Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2018

Produktivitas Karya Tulis Pesantren Menurun

Bogor, Rohis Tegal - Rohani Islam. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Prof Abdurrahman Mas’ud mengatakan, akhir-akhir ini dunia tulis-menulis di kalangan pesantren cenderung menurun. Para kiai di pesantren jarang menulis buku atau karya tulis lainnya. Ini jauh berbeda dengan kondisi para ulama pada sekitar abad ke-19.

“Ketika itu, karya-karya tulis para ulama banyak diterbitkan di Saudi dan Turki, selain di Indonesia sendiri. Karya ulama zaman dulu yang monumental antara lain Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil atau Tafsir Marah Labid (Syekh Nawawi al-Bantani) dan Manhaj Zhawi an Nazhar (Syekh Mahfudz al-Tirmasi), sebuah tafsir atas Manzhumat ‘Ilm al Atsar karya Abdurrahman al-Suyuthi,” paparnya.

Produktivitas Karya Tulis Pesantren Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)
Produktivitas Karya Tulis Pesantren Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)

Produktivitas Karya Tulis Pesantren Menurun

Mas’ud menyampaikan hal itu saat memberi pengarahan dalam seminar “Hasil Pengembangan Karya Tulis Ilmiah Santri” di Hotel M-One Jalan Raya Jakarta-Bogor Km 49,5 Cimandala Sukaraja Bogor, Kamis (20/11), yang digelar Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Puspenda) Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mas’ud menambahkan, sekarang ini belum ada lagi penulis produktif dari kalangan ulama setelah Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh. “Yang menarik, adalah kitab Thariqatul Hushul ala Ghayatil Wushul karya Kiai Sahal Mahfudh, sebuah penjelasan dari kitab Ghoyatul Wushul karya Syekh Abu Zakariya al-Anshori,” tegasnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurutnya, pemeliharaan tradisi keilmuan meliputi menulis dan membaca kitab kuning sebagai salah satu fungsi pesantren diwujudkan dalam bentuk aneka karya tulis. Sebagai penulis produktif, ulama zaman dahulu melahirkan karya besar. Sayangnya, masih banyak yang belum dibukukan sebagai warisan kepada generasi penerus. Bagi Mas’ud, kaderisasi penulisan yang dilakukan Puspenda sangat penting untuk melahirkan penulis baru yang handal.

Mas’ud secara khusus memberikan selamat dan apresiasi kepada para santri yang terpilih dalam 10 besar. Ia berharap mereka makin berkembang kemampuan menulisnya. “Saya berharap adik-adik santri yang terpilih ini menjadi penulis handal di masa depan. Saya tahu, tidak mudah dalam proses penulisan tersebut. Yang jelas, all beginning is difficult. Banyak pemula yang sampai berdarah-darah saking sulitnya,” seloroh Mas’ud. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Internasional, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 21 Februari 2018

NU Paciran Sowan ke PBNU

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sowan ke PBNU di Jakarta, pada Jumat sore, (04/01).

Menurut perwakilan rombongan, Misbahul Munir, tujuan sowan tersebut adalah silaturahim jasadiyah dan bathiniyah. Jasadiyah, ingin melihat gedung PBNU yang selama ini hanya dilihat di TV. Juga ingin bertemu dengan pengurus PBNU secara langsung.

NU Paciran Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Paciran Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Paciran Sowan ke PBNU

“Silaturahim bathiniyah, kami ingin mendapat taushiyah dari PBNU,” kata Misbah yang juga Kepala MTs Tarbiyatu Tholabah tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Taushiyah itu, sambung pria berusia 44 tahun tersebut, adalah bagaimana cara terbaik untuk membentengi warga Nahdliyin di Paciran dari “aliran” Islam garis keras yang mulai berkembang di kecamatan tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mereka datang ke rumah-rumah untuk mengajak kelompok mereka. Satu dua warga Nahdliyin sudah ada yang masuk aliran tersebut. ? “Dengan demikian, meminta PBNU bagaimana cara membentenginya,” tanyanya.

Juga, kami ingin meminta petunjuk bagaimana cara mengelola pendidikan yang baik dan profesional dan meningkatkan mutu SDM. Selama ini, lembaga di bawah Ma’arif masih tertinggal dari sekolah-sekolah lain.

Rombongan berjumlah 27 orang terdiri dari pengurus MWC, Ma’arif dan kepala Madrasah Ibtidaiyah di Paciran tersebut diterima Bendahara PBNU, Nasirul Falah dan Wakil Ketua PP LP Maa’rif, Sri Mulyati, di aula PBNU lantai 5.

Menanggapi permintaan perwakilan rombongan, Nasirul Falah mengatakan, untuk membentengi warga Nahdliyin, sedang diupayakan melalui Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) yang akan turun ke daerah-daerah.

Selain itu, Nasirul juga menjelaskan, PBNU melalui Lembaga Perekonomian NU mendorong pemberdayaan ekonomi warga Nahdlyin. “Sementara ini baru melalui pasar rakyat yang memasarkan salah satu produk unggulannya minyak goreng bintang sembilan,” katanya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis: Abdulllah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pemurnian Aqidah, Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 11 Februari 2018

Pendidikan di Indonesia

Oleh KH Azka Hammam Syaerozi

Dewasa ini pendidikan formal dipandang oleh masyarakat sebagai pendidikan yang sesungguhnya. Dengan beranggapan bahwa hanya dengan pendidikan formal seseorang bisa dianggap berpendidikan. Hal ini tentu berakibat fatal bagi pendidikan yang berada di luar pendidikan formal atau yang biasa disebut sebagai pendidikan informal (baca: pesantren). Ada beberapa faktor yang menjadikan pola pikir masyarakat kita seperti itu.

Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan di Indonesia

Pertama, pendidikan formal adalah program pendidikan yang digalakkan langsung oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan ukuran pendidikan di negara kita ini condong dengan apa yang dianjurkan oleh pemerintah. Karena diadakan oleh pemerintah, maka banyak program-program dan fasilitas yang diberikan pemerintah bagi pendidikan ini. Sangat berbeda dengan pendidikan informal yang sepertinya dianggap anak tiri oleh pemerintah, meski beberapa dianggap keberadaannya, tetapi pendidikan informal tetap dipandang sebelah mata dan tetap tidak dijadikan ukuran seseorang dianggap berpendidikan.

Kedua, dalam pendidikan formal tenaga pengajar mendapatkan upah yang pasti dan terjamin langsung oleh pemerintah. Berbeda dari pendidikan pesantren pemerintah tidak memberikan jaminan secara pasti bagi setiap pengajarnya. Hal ini menjadikan pendidikan formal lebih dipercaya dan dianggap lebih prospektif dibandingkan dengan pendidikan pesantren.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketiga, pendidikan formal memberikan ijazah yang secara de jure dianggap dan legal di kancah nasional maupun internasional. Hal ini berlawanan dengan pendidikan pesantren yang ijazahnya tidak diakui, atau bahkan tidak memiliki ijazah sama sekali.

Apa Hubungan antara Keduanya?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebenarnya, hubungan antara ilmu agama yang diadakan pesantren dan pendidikan umum yang diadakan sekolah formal itu sangat erat sekali. Ilmu pesantren adalah sebuah ‘asal’ yang menjadi tetap dan kokohnya sesuatu. Sedangkan ilmu umum adalah ‘cabang’ yang membentang luas dalam segala bidang kehidupan. Jika diibaratkan, pendidikan pesantren adalah makanan pokok, dan pendidikan formal adalah lauk pauknya. Maka tidaklah dinamakan makan jika seseorang hanya menyantap lauk pauk saja, dan jika hanya nasi saja maka tidak tercukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Mana Yang Mesti Didahulukan?

Secara kurikulum, pendidikan pesantren (baca: agama) harus didahulukan karena pendidikan agama menanamkan tauhid, hukum dan akhlaq. Manusia hidup di dunia itu tentu harus bermodalkan tauhid yang benar dan kuat, mengetahui hukum-hukum agar tidak sembarang berperilaku dan juga harus bisa menerapkan akhlaqul karimah sebagai modal dasar dalam etika pergaulan sosial yang selaras dengan prinsip ajaran agama sebagai kasih sayang bagi seluruh alam.

Kurikulum di sekolah formal, meski telah mengajarkan pengenalan pendidikan agama dan moral dalam pendidikan kewarganegaraan, tetapi pengajaran yang hanya diberikan selama dua sampai tiga jam saja per pekan, tentu belumlah bisa mencukupi tujuan pendidikan agama sebagai penanaman karakter bagi siswa. Sebab pendidikan agama, tak cukup dengan hanya sebatas pengenalan. Di sinilah perlunya pendidikan madrasah diniyah, sebagai sarana menanamkan pendidikan karakter bagi siswa yang tidak berkesempatan untuk mempelajari nilai-nilai pendidikan pesantren.

Di tengah dua kutub tersebut sebagian pesantren telah menerapkan kurikulum terpadu yang mengajarkan para santrinya untuk menguasai materi pelajaran yang di sekolah formal, sekaligus dididik sebagaimana pesantren pada umumnya. Kombinasi kurikulum pendidikan pesantren dan kurikulum pendidikan formal ini telah berlaku di berbagai pesantren selama puluhan tahun silam. Banyak pesantren, kini telah membuktikan bahwa pelaksanakan pendidikan pesantren dan formal tidaklah harus meninggalkan salah satunya melainkan secara bersama-sama berjalan beriringan. Dengan berjalan beriringan seperti itu, maka akan terbentuklah pribadi yang berpendidikan secara kâffah.

Di antara Yang Menekuni Salah Satu dari Keduanya, Siapakah Yang Lebih Berkompeten?

Pribadi yang benar-benar berkompeten adalah yang benar-benar belajar, paham akan ilmu yang dipelajarinya, lalu mengamalkannya kepada masyarakat. Sebab jika tidak diamalkan, keduanya sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi masyarakat. Jika salah satu dari keduanya memandang sebelah mata, itu karena mereka tidak memaklumi nilai min dan plus yang ada pada keduanya.

Bagaimana Kita Menerapkan Ilmu Formal dan Ilmu Salaf di Tengah Masyarakat?

Kita bisa menerapkan keduanya dengan selalu berupaya berkarya semampunya ? ? dengan didasari tauhid yang benar, hukum, dan akhlaq. Sebagai komunitas pesantren yang hidup di antara dua dimensi ini, kalangan santri tidak perlu ikut memandang sebelah mata pada yang lain. Kita cukup menjaga hal-hal lama yang baik dan masih layak dan menyempurnakannya dengan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik dan layak.

Bagaimana Sebaiknya Sikap Pemerintah Menyikapi Hal Ini?

Pemerintah sebaiknya memandang kedua sistem ini sebagai unsur yang saling menguatkan dalam membangun sumber daya manusia pada yang lebih baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

*) Pengasuh Pesantren Putra-Putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon. Kini ia diamanahi sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat. (Tulisan ini sudah dimodofikasi setelah dikutip dari Majalah Salafuna, Edisi 32 Tahun 2013).

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Kajian, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 06 Februari 2018

Fasilitator Asyik Itu Gus Dur

Bandarlampung, Rohis Tegal - Rohani Islam. Direktur Pusat Pemberdayaan Komunitas (Pusdakota) Universitas Surabaya Cahyo Suryanto menyarankan fasilitator meniru KH Abdurahman Wahid yang cepat menangkap kebutuhan forum. Menurut Cahyo, Gus Dur dalam forum pelatihan lebih memudahkan peserta melalui penyampaian materinya yang khas.

Fasilitator Asyik Itu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Fasilitator Asyik Itu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Fasilitator Asyik Itu Gus Dur

“Saya diminta berbicara apa?” kata Cahyo menceritakan kalimat pembuka yang dilontarkan Gus Dur dalam mengawali sebuah forum nasional.

Cahyo menjelaskan, kehadiran fasilitator itu mestinya membuat sebuah persoalan menjadi mudah. Pada pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan sipil dan demokrasi, Cahyo menyayangkan gaya fasilitator yang mengawali sebuah forum dengan memberondong para hadirin dengan banyak pernyataan dan sekelumit data menjemukan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Narasumber dan fasilitator hebat justru mengawali pertemuan atau apa yang akan difasilitasinya dengan pertanyaan seperti Gus Dur itu, bukan pernyataan apalagi data-data rumit,” kata Cahyo pada pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) digelar Yayasan Satu Nama di Griya Inayah, Bandarlampung, Kamis (8/5).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di hadapan para aktivis, pegiat HAM, pekerja sosial, dan praktisi media Lampung yang mengikuti kegiatan itu, ia menekankan pentingnya kalimat pembuka. Sentuhan pertama kali penting. Fasilitator harus bisa memberikan energi pada setiap kata sehingga kata benar-benar bertenaga di telinga pendengar.

"Fasilitator bukan staf ahli, bukan pula pakar yang membuat persoalan menjadi sukar. Fasilitator itu pemudah cara. Karena itu sederhana saja, ikuti Gus Dur. Untuk mengetahui persoalan, ia masuk dengan sebuah pertanyaan, bukan pernyataan," tandas Cahyo. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Kyai, Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 04 Februari 2018

Pengobatan Gratis Diserbu Pasien

Pekalongan, Rohis Tegal - Rohani Islam

Kegiatan sosial yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan berupa pengobatan gratis massal kerjasama dengan Pemkot setempat, Ahad (20/1), diserbu ratusan pasien dari berbagai kelurahan di Kota Pekalongan.



Pengobatan Gratis Diserbu Pasien (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengobatan Gratis Diserbu Pasien (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengobatan Gratis Diserbu Pasien

Pasalnya, pengobatan gratis yang dilakukan dalam rangka Peringatan Harlah ke-82 NU dilakukan di saat yang tepat. Masyarakat, khususnya di wilayah yang baru saja dilanda banjir sangat memerlukan pengobatan segera.

Bahkan sejak jam 06.30 wib kegiatan yang dipusatkan di dua tempat dari empat tempat yang diagendakan yakni di Ranting Krapyak Kidul dan Pasirsari pasien sudah mulai mengantri untuk mendapatkan nomor urut pemeriksaan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Meski panitia mengalami sedikit kewalahan, tapi semua dapat diatasi apalagi pengobatan ditangani oleh dokter dan perawat Nahdlatul Ulama yang cukup berpengalaman. Hingga akhir kegiatan tercatat 455 pasien yang tertangani dari target 400 orang di dua tempat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sutarno salah seorang pasien kepada Rohis Tegal - Rohani Islam mengatakan, sangat berterima kasih atas upaya NU menggelar pengobatan gratis di acara harlahnya, dirinya mengikuti kegiatan ini karena di pengobatan ini disamping dapat obat gratis juga berharap ada tambahan doa dari para kiai sehingga dapat mempercepat kesembuhan. Dirinya berharap kegiatan serupa agar dapat diadakan secara berkala, mengingat masih banyak masyarakat yang belum terjangkau dengan pengobatan ini, ujarnya

Bahkan Walikota Pekalongan HM Basyir Ahmad yang juga seorang dokter secara pribadi hadir diacara pengobatan gratis dan turut melakukan pemeriksaan perdana kepada pasien di Ranting Krapyak Kidul, Kota Pekalongan.

Dalam sambutannya Walikota berharap, langkah nyata Nahdlatul Ulama ini dapat disinergikan dengan program pemerintah dalam penanganan kemiskinan, kesehatan dan pendidikan melalui Nahdliyyin Center milik NU, sehingga ke depan masyarakat Kota Pekalongan yang mayoritas warga NU dapat tertangani dengan baik.

“Saya menyambut baik langkah-langkah Nahdlatul Ulama membantu pemerintah dalam upaya menyehatkan masyarakat melalui program pengobatan gratis ini, dan saya siap mengucurkan dana untuk keperluan ini”.

Sementara itu Ketua Panitia Harlah NU Kota Pekalongan, Abdul Basir, SH menjelaskan, kegiatan serupa masih akan dilaksanakan pada tanggal 27 mendatang di Ranting Sokorejo Pekalongan Timur dan Banyurip Ageng Pekalongan Selatan, kemudian kegiatan donor darah akan dilakukan tanggal 25 Januari di Alma Swalayan Kota Pekalongan dan malam tasyakuran 82 tahun Nahdlatul Ulama tanggal 31 Januari 2008 di PCNU seluruh MWC dan Ranting NU se Kota Pekalongan.

Sedangkan kegiatan puncak Harlah akan dilakukan istighotsah kubro tanggal 1 Pebruari 2008 bertempat di Masjid Agung Al Jami’ Kota Pekalongan bersama Habib Muhammad Luthfiy bin Ali bin Hasyim bin Yahya dan Habib Abdullah Baqir bin Ahmad Alatas yang pada pagi harinya didahului dengan acara ziarah ke makam ulama dan kiai pejuang Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan. (amz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam RMI NU, Ubudiyah, Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 03 Februari 2018

Zakat Mal Bisa Tanggulangi Kemiskinan

Probolinggo, Rohis Tegal - Rohani Islam. Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan yang juga ketua Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Kabupaten Probolinggo mengatakan, salah satu langkah penanggulangan kemiskinan adalah dengan memaksimalkan penyelenggaraan zakat mal atau zakat harta.

Zakat Mal Bisa Tanggulangi Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Mal Bisa Tanggulangi Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Mal Bisa Tanggulangi Kemiskinan

“Saya menghimbau kepada masyarakat yang memiliki kemampuan dan sudah tergolong wajib zakat agar hendaknya ikut menyalurkan zakat melalui BAZ Kabupaten Probolinggo untuk diberikan kepada orang yang berhak menerimanya,” terang Muzammil kepada Rohis Tegal - Rohani Islam, Kamis (1/8).

Lebih lanjut, Muzammil berharap agar pemberian zakat mal ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat terutama dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1434 H.

Rohis Tegal - Rohani Islam

”Pemberian zakat mal ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang kurang mampu. Melalui pemberian zakat ini, kami bisa berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin,” pungkasnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bazda Kabupaten Probolinggo sendiri telah menyalurkan zakat dan infaq dalam bentuk sembako di 24 kecamatan. Selain itu, juga diserahkan zakat maal kepada 72 orang tenaga honorer petugas kebersihan di lingkungan BLH (Badan Lingkungan Hidup) Kabupaten Probolinggo.

Total yang dikucurkan untuk penyaluran zakat maal ini mencapai Rp. 3.600.000. Masing-masing mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) mendapatkan zakat mal sebesar Rp50 ribu. Zakat mal ini diserahkan secara langsung oleh Ketua bazda Kabupaten Probolinggo H. Ahmad Muzammil, Kamis (1/8) hari ini.

Menurut Muzammil, zakat maal ini diperoleh dari setoran penunaian zakat perorangan yang diperoleh selama bulan suci Ramadhan.  “Alhamdulillah dari hasil pengumpulan zakat mal ini kami bisa menyalurkannya kepada orang yang berhak menerimanya,” pungkasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pendidikan, Kajian, Sholawat Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 30 Januari 2018

PCNU Sampang Kawal Proyek Normalisasi Sungai Kamuning

Sampang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Mega proyek normalisasi Sungai Kamuning digagas untuk menanggulangi bencana banjir tahunan di kota Sampang. Dari sumber dana APBN dengan nilai anggaran Rp 365,3 miliar yang digarap selama tiga tahun atau Multi Years Contrak (MYC), mulai 2017 hingga 2019 ternyata juga mendapat perhatian dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. 

PCNU Sampang Kawal Proyek Normalisasi Sungai Kamuning (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sampang Kawal Proyek Normalisasi Sungai Kamuning (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sampang Kawal Proyek Normalisasi Sungai Kamuning

"Sebab selama ini banyak masyarakat yang menanyakan kepada kami dampak dan manfaat proyek normalisasi sungai Kamuning. Jangan sampai biaya miliaran itu sia-sia tidak bermanfaat menanggulangi banjir," tutur Ketua Tanfidziyah PCNU Sampang, KH Abd Muhaimin Abd Bari saat beraudiensi tentang kegiatan normalisasi sungai Kamuning di Aula Bappelitbangda Sampang, Rabu (7/2).

Beberapa saran PCNU Sampang terkait normalisasi Sungai Kamuning, sambung Kiai Muhaimin, adalah pengerukan di daerah muara. Dikatakan saat ini sendimen di daerah muara sudah sangat tinggi, sehingga normalisasi Sungai Kamuning akan sia-sia apabila daerah muara tidak tersentuh pengerukan, termasuk pembuatan waduk di daerah hulu.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Upaya pemerintah dalam memerangi maraknya penebangan pohon hingga penggundulan bukit di daerah hulu juga dipertanyakan, sebab tidak sejalan dengan program normalisasi Sungai Kamuning.

"Kami juga menanyakan jarak kanan dan kiri sungai serta pembebasan tanah untuk jalan inspeksi, dan juga jembatan swadaya," imbuh Wakil Ketua PCNU setempat, KH Muhammad Itqon.

Menanggapi saran masukan tersebut, Kabid Praswil Bappelitbangda Sampang, Abdul Rahman, mengatakan sangat berterimakasih. Dirinya berharap, dukungan dari para ulama untuk ikut andil dalam menyukseskan program pemerintah. Banjir di Sampang  menjadi persoalan pemerintah pusat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Biaya normalisasi Sungai Kamuning hampir sama dengan pembangunan fisik di Sampang. Sekitar Rp 350 miliar lebih untuk normalisasi. Sedangkan APBD dikisaran Rp 400 milyar hingga Rp 500 miliar," tukas Rahman.

Hadir dalam audiensi tersebut diantaranya pelaksana kegiatan dari BBWS Brantas, PUPR, konsultan kontraktor, dan masyarakat terdampak serta seluruh jajaran syuriah dan tanfidziyah pcnu setempat. 

LPBINU Sampang yang menjembatani kegiatan tersebut difasilitasi oleh Bappelitbangda Sampang. Audiensi berlangsung hingga dua jam. Diharapkan audiensi bisa menjadi solusi kedepan dalam penanggulangan banjir di kota Sampang. (Hadji/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Doa Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 26 Januari 2018

Guru, Penentu Penting Mutu Pendidikan

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam - Madrasah yang berkualitas harus memiliki pendidik yang unggul. Artinya, pendidik harus profesional dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Kompetensi guru yang memungkinkan untuk mengembangkan suatu lembaga pendidikan yang unggul menurut Trimantara yang dikutip Nur Azizah adalah kompetensi penguasaan mata pelajaran; kompetensi dalam pembelajaran; kompetensi dalam pembimbingan; kompetensi komunikasi dengan peserta didik; dan kompetensi dalam mengevaluasi.

Dalam upaya mengembangkan kompetensi tersebut, guru harus aktif belajar terus menerus dengan selalu membaca fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, sehingga pembelajaran bersifat faktual dan kontekstual. Guru juga harus mampu menilai hasil balajar ranah kognitif, psikomotorik dan afektif siswa, dan dapat mengetahui siapa dan ranah apa saja yang belum dikuasai oleh siswa. Dengan demikian guru tepat memberi pencerahan kembali kepada siswanya.

Guru, Penentu Penting Mutu Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru, Penentu Penting Mutu Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru, Penentu Penting Mutu Pendidikan

Menciptakan guru yang profesional dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan madrasah melalui beberapa tahapan. Tahapan awal adalah persiapan pembelajaran dalam arti guru harus banyak membaca, dan mengikuti kursus, pelatihan, seminar, workshop. Lebih khususnya guru mengikuti kegiatan pembuatan program kerja guru melalui MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Kegiatannya meliputi penyusunan silabus dan pembuatan rencara pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum 2013.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Tahapan berikutnya, pelaksanaan pebelajaran, di mana guru harus fleksibel dalam penggunaan metode pembelajaran. Dalam arti metode pelaksanaan program pembelajaran disesuaikan dengan kondisi dan situasi peserta didik. Fokus pelaksanaan pembelajaran menyebar pada tiga ranah meliputi kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Tahapan akhir yaitu penilaian pembelajaran. Penilaian harus dilakukan secara objektif dan transparan dengan berpatokan pada sistem penilaian kurikulum 2013. Guru harus mampu tanggap terhadap aktivitas pembelajaran dengan melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan siswa sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Guru harus mampu tanggap terhadap aktivitas pembelajaran dengan melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan siswa sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai. Peranan guru yang sangat penting tersebut bisa menjadi potensi besar dalam memajukan atau meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang benar-benar berlaku professional dan dapat mengelola dengan baik, tentunya mereka akan makin semangat dalam menjalankan tugasnya, bahkan rela melakukan inovasi-inovasi pembelajaran untuk mewujudkan.

Profesionalisme guru harus disikapi dengan peningkatan kualifikasi dan kompetensi, apalagi sekarang ada keharusan mengikuti uji sertifikasi untuk menentukan kelayakan seorang guru. Guru jangan sampai terkena “jebakan rutinitas”, di mana guru hanya disibukkan dengan kegiatan sehari-hari yang membedakan keadaan status sosial, ekonomi, dan jenis kelamin sehingga lupa dengan peningkatan kompetensi dan profesionalisme.

Perekrutan guru kelas unggul melalui 4 mata pelajaran yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA; tidak tergantung dengan guru PNS yang ada melainkan mencari yang memiliki kompetensi bidang studinya dan bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asing (Arab atau Inggris) walaupun belum berstatus PNS.

Program pengembangan guru diarahkan melalui penempatkan personil yang dapat melayani keperluan semua siswa, penyediaan guru yang memiliki wawasan “School Based Manajemen”, penyediaan kegiatan untuk pengembangan profesi pada semua staf dcan guru, penjamin kesejahteraan staf dan siswa, serta penyelenggaraan forum atau diskusi untuk membahas kemajuan sekolah (School performance).

Selain itu, guru didorong untuk meningkatkan kompetensinya melalui diklat atau workshop yang diadakan Kemenag, Diknas maupun Madrasah sendiri, bahkan dengan menggunakan biaya sendiri seperti kursus Bahasa Inggris dan belajar mengoperasikan komputer, LCD, atau kursus IT.

(Baca sebelumnya: http://www.nu.or.id/post/read/73204/kemenag-dongkrak-mutu-mts-melalui-kebijakan-inovatif) (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Tegal Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 15 Januari 2018

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan

Way Kanan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ratusan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Way Kanan di Lampung menangis haru mendengar Puja Adelia (5) Binti Juharmin (almarhum) dari Kampung Jukubatu Kecamatan Banjit menyanyikan lagu kerinduan seorang anak kepada bapaknya pada kegiatan santunan anak yatim piatu.

"Ayo bersama alim ulama. Salah satu perilaku alim ulama ialah menyantuni anak yatim seperti genduk (anak perempuan kecil) yang tadi menyanyi dan membuat nangis mbrebes mili (menangis tersedu), itu pahalanya besar," ujar Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Soleh Bajuri di Banjit, Way Kanan yang berada sekitar 220 km sebelaha Kota Bandarlampung, Selasa (4/11).

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan Lampung, menyantuni 74 anak yatim piatu di daerah tersebut. Dana dari donatur yang dibagikan oleh Paimo, Ketua MWC NU Banjit Rp7 juta lebih.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Setelah penyerahan santunan itu, Puja dipersilakan pembawa acara naik ke panggung untuk menyanyi di hadapan sekitar 2.000 hadirin. Ratusan jamaah, kaum ibu dan laki-laki terpantau menyeka air mata dengan sapu tangan dan tisu mendengar syair-syair kerinduan anak kecil terhadap bapaknya.

Tak seberapa lama, puluhan ibu-ibu berbondong-bondong menuju panggung, menyantuni Puja dan menciumi pipi gadis kecil yang meneteskan air mata itu.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Selain Paimo, Asmazi Ketua Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Kecamatan Kasui juga terpantau meneteskan air mata.

"Saya terharu mendengar anak kecil yang kehilangan ayahnya menyanyi. Saya kira kita tadi bersama-sama belajar mengenai takdir yang harus diterima saat mendengar lagu tadi," ujar Asmazi.

Pada kegiatan memperingati Tahun Baru Islam 1436 Hijriah bertema "Kita Susun Hati Yang Sama Lewat Cahaya Alim Ulama, Santuni Yatim Hindari Dusta Agama" itu, terkumpul infak Rp4 juta lebih.

Hadir pada kegiatan itu Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda, Direktur Program Ansor Digdaya (mendidik Generasi Memberdayakan Masyarakat) Heri Amanudin dan sejumlah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). (Gatot Arifianto/Mahbib)

Foto: Puja Adelia menyanyikan lagu kerinduan anak yang kehilangan ayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hadits, Kajian, Olahraga Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 11 Januari 2018

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam

Hawa panas mulai terasa pada momentum pelaksanaan Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur. Di akhir jadwal pendaftaran bakal calon tercatat sebanyak 10 orang kandidat yang sudah resmi mendaftarkan diri.

Aqib Marufin, saat dihubungi via telepon, mengatakan, kesepuluh kandidat tersebut berasal dari masing-masing zona di Jawa Timur. Di antaranya dari Zona Tapal Kuda ada Arief Rahman dari Situbondo, Arya dari Lumajang dan Kholilullah dari Probolinggo. Dari Zona Metropolis ada Zainuddin dari Surabaya, Fathul Hasan dari Kota Malang, dan Zain Haq dari Sidoarjo.

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar

Menyusul kemudian dari Zona Matraman ada Mahathir Muhammad dari Blitar, Ahmad Syuhada dari Trenggalek dan Alfi Hafidh Ishaqro dari Madiun. Terakhir dari Zona Madura ada Helmi Fuad dari Bangkalan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebelumnya diketahui bahwa sampai di hari terakhir pendaftaran Selasa (12/4), hanya ada satu calon dan terancam proses pencalonan berlangsung aklamasi. Melihat sampai malam terakhir pendaftaran tercatat ada 10 kandidat, Aqib memaparkan bahwa Konkorcab PKC Jawa Timur akan berlangsung sesuai rencana.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Dengan begini mereka menunjukkan bahwa kepedulian terhadap PMII Jawa Timur masih tinggi. Ini merupakan perang bintang dikarenakan kandidat yang mendaftar adalah tokoh-tokoh di cabangnya masing-masing," terang Aqib.

Banyaknya kandidat yang mendaftar sebagai calon ketua PKC, ternyata berbanding terbalik dengan bakal calon ketua Kopri PKC. Aqib menambahkan, sampai hari terakhir belum ada satupun yang mendaftar. Karena itu, panitia memberikan perpanjangan waktu untuk penfataran ketua kopri PKC selama tiga hari.

"Untuk kandidat Ketua Kopri PKC belum ada satu pun yang mendaftar sampai pendaftaran resmi ditutup. Karena itu panitia memperpanjang sampai tanggal 15 April," terangnya.

Sarjana Hukum ini pun berharap dengan adanya perpanjangan waktu yang diberikan panitia calon ketua Kopri PKC bisa memberikan dorongan kepada kader puteri untuk bisa mendaftarkan diri menjadi calon.

"Semoga dengan masa perpanjangan ini, bermunculan banyak kader putri yang berani tidak hanya di wacana, tetapi iuga aksi. Dan untuk sepuluh kandidat PKC semoga Konkorcab kali ini menjadi perang adu visi dan misi, adu ide dan gagasan bagaimana PMII menempatkan diri dalam era globalisasi saat ini," tegasnya.(Isna WF/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 04 Januari 2018

Santri Siaga Bencana Dilatih Melalui Kegiatan Outboud

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sebanyak 150 Santri Siaga Bencana (SSB) yang selama setahun ini sudah mendapatkan pembinaan dari Community Based Disaster Risk Management Nahdlatul Ulama (CBDRMNU) ditingkatkan ketrampilannya melalui latihan di lapangan atau outbound.

Latihan yang berlangsung selama tiga hari, pada 6-8 November ini berlangsung di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta dari lima kecamatan yang menjadi daerah sasaran program Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Santri Siaga Bencana Dilatih Melalui Kegiatan Outboud (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Siaga Bencana Dilatih Melalui Kegiatan Outboud (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Siaga Bencana Dilatih Melalui Kegiatan Outboud

Kegiatan temu SSB tersebut diisi dengan apel kesiagaan SSB, aneka lomba asah keterampilan, olah raga, loka karya, praktek kesiapsiagaan (drill), kajian cepat, prosedur tetap dalam tanggap darurat dan simulasi rencana kontinjensi yang dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan semua anggota SSB.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Para peserta acara ini diharuskan sudah pernah mengikuti salah satu kegiatan training yang diselenggarakan oleh CBDRMNU (ToT, Field Trail, FGD DCS, Training of Facilitator, Praktek fasilitator, Implementasi Aksi, Training Guru/Ustadz).

Sultonul Huda dari Progrgam Management Unit CBDRMNU menjelaskan dalam kegiatan ini, para SSB melakukan upaya rencana kontijensi dalam keadaan bencana sehingga saat bencana benar-benar terjadi, mereka bisa merespon dengan cepat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Ini merupakan upaya melatih ketrampilan dan upaya penanganan kedaruratan sehingga siap ketika terjadi bencana tanpa bantuan siapapun,” katanya.

Wakil Walikota Jakarta Barat Sukarno mengemukakan Jakarta Barat merupakan daerah yang rawan terjadi bencana, terutama kebakaran dan banjir sehingga peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu aparat. Paling tidak untuk menyelamatkan diri sendiri dahulu, keluarga dan kemudian lingkungan sekitar.

Ia juga berharap agar masyarakat mampu melakukan inovasi untuk mengatasi keterbatasan sarana dan prasarana penanganan bencana sehingga bisa meminimalisir korban.

Wawan, anggota Santri Siaga Bencana (SSB) dari pesantren Assidiqiyah juga sedang bisa mengikuti acara ini. Ia berharap kegiatan seperti ini lebih banyak diisi dengan praktek daripada teori. Ia mengaku sudah pernah membantu korban banjir di Trenggalek ketika menjadi santri di pesantren Babussalam Tulungagung. Diakuinya, antara teori dan praktek memang seringkali tidak sejalan. “Kalau disana, yang penting membantu apa yang bisa kita lakukan,” katanya.

Persoalan budaya juga menjadi kendala dalam penanganan bencana. Dikatakannya, jika di daerah, masyarakat membuka pintunya kepada para korban untuk memberi pertolongan, tetapi situasi di Jakarta, masyarakat malah menutup pintu dan mengurusi dirinya sendiri.

Selain praktek di lapangan, para peserta juga ada acara lokakarya dengan narasumber dari PMI dan Pemda DKI yang mengungkapkan langkah dan peran yang mereka lakukan ketika bencana terjadi. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 03 Januari 2018

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Kementerian Agama dan Bank Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat kesepahaman dalam pengembangan ekonomi pesantren dan penggunaan layanan keuangan digital (LKD). Penguatan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) tentang Koordinasi Pelaksanaan Elektronifikasi Pembayaran Bantuan Sosial antara Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dengan Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo di Jakarta, Kamis (26/05) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Selain Menag, penandatangan NK dengan Gubernur BI juga dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar, serta Raden Harry Hikmat Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial yang mewakili Menteri Sosial.

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren

Menag menyambut gembira Penandatangan NK ini, terlebih sebelumnya telah terjalin nota kesepahaman antara Kemenag dengan Bank Indonesia tentang Pengembangan Kemandirian Ekonomi Lembaga Pondok Pesantren dan Peningkatan Layanan Non Tunai untuk Transaksi Keuangan di Lingkungan Kementerian Agama yang ditandangani pada 5 November 2014 di Gedung Perwakilan Bank Indonesia wilayah IV Surabaya.?

Menurut Menag, NK yang kemudian dikenal dengan nama “Deklarasi Surabaya” itu ? memiliki dua substansi. Pertama, mendorong pondok pesantren sebagai penggerak sekaligus berperan sebagai instrumen sektor riil penguatan ekonomi berbasis masyarakat. Kedua, peningkatan transaksi keuangan non tunai baik yang menyangkut penyerapan anggaran berbasis APBN maupun transaksi keuangan di sejumlah mitra layanan di bawah binaan Kementerian Agama.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Deklarasi Surabaya akan berakhir pada penghujung 2016 ini. Karenanya, Menag menyambut baik penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Koordinasi Pelaksanaan Elektronifikasi Pembayaran Bantuan Sosial yang merupakan perluasan dari Deklarasi Surabaya dengan menggandeng kementerian-kementerian terkait di dalamnya.

Menag mengaku, setelah penandatanganan Deklarasi Surabaya, terdapat capaian-capaian yang cukup menggembirakan, di antaranya: peningkatan kapabilitas santri sebagai penggerak ekonomi berbasis masyarakat dan digitalisasi layanan keuangan. Selain itu, pondok pesantren kini secara bertahap juga telah melebarkan kiprahnya, tidak hanya melahirkan ahli agama Islam, tapi juga penggerak ekonomi berbasis masyarakat.

“Penggunaan Layanan Keuangan Digital (LKD) pada beberapa pondok pesantren telah memberikan ruang transaksi yang semakin mudah, dekat, dan tidak berbelit-belit,” papar Menag. ? Putera mantan Menag alm. KH Saifuddin Zuhri ini menyatakan bahwa penggunaan LKD merupakan solusi keuangan non tunai yang praktis terutama pada koperasi-koperasi yang ada di dalam pondok pesantren.?

Ke depan, Menag berharap pondok pesantren sebagai pusat kajian keilmuan fiqih muamalah dan ekonomi syariah mendapatkan ruang aplikatif yang lebih luas sehingga ? dapat menyelesaikan problem-problem transaksi ekonomi yang berkembang dewasa ini. Pesantren juga dapat menjadi model pengembangan keuangan syariah di tingkat mikro.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dengan ditandatanganinya nota kesepahaman ini, Menag optimis bahwa tata kelola Kementerian Agama berbasis APBN terutama pada akun bantuan sosial dapat meningkat akuntabilitasnya, karena penyalurannya menggunakan transaksi secara non tunai. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, IMNU, Doa Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 29 Desember 2017

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader

Semarang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Lembaga Kajian dan Penerbitan (LKaP) PMII Rayon Abdurrahman Wahid Komisariat Walisongo Semarang menggenjot nalar kritis anggota melalui Sekolah Kader angkatan ke-4) di Pondok Pesantren Sabilul Huda Desa Wisata Kandri, Gunung Pati Kota Semarang (21-27/2).

Kegiatan bertema “Konstruksi Nalar Kritis Kader Guna Mentradisikan Laku Ilmiah” ini dibatasi 25 peserta, supaya lebih kondusif dan efektif. Peserta diberikan materi seputar filsafat dan ilmu sosial.

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Abdurrahman Wahid Genjot Nalar Kritis Kader

Materi tersebut di antaranya, pengantar filsafat, filsafat modern, filsafat islam, filsafat pendidikan hingga filsafat sosial. Berbagai materi filsafat dan ilmu sosial tersebut disampaikan diantaranya oleh Dr. Tedi Kholiludin dari Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, kemudian Dr. Ilyas Supena Dosen Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam kegiatan ini peserta Sekolah Kader juga diajak berdiskusi terkait materi yang telah diberikan lewat Focus Group Discussion (FGD). Ini memberikan kesempatan para peserta untuk dapat bertukar pikiran dan saling berdialektika terkait pemahaman mereka terhadap materi yang mereka dapatkan.

Dengan mengusung visi intelektual, Endah Kartika Ratnasari selaku direktur LkaP mengatakan, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi nalar kritis kader ke depannya, sesuai dengan tema yang kita usung.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Senada dengan Endah, Abdul Ghofar, ketua panitia, mengatakan, tujuan Sekolah Kader adalah upaya utuk menciptakan nalar berpikir ilmiah bagi kader-kader PMII. “Kami berharap tradisi berpikir kritis dapat diimplementasikan dalam laku sehari-hari alumni Sekolah ini”, imbuhnya

Agenda ini didukung penuh berbagai pihak terkait. Diantaranya dosen IAIN Walisongo yaitu DR. Mahfud Junaedi yang juga menjadi pemateri di Sekolah Kader menuturkan bahwa kegiatan seperti ini harus rutin dilaksanakan. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para kader PMII untuk dapat berpikir kritis dan ilmiah. “Jangan sampai kuliah mengganggu kegiatan seperti ini. Kegiatan kuliah lancar, agenda seperti ini juga lancar,” tambahnya.

Dalam sekolah ini peserta tidak hanya diajak membaca, diskusi dan menulis. Para peserta juga diberikan tugas untuk  turun basis ke masyarakat sekitar untuk melakukan mapping persoalan sosial yang ada di wilyah Desa Kandri, turun basis ini bagian dari implementasi salah satu materi pada Sekolah Kader yaitu aplikasi filsafat sosial.

Agenda Sekolah yang dilaksanakan LKaP PMII Abdurrahman Wahid ini menurut salah satu peserta yakni, Baihaqi sangat bermanfaat. Dia sangat tertarik belajar filsafat. “Saya juga salut dengan panitia pelaksana yang begitu peduli dan tanggap akan kebutuhan peserta”, tambahnya.

Syafii, sebagai Ketua PMII Rayon Abdurrahman Wahid berharap kader-kader PMII ke depannya dapat menjadi lebih cerdas, kritis, berwawasan dan mampu memberi solusi atas permasalahan masyarakat.

Agenda yang sarat akan nilai intelektual ini tidak selesai begutu saja. Akan tetapi  ada rencana tindak lanjut untuk terus mengawal alumni Sekolah Kader ini. Adapun kegiatan sebagai follow up Sekolah Kader ini diantaranya Sekolah Nalar Kader, Diskusi Filsafat dan Pelatihan menulis.(Ria, Esty/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Quote Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 26 Desember 2017

Menyikapi Perbedaan; Refleksi Atas Piagam Madinah

Oleh Muhamad Hizbullah



Perbedaan adalah sunnatullah dan sudah ada sejak manusia pertama kali ada di pentas dunia ini. Mulai dari jenis kelamin, warna kulit, budaya, bangsa, bahasa hingga cara pandang. Kemajemukan sudah taken for granted,realitas yang harus diterima dan disikapi secara arif dan bijaksana. Bahkan Allah menjadikan perbedaan tersebut menjadi rahmat sebagai bukti ke-Maha Kuasa dan Kayanya Zat Allah yang mampu menciptakan manusia dengan beraneka bentuk dan rupa yang berbeda.?

Menyikapi Perbedaan; Refleksi Atas Piagam Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyikapi Perbedaan; Refleksi Atas Piagam Madinah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyikapi Perbedaan; Refleksi Atas Piagam Madinah

Tetapi perbedaan tersebut tidak semuanya disikapi dengan bijak dan toleran. Indonesia misalnya sebagai negara terbesar yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, budaya, dan agama rawan menimbulkan konflik. Meskipun banyak menyanggah bahwa konflik-konflik yang terjadi di Indonesia tidak berkaitan dengan suku, agama, dan budaya. Konflik-konflik tersebut lebih dilihat karena perbedaan cara pandang dan pemahaman yang berbeda atas sesuatu hal. Tetapi tetap tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan suku, agama, dan budaya jelas memperkuat sinyal konflik tersebut. Kasus Tolikara pada tahun 2015 dan kasus pembakaran Gereja di Aceh bulan Oktober 2015 menjadi saksi sejarah bahwa Indonesia belum bisa menerima perbedaan, mayoritas belum secara utuh menerima dan mengayomi minoritas.?

Benar yang dikatakan Gus Mus dalam bukunya Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Faham Kebangsaan (Mizan, 2015) menyatakan, “…kita tidak ? pernah diajari berbeda. Maka, orang pun terkaget-kaget setiap melihat perbedaan. Lalu mereka yang berbeda pun saling memutlakkan pendapat dan kecendrungannya masing-masing.” Kasus perbedaan yang paling dirasakan adalah karena sentimen agama. Karena agama sebagai sebuah doktrin keyakinan maka banyak orang yang memahaminya secara sepintas dan awam, kemudian dengan gampang memberi lebel munafik, murtad, kafir, bahkan masuk neraka terhadap golongan yang berbeda dengan pemahamannya, munculnya intoleransi dan menghalalkan kekerasan hingga pembunuhan atas nama agama, Mayoritas berhak terhadap minoritas apalagi ditambah dengan hukum Indonesia yang tak bertaring maka rusaklah bangsa ini.?

Munculnya konflik berbau SARA, anti terhadap kelompok dan etnis tertentu akhir-akhir ini menjadi kehawatiran bersama dan menjadi tugas lebih berat lagi kepada pemerintah untuk lebih agresif mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Memang diakui penggunanaan simbol-simbol tertentu dan golongan banyak ditunggangi oleh oknum-oknum yang haus kekuasaan dan jabatan, tetapi pemerintah harus lebih agresif melakukan langkah-langkah preventif supaya tidak menimbulkan perpecahan dan percekcokan yang lebih parah lagi. Penyadaran wawasan kebangsaan dan keagamaan oleh para tokoh, ilmuan, dan cendekiawan di perguruan tinggi harus lebih digalakkan kembali. Dalam Pasal 2 UUD No 12/2012 tentang pendidikan tinggi disebutkan, pendidikan tinggi berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. landasan yuridis tersebut harus lebih dimaksimalkan dan menjadikannya sebagai doktrin kebhinekaan yang membumi dalam kehidupan yang beragam. Selain itu,wawasan keagamaan yang ditanamkan harus ingklusif dan terbuka. Agama tidak semata dipandang sebagai sebuah ajaran yang kaku, membahas masalah eskatologis semata, tetapi juga masalah-masalah pembangunan kemanusiaan, keadilan, kerjasama, pergaulan, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat atau menjadi rahmatan lil alamiin.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dua tahun ke depan, tahun 2019 sebagai puncak pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, antsipasi penggunaan isu berbau sara harus diperhatikan dari sekarang oleh pemerintah dan semua pihak. Pilkada DKI Jakarta yang baru berlangsung beberapa waktu lalu cukup menyita dan menguras tenaga serta merongrong nilai-nilai berdemokrasi, percekcokan, hingga perhatian lupa terhadap masalah-masalah pembangunan bangsa.?

Refleksi Piagam Madinah?

Contoh interaksi dengan masyarakat plural adalah pada saat Rasulullah hijrah ke Madinah. Ketika itu beliau mendapati keadaan masyarakat yang beraneka ragam, ada yang dahulu menjadi musuhnya, golongan Yahudi, dan ada yang Muslim dan non-Muslim. Langkah pertama Rasulullah ketika tiba di Madinah adalah membangun masjid sebagai tempat ibadah, kemudian mempersatukan kaum Muhajirin dan Ansor, dan selanjutnya Rasulullah membuat perjanjian dengan seluruh penduduk Madinah yang kemudian dikenal dengan Piagam Madinah. Dalam Piagam Madinah itu semua golongan diakui eksistensinya, berhak menjalankan ritual keagamaanya, dan tidak boleh diganggu oleh siapapun. Ketika itu mereka bersepakat menjadikan Nabi Muhammad sebagi pemimpin mereka dan berjanji bersama-sama menjaga Madinah dari segala macam bentuk rongrongan dan intimidasi dari pihak luar. Mereka mendirikan pasar, pusat interaksi masyarakat, dan segala macam bentuk kesejahtraan warga Madinah. Mayoritas tidak boleh menindas minoritas. Muhammad sebagai pemimpin ketika itu menjunjung tinggi nilai keadilan. Siapapun yang terbukti melakukan kesalahan harus disalahkan dan diberikan sanksi walaupun Muslim. QS. An-Nisa’: 105 menyatakan seorang Yahudi yang dituduh melakukan pencurian oleh seorang Muslim padahal si Muslim sang pencurinya. Ayat tersebut memberikan penegasan kepada Muhamad supaya jangan terpengaruh dengan “keislaman” sang pencuri itu kemudian ia memenangkan sang Yahudi.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

KH Hasyim Muzadi menyampaikan pendapatnya dalam seminar di ITS Surabaya dalam acara Isra Mi’raj 2015, “Indonesia itu ? mirip dengan kondisi yang terjadi pada masa Rasulullah, karena Indonesia bukan negara agama seperti Vatikan dan Timur Tengah, dan Indonesia bukan negara sekuler seperti AS dan Eropa, namun Indonesia negara Pancasila atau daulah salam (negara bangsa) yang menjadikan agama sebagai inspirasi kenegaraan.” Lebih jauh ia menyatakan Pancasila itu harus menjadi “pintu masuk” mengundang semua tokoh agama dari NU, Muhamadiyah, NW, bahkan dengan agama di luar Islam untuk membuat kesepakatan seperti Piagam Madinah supaya tidak menimbulkan konflik intraagama dan antaragama. Karena Piagam Madinah tidak hanya sebuah perjanjian antarumat Islam tetapi dengan seluruh penduduk Madinah yang heterogen dan multikultural ketika itu.?

Karena tidak mungkin menciptakan tatanan global tanpa prinsip-prinsip keadilan, kerjasama, toleransi, dll seperti yang terkandung dalam Piagam Madinah tersebut. Hans Kungdalam Global Responsibility: In Search of a New World Ethic, pun ketika memaparkan rumusan deklarasi Dewan Parlemen Agama-agama yang kemudian menjadi 4 point yaitu, pertama, komitmen budaya antikekerasan dan menghormati kehidupan. Kedua, solidaritas dan tatanan ekonomi yang adil. Ketiga, toleransi dan hidup tulus. Keempat, kesamaan hak dan membangun kerjasama antara laki-laki dan perempuan. secara tidak sadar point-point tersebut sudah mengadopsi butir-butir isi Piagam Madinah yang dibuat Rasulullah empat belas abad yang lalu.?

Rasulullah di tengah keragaman mampu membangun sebuah masyarakat madani, membangun peradaban, dan stabilitas politik Madinah menjadi lebih baik. Dengan prinsip cinta kasih, damai, toleransi, keadilan, kerjasama, dan menerima perbedaan, beliau mampu merangkul semua pihak tanpa ternodai hak-haknya sebagai warga Madinah. Indonesia sebagai sebuah negara yang hampir sama dengan kondisi Madinah ketika itu juga bisa menjadikan point-point tersebut untuk menjadikan keberagaman Indonesia ini menjadi modal dan anugerah besar membangun masyarakat Indonesia yang maju dalam keberagaman.?

Penulis adalah Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Berita Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 21 Desember 2017

Banser Jombang Ikuti Diklat Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam 

Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Jombang, Jawa Timur mengadakan Diklat Banser Lantas "Pelopor Keselamatan Berlalu lintas" di Auditorium Polres Jombang, Selasa (24/10/2017) siang.

Banser Jombang Ikuti Diklat Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jombang Ikuti Diklat Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jombang Ikuti Diklat Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas

Kapolres Jombang, AKBP Agung Marlianto mengaku sangat membutuhkan Banser dalam setiap kegiatan dan menjaga stabilitas keamanan di Kabupaten Jombang. Hal ini mengingat keterbatasan personil yang dimiliki Polres Jombang.

"Kita sangat berterimakasih kepada rekan-rekan Banser yang datang kesini untuk belajar dan didanai sendiri," katanya.

Agung mengingatkan betapa pentingnya tertib berlalu lintas karena jalan raya menjadi pembunuh terbesar setelah perang dan bencana alam. Kesadaran berlalu lintas akan berjalan lurus dengan korban yang jatuh secara sia-sia.

Ditambahkan, puluhan peserta diklat ini akan diajarkan pencegahan kecelakaan, rambu-rambu lalu lintas, pengetahuan dasar lalu lintas dari anggota Satlantas Polres Jombang.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Salah satu ukuran kemajuan suatu daerah yaitu kelancaran berlalu lintas yang aman dan tertib," tambahnya.

Setelah diklat ini, anggota Banser akan dijadikan pasukan cadangan Satlantas Polres Jombang dalam mengamankan jalan dan berlalu lintas.

Agung menambahkan, negara Cina bisa maju karena memiliki tiga hal yaitu berhenti bertengkar, nasionalisme, belajar melayani. Ketiga hal ini sudah menjadi keseharian anggota Banser.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Saya tekan kan kepada anggota untuk belajar melayani bawahan, rekan kerja DN masyarakat," tuturnya.

Sementara itu, Ketua GP Ansor Zulfikar Damam Ikhwanto menyebutkan, diklat ini bertujuan untuk membuka wawasan baru anggotanya. Hal ini dikarenakan untuk melebarkan manfaat dari Banser untuk masa depan.

"Selama ini Banser hanya jaga parkir dan pengajian, setelah selesai diklat ini maka tugasnya bertambah lagi," paparnya.

Zulfikar mengingatkan bahwa tujuan Banser didirikan yaitu mengawal semua program GP Ansor, NU dan hal yang berkaitan dengan kebutuhan orang banyak. Ia juga menambahkan jika Banser dituntut aktif dalam setiap kegiatan masyarakat dan tanggap dengan keadaan sekitar.

"Ke depan kita akan buat banyak pelatihan dan diklat lagi buat anggota, kalau perlu kita bentuk Densus 99 pengusir terorisme," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nasional, Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 16 Desember 2017

Bupati Brebes Gelar “Sajadah” Ramadhan

Brebes,Rohis Tegal - Rohani Islam. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menggelar Silaturahmi Jelajah Desa Hebat (Sajadah) di bulan Ramadhan 1436 Hijriyah. Kegiatan tahunan di bulan Ramadhan ini dilakukan sebagai upaya mendekatkan diri antara ulama dan umaro serta umat.

Bupati Brebes Gelar “Sajadah” Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Gelar “Sajadah” Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Gelar “Sajadah” Ramadhan

Masjid Al Furqon Desa Salem Kecamatan Salem menjadi tempat perdana gelaran Sajadah Ramadhan 1436 H yang juga dihadiri Dandim 0713 Letkol Inf Efdal Nazra, Pengadilan Negeri Brebes Yoserizal,SH.MH, Kepala Kantor Kementerian Agama Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI, para Kepala Dinas di Lingkungan Pemkab Brebes dan pejabat lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Brebes memuji semangat umat Islam dalam membangun kerohanian Islam. Seperti membangun masjid, madrasah, dan pembangunan sarana peribadatan lainnya. “Pemerintah hanyalah memberikan dana stimulant saja,” ujar Idza.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bupati juga menjelaskan tertangguhnya pencairan dana hibah karena sedang menunggu kejelasan dari UU No 32 tahun 2014 tentang Pemerintah Kabupaten soal dana hibah dan bansos.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Disebutkan dalam pasal 298 ayat 5, bahwa yang berhak mendapatkan dana hibah antara lain badan, lembaga, dan organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia. “Sementara belum bisa kami cairkan karena menunggu kejelasan badan, lembaga dan ormas yang berbadan hukum Indonesia,” terangnya.

Dibagian Kesra Setda Brebes, lanjutnya, sudah ada usulan sebesar Rp 4,3 Milyar yang diusulkan oleh 336 lembaga di Kabupaten Brebes. Namun belum bisa dicairkan karena belum ada lampiran yang berbadan hukum Indonesia. “Membelanjakan uang rakyat, uang Negara harus sesuai dengan aturan sehingga sama-sama sah dan tidak melanggar hukum. Kami harap yang mengusulkan dana hibah dan bansos untuk bersabar dulu,” tandasnya.

Bupati juga mengajak kepada umat Islam untuk mengantarkan anak-anaknya menjadi anak yang saleh saleha. Berbagai upaya harus ditempuh untuk mengantarkan anak-anak kita menjadi anak yang saleh saleha. Termasuk harus menempuh pendidikan formal, informal maupun non formal. “Pendidikan madrasah, juga jangan sampai ditinggalkan,” ajaknya.

Bupati juga menyerahkan bantuan sembako kepada masyarakat kurang beruntung secara simbolis kepada 10 orang jamaah. Juga menyerahkan bantuan Quran, Ruku dan Mukenah kepada Pengurus Masjid Al Furqan agar bisa digunakan para jamaah.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Salem KH Kholid Nawawi dalam ceramah agamanya menyoroti tentang makin menurunnya aktivitas anak-anak mengaji. Kegiatan mengaji di mushola, masjid atau rumah kiai sedikit sepi. Hal ini terjadi karena mereka tergiur oleh perkembangan teknologi komunikasi dan siaran televisi. “Anak-anak lebih tergiur oleh Hape ketimbang tasbeh, televise dari pada ngaji, nyanyian dari pada nadhoman,” tutur Kiai Kholid yang juga Ketua MWC NU Salem.

Dia mendesak kepada para pemangku kebijakan di tingkat Kabupaten untuk membuat peraturan yang bisa meningkatkan gairah anak-anak menggemari ngaji. Seperti pembatasan jam menonton televisi, pemanfaatan hape dan kebiasaan-kebiasaan yang menyita waktu namun kurang bermanfaat.

Juga pentingnya peran orang tua untuk mendorong dan mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan demi masa depan anak kelak. “Kita perlu kerja sama yang apik dan guyub untuk menyelematkan generasi muda dari pengaruh negative globalisasi,” pungkasnya. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Daerah, Syariah Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 13 Desember 2017

Menteri Agama Sayangkan Perilaku Destruktif Mahasiswa

Ternate, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sesuai nama yang disandangnya, Menag Lukman Hakim Saifuddin berharap mahasiswa dapat mencerminkan ke-maha-annya di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Mahasiswa yang juga merupakan intelektual muda penerus bangsa harus dapat membuktikan bahwa dirinya tampil berbeda dengan pemuda yang tidak mengenyam pedidikan.?

Menteri Agama Sayangkan Perilaku Destruktif Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama Sayangkan Perilaku Destruktif Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Agama Sayangkan Perilaku Destruktif Mahasiswa

Kepada para dosen IAIN Ternate, Menag Lukman menitipkan para mahasiwa untuk dididik dan dibina, agar menjadi cendekia dan lulusan yang baik, bagi agama nusa dan bangsa. Pesan ini disampaikan Menag saat bersilaturahmi ke IAIN Ternate usai memantau UN di MTsN dan Pembinaan ASN Kemenag Maluku Utara di Pulau Sofifi, Selasa (10/5).

Dalam kesempatan itu, ? Menag menyempatkan diri berkeliling lingkungan kampus untuk melihat kondisi bangunan gedung yang ada. Melewati ? asrama mahasiswa, ? sontak Menag bertanya kepada mahasiswi yang berkerumun ingin menghampirinya. “Sudah berapa tahun tinggal di asrama?” tanya Menag. “Dua tahun Pak Menteri,” jawab mereka serempak.

“Apa kendalanya tinggal di asrama? Ada masalah?” tanya Menag lagi. “Tidak ada Pak, tidak ada masalah,” jawab mahasiswa sembari tertawa bersama Menag.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Tidak mungkin dalam hidup ini, tidak ada masalah. Rajin dan tekunlah dalam belajar,” pesannya seperti diberitakan situs kemenag.go.id.

Menag mengaku sedih, ? melihat mahasiswa ? demo sampai merusak fasilitas kampus yang sudah dibangun dengan susah payah. “Kita adalah kaum elit, kaum terdidik, siswa yang maha, maka dari itu, kita tidak sama dengan mereka yang tidak terpelajar, bukan mahasiswa,” kata Menag.

Menurut Menag, mahasiswa harus lebih pandai memeperjuangakn aspirasi. Sebab kekuatan mahasiswa terletak pada nalar atau logikanya. ? “Perjuangkan apa yang menjadi aspirasi, bangun dengan cara diskusi, bangun komunitas-komunitas publik, perjuangkan dengan bersama tanpa ada tindakan yang destruktif,” paparnya.

Sebelumnya, Rektor IAIN Ternate Abd Rahman I Marasabessy menyampaikan bahwa IAIN Ternate ? menjadi perguruan tinggi agama pertama di Ternate. Berdiri sejak 1966, IAIN Ternate kini sudah memiliki lulusan yang banyak bekerja di Kementerian Agama, khususnya di Maluku Utara. (Red: Fathoni)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 09 Desember 2017

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam

Departemen Agama (Depag) meminta tambahan anggaran Rp 46 miliar untuk pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan untuk keperluan musim haji tahun ini. Anggaran itu untuk melengkapi total anggaran yang direncanakan sebelumnya yakni Rp 106 Miliar.

"Setelah mendapat laporan dari Depkes, Depkes menyatakan dana itu (Rp 106 Miliar) masih kurang. Kami meminta persetujuan DPR untuk merevisi anggaran sebanyak Rp 46 miliar," pinta Menteri Agama Maftuh Basyuni, dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (17/5).

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)
Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007 (Sumber Gambar : Nu Online)

Depag Minta Tambahan Rp 46 M untuk Musim Haji 2007

Angka itu, menurut Maftuh, akan dipergunakan untuk perbaikan pelayanan kesehatan, seperti halnya menyewa ambulans dan rujukan ke rumah sakit di embarkasi. Selain itu, juga untuk kegiatan pendukung operasional kesehatan di Tanah Air. "Kami ingin memberikan yang terbaik. Jika masih perlu kami harus meminta lagi," terangnya.

Namun demikian, DPR tidak langsung mengangguk setuju. Anggota DPR Komisi VIII menyorot efektifitas penambahan anggaran itu.

"Anggaran itu kan sudah di Depkes. Itu sudah ada. Kenapa Depag juga ikut minta. Lagian, dari rincian kebutuhan kok nggak ada yang nyambung dengan kesehatan," seloroh pimpinan Komisi VIII DPR Farhan Hamid.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam rancangan revisi itu, Menag menginventarisir kebutuhan di luar pos kesehatan, seperti yang disinyalir Farhan. Antara lain untuk penyusunan rancangan peraturan pemerintah sebagai pelaksana UU Haji, pengelolaan aset Ditjen Haji di pusat dan daerah, serta peningkatan SDM pengelola Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).

Sementara itu, tim khusus pencari penginapan bagi jamaah haji Indonesia terus bekerja. Hingga Rabu, 16 Mei 2007, tim bentukan Depag itu telah merampungkan 70 persen dari jumlah kebutuhan total 210.000 jamaah haji.

"Sampai tanggal 14 Mei, tim kami bekerja hingga 65 persen atau masih kurang 63.000 jamaah. Ini kami baru dapat laporan hingga hari ini, telah mencapai 70 persen atau kurang 60.000 jamaah lagi," kata Maftuh.

Ribuan pemondokan itu tersebar di berbagai wilayah seperti yang terbanyak di Misfalah (36.572 jamaah) dan Bahutmah. Keduanya berada di Mekah. Pemondokan itu diperlukan bagi jamaah haji Indonesia yang meningkat 5.000 jamaah dari tahun-tahun sebelumnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Kami harap tim dari Depag memperhatikan persoalan penginapan. Harus benar-benar yang terbaik, jangan jauh dari Masjidil Haram ataupun tidak memakai lift dan AC," ujar salah satu anggota DPR Zulkarnaen Jabar menanggapi pemaparan Menag. (rif/dtc)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 04 Desember 2017

Tiga Orang Ini Wajib Zakat Fitrah

Sebentar lagi Ramadhan akan berakhir. Itu artinya kewajiban zakat fitrah pun harus disegerakan. Penyerahan zakat paling lambat ialah sebelum shalat ‘Id diselenggarakan. Bila dilakukan setelah shalat ‘Id, maka zakat yang diserahkan dinilai sebatas sedekah biasa. Maka dari itu, segerakanlah membayar zakat sebelum temponya abis.

Ibadah zakat memiliki aturan dan ketentuan yang harus dipenuhi. Tidak semua orang diwajibkan untuk berzakat. Andaikan semuanya, tentu ini sangat memberatkan. Oleh sebab itu, penting kiranya untuk mengetahui siapa saja orang yang diwajibkan membayar zakat fitrah. Muhammad bin Qasim Al-Ghazi dalam Fathul Qarib menyebut tiga kelompok yang wajib atas mereka membayar zakat fitrah. Ketiga kelompok yang dimaksud ialah:

Tiga Orang Ini Wajib Zakat Fitrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Orang Ini Wajib Zakat Fitrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Orang Ini Wajib Zakat Fitrah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Artinya, “Pertama, Islam dan tidak ada kewajiban zakat bagi orang kafir, kecuali budak dan kerabat Muslim dari orang kafir tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kedua, mereka masih diberi kehidupan hingga matahari terbenam pada akhir Ramadhan. Karenanya,? bila ada yang meninggal setelah terbenam matahari, ia masih dikenakan kewajiban zakat. Hal ini berbeda dengan anak yang lahir setelah terbenam matahari, dia tidak diwajibkan zakat.

Ketiga, dia memiliki kemudahan dan kesanggupan, atau memiliki makanan pokok yang melebihi dari kebutuhannya dan keluarganya pada hari tersebut, maksudnya pada saat hari Raya atau malamnya.

Setiap orang diwajibkan membayar zakat serta membayar zakat orang yang masih menjadi tanggungannya. Mereka tidak diwajibkan membayar zakat budak, saudara, dan istri yang kafir, sekalipun menjadi tanggungannya. Seseorang wajib menanggung zakat dirinya dan orang yang wajib dinafkahi. Seseorang tidak wajib membayarkan zakat fitrah budak, kerabat, dan istrinya yang kebetulan beragama di luar Islam sekalipun mereka wajib dinafkahi.”

Jadi ada tiga orang yang diwajibkan zakat: beragama Islam, masih hidup pada saat matahari terbenam, dan memiliki kelebihan makanan pokok pada saat hari raya dan malamnya. Kewajiban zakat fitrah tidak hanya berlaku untuk diri sendiri, tetapi kita mesti membayarkan zakat orang yang menjadi tanggungan kita, seperti anak dan istri.

Bagi siapa yang merasa memenuhi tiga persyaratan ini, bayarlah zakat dengan segera. Pembayaran zakat bertujuan untuk menyucikan diri orang yang puasa dan sekaligus momen untuk berbagi dengan sesama, terutama orang miskin. Jangan sampai pada hari berbahagia itu, masih ada saudara kita yang tidak dapat menikmati kebahagiaan hari raya karena masalah finansial. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 01 Desember 2017

Pelajar NU Sorong Perlu Perhatian Khusus

Sorong, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ketua PCNU Sorong, Papua Barat Nahrowiyanto menyatakan IPNU-IPPNU Sorong memerlukan perhatian khusus terutama perihal kaderisasi. Ia menyoroti tepatnya pada minusnya fasilitator kaderisasi yang mumpuni.

Pelajar NU Sorong Perlu Perhatian Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sorong Perlu Perhatian Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sorong Perlu Perhatian Khusus

Nahrowiyanto memaklumi kekurangan demikian mengingat keberadaan IPNU-IPPNU di Indonesia bagian timur. Keterbatasan jarak ini menjadi satu dari sekian banyak faktor.

“Minimnya fasilitator menjadi ‘PR’ berat pengurus baru IPNU-IPPNU Sorong untuk mengimplementasikan proses pengaderan yang sistematis,” terang Nahrowiyanto saat sambutan konfercab III IPNU-IPPNU Sorong di gedung LPTQ, Ahad (16/2).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Nahrowiyanto meminta PP IPNU dan PP IPPNU untuk menyentuh langsung pelajar NU Sorong dan membenahi kinerja organisasi melalui berbagai diklat kader.

Dengan segala keterbatasan, ia mengharapkan pengurus baru PC IPNU-IPPNU Sorong melahirkan pemimpin amanah, mandiri, dan bertanggung jawab dengan prinsip belajar, berjuang, dan bertakwa. (Zaenal Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam Anti Hoax, Olahraga, Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock