Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Kiai Ronggo Pembabat Alas Kota Kraksaan Probolinggo

Probolinggo, Rohis Tegal - Rohani Islam. Kraksaan adalah Kiai Ronggo. Nama orang dan wilayah ini memang berbeda. Namun, keduanya saling berkaitan erat. Dalam pandangan masyarakat Kraksaan, sosok Kiai Ronggo adalah tokoh yang merintis sejarah berdirinya Kota Kraksaan.?

Kiai Ronggo Pembabat Alas Kota Kraksaan Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Ronggo Pembabat Alas Kota Kraksaan Probolinggo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Ronggo Pembabat Alas Kota Kraksaan Probolinggo

Tidak heran jika pesarean Kiai Ronggo di Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo kerap diziarahi warga. Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari juga secara rutin ziarah ke sana.

Menuju Pesarean atau tempat peristirahatan terakhir Kiai Ronggo tidaklah sulit, hanya membutuhkan 10 hingga 15 menit dari pusat Kota Kraksaan. Sesampainya di sana, tidak banyak yang membedakan dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU) lainnya. Hanya sebuah makam dengan gapura yang baru selesai diperbaiki. Di tempat 2x4 meter itu pula banyak orang luar Probolinggo yang mulai berdatangan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Setiap malam Jumat legi, makam tersebut dibanjiri peziarah. “Kegiatannya hanya mengaji, tahlil dan lainnya, intinya mendoakan Kiai Ronggo,” kata juru kunci pesarean Kiai Ronggo, Halimah, Jum’at (17/4).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sepanjang mata melihat, makam Kiai Ronggo atau dengan nama asli KH Abdul Wahab itu paling istimewa. Hal itu lantaran makam Kiai Ronggo tersebut merupakan tokoh terpenting sepanjang keberadaan Kota Kraksaan. Tak ayal pemerintah setempat memperbaiki kuburan tersebut. Bahkan, mantan Bupati Probolinggo yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI H Hasan Aminuddin sering berziarah ke makam tersebut.

Namun sayang, Halimah tidak begitu mengetahui sosok tokoh Kiai Ronggo, sebab ia mengaku hanya bertugas menjaga makam. “Kalau soal itu kami tidak begitu tahu betul, hanya sosok Kiai Ronggo ini dikenalnya yang babat alas Kraksaan, jadi orang pertama,” katanya.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Kontributor Rohis Tegal - Rohani Islam Probolinggo, di Kota Kraksaan masih ada keturunan dari Kiai Ronggo. Salah satunya adalah H Jarot. Setelah ditemui di kediamannya, H Jarot yang keturunan kelima dari Kiai Ronggo juga mengaku tidak begitu paham dengan kisah nenek moyangnya tersebut.

Itu karena menurutnya, dari kakek dan saudara lainnya memang minim sekali informasi tentang Kiai Ronggo. “Banyak yang sudah datang kesini dengan hal yang sama, tapi saya katakan informasi yang kami terima dari keluarga memang sangat minim. Kebanyakan cerita dari orang lain,” katanya.

Setahu H Jarot, nama Kiai Ronggo sendiri diambil dari kata Ronggo atau duduk. Hal semacam ini merupakan salah satu gelar pada seseorang yang pertama kali membuka atau membabat alas pada awal mulanya.

Namun yang pasti, nama asli Kiai Ronggo adalah Abdul Wahab alias Wiryo Setyo. Pemberian gelar Kiai Ronggo bukannya tanpa alasan. Menurut H Jarot yang diceritakan kakeknya semasa hidup, Kiai Ronggo kerap kali mengamalkan ajaran Islam dengan mendirikan mushalla di desa-desa sekitar Kraksaan.

Peninggalannya yang paling tampak adalah Masjid Agung Ar-Raudlah yang didirikannya pada tahun 1734 M silam. Sejumlah 4 tiang di ruang utama dan bedug lama, juga peninggalan Kiai Ronggo. “Itu salah satu peninggalan penting beliau,” katanya.

Bedug peninggalan Kiai Ronggo itu dibuat dari bahan kayu yang diambil dari Pakuniran. Kayu-kayu itu dibawa langsung oleh santrinya. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan bedug itu mencapai 2 bulan. “Yang kami terima informasinya seperti itu. Tapi sejauh ini belum ada bukti autentik soal itu,” ungkapnya.

H Jarot mengaku sangat senang jika leluhurnya tersebut menjadi perhatian orang. Namun ia berpesan pada masyarakat agar tidak menyalahgunakan nama baik Kiai Ronggo. Termasuk ketika berdoa di makam Kiai Ronggo. “Berdoa jangan bablas. Karena pada dasarnya Allah-lah yang menentukan semuanya,” tandasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

?

Foto:? Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan yang didirikan Kiai Ronggo pada tahun 1734 M.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hadits, Habib Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 31 Januari 2018

KH Lukmanul Hakim: Tanda Kewalian Ada Pada Gus Dur

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ahli Tasawwuf Dr KH Lukmanul Hakim menilai tanda-tanda kewalian ada pada diri Gus Dur, yaitu tidak memiliki rasa takut dan susah. Gus Dur merupakan orang yang dikenal memiliki keberanian dalam menghadapi segala sesuatu, dan tahan dalam menghadapi berbagai penderitaan.

“Semoga yang kita khusnudhonkan benar,” katanya.

KH Lukmanul Hakim: Tanda Kewalian Ada Pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Lukmanul Hakim: Tanda Kewalian Ada Pada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Lukmanul Hakim: Tanda Kewalian Ada Pada Gus Dur

Seorang wali, kata pemimpin redaksi majalah Cahaya Sufi ini, merupakan orang yang mengabdikan dirinya kepada Allah. Mereka bukanlah orang yang mencari pahala dengan beribadah kepada manusia agar dicintai Allah. Allah yang menjadi pertimbangan utama dalam hidupnya, bukan kesan dan pendapat manusia.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Cintanya kepada Allah mendahului kepeduliannya kepada manusia. Mereka memposisikan Allah sebagai sebab, bukan akibat,” terangnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mengenai karomah, ia menjelaskan bahwa bagi para wali, munculnya karomah dianggap sebagai haidnya para wali, dan membuat mereka malah takut.

“Karomah dimunculkan kepada seorang wali kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Salah satu tujuannya agar tetap istikomah,” paparnya.

Ia menjelaskan, ada perbedaan antara karomah dan ilmu hikmah. Kalau karomah bisa muncul kapan saja tanpa perlu dipelajari. Ilmu hikmah bisa dipelajari, misalnya dengan melaksanakan amalan wirid tertentu, dengan jumlah tertentu, maka akan bisa melakukan sesuatu yang terlihat luar biasa.

“Yang tahu itu karomah atau ilmu hikmah, ya Allah, orang itu sendiri, dan orang lain yang diberi tahu oleh Allah,” paparnya.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Daerah, Ubudiyah, Hadits Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 24 Januari 2018

Peringati Hari Ibu, Fatayat Gelar Lomba Anak dan Seminar

Kudus, Rohis Tegal - Rohani Islam. Dalam rangka memperingati hari Ibu dan Maulid Nabi Muhammad SAW PC Fatayat NU kabupaten Kudus menggelar Lomba Anak-anak; Fashion Show dan Baby Dancing di SMP NU Al-Ma’ruf Kudus, Ahad (28/12) serta Seminar dan pemeriksaan kanker serviks, di Ranting Karang Bener kecamatan Bae, Rabu (31/12).

Karyati Inayah, Ketua Fatayat NU Cabang Kudus menjelaskan kegiatan dilaksanakan untuk memperingati hari Ibu dan maulid Nabi Muhammad SAW.

Peringati Hari Ibu, Fatayat Gelar Lomba Anak dan Seminar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Ibu, Fatayat Gelar Lomba Anak dan Seminar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Ibu, Fatayat Gelar Lomba Anak dan Seminar

Ibu dan anak bagi Karyati perlu direkatkan. Sehingga, kegiatan tidak lepas dari keduanya. “Anak-anak sejak dini harus ditanamkan kecintaannya kepada Nabi Muhammad,” terangnya saat dihubungi via telepon.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ditambahkan perempuan asal desa Karang Malang kecamatan Gebog kabupaten Kudus itu menyintai Nabi bisa dilakukan dengan banyak hal. Diantaranya dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan Fatayat. “Apalagi kegiatan digelar bersamaan dengan libur sekolah,” tambah Karyati kepada Rohis Tegal - Rohani Islam.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dengan kegiatan itu anak-anak lanjutnya akan tumbuh keberanian, kreativitas dan pembentukan karakter sejak dini.

Disamping lomba untuk anak-anak PAUD dan RA pihak Fatayat masa khidmah 2012-2017 sudah melaksanakan 3 kali seminar dan pemeriksaan kanker serviks bekerjasama dengan Yayasan Peduli Kanker Indonesia (YPKI).

Kegiatan seminar merupakan program bidang kesehatan Fatayat NU Kudus. Melalui kegiatan aktivis Fatayat akan mendapat sosialisasi dan pengarahan. “Harapannya kader Fatayat sejak dini mencegah terjadinya penyakit kanker serviks. Sehingga ibu-ibu muda sehat secara lahiriyahnya,” harapnya. (syaiful mustaqim/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hadits, Aswaja Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 19 Januari 2018

Doa agar Tetap Tegar ketika Upaya Gagal

Manusia hanya bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan. Ungkapan ini senapas dengan ajaran Islam yang di satu sisi manusia diimbau untuk senantiasa berusaha dalam meraih cita-cita. Tapi di sisi lain diperintahkan pula untuk berpasrah diri kepada Allah soal hasil dari usaha tersebut. Sikap ini merupakan sebuah kesimbangan (tawazun) yang menjauhkan seorang hamba dari perilaku terlalu mengandalkan dirinya sendiri lalu melupakan campur tangan Tuhan di dalamnya.

Rasulullah SAW bersabda:

Doa agar Tetap Tegar ketika Upaya Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa agar Tetap Tegar ketika Upaya Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa agar Tetap Tegar ketika Upaya Gagal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ?

Artinya, "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah, dan keduanya mengandung kebaikan. Berupayalah maksimal untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah merasa tak berdaya. Apabila engkau tertimpa musibah, jangan katakan ‘Seandainya aku berbuat begini, tentu akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah, ‘Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki’, karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan setan," (HR Muslim).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hadits di atas menyiratkan pesan tentang pentingnya bersikap tegar, optimistis, tidak berpikir mundur, dan tidak cengeng, dengan mengembalikan urusan kepada Allah. Ketika seseorang mengalami kegagalan atau peristiwa yang tidak seperti yang didambakan, sepatutnya mengucapkan:

? ? ? ? ?

Qaddarallâhû wa mâ syâ-a fa‘ala

Artinya, "Allah telah menentukan takdirnya dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki."

(Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Doa, PonPes, Hadits Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 15 Januari 2018

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan

Way Kanan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ratusan warga Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Way Kanan di Lampung menangis haru mendengar Puja Adelia (5) Binti Juharmin (almarhum) dari Kampung Jukubatu Kecamatan Banjit menyanyikan lagu kerinduan seorang anak kepada bapaknya pada kegiatan santunan anak yatim piatu.

"Ayo bersama alim ulama. Salah satu perilaku alim ulama ialah menyantuni anak yatim seperti genduk (anak perempuan kecil) yang tadi menyanyi dan membuat nangis mbrebes mili (menangis tersedu), itu pahalanya besar," ujar Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Soleh Bajuri di Banjit, Way Kanan yang berada sekitar 220 km sebelaha Kota Bandarlampung, Selasa (4/11).

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyanyian Anak Yatim Harukan Warga NU Way Kanan

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan Lampung, menyantuni 74 anak yatim piatu di daerah tersebut. Dana dari donatur yang dibagikan oleh Paimo, Ketua MWC NU Banjit Rp7 juta lebih.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Setelah penyerahan santunan itu, Puja dipersilakan pembawa acara naik ke panggung untuk menyanyi di hadapan sekitar 2.000 hadirin. Ratusan jamaah, kaum ibu dan laki-laki terpantau menyeka air mata dengan sapu tangan dan tisu mendengar syair-syair kerinduan anak kecil terhadap bapaknya.

Tak seberapa lama, puluhan ibu-ibu berbondong-bondong menuju panggung, menyantuni Puja dan menciumi pipi gadis kecil yang meneteskan air mata itu.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Selain Paimo, Asmazi Ketua Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Kecamatan Kasui juga terpantau meneteskan air mata.

"Saya terharu mendengar anak kecil yang kehilangan ayahnya menyanyi. Saya kira kita tadi bersama-sama belajar mengenai takdir yang harus diterima saat mendengar lagu tadi," ujar Asmazi.

Pada kegiatan memperingati Tahun Baru Islam 1436 Hijriah bertema "Kita Susun Hati Yang Sama Lewat Cahaya Alim Ulama, Santuni Yatim Hindari Dusta Agama" itu, terkumpul infak Rp4 juta lebih.

Hadir pada kegiatan itu Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda, Direktur Program Ansor Digdaya (mendidik Generasi Memberdayakan Masyarakat) Heri Amanudin dan sejumlah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). (Gatot Arifianto/Mahbib)

Foto: Puja Adelia menyanyikan lagu kerinduan anak yang kehilangan ayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hadits, Kajian, Olahraga Rohis Tegal - Rohani Islam

Hari Raya Kurban, Hari Meratakan Santunan

Oleh KH Saifuddin Zuhri?



Pada hari Ahad sehabis sarapan pagi, jika tidak mempunyai aeara khusus saya senang mengikuti siaran Radio Atthahiriyah (di bawah asuhan KH Thohir Rahili) atau Radio Assyafi’iyah (di bawah asuhan KH Abdullah Syafi‘i) atau Radio Eindrawasih (diasuh oleh anak buah KH Syukron Makmun). Radio-radio yang saya sebut namanya di atas tadi sejak sepuluhan tahun yang lalu mempunyai tugas (barangkali yang terpenting ialah) untuk menyiarkan seeara langsung jalannya pengajian umum umat Islam (Majlis Ta’lim) yang dipimpin oleh para ulama kenamaan di Jakarta. Anak-anak muda (umumnya mahasiswa dan pelajar) menangani teknik penyiaran radio untuk mengumandangkan majlis ta‘lim berikut pesan-pesan para ulama dan tokoh-tokoh umat Islam lainnya. Suatu kerja sama kebajikan antara yang tua-tua dengan yang muda-muda, antara guru-guru dengan para santrinya.?

Pagi Ahad yang baru lalu, melalui siaran Radio Atthahiriyah saya mengikuti sebuah pesan penting dan seruan yang tengah disampaikan dalam gaya dan bahasa "khas Betawi" yang koeak: dan akrab. Memperhatikan tekanan suaranya dan eara pengungkapannya, saya menerka balm pembicaranya mirip-mirip KH Abdurrahman Nawi, salah seorang muballigh kita yang "laris" di Jakarta. Ternyata dugaan saya benar. Pembicara tersebut ialah KH Abdurrahman Nawi.?

Hari Raya Kurban, Hari Meratakan Santunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Raya Kurban, Hari Meratakan Santunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Raya Kurban, Hari Meratakan Santunan

Berkata KH Abdurrahman Nawi:?

”Kita ini insyaallah bakal menghadapi ldul Adha tak lama lagi tinggal beberapa hari lagi. ldul Adha atau ldul Kurban juga disebut Idul Akbar. Artinya, bahwa Hari Raya Adha atau Hari Raya Kurban itu ialah Hari Raya paling besar. Kedudukannya tidal: kalah penting dari pad: ldul Fithri kalau tidal: bolelt dikatakan lebih besar.?

”Tapi umumnya klta-kita ini kurang menghargai Idul Adha, jauh sekali bila dibanding dengan penghargaan kita kepada Idul Fitri. Kalau ldul Fitri diibaratkan sebagai seorang tamu agung, maka Idul Adha juga seorang tamu agung, kalau tidak boleh dikatakan lebih agung.

Rohis Tegal - Rohani Islam

”Aneh, umumnya kita ini mendiskreditkan Idul Adha. Berbeda jauh dibanding dengan cara menghormati Idul Fitri yang kita perlakukan sebagai seorang tamu agung yang paling diharapkan kedatangannya dan sebab itu kita muliakan setinggi-tingginya. Maka ldul Adha kita anggap seolah-olah cuma seorang tamu yang langganan datang tiap hari, cukup kita temui hanya dengan memakai kaos oblong . . . !”?

Sebuah kritik bergaya kocak yang tepat sekali dikemukakan oleh KH Abdurrahman Nawi. Tujuan beliau tentulah agar kita lebih menyemarakkan keagungan Idul Adha sesuai dengan namanya, Idul Akbar. Kalau bukan umat Islam, siapakah yang harus menyemarakkan kebesaran dan keagungan Idul Akbar? Orang lain tidak bakalan merayakan Idul Adha apalagi membuatnya menjadi semarak!?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ini bukan sekedar menyangkut syi’ar Islam, tetapi lebih dari itu. Menyangkut langsung pelaksanaan syari’at Islam, kultur Islam, dan syi’ar Islam. Idul Adha bukan sekadar hanya sebutan. Bukan cuma sekadar nama!?

***

Idul Adha, juga disebut Idul Kurban. ’Id, artinya hari raya. Adha, artinya ternak sembelihan (dlahaya, adlhiyyah). Dengan demikian maka Idul Adha berarti: hari raya untuk menyembelih binatang ternak. Adapun tujuan penyembelihan ternak itu untuk mencapai martabat dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (kurban). Maka itu Idul Adha juga disebut Idul Kurban yang artinya: hari raya untuk memanifestasikan usaha memperdekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memperdekatkan diri dengan jalan menyembelih binatang ternak pada hari Idul Adha (10 Zulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11, 12, 13 Zulhijiah).?

Kitab-kitab fiqih telah mengatur cara pelaksanaan Idul Adha. Berbeda dengan Idul Fitri yang shalat idnya dikerjakan setelah menunaikan kewajiban zakat fitrah, maka shalat Idul Adha dikerjakan sebelum menyembelih binatang ternak. Adapun waktu penyembelihan ternak itu demikian longgar, mulai setelah selesai shalat Idul Adha hingga 3 hari Tasyriq berturut-turut sebelum terbenam matahari di hari Tasyriq terakhir.?

Ternak yang disembelih (domba-kambing, lembu, kerbau, onta) mestilah yang berkualitas baik. Kecuali karena telah berumur dewasa (domba atau kambing telah berusia 1-2 tahun, lembu telah berusia 2-3 tahun), juga binatang ternak itu yang pilihan. Tidak kurus, tidak kurapan, tidak cacat anggota badannya (tidak buta meski sebelah matanya, tidak putus telinga maupun ekornya, tidak pineang meski sebelah kakinya pun).?

Menyembelih binatang ternak bagi orang Islam pria maupun wanita memang tidak wajib, tidak sebagaimana menunaikan zakat fitrah. Mengorbankan ternak itu sunnah-muakkad hukumnya, artinya: meskipun cuma sunah, tetapi amat dianjurkan atau ditekankan untuk diindahkan. Yaitu bagi siapa saja yang mampu mengorbankan binatang ternak, entah domba entah lembu atau kerbau, bagi siapa saja yang merasa berkecukupan. Ukuran jika mempunyai sisa belanja lebih untuk 4 hari (Idul Adha dan hari-hari Tasyriq). Memang, ukurannya jadi amat relatif. Di sinilah kejujuran seseorang terhadap diri sendiri diuji!?

Apakah dia mampu untuk menyembelih korban meski hanya seekor kambing, dua ekor, tiga ekor hingga 7 ekor (sama dengan l ekor lembu), orang yang bersangkutanlah lebih tahu tentang kadar kemampuannya. Iman dan taqwanyalah yang memimpin kesadarannya, bahwa sejumlah uang seharga ternak yang dikorbankan tidaklah hilang dengan sia-sia. Baik menurut ukuran nilai moral maupun mental (bahkan nilai materialnya pun) pasti sangat menguntungkan dirinya. Perbuatan demikian termasuk melaksanakan taqwa. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, ia akan memperoleh jalan keluar dari kesulitannya, ia akan memperoleh rezeki dari-Nya secara tidak tersangka-sangka. Demikianlah firman Allah dalam Al-Qur’an.?

Memang tidaklah wajib, hanya sunah muakkadah. Tetapi Junjungan Besar Nabi Muhammad Shallallaahu ’Alaihi Wasallam telah bersabda: ? ”Man kaana lahu sa’atun wa lam yudlahhi falaa yaqrobanna mushallaanaa.” (barangsiapa mempunyai kelapangan rezeki, tetapi tidak melakukan korban ternak, maka janganlah sekali-kali menghampiri tempat shalat kami ini).?

Demikianlah sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Shahabat Abu Hurairah menurut Imam Ahmad dan Ibnu Majah dan lain-lain.?

***?

Sebagai hari raya, Idul Adha bukan sekadar peristiwa rohani dalam hubungan manusia dengan Al-Khaliq. Tetapi meskipun menjadi hamparan untuk mendekatkan diri kepada-Nya (hingga bernama Idul Kurban), Idul Adha mengandung pola sosial, persaudaraan dan seperasaan sepenanggungan (solidaritas). Dengan lain perkataan, Idul Adha menghubungkan ikatan hablun minallah dan hablun minannaas (tali pengikat dalam hubungan denga Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan dalam hubungan dengan sesama umat manusia).

Maka sejarah peradaban Islam (temasuk di Indonesia) sejak berpuluh abad telah menancapkan Idul Adha menjadi salah satu budaya Islam yang diresapi hikmah dan manfaatnya oleh generasi demi generasi. Idul Adha mengabi peranan sangat positif di dalam meratakan santunan di antara sesama umat Islam yang kaya maupun yang miskin, ulama manpun santri, pemimpin maupun golongan awam.?

Berbeda dengan zakat fitrah yang harus dinikmati oleh para fakir miskin dan sang pemberi zakat fitrah sama sekali tidak boleh turut menikmatinya, maka ternak penyembelihan (kurban) boleh dinikmati oleh sang pemberi kurban sekadarnya. Kecuali jika kurban itu bersifat kaul (nadzar) maka pengurban tidak boleh turut menikmati daging sembelihan kurban itu, sebagaimana digariskan oleh fiqih Islam: wa laa ya’kulu al-mudlahhi syaian minal adlhiyyati al-manzurati (pengurban tidak boleh ikut makan daging sembelihan yang dilakukan karena nadzar).?

Demikianlah, maka santunan yang diratakan oleh Idul Adha dirasakan juga oleh orang-orang kaya meskipun yang melakukan kurban binatang ternak. Hukum persamaan hak bagi yang kaya dan yang miskin. Bagi orang-orang fakir miskin sudah jelas mendatangkan kegembiraan karena memperoleh santunan. Dan bagi orang kaya pun akan tergugah hatinya bahwa orang yang memperoleh santunan adalah menikmati kegembiraan. Meskipun orang kaya senang juga mendapat bagian santunan, apalagi mereka yang miskin.?

Inilah faktor ikatan persaudaraan sesama orang Islam. Apakah ia orang kaya, berkedudukan tinggi, berkuasa, ataukah ia orang miskin dan awam, oleh Islam mereka itu dipertalikan sebagai satu saudara. Dari ikatan persaudaraan akan ditanamkan sikap setia kawan dan rasa sepenanggungan (solidaritas).?

Contoh-contoh dalam Islam banyak sekali mendidik umatnya untuk menggalang persatuan, persaudaraan, dan persamaan sikap. Shalat Jum’at, shalat Idul Fitri/Idul Adha, tidak bisa dilangsungkan tanpa jama’ah (persatuan) di bawah pimpinan imam. Pelajaran yang diberikan oleh ibadah puasa Ramadhan dan ibadah Haji (wuquf) jelas sekali mendemonstrasikan solidaritas sesama umat Islam. Adapun tujuan berzakat adalah untuk menyantuni sesama saudaranya dalam Islam atas dasar solidaritas ukhuwah.?

Benar sekali, bahwa seseorang pada saat ia menamakan dirinya orang Islam, pada saat itu juga ia adalah anggota umat Islam!?

Pada saat seluruh dunia Islam mcnggemakan suara Takbir dan menggalang persaudaraan persatuan di Hari Raya Idul” Adha, api peperangan antara umat Islam Iraq dengan umat Islam Iran, mendekati 4 minggu. Batu ujian bagi dunia Islam!?

Peperangan antara umat Islam Iraq dan dengan umat Islam Iran, ataukah peperangan antara pemimpin-pemimpin politik kedua pihak memperebutkan popularitas, kemegahan, dan Dollars?





Pelita, 17 Oktober 1980

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hadits Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 07 Januari 2018

Gus Dur, Pembangun Kepercayaan Masyarakat Papua

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Persoalan Papua yang pertama dan utama adalah persoalan politik. Adapun permasalahan-permasalahan lain seperti ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya itu hanya bersifat sekunder. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan permasalahan Papua maka harus menggunakan pendekatan politik yang tepat.

Gus Dur, Pembangun Kepercayaan Masyarakat Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur, Pembangun Kepercayaan Masyarakat Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur, Pembangun Kepercayaan Masyarakat Papua

Demikian disampaikan Menteri Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia era Presiden Megawati, Manuel Kaisiepo, saat diskusi dengan tema Gus Dur, Papua, dan Paradigma Pembangunan di Jakarta, Rabu (26/7).

Ia menjelaskan, persoalan politik Papua tersebut setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, Integrasi Papua ke wilayah Indonesia baru terjadi pada tahun 1963. Maka dari itu, ada semacam pikiran bahwa Papua tidak mengalami perjuangan bersama dengan masyarakat Indonesia lainnya. 

Kedua, kekerasan yang terjadi pada masa Orde Baru. Manuel menyebutkan, pada zaman Orde Baru Papua diperlakukan sebagai daerah militer. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kekerasan militer yang luar biasa. Itu yang terjadi. Itu membawa penderitaan, kekecewaan yang ikut dalam alam pikiran masyarakat Papua,” urainya.

Selain itu, pembangunan yang di bumi Cendrawasih itu dinilai sangat eksploitatif terhadap alam Papua. Oleh sebab itu, berbagai perlakuan dan kekerasan yang terjadi selama masa Orde Baru membuat masyarakat Papua tidak percaya dengan pemerintah yang ada.  

Lebih jauh, Manuel mengaku sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menjadikan KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid sebagai Presiden Indonesia. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hal itu disebabkan karena Gus Dur lah yang telah membangun kepercayaan masyarakat Papua dengan kebijakan yang dikeluarkan dan pendekatan yang dilakukan Gus Dur kepada masyarakat Papua. 

Menurut dia, hal pertama yang mesti dibangun adalah kepercayaan masyarakat Papua terhadap pemerintah. Karena itu tidak dilakukan, maka apapun pembangunannya akan sia-sia. 

“Yang harus dibangun pertama-tama adalah rasa percaya. Dan tokoh dibalik trust building adalah Abdurrahman Wahid. Beliau memiliki pendekatan dengan semua orang Papua di luar jalur formal. Beliau punya nomer-nomer hp-nya,” ungkapnya.

Diantara hal yang dilakukan Gus Dur untuk membangun kepercayaan masyarakat Papua, lanjut Manuel, adalah mengganti nama Irian dengan Papua, ikut merayakan Natal di Papua, dan mengakomodir kepentingan rakyat Papua. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kyai, Habib, Hadits Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock