Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih

Kutai Kartanegara, Rohis Tegal - Rohani Islam. Puluhan mahasiswa PMII Kutai Kartanegara Kalimantan Timur  berencana menggelar aksi damai menjelang pemilu di bundaran Jembatan Bongkok, Kamis (3/4).  Aksi damai yang dimulai pukul 14.00 akan mengusung isu tentang pemilu bersih, jujur dan adil untuk Kutai Kartanegara.

Dalam aksi ini PMII Kutai Kartanegara berencana membagikan brosur yang berisi tentang masalah yang dihadapi dalam pemilu kali ini.

PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih

Koorlap aksi M Ali Akbar menjelaskan, apabila proses kampanye dan pencoblosan terdapat kecurangan atau tindakan buruk, maka pemilu akan menghasilkan anggota DPR yang hanya memikirkan kepentingan pribadi atau golongan saja.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Apabila ada caleg yang menjanjikan uang, tolak uangnya, jangan pilih orangnya, dan laporkan!” tutur M Ali Akbar.

Sedangkan Ketua PC PMII Kutai Kartanegara Muhammad Sulaiman dalam orasi nanti akan memaparkan masalah-masalah pemilu yang dihadapi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Pemilu kali ini tidak akan jauh berbeda permasalahanya dari pemilu-pemilu sebelumnya, yakni masalah golput yang tinggi, kampanye hitam yang makin marak, jumlah DPT bermasalah dan politik uang yang seakan sudah melekat pada proses pemilu di Indonesia,” kata Sulaiman dalam pers rilisnya.

PMII Kutai Kartanegara juga mengimbau warga untuk tidak golput, menolak politik uang, dan meminta KPU dan aparatur Negara (PNS) untuk tetap menjaga netralitas dalam pemilu kali ini.

“Kita juga mengingatkan masyarakat, ketika sudah mencoblos dan mendapati wakil mereka duduk di kursi DPR untuk jangan melupakan janjijanji caleg saat kampanye. Kita tagih janji mereka ketika mereka terpilih!” tegas Sulaiman.

PMII Kutai Kartenegara juga menegaskan akan mengawasi dan memantau pileg kali ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ubudiyah Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 04 Februari 2018

Pengobatan Gratis Diserbu Pasien

Pekalongan, Rohis Tegal - Rohani Islam

Kegiatan sosial yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan berupa pengobatan gratis massal kerjasama dengan Pemkot setempat, Ahad (20/1), diserbu ratusan pasien dari berbagai kelurahan di Kota Pekalongan.



Pengobatan Gratis Diserbu Pasien (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengobatan Gratis Diserbu Pasien (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengobatan Gratis Diserbu Pasien

Pasalnya, pengobatan gratis yang dilakukan dalam rangka Peringatan Harlah ke-82 NU dilakukan di saat yang tepat. Masyarakat, khususnya di wilayah yang baru saja dilanda banjir sangat memerlukan pengobatan segera.

Bahkan sejak jam 06.30 wib kegiatan yang dipusatkan di dua tempat dari empat tempat yang diagendakan yakni di Ranting Krapyak Kidul dan Pasirsari pasien sudah mulai mengantri untuk mendapatkan nomor urut pemeriksaan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Meski panitia mengalami sedikit kewalahan, tapi semua dapat diatasi apalagi pengobatan ditangani oleh dokter dan perawat Nahdlatul Ulama yang cukup berpengalaman. Hingga akhir kegiatan tercatat 455 pasien yang tertangani dari target 400 orang di dua tempat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sutarno salah seorang pasien kepada Rohis Tegal - Rohani Islam mengatakan, sangat berterima kasih atas upaya NU menggelar pengobatan gratis di acara harlahnya, dirinya mengikuti kegiatan ini karena di pengobatan ini disamping dapat obat gratis juga berharap ada tambahan doa dari para kiai sehingga dapat mempercepat kesembuhan. Dirinya berharap kegiatan serupa agar dapat diadakan secara berkala, mengingat masih banyak masyarakat yang belum terjangkau dengan pengobatan ini, ujarnya

Bahkan Walikota Pekalongan HM Basyir Ahmad yang juga seorang dokter secara pribadi hadir diacara pengobatan gratis dan turut melakukan pemeriksaan perdana kepada pasien di Ranting Krapyak Kidul, Kota Pekalongan.

Dalam sambutannya Walikota berharap, langkah nyata Nahdlatul Ulama ini dapat disinergikan dengan program pemerintah dalam penanganan kemiskinan, kesehatan dan pendidikan melalui Nahdliyyin Center milik NU, sehingga ke depan masyarakat Kota Pekalongan yang mayoritas warga NU dapat tertangani dengan baik.

“Saya menyambut baik langkah-langkah Nahdlatul Ulama membantu pemerintah dalam upaya menyehatkan masyarakat melalui program pengobatan gratis ini, dan saya siap mengucurkan dana untuk keperluan ini”.

Sementara itu Ketua Panitia Harlah NU Kota Pekalongan, Abdul Basir, SH menjelaskan, kegiatan serupa masih akan dilaksanakan pada tanggal 27 mendatang di Ranting Sokorejo Pekalongan Timur dan Banyurip Ageng Pekalongan Selatan, kemudian kegiatan donor darah akan dilakukan tanggal 25 Januari di Alma Swalayan Kota Pekalongan dan malam tasyakuran 82 tahun Nahdlatul Ulama tanggal 31 Januari 2008 di PCNU seluruh MWC dan Ranting NU se Kota Pekalongan.

Sedangkan kegiatan puncak Harlah akan dilakukan istighotsah kubro tanggal 1 Pebruari 2008 bertempat di Masjid Agung Al Jami’ Kota Pekalongan bersama Habib Muhammad Luthfiy bin Ali bin Hasyim bin Yahya dan Habib Abdullah Baqir bin Ahmad Alatas yang pada pagi harinya didahului dengan acara ziarah ke makam ulama dan kiai pejuang Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan. (amz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam RMI NU, Ubudiyah, Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 01 Februari 2018

Perlukah Berkurban di Sekolah Dilarang?

Oleh Badrul Munir

Hari raya Idul Adha sudah di depan mata kita, hari suci di mana umat Islam sedunia di tanah suci Mekkah melaksanan puncak ibadah haji. Sebuah ritual internasional yang diikuti jutaan umat Islam dari seluruh dunia dalam rangka memperingati “napak tilas” Nabi Ibrahim yang mempertunjukan kepada kita semua tentang arti sebuah ketaatan dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.

Bagi kita yang tidak berhaji disyariatkan untuk merayakan Idul Qurban dengan beberapa ritual mulai puasa Arofah, shalat Idul adha dan penyembelihan hewan Qurban dan lainnya

Perlukah Berkurban di Sekolah Dilarang? (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlukah Berkurban di Sekolah Dilarang? (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlukah Berkurban di Sekolah Dilarang?

Penyembelihan qurban pada hakikatnya mengandung nilai pendidikan anak yang luar biasa, sebuah pendidikan kepada anak yang dicatat dengan tinta emas sebagai pendidikan ideal untuk membentuk anak yang shalih.

Beberapa poin penting dalam pendidikan Nabi Ibrahim kepada anaknya mencakup visi, misi, kurikulum dan lingkungan dalam pendidikan anak:

Pertama: visi pendidikan Ibrahim adalah mencetak generasi saleh yang menyembah hanya kepada Allah SWT. Dalam penantian panjang beliau berdoa agar diberi generasi saleh yang dapat melanjutkan perjuangan agama tauhid. Visi Ibrahim ini diabadikan Allah SWT dalam al-Qur’an: "Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh." (Q.S. Ash Shaaffaat: 100)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kedua, misi pendidikan Ibrahim adalah mengantar Ismail dan putra-putranya mengikuti ajaran Islam secara totalitas. Ketaatan ini dimaksudkan sebagai proteksi agar tidak terkontaminasi dengan ajaran berhala yang telah ada di sekitarnya.

Ketiga, kurikulum pendidikan Ibrahim juga sangat lengkap. Muatannya telah menyentuh kebutuhan dasar manusia. Aspek yang dikembangkan meliputi: Tilawah untuk pencerahan intelektual, Tazkiyah untuk penguatan spiritual, Taklim untuk pengembangan keilmuan dan Hikmah sebagai panduan operasional dalam amal-amal kebajikan. Muatan-muatan strategis pendidikan Ibrahim tersebut, Allah SWT telah jelaskan secara terperinci dalam firman-Nya:

Keempat Lingkungan pendidikan Ibrahim untuk putranya bersih dari virus aqidah dan akhlaq. Beliau dijauhkan dari berhala dunia, pikiran sesat, budaya jahiliyah dan prilaku sosial yang tercela. Hal ini dipilih agar fikiran dan jiwanya terhindar dari kebiasaan buruk di sekitarnya.

Selain jauh dari perilaku yang tercelah, tempat pendidikan Ismail juga dirancang menjadi satu kesatuan dengan pusat ibadah ‘Baitullah’. Hal ini dipilih agar Ismail tumbuh dalam suasana spritual, beribadah (shalat) hanya untuk Allah SWT. Kiat ini sangat strategis karena faktor lingkungan sangat berpengaruh kepada perkembangan kejiwaan anak di sekitarnya.

Pemilihan tempat (bi’ah) yang strategis untuk pendidikan Ismail secara khusus Allah SWT abadikan dalam al-Qur’an.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Larangan dan Keresahan

Namun menjelang hari raya Idul Adha seperti saat ini ada beberapa isu yang menyeruak di masyarakat di Indonesia, yang pertama idul adha jatuh pada hari apa (ada perbedaan atau tidak) dan yang kedua (khusus untuk warga Jakarta) masih bolehkah menyembelih hewan kurban di sekolah?

Hal ini merujuk pada Instruksi Gubernur No 168 Tahun 2015 tentang Pengendalian, Penampungan dan Pemotongan Hewan. Di dalamnya termasuk ada larangan menyembelih hewan kurban di sekolah. Beberapa alasan yang dipakai oleh Pempov Jakarta tentang aturan ini yakni kekhawatiran menyebarnya penyakit dari hewan ke manusia (dalam istilah medis zoonosis) dan juga menghindari dampak psiologis berupa traumatik terhadap anak akibat proses pemotongan hewan kurban tersebut. Sebagai solusinya pemerintah provinsi Jakarta menyiapkan rumah pemotongan hewan (RPH) untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat Jakarta dalam penyembelihan kurban.

Sebagai seorang pemimpin daerah maka tugas utama bagi seorang gubernur adalah mengatur segala hal yang berada di wilayah kerjanya. Dalam hal berkurban instruksi Gubernur sangat tepat, terutama mengatur tempat penjualan hewan kurban. Sudah lazim di kota-kota bahkan di seluruh daerah menjelang hari raya kurban, banyak fasilitas umum yang di sulap menjadi pasar hewan, hal ini berakibat kumuh dan bau tidak sedap menyebar kemana-mana, belum lagi masalah kesehatan hewan yang belum terkontrol yang berakibat menyebarnya penyakit hewan ke manusia (zoonosis).

Namun dalam hal pelarangan penyembelihan kurban di sekolah perlu dikaji lebih dalam karena bisa berpotensi menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Sebagai seorang pemimpin Gubernur Basuki Cahaya Purnama harus mendapat pemahaman yang utuh tentang ritual ibadah kurban, sebuah ibadah yang mengandung unsur pendidikan moral sosial dan sangat kental dengan tradisi masyarakat Indonesia. Berbeda dengan ibadah shalat, puasa atau bersedekah misalnya dimana ibadah tersebut harus disamarkan dan lebih utama tanpa dilihat orang lain, tetapi ibadah penyembelihan hewan kurban harus ditampakkan sebagai syiar ritual keagamaan karena memang tuntutan ajaran agama Islam demikian.

Satu hal lagi yang perlu diketahui oleh gubernur Ahok di dalam penyembelihan kurban juga sangat kental dengan kearifan lokal yang terus dijaga dan akan diwariskan terhadap anak keturunan masyarakat Islam, kearifan lokal tersebut pemahaman berupa nilai keikhlasan, pengorbanan, kerja sama, sifat saling membantu dan lainnya yang semua bermuara keteladalan Nabi Ibrahim kepada murid sekolah tersebut.

Beberapa komentar gubernur Ahok yang mengatakan di arab saudi tidak ada penyembelihan hewan kurban di masjid dan sekolah dan semua dilakukan di pusat penyembelihan kurban semakin menunjukan betapa sang gubernur DKI ini belum memahami secara utuh makna sebuah ibadah kurban dan haji. Pernyataan diatas sama dengan mengapa di Jakarta masih sering banjir, macet dan kriminal sedangkan di Singapura tidak?

Trauma psikologi. Alasan lain adalah kekhawatiran dampak trauma psikologi akibat prosesi pemotongan hewan kurban yang disaksikan secara langsung oleh anak-anak sekolah dasar.

Ilmu neurobehavior menerangkan usia sekolah dasar (7-12 tahun) saat perkembangan otak di lobus frontalis dan parietalis (dahi dan pelipis), satu hal yag menonjol adalah mulai berkembangnya fungsi kognisi (berfikir, logika, analisis), kreatifitas dan kemampuan berbahasa.

Di bagian otak pelipis atau sistem emosi anak SD sudah mulai menunjukkan hal yang berperan, kegemaran meniru apa yang dilihat dan didengar sangat dominan apalagi sifat imajinatif sebagai seorang anak yang dibawa dari kecil masih terbawa.

Bagian otak yang mengatur psikomotor juga berkembang secara maksimal sehingga anak SD cenderung senang bergerak, bermain mengerjakan sesuatu secara langsung dan senang bekerja dalam suatu kelompok.

Apapun stimulus atau paparan yang masuk ke otak sangat mempengaruhi perilaku anak (termasuk siswa SD), setiap stimulus akan terekam kuat di area memori (sistem limbik), apalagi bila saat kejadian ada nuansa emosi yang menyertainya maka memori akan terpatri kuat , maka paparan yang diterima anakharus paparan yang positif sehingga kelak akan menjadi dasar perilaku positif

Prosesi penyembelihan hewan kurban yang disaksikan secara langsung oleh ratusan mata anak SD dikhawatirkan mempengaruhi psikologis mereka yakni timbul rasa takut berlebihan (fobia) atau justru timbul sifat atau perilaku kekerasan(agresifitas).

Hal tersebut secara teori bisa terjadi manakala kejadian penyembelihan hewan kurban berulang dan anak didik tidak memiliki pemahaman kognisi tentang syariat kurban, tatacara penyembelihan kurban secara islami dan manfaat berkurban untuk meningkatkan jiwa sosial anak kepada lingkungan sekitarnya. Dan di sinilah tantangan pihak sekolah (guru dan pengajar) dan orang tua untuk memberi pemahaman yang utuh tentang syariat berkurban kepada anak secara runtut dan utuh.

Seperti yang saya jabarkan di atas saat usia SD adalah saat perkembangan sel saraf lobus frontalis sangat optimal sehingga kemampuan kognisi dan kemampuan bahasa sangat maksimal.Guru dihadapan siswa SD merupakan sosok “idola” bagi dia, guru adalah sumber ilmu, segala ucapannya akan merasuk dengan kuat di pikiran mereka, hal ini berbeda dengan siswa SMP SMA dimana daya kritisnya sudah sangat terasa dan tidak menjadikan ucapan guru sebagai satu satunya sumber ilmu.

Bila paparan tentang keutamaan kurban sudah terekam dengan kuat di pikiran anak didik, maka pada saat prosesi penyembelihan hewan kurban maka yang terbentuk di pikiran anak bukan “pembantaian hewan kurban” akan tetapi lebih dari itu adalah suatu ajaran yang luhur tentang pengorbanan ketaatan hamba kepada perintah Tuhannya, dan ini lebih terekam kuat dalam perilaku dibanding rasa “kasihan” hewan tidak bersalah dipotong lehernya(fobia) atau “suka cita” melihat hewan kurban tergelepar tidak berdaya sesaat setelah dipotong lehernya (agresifitas).

Jadi pelarangan pemotongan hewan kurban di lingkungan sekolah yang dikhawatirkan menjadikan dampak psikologis negatif berupa fobia atau agresif menurut hemat kami berlebihan dan tidak ada dasar ilmiahnya yang kuat , justru sebaliknya suatu proses pembelajaran langsung (hand on) untuk membentuk peribadi dengan kesalehan ritual dan sosial.

Sebagai langkah cerdas pemerintah daerah harus lebih memberi pelayanan berupa pemeriksaan hewan kurban dan memberi bantuan teknis lainnya agar prosesi penyembelihan kurban di masyarakat dan sekolah berjalan dengan aman dan hikmat tanpa harus mengorbankan makna sebuah penyembelihan kurban

Semoga pemerintah atau pemerintah daerah tidak merivisi aturan larangan berkurban di sekolah yang kontra produktif dan bisa berpotensi menimbulkan kegaduhan dan keresahan di masyarakat. Satu hal lain adalah kemungkinan melanggar undang-undang dasar 1945 tentang “kebebasan beragama dan tentang hak mendapat pendidikan”

Sebaliknya pemerintah dan pemerintah daerah harus lebih fokus meningkatkan kesejahteraan seperti menstabilkan harga, menciptakan lapangan kerja, menurunkan penggangguran, meningkatkan ekonomi dan lainnya yang semakin hari semakin mengkhawatirkan

Semoga intruksi gubernur ini segera direvisis khususnya tentang larangan kurban, dan tidak ada lagi pemimpin daerah yang mengeluarkan intrusksi tidak edukatif seperti itu, kalaupun dipaksa diterapkan maka sungguh intruksi itu tidak layak dan tidak perlu dilaksanakan khususnya larangan meyembelih kurban di sekolah dan masjid. Selamat berkurban (di sekolah dan masjid)...

*) Penulis adalah dokter spesialis saraf  RS Saiful Anwar; Dosen Fakultas kedokteran Universitas Brawijaya Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Bahtsul Masail, Ubudiyah Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 31 Januari 2018

KH Lukmanul Hakim: Tanda Kewalian Ada Pada Gus Dur

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ahli Tasawwuf Dr KH Lukmanul Hakim menilai tanda-tanda kewalian ada pada diri Gus Dur, yaitu tidak memiliki rasa takut dan susah. Gus Dur merupakan orang yang dikenal memiliki keberanian dalam menghadapi segala sesuatu, dan tahan dalam menghadapi berbagai penderitaan.

“Semoga yang kita khusnudhonkan benar,” katanya.

KH Lukmanul Hakim: Tanda Kewalian Ada Pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Lukmanul Hakim: Tanda Kewalian Ada Pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Lukmanul Hakim: Tanda Kewalian Ada Pada Gus Dur

Seorang wali, kata pemimpin redaksi majalah Cahaya Sufi ini, merupakan orang yang mengabdikan dirinya kepada Allah. Mereka bukanlah orang yang mencari pahala dengan beribadah kepada manusia agar dicintai Allah. Allah yang menjadi pertimbangan utama dalam hidupnya, bukan kesan dan pendapat manusia.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Cintanya kepada Allah mendahului kepeduliannya kepada manusia. Mereka memposisikan Allah sebagai sebab, bukan akibat,” terangnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mengenai karomah, ia menjelaskan bahwa bagi para wali, munculnya karomah dianggap sebagai haidnya para wali, dan membuat mereka malah takut.

“Karomah dimunculkan kepada seorang wali kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Salah satu tujuannya agar tetap istikomah,” paparnya.

Ia menjelaskan, ada perbedaan antara karomah dan ilmu hikmah. Kalau karomah bisa muncul kapan saja tanpa perlu dipelajari. Ilmu hikmah bisa dipelajari, misalnya dengan melaksanakan amalan wirid tertentu, dengan jumlah tertentu, maka akan bisa melakukan sesuatu yang terlihat luar biasa.

“Yang tahu itu karomah atau ilmu hikmah, ya Allah, orang itu sendiri, dan orang lain yang diberi tahu oleh Allah,” paparnya.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Daerah, Ubudiyah, Hadits Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Buka Stan di NU Expo, ASBIHU Jelaskan Cara Pendirian Kantor Perwakilan

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Asosiasi Bina Haji dan Umroh Nahdlatul Ulama (Asbihu NU) bakal membuka stan di NU Expo Surabaya pada tanggal 21-24 Desember 2016.

Direktur ASBIHU Tour and Travel, H Hafidz Taftazani berharap para pengurus NU, baik tingkat Wilayah maupun Cabang untuk hadir dan mendatangi stan yang telah disiapkan.

Buka Stan di NU Expo, ASBIHU Jelaskan Cara Pendirian Kantor Perwakilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Stan di NU Expo, ASBIHU Jelaskan Cara Pendirian Kantor Perwakilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Stan di NU Expo, ASBIHU Jelaskan Cara Pendirian Kantor Perwakilan

"Di sana kita akan buka stan. Pengurus NU bisa bertanya langsung bagaimana cara mendirikan kantor perwakilan Asbihu di masing-masing daerah," kata Hafidz di Jakarta, Jumat (16/12).

Hafidz menegaskan, setiap cabang yang mendirikan kantor perwakilan bakal mendapatkan pelatihan manajemen dari pengurus pusat.

? ? ? ?

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Asbihu sudah mengembangkan profesionalisme, termasuk mendatangkan motivator-motivator ke beberapa wilayah seperti Jawa Tengah, Jatim, Jabar dan Lampung," katanya.

Asbihu memberikan insentif kepada wilayah dan cabang NU di setiap daerah yang memiliki perwakilan Asbihu. Besarnya insentif adalah senilai US$10 per jamaah di tingkat wilayah, dan US$20 per jamaah di tingkat cabang.

“Namanya ibadah umrah, jamaahnya berada di wilayah dan cabang. Insentif diberikan karena cabang dan wilayah memiliki jamaah atau warga yang berangkat umrah melalui ASBIHU. Dengan adanya insentif kepada cabang dan wilayah, perwakilan sudah melakukan imbal balik kepada cabang dan wilayah,” kata pria yang juga menjabat Bendahara PBNU ini.

Pemberian insentif dilakukan pada akhir tahun dengan mengakumulasi banyaknya jamaah yang melakukan ibadah umrah melalui ASBIHU Tour and Travel. Pihaknya berharap dengan pemberian insentif ini akan memotivasi setiap cabang dan wilayah serta setiap perwakilan untuk menjadi mitra ASBIHU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kami harapkan PWNU dan PCNU mulai tahun ini mendapatkan insentif atau fee tersebut,” kata Hafidz seraya menambahkan bahwa sementara ini sistem pemberian insentif yang sudah berjalan kebanyakan adalah di Jawa Tengah.

Saat ini, ASBIHU Tour and Travel telah memiliki 60 perwakilan di seluruh Indonesia. “Selain di Jawa Tengah, perwakilan juga tersebar di Bekasi, Sukabumi, Lampung, Malang, Banjarmasin,” kata Hafidz. (Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, Ubudiyah, Cerita Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 23 Januari 2018

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik

Sidoarjo, Rohis Tegal - Rohani Islam - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Menteri Sosial Hj Khofifah Indar Parawansa memberikan bantuan berupa uang senilai Rp.15 juta yang diberikan kepada 8 orang keluarga korban bencana perahu terbalik yang menelan korban jiwa, yang terjadi di Desa Bogem Pinggir Kecamatan Balongbendo Sidoarjo, 13 April lalu.

Bantuan ini diberikan oleh Khofifah kepada keluarga korban bencana di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, Jumat (23/6) malam dengan didampingi Bupati Sidoarjo, Wakil Bupati Sidoarjo, Kapolresta Sidoarjo, Kepala Dinas Sosial Gresik dan Kepala Dinas Sosial Mojokerta serta jajaran Dinas Sosial Sidoarjo.

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik

"Dengan waktu yang sangat singkat, akhirnya bantuan ini segera cair sehingga bisa kami bagikan. Awalnya memang Bupati Sidoarjo cerita kalau keluarga korban mendapatkan bantuan uang senilai Rp.3 juta dari APBD dan harus SK Bupati," kata Hj Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu menirukan cerita Bupati.

Para keluarga korban yang menerima bantuan itu di antaranya Kusnari warga Gagang Kepuhsari Balongbendo, Nur Kholis dan Choirun Nisa warga Desa Bangkalan Wringinpitu Kecamatan Balongbendo, Suriasih dan Misah warga Kalimati Kecamatan Tarik. Selain itu, ada dua orang lainnya, yaitu Ujang warga Desa Wringin Anom Gresik dan Rozikin warga Mojosari Mojokerto.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bantuan uang total sebesar Rp.120 juta diberikan kepada delapan orang. Masing-masing dari mereka menerima sebesar Rp.15 juta.

Insiden perahu penyeberangan yang terbalik diduga kelebihan muatan itu terjadi di Desa Bogem Pinggir Kecamatan Balongbendo Sidoarjo pada 13 April lalu. Saat itu, perahu sedang menyeberangkan 11 hingga 12 orang dan 7 motor. Diduga kelebihan muatan, akhirnya perahu terbalik dan menelan korban jiwa. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Ubudiyah, Amalan Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 22 Januari 2018

Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar

Oleh Nadirsyah Hosen



Prof Ahmad Chatib (Allah yarham) pernah bercerita beliau baru saja membeli sebuah buku dalam perjalanan di luar negeri. Kemudian beliau berpapasan di pintu dengan Gus Dur yang segera melihat buku bagus di tangan Prof Ahmad Chatib. Gus Dur bergegas ke dalam toko buku hendak membeli buku yang sama, tapi ternyata itu stok buku terakhir yang ada. Gus Dur kemudian cepat-cepat mengejar Prof Ahmad Chatib dan meminta beliau untuk meminjamkan buku tersebut.

Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar

Prof Ahmad Chatib, yang menceritakan kisah ini di kelas mata kuliah Filsafat Hukum Islam tahun 1994 di IAIN Jakarta, berkata: "Terpaksa saya sodorkan buku itu kepada Gus Dur yang ingin sekali membaca buku tersebut". Selang beberapa lama setiap bertemu di Jakarta, Prof Ahmad Chatib selalu menanyakan nasib bukunya yang dipinjam Gus Dur itu. Akhirnya Gus Dur mengembalikan buku itu. Prof Ahmad Chatib terkejut setelah membukanya, "Wah buku saya sudah penuh dengan catatan Gus Dur di sana-sini". Rupanya begitulah kesungguhan Gus Dur dalam menelaah sebuah kitab: sampai buku pinjaman pun dicoret-coreti.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kisah kedua yang hendak saya ceritakan ini mengenai Kiai Abbas dari Buntet Pesantren. Saat Abah saya hendak mengaji kepada Kiai Abbas dengan membawa kitab Jamul Jawami, Kiai Abbas mengaku belum terlalu menguasai kitab itu, dan meminta Abah saya datang kembali membawa kitab tersebut beberapa hari ke depan. Rupanya Kiai Abbas menyimak dulu isi kitab ushul al-fiqh karya Imam al-Subki tersebut, dan kemudian setelah itu Abah saya dipanggil kembali dan Kiai Abbas dengan lancar mengajarkan isi kitab tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dua kisah di atas saya ceritakan untuk menunjukkan kesungguhan para kiai itu menuntut ilmu. Para kiai itu membaca, menyimak dan memberi catatan isi kitab. Mereka menjadi alim bukan terjadi begitu saja. Sengaja diambil kisah dua kiai, yaitu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kiai Abbas. Kedua tokoh hebat pada masanya masing-masing ini lebih sering dibahas karomah beliau berdua ketimbang dikisahkan kesungguhan beliau berdua belajar menuntut ilmu.

Kiai Abbas, menurut penuturan Abah saya yang menjadi santri khususnya, sangat menguasai ushul al-fiqh dan ilmu fiqh perbandingan mazhab. Pengakuan Abah: "Kuliah saya di al-Azhar Cairo terasa mudah dengan bekal ilmu yang sudah diajarkan Kiai Abbas". Yang terkenal kemana-mana itu adalah peristiwa heroik 10 November dimana Kiai Abbas merontokkan pesawat sekutu dengan lemparan biji tasbih dan bakiaknya. Tentu saja Abah saya juga menceritakan berbagai karomah gurunya ini, namun setiap saya tanya apa wiridnya, Abah cuma berpesan: "Belajar yang rajin saja Nak, belum waktunya membaca wirid macam-macam, nanti kalau kamu sudah jadi kiai, kamu akan mengerti sendiri hal-hal gaib dan ajaib yang kamu tanyakan itu. Sekarang baca buku lagi!"

Dan kini kalau saya ceritakan kepada para santri bahwa saya meraih dua gelar PhD di dua bidang berbeda, di dua negara berbeda, dan saya selesaikan pada waktu yang bersamaan, spontan yang mereka tanya: "Wiridnya apa sehingga bisa seperti itu?" Jarang yang tertarik bertanya bagaimana kesungguhan saya belajar sehingga bisa menyelesaikan dua program PhD tersebut. Lebih menarik bertanya doa dan wiridnya. Mungkin disangkanya lebih mudah wiridan ketimbang membaca buku.

Pesantren itu sejatinya lembaga pendidikan, bukan semata tempat orang belajar mistik apalagi klenik. Ini yang harus ditegaskan karena banyak kesalahpahaman. Selain kesannya ndeso, pesantren itu dikesankan tempat untuk belajar ilmu gaib. Orang tua menjadi takut mengirim anaknya ke pondok. Pulang dari pondok hobinya nanti menangkap jin. Sementara para santri ada sebagian yang bukannya belajar dengan tekun tapi malah sibuk mau jadi waliyullah dengan berharap mendapat ilmu laduni. Bahwa Gus Dur dan Kiai Abbas memiliki karomah, tentu kita yakini itu. Tetapi karomah itu hanya bonus saja, hasil dari istiqamah para kiai yang luar biasa. Istiqamah menuntut ilmu dengan terus rajin belajar, membaca, berdiskusi, dan menulis --ini yang harus kita warisi dari para masyayikh dan guru-guru kita.

Ceritakanlah kepada khalayak bagaimana Mbah Sahal Mahfud membaca dengan tekun dan karenanya menulis berbagai kitab yang luar biasa. Di ruang tamu beliau berjejer kitab fiqh dari mazhab selain mazhab Syafii. Kitab dari mazhab Syafii malah ditaruh di bagian belakang. "Kenapa?" tanya Prof Martin van Bruinessen. Jawab Mbah Sahal kalem, "karena kitab dari mazhab Syafii sudah saya hafal semua."

Kisahkanlah di medsos bagaimana Kiai Ihsan Jampes mengarang kitab yang kemudian dijadikan rujukan di mancanegara. Atau tolong mintakan kepada KH Ahmad Mustofa Bisri untuk berkenan bercerita proses kreatif beliau sehingga tercipta berbagai tulisan dan barisan puisi yang menyentuh jiwa dan mengundang kita untuk merenunginya.

Jikalau ini yang kita ceritakan, tidak semata soal karomah para kiai, baru kemudian umat akan memahami bahwa pesantren itu juga gudangnya dunia ilmu pengetahuan. Dan mereka akan lebih apresiatif saat mengetahui bahwa zikir dan pikir telah menjadi satu tarikan nafas keseharian para kiai.

Penulis adalah Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Syariah, Ubudiyah Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock