Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Februari 2018

Sukseskan Pilbup, PMII Subang Serukan Antigolput

Subang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Subang melakukan aksi gerakan antigolput di Wisama Karya Subang, Jl. Ade Irma, Subang, Jawa Barat, Kamis (5/9/2013).

Aksi ini merupakan bentuk seruan moral menjelang pelaksanaan pemilihan bupati (pilbup) dan wakil bupati Subang, 8 September mendatang. Gerakan antigolput dimaksudkan untuk meningkatkan angka partisipasi warga demi kesukseskan pemilihan pemimpin baru itu.

Sukseskan Pilbup, PMII Subang Serukan Antigolput (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukseskan Pilbup, PMII Subang Serukan Antigolput (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukseskan Pilbup, PMII Subang Serukan Antigolput

"Masyarakat Subang harus ikut mensukseskan pilbup dengan menggunakan hak seuaranya dan katakan tidak pada golput," kata Korlap Aksi, Asep Fahmi Ihsam dalam orasinya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Asep juga meminta kepada pihak-pihak terkait lainnya untuk mengawal penyelenggaraan pilbup, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecurangan dan anarkisme yang akan mengganggu jalannya pilbup tersebut.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Katakan tidak pada golput. Sukseskan pilbup Subang dengan tidak golput dan menolak money politic (politik uang)," ucapnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Kajian Sunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 03 Februari 2018

NU dan Kemiskinan Anak

Oleh Achmad Faiz MN Abdalla

Koran Kompas 25 Juli 2017 lalu memuat opini berjudul Kemiskinan Anak. Penulisnya adalah Iswadi, Kepala Subdirektorat Analisis Statistik BPS. Tulisan itu menarik karena memaparkan data, bahwa hampir dari setengah warga miskin di Indonesia adalah anak-anak. Hal yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya. Terlebih bila dikaitkan dengan bonus demografi, persoalan tersebut harus segera diatasi, atau minimal disadari. Karena bagaimana pun, anak adalah harapan bangsa ini di masa mendatang.

NU dan Kemiskinan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Kemiskinan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Kemiskinan Anak

Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2017 sebanyak 27,77 juta orang. Jumlah itu bertambah dari kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang. Nah, dari hampir 28 juta jiwa penduduk miskin pada Maret 2016 itu, sebanyak 40,22 persen adalah anak-anak. Menurut Iswadi, melihat pola pergerakan jumlah dan persentase penduduk miskin, secara kasar, jumlah dan persentase anak miskin pada 2017 tidak jauh berbeda dengan kondisi pada Maret 2016.

Dijelaskan oleh Iswadi, bahwa kemiskinan anak merupakan masalah multidimensional mengingat banyak faktor penyebab anak menjadi miskin. Kondisi rumah tangga merupakan penentu utama kemiskinan anak, baik dilihat dari pendekatan moneter dan nonmoneter. Penelitian menunjukkan anak miskin lebih banyak ditemukan dalam rumah tangga yang dikepalai perempuan, jumlah anggota rumah tangga lebih dari tujuh orang, dan kepala rumah tangga yang berpendidikan rendah.

Anak miskin secara moneter adalah anak berusia 0-17 tahun yang tinggal di rumah tangga miskin, yaitu rumah tangga dengan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan anak moneter dihitung dengan menggunakan metode yang sama dengan perhitungan kemiskinan penduduk secara umum. Bila nilai rata-rata pengeluaran per kapita per bulan suatu rumah tangga berada di bawah garis kemiskinan, maka seluruh anggota rumah tangga merupakan penduduk miskin.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam kemiskinan moneter itu, seorang anak akan sangat rentan menghadapi terampasnya (deprivasi) hak-hak dasarnya. Unicef mengembangkan multiple overlapping deprivation analysis (MODA) yang merupakan suatu ukuran komprehensif tingkat terampasnya hak-hak dasar anak secara multidimensi. Menurut Unicef, anak yang terdeprivasi adalah mereka yang hidup dalam kemiskinan sehingga terampas hak-haknya secara materiel, spiritual, dan emosional dalam memenuhi kebutuhan bertahan hidup dan berkembang. 

MODA membedakan konsep deprivasi untuk anak umur 0-4 tahun dan anak umur 5-17 tahun. Untuk usia 0-4 tahun, hak dasar seorang anak terampas jika ia tak mendapat ASI hingga umur 23 bulan, tidak mendapat imunisasi DPT, dan kelahirannya tidak dibantu oleh kesehatan terlatih. Selain itu, dianggap terampas hak-hak dasarnya jika tidak memiliki akses terhadap sumber air berkualitas, jauh dari sumber air, tidak mempunyai akses terhadap sanitasi yang berkualitas, tinggal di ruang tempat tinggal yang terlalu sempit dan tidak layak, serta mendapat perlakuan kekerasan dalam rumah tangga.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sementara itu, untuk anak umur 5-17 tahun, hak dasar anak terampas jika ia tidak mengikuti program wajib belajar, tidak memiliki akses terhadap fasilitas pencarian informasi, tidak memiliki akses terhadap air berkualitas, tinggal di tempat tinggal dengan ruang yang terlalu sempit, materi lantai dan atap yang tidak layak, serta mendapat kekerasan dalam rumah tangga.

Di Indonesia, bekerjasama dengan Unicef, BPS melakukan penyesuaian indikator dalam mengidentifikasi terampasnya hak-hak dasar anak. Yaitu, jika luas lantai tempat tinggal per kapita kurang dari 7,3 meter persegi, tak memiliki sanitasi serta akses sumber air minum layak, rumah tangga memasak menggunakan bahan bakar alami, tak diberikan ASI eksklusif atau makanan tambahan, konsumsi kalori kurang dari minimum dietary energy requirement (MDER), proporsi lemak pada makanan yang dikonsumsi lebih dari 35 persen, tak bersekolah sesuai umur, tak memiliki akta kelahiran, menjadi pekerja anak, dan pernah atau sedang berstatus kawin.

Peran NU

Sebagai gambaran awal, pada 2015, sebanyak 5,99 persen dari 36,8 juta orang penduduk usia 10-17 tahun di Indonesia tercatat sebagai pekerja anak. Yang memprihatinkan, sebanyak 204.530 orang masih berumur 10-12 tahun dan 356.490 berumur 13-14 tahun. Padahal, mereka merupakan anak dalam usia wajib belajar. Selain itu, data juga menunjukkan, hampir 8 persen anak Indonesia yang lahir tidak ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Karena itu, edukasi dan sosialisasi proses melahirkan yang aman masih harus digiatkan. 

Sebanyak 95,04 persen bayi di bawah dua tahun pernah dikasih ASI. Namun rata-rata lama memperoleh ASI saja hanya 4,03 bulan, sedang rata-rata lama pemberian ASI dengan makanan pendamping 6,23 bulan. Rata-rata tersebut tentu masih jauh dari 23 bulan, sebagaimama ukuran yang ditentukan MODA. Padahal, perkembangan anak pada usia itu sangat berpengaruh pada daya tahan fisik saat dewasa serta perkembangan otak seorang anak.

Sebanyak 1,53 persen anak perempuan usia 10-17 tahun berstatus kawin dan 0,11 persen berstatus cerai (Iswadi, Kemiskinan Anak, Kompas, 25 Juli 2017). Sedang penelitian BKKBN pada tahun 2014, 46 persen atau setara dengan 2,5 juta pernikahan yang terjadi setiap tahun di Indonesia mempelai perempuannya berusia antara 15 sampai 19 tahun (CNN Indonesia, 22 Maret 2016). Indonesia bahkan menjadi salah satu negara tertinggi di Asia Timur dan Pasifik untuk jumlah angka perkawinan usia anak. Tidak heran bila kondisi pernikahan anak di Indonesia sudah masuk dalam kategori darurat. 

Menariknya, Jawa Timur yang merupakan basis Nahdlatul Ulama menjadi daerah dengan jumlah perkawinan anak tertinggi se-Indonesia (Kompas, 24 Juli 2017). Jumlahnya mencapai 35 persen dari jumlah perkawinan. Maka, harus menjadi perhatian penanggung jawab terkait, termasuk NU melalui Fatayat dan Muslimat NU, untuk melakukan edukasi yang lebih gencar kepada orangtua sebagai filter utama pencegahan perkawinan anak. UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan, orang tua bertanggung jawab untuk mencegah perkawinan anak usia dini.

Oleh sebab itu, edukasi dan sosialisasi melalui organisasi masyarakat menjadi sangat relevan. Pemerintah tidak akan dapat berjalan sendiri mengatasi persoalan kemiskinan anak tersebut. Kesadaran masyarakar perlu dibangun, dan untuk membangunnya, peran organisasi masyarakat seperti NU sangat dibutuhkan. Terlebih, mengatasi persoalan itu tidak hanya menjadi kepentingan negara, melainkan kepentingan bersama, termasuk NU sendiri yang sedikit banyak warganya dihadapkan pada persoalan kemiskinan.

Berdasarkan data BPS pada September 2016, angka kemiskinan di kota mencapai 7,73 persen dan di desa 13,96 persen. Perbandingan ini tidak banyak berubah dibandingkan dengan September 2015, di mana kemiskinan di kota mencapai 8,22 persen dan di desa 14,09 persen. Artinya, disparitas jumlah masyarakat miskin yang tinggal di perdesaan dengan perkotaan masih sangat tinggi, yakni hampir dua kali lipat. Sedangkan sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa sebagian besar massa NU berbasis di perdesaan. 

Isu kemiskinan telah menjadi perhatian Muslimat NU pada rapimnas Maret lalu. Muslimat NU pun telah bertekad untuk mengatasi persoalan kemiskinan di perdesaan. Bahkan mengajak beberapa pihak bekerjasama, di antaranya Kementerian Desa. Tekad Muslimat NU tersebut tentu harus didukung, dan harus diseiringkan dalam kerangka mengatasi persoalan kemiskinan anak. Muslimat NU diharapkan dapat menjadi banom yang terdepan dalam mengatasi persoalan kemiskinan anak tersebut.

Pengajian dan kegiatan rutin yang diadakan, harus mulai disisipi edukasi tentang pemenuhan hak-hak dasar anak. Tekad Muslimat NU dalam pengentasan kemiskinan tentu harus dibarengi dengan pembangunan kualitas SDM, terutama SDM anak yang merupakan aset bangsa di masa mendatang.

Sebaliknya, mengatasi persoalan kemiskinan anak tentu tidak cukup bila hanya disandarkan pada kesadaran disertai edukasi belaka, melainkan harus disertai upaya konkret untuk mengatasi kemiskinan sesungguhnya. Dengan begitu, anak dapat mencapai potensi diri atau berpartisipasi secara penuh dan setara dalam lingkup sosial.

Penulis adalah Pelajar NU Gresik, aktif di Sekolah Bangun Desa SoeKa Institute Gresik.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jatim Dilantik di Situbondo

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sebanyak 85 Pimpinan Wilayah Pencak Silat NU Pagar Nusa masa khidmat 2014-2018, Sabtu (1/3) kemarin resmi dilantik di Pondok Pesantren Walisongo, Situbondo, yang diasuh oleh KH Raden Mas Cholil As’ad Samsul Arifin.

Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jatim Dilantik di Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jatim Dilantik di Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jatim Dilantik di Situbondo

Prosesi pelantikan diramaikan dengan berbagai atraksi pencak silat yang terdiri dari seni beladiri tunggal, ganda dan campuran. PW Pagar Nusa juga menampilkan berbagai jurus atau pola teknis yang dimiliki oleh Pagar Nusa.

Para Pimpinan Wilayah Pagar Nusa yang dilantik terdiri dari Majelis Pendekar, Dewan Khos, Pengurus Harian serta departemen-departemen. H. Faidhul Mannan dilantik sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Timur, dan Fathurrahman sebagai sekretaris wilayah.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kami akan berikhtiyar memajukan Pagar Nusa dari sisi managemen keorganisasian. Kami juga akan terus mencari dan mengembangkan bibit-bibit potensi atlet untuk berlaga di level wilayah sampai nasional,” kata Fathurrahman atau Gus Amang dihubungi Rohis Tegal - Rohani Islam, Ahad (2/3).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sehari setelah pelantikan, Ahad PW Pagar Nusa Jatim mengirimkan sebelas perwakilan untuk mengikuti Pelatihan Pelatih Tingkat Nasional Pagar Nusa yang diselenggarakan di Yogyakarta mulai Senin (3/3). Pelatihan yang akan berlangsung hingga satu pekan tidak hanya akan diisi dengan latihan pencak silat. Para guru silat juga akan dibekali dengan materi ke-NU-an dan kepemimpinan. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pesantren, Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 23 Januari 2018

PBNU Lepas Kepemilikan di Rokok Tali Jagat

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam

Rokok Tali Jagat yang dulu diidentikkan dengan rokok milik warga NU dengan logo bola dunianya kini sepenuhnya kepemilikannya sudah beralih tangan. PBNU telah menjual 25 persen saham yang dimilikinya pada PR Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan bahwa PT Bintang Bola Dunia, produsen rokoh tersebut membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya. Namun PBNU tidak memiliki modal yang memadai.

“Daripada kita tidak memiliki hak suara yang memadai, kita putuskan untuk menjual kepemilikan yang kita miliki,” tuturnya di PBNU kemarin.

PBNU Lepas Kepemilikan di Rokok Tali Jagat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lepas Kepemilikan di Rokok Tali Jagat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lepas Kepemilikan di Rokok Tali Jagat

Hasil penjualan saham senilai sekitar 1.7 M tersebut dimasukkan ke dalam rekening dana abadi PBNU yang menambah jumlah sebelumnya yang sudah mencapai 5 milyar.

Rokok ini diluncurkan pertama kali ke masyarakat pada 2 Januari 2003 lalu dengan fokus pemasaran warga nahdliyyin dan memberdayakan petani tembakau dan cengkeh yang banyak dimiliki warga NU agar hasil perkebunannya terakomodasi.

Kala itu, Kiai Hasyim menjelaskan pendirian pabrik rokok ini tidak untuk mengajak orang yang tidak merokok untuk menjadi perokok, tapi mengakomodasi nahliyyin yang jadi perokok yang sekaligus nantinya diharapkan bisa membantu pemberdayaan ekonomi warga NU. Dipasaran, rokok sigaret kretek tangan (SKT) ini dijual seharga Rp. 3.800 per bungkus. (mkf)

Rohis Tegal - Rohani Islam



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Sunnah, Pertandingan, Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik

Sidoarjo, Rohis Tegal - Rohani Islam - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Menteri Sosial Hj Khofifah Indar Parawansa memberikan bantuan berupa uang senilai Rp.15 juta yang diberikan kepada 8 orang keluarga korban bencana perahu terbalik yang menelan korban jiwa, yang terjadi di Desa Bogem Pinggir Kecamatan Balongbendo Sidoarjo, 13 April lalu.

Bantuan ini diberikan oleh Khofifah kepada keluarga korban bencana di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, Jumat (23/6) malam dengan didampingi Bupati Sidoarjo, Wakil Bupati Sidoarjo, Kapolresta Sidoarjo, Kepala Dinas Sosial Gresik dan Kepala Dinas Sosial Mojokerta serta jajaran Dinas Sosial Sidoarjo.

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik

"Dengan waktu yang sangat singkat, akhirnya bantuan ini segera cair sehingga bisa kami bagikan. Awalnya memang Bupati Sidoarjo cerita kalau keluarga korban mendapatkan bantuan uang senilai Rp.3 juta dari APBD dan harus SK Bupati," kata Hj Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu menirukan cerita Bupati.

Para keluarga korban yang menerima bantuan itu di antaranya Kusnari warga Gagang Kepuhsari Balongbendo, Nur Kholis dan Choirun Nisa warga Desa Bangkalan Wringinpitu Kecamatan Balongbendo, Suriasih dan Misah warga Kalimati Kecamatan Tarik. Selain itu, ada dua orang lainnya, yaitu Ujang warga Desa Wringin Anom Gresik dan Rozikin warga Mojosari Mojokerto.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bantuan uang total sebesar Rp.120 juta diberikan kepada delapan orang. Masing-masing dari mereka menerima sebesar Rp.15 juta.

Insiden perahu penyeberangan yang terbalik diduga kelebihan muatan itu terjadi di Desa Bogem Pinggir Kecamatan Balongbendo Sidoarjo pada 13 April lalu. Saat itu, perahu sedang menyeberangkan 11 hingga 12 orang dan 7 motor. Diduga kelebihan muatan, akhirnya perahu terbalik dan menelan korban jiwa. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Ubudiyah, Amalan Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 22 Januari 2018

Kiai Said: Islam Agama Mulia, Belalah dengan Cara Mulia

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengungkapkan, agama Islam adalah agama yang mulia dan santun. Oleh karena itu, cara membelanya pun harus dengan cara yang mulia dan santun.

Hal tersebut dikatakannya saat mengisi “Istighotsah untuk Jakarta Damai” di halaman gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (7/4) malam.

Kiai Said: Islam Agama Mulia, Belalah dengan Cara Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Islam Agama Mulia, Belalah dengan Cara Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Islam Agama Mulia, Belalah dengan Cara Mulia

“Nahdlatul Ulama menerima dua amanat yaitu amanat diniyah (agama) dan amanat wathaniyah (kebangsaan). Agama Islam agama yang benar, dakwah untuk mengajak umat dengan cara yang benar. Islam agama yang sempurna, maka lakukan dakwah dengan cara sempurna. Islam agama yang mulia, lakukan dakwah dengan cara mulia,” urai Kiai Said.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia menyatakan ibarat bus yang bagus, cara calo yang ingin mencari penumpang pun harus baik. “Ayo naik bus saya, ada full AC, snack, supirnya bagus,” kata Kiai Said.

Bukan sebaliknya, mengenalkan bus yang bagus tetapi dengan cara yang buruk dan penuh ancaman.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Ayo ikut ke sana. Kalau nggak mau saya bakar, saya gebukin. Kira-kira orang senang dan mau naik bus enggak? Jadi calo kok ngancam, ya orang malah nggak jadi naik bus itu,” kata Kiai Said.

Demikian juga dengan Islam. Walau Islam agama yang baik, bila cara mengajak orang mengamalkan Islam dengan cara yang jelek, kasar, congkak sombong, maka maka orang akan muak dan benci.

Cara yang santun dan lembut dalam mengenalkan Islam, kata Kiai Said, sesungguhnya telah dicontohkan oleh Rasullullah Muhammad SAW. Ketika memimpin masyarakat Yastrib, penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim; ada pribumi asli, ada pendatang.

“Tetapi Rasul memberlakukan mereka dengan cara yang sama di mata hukum, pelayanan fasilitas, hak dan kewajiban. Enggak pandang bulu sukunya apa, warna kulit, bahasa, budaya tradisi, partai, dan pilihan gubernurnya,” tambah Kiai Said.

Dalam menyambut pemilihan gubernur DKI Jakarta putaran kedua, Kiai Said mengingatkan agar masyarakat tidak terpancing permusuhan walaupun pilihan mereka berbeda.

“Silakan beda pilihan. Yang senang Ahok pilih Ahok. Yang senang Anies pilih Anies. Yang nggak seneng pilih yang lain, nggak usah demo,” tegas Kiai Said.

Ia berharap dalam pemilihan gubernur putaran kedua, masyarakat Jakarta tetap damai, solid, akur, rukun dan damai. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Nahdlatul, Tokoh Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 20 Januari 2018

Cara Madrasah NU Sumberrejo Kenalkan Resolusi Jihad pada Anak

Bojonegoro, Rohis Tegal - Rohani Islam. Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Wali Songo Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegor, Jawa Timur, punya cara sendiri dalam mengenalkan sejarah perjuangan kemerdekaan kepada anak didiknya. 

Cara Madrasah NU Sumberrejo Kenalkan Resolusi Jihad pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Madrasah NU Sumberrejo Kenalkan Resolusi Jihad pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Madrasah NU Sumberrejo Kenalkan Resolusi Jihad pada Anak

Dirangkai dengan perayaan tahun baru hijriyah, Jumat (8/11), madrasah milik MWCNU Sumberrejo ini menyelenggarakan pawai. Setiap murid dari kelas 1 hingga 6 memegang balon berwarna-warni sembari berjajar rapi di halaman MINU. Sementara itu, beberapa tim khusus mengibarkan bendera NU, bersanding Sang Saka Merah Putih dan bendera almamater madrasah.

Kepala MINU Wali Songo Mariyanto mengatakan, hal ini untuk menunjukkan bahwa kita merupakan bagian yang tak terpisahkan dari negara Indonesia. “Sekaligus mengingatkan bahwa NU punya peran yang sangat penting terhadap kemerdekaan bangsa ini melalui resolusi jihad,” tuturnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kegiatan yang dimulai pada pukul 08.00 dan berakhir pada pukul 10.00 ini diikuti juga oleh para wali murid. Peserta didik dari Playgroup Walisongo dan Taman Kanak-kanak Muslimat 28 NU menambah kemeriahan perayaan dengan mengenakan topi hias.

Di akhir pawai ta’aruf ini, seluruh balon udara yang dibawa siswa diterbangkan bersama-sama. Pihak panitia juga mengumumkan pemenang busana terbaik pada sesi pawai. Acara bertema “Hari ini Harus Lebih Baik dari pada Hari Kemarin” ini ditutup dengan penulisan harapan oleh peserta pawai di kain yang disediakan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Ini akan kami sertakan pada rutinan Jumat Pon dan kami panjatkan doa kepada Alloh agar semua isi tulisan tersebut terkabul,” tutup Ahsanul, pemandu acara pada kegiatan tersebut. (Satria Amilina/Mahbib)

Foto: Siswa antusia menuliskan harapannya di atas kain

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Khutbah, Jadwal Kajian, Kajian Islam Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 14 Januari 2018

Ansor Negara Batin Gerakkan Organisasi dengan Sampah Plastik

Way Kanan, Rohis Tegal - Rohani Islam - Ketiadaan dana merupakan salah satu hambatan untuk pergerakan organisasi. Kesimpulan tersebut disampaikan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Negara Batin, Kabupaten Way Kanan, Lampung, kepada Ketua PC GP Ansor Way Kanan Provinsi Lampung Gatot Arifianto, di Blambangan Umpu, Sabtu (28/5).

Menjawab itu, Gatot mengajak kader menuju tempat penampungan plastik bekas bungkus makanan ringan, deterjen, shampo dan meminta mereka mengguntingnya menjadi potong-potongan kecil.

Ansor Negara Batin Gerakkan Organisasi dengan Sampah Plastik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Negara Batin Gerakkan Organisasi dengan Sampah Plastik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Negara Batin Gerakkan Organisasi dengan Sampah Plastik

"Kita aksi dulu baru nanti saya jelaskan teori dan alasannya," ujar Gatot. Ketua PAC Negara Batin Hozin Munir dan jajarannya pun bergegas melaksanakan ajakan Koordinator The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Lampung itu.

Setelah itu, mereka diajak menyaksikan tayangan orang-orang yang sukses mendapatkan rupiah melalui sampah hingga membaca berita mengenai Bripka Seladi, anggota polisi di Polres Malang Kota, Jawa Timur yang demi mendapatkan uang sampingan menyambi pekerjaan menjadi pengumpul sampah.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Pertemuan ini bermanfaat, kami mendapat pencerahan mengatasi hambatan dana untuk pergerakkan organisasi. Insya alah Ansor Negara Batin siap mengolah sampah menjadi rupiah. Kami sampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pimpinan cabang atas wawasan diberikan," ujar Hozin seusai menjajal tidur sejenak dengan bantal berbahan baku limbah plastik.

Selain berdampak positif bagi kebersihan lingkungan, pendayagunaan sampah juga mampu menghasilkan materi. "Ternyata kita butuh pemuda-pemuda yang peduli pada lingkungan. Cerdas dan kreatif memanfaatkan hal yang tidak terpakai menjadi memiliki nilai jual, salah satunya membuat bantal dari bahan baku plastik bekas pembungkus makanan ringan," ujar Ketua Ranting Ansor Gisting Jaya Nanang Yudi Saputro.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Rata-rata kantung plastik digunakan hanya 25 menit. Tetapi untuk hancur dan terurai di alam dibutuhkan hingga 50 hingga 500 tahun. Hal tersebut menjadi masalah serius yang harus disikapi oleh berbagai pihak, termasuk pemuda Nahdlatul Ulama. Jangan sampai kualitas generasi kita mendatang menurun akibat sampah yang mencemari unsur kehidupan seperti tanah dan air," pungkas Gatot. (Syuhud Tsaqafi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 12 Januari 2018

PBNU Usulkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri

Bogor, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengusulkan bahwa ? rencana penetapan Hari Santri Nasional (HSN) sebaiknya tanggal 22 Oktober.

“Saya dari NU merekomendasikan hari santri adalah tanggal 22 Oktober,” tegasnya saat menjadi pembicara pada Focus Group Discussion (FGD) Pendidik dan Kependidikan Keagamaan, Bogor, Kamis (23/04) malam seperti dilansir oleh kemenag.go.id.

PBNU Usulkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Usulkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Usulkan 22 Oktober Sebagai Hari Santri

Kiai Said mengaku kurang setuju dengan wacana penetapan HSN pada tanggal 1 Muharram. Sebab, lanjutnya, tahun baru Hijriyah merupakan hari di mana seluruh umat muslim dunia memperingati tahun baru Islam tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Moment yang pas, lanjut Kiai Said, ialah hari yang mempunyai kekhasan histrois dalam konteks perjuangan Indonesia. Dikatakan Kiai yang dulunya merupakan santri alumni Pesantren Lirboyo ini, peranan santri dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia sungguh luar biasa. ? Dalam peran itu, ada sebuah momentum penting dalam sejarah perjuangan dan pembelaan kaum santri untuk Indonesia. Momentum itu terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945 ketika lahir Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asyari bersama ulama-ulama dari perwakilan berbagai organisasi masyarakat lainnya di luar NU, seperti Syarikat Islam dan Muhammadiyah.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Saat itu, Mbah Hasyim mengajak santri agar menyambut kedatangan pasukan NICA dengan darah dan nyawa,” tukasnya dalam acara dengan tema ‘Hari Santri dalam Perspektif Lembaga Keagamaan’.

Sebelumnya, Kiai Said menjeskan bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka sudah ada santri yang dari waktu ke waktu jumlahnya terus berkembang sampai akhirnya mampu mendirikan kerajaan Islam Demak Bintoro.?

Penetapan Kiai Said tentang hari santri pada 22 Oktober, bukan pada 1 Muharram ini diamini oleh Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

“Satu Muharram itu sudah diperingati di seluruh dunia. Ini kan untuk Indonesia, ya harus momen Indonesia. Dasarnya harus suatu peristiwa besar, antara lain Resolusi Jihad yang kemudian memberi semangat peristiwa bersejarah 10 November di Surabaya.”?

“Jelas, ini untuk mengingatkan bahwa republik ini dibikin umat Islam, tentu dengan kelompok yang lainnya, tapi darah yang mengalir banyak darahnya santri.”

Ia berharap penetapan Hari Santri ini dilakukan secepat mungkin mengingat penetapan Hari Santri merupakan janji yang disampaikan oleh Joko Widodo waktu dalam kampanye menjadia calon presiden sehingga harus ditepati. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 10 Januari 2018

Etika Islam Memanfaatkan Sumberdaya Alam

Oleh? Islah Gusmian

Pada tanggal 3 Maret lalu, penulis diundang Sekolah Tinggi Agama Islam Khozinatul Ulum, Blora untuk bicara terkait etika Islam dalam pemanfaatan sumber daya alam di tengah arus industrialisasi. Diskusi ini menarik bukan hanya dari sisi temanya, tetapi juga penyelenggara dan lokasinya, yaitu STAI yang berbasis pesantren dan Blora sebagai wilayah dengan sumber daya alam melimpah.



Etika Islam Memanfaatkan Sumberdaya Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Etika Islam Memanfaatkan Sumberdaya Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Etika Islam Memanfaatkan Sumberdaya Alam

Berbicara pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup tidak bisa lepas dari kisah Revolusi Industri, sebuah era peralihan mendasar dan revolusioner atas pekerjaan-pekerjaan berbasis tradisional ke teknologi mesin. Perekonomian “agrikultural” digeser ke “industrial”; “peradaban batu” (stone age) bergeser menuju “era industri”. Transformasi secara besar-besaran ini terjadi sejak abad ke-18, tepatnya tahun 1785, di Inggris kemudian meluas di berbagai negara Eropa dan belahan dunia.



Beragam teknologi ditemukan pada mulanya untuk memudahkan dan mensejahterakan umat manusia. Tetapi dalam perkembangannya, gaya hidup manusia beralih menjadi konsumtif, menumpuk dan memupuk hasrat yang berlebih. Terjadilah “revolusi konsumsi”. Sumber daya alam dan lingkungan dikelola bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, lebih dari itu untuk memuaskan segala hasrat dan keinginan mereka.




Rohis Tegal - Rohani Islam

Berbagai bencana akibat eksploitasi alam mulai akrab dalam kehidupan. Pencemaran udara oleh carbon dioksida akibat industrialisasi yang massif menjadikan bumi semakin panas. Kutub utara dan selatan mencair mengakibatkan permukaan air laut naik. Hujan asam yang merusak hutan dan danau-danau. Kawasan Hutan menciut karena dirusak untuk lahan industri dan pemukiman. Kisah inilah yang oleh Arnold Toynbee disebut sebagai awal terjadinya “degradasi lingkungan” dan terjadilah apa yang diistilahkan Seyyed Hossen Nasr sebagai “nestapa manusia modern”.

?

Postulat-postulat Islam

Lantas bagaimana Islam memberikan kerangka etis terkait masalah pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan?

Rohis Tegal - Rohani Islam



Pertama, mengembangkan kesadaran ekoteologis, yakni memahami Tuhan, sekaligus memahami manusia dan alam. Berbicara tentang pemanfaatan alam dan lingkungan hidup, selaiknya dikaitkan dengan bagaimana cara pandang kita dalam memahami Tuhan, manusia, dan alam serta hubungan antara ketiganya. Fazlur Rahman telah mengulas tiga topik ini dalam
? Mayor Themes of the Qur’an. Hanya saja ia belum sampai mengaitkan kajian teologi dengan isu pemanfaatan lingkungan hidup.



Teologi adalah ilmu tentang Tuhan dengan segala hal yang melingkupinya. Dalam sejarah, kajian ini lebih bersifat “teosentris”. Padahal, bertauhid manfaat sejatinya adalah untuk? manusia, bukan untuk Tuhan. Munculnya istilah ekoteologi adalah sebagai bentuk kesadaran dan pemahaman baru bahwa keimanan manusia kepada Tuhan selaiknya dihubungkan dengan makhluk hidup dan lingkungan. Kita tahu bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan.




Al-Qur’an memberikan informasi secara tegas bahwa ruh kehidupan manusia ini berasal dari ruh Allah. Setidaknya bisa dilihat dalam dua tempat; QS. Al-Hijr [15]: 29 dan Al-Anbiya? [21]: 91. Pernyataan ini secara simbolik memberikan isyarat bahwa citra Allah semestinya terpancar pada setiap diri manusia. Hal ini merupakan fitrah keterciptaan manusia.? Dalam artikel
? the Concept of Human Perfection, William Chittick menyakini pandangan yang demikian itu. Singkatnya, dari ayat tersebut manusia selayaknya mewujudkan kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan dunia yang semuanya itu bersumber dari Allah. Konsepsi semacam ini dipertegas kembali oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa kesempurnaan iman seseorang ditentukan oleh kemampuannya memberikan kebaikan dan kemaslahatan kepada orang lain. Dengan demikian, iman yang baik adalah iman yang dibuktikan secara historis dan sosiologis, sehingga secara nyata bisa dirasakan oleh umat manusia dan alam.?



Dengan pemahaman yang demikian, bertauhid juga harus dibuktikan dengan sikap baik bukan hanya kepada Tuhan dan manusia, tetapi juga alam semesta. Selain
? habl min-Allah? dan? habl min-‘l-nas? penting dikembangkan ke arah? habl min-‘l-âlam wa ‘l-bî’ah.? Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang bicara tentang alam dan lingkungan. Bahkan ada sejumlah surat yang dinamai dengan nama hewan, seperti Al-Baqarah (sapi), Al-Anfâl (binatang ternak), Al-Nahl (lebah), Al-Naml (semut), dan nama semesta seperti Al-Ra’du (halilintar), Al-Nûr (cahaya), Al-Qamar (bulan), Al-Syams (matahari), Al-Lail (malam), Al-Najm (bintang). Ayat-ayat yang bicara tentang alam, manusia, dan ekosistem dalam Al-Qur’an lebih sering dikaitkan dengan iman dan berzikir kepada Allah. Misalnya, QS. Al-Dâriyât [51]: 49, Yâsîn [36]: 36, 80. Dan segalanya ditegaskan oleh Al-Qur’an akan bermuara kepada-Nya (QS. Al-An’am [6]: 38). Dalam ayat ini dikisahkan binatang-binatang dan burung yang ada di bumi semuanya akan dihimpun menuju kepada Allah.



Dalam kerangka ekoteologis harus dibangun berpikir teleologis. Al-Qur’an sendiri mengajarkan kepada kita bahwa kosmos semesta ini diciptakan Tuhan “bukan tanpa tujuan” (QS. Al-Jasiyah [45]: 22). Pandangan yang demikian mengajarkan kita untuk melakukan tindakan dan sikap terhadap alam dengan menyelaraskannya pada unsur-unsur dalam tujuan tersebut. Di sinilah sebenarnya, keimanan tersebut juga dipahami dalam kerangka menyelaraskan hidup dengan sunah dan ekosistem alam.




Dengan kesadaran bahwa Allah sebagai pusat rotasi hidup, maka iman harus mensejarah dan historis. Adanya nilai teleologis dalam penciptaan alam menyadarkan umat manusia tentang dua peran pokok yang dibebankan kepada manusia, yaitu sebagai
? khalifatullâh? dan ‘abdullâh.? Khalifatullâh? merupakan tugas sejarah bagi setiap manusia, sedangkan ‘abdullâh? adalah kesadaran spiritualitasnya. Kemurnian iman dan tauhid berada dalam ruang ‘abdullâh,? sedangkan pembuktiannya berada dalam sejarah. Itulah ruang? khalifatullâh.



Kedua, menumbuhkan kesadaran ekosufisme sebagai sumber kerangka etis. Sebagai salah satu khazanah Islam, tasawuf atau sufisme, oleh sebagian orang seringkali dipandang nyiyir: dianggap anti dunia dan karenanya tidak memberikan spirit produktif dalam kehidupan nyata. Istilah ekosufisme di sini dipakai untuk mengaitkan nilai-nilai dalam ajaran tasawuf dengan eksplorasi, pengelolaan, dan pelestarian lingkungan dan alam. Pengkaitan ini penting karena dalam ajaran tasawuf terdapat postulat penting tentang gagasan etik dalam aktivitas pemberdayaan dan pemanfaatan alam dan lingkungan hidup serta mengelola kehidupan manusia.




Dunia tasawuf telah memberikan kerangka nilai etis dalam berbagai konsep yang telah dirumuskan oleh para sufi. Konsep-konsep tersebut berkait erat dengan usaha menjaga keberlangsungan lingkungan dan alam. Konsep
? zikir, faqr, sabr, zuhd, hubb, dan yang lain secara universal menggerakkan manusia agar hidupnya selaras dengan sunah Allah, yaitu ekosistem alam.

?

Kerangka Etis

Berpijak pada dua prinsip utama di atas, maka prinsip etis dalam pemanfaatan dan pemberdayaan lingkungan hidup haruslah mencerminkan hal-hal sebagai berikut.? Pertama, Pemanfaatan lingkungan hidup haruslah mempertimbangkan aspek “kemaslahatan”umat manusia. Dalam? maqâshid al-syar’iyyah? disebutkan bahwa ada lima hal yang harus dilindungi sebagai? al-dlarûriyyat al-khams,? yaitu menjaga agama (hifdz al-dîn), jiwa (hifdz al-nafs), anak keturunan (hifdz al-nasl), kekayaan atau properti (hifdz al-mâl), dan akal (hifdz al-‘aql). Oleh karena itu, pemanfaatan alam dan lingkungan hidup haruslah mempertimbangkan aspek perlindungan dan kemasalatan manusia.



Praktik-praktik pemanfaatan alam dan lingkungan hidup yang secara nyata mengancam keberlangsungan jiwa manusia, secara etis haruslah ditolak. Kaidah ushul fiqih telah memberikan kerangka konseptual:
? dar’ul mafâsid muqaddamun ‘ala al-jalb al-mashâlih.? ‘Izzuddin bin ‘Abdus Salam dalam? Qawâ’id al-Ahkâm fî Mashâlih al-Anâm? menjelaskan pengertian? mafsadat? sebagai rasa sakit serta rasa sedih dan segala faktor penyebabnnya. Adapun? mashlahat? ? adalah kelezatan (al-ladzat) dan kesenangan (al-afrah) dengan berbagai faktor penyebabnya.



Pengertian menjaga diri (hifdz al-nafs) bukan hanya diletakkan pada konteks masa kini, tetapi juga masa yang akan dijalani oleh generasi mendatang. Oleh karena itu, faktor
? mashlahat? dan? mafsadat? tersebut haruslah mempertimbangkan nasib kehidupan generasi mendatang. Islam mempunyai prinsip melarang umat manusia meninggalkan generasi yang lemah (QS. Al-Nisa’ [4]: 9), akibat persoalan-persoalan yang mereka lakukan dalam berinteraksi sesama manusia dan dengan lingkungan serta alam semesta.



Kedua, pemanfaatan lingkungan hidup haruslah mempertimbangkan aspek menjaga dan merawat keberlangsungan serta kemaslahatan alam, tumbuhan, dan binatang. Konsep
? maqâshid al-syar’iyyah? yang selama ini kita kenal memberi kesan bersifat sangat? antroposentris. Di dalamnya, yang menjadi pusat pembicaraan adalah manusia. Alam semesta dan lingkungan hidup tampak diabaikan. Oleh karena itu, selain? habl minallâh? dan? habl minan-nâs,? diperlukan kesadaran? habl minal ‘âlam wa al-bi’ah,? yaitu memahami fungsi dan kondisi air, tanah, udara, hewan, dan tumbuh-tumbuhan serta kaitannya dengan keberlangsungan kehidupan umat manusia.? Terjadinya kerusakan alam dan kerakusan umat manusia salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kesadaran dan pemahaman yang baik tentang alam, tumbuhan, dan binatang serta fungsi-fungsinya.



Al-Qur’an telah memberikan inspirasi penting terkait dengan masalah ini. Misalnya, Al-Qur’an menjelaskan bagaimana air merupakan sesuatu yang vital dalam kehidupan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa segala sesuatu yang hidup diciptakan dari air (QS. Al-Anbiya [21]: 30). Kehidupan dengan demikian sangat membutuhkan air (QS. Al-Hajj [22]: 5). Karena perannya yang penting tersebut, air tidak boleh dikuasai dan dimonopoli oleh kalangan tertentu, tetapi digunakan bersama-sama untuk kemaslahatan umat manusia. Nabi Saw telah mengingatkan kita, “Orang Islam berserikat dalam tiga hal: rumput, air, dan api.” Hadis ini mengisyaratkan bahwa air tidak boleh dikuasai oleh koorporasi kapital, tetapi haruslah dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat.




Al-Qur’an juga mengajarkan prinsip menjaga dan merawat udara. Misalnya, Al-Qur’an mengaitkan iman dengan kebersihan, fungsi angin sebagai pendorong kapal (QS. Yunus [10]: 22) dan sebagai pendorong hujan (QS. Al-A’raf [7]: 57). Kita tahu sekarang ini udara begitu kotor dan lapisan ozon terkisis oleh polusi yang ditimbulkan dari limbah pabrik.




Alam dan tumbuhan sebenarnya mampu melayani kebutuhan umat manusia, tetapi ia tak mampu melayani semua hasrat dan kerasukannya. Islam mengajarkan hidup? kebersahajaan. Manusia sebenarnya tak perlu rakus dan menjadi konsumerisme dalam menjalani hidup. Dengan kesadaran ini, maka alam dan seluruh isinya selaiknya diposisikan sebagi subjek yang kedudukannya setara dengan kedudukan manusia, karena kerusakan alam pada akhirnya juga akan berakibat buruk bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia.




Pemanfaatan sumberdaya alam yang mempertimbangkan aspek kemaslahan umat manusia haruslah didukung dengan kebijakan politik dan hukum oleh pemerintah. Tujuannya adalah menggerakkan kesadaran melalui prinsip perundang-undangan yang mengikat seluruh warga negara.




Kebijakan pemerintah haruslah berorientasi pada kemaslahatan umat dan kemaslahatan kehidupan alam dan lingkungan, bukan sekadar mengejar keuntungan kapital yang bersifat sesaat. Sungguh merusak alam jauh lebih mudah ketimbang merawat dan menjaganya.Pengertian
? mashlahah? dalam kaidah? ? tasharruful imâm ala al-ra’iyah manûtun bil mashlahah,? bukan hanya terkait dengan rakyat (ummah) tetapi juga lingkungan hidup (bi’ah).



Sudah saatnya pesantren dan kampus-kampus Islam memberikan rumusan etis dalam perspektif Islam kepada pemerintah terkait pemanfaatan lingkungan secara konseptual dan sistematis. Sudah saatnya dirumuskan teologi lingkungan, fiqih lingkungan, dan tafsir Al-Qur’an bidang alam dan lingkungan menjadi salah satu mata kuliah yang diajarkan di kampus. Pesantren dan kampus selaiknya mengambil peran dalam penyusunan konsep perundang-undangan dengan berbasis pada kaidah ushul fiqih untuk didesakkan kepada negara dalam rangka memberikan jaminan politik dan hukum bagi rakyat dalam pemanfaatan lingkungan hidup.








Penulis adalah? Dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Aswaja, Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 30 Desember 2017

Muslimat NU Brebes Manfaatkan Gadget untuk Jaring Akseptor KB

Brebes, Rohis Tegal - Rohani Islam. Meski berusia tidak lagi muda, para ibu Muslimat NU dengan menggunakan fasilitas gadget mampu menggaet pasangan usia subur (PUS) untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Lewat program Pilihanku, selama setahun ini Mereka berhasil mengajak ribuan PUS di Kabupaten Brebes untuk memasang Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

“Progresnya bagus banget, para motivator Muslimat NU dalam perkembangannya tidak hanya sosialisasi tetapi juga menjadi pengantar, penjemput bahkan hingga menunggui sampai selesainya pemasangan alat kontrasepsi,” tutur Ketua Pelaksana Program Pilihanku PP Muslimat NU Hj Kusnia Nasser di sela Refresh Training Motivator KB Muslimat NU di Grand Dian Hotel Jalan Jenderal Sudirman Brebes, Selasa (9/5).

Muslimat NU Brebes Manfaatkan Gadget untuk Jaring Akseptor KB (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Brebes Manfaatkan Gadget untuk Jaring Akseptor KB (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Brebes Manfaatkan Gadget untuk Jaring Akseptor KB

Dalam refresh ini, kata Nia, dimaksudkan untuk menggali pengalaman motivator, kendali dan kendali, serta berbagai pengalaman bagus sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan langkah berikutnya.

Nia mengaku bangga dengan capaian yang telah dilakukan oleh para motivator Muslimat NU Brebes. Tidak harus dengan dana yang besar, ternyata ajakan dari para motivator mampu merubah perilaku PUS. Yang tidak peduli jadi peduli, yang acuh jadi semangat.?

“Muslimat bisa menjadi penangkal hoaks tentang KB,” pujinya.

Sebanyak 60 motivator Muslimat NU dalam praktiknya tidak sekadar memberi saran, mengajak atau memotivasi PUS saja tetapi juga aksi turun ke lapangan dengan semangat membara.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kusnia yang juga Ketua 2 Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Pusat mengatakan program ini akan berakhir pada Oktober 2017. Untuk itu kepada Pemerintah Kabupaten Brebes dipersilahkan untuk memanfaatkan keberadaan motivator KB Muslimat NU untuk mensukseskan program KB.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebab, BKKBN Pusat, lanjutnya, Indonesia membutuhkan 85.000 Penyuluh Lapangan KB. Sedangkan PLKB yang dimiliki pemerintah berkisar antara 15-20 ribu orang penyuluh, sehingga kekurang 65 ribu PLKB. “Kehadiran Motivator di tengah-tengan masyarakat perlu dirawat dan dijaga keberlanjutan kerjanya,” tandasnya.

Selain di Brebes para motivator KB Muslimat NU yang dibekali tablet ini, juga tersebar di Cilacap, Klaten, Jakarta Utara dan Jakarta Timur.?

Kepala DP3KB Khambali mengaku bangga dengan adanya motivator Muslimat NU, karena bisa membantu PLKB dalam menyukseskan program KB. Terbukti, Muslimat NU selalu menjadi juara 1 dalam perolehan akseptor KB tingkat Provinsi Jawa Tengah.?

Ketua PC Muslimat NU Brebes Hj Chulasoh menambahkan, 60 motivator direkrut dari anggota PC Muslimat NU yang tersebar di 17 Kecamatan Brebes. Tugas pokok utama hanya mensosialisasikan dan mengajak akseptor untuk ber-KB. Mereka dibekali tablet yang sudah diisi aplikasi tertentu.

Sehingga motivator bisa menggunakannya secara intensive. Selain itu, metode ceramah di pengajian, perkumpulan PKK dan dasa wisma menjadi tempat yang dimanfaatkan oleh ibu-ibu Muslimat untuk melakukan ajakan ber KB. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ulama, Jadwal Kajian, Halaqoh Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 24 Desember 2017

Tahun Ini, GP Ansor Rembang Fokus pada Kemandirian Ekonomi

Rembang, Rohis Tegal - Rohani Islam - Rapat Kerja Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Rembang yang digelar di lantai 2 kantor PCNU Rembang, Jalan Pemuda nomor 78, Sabtu (7/1) sore menitikberatkan pada permasalahan kemandirian ekonomi baik secara personal maupun organisasi. Peserta rapat menyusun program konkret perihal kemandirian ekonomi.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua GP Ansor Rembang Hanies Cholil Barro menjelaskan, ada tiga hal yang akan menjadi fokus Ansor Rembang pada 2017 seperti pola dakwah guna menangkal radikalisme dan terorisme, serta memajukan ekonomi.

Tahun Ini, GP Ansor Rembang Fokus pada Kemandirian Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Ini, GP Ansor Rembang Fokus pada Kemandirian Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Ini, GP Ansor Rembang Fokus pada Kemandirian Ekonomi

Menururt Hanies, program perekonomian memang sudah saatnya dijalankan di Kabupaten Rembang. Apalagi, menurut Hanies, GP Ansor Rembang digadang menjadi pilot project Pimpinan Pusat GP Ansor terkait program kemandirian ekonomi GP Ansor.

"Targetnya kerja yang terencana, dan tertata dengan baik. Perekonomian dan kebanseran yang akan kami galakkan, tanpa menafikan ekonomi yang lain, kemandirian ekonomi kader dan juga organisasi," jelasnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hanies mengakui, pada tahun pertama pihaknya tidak mempunyai program terstruktur melalui rapat kerja. Di tahun pertama GP Ansor Rembang lebih fokus pada pengkaderan, dengan menggenjot Diklatsar dan PKD. Di tahun kedua ini, Hanies mengaku tak ingin seperti tahun pertama ia memimpin.

Pada 2017 ia berharap, sejumlah program kerja yang tersusun melalui rapat kerja. Rapat yang dimulai pada pukul 14.00 wib samapai jam 00.00 dini hari, terbagi menjadi empat komisi. Forum ini diikuti oleh empat perwakilan dari setiap PAC dan perwakilan pengurus Cabang Rembang. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ubudiyah, Jadwal Kajian, Bahtsul Masail Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 20 Desember 2017

Soal Hukuman Mati, KH Hasyim: Jangan Takut Negara Lain

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Rais Syuriah PBNU KH Hasyim Muzadi meminta pemerintahan Jokowi- JK tidak perlu takut dengan tekanan negara lain untuk melaksanakan hukuman mati bagi pengedar Narkoba. PBNU mendukung langkah pemerintah untuk tetap melaksanakan sanksi paling berat itu.

Hal ini disampaikannya menanggapi banyaknya tekanan negara lain yang menolak hukuman mati bagi warganya yang terjerat kasus pereadaran narkoba di Indonesia.

Soal Hukuman Mati, KH Hasyim: Jangan Takut Negara Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Hukuman Mati, KH Hasyim: Jangan Takut Negara Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Hukuman Mati, KH Hasyim: Jangan Takut Negara Lain

"Tidak usah terpengaruh dengan tekanan dari luar negeri. Karena luar negeri sendiri juga melakukan hukuman mati itu, cuma belum tentu kita tahu," ujarnya menjawab wartawan, usai menjadi narasumber Sarasehan Kepahlawanan KH Wahab Hasbullah yang digelar Unwaha di Pemkab Jombang, Sabtu (21/2).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) ini melihat adanya kemungkinan orang-orang yang meminta pembatalan hukuman mati adalah mereka yang terkait dengan jaringan pengedaran narkoba nasional.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Jadi kita kembali berpedoman kepada hukum kita sendiri. Australia saja melakukan hukuman mati itu, pada satu sektor," ujarnya seraya selaku watimpres sudah menyampaikan hal itu kepada Presiden.

Diakatakannya, PBNU secara organisasi mendukung langkah pemerintah Jokowi-JK yang menolak grasi dan tetap melaksanakan hukuman mati bagi pengedar narkoba. Alasannya, pembunuhan dengan narkoba jauh lebih kejam dibandingkan dengan pembunuhan teroris.

"Kalau teroris seperti di Bali, mungkin hanya 200 orang korbannya, dan saat pelaksanaan hukuman mati dan itu Australia tidak rebut. Namun, narkoba ribuan orang mati karena ini," ujarnya.

Terkait pelanggaran HAM, Hasyim mengatakan bahwa HAM di Indonesia berbeda dengan pemahaman HAM negara lain. Dan pihaknya melalui forum ICIS (International Conference of Islamic Scholars) terus mengampanyekan HAM yang dianut di Indonesia.

"Misalnya saja hukuman mati itu ditiadakan adalah kepentingan bagi mereka yang dihukum, akan tetapi kepentingan bagi ribuan orang yang mati akibat narkoba masak tidak dihitung. Pembunuhan Narkoba jauh lebih hebat dari teroris," pungkas mantan ketua umum PBNU ini. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Soal Hukuman Mati, KH Hasyim: Jangan Takut Negara Lain

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Meme Islam, Jadwal Kajian, Hikmah Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 07 Desember 2017

Inilah Nama-Nama Donatur Gerakan Sejuta Buku Tulis

Cirebon, Rohis Tegal - Rohani Islam 

Sejak 14 Mei 2013 lalu, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatu Ulama (IPPNU) kabupaten Cirebon telah meluncurkan “Gerakan Sejuta Buku Tulis Untuk Kaum Dhu’afa”.

Panitia “Gerakan Sejuta Buku Tulis Untuk Kaum Dhu’afa” telah melakukan sosialisasi dan menerima sumbangan berupa buku tulis dari masyarakat umum, penerimaan donasi dilakukan baik melalui penjemputan maupun penerimaan secara langsung di sekretariat PC IPNU-IPPNU kabupaten Cirebon. 

Inilah Nama-Nama Donatur Gerakan Sejuta Buku Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Nama-Nama Donatur Gerakan Sejuta Buku Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Nama-Nama Donatur Gerakan Sejuta Buku Tulis

Adapun pendistribusian hasil donasi ini  dilakuakan secara bertahap dan mulai dijadwalkan besok hari melalui pengurus tingkat  PAC maupun Komisariat yang masing-masing telah  memiliki daftar nama-nama calon penerima. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hingga Sabtu 15 Mei 2013 telah terkumpul sebanyak  5.270 buah buku yang akan segera didistribusikan, panitia masih  membuka dan menerima sumbangan buku tulis hingga tangga 30 Juni 2013. Berikut nama-nama donatur buku tulis dalam “Gerakan Sejuta Buku Tulis Untuk Kaum Dhu’afa”:

Rohis Tegal - Rohani Islam

1. Pdt. Sugeng Daryadi (Cirebon)

2. Zaenal  Arifin W. (Ciwaringin)

3. Khadijah (Yayasan Al Kadzim, Cirebon)

4. PAC. IPNU-IPPNU Depok

5. LP. Ma’arif NU Kab. Cirebon)

6. Rahul  El-Rozi (Kecamatan Kapetakan)

7. H. Khumedi MAN I Cirebon

8. H. Kurdi Mufrodi (Depok)

9. Prof. Wahidin (IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

10. Prof. Maksum (IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

11. KH. Bisyri Imam (Pesantren Gedongan)

12. Jaelani (Kecamatan Lemah Abang)

13. HM. Nuruzzaman (Pesantren Babakan Ciwaringin)

14. Asep Saefuddin Jazuli (Kecamatan Talun)

15. Prof. Jamali (Majasem)

16. Subhan Baihaqi (Radar Cirebon Televisi / RCTV)

17. SMAK BPK Penabur (Jl. Ciptomangunkusumo)

18. Mumtaz (Kecamatan Plered)

19. PK. IPNU-IPPNU Buntet Pesantren

20. Nukhbatul Mankhub (Kecamatan Plumbon)

21. PC. Fatayat NU Kab. Cirebon Kecamatan Sumber

22. Gita (Kecamatan Sumber)

23. SMK Nusantara Weru (Kecamatan Weru)

24. Farihin Nur (IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

25. Sobih Adnan (JINGGA Media)

26. H. Abudin (Kecamatan Astanajapura)

27. Muntaqoul Fuad (Kecamatan Plumbon)

28. KH. Wawan Arwani (Pesantren Buntet)

29. KH. Fariz Elt Haque Pesantren Buntet Cirebon

30. Cici (Pesantren Gedongan)

31. Mamang M. Haerudin (Kecamatan Ciwaringin)

Redaktur    : A. Khirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Ubudiyah, Nahdlatul Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 05 Desember 2017

Banyak PR Harus Dikerjakan, Pengurus NU Jangan Harap Rp

Pringsewu,Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketua Tanfidziyyah PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim mengatakan bahwa para pengurus NU di semua tingkatan harus bersyukur karena dipercaya untuk mengurusi Jamiyyahnya para Ulama yaitu NU.

Banyak PR Harus Dikerjakan, Pengurus NU Jangan Harap Rp (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak PR Harus Dikerjakan, Pengurus NU Jangan Harap Rp (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak PR Harus Dikerjakan, Pengurus NU Jangan Harap Rp

"Beruntunglah bagi yang bergabung dengan NU karena dekat dengan para Ulama. Sekaligus kesempatan ini dapat menjadi ladang amal bagi kita. Mau hidup barokah dunia akhirat? Di NU tempatnya," katanya pada Safari Ramadhan PCNU Kabupaten Pringsewu yang dilaksanakan di MWCNU Kecamatan Sukoharjo, Rabu (15/6).

Taufiq mengingatkan juga kepada para pengurus untuk berkhidmah di NU dengan ikhlas tanpa ada maksud untuk mendapatkan imbalan sesuatu. "Banyak PR yang harus dikerjakan dalam berorganisasi di NU. Jangan harap ada Rpnya (rupiah, red.)," tegas Taufiq disambut senyum para pengurus di tingkat MWC dan 16 Ranting yang ada di Kecamatan Sukoharjo.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Jika ada di antara pengurus yang memiliki niatan mencari sesuatu apalagi bersifat materi dan kebendaan, maka menurutnya, orang tersebut harus bersiap-siap untuk kecewa.

Para pengurus NU lanjutnya, harus peduli dan terus aktif menghidupkan NU dan mewariskannya kepada para generasi penerus. "Jika kita masa bodoh terhadap NU maka siap-siap kita menghadapi kehancuran para generasi penerus kita," ingatnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketika kepedulian untuk mewariskan NU kepada para generasi penerus hilang lanjut Taufiq, maka kita harus bersiap mewarisi para generasi penerus yang beraqidah lain. "Kalau kita tidak peduli maka orang lain yang akan peduli. Orang lain yang akan membina dan mencuci otak mereka dengan paham mereka," tandasnya.

Kepedulian pengurus kepada para generas muda akan menghindarkan mereka dari paham di luar Ahlusunnah wal-Jamaah yang sekarang ini sangat gencar. "Jangan sampai anak-anak kita nanti tidak mau mendoakan kita ketika kita telah tiada karena mereka anti tahlil dan anti kirim doa," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Makam, Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 04 Agustus 2017

Aswaja Camp III, Awali Hari Santri di Nganjuk

Nganjuk, Rohis Tegal - Rohani Islam

Rangkaian peringatan hari santri nasional 2017 di Kabupaten Nganjuk diawali dengan pelaksanaan Aswaja Camp ke-3 di Lapangan Malangsari, Tanjunganom, 7-8 Oktober 2017. Tidak kurang dari 350 pelajar mengikuti kegiatan ini.

Aswaja Camp dibuka oleh Komandan Rayon Militer Tanjunganom mewakili KODIM 0810 Nganjuk. Hadir pula tamu undangan perwakilan dari Fatayat NU, GP Anshor, Muslimat NU, Banser, BPBD Ngajuk dan lainnya. Aswaja Camp diselenggarakan oleh Aswaja Centre NU, LP Ma’arif NU, LDNU, FKPP Brajamusti, DEMA STAIM dan IPNU-IPPNU Kabupaten Nganjuk.

Aswaja Camp III, Awali Hari Santri di Nganjuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Camp III, Awali Hari Santri di Nganjuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Camp III, Awali Hari Santri di Nganjuk

“Aswaja Camp merupakan agenda penting untuk memperdalam serta memperkenalkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah kepada pelajar, terutama dalil-dalil amaliyahnya, agar kita tidak menjadi Muqollid A’ma, pengikut yang buta,” tutur Kiai Budairi saat sesi motivasi sebelum pelaksanaan Aswaja Camp.

Aswaja Camp diselenggarakan dengan mensinergikan kegiatan kepanduan, kompetisi, amaliyah Aswaja, pengembangan wawasan kelimuan umum dan gemblengan kader pelajar Aswaja. Kegiatan-kegiatan ini dimaksudkan memberi nilai tambah bagi peserta setelah pulang dari perkemahan. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kegiatan seperti istighotsah, sholat berjamaah, mujahadah, ijazah kubro, sholawatan menjadi kegatan pokok yang dipraktikkan setiap peserta di Aswaja Camp. Begitu pula kompetisi yang semuanya dikemas untuk pendalaman aswaja, seperti lomba puisi aswaja, lomba artikel aswaja, lomba kaligrafi dalil aswaja dan lomba cerdas cermat aswaja.

“Sengaja semua kegiatan mulai pembukaan hingga penutupan dikemas dengan suasana santri. Pakaian yang dikenakan juga pakaian santri, kecuali ketika upacara. Lombanya bernafas Aswaja, kegiatannya pendalaman Aswaja, bahkan pulang peserta juga dibekali buku dalil amaliyah Aswaja. Bismillaah, ikhtiyar untuk membumikan Aswaja NU mulai dari tingkat pelajar.” tutur Gus Fauzi selaku salah satu inisiator Aswaja Camp.

Ada hal berbeda di Aswaja Camp kali ini. Yel-yel yang diteriakkan seluruh peserta adalah yel yang sedang gencar di NU yakni NU, NKRI, Pancasil dan nderek Kiai sampai mati. Semua peserta ketika berkumpul juga berkali-kali menyuarakan Mars Syubbanul Wathon gubahan Kiai Wahab. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Selain itu, 35 kader pelajar penggerak Aswaja juga telah dikukuhkan oleh Kiai Bisri Hisyam selaku ketua PCNU Nganjuk sekaligus menjadi pembina upacara penutupan kegiatan. (Irvan Kaze/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hadits, Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 28 Juli 2017

Haul Embah Maksum Lasem Diperingati dengan Tahlil Kubro

Rembang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Haul pendiri Pesantren Al-Hidayat Soditan Lasem Embah Maksum, diperingati warga setempat dengan tahlil kubro di kompleks masjid Jami’ Lasem, Rabu (8/1) sore. Warga biasa memperingati haul salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini setiap tanggal 6 Rabi‘ul Awal yang jatuh pada Rabu (8/1).

Haul Embah Maksum Lasem Diperingati dengan Tahlil Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Embah Maksum Lasem Diperingati dengan Tahlil Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Embah Maksum Lasem Diperingati dengan Tahlil Kubro

“Embah Maksum merupakan pendiri NU selain Embah Hasyim As’ary,” tutur peziarah asal Demak, Sholihin.

Sholihin yang juga alumni pesantren Al-Hidayat menambahkan, Embah Maksum merupakan perintis pondok pesantren yang ada di Lasem. Selain itu, Embah Maksum juga sosok pejuang kemerdekaan Indonesia dan pengobar perang melawan penjajah Belanda.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Setiap tahun Sholihin tak pernah absen dalam haul Embah Maksum kendati sudah tidak bermukim di Rembang. Sejak 1982 hingga 1987, ia selalu aktif berziarah di makam Embah Maksum.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sedangkan pengelola masjid Jami’ Lasem Abdullah mengatakan, para santri Embah Maksum dari berbagai daerah datang untuk berziarah dan mengikuti haul. Biasanya mereka datang tiga hari sebelum puncak haul digelar di kompleks masjid.

Selain Embah Maksum, tokoh pendiri NU yang dimakamkan di kompleks masjid antara lain Embah Baedhowi dan Embah Ahmad Maksum.

Selain tahlil di makbaroh, peringatan haul kali ini diramaikan dengan khitanan massal yang dilaksanakan pada Senin (5/1).

Abdullah berharap, peringatan haul ini dapat menjaga ingatan generasi sekarang atas sejarah perjuangan NU dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Aswaja, Sejarah Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 06 Juli 2017

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

PENGANTAR REDAKSI: Rohis Tegal - Rohani Islam akan memuat pemikiran-pemikiran tentang ilmu nahwu yang dikupas oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman, Syafiq Hasyim. Tulisan yang direncanakan bersambung ini akan dimuat setiap hari Senin. Selamat membaca.

Nahwu, biasa dikenal oleh kalangan santri sebagai bagian ilmu alat, adalah ilmu yang sangat fundamental untuk dikuasai jika kita ingin mempelajari Islam dari literatur-literatur yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, baik klasik maupun modern.

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

Dikatakan sebagai alat karena kegunaan ilmu adalah sebagai perangkat membaca, memahami dan memaknai dari bahasa nativenya, bahasa Arab, ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya. Kalangan antropolog menyebutkan jika penguasaan bahasa asli adalah hal sangat penting dalam memperkuat kredibilitas sebuah hasil ilmu atau hasil riset. Mereka memasukkan masalah ini sebagai bagian dari the politics of nativeness. Dengan kata lain, ilmu Nahwu adalah was?’il menuju pengetahuan yang mendekati kepada kebenaran. Kenapa saya sebut sebagai “mendekati kebenaran,” karena kebenaran Nahwiyyah adalah kebenaran pengetahuan yang bersifat aturan kebahasaan, sementara masih ada jenis kebenaran lain yang didapatkan oleh ilmu atau cara lain juga.

Namun, jika kita beri peringkat, kebenaran yang dihasilkan oleh Nahwu adalah kebenaran yang sangat tinggi derajatnya karena dengan ilmu ini pemaknaan pertama atas sumber-sumber Islam –al-Qur’an dan Sunnah—bisa didapatkan. Meskipun sekolah-sekolah Islam juga mengajarkan

Rohis Tegal - Rohani Islam

Nahwu, namun ilmu ini diajarkan secara lebih mendalam di dalam lingkungan pesantren. Itupun masing-masing pesantren melakukannya secara berbeda-beda pula. Pesantren-pesantren tradisional (salaf) biasanya mengajarkan kitab-kitab Nahwu yang tingkatannya lebih rumit dan sulit dibandingkan dengan pesantren-pesantren modern (khalaf). Kitab-kitab nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional misalnya mulai dari al-Jur?miyyah, Imri?, lalu Alfiyyah Ibn M?lik. Sementara pesantren modern biasanya mengajarkan kitab-kitab seperti Nahwu al-W?i?, J?mi?u al-Dur?s f? al-Lughat al-?Arabiyya, dan lain-lainnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dengan kata lain, referensi-referensi Nahwu yang diajarkan di pesantren salaf –biasanya dimiliki dan diasuh oleh kyai-kyai Nahdlatul Ulama-- biasanya adalah kitab-kitab lama (klasik), sementara pesantren khalaf lebih memilih kitab-kitab Nahwa baru, atau yang terkini.

Tapi baik belajar dengan kitab lama maupun baru sejatinya yang paling penting di sini adalah kemauan untuk belajar dan berusaha menguasai ilmu ini. Jika tidak menguasai seluruhnnya, sebagianlah yang perlu dikuasasi. Meskipun ilmu Nahwu sangat penting, banyak dari kalangan kita yang sudah mendedikasikan hidupnya menjadi santri, ustadz, pendakwah dan lain sebagainya, tidak memiliki pemahaman yang cukup akan ilmu ini.

Hal yang paling menyedihkan banyak pengajar Islam publik kita, di Mushalla dan TV-TV, yang awam dengan teori-teori Nahwu. Untuk berdakwah memang tidak diwajibkan untuk menguasai Nahwu, namun dalam dakwah diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Menyampaikan kebenaran dengan benar adalah jika sang penyampai mengerti alatnya. Perlu diingat di sini bahwa tidak semua orang yang bisa membaca aksara Arab seperti membaca al-Qur’an menguasai ilmu ini. Mampu dan tidaknya penguasaan ilmu Nahwu ini bisa dilihat dari bagaimana dia atau mereka mampu membaca dan memaknai kitab-kitab yang dalam bahasa keseharian kaum santri disebut kitab kuning.

***

Harus diakui bahwa ilmu Nahwu memang merupakan cabang yang susah selain ilmu-ilmu lain yang sejenis seperti ?araf, Balaghah, dan Mantiq. Untuk tahu ilmu ini, butuh kejelian, hafalan yang kuat, dan analisa yang mendalam. Masih ingat bahwa kita –saya dan teman-teman—di madrasah dulu sering menghindari dan berkeluh kesah tentang betapa sulitnya memahami apalagi menerapkan ilmu Nahwu untuk membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Ada yang hafal di luar kepala teori-teori Nahwu, namun untuk menerapkan terkadang masih sulit. Bahkan ada yang bisa menghafal kitab Nahwu Alfiyah Ibn M?lik secara sungsang (dari belakang ke depan) namun tetap saja terkadang masih memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam membaca teks Arab terutama yang klasik.

Sebagaimana perlu diketahui bahwa menghafal sungsang adalah salah satu cara pamer kebolehan dalam mempelajari ilmu Nahwu. Namun, belajar Nahwu tidak cukup dengan menghafal, tapi harus memahami. Kalau boleh melakukan kritik, kelemahan pembelajaran Nahwu di pesantren adalah penitikberatannya pada model hafalan, bukan pemahaman. Meskipun tujuan pertama dalam penghafalan adalah untuk menuju pemahaman, namun seringkali karena terlalu banyak “load” menghafalnya sehingga aspek memahinya terkurangi bahkan terabaikan.

Hal ini terutama terjadi pada pesantren-pesantren yang sudah mengadopsi banyak mata pelajaran di dalam sistem kurikulum mereka. Namun kesulitan menguasai ilmu Nahwu tersebut sangat sepadan dengan fungsi dan manfaat ilmu ini sendiri dimana tanpa penguasaan atasnya hampir mustahil seseorang bisa memahami al-Qur’an, Sunnah dan sumber-sumber Islam secara keseluruhan dan mendalam. Penguasaan teori-teori rumit dalam kitab-kitab Nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional memiliki garis sejajar dengan penguasaan masalah-masalah agama yang tercantum di dalam kitab Suci dan Sunnah Nabi serta peninggalan ulama-ulama masa lalu.

Kita tahu bahwa struktur gramatik bahasa Arab yang dipakai oleh al-Qur’an tidak akan cukup dibaca dengan kitab-kitab Nahwu yang simpel seperti al-Jur?miyyah ataupun Nahw al-W?i?. Penguasaan Nahwu juga menjadi parameter kadar keulamaan seseorang. Karenanya, jangankan ketahuan membaca kitab-kitab terjemahan, karena ini tindakan pemalas, seorang santri atau bahkan ustadz kredibilitasnya bisa runtuh gara-gara hanya salah membaca harakat (tanda baca) di akhir kata (i?rab) misalnya bagaimana misalnya membaca isim alam (nama-nama benda/alam) seperti kata Ibr?him atau isim taf?l (bentuk lebih atau paling) setelah huruf jer il? (huruf yang bisa menyebabkan bacaan kasrah pada Isim) dan kasus-kasus lain.

Hal seperti ini cukup bisa dipahami karena memang memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi harus dilakukan bukan dengan cara main-main (hawa nafsu), tanpa ilmu, namun harus secara ilmiah. Salah satu cara yang ilmiah itu adalah jika pemahaman akan sumber-sumber utama Islam tersebut didasarkan pada tradisi keilmuan (tur?th) yang mapan yang sudah dibangun secara panjang oleh kalangan ulama masa lalu.

***

Selain ilmu Nahwu, kedudukan ilmu lain juga penting dalam mengkaji Islam, namun jika seseorang ingin menjadikan atau mengaku dirinya sebagai ahli atau ?alim dalam Islam, mau tidak mau harus mau belajar, mengenal dan menguasai ilmu Nahwu supaya pemahamannya tidak separuh-separuh dan juga tidak sesat menyesatkan. Pemahaman teks-teks agama tanpa ilmu-ilmu yang memadai bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan juga orang lain. Bahkan menafsirkan hal-hal penting dalam Islam seperti syariah, fiqih, akidah, dengan modal bahasa Arab yang pas-pasan atau apalagi modal terjemahan dan ilmu rungon (mendengarkan) bisa menyebabkan seseorang tersebut, meskipun itu ustadz atau pun pendakwah, jatuh pada sikap liberalisme (asal-asalan) pada satu sisi dan sikap fanatisme yang berlebihan pada sisi lainnya.

Hal yang menyedihkan, dalam konteks public sphere kita, adalah kenyataan dimana tidak hanya orang awam, namun ustadz, pendakwah, dan juga para aktivis Islam masa kini tidak tahu sama sekali apalagi memahami ilmu ini. Pengetahuan Islam mereka lebih banyak tergantung pada buku-buku terjemahan yang kualitas pengalihbahasaannya seringkali sangat rendah daripada pada sumber Islam yang asli yang berbahasa Arab. Fenomena yang lebih aneh lagi yang akhir-akhir ini menggejala adalah jika ada orang yang berusaha menjelaskan Qur’an atau wacana keagamaan Islam lainnya lewat pendekatan Nahwiyyah atau keilmuan lain yang memang sangat memungkinkan terciptanya tafsir-tafsir yang berbeda-beda, mereka atau aktivis-aktivis Islam yang masih awam tersebut sering menganggap penjelasan yang njelimet, rumit dan penuh perdebatan dari pelbagai analisis kebahasaan Nahwiyyah tersebut sebagai bentuk pemahamanan liberalisme Islam.

Padahal yang terjadi adalah mereka tidak mampu atau tidak memiliki alat untuk bisa sampai pada penjelasan-penjelasan Nahwiyyah tersebut. Gejala beragama cepet saji dan ingin simplenya saja ini sudah barang tentu sangat menyedihkan untuk masa depan pengembangan Islam sebagai ilmu. Islam itu bisa bertahan, jika agama ini tidak hanya ditopang oleh praktik keagamaan umatnya, namun juga oleh argumentasi yang rasional. Bahkan bisa dikatakan, tantangan Islam terbesar pada abad ini dan mendatang adalah kemampuan umatnya untuk menyediakan argument bahwa agama ini memang ?li? li kulli zam?n wa mak?n.

Berargumen dengan Nahwu adalah salah satu upaya untuk mempertahankan keislaman. Apa yang ingin saya tekan di sini adalah secara umum, fenomena pemahaman keagamaan yang instans dan simplistik tersebut itu terkait erat dengan krisis akan tingkat pengetahuan masyarakat Islam awam dan juga aktivis-aktivisnya secara khusus atas ilmu Nahwu pada satu sisi dan juga penurunan kualitas pewacanaan Islam di ruang publik secara umum pada sisi yang lainnya. Lihat saja bagaimana media kita yang cenderung simplistik dalam dalam menyajikan program agama dengan dalih apa saja misalnya “pemurnian.”

Padahal apa yang terjadi adalah mereka lebih senang mencari penceramah agama di TV-TV mereka yang berorientasi budaya cepat saji untuk memenuhi rasa dahaga atau lapar sementara yang menghinggapi kalangan sebagaian kalangan Muslim, terutama kalangan kota. Agama hanya dibicarakan pada sisi kepentingan peningkatan “piety,” tapi melupakan sisi keilmuan.

Hasil dari model pewacanaan keagamaan Islam yang demikian adalah keluaran masyarakat yang suka menyederhanakan dan memposisikan agama laksana obat gosok (panacea). Mereka ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahyu bahwa di dalam wacana agama ada juga ada perdebatan-perdebatan yang rumit dan sekaligus scientific yang perlu diketahui oleh masyarakat kebanyakan karena perdebatan inilah yang menjadi bagian penting dalam argumentasi agama.

Dengan mengetahui perdebatan-perdebatan Nahwiyyah, proses demokratisasi pemahaman agama juga akan terjadi di dalam masyarakat. Karenanya, apa yang bisa kita lakukan pada tradisi keagamaan Islam yang terlanju demikian seperti ini tidak ada kata lain kecuali melakukan perubahan. Intinya, jika ingin mendalam dalam penguasaan Islam, maka alatnya harus cukup dan ilmu Nahwu menduduki posisi utama dalam masalah ini. Salam.

SYAFIQ HASYIM, Rais Syuriah PCINU Jerman, Meraih Gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 12 Juni 2017

Lawan Korupsi, Pemuka Lintas Agama Rumuskan 8 Maklumat Kebangsaan Tebuireng

Jomabang, Rohis Tegal - Rohani Islam - Sejumlah tokoh lintas agama merumuskan delapan butir Maklumat Kebangsaan Tebuireng sebagai upaya dalam melawan budaya korupsi. Delapan butir maklumat tersebut juga tertulis di sebuah spanduk berukuran besar yang diletakkan di depan Gedung Yusuf Hasyim Tebuireng.

Berdasarkan pantauan di lokasi, masing-masing perwakilan tokoh lintas agama menandatanganinya tepat di bawah maklumat itu. Penandatanganan dimulai dari tokoh agama Islam yang diwakili Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang KH Sholahudin Wahid, kemudian secara bergantian beberapa tokoh agama yang lain juga turut menandatangani maklumat tersebut.

Lawan Korupsi, Pemuka Lintas Agama Rumuskan 8 Maklumat Kebangsaan Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Lawan Korupsi, Pemuka Lintas Agama Rumuskan 8 Maklumat Kebangsaan Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Lawan Korupsi, Pemuka Lintas Agama Rumuskan 8 Maklumat Kebangsaan Tebuireng

Mereka yang hadir adalah Pendeta Agus Susanto, Pendeta Henky Notosabdo, KH M. Zaimuddin, dan beberapa tokoh lintas agama lainnya.

Tidak hanya ditandatangani, delapan butir maklumat di sebuah naskah yang sudah disiapkan juga dibacakan di tengah-tengah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo pada puncak acara Deklarasi Tebuireng dan Lintas Agama Melawan Budaya Korupsi, Sabtu (29/7).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pembacaan maklumat yang dipusatkan di aula Gedung KH M Yusuf Hasyim Tebuireng lantai III itu diawali oleh Pengasuh Pesantren Al-Hikam Malang KH Abdul Hakim Hidayat, kemudian diteruskan KH Salahuddin Wahid. Setelahnya diserahkan kepada Ketua KPK Agus Rahardjo.

Berikut 8 isi Maklumat Kebangsaan Tebuireng.

Rohis Tegal - Rohani Islam

1. Bung Hatta menyatakan bahwa jika sistem hukum lemah dan budaya permisif menjangkiti rakyat, penyakit korupsi akan menjelma sebagai kanker ganas yang menghancurkan tujuan nasional. Kekuatiran itu sudah menjadi kenyataan. Masyarakat menganggap korupsi sebagai hal biasa sehingga tidak memberi sanksi sosial terhadap pejabat yang korup.

2. Hampir semua pejabat negara sudah tidak merasa bersalah untuk korupsi karena sifat rakus dan ingin cepat kaya sudah merata. Mereka tidak malu karena banyak sekali pejabat negara yang korupsi. Mereka tidak takut kepada Tuhan, karena yang mereka takutkan hanyalah dimiskinkan.

3. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk karena lembaga penegak hukum lain tidak efektif dalam memberantas korupsi. Sebagai anak kandung reformasi, KPK telah melakukan tugasnya dengan cukup baik. Masyarakat menaruh kepercayaan tinggi terhadap KPK dibanding dengan lembaga negara lainya.

4. Kini berbagai pihak yang terganggu kepentingannya berusaha melemahkan dan membubarkan KPK.

5. Kami para tokoh lintas agama menyatakan bahwa KPK sangat diperlukan keberadaannya dan menyatakan dukungan moral terhadap KPK dalam melawan upaya pelemahan dan pembubaran.

6. Kami memahami bahwa KPK bukan tanpa kekurangan atau kesalahan, berbagai kritik harus mendapat perhatian serius. KPK harus bertekad untuk memperbaiki diri supaya dapat menjadi lembaga yang makin dipercaya dan makin bertanggung jawab.

7. Kami mengajak masyarakat untuk aktif memerangi korupsi dengan memberi sanksi sosial kepeda pejabat dan pihak terkait lainnya, yang diduga kuat melakukan korupsi.

8. Kita merasakan terkoyaknya merah putih akibat hilangnya rasa saling percaya dan tumbuhnya rasa saling curiga. Diperlukan kerja keras untuk merajut kembali merah putih yang terkoyak, sehingga saling percaya, saling menghormati, dan saling membantu tumbuh kembali diantara semua warga bangsa tanpa memandang Agama, Etnis, Status Sosial dan Latar belakang politik. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 01 April 2017

Warga Banda Aceh Antusias Ikuti Pengajian Tasawuf

Banda Aceh, Rohis Tegal - Rohani Islam. Warga Banda Aceh terlihat begitu antusias mengikuti pengajian tasawuf, tauhid, dan fiqih (Tastafi) yang diasuh oleh salah seorang ulama kharismatik Aceh, Syekh Abu Hasanoel Bashri HG atau yang akrab disapa Abu MUDI di Masjid Raya Baiturrahman semalam, Jumat (7/3).?

Sebelumnya, Pengajian Tastafi diadakan di Meunasah Al-Latief Kampung Baro, tepat di belakang Mesjid Raya Baiturrahman. Namun, mengingat jumlah jamaah yang semakin meningkat, tempat ini tidak muat lagi menampung jamaah dan panitia mengambil inisiatif untuk memindahkan lokasi pengajian ke Mesjid Raya Baiturrahman. Pengajian ini diadakan sebulan sekali setiap Jumat malam saban awal bulan.

Warga Banda Aceh Antusias Ikuti Pengajian Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Banda Aceh Antusias Ikuti Pengajian Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Banda Aceh Antusias Ikuti Pengajian Tasawuf

Ketua Penyelenggara Pengajian Tastafi Tgk Marwan selaku sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pengurus Mesjid yang telah memberi izin pelaksaan pengajian Tastafi di Mesjid ini. Dukungan terhadap pengajian Tastafi juga datang dari Wagub Aceh, Muzakir Manaf.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Saya berharap dan memohon kesedian Abu untuk mengasuh pengajian ini tidak hanya sebulan sekali, tetapi setidaknya dua minggu sekali, karena pengajian ini merupakan wadah yang sangat penting untuk memperbaiki moral rakyat Aceh.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Abu MUDI saat itu memberikan syarah kitab Sirus Salikin secara panjang lebar mengenai syariat, thariqat, dan hakikat. Menurut dia, syariat dan thariqat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, sebagaimana dijalani Nabi SAW. Sedangkan hakikat, katanya, bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari, melainkan sebuah kedudukan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang telah menjalankan syariat dan thariqat secara benar.

Abu juga menegaskan bahwa Islam tidak sempit, Islam sangat luas dan sangat toleran terhadap kondisi-kondisi tertentu. Dalam kondisi hajat (kebutuhan), dharurah (terdesak), hukum Islam bisa saja berubah dari hukum yang sebelumnya haram menjadi mubah.?

Kun fil fiqhi muhaqqaqa, wa fil fununi musyarika. Pahamilah fikih secara mendetail dan mendalam, adapun disiplin ilmu yang lain sekedarnya saja. Tauhid cukup sekadar tidak mensyarikatkan (menyekutukan Allah dan tasawuf untuk memperbaiki akhlak,” ujar Abu.

Menurut Abu, untuk mendalami Fiqih butuh waktu yang lama dan bimbingan guru, karena banyak hal di luar makna harfiah yang hanya bisa dipahami dengan dukunga ilmu-ilmu yang lain.

Dalam sesi akhir disediakan kesempatan tanya jawab kepada majelis pengajian dan pendengar Radio Pro 1 RRI. Dalam sesi ini, masalah yang menjadi sorotan adalah mengenai hukum asuransi, thariqat, shalat dengan imam mazhab lain, penafsiran hadis, arisan, pembagian tauhid, tawassul dan juga seputar masalah wanita. (M. Iqbal Jalil/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Habib, Cerita Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock