Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Produktivitas Karya Tulis Pesantren Menurun

Bogor, Rohis Tegal - Rohani Islam. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Prof Abdurrahman Mas’ud mengatakan, akhir-akhir ini dunia tulis-menulis di kalangan pesantren cenderung menurun. Para kiai di pesantren jarang menulis buku atau karya tulis lainnya. Ini jauh berbeda dengan kondisi para ulama pada sekitar abad ke-19.

“Ketika itu, karya-karya tulis para ulama banyak diterbitkan di Saudi dan Turki, selain di Indonesia sendiri. Karya ulama zaman dulu yang monumental antara lain Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil atau Tafsir Marah Labid (Syekh Nawawi al-Bantani) dan Manhaj Zhawi an Nazhar (Syekh Mahfudz al-Tirmasi), sebuah tafsir atas Manzhumat ‘Ilm al Atsar karya Abdurrahman al-Suyuthi,” paparnya.

Produktivitas Karya Tulis Pesantren Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)
Produktivitas Karya Tulis Pesantren Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)

Produktivitas Karya Tulis Pesantren Menurun

Mas’ud menyampaikan hal itu saat memberi pengarahan dalam seminar “Hasil Pengembangan Karya Tulis Ilmiah Santri” di Hotel M-One Jalan Raya Jakarta-Bogor Km 49,5 Cimandala Sukaraja Bogor, Kamis (20/11), yang digelar Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Puspenda) Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mas’ud menambahkan, sekarang ini belum ada lagi penulis produktif dari kalangan ulama setelah Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh. “Yang menarik, adalah kitab Thariqatul Hushul ala Ghayatil Wushul karya Kiai Sahal Mahfudh, sebuah penjelasan dari kitab Ghoyatul Wushul karya Syekh Abu Zakariya al-Anshori,” tegasnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurutnya, pemeliharaan tradisi keilmuan meliputi menulis dan membaca kitab kuning sebagai salah satu fungsi pesantren diwujudkan dalam bentuk aneka karya tulis. Sebagai penulis produktif, ulama zaman dahulu melahirkan karya besar. Sayangnya, masih banyak yang belum dibukukan sebagai warisan kepada generasi penerus. Bagi Mas’ud, kaderisasi penulisan yang dilakukan Puspenda sangat penting untuk melahirkan penulis baru yang handal.

Mas’ud secara khusus memberikan selamat dan apresiasi kepada para santri yang terpilih dalam 10 besar. Ia berharap mereka makin berkembang kemampuan menulisnya. “Saya berharap adik-adik santri yang terpilih ini menjadi penulis handal di masa depan. Saya tahu, tidak mudah dalam proses penulisan tersebut. Yang jelas, all beginning is difficult. Banyak pemula yang sampai berdarah-darah saking sulitnya,” seloroh Mas’ud. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Internasional, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 11 Februari 2018

Pendidikan di Indonesia

Oleh KH Azka Hammam Syaerozi

Dewasa ini pendidikan formal dipandang oleh masyarakat sebagai pendidikan yang sesungguhnya. Dengan beranggapan bahwa hanya dengan pendidikan formal seseorang bisa dianggap berpendidikan. Hal ini tentu berakibat fatal bagi pendidikan yang berada di luar pendidikan formal atau yang biasa disebut sebagai pendidikan informal (baca: pesantren). Ada beberapa faktor yang menjadikan pola pikir masyarakat kita seperti itu.

Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan di Indonesia

Pertama, pendidikan formal adalah program pendidikan yang digalakkan langsung oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan ukuran pendidikan di negara kita ini condong dengan apa yang dianjurkan oleh pemerintah. Karena diadakan oleh pemerintah, maka banyak program-program dan fasilitas yang diberikan pemerintah bagi pendidikan ini. Sangat berbeda dengan pendidikan informal yang sepertinya dianggap anak tiri oleh pemerintah, meski beberapa dianggap keberadaannya, tetapi pendidikan informal tetap dipandang sebelah mata dan tetap tidak dijadikan ukuran seseorang dianggap berpendidikan.

Kedua, dalam pendidikan formal tenaga pengajar mendapatkan upah yang pasti dan terjamin langsung oleh pemerintah. Berbeda dari pendidikan pesantren pemerintah tidak memberikan jaminan secara pasti bagi setiap pengajarnya. Hal ini menjadikan pendidikan formal lebih dipercaya dan dianggap lebih prospektif dibandingkan dengan pendidikan pesantren.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketiga, pendidikan formal memberikan ijazah yang secara de jure dianggap dan legal di kancah nasional maupun internasional. Hal ini berlawanan dengan pendidikan pesantren yang ijazahnya tidak diakui, atau bahkan tidak memiliki ijazah sama sekali.

Apa Hubungan antara Keduanya?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebenarnya, hubungan antara ilmu agama yang diadakan pesantren dan pendidikan umum yang diadakan sekolah formal itu sangat erat sekali. Ilmu pesantren adalah sebuah ‘asal’ yang menjadi tetap dan kokohnya sesuatu. Sedangkan ilmu umum adalah ‘cabang’ yang membentang luas dalam segala bidang kehidupan. Jika diibaratkan, pendidikan pesantren adalah makanan pokok, dan pendidikan formal adalah lauk pauknya. Maka tidaklah dinamakan makan jika seseorang hanya menyantap lauk pauk saja, dan jika hanya nasi saja maka tidak tercukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Mana Yang Mesti Didahulukan?

Secara kurikulum, pendidikan pesantren (baca: agama) harus didahulukan karena pendidikan agama menanamkan tauhid, hukum dan akhlaq. Manusia hidup di dunia itu tentu harus bermodalkan tauhid yang benar dan kuat, mengetahui hukum-hukum agar tidak sembarang berperilaku dan juga harus bisa menerapkan akhlaqul karimah sebagai modal dasar dalam etika pergaulan sosial yang selaras dengan prinsip ajaran agama sebagai kasih sayang bagi seluruh alam.

Kurikulum di sekolah formal, meski telah mengajarkan pengenalan pendidikan agama dan moral dalam pendidikan kewarganegaraan, tetapi pengajaran yang hanya diberikan selama dua sampai tiga jam saja per pekan, tentu belumlah bisa mencukupi tujuan pendidikan agama sebagai penanaman karakter bagi siswa. Sebab pendidikan agama, tak cukup dengan hanya sebatas pengenalan. Di sinilah perlunya pendidikan madrasah diniyah, sebagai sarana menanamkan pendidikan karakter bagi siswa yang tidak berkesempatan untuk mempelajari nilai-nilai pendidikan pesantren.

Di tengah dua kutub tersebut sebagian pesantren telah menerapkan kurikulum terpadu yang mengajarkan para santrinya untuk menguasai materi pelajaran yang di sekolah formal, sekaligus dididik sebagaimana pesantren pada umumnya. Kombinasi kurikulum pendidikan pesantren dan kurikulum pendidikan formal ini telah berlaku di berbagai pesantren selama puluhan tahun silam. Banyak pesantren, kini telah membuktikan bahwa pelaksanakan pendidikan pesantren dan formal tidaklah harus meninggalkan salah satunya melainkan secara bersama-sama berjalan beriringan. Dengan berjalan beriringan seperti itu, maka akan terbentuklah pribadi yang berpendidikan secara kâffah.

Di antara Yang Menekuni Salah Satu dari Keduanya, Siapakah Yang Lebih Berkompeten?

Pribadi yang benar-benar berkompeten adalah yang benar-benar belajar, paham akan ilmu yang dipelajarinya, lalu mengamalkannya kepada masyarakat. Sebab jika tidak diamalkan, keduanya sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi masyarakat. Jika salah satu dari keduanya memandang sebelah mata, itu karena mereka tidak memaklumi nilai min dan plus yang ada pada keduanya.

Bagaimana Kita Menerapkan Ilmu Formal dan Ilmu Salaf di Tengah Masyarakat?

Kita bisa menerapkan keduanya dengan selalu berupaya berkarya semampunya ? ? dengan didasari tauhid yang benar, hukum, dan akhlaq. Sebagai komunitas pesantren yang hidup di antara dua dimensi ini, kalangan santri tidak perlu ikut memandang sebelah mata pada yang lain. Kita cukup menjaga hal-hal lama yang baik dan masih layak dan menyempurnakannya dengan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik dan layak.

Bagaimana Sebaiknya Sikap Pemerintah Menyikapi Hal Ini?

Pemerintah sebaiknya memandang kedua sistem ini sebagai unsur yang saling menguatkan dalam membangun sumber daya manusia pada yang lebih baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

*) Pengasuh Pesantren Putra-Putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon. Kini ia diamanahi sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat. (Tulisan ini sudah dimodofikasi setelah dikutip dari Majalah Salafuna, Edisi 32 Tahun 2013).

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Kajian, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 30 Januari 2018

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil

Pringsewu, Rohis Tegal - Rohani Islam - Pengurus Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pringsewu KH Munawir berharap koordinasi dan sinergitas program kerja dapat terjalin baik antara BAZNAS dan Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Shadaqah NU atau LAZISNU di kabupaten tersebut.

Hal itu disampaikannya saat memberikan pengarahan pada Rapat Kerja Perdana LAZISNU yang diselenggarakan di aula STMIK Pringsewu, Kamis (11/5).

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil

Sinergitas program dua lembaga tersebut adalah maksimalisasi pengumpulan dan penyaluran amal, shadaqah dan zakat. "Sebagai Mitra BAZNAS, LAZISNU dapat membantu BAZNAS dalam penyaluran sehingga bisa tepat sasaran dan bermanfaat," katanya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia juga berharap LAZISNU Kabupaten Pringsewu untuk terus berkiprah dan berkhidmah memaksimalisasikan lembaga tersebut dengan memperkuat sumber daya manusia dan struktur organisasi sampai pada Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan amil zakat di masjid dan mushala.

"Secara hukum Islam, amil di masjid dan mushala harus mendapatkan legalitas dari pemerintah dalam hal ini BAZNAS atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang diakui oleh BAZNAS. Dan LAZISNU merupakan LAZ yang sudah diakui serta memiliki legalitas untuk membentuk amil zakat sampai dengan masjid dan mushala," terang Gus Nawir, begitu kiai muda ini biasa disapa.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Gus Nawir berharap LAZISNU Kabupaten Pringsewu ikut mensosialisasikan hal tersebut kepada para takmir di masjid dan mushalla untuk melegalkan pengelola zakat mereka sehingga secara syari, mereka sah disebut amil zakat.

Selain legalitas, Gus Nawir juga berharap manajemen administrasi pelaporan dapat dilakukan dengan baik dan transparan untuk meningkatkan tingkat kepercayaan muzakki dan orang yang beramal.

"Pelaporan dari amil zakat di bawah LAZISNU sampai dengan masjid dan mushala harus dilaporkan dan diteruskan sampai dengan LAZISNU pusat," harapnya.

Rapat Kerja perdana LAZISNU yang dilaksanakan sehari itu diikuti seluruh pengurus dan perwakilan dari 9 kecamatan. Pada Raker tersebut dihadirkan beberapa pemateri dari BAZNAS Kabupaten Pringsewu dan PW LAZISNU Provinsi Lampung. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Sholawat, Nahdlatul Ulama, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Santri Berpeluang Bangun Wirausaha Mandiri

Jepara, Rohis Tegal - Rohani Islam. Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Veteran Semarang, H Bambang Triyono dalam Sarasehan bertajuk “Peluang Wirausaha Santri Mandiri” mengungkapkan, santri mempunyai peluang untuk membangun wirausaha mandiri.

Hal itu sejalan dengan qiyamuhu binafsihi, spirit kemandirian santri. Demikian dipaparkannya saat Koordinasi dan Sarasehan SMK Pesantren Se-Jawa Tengah DIY di pesantren Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari, Ahad (7/4). 

Santri Berpeluang Bangun Wirausaha Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Berpeluang Bangun Wirausaha Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Berpeluang Bangun Wirausaha Mandiri

Menurutnya, untuk membangun santri mandiri hanya membutuhkan 1-2 jam. Sehingga otak kanak jelas Bambang perlu diubah paradigma berpikirnya agar 1 ditambah 1 tidak sama dengan 2 melainkan menjadi 1 juta. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Saya yang hendak dilantik PNS Eselon 2 memberanikan diri keluar meski dikaruniai 11 anak. Karenanya menjadi wirausahan harus berani out of box—(keluar dari jalur-red),” jelasnya. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bambang menyatakan, mandiri menurutnya mudah diucapkan tetapi susah dipraktikkan. Meski demikian sebagai Rektor ia telah menjalankan di kampusnya, mahasiswa yang hendak melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) harus berbekal komunikasi sosial yakni punya jiwa wirausaha. 

Pihaknya, saat ini juga sedang menjalin kerjasama dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) se-Indonesia yang rencananya untuk memudahkan pemodalan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berkenan bekerjasama dengan almamaternya. 

Bambang mengakui para Wali sebenarnya mengajarkan untuk menamam. “Para wali itu mengajarkan nandur—(menanam-red), budidaya ikan dan beternak. Makanya saya di kampus mengajak mahasiswa untuk memelihara 5 pot yang isinya tanaman produktif,” terangnya. 

Andaikata, ada 3000 santri dan setiap santri mau memelihara 5 pot berisi tanaman produktif untuk urusan makan paparnya tidak perlu membeli lagi karena sudah memiliki pasokan. Sehingga menuju Indonesia mandiri dan pesantren mandiri akan terwujud. 

Karenanya, menurut Bambang, untuk mengembangkan santri wirausaha perlu banyak enterprenur touch, sentuhan wirausaha. Santri perlu terus diberikan sentuhan wirausaha. Disamping itu, hearing, banyak mendengar tokoh-tokoh wirausaha yang sukses dan memetakan potensi wirausaha. 

Sementara, M Mustaghfirin Amin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud berharap SMK Pesantren menjadi sebuah kebijakan nasional sebab darinya mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lain yakni pendidikan akhlak. 

“Jika trilogi pendidikan mencakup knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan) dan attitute (sikap) maka untuk SMK Pesantren ditambah satu lagi spiritual,” papar lelaki asal Demak. 

Menjelang Indonesia emas, 2030 mendatang Mustaghfirin menyebut mereka adalah investasi negara yang kelak akan menjadi direktur, menteri dan pejabat lain yang sudah kuat karakternya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan, Tokoh Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 23 Januari 2018

PBNU Lepas Kepemilikan di Rokok Tali Jagat

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam

Rokok Tali Jagat yang dulu diidentikkan dengan rokok milik warga NU dengan logo bola dunianya kini sepenuhnya kepemilikannya sudah beralih tangan. PBNU telah menjual 25 persen saham yang dimilikinya pada PR Jagat Raya Persada, salah satu anak perusahaan PT Bentoel.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan bahwa PT Bintang Bola Dunia, produsen rokoh tersebut membutuhkan tambahan modal untuk mendukung bisnisnya. Namun PBNU tidak memiliki modal yang memadai.

“Daripada kita tidak memiliki hak suara yang memadai, kita putuskan untuk menjual kepemilikan yang kita miliki,” tuturnya di PBNU kemarin.

PBNU Lepas Kepemilikan di Rokok Tali Jagat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lepas Kepemilikan di Rokok Tali Jagat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lepas Kepemilikan di Rokok Tali Jagat

Hasil penjualan saham senilai sekitar 1.7 M tersebut dimasukkan ke dalam rekening dana abadi PBNU yang menambah jumlah sebelumnya yang sudah mencapai 5 milyar.

Rokok ini diluncurkan pertama kali ke masyarakat pada 2 Januari 2003 lalu dengan fokus pemasaran warga nahdliyyin dan memberdayakan petani tembakau dan cengkeh yang banyak dimiliki warga NU agar hasil perkebunannya terakomodasi.

Kala itu, Kiai Hasyim menjelaskan pendirian pabrik rokok ini tidak untuk mengajak orang yang tidak merokok untuk menjadi perokok, tapi mengakomodasi nahliyyin yang jadi perokok yang sekaligus nantinya diharapkan bisa membantu pemberdayaan ekonomi warga NU. Dipasaran, rokok sigaret kretek tangan (SKT) ini dijual seharga Rp. 3.800 per bungkus. (mkf)

Rohis Tegal - Rohani Islam



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Sunnah, Pertandingan, Jadwal Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 19 Januari 2018

PMII Unswagati Cirebon Gencar Kaderisasi

Cirebon, Rohis Tegal - Rohani Islam. Salah satu program Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon adalah gencar melakukan kaderisasi di antaranya melalui Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA).

PMII Unswagati Cirebon Gencar Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unswagati Cirebon Gencar Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unswagati Cirebon Gencar Kaderisasi

Untuk itu, PK PMII Unswagati Cirebon mengadakan Mapaba pada Sabtu – Ahad (20-21/12) di Jepun Bistro Jl. Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon. Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 peserta yang berasal dari berbagai fakultas, seperti fakultas Hukum, FKIP, dan Fakultas Kedokteran Unswagati yang rata-rata semester 1 dan 3.

Menurut Nanang Fauzi, salah satu panitia Mapaba, Mapaba merupakan pengenalan sekaligus pelatihan pengkaderan awal di PMII. Ditambahkannya Mapaba adalah pelatihan yang menekankan pada doktrinasi, motivasi pengembangan diri dan rasa memiliki organisasi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Melalui kegiatan ini, peserta Mapaba PMII dituntut untuk berkomitmen dan bertanggung jawab terhadap organisasi yaitu PMII,” terangnya

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hal serupa disampaikan Ketua PK PMII Unswagati Cirebon, Faiz Habibi yang menjelaskan para peserta Mapaba dilatih untuk memiliki pengetahuan dasar ke-PMII-an dan sikap loyalitas yang tinggi terhadap organisasi.

“Dengan pembekalan materi-materi Mapaba seperti Aswaja, NDP, Paradigma PMII, Sejarah PMII, Antropologi kampus dan Keperempuanan/Gender diharapkan peserta Mapaba menjadi anggota PMII yang berideologi dan loyal terhadap organisasi,” ungkap Faiz.

Hal senada disampaikan Ketua PC PMII Cirebon, M. Yazidul Ulum, Unswagati merupakan kampus umum di Cirebon sehingga harus selalu melakukan kerja-kerja kaderisasi. “PK PMII Unswagati merupakan komisariat kampus umum sehingga penguatan kaderisasi harus lebih massif lagi. Mapaba minimal 2 bulan sekali,” tandas Yazid. (Ayub Al Ansori/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan, Pahlawan, Internasional Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 11 Januari 2018

Sambut Hari Guru Nasional, FKIP UNU Sidoarjo Gelar Seminar Nasional

Sidoarjo, Rohis Tegal - Rohani Islam?



Dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univesitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sidoarjo, Jawa Timur menggelar Seminar Nasional yang bertemakan "Bosting up Brain Capacity and Creativity in a Brain New World."

Dekan FKIP Nurul Aini menjelaskan, acara tersebut merupakan hasil kerja sama FKIP UNU Sidoarjo dengan Buzan Center Indonesia. Ade Julius Rizky International Mind and Brain Management Trainer dihadirkan sebagai pemateri.

Sambut Hari Guru Nasional, FKIP UNU Sidoarjo Gelar Seminar Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Guru Nasional, FKIP UNU Sidoarjo Gelar Seminar Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Guru Nasional, FKIP UNU Sidoarjo Gelar Seminar Nasional

Menurut Dekan yang akrab disapa Bu Aan itu materi Mind Mapping (pemetaan berpikir) yang disampaikan Ade Julius Rizky sangat dibutuhkan mahasiswa FKIP. Penggunaan Mind Mapping dipercaya dapat membantu mempermudah penyampaian materi pembelajaran karena memaksimalkan brain management (pengelolaan kemampuan otak). Selain itu, Mental Literacy juga diharapkan menjadi prinsip hidup mahasiswa.

"Metode Mind Mapping yang dipaparkan Bapak Ade Julius menekankan pada optimalisasi Brain Management dan Mental Literacy yang baik untuk diterapkan dalam dunia edukasi," ujar Bu Aan saat ditemui usai acara di Hall Rohmatul Ummah UNU Sidoarjo, Rabu (23/11).

Senada dengan Dekan FKIP, Rektor UNU Sidoarjo Fatkul Anam menambahkan, selain untuk memperingati Hari Guru seminar tersebut bertujuan untuk mempersiapkan dan membekali mahasiswa FKIP UNU agar menjadi lulusan yang unggul dan mampu bersaing di dunia pendidikan. "Seminar ini memberi bekal kepada mahasiswa (FKIP) calon guru agar kelak menjadi lulusan UNU Sidoarjo yang unggul," ungkapnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketua PCNU terpilih, H Mskhun yang hadir di acara itu dalam sambutannya menyampaikan, keberadaan UNU Sidoarjo diharapkan menjadi jawaban bahwa pendidikan NU yang selama ini kurang bisa bersaing berubah menjadi maju karena memiliki berbagai disiplin ilmu dan kompetensi. Hal tersebut dilihat dari jurusan yang ada di UNU Sidoarjo, tidak ada jurusan ilmu agama. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 01 Januari 2018

Habib Luthfi: Nabi itu Laut, Kita Sungai-Sungainya

Brebes, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ra’is ‘am Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah Habib Luthfi bin Ali bin Yahya menjelaskan, kemuliaan Nabi Muhammad SAW seperti laut sedangkan umatnya adalah sungai-sungainya. 

“Kita membutuhkan laut untuk mengalirkan hasrat keimanan dan kecintaan kita ke laut Nabi, agar mendapat syafaatnya. Kadarnya, tergantung besar kecilnya sungai hati kita dan yang bisa mengukur besar kecilnya adalah kita sendiri.” 

Habib Luthfi: Nabi itu Laut, Kita Sungai-Sungainya (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Nabi itu Laut, Kita Sungai-Sungainya (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Nabi itu Laut, Kita Sungai-Sungainya

“Kita bersholawat kepada Nabi SAW adalah seperti sungai mengalirkan air ke laut, mengharap safaatnya,” tutur Habib Luthfi saat mengisi mauidlotul khasanah peringatan Maulid Nabi Masjid Al Munawaroh dan Khaul Kiai Anwar bin Kiai Munawar di Kaligangsa Kulon, Kec Brebes Rabu malam (21/2).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sholawat, lanjutnya, itu sebagai alat untuk membuat besar kecilnya sungai. Kalau memakai peralatannya sekadar cangkul maka sungai yang dihasilkan kecil. Tapi kalau kita menggunakannya dengan alat besar seperti traktor tentu akan terbentuk sungai besar. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Tak perlu ragu, sebab dengan makin besar alat atau sholawat, maka akan besar pula sungai yang dibuat. 

“Jangan takut akan besar kecilnya rejeki, kalau kita memiliki sungai yang besar tentu di dalam sungai itu ada berbagai kandungan mineral rejeki,” paparnya.

Termasuk diciptakannya seisi bumi dan alam sekitarnya, diciptakan Allah SWT untuk membuktikan kalau Nabi Muhammad SAW sangat mulia. Karena seluruhnya bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. 

“Sangat aneh, kalau kemudian ada sekelompok orang mengharam-haramkan peringatan Maulid Nabi,” ujarnya tak habis pikir.

Ditanyakan Habib, pantaskah masuk surga kalau frekuensi ibadah berupa sholat sangat sedikit? Bila diasumsikan umur mencapai 60 tahun, maka sholat yang dijalankan sholat hanya 270 hari.  Dalam sehari, paling banter sholat 5 menit bila dikalikan 5 maka ada 25 menit dalam sehari. 

“Untuk 1 tahun kita hanya 6 hari saja,” kata Habib. 

Akibat minimnya ibadah, maka hanya satu harapan untuk memperoleh dispensasi nilai ibadah berupa safaat dari Nabi Muhammad SAW. 

Sementara Pengasuh Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes KH Subekhan Makmun menegaskan untuk menolak orang-orang yang mau membuat keonaran di bumi Indonesia. wajib melindungi orang-orang maksum, bahkan orang-orang kafirpun dilindungi sepanjang tidak berbuat dzolim. 

Rais Syuriyah PCNU Brebes KH Aminudin Afif menandaskan pentingnya menjaga keamanan dan keimanan yang seimbang. Dia berseloroh kalau ingin aman ya ikut NU. 

“Amanu, Aman ya ikut NU,” tuturnya.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyampaikan terima kasih atas kerja sama semua pihak dalam penyelenggaraan syiar Islam. Adanya persatuan dan kesatuan antara TNI, Polri, Alim Ulama, Tokoh Masyarakat dan Warga menjadikan kehidupan beragama makin kokoh. 

“Mari kuat eratkan sendi-sendi kehidupan beragama kita,”  ajak Bupati.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun 

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 28 Desember 2017

Muslimat NU Mesti Kerja Keras, Tuntas, dan Ikhlas

Kudus, Rohis Tegal - Rohani Islam. Camat Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Hendro Martoyo mengatakan, mengurusi organisasi seperti Muslimat NU tergolong tidak mudah. Tanpa keikhlasan, kita tidak bisa mencapai cita-cita organisasi. Muslimat NU adalah organisasi yang bersifat sosial, bukan semata-mata mencari keuntungan.

Muslimat NU Mesti Kerja Keras, Tuntas, dan Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Mesti Kerja Keras, Tuntas, dan Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Mesti Kerja Keras, Tuntas, dan Ikhlas

“Ada tiga pesan dari saya untuk Muslimat NU Kecamatan Jati maupun Muslimat NU se-Kecamatan ke depan. Mari kita berkerja keras, mari kita berkerja tuntas, dan mari kita berkerja ikhlas, besarkan organisasi yang kita punya, seperti dari tujuan Nahdlatul Ulama (NU) bahwa NKRI harga mati. Semoga Allah SWT memberi berkah bagi kita semua,” ujarnya.

Hendro menyampaikan hal itu dalam acara  pelantikan Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU Kecamatan Jati, Jumat (13/02), di Gedung Muslimat NU Ranting Tanjungkarang, Kecamatan Jati. Menurutnya, pengurus NU harus merupakan pilihan orang-orang yang benar-benar loyal, karena selain mengurus keluarga, ibu-ibu Muslimat mesti meluangkan waktu untuk organisasi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pengurus baru PAC Muslimat NU Jati secara resmi dilantik Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Kudus dan disaksikan ratusan peserta dari Pimpinan Ranting Muslimat NU se-Kecamatan Jati. . Prosesi pengukuhan kemudian dilanjutkan dengan pelantikan 12 Pimpinan Ranting (PR) Muslimat NU di kecamatan setempat.

Kedua belas ketua pimpinan ranting tersebut dipilih di desa atau kelurahan masing-masing. Pimpinan ranting yang dimaksud di antaranya PR Muslimat NU Tanjung Karang, PR Muslimat NU Tumpang Krasak, PR Muslimat NU Ngembal Kulon, PR Muslimat NU Jepang Pakis, PR Muslimat NU Loram Wetan, PR Muslimat NU Loram Kulon, PR Muslimat NU Getas Pejaten,  PR Muslimat NU Jati Wetan, PR Muslimat NU Jati Kulon, PR Muslimat NU Ploso, PR Muslimat NU Pasuruhan Lor, dan PR Muslimat NU Pasuruhan Kidul. (Dedi Hermanto/Mahbib)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan, Amalan Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 23 Desember 2017

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Raja Yordania Abdullah Bin Al-Hussein atau Abdullah II meminta dukungan adanya penyelesaian damai konflik Suriah yang sampai sekarang belum ditemukan titik terangnya. 

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah

Jordania yang berbatasan langsung dengan Suriah dilibatkan oleh PBB untuk merumuskan penyelesaian damai, sudah 600 ribu pengungsi ditampung di Jordania.

“Butuh dukungan global untuk penyelesaian konflik ini,” katanya dalam acara Nahdlatul Ulama Sufi Gathering di Jakarta Convention Center, Rabu (26/2).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia menegaskan, inisiatif perdamaian tersebut, harus didasarkan atas keinginan rakyat Suriah sendiri.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Yordania merupakan negara yang memiliki situs-situs tua peninggalan Kristen dan Islam. Karena itu, negara yang juga berbatasan dengan Israel ini menginisiasi sejumlah upaya perdamaian antara Islam dan Kristen. Ia berharap dialog antar agama yang digagas ini bisa melahirkan perdamaian dan perdamaian akan menghasilkan persahabatan.

Pada kesempatan tersebut, Raja Abdullah II juga mendukung inisiatif perdamaian dua negara antara Palestina dan Israel dengan menggunakan batas wilayah yang ditetapkan pada 1967 dan Yerussalem Timur sebagai ibukota Palestina. 

Menanggapi pernyataan Raja Yordania tersebut, KH Said Aqil Siroj sangat mendukung upaya penyelesaian damai konflik Suriah dan Timur Tengah pada umumnya. Ia menegaskan, NU telah terlibat dalam sejumlah dialog Sunni-Syiah dan penyelesaian konflik yang terjadi di sejumlah negara Muslim. “NU mendorong penyelesaian konflik secara damai,” tegasnya.

Timur Tengah, katanya, bisa belajar dari Indonesia dalam penanganan konflik. Lulusan universitas Ummul Qura Makkah ini menyatakan, di Timur Tengah tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah jika terjadi konflik seperti di Indonesia. 

“Jika ada konflik, bedil yang bicara,” tandasnya. 

Hadir pada acara tersebut sejumlah tokoh nasional seperti Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, M Nuh, para ketua PWNU seluruh Indonesia serta kader NU dari Muslimat NU, Fatayat, Ansor dan lainnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan, Warta, Lomba Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 15 Desember 2017

Alissa Wahid: Gagasan Gus Dur Bersumber dari Ajaran Aswaja

Cirebon, Rohis Tegal - Rohani Islam. Para pecinta Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menamakan diri Gusdurian di wilayah Cirebon, Jawa Barat, menggelar acara pertemuan di Pesantren Majelis Tarbiyah Hidayatul Mubtadiin (MTHM) Ketitang, Cirebon Kamis (7/7) kemarin. ? Pertemuan mengangkat tema “Implementasi Pemikiran Gus Dur dalam Mengawal moral Remaja Indonesia”.

Di hadapan para Gusdurian yang terdiri dari aktifis muda NU dan pesantren, mahasiswa, dan masyarakat Cirebon dan sekitarnya, Koordinator Gusdurian Alissa Qotrunnada Wahid yang hadir dalam acara ini mengatakan, semua gagasan Gus Dur, bersumber dari ajaran Aswaja atau Ahlussunnah wal jama’ah.

Alissa Wahid: Gagasan Gus Dur Bersumber dari Ajaran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid: Gagasan Gus Dur Bersumber dari Ajaran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid: Gagasan Gus Dur Bersumber dari Ajaran Aswaja

“Segala apa yang telah digagas oleh seorang Gus Dur semenjak awalnya, baik tentang keIslaman ala pesantren, kemanusiaan, kesetaraan, pembebasan, keadilan, dan lain-lain sebenarnya hanya mengembangkan dari ? apa yang telah menjadi prinsip pokok dari ajaran Ahlus-sunnah wal Jamaah dan NU,” papar Alissa Qotrunnada Wahid dalam acara temu Gusdurian Cirebon di Pesantren Majelis Tarbiyah Hidayatul Mubtadiin (MTHM) Ketitang, Cirebon, Kamis (7/7).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Remaja dipilih sebagai topik khusus pada diskusi kali ini karena dipandang perlu untuk mengawal ke-Aswaja-an sebagai prinsip kebangsaan ? sejak dini, yakni semenjak ? masa remaja.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Seorang remaja harus disiapkan dengan prinsip-prinsip Aswaja yang kuat sebelum mereka memasuki tataran luar yang lebih beragam, karena setelah ini mereka akan menemui beberapa pilihan corak keagamaan Islam yang sesuai dengan konteks keIndonesiaan, adapula yang sebenarnya kurang pas untuk diterapkan di negeri seberagam Indonesia ini,” tambah puteri sulung Gus Dur ini yang berkesempatan menjadi pembicara pertama.

Hal senada disampaikan Marzuki Wahid dari Fahmina Institute. Menurutnya, penting sekali untuk mengawal para generasi remaja dengan prinsip-prinsip keIndonesiaan yang telah digariskan NU dan Gus Dur.?

“Para remaja harus ditanamkan dengan kuat prinsip-prinsip luhur yang diamanatkan oleh NU, Pesantren, dan Gus Dur sendiri. Sehingga dalam satu sisi mereka akan siap untuk membaca berbagai corak yang terdapat di dunia luar, akan tetapi mereka akan tetap berbangga dan kuat memegang teguh tradisi dan prinsip kepesantrenan," kata Marzuki yang juga pengurus pusat Lakpesdam NU.

Diskusi kebangsaan yang dimoderatori oleh Sobih Adnan (ISIF Cirebon) ini termasuk dalam rangkaian peringatan haul al-marhumin KH Salwa Yasin, KH Asror Hasan, dan KM Adnan Asror serta Imtihan ke-34 Pesantren MTHM Ketitang, Japurabakti, Cirebon.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pesantren, Pertandingan, Quote Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 05 Desember 2017

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan ikhbar atau mengumumkan bahwa awal Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu bertepatan dengan 21 Juli 2012. Hal ini berdasarkan hasil ru’yatul hilal bil fi’li atau observasi hilal yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah dan sejumlah ahli falak NU di sejumlah titik rukyat di Indonesia.

“Tim rukyatul hilal NU pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2012 M / 29 Sya’ban 1433 H telah melakukan ru’yatul hilal bil fi’li di beberapa lokasi rukyat yang telah ditentukan dan tidak berhasil melihat hilal,” demikian dalam ikhbar PBNU.

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu

Karena hilal tidak terlihat maka umur bulan Sya’ban 1433 H adalah 30 hari (istikmal). “Atas dasar istikmal dan sesuai dengan pendapat al-madzahib arba’ah, maka dengan ini PBNU mengihbarkan bahwa awal bulan Ramadhan jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012.”

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam surat ikhbar yang ditandatangani KH Ubaidillah Syatori (rais syuriyah), KH Malik Madani (katib aam), KH Said Aqil Siroj (ketua umum tanfidziyah) dan H Marsudi Syuhud (Sekjen) PBNU juga mengimbau umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1433 H dengan penuh keimanan dan keyakinan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Mari menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum kerohanian untuk mensucikan diri dengan meningkatkan ketawqaan dan memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, beribadah dengan penuh kekhusyu’an dan berbagai aktifitas sosial yang bermanfaat,” demikian ikhbar PBNU.

Ikhbar PBNU ini dikeluarkan setelah sidang itsbat atau penetapan awal Ramadhan 1433 H yang dipimpin oleh Menteri Agama Suryadharma Ali di Kantor Kementerian Agama Jakarta telah menetapkan atau itsbat jatuhnya awal Ramadhan.

“Sesuai laporan dan pencermatan telah berkesimpulan bahwa hilal tidak bisa dilihat oleh karenanya 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012 M,” demikian disampaikan Menteri Agama.

Pada saat berita ini diturunkan, sidang itsbat masih sedang mendengarkan berbagai pendapat dari para peserta sidang dari berbagai ormas Islam dan para ahli falak dan astronomi.

Penulis: A. Khoirul Anam

 

 





Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Khutbah, Pertandingan, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 26 November 2017

Kemanunggalan Kiai, Santri, dan Pesantren

Oleh Aswab Mahasin

Coba Anda ingat, Kapan terakhir kali Anda mencium tangan Kiai? Kapan terkahir kali Anda menginjakkan kaki di Pesantren? Dan kapan terkahir kali Anda merasa bahwa diri Anda adalah santri? Kiai, Pesantren, dan Santri adalah tiga dimensi yang tidak bisa dipisahkan. Pesantren sebagai rumah peradaban, sedangkan kiai dan santri adalah pengusung peradaban. Hal tersebutmerupakan satu kesatuan yang tunggal (kepaduan yang ideal).

“Kemanunggalan” ketiga pranata kebudayaan/agama tersebut mempunyai unsur geneologis, yakni; kiai sebelumnya adalah santri, dan santri ialah orang yang tinggal dan menetap di pesantren. Begitupun kiai, mempunyai santri dan pesantren, dan samahalnya dengan santri, tinggal di pesantren dan diasuh oleh Kiai.

Kemanunggalan Kiai, Santri, dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemanunggalan Kiai, Santri, dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemanunggalan Kiai, Santri, dan Pesantren

Namun, dalam realitasnya ada kiai tanpa pesantren, disebut “kiai langgar atau kiai masjid” dan ada santri yang tidak mesantren, disebut “santri kalong”. Apakah proses “kemanunggalan” itu masih terjadi? Jawabannya, masih—karena yang diajarkan oleh kiai langgar/masjid adalah pengajaran yang diajarkan di pesantren, tidak ada keterpisahan dari mulai model mengajar, bahan ajar, dan tradisi komunikasi. 

Jika diperluas lagi, maksud dari “kemanunggalan kiai, santri, dan pesantren” adalah seseorang yang selalu memegang prinsip kemandirian, kemanusiaan, kebersamaan, kesatuan, etos kerja, nasionalisme, dan keIslaman. Dengan itu, adanya kesatuan yang menginternal kedalam dirinya, ia mengikuti nasihat kiai dan ia berprilaku seperti santri. Nilai-nilai itulah yang selalu diajarkan oleh kiai, selalu diterima oleh santri, dan selalu hadir dalam lingkungan pesantren.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sekarang coba kita lihat bagaimana para ahli menguraikan makna dari kiai, santri, dan pesantren, Secara etimologis, menurut Ahmad Adaby Darban “kiai” berasal dari bahasa jawa kuno “kiya-kiya”, artinya orang yang dihormati. Sedangkan, Menurut Manfred Ziemek,kiai adalah pendiri dan pemimpin sebuah pesantren sebagai “muslim terpelajar” telah membaktikan hidupnya “demi Allah” serta menyebarluaskan dan mendalami ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam. Dalam pemikiran masyarakat, kiai diidentikan dengan ulama sebagai pewaris para Nabi (al-‘ulama waratsah al-anbiya). (Moch. Eksan, Kiai Kelana: Biografi Kiai Muchit Muzadi, 2000.Hlm. 2-4)

Santri menurut Nurcholis Madjid ada dua pengertian, pertama, berasal dari bahasa Sangsekerta yaitu “sastri” berarti orang yang melek huruf, dan kedua, berasal dari bahasa jawa “cantrik” seorang yang mengikuti kiai dimanapun untuk menguasai suatu keahlian sendiri. Berbeda dengan KH. Sahal Mahfudh, santri dimaknai sebagai bahasa Arab, dari kata santaro yang mempunyai jamak (plural) sanaatiir (beberapa santri). Dibalik kata santri tersebut mempunyai 4 huruf arab (sin, nun, ta’, ra’), oleh KH Abdullah Dimyathy dari Pandeglang, Banten mengimplementasikan kata santri dari 4 fungsi manusia. Adapun 4 huruf tersebut, yaitu; Pertama, “Sin” yang artinya “satrul al-aurah” (menutup aurat), Kedua, “Nun” yang berarti “na’ibul ulama” (wakil dari ulama), ketiga, “Ta” yang artinya “tarku al-Ma’shi” (meninggalkan kemaksiatan), dan keempat, “Ra” yang berarti “raisul ummah” (pemimpin umat). (Buku Kumpulan Tanya Jawab dan Diskusi Keagamaan: Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam, PISS-KTB, 2013. Hlm. 1626-1628)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sedangkan Pesantren, menurut pengertian dasar ialah tempat belajar para santri. Sedangkan “pondok” berasal dari bahasa arab “funduq” yang artinya asrama. Secara etimologi pesantren berasal dari kata “santri” yang mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal santri. (Zamakhsyari Dhofir: 1982: 18)

Dari berbagai paparan tersebut, menggambarkan, kuatnya keterikatan antara Kiai, Santri, dan Pesantren.Pesantren didirikan kiai sebagai transmisi nilai-nilai keIslaman. Dalam perkembangannya,proses transmisi keIslaman di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kemanunggalan itu.

Pesantren dan transmisi nilai keislaman Indonesia

Menjadi penting terlebih dulu mengetahui keterikatan sejarah antara kajian Islam di Indonesia dengan ulama Timur Tengah, seperti Mekah, Madinah, dan Kairo. Martin van Bruinessen menuliskan, “Teks yang paling populer diseluruh Nusantara adalah karya yang dikenal sebagai Barzanji di tulis oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji. Dinamakan “barzanji” karena merujuk pada nama desa pengarangnya yang terletak di Barzanjiyah kawasan Akrad (kurdistan). Selain itu teks-teks arab yang paling banyak dijual di toko buku adalah Tanwirul al-Qulub, ditulis oleh Muhammad Amin Al-Kurdi.”

Hal tersebut menggambarkan ada proses transmisi epistimologi. Proses itu sebenarnya tidak hanya melalui produk intelektualitas, melainkan banyak juga ulama-ulama Nusantara pergi ke sana untuk menuntut ilmu, seperti ‘Abd al-Rauf Singkel menghabiskan tidak kurang dari 19 tahun waktunya di Makkah dan Madinah, ada juga Syekh Yusuf Makasar, begitupun dengan KH Muhammad Hasyim Asy’ari. 

Walaupun Indonesia memiliki kedekatakan hubungan intelektual dengan tradisi keagamaan di Arab, terutama Mekkah dan Madinah. Tidak serta-merta Islam di Indonesia lantas dianggap sebagai replika Islam Arab. Proses masuknya Islam di Indonesia sangat dinamis, unik, dan kompleks, menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya yang berkembang saat itu. 

Peristiwa tersebut menjadi sejarah tidak mandek, khususnya di pesantren—hingga sekarang terusmengkaji karya-karya ulama Timur Tengah, kajian yang diusung tentu tidak berafiliasi dengan kitab-kitab yang telah direduksi atau ditambahkan isinya olehkelompok tertentu, melainkan kitab-kitab yang tidak bertentangan dengan ide-ide ahlussunnah wal jamaah (Aswaja).

Dengan demikian, karakter Islam di Indonesia yang berkembang sekarang, tidak lepas dari matriks kiai, santri dan pesantren, sebagai penerjemah dan wadah wacana keIslaman. Proses transmisi keIslaman ini berlangsung di pesantren yang tampil dengan model paradigma pengajaran yang unik. Melalui kajian kitab kuning, didukung dengan model penulisan “arab jawa pegon” sebagai sarana untuk memahami teks-teks kitab kuning yang berbahasa Arab. Hal ini tidak ditemukan dalam tradisi Islam di Timur Tengah. Tradisi keIslaman di Indonesia berkembang melalui karakternya sendiri dengan tidak meninggalkan identitas Islam yang terlahir dengan “huruf Arab”.

Selain itu, disemua pesantren yang berbasis klasik ataupun modern, selalu ada pengajaran Nahwu dan Shorof (untuk memahami teks Arab). Dan pesantren menganggap belajar kaidah-kadaiah bahasa Arab tersebut sebagai alat untuk memahami teks-teks Arab, dengan tujuan agar para santri mampu mempelajari wacana keIslaman yang begitu luas.

Seiring dengan proses transformasi dan modernisasi di pesantren, dari mulai masa kolonial, sampai terlahirnya Madrasah Diniah, dan kemudian masuk dalam dunia global. Pada gilirannya pesantren tetap menjadi standar wajah keIslaman Indonesia, karena pesantren turut membentuk tradisi kajian Islam di Indonesia secara keseluruhan.

 

Pembentukan tersebut oleh pesantren melalui jalur pendidikan, yang terus menerus dilakukan pesantren, dari dulu sebelum nama Indonesia ada sampai sekarang. Ahmad Baso dalam Pesantren Studies 2a: Buku II: Kosmopolitanisme Peradaban Kaum Santri di Masa Kolonial berkomentar, “pendidikan pesantren adalah pendidikan seumur hidup, seumur dengan kehidupan tradisi keagamaan Aswaja dan juga sepanjang usia kehidupan nusa-bangsa ini. 

Oleh karena itu, orientasinya adalah untuk menjaga keselamatan dan kesinambungan kehidupan berbangsa itu sendiri. Dengan kata lain, seberapa panjang usia kehidupan kebagsaan ini, demikian pula usia tradisi keulamaan Aswaja. Dan pendidikan pesantren adalah bentangan garis lurus yang menjangkau dan menghubungkan kedua sisi kehidupan tersebut hingga penghujung akhir hayatnya.”

Cuplikan dari Ahmad Baso tersebut menjelaskan bahwa kemanungggalan hakikatnya tidak hanya ada pada kiai, santri, dan pesantren saja, melainkan bangsa ini sudah menjadi satu kesatuan (termanunggalkan) bersama pendidikan pesantren dan tradisi pesantren itu sendiri.

Indonesia tidak akan bisa melepaskan diri dari pesantren, dari masa ke masa dan dari presiden pertama sampai presiden sekarang, pesantren selalu mengiringi sejarah Indonesia. Entah itu dikebiri pada saat zaman Orba, di mana para kiai hanya mendapatkan jatah doa, dan pada masa Gus Dur, seorang kiai menjadi presiden, dan di era sekarang, pesantren, kiai dan santri menjadi “rebutan” aktivitas politik praktis, dengan tujuan mendapatkan legitimasi dukungan seorang kiai.

Pesantren dan kemanunggalan produktif

Beranjak dari itu semua, (saya akan meloncat ke dalam kajian yang lebih kompleks dan nyata)setelah tadi kita berlama-lamaan memetakan pesantren dan membincangkan pesantren sebagai transmisi nilai-nilai keIslaman Indonesia, sesunggugnya belum lengkap jika kita tidak mengkaji objek dari nilai keIsalaman itu sendiri, yaitu realitas yang menanti di depan mata para santi.

Dengan demikian, yang wajib kita kaji sekarang ini, poinnya adalah kemanunggalan terkesan belum sempurna pada pendidikan pesantren—di mana tidak sedikit pesantren menutup diri dari masyarakat dan menutup diri dari realitas kehidupan. Pesantren menurut Gus Dur awalnya bukan hanya lembaga pendidikan agama semata, tapi lembaga pendidikan yang bercakrawala dari berbagai penjuru pengetahuan, teoritis maupun praksis. Kesan sekarang adalah pesantren seakan-akan difungsikan sebagai pabrik “ulama”. Padahal pesantren spektrumnya lebih dari itu. Jika demikian, akan terjadi penyempitan dari fungsi pesantren itu sendiri. 

Menurut Gus Dur, terjadi penyempitan kriterium dengan sendirinya bergerak menuju lapangan bagi orang yang akan dikirim ke pesantren yaitu orang-orang yang merasa dirinya santri dan memiliki komitmen kepada Islam sebagai ideologi. Dengan mempertahankan kriterium semacam ini maka bisa dilihat bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan di mana tingkat droup-out cukup besar. (Abdurrahman Wahid, Prisma Pemikiran Gus Dur, 1999. hlm. 111-116). Kemanunggalan ini oleh lembaga pendidikan pesantren seharusnya dibarengi juga dengan produktifitas santri. 

Menurut Gus Dur dalam tulisannya yang bertajuk Pesantren, Penddikan Elitis atau Populis?, menuliskan, “Pesantren dulu sebagai pembanding dari sekolah keraton yang hanya menampung golongan elitis saja, sekarang nampaknya pesantren telah berubah, ketika berbicara pesantren kesan yang muncul adalah sebagai lembaga keagamaan. Dulunya, pesantren menampung semua lapisan masyarakat (kemanunggalan dengan semua orang) yang tidak ditampung dalam lembaga pendidikan keraton. Karena itu dimasa awalnya pesantren sebagai lembaga pendidikan adalah sebuah lembaga pendidikan umum; di dalamnya tidak hanya diajarkan agama. Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini tampak kecenderungan untuk menciptkan pesantren sebagai lembaga pencetakan para ulama.” (Abdurrahman Wahid, Prisma Pemikiran Gus Dur, 1999. Hlm. 111-116)

Saya sepakat, bukannya hal yang buruk, dalam pesantren membuat spesialisasi yang tidak hanya fokus pada bidang keagamaan. Fakta dilapangan harus kita akui, tidak semua santri ahli dalam ilmu agama, tidak semua santri jadi pendakwah, dan tidak semua santri jadi ulama. Kalau saja pesantren hanya menutut santrinya memiliki kecerdasan dan kepintaran dalam pengetahuan keagamaan, tidak ada bedanya pesantren dengan pendidikan umum lainnya, hanya mengedepankan sisi kognitif belaka, bedanya hanya dalam ranah kajian keagamaan semata.

Menurut Gus Dur, “sudah hebat sekali dari total 10.000 santri jika lulusannya 50% ahli agama.” Dalam realitasnya itu susah dilakukan, kalau kita lihat lebih jauh lagi alumni pesantren, tidak sedikit mereka yang kebingungan setelah keluar dari pesantren, tidak sedikit yang berprofesi serabutan, tidak sedikit yang berprofesi sebagai tukang ojek, dan sejenisnya. Kalaupun diantara alumni pesantrentersebut ada yang sukses menjadi pengusaha, pejabat, atau pun pemikir, jumlahnya lebih sedikit dari yang biasa-biasa saja itu. 

“Kemangunggalan” pesantren seharusnya dimaknai sebagai institusi yang terbuka, menerima segala hal, tidak ada yang keliru jika pesantren dalam salah satu kajiannya menekankan pendidikan kewirausahaan, menekankan pendidikan pertanian, menekankan pendidikan arsitektur, menekanakan pendidikan peternakan, dan sebagainya. Kata Gus Dur, dalam hal ini bukanlah pelajaran agama yang diberikan di sana, tetapi ilmu untuk menyadari pentingnya arti agama.

Di sini pesantren harus membangun kerangka yang ideal. Tidak bisa dipungkiri juga, sekarang sudah ada beberapa pesantren mencoba merubah dirinya, siap memberikan terobosan-terobosan untukmenjawabcita-cita santri dan masyarakat. Dengan ini, makna “kemanunggalan/kepaduan” akan menjadi utuh dan produktif, tanpa tabir yang menghalangi santri dan pesantren berkembang.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Amalan, Pertandingan, Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 14 November 2017

Prof H Iskandar Idy Terpilih Sebagai Ketua NU Sulsel

Makassar,Rohis Tegal - Rohani Islam. Proses pemilihan Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Sulawesi Selatan berlangsung cukup menegangkan pada 31 Maret lalu.

Prof H Iskandar Idy Terpilih Sebagai Ketua NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof H Iskandar Idy Terpilih Sebagai Ketua NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof H Iskandar Idy Terpilih Sebagai Ketua NU Sulsel

Terdapat tiga nama pada tahap pencalonan yakni Dr H Abdul Kadir Ahmad dan Dr H Ruslan dan Prof H. Iskandar Idy setelah.

Dalam tata tertib tersebut sudah diatur, bahwa calon yang lolos pada tahap selanjutnya harus mengantongi 5 (lima) suara. Adapun yang lolos pada tahap selanjutnya yakni Iskandar Idy dan Abdul Kadir Ahmad, sedangkan Ruslan tidak lolos pada tahap selanjutnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebelum melanjutkan proses pemilihan calon Ketua Tanfidziah PWNU Sulsel, terlebih dulu Pimpinan Sidang yang diwakili dari PBNU Prof Dr H Maksum Mahfudz dan H Abdul Munim DZ meminta persetujuan dari Rais Syuriyah PWNU Sulsel Dr AG HM. Sanusi Baco Lc, karena dalam tatib Konferwil XII telah disepakati setiap calon ketua tanfidziah mesti mendapat restu dari rais syuriyah terpilih.

Selanjutnya diadakan pemaparan visi misi, dari kedua calon ketua tanfidziah. Iskandar menyatakan kesanggupannya membangun NU Sulsel baik secara jam’iyyah dan jama’ah serta akan membangun NU secara fisik yakni memperbaiki infrastruktur kepemilikan NU Sulsel seperti kantor GPK PWNU Sulsel dan lain-lain.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Setelah diadakan pemilihan Ketua Tanfidziyah. Iskandar Idy memperoleh 13 suara dan Abdul Kadir Ahmad 12 suara. Seketika forum menggema dengan sholawat badar dan tampak Abdul Kadir Ahmad memeluk Iskandar Idy, peserta Konferwil NU pun bersholawat. 

Setelah diadakannya pemilihan Ketua Tanfidziah, penutupan konferwil XII digelar, tampak hadir Wakil Bupati Kab Pangkep yang juga kader IPNU, Rais Syuriyah NU Sulsel, Ketua Tanfidziyah terpilih, Direktur Pesantren Darul Mukhlisin Padanglampe Pangkep, Rektor UMI.

Dalam sambutan Ketua Tanfidziah terpilih, menyatakan akan merangkul semua kekuatan baik dari akedemisi maupun professional terlebih para sesepuh NU. 

“Sekarang tidak ada lagi riak-riak kegembiraan dan kekecewaan, tetapi yang ada mari sama-sama membangun NU ke depan yang jauh lebih baik,” katanya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Andy Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hikmah, Tegal, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 12 November 2017

Sastra Berkualitas Tak Harus Sesuai Selera Pasar

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Karya sastra yang berkualitas tidak harus sesuai dengan selera pasar. Karya yang sesuai dengan kaidah kesusastraeraan, katakanlah yang memperkaya peradaban belum tentu diminati oleh pihak penerbit profoesional karena tidak banyak menarik keuntungan.

”Kalau dihitung dari sisi jumlah karya-karya besar Pak Pram (Pramodya Ananta Toer: Red) tidak seberapa dibanding dengan karya-karya populer yang diminati oleh pasar dan digandrungi para pembaca,” kata Sastrawan Ahmad Tohari di sela sela acara Malam Anugerah Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006 di Taman Islail Marzuki (TIM) Jakarta, Jum’at (9/3) malam.

Ahmad Tohari bertindak sebagai dewan juri Sayembara Novel DKJ 2006. Dua dewan juri lainnya adalah Apsanti Jokosujatno, dosen sastra Perancis di Universitas Indonesia, dan Bambang Sugiharto, dosen Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung.

Sastra Berkualitas Tak Harus Sesuai Selera Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastra Berkualitas Tak Harus Sesuai Selera Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastra Berkualitas Tak Harus Sesuai Selera Pasar

Sayembara Novel DKJ 2006 yang diikuti oleh 249 peserta kali ini dimenangkan oleh Mashuri (31) dengan karya berjudul ”Hubbu” yang berkisah seputar”generasi ketiga” dalam tradisi pesantren. Mashuri adalah jebolan dua Pondok Pesantren yakni Pesantren Salafiyah Wanar dan Pesantren Ta’sisur Taqwa, keduanya berada si Lamongan, Jawa Timur. Kini Mashuri sedang aktif mengisi rubrik Ngaji Sastra di harian Duta Masyarakat.

”Dewan juri memutuskan karena Hubbu itu sangat utuh dan padu ceritannya. Sebenarnya yang saya unggulkan bukan itu tapi Buku tanpa Kisah yang berkisah seputar pesantren juga, tentang pendobrakan dinding pesantren,” kata Ahmat Tohari sembari tersenyum.

”Sebenarnya hampir semua pantas terbit, pantas disuguhkan ke masyarakat. Maka saya sarankan para peserta yang tidak menang untuk tetap mengajukan karyanya ke penerbit. Anggap saja penilaian kali ini hanyalah dari satu sudut pandang mata saja, sudut mata yang lain semisal sudut mata Gramedia dan lain-lain masih ada. Mereka inilah yang lebih tahu selera pasar,” tambah Tohari. (nam)

Rohis Tegal - Rohani Islam



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 06 November 2017

Haul Mbah Wahab, Berbagai Kegiatan Siap Digelar

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sejumlah acara akan diselenggarakan jelang haul KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab. Dari mulai sarasehan, wisuda Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah, semaan al-Qur’an, parade Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari), pengajian umum, serta pemberian anugerah kepada sejumlah pegiat pendidikan, penggerak organisasi NU dan pelaku bisnis.

Hal ini disampaikan Mujtahidur Ridho mewakili keluarga dan panitia haul KH Abdul Wahab Hasbullah kepada NU Onlne, Ahad (6/7) malam. “Sejumlah kegiatan itu sudah kami persiapan dengan matang,” kata Gus Edo, sapaan akrabnya.

Haul Mbah Wahab, Berbagai Kegiatan Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Wahab, Berbagai Kegiatan Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Wahab, Berbagai Kegiatan Siap Digelar

Mantan Ketua Umum PP IPNU 2003-2006 ini menadaskan bahwa ada sejumlah kegiatan yang dipertahankan dari terselenggaranya haul sebelumnya. “Penampilan Ishari dan sarasehan sudah ajek kami selenggarakan dari tahun ke tahun,” ungkapnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Untuk sarasehan rencananya akan melibatkan berbagai badan otonom NU di Jombang, seperti Fatayat NU, Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Pelajar NU (IPNU), dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU). “Kita ingin para generasi muda NU terlibat aktif dalam kegiatan sarasehan tersebut,” terangnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Yang juga agak berbeda adalah diselenggarakannya wisuda kampus Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah atau Unwaha Tambakberas, Jombang. “Ini menjadi wisuda pertama dari Unwaha setelah berubah dari sekolah tinggi menjadi universitas,” tandasnya.

Sedangkan hal baru yang belum pernah diselenggarakan adalah akan diberikannya penghargaan kepada lembaga dan orang yang memiliki komitmen kuat dalam sejumlah kategori. “Ini adalah terobosan pertama dalam tradisi haul Mbah Wahab yang belum pernah kami lakukan pada haul sebelumnya,” kata cucu menantu dari Mbah Wahab ini. (Syaifullah/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 29 Oktober 2017

Terpilih Secara Aklamasi, Deni Ahmad Haidar Pimpin GP Ansor Jawa Barat

Sumedang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Deni Ahmad Haidar terpilih sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat periode 2016-2020 pada Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-XVI di Aula Islamic Center, Sumedang Jawa Barat, Rabu (25/5).

Sidang pemilihan ketua dipimpin oleh pengurus Pimpinan Pusat GP Ansor, Syarif Munawi. Dalam persidangan yang relatif singkat itu, pimpinan sidang menawarkan mekanisme pemilihan ketua secara aklamasi atau musyawarah mufakat. Usulan tersebut kemudian disetuji oleh semua peserta sidang.?

Terpilih Secara Aklamasi, Deni Ahmad Haidar Pimpin GP Ansor Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpilih Secara Aklamasi, Deni Ahmad Haidar Pimpin GP Ansor Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpilih Secara Aklamasi, Deni Ahmad Haidar Pimpin GP Ansor Jawa Barat

Ketua GP Ansor Kabupaten Cirebon, Fariz Elt Haque yang ditunjuk sebagai juru bicara dari hasil musyawarah para pimpinan cabang mengatakan, Deni Ahmad Haidar sebagai ketua PW GP Ansor Jawa Barat.

"Dari hasil musyawarah yang yang begitu singkat, saya dan para ketua PC GP Ansor se-Jawa Barat memilih sahabat Deni Ahmad Haidar sebagai ketua PW GP Ansor Jabar. Walaupun musyawarah begitu singkat, tapi kami yakin musyawarah memilih sahabat Deni tersebut sudah tepat," ungkapnya.

Deni yang duduk di barisan depan langsung dimintai klarifikasi atas kesediannya menjadi ketua PW GP Ansor Jawa Barat. Dalam karifikasi tersebut, Deni menyatakan bersedia menjadi ketua GP Ansor Jawa Barat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Mudah-mudahan para ketua PC GP Ansor itu tidak salah memilih. Dan mudah mudahan saya bukan pilihan salah," kata Deni saat memberikan sambutan.

Deni berharap kepada tim formatur agar dapat memilih pengurus periode 2016-2020 yang siap bekerja.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Saya ingin, tim formatur itu memilih pengurus wilayah yang siap bekerja dan siap bekerja sama untuk priode kedepan," tambah Deni.

"Memang tangan saya pendek, tapi bila disatukan dengan tangan sahabat semua Ansor, maka akan menggapai ujung langit. Langkah kaki saya pendek, namun bila menyatu dengan langkah kaki sahabat Ansor maka akan melangkah ke ujung dunia. Dan mungkin bila saya tertawa sendiri saya seperti orang gila. Namun bila kita tertawa bersama berarti kita bahagia," tutup Deni. (Nahru/Ayi Abdul Kohar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Tegal, Nahdlatul Ulama, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 28 Oktober 2017

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Longsor Jateng

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyerukan kepada warga NU untuk melakukan shalat ghaib kepada korban musibah longsor yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah.

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Longsor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Longsor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Longsor Jateng

Seruan tersebut disampaikan melalui surat edaran yang dikeluarkan PBNU dengan nomor 675/C.1.34/06/2016. Surat Edaran ditujukan kepada PWNU, PCNU, Pengurus Lembaga Nahdlatul Ulama, Pengurus Badan Otonom NU di seluruh daerah.

“PBNU dengan ini menginstruksikan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia agar menyelenggarakan Shalat Ghaib dan Tahlilan ditujukkan untuk korban yang meninggal dalam bencana tersebut,” ungkap edaran yang dikeluarkan 20 Juni 2016 tersebut.? ?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Edaran yang ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini itu menyebut secara khusus daerah-daerah yang terkenal bencana longsor yang terjadi di Purworejo, Kebumen, Banyumas, Solo, Rembang Banjarnegara, Kendal, Sragen, Purbalingga, Sukoharjo, Wonosobo, Pemalang, Klaten, Magelang, Wonogiri, Cilacap, dan Karangnyar. (Abdullah Alawi)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Berita, Pertandingan, Kyai Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 22 Oktober 2017

Terpilih Ketua GP Ansor Wonoayu, Choirudin Siap Bangun Kemandirian

Sidoarjo, Rohis Tegal - Rohani Islam

Terpilih sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur masa khidmah 2017-2019, Choirudin Abdillah, akan menjalankan amanah yang diberikan peserta konferancab kepadanya, yaitu membangun badan usaha mandiri.

Terpilih Ketua GP Ansor Wonoayu, Choirudin Siap Bangun Kemandirian (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpilih Ketua GP Ansor Wonoayu, Choirudin Siap Bangun Kemandirian (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpilih Ketua GP Ansor Wonoayu, Choirudin Siap Bangun Kemandirian

Tak hanya itu, lanjut Choirudin, pihaknya akan mengakomodir secara keseluruhan kader-kader potensial di Ansor serta melaksanakan PKD bagi anggota ranting maupun PAC yang belum menjalankan.

"Saya berharap akan terbentuk kultur Nahdliyin di Wonoayu yang saling berpadu. Berpadu dalam membangun negeri," tegasnya di sela konferancab GP Ansor Wonoayu di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Candinegoro, Wonoayu, Sidoarjo, Ahad (19/2).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Konferancab GP Ansor Wonoayu, yang digelar di Pesantren Bahrul Ulum, telah melalui proses akreditasi ranting yang sebelumnya dilakukan oleh PC GP Ansor Sidoarjo.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Proses pelaksanaan konferancab GP Ansor sebagaimana tertuang dalam Peraturan Organisasi (PO) menyebutkan bahwa, sebelum konferensi dilaksanakan harus melalui tahapan-tahapan diantaranya proses akreditasi ranting.

Akreditasi tersebut menitikberatkan pada SK ranting, SK Rijalul Ansor, SK Banser, SK LKMS, biodata Pengurus, data sigap seluruh anggota, sertifikat PKD seluruh anggota, foto kegiatan sosial, foto kegiatan Rijalul Ansor dan daftar hadir kegiatan. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan, Khutbah Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 29 September 2017

50 Pelajar Purworejo Ikuti Diklatama IPNU-IPPNU

Purworejo, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sekitar  50 pelajar Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mengikuti Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama), Corp Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri yang digelar IPNU dan IPPNU. Kegiatan berlangsung di Komplek SD Islam Terpadu Desa Majir, Kecamatan Kutoarjo, pada Jumat-Ahad (10-12/5) lalu.

Para pelajar tersebut merupakan delegasi dari seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU se-Kabupaten Purworejo.

50 Pelajar Purworejo Ikuti Diklatama IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
50 Pelajar Purworejo Ikuti Diklatama IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

50 Pelajar Purworejo Ikuti Diklatama IPNU-IPPNU

Kegiatan tersebut dibuka Wakil Ketua PC NU Kabupaten Purworejo, K. Ali Subhan. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kegiatan tersebut, karena merupakan salah satu gerbang pengkaderan kader-kader NU, “Melalui kegiatan ini kader IPNU-IPPNU harus bertambah nasionalis, cinta lingkungan, dan memiliki kepekaan sosial tinggi,” katanya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Komandan Pendidikan Diklatama, Jumadhi menuturkan, kegiatan ini merupakan yang kedua kali. Panitia menyiapakan beberapa materi, yaitu PBB, SAR, Strategi Mapping, Bela Diri, Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara, Manajemen Perjalanan, Pelestarian Alam dan Kelestarian Lingkungan, Basic Ropes dan Medical First Responder Basic.

Jumadhi menambahkan, untuk memaksimalkan penyampaian materi, diundang pemateri berpengalaman, seperti Kodim 0708, Polres Purworejo, Dinas Perhutani, PMI, SAR, Pagar Nusa, Banser, “Agar benar-benar terbentuk CBP dan KPP yang disiplin, tangguh dan bermental,” tuturnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di akhir Diklatama bertema “Membentuk Kader yang Berkarakter Kebangsaan, Peduli Lingkungan dan Berjiwa Sosial”, diisi Out Bond yang rekreatif dan edukatif  untuk para peserta.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Purworejo, Ahmad Naufa mengatakan, tindak lanjut dari Diklatama, akan dibentuk Dewan Komando Cabang (DKC) CBP dan KPP. Mereka akan melakukan kegiatan bersama IPNU dan IPPNU Purworejo atau dengan  pemerintah, “Misalnya dalam kegiatan relawan SAR Badan Penanggulangan Bencana Daerah Purworejo,” katanya.

Ahmad berpendapat, sebagai calon penerus generasi bangsa, kader-kader IPNU harus memiliki wawasan luas tentang kebangsaan dan jangan sampai tergerus berbagai penyimpangan yang bersifat patologis yang dapat merusak moral dan ideologi para pemuda.

Hadir pada pembukaan Diklatama dua badan semiotonom IPNU dan IPPNU tersebut, Ketua MWC NU Kecamatan Kutoarjo, PC IPNU-IPPNU Kabupaten Purworejo, dan Perangkat Desa Majir, Karang Taruna Desa Majir.

Redaktur        : Abdullah Alawi

Kontributor    : Isnainissholiah

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan, IMNU, Amalan Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock