? ? ? ? ? ? ?

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menghamba kepada-Ku.” (adz-Dzariyat, 56).

Kesadarannya itu bahkan diwujudkan dalam sebuah ikrar suci seperti yang Allah sendiri kisahkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka. Kemudian Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. Agar kelak di hari Kiamat kamu tidak berkata sesungguhnya dahulu kami lalai dari hal itu” (al-A‘raf: 172).

Dalam kitab tafsirnya, Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi menyebut sumpah manusia kepada Allah ini dengan syahâdah al-fi?rah (ikrar suci), yakni ikrar manusia untuk mengesakan Allah (wa?dâniyyatihi). Ikrar ini terjadi di âlam adz-dzar, alam menjelang manusia diturunkan ke alam dunia. Menurut Syekh Asy-Sya’rawi, ayat ini menegaskan bahwa secara fitrah semua mahluk itu beriman kepada Allah, dan meyakini bahwa Dia adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta.

Inilah yang sering disebut bahwa agama itu fitrah. Secara alami, manusia akan percaya bahwa alam raya ini ada yang menciptakan, dan Pencipta itu pula yang sekaligus mengatur peredarannya. Fitrah, dalam al-Mu’jam al-Wash?t, bermakna ?? ? ? ? ? ? ? ? (suatu potensi asal saat sesuatu mahluk diciptakan). Ini berarti, dari sekian potensi yang dibawa manusia sejak lahirnya, satu di antaranya adalah potensi ketuhanan ini.

Dari perspektif sains modern sendiri, sudah sejak lama manusia diyakini sebagai mahluk relijius. Agama sebagai fenomena alami, yang niscaya ada dalam kehidupan manusia. Setiap orang secara naluri percaya akan adanya suatu kekuatan di luar sana yang mendesain alam semesta ini, dan mengatur perjalanan setiap jengkal kehidupan.

Namun sesuatu itu keberadaannya di luar jangkauan akal dan pancainderanya. Naluri ini menjadi sumber dorongan manusia untuk menganut agama. Jesse Bering, seorang psikolog kontemporer Amerika dalam bukunya the God Instinct: The Psychology of Souls, Destiny and the Meaning of Life, mengistilahkannya dengan God Instinct (insting ketuhanan). Menurutnya, ini adalah unsur unik dalam diri manusia, yang membedakannya dari binatang. Unsur inilah yang melahirkan fenomena agama dan kepercayaan di setiap tempat dan zaman.

Penjara tubuh

Tibalah giliran masing-masing manusia diturunkan ke muka bumi. Memasuki alam dunia, wujud ruhani itu dimasukkan dalam wadah tubuh jasmani. Di awal perjalanannya, ia mulai belajar survive dan beradaptasi dengan lingkungan duniawinya. Itu dimulai dari ruang sempit rahim ibunya. Seiring waktu, tubuhnya yang semula segumpal daging, tumbuh menjadi janin. Setelah sembilan bulan, saat semua organ dan sistem tubuhnya sempurna, ia kemudian keluar dari ruang sempit itu ke ruang bebas alam dunia ini.

Hari berganti hari. Tubuh mungil itu terus berkembang. Yang semua lemah menjadi kuat; semula kecil semakin besar; semula pendek menjadi tinggi. Semua unsur terus berkembang tahap demi tahap, hingga akhirnya menjadi sosok remaja dan dewasa. Semula ia masih merasa canggung dengan hiruk-pikuk kehidupan dunia. Lambat laun ia mulai meniru dan membiasakan diri. Berkat bimbingan orangtua dan orang-orang di sekitarnya ia pun menjadi terbiasa.

Tahun berganti tahun. Ia sudah mulai akrab, betah, dan akhirnya bisa merasakan manisnya kehidupan dunia. Ia mulai kenal nikmatnya makanan, lembutnya belaian, bagusnya pakaian, asiknya permainan, dan seterusnya. Memasuki usia remaja, kesannya tentang kehidupan pun semakin mendalam. Ia sudah bisa merasakan indahnya pemandangan, cantiknya lawan jenis, asyiknya bergaul, manisnya ilmu, bangganya prestasi, dan seterusnya.

Saat dewasa pun tiba. Ia semakin merasa dunia ini sebagai tempat terbaik. Bagaimana tidak, ia sudah bisa menikmati nikmatnya pujian, asiknya rumah tangga, enaknya banyak uang, indahnya kemewahan, hebatnya kekayaan, kekuasaan, pangkat, jabatan dan seterusnya. Dunia menjadi tempat yang begitu menakjubkan baginya. Bila perlu, ia ingin hidup seterusnya di dunia, terlebih jika “kebetulan” ia memperoleh itu semua dengan mudah.?

Di sinilah manusia mulai merinci daftar keinginan, merangkai cita-cita dan merancang rencana-rencana hidup. Waktu menjadi terasa sangat berharga. Hari demi hari ibarat susunan anak tangga yang dilalui menuju satu demi satu keinginannya.

Di satu sisi, ia sebenarnya sadar bahwa jatah hidup di dunia ini terbatas. Pada saatnya pasti akan berakhir. Namun di sisi lain, dunia ini sudah terlampau indah baginya dan ia sudah terlanjur jatuh cinta. Target-target hidup sudah dipancang. Usaha untuk meraihnya pun sudah dilakukan lahir dan batin. Secara lahir, ia bekerja dan belajar. Kegagalan demi kegagalan ia alami, namun ia terus bangkit.?

Tahap demi tahap, jenjang demi jenjang ia lalui dengan sebar, demi meraih daftar-daftar keinginannya. Tak hanya secara lahir, usaha-usaha batin pun dilakukan, terutama di saat-saat kondisi sulit/terjepit. Ia rajin beribadah dan berdoa, memohon agar Allah memudahkan usahanya meraih setiap keinginannya.

Demikianlah cara umumnya manusia melalui fase hidupnya di dunia. Mereka tentu sadar hidup ini hanya sementara, tapi mereka seolah mencoba melupakannya. Sampai tak lagi merasa jika jatah waktunya di dunia kian habis. Saat ajal tiba, ia mungkin sedang giat-giatnya bekerja, belajar, bercengkrama, bersenang-senang.?

Keinginannya masih banyak yang belum terpenuhi. Masih banyak cita-cita yang belum tercapai. Masalah masih banyak yang belum diselesaikan dan tanggungjawab pun masih besar, di keluarga, kantor, organisasi, masyarakat. Namun ajal tak bisa ditunda. Maka kematian menjadi terasa begitu menyakitkan.

Dijajah nafsu

Seperti sudah diuraikan, manusia adalah mahluk dua dimensi, lahir dan batin; jasad dan ruh. Setelah ruh dan jasad dipersatukan, seperti kata Imam al-Ghazali dalam I?yâ ‘Ul?mudd?n, jasad menjadi kendaraaan bagi ruh (manusia) selama menjalani fase kehidupannya di dunia.

Kemudian, dalam menahkodai tubuh, ruh memiliki satu organ/sistem dalam “tubuh”nya yang disebut an-nafs, yang dalam konteks ini sering diartikan sebagai hawa nafsu atau syahwat. Dalam terminologi pakar kejiwaan Muslim seperti Ibnu Sina dan Mullâ ?adrâ, hawa nafsu diistilahkan dengan an-nafs al-?ayawâniyyah (nafsu hewani).?

Sejatinya, keberadaan hawa nafsu ini adalah fitrah, sebagaimana fitrah-fitrah lainnya dalam diri manusia. Ia adalah unsur ruhani yang menjadi sumber gerak tubuh. Ia menggerakkan dan memproses seluruh organ dan sistem tubuh, pencernaan, pertumbuhan, perkembangbiakkan, penginderaan, dan lain sebagainya.

Dari sinilah bersumber semua rasa dan hasrat jasmaniah manusia. Ini tentunya terkait langsung dengan aktivitas fisik manusia, seperti makan, tidur, bangun, pergi, bekerja, seks dan lain-lain. Artinya, hawa nafsu merupakan penggerak berlangsungnya aktifitas dasar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ia sebagai hasrat yang mendorong aktivitas-aktivitas itu dan sekaligus yang merasakannya.

Selain hawa nafsu, ruhani manusia juga memiliki bagian lain yang diistilahkan Ibnu Sina sebagai an-nafs al-insâniyyah (nafsu insani), yang mencakup qalbu dan akal-pikiran. Qalbu menjadi sumber spiritualitas dan akal-pikiran sumber intelektualitas. Aspek ruhani inilah yang mendorong manusia pada aktifitas keilmuan, intelektualitas, keagamaan dan filantropi.

Persoalannya adalah nafsu hewani mengontrol langsung aktivitas dasar manusia, seperti makan, minum, seks, penglihatan, pendengaran, dan lain sebagainya. Ketika ruh masuk ke dalam tubuh, aspek ruh inilah yang langsung berperan dan aktif bekerja. Saat tubuh masih gumpalang daging, ia menumbuhkannya jadi janin hingga lengkap dengan organ-organ tubuhnya.?

Jadilah janin itu bayi yang bergerak dan mengindera, hingga sempurna dan siap terjun keluar dari rahim sang ibu. Tahun berganti tahun, barulah nafsu insani aktif bekerja menumbuhkan kesadaran intelektual dan spiritual pada manusia baru itu.

Kondisi ini tentu saja menjadikan hawa nafsu lebih unggul dalam mengendalikan tubuh, dibandingkan pikiran dan qalbu. Sementara dalam konteks ini, tugas akal dan qalbu sebenarnya adalah untuk mengontrol dan membimbing aktifitas hawa nafsu.?

Seperti dikatakan Imam al-Ghazali dalam K?miyâ‘ as-Sa’âdah, jika diri manusia itu diibaratkan sebuah negara (mad?nah), maka tubuh itu adalah wilayah kekuasaan (dliyâ‘), syahwat itu ibarat perdana menteri (wâliy) yang mengatur pemerintahan atas perintah dan bimbingan raja. Sedangkan qalbu adalah sang raja (mâlik) dan akal adalah penasehat raja (waz?r).

Namun jika perdana menteri itu begitu cerdik dan kuat pengaruhnya, sementara sang raja lemah dan bodoh, maka seluruh kerajaan akan tunduk di bawah kendali sang perdana menteri, termasuk pula raja dan penasehatnya itu.?

Artinya, ketika hawa nafsu seseorang terlampau kuat mencengkram tubuh, sementara qalbu dan akalnya lemah, maka orang itu perilakunya sehari-hari akan hanya berdasarkan kemauan hawa nafsunya. Qalbu dan akalnya pun akan bekerja menuruti perintah hawa nafsunya.

Ini kondisi ruhani yang umum dialami manusia, saat hawa nafsu menjajah wilayah kekuasaan qalbu dan akal. Untuk itulah Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apakah kau pernah lihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai ilâh (tuhan). Allah membiarkannya tersesat dalam kesadarannya. Allah telah mengunci pendengaran dan qolbunya, serta menutup pandangannya. Maka siapakah yang mampu menuntunnya ketika Allah sudah menyesatkannya. Tidakkah kalian ingat?” (al-Jatsiyah: 23)

Ketika hidup seseorang dipenuhi dengan keinginan-keinginan, maka hari-harinya akan dipenuhi dengan rangkaian kesibukan untuk mencapainya satu demi satu. Jika ia berhasrat jadi seorang PNS, misalkan, maka dia akan mengejarnya. Tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga, semuanya akan dipertaruhkan. Perasaannya akan selalu diliputi harapan dan kecemasan, yang hanya hilang jika ia sudah berhasil. Sebaliknya jika gagal, ia akan dirundung stres dan kesedihan.

Satu keinginan terpenuhi, muncullah keinginan-keinginan berikutnya. Dan manusia, pada saat bersamaan, selalu punya lebih dari satu keinginan. Hidupnya akan disesaki berbagai kesibukan demi mengejar daftar kemauan syahwatnya: uang, rumah, sepeda motor, mobil, tanah, pekerjaan, pangkat/jabatan, kekuasaan, istri/suami, anak-cucu, hiburan, hobi, ilmu, prestasi, gelar, dan lain sebagainya.

Ia terjebak dalam jejaring keinginan dan kesibukan yang diciptakannya sendiri atas perintah syahwat. Dan itu berlangsung hampir sepanjang hidupnya, dan menyita hampir seluruh waktu, tenaga, pikiran dan perasaannya. Namun di sisi lain, ibadah dilakukan hanya sekedarnya. Bahkan, momen-momen sakral itu pun, misalnya shalat, puasa, haji, infak, sedekah, tak jarang dijadikan sarana ruhani untuk memuluskan keinginan-keinginan duniawinya itu.

Kemauan nafsu tak pernah habis. Dan untuk setiap kemauan, nafsu akan menggerakkan tubuh tuannya (manusia) untuk melakukan apa saja untuk memenuhinya, meskipun hal itu bisa berakibat buruk bagi dirinya sendiri ataupun melanggar batas-batas aturan syari’at.?

Dalam qalbunya, orang mungkin sadar bahwa suatu perbuatan itu salah/dosa dan akalnya pun tahu jika itu berbahaya, namun karena desakan syahwat yang begitu kuat, ia tetap melakukannya. Ia juga tetap menikmatinya. Keadaan seperti ini, berarti seseorang sudah menjadi hamba bagi hawa nafsunya. Seperti dikecam Allah dalam ayat surat al-Jatsiyah di atas.

Tentang kondisi manusia semacam itu, Allah SWT juga berfiman:

? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sungguh manusia itu kepada Tuhannya ingkar. Mereka mengakui keingkarannya itu. Kepada harta-benda, cintanya begitu besar.” (al-‘Adiyat, 6-8).

Ia selalu sadar bahwa Allah adalah Tuhan (ilâh), dan hanya kepada-Nya ia mengabdikan diri. Namun jeratan hawa nafsu begitu kuat, qalbu dan akalnya yang lemah tak mampu mengendalikan apalagi membebaskannya. Akhirnya, sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan semua yang dimilikinya, didedikasikan bukan untuk Allah, tapi untuk mengejar semua yang diinginkan nafsu hewaninya. Bahkan terkadang ia rela melanggar aturan-aturan Allah, hanya demi menuruti kemauan “tuhan” kecilnya itu. Inilah barangkali yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, serta yang menundukkan matahari dan bulan. Niscaya mereka akan menjawab “Allah”. (al-Ankabut, 61).

Sampai di sini, jelas bahwa musuh terbesar kita sampai detik ini adalah syahwat/hawa nafsu. Setiap insan sudah beriman kepada Allah jauh sebelum ia lahir ke muka bumi. Namun, seperti dikatakan Syekh Asy-Sya’rawi saat bicara tentang syahâdah al-fi?hrah, hawa nafsulah yang kemudian melalaikan kita dari ikrar suci itu.?

Sedangkan hawa nafsu itu sendiri adalah bagian penting dari diri selama kita menjalani hidup di dunia. Oleh karenanya, perjuangan kita untuk merdeka dari belenggu hawa nafsu menjadi begitu berat dan sulit. Terlebih ini adalah perjuangan abadi di sepanjang hidup kita.

Sebentar lagi ‘Idul Adha tiba. Saat yang tepat untuk menyelami makna pengorbanan Ibrahim a.s dan puteranya Isma’il a.s. Keduanya menjadi teladan bagi kita tentang insan yang merdeka dari penjajahan hawa nafsu. Telah sekian lama Ibrahim menanti hadirnya seorang putera, namun setelah hadir dan beranjak dewasa Allah justru menyuruhnya menyembelih putera kesayangannya itu.

Jika melirik pada kemauan syahwat, perintah itu tentu sangat berat bagi Ibrahim. Namun, dengan penuh kesadaran dan ketulusan sebagai hamba Allah, Ibrahim a.s tetap taat melaksanakan perintah itu. Demikian halnya sang putera, Isma’il a.s.

Akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Sejauh mana kesungguhan kita berjuang membebaskan diri dari penjajahan hawa nafsu, kembali menjadi hamba Allah sepenuhnya. Selagi masih ada sisa umur dan badan masih sehat. Dahulu kita terlahir sebagai hamba Allah yang merdeka, kelak mati pun semoga dalam keadaan merdeka pula. Âm?n.

Penulis adalah Dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 15 Januari 2018

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa

Jember, Rohis Tegal - Rohani Islam. Umat Islam di berbagai daerah di Indonesia, Jumat (19/1) tadi malam, memanjatkan doa keselamatan menyambut datangnya tahun baru Hijriyah 1428. Perpindahan tahun baru kali ini diharapkan juga berarti perpindahan atau hijrah dari yang tidak sempurna menuju ke tingkatan yang lebih sempurna, dari dosa dan salah menjadi pahala dan keutamaan.

Di Pondok Pesantren Al Qodiri Jember, malam tahun baru Islam diisi dengan menggelar hataman Al Quran bersama para santri dan warga sekitar pesantren. Para jamaah membaca doa bersama dan membaca wirid, untuk keselamatan semua umat manusia dan warga yang tertimpa musibah seperti banjir lumpur Lapindo, kapal hilang, banjir, longsor dan serangan penyakit.

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa

Pimpinan Ponpes Al Qodiri, KH Achmad Muzakky Syah, Jumat (19/1) malam, mengatakan, sebagai ummat manusia sudah saatnya melakukan kajian terhadap diri sendiri dengan menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada Allah SWT.

Diakui atau tidak, katanya, kita sering melakukan kesalahan baik kepada manusia maupun kepada Allah dengan tetap menganggap bahwa diri kita benar.  "Kalaupun belum dikabulkan maka kita terus meminta ampun pada Allah," ujarnya.

Warga Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, juga mengadakan hataman Al-Quran di Sekretariat Cabang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumenep.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Selama ini gema pergantian tahun baru Islam hampir tidak pernah dirayakan, makanya MUI memulai dengan kegiatan menghatamkan Al-Quran," ujar Ketua MUI Sumenep, KH Safraji, Sabtu.

Kegiatan menghatamkan Al-Quran, kata Safraji, akan dijadikan kalender tahunan. Masyarakat diharapkan mengikuti acara tersebut, selain memanjatkan doa juga sebagai wahana silaturrahmi sesama muslim.

Malam Tahun Baru 1428 Hijriah di Semarang, Jawa Tengah, dirayakan secara sederhana dan bernuansa kontemplasi tanpa ada bunyi trompet dan konvoi kendaraan bermotor seperti ditemui setiap pergantian tarikh Masehi.

Menyambut datangnya bulan Muharam atau Sura, Kamis malam, warga Kota Semarang berkumpul untuk tirakatan yang diselenggarakan secara swadaya oleh warga tingkat RT, RW, maupun kelurahan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Berbeda dengan pergantian tahun baru tarikh Masehi yang disambut gegap gempita, malam satu Sura ini disambut dengan segala kesederhanaannya. Aneka makanan yang disajikan semuanya bernuansa tradisional, termasuk nasi tumpeng. Kalau pun ada hiburan, berkaraoke bersama sudah mampu memberi kegembiraan warga.

Di  Yogyakarta umat Islam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1428 Hijriyah dengan melakukan berbagai kegiatan religius di antaranya pengajian maupun tadarus Al Quran di masjid-masjid, Jumat malam.

Di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta tampak puluhan umat Islam dengan tekun melakukan kajian dan tadarus kitab suci Al-Quran dipimpin seorang ustadz.

Tadarus Al Quran yang diselenggarakan Takmir Masjid Gedhe itu, dimaksudkan agar jemaah Masjid Gedhe Kauman bisa mendalami isi Al Quran.

 "Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menghindarkan umat Islam melakukan kegiatan di luar ajaran agamanya serta yang bisa menjauhkan dari keimanan mereka," kata salah seorang pengurus Takmir Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang enggan disebut namanya. (ant/fur/nam/han/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, News Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 11 Januari 2018

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam

Hawa panas mulai terasa pada momentum pelaksanaan Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur. Di akhir jadwal pendaftaran bakal calon tercatat sebanyak 10 orang kandidat yang sudah resmi mendaftarkan diri.

Aqib Marufin, saat dihubungi via telepon, mengatakan, kesepuluh kandidat tersebut berasal dari masing-masing zona di Jawa Timur. Di antaranya dari Zona Tapal Kuda ada Arief Rahman dari Situbondo, Arya dari Lumajang dan Kholilullah dari Probolinggo. Dari Zona Metropolis ada Zainuddin dari Surabaya, Fathul Hasan dari Kota Malang, dan Zain Haq dari Sidoarjo.

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar

Menyusul kemudian dari Zona Matraman ada Mahathir Muhammad dari Blitar, Ahmad Syuhada dari Trenggalek dan Alfi Hafidh Ishaqro dari Madiun. Terakhir dari Zona Madura ada Helmi Fuad dari Bangkalan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebelumnya diketahui bahwa sampai di hari terakhir pendaftaran Selasa (12/4), hanya ada satu calon dan terancam proses pencalonan berlangsung aklamasi. Melihat sampai malam terakhir pendaftaran tercatat ada 10 kandidat, Aqib memaparkan bahwa Konkorcab PKC Jawa Timur akan berlangsung sesuai rencana.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Dengan begini mereka menunjukkan bahwa kepedulian terhadap PMII Jawa Timur masih tinggi. Ini merupakan perang bintang dikarenakan kandidat yang mendaftar adalah tokoh-tokoh di cabangnya masing-masing," terang Aqib.

Banyaknya kandidat yang mendaftar sebagai calon ketua PKC, ternyata berbanding terbalik dengan bakal calon ketua Kopri PKC. Aqib menambahkan, sampai hari terakhir belum ada satupun yang mendaftar. Karena itu, panitia memberikan perpanjangan waktu untuk penfataran ketua kopri PKC selama tiga hari.

"Untuk kandidat Ketua Kopri PKC belum ada satu pun yang mendaftar sampai pendaftaran resmi ditutup. Karena itu panitia memperpanjang sampai tanggal 15 April," terangnya.

Sarjana Hukum ini pun berharap dengan adanya perpanjangan waktu yang diberikan panitia calon ketua Kopri PKC bisa memberikan dorongan kepada kader puteri untuk bisa mendaftarkan diri menjadi calon.

"Semoga dengan masa perpanjangan ini, bermunculan banyak kader putri yang berani tidak hanya di wacana, tetapi iuga aksi. Dan untuk sepuluh kandidat PKC semoga Konkorcab kali ini menjadi perang adu visi dan misi, adu ide dan gagasan bagaimana PMII menempatkan diri dalam era globalisasi saat ini," tegasnya.(Isna WF/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 30 Desember 2017

Matahari Serahkan Penghimpunan Infak ke NU Care-LAZISNU

Bogor, Rohis Tegal - Rohani Islam

Kerja sama PT. Matahari Department Store Tbk dengan NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq Dan Shadaqah Nahdlatul Ulama) dalam bentuk penghimpunan infak di kasir Matahari pada periode Mei-Juli telah berakhir. Penghimpunan selama 3 tiga bulan tersebut menghasilkan infak senilai 900 juta rupiah.

Matahari Serahkan Penghimpunan Infak ke NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Matahari Serahkan Penghimpunan Infak ke NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Matahari Serahkan Penghimpunan Infak ke NU Care-LAZISNU

Penghimpunan infak diserahkan oleh Direktur SDM Andre Rumantir dan Sekretaris Korporasi Miranti Hadisusilo, kepada Syamsul Huda selaku Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU, di Matahari Department Store Keboen Raya Bogor, Senin (14/08).

Andre Rumantir menyerahkan donasi itu seraya berterima kasih atas kerja sama yang terjalin dengan NU Care-LAZISNU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Terima kasih banyak atas kehadirannya, atas kerja samanya. Terhitung sejak tanggal 1 Mei sampai 31 Juli 2017, donasi atau penghimpunan infak di kasir (Matahari Departement Store) totalnya 800 juta sekian. Namun kami bulatkan menjadi 900 juta. Silakan diterima,” papar Andre.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Andre manambahkan, “Ini Program kita bersama. Semoga kita bisa kembali bersinergi, tururt berkontribusi memakmurkan anak bangsa.”

Syamsul Huda menerima donasi tersebut dan mengungkapkan bahwa NU Care-LAZISNU siap mengelola dan menyalurkan donasi tersebut.

“Kami NU Care-LAZISNU, mewakili PBNU, siap mengelola, menyalurkan, mendayagunakan dana penghimpunan infak dari Matahari ini kepada saudara-saudara yang membutuhkan. Salah satunya (penyaluran) ke Pesantren An-Nur, Bogor,” ungkap Syamsul.

Penyerahan donasi tersebut berbarengan dengan penyerahan bantuan dari NU Care-LAZISNU kepada Pesantren An-Nur Bogor, berupa 1,5 ton beras dan uang santunan untuk para santri yang hadir.

Fathur Rohman, Pimpinan Ponpes An-Nur, menyampaikan banyak terimakasih atas bantuan yang disalurkan oleh NU Care-LAZISNU.

“Ini kali kedua An-Nur menerima bantuan dari NU Care-LAZISNU. Kami berterimakasih sekali. Semoga menjadi ukhuwah antara LAZISNU dan Pesantren An-Nur, demi mencapai ridla dan rahmat Allah SWT,” tutur Fathur. (Wahyu Noerhadi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Kajian Sunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Khotmil Kutub Besok, Teater Fattah Gelar Pementasan Kelima

Demak, Rohis Tegal - Rohani Islam. Teater Fattah kembali mementaskan lakon “Indonesia”. Pada produksinya yang kelima, teater Fattah yang dipimpin Muslim akan mementaskannya di tengah acara Khotmil Kutub Wa Khotmil Qur’an di pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak, Sabtu (7/6).

Lakon “Indonesia” memuat kritik terhadap pengelolaan aset negara dengan menampilkan lelucon. Lakon ini dipentaskan 19 santri. Berbagai karakter dimasukkan dalam cerita tersebut.

Khotmil Kutub Besok, Teater Fattah Gelar Pementasan Kelima (Sumber Gambar : Nu Online)
Khotmil Kutub Besok, Teater Fattah Gelar Pementasan Kelima (Sumber Gambar : Nu Online)

Khotmil Kutub Besok, Teater Fattah Gelar Pementasan Kelima

Sutradara Sholikul Hadi hanya memberikan waktu latihan satu bulan, sebuah waktu yang sangat singkat bagi ukuran pementasan teater.  “Walaupun hanya sebulan, kami yakin akan memberi gebrakan dalam pementasan teater tahun ini,” ujar Hadi, Kamis (5/6).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Wazir menyatakan gembira atas pengalaman pertamanya. “Banyak hal saya peroleh saat latihan seperti kedisiplinan, konsentrasi,” ujar Wazir.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Saya bangga dengan kakak kelas yang bersedia melakonkan pementasan teater Fattah. Karena, pementasan teater yang telah lama berjalan ini masih dipertahankan,” pungkas Yusuf, salah satu santri Futuhiyyah. (Miftahul Khoir-Ben Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Sunnah, Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 29 Desember 2017

Cara Melaporkan Akun dan Situs Radikal di Internet agar Diblokir

Kementerian Komunikasi dan Informatika baru-baru ini memblokir beberapa akun dan situs online setelah melakukan pengawasan dan menerima laporan dari masyarakat. Laporan terkait dengan konten media tersebut yang terindikasi mendukung secara jelas aksi teror, khususnya yang terjadi di Jalan MH Thamrin, 14 Januari 2016 kemarin lalu.

Sebagaimana dilaporkan dalam laman resminya, untuk kategori media sosial Kementerian Kominfo telah memblokir tiga akun Facebook, dua akun Twitter, dan sebuah telegram yang sudah terang pro terhadap aksi bom di sekitar Gedung Sarinah tersebut. Kementerian Kominfo juga telah memblokir sedikitnya 11 website berkenaan dengan tragedi itu.

Cara Melaporkan Akun dan Situs Radikal di Internet agar Diblokir (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Melaporkan Akun dan Situs Radikal di Internet agar Diblokir (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Melaporkan Akun dan Situs Radikal di Internet agar Diblokir

Kementerian Kominfo mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung penanganan akun-akun media sosial juga situs-situs di internet yang terbukti mendukung aksi kekerasan atau terorisme. Caranya cukup mudah, hanya dengan malaporkannya melalui email aduankonten@mail.kominfo.go.id, dan pihak Kementerian Kominfo akan menindaklanjuti.

Laporan akan lebih efektif bila mencantumkan link, serta sejumlah bukti data secara terperinci yang benar-benar menjadi keberatan pelapor dan diperkirakan berdampak buruk bagi kepentingan publik. Data bisa berupa rekaman tampilan layar (screenshot) atau keterangan yang padat dan jelas.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Selain situs dan akun radikal di internet, Kementerian Kominfo juga bertanggung jawab terhadap pemblokiran situs-situs pornografi, perjudian, perdagangan orang, transaksi narkoba, dan situs-situs merugikan lain yang disalahgunakan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Pesantren Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 22 Desember 2017

Kiai Hasyim Muzadi dan Sandal Orang Kristen

Kiai Hasyim Muzadi dalam sebuah ceramah pernah berkisah tentang orang Kristen yang heran atas perilaku umat Islam ketika beribadah. “Gimana orang Islam ini. Wong ibadah kok sandalnya sering hilang?!”

Ledekkan ini dibalas santai Kiai Hasyim. “Ya mesti saja hilang, lha wong sandalnya enggak dipakai. Nah, sampean kan sepatunya dipakai pas di gereja.”

Kiai Hasyim Muzadi dan Sandal Orang Kristen (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Muzadi dan Sandal Orang Kristen (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Muzadi dan Sandal Orang Kristen

“Jadi yang hilang bukan sepatunya tapi sepeda motornya,” tambah Kiai Hasyim disambut tawa hadirin. ? (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam Daerah, Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sekolah Lima Hari, Ketum Pergunu: Anak Tidak Akan Bisa Pandai

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim menggarisbawahi rencana kebijakan Full Day School (FDS) melalui sekolah lima hari bahwa kebijakan tersebut tidak akan membuat anak didik menjadi lebih pandai.

Sekolah Lima Hari, Ketum Pergunu: Anak Tidak Akan Bisa Pandai (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Lima Hari, Ketum Pergunu: Anak Tidak Akan Bisa Pandai (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Lima Hari, Ketum Pergunu: Anak Tidak Akan Bisa Pandai

Ia pun menekankan kepada Mendikbud Muhadjir Effendy untuk mencabut rencana sekolah lima hari tersebut. Vakum dua hari, anak zaman sekarang tidak akan terlepas dari HP? Gadget. Karena faktor gadget tersebut, menurutnya Anak-anak SMP dan SMA itu belum mampu menguasai diri kalau libur dua hari.

“Itu sangat berbahaya sekali. Kalau memang untuk menghilangkan kelelahan belajar selama lima hari, cukup sehari, karena kalau dua hari, anak punya potensi untuk nakal,” kata Kiai Asep, Senin (12/6) usai halaqoh pendidikan di Gedung PBNU Jakarta.

“Anak-anak tidak akan bisa pandai karena ada kevakuman sebab libur dua hari itu, mengangkat kembali untuk memulai belajar, itu berat sekali kalau tiap minggu vakum semacam ini,” imbuh Pimpinan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto ini.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia menegaskan, gadget sedang melanda generasi bangsa Indonesia. Gadget lebih ganas daripada sabu-sabu. Kalau sabu-sabu menghasilkan khayalan, kalau HP menghasilkan gambar konkret.

?

Ia menjelaskan, sekarang ini banyak anak-anak yang tidak bisa berpisah dengan HP-nya dengan jarak 10 meter. “Ini sangat luar biasa, bahkan tidak bisa berpisah dengan HP-nya selama 10 menit,” ungkapnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kalau seandainya libur sampai dua hari, lanjut Kiai Asep, kemudian hari itu tidak cukup digunakan untuk melepas lelah, tetapi sekaligus setelah lelahnya lepas punya potensi hura-hura lagi.

?

“Itu bagaiman dengan keberadaan HP yang sekarang, sementara mereka belum bisa menjadi pengendali terhadap HP itu sendiri jika vakum belajar terlalu lama,” tuturnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 21 Desember 2017

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik

Oleh Mohammad Subhan Zamzami

Situasi politik tanah air pasca Pemilihan Presiden tahun 2014 lalu dinilai kurang kondusif. Tidak seperti Pilpres sebelumnya, Pilpres tahun 2014 seakan memecah rakyat Indonesia menjadi dua kubu. Perseteruan dua kubu ini sangat berbau SARA (suku, ras, agama, dan antargolongan), yang kemudian memuncak pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, dan agaknya akan terus memanas hingga Pemilihan Presiden tahun 2019. Sayangnya, pihak yang berseteru ini tidak hanya memicu gesekan pemeluk antaragama, tapi juga menyulut kembali gesekan pemeluk seagama yang memiliki perbedaan pandangan keagamaan dan politik.

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Moderasi Ibn Umar dalam Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Moderasi Ibn Umar dalam Konflik

Dalam konteks Islam, situasi seperti ini seakan menggiring kita melihat pra dan pasca fitnah kubra (tragedi politik besar) yang merenggut banyak korban jiwa, baik dari kubu ‘Ali ibn Abu Thalib maupun dari kubu Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Imbas fitnah kubra ini masih sangat terasa hingga saat ini, seperti perbedaan pandangan keagamaan dan politik. Perbedaan pandangan keagamaan ini, misalnya, melahirkan aliran-aliran kalam di kalangan umat Islam. Sedangkan perbedaan pandangan politik di antara mereka setidaknya melahirkan empat kubu, yaitu kubu ‘Ali ibn Abu Thalib, kubu Mu’awiyah ibn Abu Sufyan, kubu Khawarij, dan kubu sebagian sahabat.

Kubu ‘Ali memainkan high politics dengan berusaha mempertahankan idealisme dan nilai luhur Islam dengan tidak terjebak pada politisasi agama, meski pada akhirnya mereka menyerah pada desakan sebagian pendukungnya yang kemudian membelot, sehingga mereka dikalahkan oleh kecerdikan ‘Amru ibn al-‘Ash, juru runding kubu Mu’awiyah. Kubu Mu’awiyah lihai memainkan isu-isu agama untuk melegitimasi kepentingan politiknya, sehingga mudah meraih simpati masyarakat dengan segudang prestasi dan kebobrokannya sekaligus.

?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kubu Khawarij memainkan politik Islam simbolis yang kaku, sehingga mereka akan selalu beroposisi melawan siapa pun penguasa yang tidak sesuai dengan pandangan keagamaan dan politik mereka. Kubu terakhir, kubu sebagian sahabat, lebih suka mengasingkan diri dengan tidak melibatkan diri berlarut-larut dalam pertikaian politik, karena bagi mereka sikap seperti ini lebih baik meski mereka juga sadar bahwa pada akhirnya mereka juga akan dianggap salah oleh kubu lain. Perbedaan pandangan keagamaan dan politik mayoritas umat Islam saat ini hanya representasi dari masa tersebut.

Salah satu tokoh besar pada masa itu adalah ‘Abdullah ibn ‘Umar (w. 72/73 H), sahabat sekaligus putra ‘Umar ibn al-Khatthab. Ibn ‘Umar merupakan sahabat terkemuka periwayat hadis terbanyak kedua dengan jumlah periwayatan sebanyak 2630 hadis. Dalam Shahih al-Bukhari, al-Bukhari menulis dua hadis tentang pandangan keagamaan dan politik ‘Ibn ‘Abbas, yang mengindikasikan bahwa ia berada pada kubu terakhir yang lebih suka mengasingkan diri dengan tidak larut dalam perselisihan, yaitu hadis ke-4513 dan hadis ke-4515. Hadis ke-4513, misalnya, mengisahkan Ibn ‘Abbas tidak ikut serta dalam tragedi Ibn al-Zubair, sehingga ada dua orang datang menghadap kepadanya untuk mempertanyakan sikapnya tersebut.

Pada saat itu, ia berkata, “Saya tidak ikut karena sesungguhnya Allah mengharamkan pertumpahan darah atas saudaraku.” Mendengar jawaban tersebut, dua orang tadi menggunakan ayat Alquran wa qatiluhum hatta la takuna fitnah? (dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi) untuk menekannya. Tapi Ibn ‘Umar menyanggah mereka dengan berkata, “Kami berperang agar tidak terjadi fitnah sehingga ketaatan (agama) hanya semata-mata untuk Allah, sedangkan kalian ingin berperang agar terjadi fitnah sehingga ketaatan (agama) hanya semata-mata untuk selain Allah.”

Sedangkan hadis ke-4515 mengungkapkan pandangan politik Ibn ‘Umar. Dalam hadis tersebut, ada seorang laki-laki datang menghadapnya untuk mempertanyakan pandangannya tentang kepribadian ‘Utsman ibn ‘Affan dan ‘Ali ibn Abu Thalib. Sebagaimana diketahui, ‘Utsman mewakili Bani Umayah, sedangkan ‘Ali mewakili Bani Hasyim. Dua klan besar ini bertikai sejak sebelum masa Nabi Muhammad Saw. hingga beratus-ratus tahun setelahnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mendapat pertanyaan tersebut, Ibn ‘Umar menjawab, “Allah telah mengampuni ‘Utsman, tapi kalian berat memaafkannya. Sedangkan ‘Ali adalah sepupu Rasulullah Saw.” Jawaban Ibn ‘Umar ini menunjukkan bahwa ia lebih suka mendamaikan pihak-pihak yang berseteru, bukan justru semakin memperkeruh keadaan.

? ? ? ? ? ?

Penting diketahui bahwa al-Bukhari mencantumkan dua hadis tersebut untuk menafsirkan salah satu ayat perang atau jihad yang kerap disalahtafsirkan oleh kaum jihadis, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 193 Wa qatiluhum hatta la takuna fitnah wa yakuna al-din li Allah fa inintahau fa la ‘udwan illa ‘ala al-dzalimin (Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan [sehingga] ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti [dari memusuhi kalian], maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim), yang menunjukkan bahwa al-Bukhari sependapat dengan Ibn ‘Umar.

Nah, di tengah memanasnya situasi politik tanah air, moderasi Ibn ‘Umar dalam konflik menemukan relevansinya. Oleh karena itu, menggemakan kembali moderatisme Ibn ‘Umar dalam konflik sangat penting, sehingga sosok-sosok Ibn ‘Umar baru akan muncul untuk menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara kembali kondusif. Sebab salah satu faktor memanasnya situasi politik tersebut adalah penyalahgunaan simbol-simbol agama, baik karena disengaja untuk kepentingan politik maupun karena minimnya wawasan keislaman sebagian pihak yang selama ini selalu mengatasnamakan Islam untuk membenarkan aksi-aksinya.

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, News Rohis Tegal - Rohani Islam

KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pondok pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat kini telah memiliki pengasuh baru setelah meninggalnya KH Abdullah Abbas. Adik kandungnya yang terakhir, KH Nahduddin Royandi Abbas kini menggantikan posisinya sebagai tokoh sentral di ponpes tersebut.



KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nahduddin Royandi Abbas Jadi Pengasuh Ponpes Buntet

Putra ke tujuh dari tujuh bersaudara ini memang kurang dikenal karena perjalanan hidupnya lebih banyak dihabiskan di luar negeri. Sejak tahun 1954 saat usianya masih 18 tahun, ia sudah berangkat ke Arab Saudi untuk menimba ilmu agama. Diantara guru-gurunya adalah Syeikh Yasin Padang dan Syeikh Hamid al Banjari. Di negeri kaya minyak itu, ia tinggal selama lima tahun.

Selanjutnya, mulai tahun 1959 ketika usianya menginjak 23 tahun, ia pergi ke London Inggris untuk bekerja sebagai diplomat RI. Ia juga sempat bekerja di PT Aneka Tambang. Di kota yang dialiri sungai Thames ini, dakwah Islam tak pernah ditinggalkan, terutama kepada muslim warga negara Indonesia yang tinggal di sana. Ia juga menjadi rais syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU United Kingdom (UK).

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Seandainya masih ada yang lain, saya tak mau menduduki posisi kakak saya di pesantren ini,” katanya merendah ketika ditemui Rohis Tegal - Rohani Islam di Gd. PBNU seusai pertemuan alumni santri Buntet di Jakarta, Kamis (16/5).

Dengan penuh semangat ia menuturkan, pesantren Buntet akan terus dikembangkan, terutama pendidikan formalnya seperti sekolah tinggi ilmu kesehatan, yang sebelumnya hanya akademi keperawatan. Sekolah-sekolah yang bersifat kejuruan yang memberi bekal ketrampilan kepada siswa menjadi prioritas lainnya di masa mendatang.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Tapi tentunya tidak melupakan pengajian kitab kuning, ini tetap berjalan sebagaimana biasanya,” ujarnya.

Jumlah santri yang belajar di pesantren Buntet sekarang berkisar 5000 orang. Puluhan ribu alumninya saat ini sudah tersebar di seluruh Indonesia. Pertemuan alumni yang diselenggarakan di Gd. PBNU Kamis kemarin dihadiri oleh para alumni mulai dari tahun 1970-an sampai tahun 2000-an dengan berbagai latar belakang profesi.

Meskipun saat ini sudah berusia 72 tahun, ia masih terlihat sehat, enerjik dan penuh semangat. Penampilan yang rapi selalu menyertainya kemanapun ia pergi. “Saya ini masih muda lho, Presiden Mesir Husni Mubarok kemarin saja baru merayakan ulang tahun ke 80-nya. Saya juga masih ada kesempatan,” katanya dengan penuh canda.

Ia mengaku masih akan bolak balik London-Jakarta untuk menyelesaikan berbagai urusan. Kedatangannya ke Indonesia juga baru sekitar satu bulan. Saat ini ia tinggal di komplek pesantren Buntet. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Bahtsul Masail, Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 15 Desember 2017

Lagi, Reog Ponorogo Diklaim Malaysia

Ponorogo, Rohis Tegal - Rohani Islam. Para sesepuh  dan  tokoh kesenian reog Ponorogo, Jawa Timur, kecewa dan akan berjuang mempertahankan kesenian reog Ponorogo yang kini juga diklaim sebagai kesenian asli oleh Malaysia.

Salah seorang tokoh kesenian Reog Ponorogo, Ahmad Tobroni,  Kamis (22/11), di Ponorogo, mengaku sangat kecewa saat mendengar kabar dari situs internet milik Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia yang mengklaim bahwa tarian Barongan yang mirip dengan kesenian Reog Ponorogo tersebut adalah milik Pemertintah Malaysia.

"Sebagai warga dan pecinta seni reog, saya meresa kecewa dengan sikap Malaysia dengan seenaknya mengklaim seni reog adalah miliknya. Untuk itu kami akan berjuang mempertahankan warisan budaya yang kami miliki," katanya.

Lagi, Reog Ponorogo Diklaim Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Reog Ponorogo Diklaim Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Reog Ponorogo Diklaim Malaysia

Dalam situs internet tersebut menyebutkan tari Barongan yang terdiri dari beberapa penari seperti dadak merak atau barong jathil, seorang raja dan bujangganong mirip dengan tarian kesenian reog Ponorogo.

Selain itu di dalam portal tersebut dinyatakan tarian barongan ini adalah warisan melayu yang dilestarikan dan bisa dilihat di batu pahat Johor dan Selangor Malaysia.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Beredarnya kabar tarian Barongan tersebut membuat warga Ponorogo dan instansi pemerintahan setempat sempat kaget. Pasalnya Pemerintah Kabupaten Ponorogo sendiri telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik kabupaten Ponorogo tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh menteri hukum dan hak asasi manusia Republik Indonesia.

Selain itu, kata Tobrani, sangat tidak relevan jika Malaysia mengklaim kesenian reog adalah miliknya karena selama ini untuk memiliki peralatan tersebut saja mereka membeli dari ponorogo.

"Jadi tidak mungkin bila sebuah Negara memiliki kesenian kebudayaan dan tidak mampu membuat peralatannya sendiri," katanya.

Untuk membuktikan hal itu, Tobroni juga sempat melakukan pengecekan ke beberapa perajin reog di Ponorogo dan hasilnya para perajin mengaku dalam tahun ini banyak mendapatkan order dari para pelangannya di Malaysia. "Itu adalah bukti bahwa Malaysia melakukan penjiplakan," katanya. (ant/sam)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Sholawat, Hikmah Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock