Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Hukum Jual Beli Buku Agama, Puisi, dan Ilmu Pengetahuan

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Rohis Tegal - Rohani Islam, kebutuhan masyarakat akan ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih, tasawuf, dan lain sebagainya tidak bisa ditahan. Oleh karena itu sejumlah pengusaha mengalirkan modalnya di bidang percetakan dan penerbitan buku-buku agama itu. Pertanyaannya, apakah pandangan agama perihal penjualan buku-buku agama ini? Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Aziz /Tangsel).

Jawaban

Hukum Jual Beli Buku Agama, Puisi, dan Ilmu Pengetahuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Jual Beli Buku Agama, Puisi, dan Ilmu Pengetahuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Jual Beli Buku Agama, Puisi, dan Ilmu Pengetahuan

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagaimana kita tahu bahwa tingkat melek agama masyarakat Indonesia kini lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Seiring dengan itu kebutuhan akan buku-buku agama itu seperti tafsir, hadits, fikih, atau kajian tematik keislaman juga tetap tinggi meski banyak juga masyarakat yang mencari informasi keislaman di dunia maya.

Secara hukum, menjual buku-buku agama tidak masalah. Selain buku-buku agama, penjualan buku-buku lain yang menjadi kebutuhan masyarakat dan tentu saja buku yang mengandung konten bermanfaat bagi mereka tidak masalah menurut syara‘. Hal ini disinggung oleh Imam An-Nawawi sebagai berikut:

Rohis Tegal - Rohani Islam

?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Ini cabang masalah) ulama kami dari kalangan Syafi‘iyah menyatakan, penjualan buku-buku hadits, fikih, bahasa, sastra, puisi yang mengandung konten mubah dan bermanfaat, buku kedokteran, buku ilmu hitung, atau buku-buku lain yang mengandung manfaat dan bersifat mubah, boleh menurut syar‘i,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Maktabah At-Taufiqiyyah, tanpa catatan tahun, juz IX, halaman 228).

Pada prinsipnya, buku-buku yang mengandung informasi penting atau membantu manusia untuk mengembangkan diri diperbolehkan. Semua buku yang bermanfaat untuk manusia secara pribadi dan secara umum boleh diperjualbelikan. Pasalnya, ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya menunjang kehidupan manusia di dunia ini.

Adapun perihal penjualan buku agama, para pengusaha tidak perlu takut dianggap menjual agama. Keberadaan mereka justru penting sebagai bagian dari dakwah agama itu sendiri.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama, RMI NU Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 12 Februari 2018

NU Surabaya Beri Penghargaan Sapta Wikrama kepada Seniman Lokal

Surabaya, Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam rangka memberikan apresiasi terhadap seni dan kebudayaan asli dari Kota Surabaya, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Surabaya memberikan Penghargaan Sapta Wikrama kepada seniman Surabaya, Kartolo dan Ida Lailia. Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian pagelaran berbagai seni di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Senin (30/5) ini, pukul 18.00 WIB.

?

Ketua Lesbumi PCNU Kota Surabaya M Hasyim Asyari menjelaskan bahwa? kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian NU terhadap kesenian asli Surabaya. Karena, katanya, beberapa kesenian dan kebudayaan tersebut sebagian masih eksis dan hanya segelintir orang dan komunitas yang merawat dan melestarikannya.

NU Surabaya Beri Penghargaan Sapta Wikrama kepada Seniman Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Beri Penghargaan Sapta Wikrama kepada Seniman Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Beri Penghargaan Sapta Wikrama kepada Seniman Lokal

?

Menurutnya, selain dalam rangka berdakwah melalui kesenian dan kebudayaan, Lesbumi hadir untuk merawat dan melestarikan tradisi kesenian dan kebudayaan Nusantara khususnya di Surabaya.

?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Untuk itu dalam acara tersebut Lesbumi juga akan menampilkan pagelaran seni modern dan dan kesenian khas daerah. “Pada siang hari akan ada pagelaran musik modern dan malam akan ada kentrung dan kidungan, pencak jidor serta penghargaan untuk seniman ludruk,” katanya dalam siaran pers, Ahad (29/5) malam.

Rohis Tegal - Rohani Islam

?

Ia menambahkan era digital menjadi tantangan nilai-nilai keluhuran budaya Nusantara. Kondisi ini menjadi tanggung jawab Lesbumi untuk mempertahankan, melestarikan, dan mengolaborasi kesenian.

?

"Kebudayaan tradisional menjadi suguhan yang mempunyai daya tarik bagi seluruh kalangan. Lesbumi diharapkan menggali kembali kesenian dan kebudayaan tradisional, Lesbumi harus menghargai dan mengapresiasi karya seni dan budaya untuk menjadi motivasi generasi muda di masa-masa yang akan datang," tegasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama, Pesantren, Pemurnian Aqidah Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 09 Februari 2018

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama

Kudus, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sudah menjadi kebiasaan mayoritas muslim di Indonesia pada momentum Lebaran tidak ketinggalan mengadakan tradisi yang dinamakan Halal bihalal. Acara yang rutin digelar oleh masyarakat di bulan Syawal sejak puluhan tahun silam ini diyakini sebagai tradisi yang selaras dengan ajaran Islam.

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Tradisi, Halal Bihalal Termasuk Syariat Agama

Masyarakat dari generasi ke generasi berupaya melestarikan tradisi Halal bihalal bukan tanpa sebab. Misal yang dijalani oleh keluarga besar keturunan Mbah Mastam dan Mbah Zonah. Pasangan yang wafat puluhan tahun silam itu pernah tinggal di desa Papringan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mempunyai 7 anak, kemudian hingga kini beranak pinak sampai melahirkan anak, cucu dan cicit yang jumlahnya sudah ratusan.

Sementara itu, Halal bihalal keluarga besar yang menyebut keluarga mereka sebagai Bani Mastam-Zonah itu pada tahun ini terselenggara sudah berlangsung 17 kali, diselenggarakan setiap pekan pertama bulan Syawal.

Menariknya, Halal bihalal keluarga besar tersebut selalu diisi dengan pembacaan tahlil dan surat Yasin untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, ceramah agama serta ditutup dengan bersalam-salaman.

Dalam kesempatan tersebut, KH Masykuri yang ditunjuk mengisi ceramah menyampaikan pada dasarnya silaturrahim merupakan inti dari Halal bihalal yang bertujuan untuk menyambung kasih sayang dan menghilangkan rasa dendam, sehingga antarkeluarga bisa saling mengasihi dan saling mencintai.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Kalau berkumpul seperti ini rasanya senang bukan? Rasanya kita ingin berlama-lama sebab setahun ada yang tidak bertemu," tutur kiai Masykuri di hadapan ratusan anggota keluarga Bani Mastam-Zonah, Jumat (8/7) siang, di salah satu kediaman keluarga di desa Daren, Jepara, Jawa Tengah.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia menjelaskan bahwa silaturrahim itu bukan budaya, tapi memang syariat Allah. Hal ini sudah diterangkan di berbagai hadis Nabi yang menerangkan keutamaan pentingnya silaturrahim.

Dalam bulan Ramadhan, lanjut Kiai Masykuri, apabila seseorang dalam keadaan beriman maka akan diampuni dosa-dosa yang hubungannya dengan Allah semata. Ia mengingatkan bahwa dosa-dosa yang hubungannya dengan manusia akan diampuni apabila saling memaafkan satu sama lain.

"Dosa-dosa yang kaitannya dengan sesama manusia tidak akan diproses Allah apabila tidak ada acara Halal bihalal," tegas guru di MTs NU TBS Kudus itu. “Dengan niat yang sama, mari kita dari rumah saling memaafkan,” ajaknya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kiai, Berita, Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 03 Februari 2018

Belajar dari Jiwa Besar Gus Dur

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Tidak pernah narsis dalam spiritualitas keagamaan, Gus Dur sunyi dalam ramai dan ramai dalam sunyi. Harta dan fasilitas bukan sarana suksesnya perjuangan Islam. Dalam sejarah tidak ada cerita perjuanagn sukses karena uang.

Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH Luqman Hakim, Jumat (9/12) dalam akun twitter miliknya @KHMLuqman menerangkan jiwa besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam kehidupan.

Belajar dari Jiwa Besar Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Jiwa Besar Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Jiwa Besar Gus Dur

“Gus Dur tidak pernah mencaci maki orang yang berbeda pandangan dengannya bahkan kepada yang dinilai jahat sekali pun,” kata Pakar Sufi ini.

Menurutnya, Gus Dur selalu menghormati Ulama dengan tulus, walaupun berbeda pandangan. Sekalipun itu kiai kampung, Gus Dur tetap tawadhu. Guru Bangsa itu juga rela dicacimaki, yang penting umat dan bangsa selamat.

Gus Dur, tuturnya, memandang bangsa ini sebagai keluarga besar. Apa artinya membangun keluarga bangsa jika saling melukai dan berdarah?

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Dia mampu memilah dengan mudah mana yang besar dan mana yang kecil, mana yang umum mana yang khusus, mana yang Allah dan mana yang makhluk,” ungkap Kiai Luqman.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurutnya, Gus Dur memandang dunia ini hanya sebesar biji buah pala bahkan lebih kecil lagi. Begitu saja kok repot! Gus Dur juga sering memberikan pelajaran bahwa keshalehan seseorang tidak pernah diukur dengan tampilan.?

“Kesahajaan Gus Dur tidak dibuat-buat untuk citra. Kesahajaan orisinal. Lautan tak bertepi, silakan diarungi sendiri. Jika tak bisa berenang anda akan tenggelam sia-sia,” ucap Pengasuh Majalah Cahaya Sufi ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama, AlaSantri Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 30 Januari 2018

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil

Pringsewu, Rohis Tegal - Rohani Islam - Pengurus Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pringsewu KH Munawir berharap koordinasi dan sinergitas program kerja dapat terjalin baik antara BAZNAS dan Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Shadaqah NU atau LAZISNU di kabupaten tersebut.

Hal itu disampaikannya saat memberikan pengarahan pada Rapat Kerja Perdana LAZISNU yang diselenggarakan di aula STMIK Pringsewu, Kamis (11/5).

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengelola Zakat di Masjid Harus Miliki Legalitas Amil

Sinergitas program dua lembaga tersebut adalah maksimalisasi pengumpulan dan penyaluran amal, shadaqah dan zakat. "Sebagai Mitra BAZNAS, LAZISNU dapat membantu BAZNAS dalam penyaluran sehingga bisa tepat sasaran dan bermanfaat," katanya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia juga berharap LAZISNU Kabupaten Pringsewu untuk terus berkiprah dan berkhidmah memaksimalisasikan lembaga tersebut dengan memperkuat sumber daya manusia dan struktur organisasi sampai pada Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan amil zakat di masjid dan mushala.

"Secara hukum Islam, amil di masjid dan mushala harus mendapatkan legalitas dari pemerintah dalam hal ini BAZNAS atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang diakui oleh BAZNAS. Dan LAZISNU merupakan LAZ yang sudah diakui serta memiliki legalitas untuk membentuk amil zakat sampai dengan masjid dan mushala," terang Gus Nawir, begitu kiai muda ini biasa disapa.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Gus Nawir berharap LAZISNU Kabupaten Pringsewu ikut mensosialisasikan hal tersebut kepada para takmir di masjid dan mushalla untuk melegalkan pengelola zakat mereka sehingga secara syari, mereka sah disebut amil zakat.

Selain legalitas, Gus Nawir juga berharap manajemen administrasi pelaporan dapat dilakukan dengan baik dan transparan untuk meningkatkan tingkat kepercayaan muzakki dan orang yang beramal.

"Pelaporan dari amil zakat di bawah LAZISNU sampai dengan masjid dan mushala harus dilaporkan dan diteruskan sampai dengan LAZISNU pusat," harapnya.

Rapat Kerja perdana LAZISNU yang dilaksanakan sehari itu diikuti seluruh pengurus dan perwakilan dari 9 kecamatan. Pada Raker tersebut dihadirkan beberapa pemateri dari BAZNAS Kabupaten Pringsewu dan PW LAZISNU Provinsi Lampung. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Sholawat, Nahdlatul Ulama, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Pesan Mbah Bisri Musthofa: Segerakan Niat Ibadah Haji

Rembang, Rohis Tegal - Rohani Islam

Niat untuk berhaji jangan ditunda-tunda. Itulah pula yang dipesankan almarhum KH Bisri Musthofa, ayahanda KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), ketika bersama para santri mengaji sebuah kitab dan sampai pada penjelasan ibadah haji.

"Mbah Bisri pernah memerintahkan (para santri) untuk menyegerakan niat haji saat ngaji bab haji,” kata KH Syarofudin, salah satu santrinya di hadapan jamaah ngaji Selasa-Jumat di aula Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (2/8).

Pesan Mbah Bisri Musthofa: Segerakan Niat Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Mbah Bisri Musthofa: Segerakan Niat Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Mbah Bisri Musthofa: Segerakan Niat Ibadah Haji

Menurut Mbah Bisri, lanjut Kiai Syarofudin, niat bisa membawa kita menuju Makkah untuk berhaji. Karena niat dapat berubah menjadi doa dan Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam meminta.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam pengajian rutin tersebut, Kiai Syarof juga mengingatkan pelajaran Mbah Bisri soal doa. Mbah Bisri, imbuhnya, mengajarkan jika berdoa meminta panjang umur, mintalah setahun saja. Jika umur dirasa masih bisa beribadah, tahun depan baru berdoa meminta panjang umur lagi kepada Allah SWT dan seterusnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hal ini soal keberkahan umur. Menurut Kiai Syarof, umur panjang bila tidak digunakan untuk taat beribadah, akan membawa pemiliknya masuk ke dalam golongan orang yang merugi.? (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama, Pondok Pesantren, Amalan Rohis Tegal - Rohani Islam

Setan dan Hikmah Penciptaannya

Jarang sekali para filosof menggunjing tentang setan. Kecuali membicarakan “Good and Evil”, baik dan buruk. Keburukan mustahil dikaitkan dengan Tuhan, karena Tuhan adalah Dzat Yang Maha Sempurna dan Maha Segalanya secara absolut. Tidak ada gugatan atas hal tersebut. Tuhan ada sebelum adanya segala sesuatu itu ada.

Setan pada muasalnya adalah penghuni surga, kesombonganlah yang membuat ia terlempar. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa setan adalah pelengkap dari kesempurnaan ciptaan Tuhan dan mengandung hikmah bagi kehidupan.

  

Setan dan Hikmah Penciptaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Setan dan Hikmah Penciptaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Setan dan Hikmah Penciptaannya

Memfilosofikan setan sama saja dengan membicarakan keburukan. Pendapat itu pasti yang akan keluar dari pikiran kita, setan identik dengan laku buruk, dan pemahaman tersebut sudah tidak bisa ditawar lagi, seperti halnya seseorang yang ingin melakukan aktivitas, mengaji atau apapun.

Sebelum menyebut nama Tuhannya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ia lebih dulu meminta perlindungan dari godaan setan yang terkutuk. Artinya, keterkutukan setan sudah menjadi harga mati.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Karena itu, wajar saja jika setan menjadi bulan-bulanan manusia ketika manusia membuat kesalahan. Sampai-sampai ada anekdot, setan sakit hati selalu disalahkan, padahal setan belum melakukan aksi godaannya. Faktor itulah yang membuat setan mengadakan Rapat Kerja Nasional Setan dengan tema apakah perlu setan pensiun dini? Kinerjanya sudah tidak seperti dulu, manusia sudah mengambil alih sendiri tanpa harus ada godaan. 

Dalam Rapat Kerja Nasional Setan tersebut setan menggugat, sebaiknya kita sudahi saja menggoda manusia, seburuk-buruknya golongan setan tidak pernah membuat video porno, tidak pernah mengaku Tuhan, dan tidak pernah menTuhankan yang lain selain Allah.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di pihak lain menyerukan, jangan pensiun, kita sudah membuat komitmen sampai akhir hayat menggoda manusia, jangan sampai kita menyesal nantinya. Kestabilan dunia tanpa setan tidak akan seimbang.

Ya, memang demikian, terlahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Polri, dan kejaksaan, fungsinya untuk “menangkap setan”. Kalau setan pensiun, banyak sekali pengangguran, lembaga-lembaga hukum tersebut tidak lagi memiliki fungsi. 

Setan juga yang memacu diri kita menjadi kreatif dan bekerja sungguh-sungguh supaya menjadi lebih baik. Berdirinya lembaga-lembaga kemanusiaan, lembaga pendidikan, majlis ta’lim, dan sebagainya. Itu sebagai usaha kreatif manusia agar tidak terperdaya oleh bujuk rayu setan yang menipu.

Untuk melihat bahwa setan mengandung potensi hikmah dalam kehidupan manusia, sekadar anekdot: alkisah, pada bulan Ramadhan sebagai bulan suci, setan juga ingin bertaubat, dan ia datang menghadap Syekhul Azhar, untuk didoakan kepada Allah agar taubatnya diterima. Sepuluh hari pertama Ramadhan doa Sang Syekh belum dapat jawaban dari Allah. Demikian juga sepuluh kedua. 

Pada sepuluh ketiga Sang Syekh berpikir, bagaimana kalau taubat setan nanti diterima Allah, tentu tidak ada lagi kejahatan dipermukaan bumi ini, dan tentu tidak diperlukan lagi lembaga-lembaga pendidikan agama dan tempat-tempat peribadatan. 

Akhirnya pikir Sang Syekh, Al-Azhar akan ditutup dan bubar, dan saya kata Sang Syekh, tentu tidak punya jabatan dalam pekerjaan apa-apa lagi. Sekarang Sang Syekh yang datang menghadap setan dan berkata, “Kamu tidak perlu taubat dan teruskan saja pekerjaanmu menggoda manusia.” Sungguh benar, Tuhan menciptakan segala sesuatu tidak main-main, mesti ada hikmahnya, fa’tabiru ya ulul al-bab.

Dengan demikian, kontrol diri merupakan hal terpenting sebagai pengendali, sebab godaan akan datang dari berbagai penjuru. Setan adalah eksistensi lain dari ciptaan Tuhan yang selalu mendukung potensi buruk kita. Oleh karena itu, pada akhirnya kita lah yang menyetir kehidupan kita, keburukan mustahil datang dari Yang Maha Baik.

 

Bahkan semua ciptaan-Nya adalah baik. Baik dan buruk ada secara potensial pada diri manusia, tergantung bagaimana manusia dalam memandang kehidupan, apakah bersandar kepada Yang Maha Baik atau hanya menuruti hawa nafsu setan, apakah optimis atau pesimis, dan apakah positif atau negatif. Kita lah penentunya, kenali dirimu sendiri. Lakukanlah perjalanan ke dalam diri, sebelum kita “mengkambinghitamkan” setan.

Aswab Mahasin, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama, PonPes Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 07 Januari 2018

Kurban, Sebuah Refleksi Spiritual

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Shalat, puasa, zakat, kurban dan ibadah kita lainnya seringkali dilakukan sekedar untuk mendapatkan pahala; surga. Pahala menjadi komoditas yang tanpa sadar kita kumpulkan seperti properti. Akibatnya, seluruh ibadah kita membuat diri kita merasa lebih baik dari orang lain. Mudah menuduh orang salah, fasik dan bahkan sampai munafik.Ketaatan kita dalam beribadah—mengumpulkan pahala—menjadi jalan kesombongan kita. Seperti halnya orang yang gemar menimbun harta; ada kalanya dia menjadi sombong, ada kalanya pula dia menjadi dermawan yang murah hati.

Kurban, Sebuah Refleksi Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban, Sebuah Refleksi Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban, Sebuah Refleksi Spiritual

Seorang sufi agung, Imam Yahyâ bin Mua’dz (w. 258 H) sekali waktu pernah berkata: “dzanbun aftaqiru bihi ilaihi ahabbu min thâ’atin aftakhiru bihâ ‘alaihi” (dosa yang membuatku butuh akan ampunanNya lebih kusukai dibandingkan ketaatan yang membuatku menyombongkan diri).

Bukan berarti ketaatan tidak diperlukan, tapi agar kita menyelami lebih dalam diri kita sendiri, mengenalinya, mengakrabinya dan pada akhirnya mempertanyakan, “apakah ibadah kita telah membuat diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, rendah hati dan penuh kasih? Ataukah malah membuat kita bertambah sombong, melihat orang yang kurang dalam ketaatannya sebagai pendosa dan kotor?” Itulah perlunya pemaknaan mendalam dalam ibadah yang kita lakukan.

Kurban adalah teladan. Allah memilih Ibrahim, sahabat terdekatnya (khalîl Allah) untuk melakukan pengorbanan besar, menyembelih anaknya sendiri, Isma’il. Pengorbanan itu semakin berat dilakukan karena di waktu yang lama Ibrahim memohon kehadiran seorang anak. Allah memberinya Isma’ilketika usia Ibrahim sudah tua. Anak yang selama ini ditunggu-tunggu, setelah lahir Allah perintahkan untuk dikorbankan. Ibrahim dan Isma’il menuruti perintah tersebut.

Apakah ada keraguan dalam hati mereka berdua? Pertanyaan tersebut perlu dianalisa menggunakan dua pendekatan; pertama, ada keraguan seperti beberapa riwayat. Keraguan yang dialami Ibrahim dan Ismail, sebaiknya dipahami dalam konteks keteladanan dan hikmah. Dalam keraguan besar sekalipun, mereka tetap melaksanakan perintah Allah. Tindakan inilah yang menjadi pembuka pintu kedewasaan spiritualitas manusia. Sehingga keragu-raguan tidak akan lagi melintas di hati mereka.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kedua, tidak ada keraguan sama sekali. Mereka dengan teguh dan ikhlas menjalankan perintah Allah tersebut. Mereka sangat mengenal Allah yang Maha Pengasih. Tidak mungkin Allah menumpahkan darah orang tak berdosa (Ismail) dan menjadikan seorang ayah pembunuh (Ibrahim).?

Mereka berdua meyakini betul akan hal itu, sehingga tanpa kebimbangan sedikit pun melaksanakan perintahNya.Mereka berdua memaknai prosesi kurbân sebagai ajaran untuk generasi berikutnya, bahwa apapun kesukaran hidup yang dilalui, yakinlah pada rahmat Allah.

Andai menggunakan pendekatan psikologis, sukar menemukan ujian hidup melebihi Ibrahim. Dia harus menyembelih anak kesayangannya sendiri. Sebelum itu, dia telah diuji oleh Allah untuk meninggalkannya di Mekkah sejak kecil dan tidak melihat pertumbuhan anaknya. Namun, dengan keimanan dan keyakinannya atas rahmat Allah, Ibrahim mengorbankan Ismail. Ibrahim tahu betul bahwa perintah Allah ini adalah ujian untuk mereka berdua, bukan pengorbanan dalam arti pembunuhan.

Dengan ujian, kita tumbuh menjadi manusia yang lebih mengerti. Tanpa ujian, kepekaan kita terhadap penderitaan orang lainseperti pisau yang tak pernah diasah. Ujian adalah anugerah Tuhan dalam wajah lain. Wajah yang sering terabaikan karena tak seorang pun mau menatapnya. Maulana Rumi berkata: “When someone beats a rug,the blows are not against the rug, but against the dust in it—ketika seseorang memukul permadani, pukulan itu bukan untuk permadani, tapi debu yang menempel di atasnya.” (Kabir Helminski dan Camille Helminski, 2005)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ujian membersihkan kita dari debu-debu yang menempel di jiwa kita, membukanya agar mampu memahami dan mengerti bahwa, keindahan Tuhan selalu berinteraksi dengan kita, dari jingganya langit senja, hingga acuhnya nyanyian burung.?

“Kenapa untuk mengenali keindahan,” kata Rumi, “manusia harus mengunjungi taman terlebih dahulu, meski keindahan berada di sekitar kita.” Itu karena hati kita masih belum bersih dari sampah hawa nafsu. Akibatnya, keindahan yang kita rasakan masih terikat dengan tempat dan keadaan.

Kata qurbân merupakanbentuk masdar dari qaruba yangberarti dekat atau mendekati. Untuk mendekat, kita harus menawarkan sesuatu. Apalagi selama ini kita telah mendapatkan anugerahNya yang tak terhingga meski tanpa meminta. Kehidupan ini misalnya, kita tidak pernah meminta Tuhan untuk memberi kita kehidupan. Kita tidak pernah meminta Tuhan untuk memberi kita mata. Kita tidak pernah meminta Tuhan untuk memberi kita kaki. Tapi, Tuhan memberikan kita semuanya tanpa diminta.

Lucunya, kita sering menganggap diri kita sebagai korban, terkadang sampai menyalahkan Tuhan. Kita seharusnya bertanya, apakah kita pernah berkorban? Jika belum, kenapa kita selalu merasa diri kita sebagai korban? Seperti halnya tentang doa, banyak yang merasa Tuhan tidak pernah mengabulkan doa.?

Tapi kita lupa, mungkin saja keberhasilan kita di lain waktu adalah hasil dari doa-doa kita yang lalu.Lalu kenapa di saat itu terjadi kita lupa dengan doa-doa kita, tapi di saat susah kita berkata Tuhan tidak pernah mengabulkan doa?

Kita perlu belajar dari kisah itu, tidak hanya tentang ritual dan seremoninya. Jadikan kisah Ibrahim dan Ismail sebagai pintu menuju kedewasaan spiritualitas kita, agar kita dapat melihat diri kita dan dunia tempat kita tinggal dengan seimbang. Tanpa melupakan nikmat Tuhan dan dosa-dosa kita.

Berhati-hatilah agar amal ibadah kita tidak menggelincirkan kita dalam kesombongan. Bersyukurlah atas apa yang kita miliki. Orang yang bisa mensyukuri kehilangan adalah orang yang luar biasa.Selamat Idul Adha. Wallahu A’lam.

Penulis adalah warga NU dari Yogyakarta, alumnus Pondok Pesantren Al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 01 Januari 2018

Gus Dur: Amandemen UUD 1945, Bangsa Indonesia akan Kehilangan Pegangan

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam

Amandemen Undang-undang Dasar (UUD) 1945 terus menuai pro dan kontra. Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengkhawatirkan jika UUD 1945 diamandemen, maka bangsa Indonesia akan kehilangan pegangan.

Hal itu disampaikannya pada acara peringatan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 di Tugu Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, Rabu (5/7). Hadir pada acara tersebut Guruh Soekarnoputra, Soetardjo Surjogoeritno dan sejumlah tokoh nasionalis lainnya.

Gus Dur: Amandemen UUD 1945, Bangsa Indonesia akan Kehilangan Pegangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Amandemen UUD 1945, Bangsa Indonesia akan Kehilangan Pegangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Amandemen UUD 1945, Bangsa Indonesia akan Kehilangan Pegangan

“Bangsa Indonesia memerlukan instrumen dasar untuk mencapai tujuannya. Instrumen dasar itu adalah UUD 1945. (UUD 1945, red) tidak perlu diubah-ubah, karena kita akan kehilangan pegangan,“ terang Gus Dur.

Mantan Ketua Umum PBNU itu meminta bangsa Indonesia agar tetap mempertahankan UUD 1945 dan juga Pancasila. Ia meyakini UUD 1945 dan Pancasila dapat menyatukan segala perbedaan serta menyelesaikan segala persoalan bangsa.

Dalam kesempatan itu Gus Dur mengomentari sikap politik Amien Rais. Menurutnya, mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu telah membuat kesalahan karena telah mengamandemen konstitusi tersebut.

Gus Dur menginginkan amandemen UUD 1945 dikembalikan ke UUD 1945 zaman Presiden Soekarno.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Untuk mencapai keadilan pusat dan daerah tidak perlu mengubah instrumen dasar, karena bisa menimbulkan kekisruhan seperti timbulnya kekerasan oleh sekelompok massa," ujar Gus Dur.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Gus Dur lantas mencontohkan kekerasan yang dilakukan anggota Front Pembela Islam (FPI) kepada dirinya beberapa waktu lalu saat akan menghadiri seminar tentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP).

"Kok bisa massa pegang senjata tajam di tempat umum, padahal itu kan melanggar UU. Polisi yang melihat membiarkan saja, ini kan keliru," kata Gus Dur. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 29 Desember 2017

GP Ansor Gerokgak Bersihkan Setengah Ton Sampah di Pulau Menjangan

Buleleng, Rohis Tegal - Rohani Islam?

Sebanyak 50 anggota Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gerokgak Buleleng berhasil membersihkan sampah di pulau Menjangan. Setelah dikumpulkan, sampah yang mereka bersihkan seberat setengah ton sampah plastik pada Ahad, 5 maret lalu.

Ketua GP Ansor Kecamatan Gerokgak Abdul Karim Abraham mengatakan, aksi ini bagian dari kepedulian GP Ansor terhadap masih banyaknya sampah di kawasan Taman Nasional Bali Barat ini.

GP Ansor Gerokgak Bersihkan Setengah Ton Sampah di Pulau Menjangan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gerokgak Bersihkan Setengah Ton Sampah di Pulau Menjangan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gerokgak Bersihkan Setengah Ton Sampah di Pulau Menjangan

Menurut dia, pulau Menjangan saat ini menjadi ikon pariwisata bawah laut Bali. Sehingga semakin bersih pantai dan lingkungannya, semakin banyak kunjungan yang akan ke pulau itu.

“Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada pariwisata di pulau Menjangan. Jika wisatawan nyaman karena pantainya bersih, maka yang kena dampaknya adalah pendapatan masyarakat sekitar,” tegasnya.

Selain itu, Karim juga mengingatkan kepada anggota GP Ansor untuk terus terlibat dalam penjagaan kebersihan di lingkungannya masing-masing. “Karena jika bersih, semua orang akan nyaman dan sehat,” ungkapnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sementara itu, Kepala Seksi Wilayah 3 TNBB, Septi, mengapresiasi kepedulian GP Ansor terhadap lingkungan di kawasan Taman Nasional Bali Barat, terutama pulau Menjangan.?

Ia menjelaskan, pulau Menjangan ini selalu disorot dunia, terutama soal kebersihannya. “Kita selalu dipantau oleh pihak luar karena wisatawan asing lebih banyak yang berkunjung ketimbang domestik,” paparnya di hadapan anggota Ansor sebelum menyeberang ke pulau Menjangan.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari data yang ada, lanjut Septi, dalam setahun ada 42 ribu wisatawan asing, dan 16 ribu wisatawan domestik.

Untuk diketahui, bersih-bersih pesisir pantai itu terlaksana berkat kerja sama GP Ansor Kecamatan Gerokgak dengan Pemerintah Desa Sumberklampok dan Kinaara Resort Pemuteran. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama, Pesantren Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 26 Desember 2017

Penjelasan Seputar Sejarah dan Fiqih Gerhana

Oleh Ibnu Zahid Abdo el-Moeid*

Shalat wajib 5 waktu disyariatkan saat peristiwa Isra dan Miraj. Adapun Isra dan Miraj terjadi pada hari Senin Legi tanggal 27 Rajab –3 H (hijriah)/19 Maret 619 M (masehi). Sebagian riwayat mengatakan 16 bulan sebelum hijrah, sebagian lagi mengatakan 5 tahun sebelum hijrah. Sedangkan shalat gerhana baru disyariatkan 6 tahun 2 bulan setelah Isra dan Mi’raj. Shalat gerhana disyariatkan pertama kali pada tahun ke-5 hijrah, yakni ketika terjadi gerhana bulan total pada malam Rabu 14 Jumadal Akhirah 4 H, bertepatan dengan 20 November 625 M.

Sejak disyariatkannya shalat gerhana, 14 Jumadal Akhirah 4 H/20 November 625 M sampai Rasulullah SAW wafat pada hari Senin Legi, 14 Rabi’ul Awal 11 H/8 Juni 632 M terjadi 3 kali gerhana matahari dan 5 kali gerhana bulan. Menurut riwayat, Rasulullah SAW wafat tanggal 12 Rabi’ul Awal. Lebih detalinya gerhana yang terjadi dalam kurun waktu tersebut berdasarkan perhitungan hisab tadqiqi, lihat tabel di bawah. 

Penjelasan Seputar Sejarah dan Fiqih Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan Seputar Sejarah dan Fiqih Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan Seputar Sejarah dan Fiqih Gerhana





Sejak disyariatkannya shalat gerhana sampai beliau wafat, Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana hanya dua kali. Yang pertama saat gerhana bulan, 14 Jumadal Akhirah 4 H yang bertepatan dengan 20 November 625 M; dan yang kedua saat gerhana matahari, 29 Syawal 10 H yang bertepatan dengan 27 Januari 632 M. Namun di dalam kitab Syarah Shahihul Bukhari Liibnil Bathal disebutkan bahwa Rasulullah SAW shalat gerhana beberapa kali.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kenapa Rasulullah hanya shalat satu kali gerhana bulan dan satu kali gerhana matahari, padahal setelah disyariatkannya shalat gerhana, menurut hisab masih terjadi 4 kali gerhana bulan dan 3 kali gerhan matahari? Memang betul secara hisab terjadi beberapa kali gerhana bulan dan matahari namun waktu terjadinya gerhana bulan maupun matahari terlalu dekat dengan terbit dan terbenamnya bulan atau matahari, sehingga waktunya sempit.

Berikut sedikit uraian kronologi gerhana yang ada di tabel atas.

Rohis Tegal - Rohani Islam

1.     Enam bulan setelah gerhana bulan yang pertama kali disyariatkan tepatnya 15 Dzulhijjah 4 H/17 Mei 2626 M terjadi gerhana bulan parsial namun waktunya menjelang shubuh dan beberapa saat setelah shubuh bulan tenggelam dalam keadaan gerhana.

 

2.     Sebelas bulan berikutnya tepatnya 29 Dzulqodah 5 H/21 April 627 M terjadi gerhana matahari, namun persentasi piringan matahari yang tertutup hanya 5 persen, kemungkinan besar tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

 

3.     Sebelas bulan kemudian tepatnya 14 Dzulqodah 6 H/25 Maret 628 M terjadi gerhana bulan dengan persentasi gerhana 31 persen namun terjadi saat-saat maghrib. Awal gerhana terjadi sebelum bulan terbit, sehingga saat terbit, bulan sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberpa menit sebelum waktu isya, gerhana sudah berakhir.

 

4.     Enam bulan berikutnya tepatnya 29 Jumadal Ula 7 H/3 Oktober 628 M terjadi gerhana matahari, namun persentasi piringan matahari yang tertutup hanya 12 persen. kemungkinan besar tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Awal gerhana terjadi sebelum matahari terbit dilihat dari Madinah, sehingga saat terbit, matahari sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberpa menit setelah matahari terbit, gerhana sudah berakhir.

 

5.     Lima bulan berikutnya tepatnya 14 Dzulqodah 7 H/15 Maret 629 M terjadi gerhana bulan total di tengah malam. Bulan Maret adalah mulai berakhirnya musim dingin. Aktifitas malam masyarakat Arab masih rendah karena beberapa hari sebelumnyah suhu udara masih dingin. Disamping itu sisa-sisa mendung kemungkinan masih banyak sehingga bulan yang sedang gerhana luput dari perhatian masyarakat Madinah saat itu, selebihnya wallohu Alam.

 

6.     Dua belas bulan berikutnya, tepatnya 15 Dzulqodah 8H/4 Maret 630 M terjadi gerhana sebagian dengan persentasi puncak gerhan sekitar 68 persen, namun terjadi saat-saat maghrib. Awal gerhana terjadi sebelum bulan terbit, sehingga saat terbit, bulan sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberapa menit (23 menit) setelah matahari terbenam (waktu maghrib) gerhana sudah berakhir.

 

7.     Duapuluh tiga bulan berikutnya tepatnya 29 Syawal 10 H/27 Januari 632 M terjadi gerhana matahari dengan persentasi puncak gerhana 82 persen. Bertepatan dengan peristiwa gerhana tersebut, tepatnya malam hari sebelum gerhana, Sayyid Ibrohim putra Rasulullah SAW dari ibu Maria Al-QIbtiyah wafat. Pada saat gerhana matahari inilah pertama kali sekaligus terakhir kalinya Rasulullah SAW melaksanakan shalat gerhana matahari.

 

Kontroversi Gerhana Matahari Zaman Nabi

Ketika terjadi gerhana, kita pasti teringat akan wafatnya sayyid Ibrohim, putra Rasulullah SAW dari Maria Al-Qibtiyah binti Syam’un (Istri Jariyah rosul hadiah dari penguasa Mesir, Juraij bin Mina Al-Mukaukis) yang wafat saat terjadi gerhana matahari, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? :« ? ? ? ? ? ? ? ? ». ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Abdurrohman bin Hasan bin Tsabit dari ibunya Sirin katanya:“Saya telah menghadiri kematian Ibrahim putra Rosululooh SAW. Dan pada hari tersebut terjadi gerhana matahari. Lantas orang pada kasak-kusuk bahwa gerhana tersebut terjadi karena wafatnya Ibrohim, kemudian Rasulullah SAW bersabda “ Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, tidaklah keduanya gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Beliau wafat pada hari Selasa, 10 hari dari bulan Rabi’ul Awal tahun 10 H.

 

Menurut riwayat yang kuat menyebutkan bahwa gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya sayyid Ibrohim terjadi pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 10 H sementara menurut riwayat lain menyebutkan bulan Romadlon dan bulan Dzulhijjah, bahkan ada yang menyebutkan terjadi pada saat penjanjian hudaibiyah.

Hal ini sangat anomali dengan kaedah hisab yang mana gerhana matahari mestinya terjadi pada pada akhir bulan qomariyah (penileman) yakni saat ijtimak/konjungsi, sedangkan gerhana bulan terjadi pada saat purnama/badr.

Dari penelusuran hisab, sejak tahun 8 (tahun lahirnya sayyid Ibrohim) sampai 10 hijriyah hanya terjadi satu kali gerhana matahari, yaitu gerhana cincin yang terjadi pada hari Senin Pon, 29 Syawal 10 H, bertepatan dengan 27 Januari 632 M, terjadi pada pagi hari jam 07:15 dan berakhir pada jam 09:53. waktu Madinah. Dengan demikian maka kemungkinan besar wafatnya sayyid Ibrohim adalah malam Senin, 29 Syawwal 10 H.

Lalu bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan terjadi pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 10 H? Riwayat tersebut tidaklah salah karena saat itu masyarakat Arab belum mempunyai kalender baku yang menjadi patokan syar’i secara umum. Saat itu sistem kalender masih sering berubah, kabilah Arab seringkali menambah atau mengurangi bilangan bulan dalam setahun untuk kepentingan perang, kadang dalam setahun ada 13 bulan. Kalender qomariyah mulai tertib setelah nabi menyampaikan ayat ke 36 surat At-Taubah pada waktu khutbah hari Tasyrik di Mina.

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? 36)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus” (At-Taubah 36)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? 37)

 

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (At-Taubah 37)

 

Sebelum ayat tersebut turun, kalender bulan qomariyah diselaraskan dengan kalender syamsiyah sehingga dalam 3 tahun terdapat tahun yang jumlah bulannya 13 bulan. Sebelum dan sa’at berkembangnya Islam di jazirah Arab, baik kalender Qomariyah (Lunar Calendar) maupun Syamsiyah (Solar Calendar) sudah dikenal akan tetapi belum ada patokan tahunnya serta kaidah-kaidah yang baku yang menjadi ketetapan kalender sehingga baik awal tahun maupun awal bulan serta jumlah bulan dalam setahun tidak beraturan.

Baru pada masa kholifah Umar bin Khottob beliau mengumpulkan segenap sahabat serta elit-elit pemerintahan pada hari Rabu 20 Jumadil Akhir tahun 17 dari hijrah yang bertepatan dengan 8 Juli 638 M, untuk membahas perlunya sebuah kalender yang baku. Akhirnya disepakati sebuah kalender yang berbasis bulan, Lunar System. Diputuskan bahwa awal tahun hijri dimulai pada sa’at nabi berangkat hijrah ke Madinah yaitu tahun 622 M sedangkan awal bulannya dimulai dari Muharrom, karena pada sa’at itu berakhirnya aktivitas ibadah haji dan menuju kehidupan yang baru. 1 Muharrom 1 H bertepatan dengan 16 Juli 622 M tepat pada hari Jum’at Legi. 

Hukum Shalat Gerhana

Menurut Jumhurul Ulama’, shalat gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan hukumnya sunnah muakkadah, sunnah yang sangat ditekankan, seperti Shalat Hari Raya. Menurut pendapat Malikiyah dan Hanafiyah untuk gerhana bulan sunnah mandubah berbeda dengan shalat gerhana matahari yang menurut mereka sunnah muakkadah. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa hukum shalat gerhana adalah fardlu kifayah seperti shalat jenazah.

Firman Allah di dalam Al-Quran :

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? 37)

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah engka sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak.(QS. Fushshilat : 37)

 

Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan. Di dalam hadits disebutkan:

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga gerhana pulih kembali. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

 

Shalat gerhana disunnahkan dilakukan secara berjamaah, lebih utama lagi dilaksanakan di masjid. Disunnahkan mandi sebelum berangkat shalat gerhana. Tidak disunnahkan adzan dan iqomah ketika akan melaksanakan shalat gerhana, tetapi cukup dengan seruan "Asshalatu Jamiah".

Imam shalat gerhana disunnahkan dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah dan Surat untuk gerhana bulan dan dengan suara lirih untuk gerhana matahari. Menurut madzhab Hambali, Khottobi dan Ibnu Mundzir disunnahkan keras juga pada shalat gerhana matahari.

Tata cara shalat gerhana sebagai berikut:

1.     Dikerjakan dengan 2 (dua) rokaat seperti shalat sunnah biasa, tanpa rukuk dua kali. Bahkan tidak syah jika dilakukan dengan 2 kali berdiri dan 2 kali rukuk menurut pendapat imam Abu Hanifah.

 

2.     Dikerjakan dengan 2 rokaat, didalam setiap rokaat 2 kali berdiri membaca Al-Fatihan dan surat dan 2 kali ruku tanpa memanjangkan bacaan surat setelah Al-Fatihah saat berdiri, serta tanpa memanjangkan bacaan tasbih di dalam ruku dan sujudnya.

 

3.     Dikerjakan dengan 2 rokaat, didalam setiap rokaat 2 kali berdiri dan 2 kali ruku. Pada setiap rokaat setelah membaca Al-Fatihah membaca surat yang panjang, lalu ruku dan membaca tasbih yang panjang, lalu berdiri membaca Al-Fatihah lagi, lalu membaca surat yang panjang namun tidak sepanjang surat sebelumnya, lalu rukuk kembali dan membaca tasbih yang panjang, lalu Itidal, lalu sujud dua kali dengan memanjangkan tasbih, sujud yang pertama lebih lama daripada sujud yang kedua. Kemudian berdiri untuk rokaat yang kedua dengan tata cara seperti rokaat pertama. Bacaan surat dan tasbih pada rokaat yang kedua lebih pendek dari pada rokaat yang pertama.

 

Dari ketiga cara di atas yang paling utama adalah nomor tiga.

Setelah selesai shalat disunnahkan khutbah dua kali jika dilakukan secara berjamaah, jika shalat sendirian tidak disunnahkan khutbah. Namun menurut imam Ahmad, Abu Hanifah, dan Abu Yusuf tidak disunnahkan khutbah walaupun berjamaah. Di dalam khutbahnya disunnahkan menyeruhkan taubat dari maksiat, memperbanyak shodaqoh, berbuat kebaikan, memperbanyak dzikir, doa dan istighfar.

Jika gerhana berbarengan dengan shalat janazah maka didahulukan shalat janazah. jika berbarengan dengan shalat fardu dan shalat Id maka didahulukan shalat gerhana jika waktu shalat fardlu masih luas tetapi jika takut waktunya shalat fardlu habis maka didahulukan shalat fardlunya daripada shalat gerhana. Apabila berbarengan dengan shalat Jumat jika waktunya masih luas maka didahulukan shalat gerhana lalu khutbah Jumat sekaligus khutbah gerhana. jika gerhana berbarengan dengan shalat taroweh dan witir maka didahulukan shalat gerhana walaupun dikhawatirkan tidak cukup waktu untuk shalat taroweh maupun witir.

Kapan makmum masbuq terhitung mendapatkan rakaat?

Seperti kita ketahui bahwa tata cara shalat gerhana ini berbeda dengan shalat biasa dimana terdapat dua kali rukuk dan dua kali berdiri, kecuali pendapat Hanafi.

Menurut madzhab Maliki : Makmum terhitung dapat rokaat jika makmum bisa mendapati rukuk yang kedua bersama imam dengan thumaninah. Walaupun tidak mendapati rukuk yang pertama bersama imam tetap terhitung dapat rokaat karena menurut Maliki rukuk dan berdiri yang pertama adalah sunnah.

Menurut madzhab Syafii dan Hambali : Makmum terhitung dapat rokaat jika makmum bisa mendapati rukuk yang pertama bersama imam dengan thumaninah, sehingga jika hanya mendapati imam di dalam rukuk yang kedua saja maka tidak terhitung dapat rokaat bersama imam.

Waktu Shalat Gerhana

Menurut ilmu hisab, di dalam gerhana bulan, bayangan yang menutupi bulan itu ada dua. Yang pertama bayangan penumbra dan yang kedua banyak umbra. Bayangan umbra adalah bayangan inti bumi sedangkan bayangan penumbra adalah bayangan bias bumi, sehingga saat bayangan penumbra menyentuh piringan bulan, tidak bisa diidentifikasi secara kasat mata, bulan terlihat seperti biasa, utuh namun agak redup sedikit. Gerhana bulan baru bisa diidentifikasi dengan mata telanjang ketika bayangan umbra menyentuh piringan bulan.

Dengan demikian secara umum yang disebut gerhana bulan yaitu sejak bayangan umbra (bayangan inti) bumi menyentuh piringan bulan sampai seluruh bayangan umbra lepas dari piringan bulan. Adapun gerhana matahari yaitu sejak bayangan umbra bulan menyentuh piringan matahari sampai seluruh bayangan umbra lepas dari piringan matahari. 

Menurut fiqih, masuknya waktu shalat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari adalah sejak tertutupnya piringan bulan atau matahari. Batas akhir waktu shalat gerhana matahari adalah pulihnya kembali gerhana secara penuh atau terbenamnya matahari walaupun terbenam masih dalam keadaan gerhana. sedangkan batas akhir gerhana bulan adalah pulihnya kembali gerhana secara penuh atau terbitnya matahari walaupun bulan masih dalam keadaan gerhana.

Menurut imam SyafiI dan imam Malik, shalat gerhana boleh dilakukan pada saat-saat makruhat karena termasuk shalat yang ada sebabnya. Menurut imam Hanafi dan Imam Achmad tidak boleh, namun cukup dengan membaca tasbih sebagai gantinya.

Bagaimana kalau menurut hisab terjadi gerhana tetapi tertutup mendung?

Mengqiyaskan seperti halnya hilal, dari Ibnu Daqiq Al-Iidi dan Ibnu Hajar di dalam kitab Tuhfahnya, Syeikh Bakhit Al-Muthii menjelaskan bahwa jika menurut hisab yang qothi (kuat kepastinnya) hilal sudah ada dan memungkinkan untuk bisa dilihat setelah maghrib, namun ternyata tidak bisa dilihat karena terhalang mendung maka hal ini bisa menggunakan perhitungan hisab untuk penentuan awal bulan. Jika penentuan awal bulan saja yang notabene menentukan sesuatu yang wajib cukup dengan hisab yang qothi maka apalagi untuk menentukan sesuatu yang sunnah, gerhana misalnya. Kita semua tahu bahwa hisab hilal, gerhana bulan maupun gerhana matahari adalah perhitungan yang sama-sama pasti dan meyakinkan. 

Namun Ibnu Hajar di dalam kitab Tuhfah terkait shalat gerhana mengatakan bahwa: Jika bulan atau matahari terhalang oleh mendung sebelum gerhana terlihat tetapi menurut ahli hisab terjadi gerhana maka tidak ada konskuensinya, artinya tidak sunnah shalat gerhana, karena hukum asalnya tidak terjadinya gerhana. Namun jika bulan atau matahari terlihat gerhana lalu kemudian mendung dan bimbang gerhana sudah selesai atau belum walaupun menurut ahli hisab gerhana sudah selesai maka tetep sunnah shalat gerhana karena hukum asalnya terlihatnya gerhana. Beliau menegaskan tidak ada tempat bagi ahli hisab dalam hal ini, yakni tidak boleh berdasarkan hisab semata walaupun hisab yang qothi sekalipun.

Apakah sunnah takbiran saat terjadi gerhana?

Di masjid-masjid Jawa Barat, saat terjadi gerhana diramaikan dengan takbiran seperti halnya takbiran hari raya. Mulai awal gerhana sampai berakhirnya gerhana.

Rasulullah SAW bersabda:



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?)

 

Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan tidaklah terkait kematian atau kehidupan seseorang. Karenanya jika kalian melihat gerhana itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah (HR. Bukhari)

 

Sependek yang saya tahu para ulama dalam koridor madzhab empat tidak memaknai "Fakabbiru" di dalam hadits tersebut dengan takbiran seperti hari raya tetapi bermakna mengagungkan Allah dalam arti kekuasaan Allah yang sangat luar biasa di mana benda-benda langit yang besar (matahari dan bulan) tunduk dan patuh atas perintah Allah SWT. atau dengan kata lain katakanlah "Allohu Akbar".

Wallahu Alam

Harapan



Walaupun hukum shalat gerhana, baik Khusuful Qomar maupun Kusufusy Syams adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) sebagaimana shalat Hari Raya, akan tetapi sangat sedikit dari umat Islam yang peduli dengan syariat tersebut. Yakni acuh tak acuh dengan hal tersebut, seakan-akan shalat gerhana adalah shalat yang tidak ada tuntunan dan perintahnya.

Untuk itu demi melanggengkan syariat Islam yang berupa shalat gerhana yang mulai langka di negeri ini serta demi syiarnya Islam, maka apabila kita melihat/mengetahui fenomena gerhana marilah kita bersama memperbanyak takbir, tahmid, istighfar, dan shadaqah serta melaksanakan shalat gerhana. Shalat gerhana bisa dilaksanakan selama gerhana matahari berlangsung, walaupun tidak total.

Referensi:

Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Prof. DR. Wahbah Al-Zuhaily

Roudloh Al-Tholibin, Muhyiddin Yahya bin Syarof Abu Zakariyah Al-Nawawy

Irsyad Al-Murid, KH. Achmad Ghozali Muhammad Fathulloh

Al-Sunan Al-Kubro Li Al-Baihaqi, Ahmad Bin Husein Bin Ali Al-Baihaqi

Al-Durru Al-Aniq, KH. Achmad Ghozali Muhammad Fathulloh

Al-Tafsir Al-Munir, Prof. DR. Wahbah Al-Zuhaily

Tuhfah Al-Muhtaj, Ibnu Hajar Al-Haitamy

Syarah Shohihu Al-Bukhori Li Ibni Al-Bathol, Abul Hasan Ali Bin Bathol Al-Qurtubi

Kompasiana : http://www.kompasiana.com/moeidzahid/sekelumit-sejarah-dan-fiqih-gerhana_56cd312e81afbd010c1ed5f4

* Penulis adalah anggota Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur; Dewan Pakar Lajnah Falakiyah PCNU Kabupaten Gresik



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 15 Desember 2017

Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Masjid Sintru

Karanganyar, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sejarah mencatat bahwa Islam di Indonesia selalu meninggalkan jejak-jejak kisah yang menarik untuk ditelusuri. Jejak-jejak itu menjadi bagian dari peradaban yang dibawa dan dibangun sebagai eksistensi bahwa Islam bukanlah agama terbelakang dan mampu beradaptasi dengan dimensi ruang dan waktu.

Seperti Masjid Al Huda atau Masjid Sintru yang berada di Dukuh Sintru Kulon, Dusun Kembang, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan. Dari penulusuran tim dari Rohis Tegal - Rohani Islam, belum lama ini, Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Sintru ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai peninggalan anak buah Pangeran Diponegoro yang bernama Hasan Tafsir. Sosok ini pula yang ikut menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Karanganyar timur.

Menelusuri Jejak Peradaban Islam  di Masjid Sintru (Sumber Gambar : Nu Online)
Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Masjid Sintru (Sumber Gambar : Nu Online)

Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Masjid Sintru

Bukti peninggalan sejarah tentang peradaban Islam di Masjid Sintru ini dikuatkan oleh kitab pustaka yang berisi pelajaran agama Islam dengan tulisan huruf arab dan terjemahan di bawahnya dengan bahasa jawa namun tetap dengan huruf arab. Kitab tersebut hingga kini masih tersimpan di dalam masjid meski kondisinya tak cukup terawat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Namun sayang, kitab pustaka yang ditinggalkan Hasan Tafsir itu kini sudah tak lagi dapat terbaca oleh masyarakat. Sebab, bahasa Jawa yang digunakan diyakini adalah bahasa Jawa pada zaman dulu, bukan bahasa Jawa yang saat ini dikenal. Apalagi kitab itu kini tersisa beberapa saja. “Kitab yang lainnya dulu dibawa ke Katerban dan Jogorogo di Ngawi, Jawa Timur. Dulu memang banyak dari sini yang nyantri di sana,” ungkapnya.

Kitab-kitab yang dibawa ke Ngawi itu mencapai dua karung. Alasannya pada waktu itu masyarakat setempat kurang peduli terhadap sejarah. Hingga kini hanya satu kitab saja yang tersimpan di Masjid Sintru.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebelum akhirnya dinamai Masjid Al Huda, masjid ini juga sempat diberi nama At Taqwa. “Pergantian nama Al Huda karena pengaruh masa orde baru pada waktu itu,” tuturnya.

Sampai kini masjid Al Huda dipergunakan sebagai masjid induk di Dukuh Sintru. Setahun lalu, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah pernah datang guna mengecek mengenai apakah memang ada kaitannya dengan sejarah atau tidak. Namun hanya berhenti di situ, kini belum terdengar lagi kabar dari BPCB Jateng seputar bukti sejarah Masjid Sintru.

“Kesaktian” Hasan Tafsir

Hasan Tafsir, tokoh yang dianggap sebagai pendakwah yang menetap di Dukuh Sintru sejak abad ke-19, itu mendapat tanah Perdikan dari Mangkunegaran. Konon, Hasan Tafsir yang merupakan anak buah Pangeran Diponegoro itu memiliki kemampuan lebih dari sekadar manusia biasa.

Misalnya saja, ketika ada pencuri yang masuk ke wilayah tersebut, gara-gara ada Hasan Tafsir, pencuri tersebut tidak akan bisa keluar sebelum Hasan Tafsir memberi makan si pencuri tersebut. “Orang pada waktu itu nekat mencuri kan karena lapar,” kata Ustad Parsono Agus Waluyo, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Setelah Hasan Tafsir memberi makan, maka pencuri itu pun dilepas. Namun sebelumnya, ia menyisipkan berbagai nasehat kepada orang tersebut. Dakwah yang dilakukan Hasan Tafsir semacam itu mengundang simpati orang untuk datang untuk belajar ilmu agama dengannya. Sehingga agama Islam di wilayah itu mulai berkembang dan menyebar ke wilayah di sekitarnya.

Bukti tentang sejarah Hasan Tafsir di wilayah tersebut adalah adanya makam yang diyakini menjadi peristirahatan terakhirnya. Dari nisan yang masih ada, Hasan Tafsir diperkirakan wafat pada tahun 1911. Di nisan itu juga terdapat tulisan arab yang ejaannya tidak sembarang dapat membacanya.

Bukti lain dari keberadaan Hasan Tafsir, yakni peninggalan kitab pustaka miliknya. Namun sayang, kitab pustaka yang ditinggalkan oleh Hasan Tafsir itu kini sudah tak lagi dapat terbaca oleh masyarakat.

Sebab, bahasa Jawa yang digunakan diyakini adalah bahasa Jawa pada zaman dulu, bukan bahasa Jawa yang saat ini dikenal. Apalagi kitab itu kini tersisa beberapa saja. “Kitab yang lainnya dulu dibawa ke Katerban dan Jogorogo di Ngawi, Jawa Timur. Dulu memang banyak dari sini yang nyantri di sana,” ungkapnya.

Kitab-kitab yang dibawa ke Ngawi itu mencapai dua karung. Alasannya pada waktu itu masyarakat setempat kurang peduli terhadap sejarah. Hingga kini hanya satu kitab saja yang tersimpan di Masjid Sintru. (Rodif/Ajie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul, Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 14 Desember 2017

Menengok Ngaji Ramadhan di Pesantren Seblak

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam

Mengisi bulan suci Ramadhan dengan pengajian kitab kuning biasanya dilakukan di semua pesantren. Tidak terkecuali Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak Jombang. Pesantren ini berdiri tahun 1921 oleh KH. Mashum Ali dan Hj. Choiriyah Hasyim. Nama terakhir ini adalah putri pertama Hadratussyaikh Hasyim Asyari, pendiri pesantren Tebuireng dan organisasi NU.

Pesantren ini hanya berlokasi 200 meter arah barat dari makam Gus Dur. Sistem pengajian kilatan Ramadhan tahun ini dibagi berdasarkan jenjang sekolah. Baik MTs maupun MA. "Pengajian dibagi berdasar jenis kelamin, dipisahkan antara santri putra dengan santri putri," ujar Subhan, kepala MTs.

Menengok Ngaji Ramadhan di Pesantren Seblak (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Ngaji Ramadhan di Pesantren Seblak (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Ngaji Ramadhan di Pesantren Seblak

Untuk jenjang MTs kelas putri, dibacakan kitab Akhlaq lil Banin karya Syaikh Umar bin Ahmad Baraja. "Yang membaca Ustadz Farhalim, bertempat di mushala pondok," imbuhnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bagi santri putra jenjang MTs, dibacakan kitab Majmu Musytamil ala Arba Rasail karya Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan. "Kitab ini sengaja dipilih karena sebagian besar membahas tentang shalat, dan ini sangat ditekankan di pesantren sini," ujarnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di dalam kitab ini, lanjutnya, juga diterangkan tentang ancaman-ancaman bagi orang yang lalai meninggalkan shalat. "Sehingga diharapkan santri di sini akan dengan mudah untuk melaksanakan shalat, tidak cuma shalat wajib, juga shalat sunat," jelasnya.

Pada jenjang MA, santri putri dibacakan kitab Talimul Mutaallim. "Kitab ini karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji, tahun ini yang membaca Ibu Nyai Mahshunah di masjid madrasah sana," ujar M. Any Rofiq, kepala MA.

Bagi santri putra, dibacakan kitab Qamiut Tughyan karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani. "Kitab ini sengaja dipilih karena membahas tentang akhlaq santri dan itu sesuai dengan visi misi Pesantren Seblak sini," imbuhnya.

Pengajian kilatan ini dimulai pukul 9 pagi. "Setelah semua santri di sini shalat Dhuha mulai jam 7 pagi dilanjut dengan bimbingan baca tulis Al-Quran," paparnya. Itu untuk menjaga agar kefasihan santri dalam membaca Al-Quran tetap terjaga, meskipun mereka rata-rata sudah membaca Al-Quran sendiri setiap ada waktu senggang.

Upaya ini merupakan bagian integral dalam mengisi pekan efektif fakultatif selama bulan Ramadhan. "Jadi, di samping materi pembelajaran yang tidak ketinggalan, siswa juga memperoleh nilai tambah berupa materi dari pengajian ini," tambahnya.

Pengajian kilatan ini akan berakhir pada tanggal 17 Ramadhan. "Nanti biasanya ditutup dengan buka puasa bersama antara pengasuh, pimpinan madrasah, dewan guru dan semua santri," ujarnya. Agenda rutin ini, lanjutnya, tetap digelar untuk semakin mempererat tali silaturrahim dan ikatan emosional antar undangan yang hadir.

Kitab lain yang dibaca bulan Ramadhan ini sudah ditentukan oleh hasil rapat majelis pengasuh bersama dewan ustadz pondok. Di antaranya adalah Riyadhus Sholihin, Akhlaq lil Banin, Tafsir Jalalain, Khulashoh Nurul Yaqin, Istidadul Maut walima Badal Mawt, Abi Jamrah, dan Mabadi Fiqhiyyah. (Red: Mahbib) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul, Nahdlatul Ulama, AlaSantri Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 08 Desember 2017

GP Ansor Waykanan Tingkatkan SDM Anak Yatim Yayasan Shuffah

Waykanan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Bekerja sama dengan Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, GP Ansor Waykanan terlibat aktif mengurai persoalan anak yatim piatu di daerah setempat. Mereka melakukan pemberdayaan yatim dengan menyekolahkan dan sejumlah keterampilan.

GP Ansor Waykanan Tingkatkan SDM Anak Yatim Yayasan Shuffah (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Waykanan Tingkatkan SDM Anak Yatim Yayasan Shuffah (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Waykanan Tingkatkan SDM Anak Yatim Yayasan Shuffah

"Kita tidak boleh lagi asyik terpaku mengulurkan hati bagi anak-anak yatim piatu semata. Hari ini, kita harus mengulurkan keberanian, harapan, keyakinan bagi mereka," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Jumat (9/10).

GP Ansor Waykanan mempunyai program Digdaya (Mendidik Generasi Memberdayakan Masyarakat). "Program tersebut harus diupayakan berjalan dengan perbuatan. Memfasilitasi pelajar untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau Sanlat BPUN telah dilakukan dan mengantar lima generasi muda Waykanan untuk belajar lebih tinggi lagi," kata pemiliki gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu menjelaskan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurut Gatot, GP Ansor sudah menjalin komunikasi Ketua Yayasan Shuffah Khairul Huda. "Yayasan Shuffah sudah memiliki binaan sejumlah anak yatim piatu dan kurang mampu yang kontinu disantuni atau ada pula disekolahkan. Selain dari dana mandiri, ada beberapa pihak yang tertarik untuk berbagi dengan anak-anak yatim piatu," kata Gatot lagi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Alumni Civic Education For Future Indonesian Leaders (CEFIL) Yayasan Satunama Yogyakarta itu lalu melanjutkan, bantuan bagi anak yatim piatu itu akan disalurkan namun dengan konsep pemberdayaan atau pendampingan wirausaha.

"Mereka harus didorong berwirausaha dan tumbuh mandiri. Orang harus bisa menolong dirinya sendiri, dilatih menjadi dokter bagi diri sendiri jika sakit. Mereka harus diberi tanggung jawab sejak dini. Kita tidak boleh terus menerus merebut tanggung jawab mereka dengan memberi bantuan-bantuan yang berdampak memanjakan. Mereka harus tumbuh menjadi ksatria, individu bermartabat yang tidak lari dari tanggung jawab diamanahkannya," ujar Gatot lagi.

Wirausaha akan dijalankan anak yatim piatu ini sesuai keinginan mereka. Mereka bisa berjualan beras, pulsa, madu atau yang lain.

"Kita akan mendengarkan keinginan mereka lalu kita fasilitasi. Bantuan tersebut nanti akan disalurkan dalam bentuk barang dengan nominal tertentu, misal Rp500 ribu. Setelah itu Ansor dan Yayasan Shufah akan membantu memasarkan dagangan mereka, mengajari mereka mencari jaringan. Gerakan pemberdayaan semacam itu yang akan kami jalankan secara bertahap. Saya optimistis dan tidak ragu, hal baik dan untuk NU selalu ada jalan," kata Gatot lagi. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 30 November 2017

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi

San Francisco, Rohis Tegal - Rohani Islam. Facebook Inc menambah alat untuk melaporkan konten pornografi "revenge porn" dan mencegahnya dibagikan kembali begitu sudah dilarang.

"Revenge porn", dikutip dari laman Reuters, adalah berbagi gambar seksual di internet tanpa izin orang yang ditampilkan di gambar, dengan maksud mempermalukan orang tersebut.

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi (Sumber Gambar : Nu Online)
FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi (Sumber Gambar : Nu Online)

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi

Aksi itu umumnya merugikan perempuan, biasanya menjadi target mantan pasangan mereka.

Facebook dituntut di Amerika Serikat dan negara lainnya oleh orang-orang yang berpendapat perusahaan tersebut seharusnya melakukan lebih banyak usaha untuk mencegah.

Rohis Tegal - Rohani Islam

2015 lalu, Facebook dengan jelas menyatakan melarang gambar "yang dibagikan dalam rangka balas dendam" dan pengguna pun dapat melaporkan unggahan yang menyalahi ketentuan penggunaan.

Mulai Rabu (5/4), pengguna dapat melihat opsi melaporkan gambar yang tidak layak karena merupakan "foto tanpa busana", kata Facebook dalam keterangan.

Mereka juga meluncurkan proses otomatis untuk mencegah pembagian berulang gambar yang sudah dilarang.

Teknologi photo-matching akan membuat foto tersebut berada di luar jaringan Facebook, termasuk juga Instagram dan Messenger.

Akun pengguna yang membagikan "revenge porn" akan dimatikan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Facebook tahun lalu bertemu perwakilan lebih dari 150 organisasi keselamatan perempuan dan berkomitmen untuk melakukan lebih banyak hal, kata Kepala Keamanan Global Facebook, Antigone Davis, melalui telepon.

Tim khusus dari Facebook akan menyertakan tinjauan manusia pada setiap gambar yang dilaporkan.

Gambar yang dilarang akan masuk ke database Facebook dan hanya segelintir orang yang memiliki akses ke data itu. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Cerita, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 27 November 2017

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi

Medan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Gatot Pujo Nugroho mengungkapkan harapannya agar Pra-Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) Zona Sumatera yang akan digelar pada 17-18 Mei di Medan menghasilkan rekomendasi mambantu pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan.

Gatot menyampaikan hal itu kepada Panitia Pelaksana Pra-Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera saat silaturahim di Rumah Dinas Guberur Sumut, Jalan Sudirman No 41, Medan, Jumat (8/5). Rombongan panitia dipimpin Ketua PWNU Sumut Afifuddin Lubis didampingi Wakil Rais Syuriyah PWNU Sumut Imron Hasibuan dan Ketua Panitia Pra Muktamar Adlin Damanik.

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sumut Berharap NU Bantu Pemerintah Bangun Ekonomi

Gubernur Sumut dalam kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atas kepercayaan yang diberikan kepada Medan, untuk menjadi lokasi pelaksanaan Pra-Muktamar, menyongsong perhelatan akbar Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada Agustus mendatang.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Untuk itu, Gatot berharap pelaksanaan Pra-Mukatamar menghasilkan sebuah rekomendasi untuk mengingatkan kembali pemerintah tentang kedaulatan dan pemerataan ekonomi sesuai tema yang diusung Pra-Muktamar ke-33 ini.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Bahwa yang saya tahu amanah konsitusi bagaimana membangun ekonomi bangsa ini adalah dengan ekonomi kerakyatan, ekonomi gotong royong. Sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi dan hari ini diamanahkan oleh Bapak Presiden dengan konsep gotong royongnya," ujar Gubernur Sumut.

Sementara itu Ketua PWNU Sumut Afifuddin Lubis mengatakan, tujuan kedatangan pihaknya adalah selain bersilaturahim juga ingin mengundang Gubernur Sumut untuk memberi sambutan dalam acara tersebut. "Kami mohon Pak Gubernur dapat hadir untuk memberi arahan dan sambutan," ujarnya.

Gubernur Sumut dalam kesempatan itu didampingi Asisten III Zulkarnain dan Kepala Biro Binkessos M Yusuf. Turut hadir pula Wakil Ketua PWNU Sumut M Hatta Siregar, Wakil Bendahara PWNU Baharuddin Berutu, Wakil Rais Syuriah Katimin, Sekretaris Panitia Abrar M Dawud Faza, Katua LDNU Sumut A Sori Monang, Wakil Ketua PWNU Enda Mora Lubis, Bendahara Panitia Pasiruddin Daulay, Wakil Sekretaris PWNU Sumut Khairuddin Hutasuhut, Wakil Sekretaris PWNU Upar Pulungan dan Wakil Keta PWNU Sumut Marahalim Harahap.

Sebelumnya, acara Pra-Muktamar ke-33 NU digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan materi pembahasan seputar konsep “Ahlul Halli wal Aqdi; serta di Makassar, Sulawesi Selatan, dengan mengusung tema tentang Islam Nusantara. Medan kali ini bakal menjadi tuan rumah bagi pembahasan ekonomi kerakyatan. (Suwardi Sinaga/Mahbib)

Foto: Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho foto bersama Panitia Pra Muktamar ke-33 NU Zona Sumatera.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama, Ubudiyah, Aswaja Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 25 November 2017

Berbahayakah Jika Herpes Terjadi pada Mata?

Sidoarjo, Rohis Tegal - Rohani Islam

Dokter spesialis mata Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, dr Yulianti Kuswandari menyebutkan, ada dua jenis penyakit herpes yang perlu diwaspadai, pertama herpes zoster. Herpes zoster merupakan virus yang tumbuh di dalam saraf dan bisa menyebar ke kulit, menyebabkan shingle (herpes zoster). Keadaan ini sebetulnya bukan merupakan ancaman bagi mata. 

Tetapi jika saraf oftalmikus (cabang dari saraf trigeminalis terinfeksi, maka infeksi akan lebih mudah menyebar ke mata, dapat mengenai segala lapisan usia, dari anak-anak sampai manula, menyerang area kulit dan mengenai selaput lendir, namun tidak berhubungan sama sekali dengan kelamin, serangannya bersifat segmented. Jadi bila area  kulit wajah yanga terinfeksi, maka hanya area itu saja yang terserang. Karena mengenai satu jalur saraf saja.

Berbahayakah Jika Herpes Terjadi pada Mata? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbahayakah Jika Herpes Terjadi pada Mata? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbahayakah Jika Herpes Terjadi pada Mata?

 

"Gejala yang muncul biasanya badan terasa meriang, pening, dan nafsu makan menurun, nyeri dan perih. Masa inkubasi 7 sampai 12 hari. Setelah beberapa hari, akan muncul  bintik-bintik kecil berisi air. Bintik ini akan berubah warnanya setelah beberapa hari. Bahkan dalam kasus yang berat, bintik-bintik ini akan bernanah," kata dr Yulianti, Senin (18/1).

Rohis Tegal - Rohani Islam

 

Kedua herpes simplex. Menurut Yuli, ada dua tipe herpes simplex. Herpes simplex tipe satu, disebabkan oleh virus HSV-1 (bibir atau batas antara kulit dengan selaput lendir)  dan Herpes Simplex tipe dua, disebabkan oleh virus HSV-2 (daerah kelamin). Tipe pertama juga bisa menyerang anak-anak. Untuk mendeteksi jenis virus yang masuk ke dalam tubuh, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium.

 

"Herpes sangat bisa disembuhkan, sudah ada pengobatan medis yang memadai, tetapi  waktunya relatif agak lama. Penyembuhan yang lama juga menyisakan cacat pada kulit dan tidak sedap dipandang. Bayangkan jika serangan herpes terjadi pada wajah, sungguh hal yang tidak kita inginkan," tanya dokter yang bertugas di Rumah Sakit NU Sidoarjo itu.

Rohis Tegal - Rohani Islam

 

Yuli menjelaskan, secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Bisa melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar dan sentuhan ke atas gelembung/lepuh yang pecah. Pada penyakit Herpes Genitalis (genetalia), penularan terjadi melalui perilaku sex. Sehingga penyakit Herpes genetalis ini kadang diderita dibagian mulut akibat oral sex.

 

"Seseorang yang pernah terkena virus Vaeicella akan terjadi dua kemungkinan . Kalau baru pertama kali akan muncul cacar air tetapi apabila sudah pernah terjadi cacar air bila kondisi tubuh meurun akan muncul herpes Zooster," jelasnya.

 

Herpes zoster sebenarnya dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi. Walau begitu, lanjut Yuli, ternyata vaksinasi yang diberikan tidak dapat menjamin seseorang bebas dari virus ini. Semakin tua umur seseorang, dimana semakin menurun pula fungsi organ dan imunitasnya. Sehingga ia rentan mengalami berbagai penyakit infeksi, salah satunya herpes zosterini. Selain itu menjaga pola istirahat dan pola makan agar sistem imun stabil.

 

"Jika herpes zoster menginfeksi wajah dan membahayakan mata, maka untuk mengurangi resiko terjadinya komplikasi pada mata, seringkali diberikan asiklovir per-oral (melalui mulut) selama 7 hari. Bisa juga diberikan tetes mata corticosteroid. Tetes mata atropin seringkali digunakan untuk menjaga agar pupil tetap lebar dan membantu mempertahankan tekanan di dalam mata," terangnya.

Menurutnya, obat-obatan yang diberikan pada penderita penyakit herpes atau cacar ditujukan untuk mengobati keluhan gejala yang ada seperti nyeri dan demam, misalnya diberikan paracetamol. Pemberian Acyclovir tablet (Desciclovir, famciclovir, valacyclovir, dan penciclovir) sebagai antiviral bertujuan untuk mengurangi demam, nyeri, komplikasi serta melindungi seseorang dari ketidakmampuan daya tahan tubuh melawan virus herpes. Sebaiknya pemberian obat Acyclovir saat timbulnya rasa nyeri atau rasa panas membakar pada kulit, tidak perlu menunggu munculnya gelembung cairan (blisters). (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Meme Islam, Nahdlatul Ulama, Khutbah Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 13 November 2017

IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Orientasi Pengurus Baru

Bojonegoro, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bojonegoro menggelar orientasi pengurus baru masa bakti 2014-2016 di Aula PC LP Maarif Kabupaten Bojonegoro, Ahad (14/9).

IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Orientasi Pengurus Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Orientasi Pengurus Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Orientasi Pengurus Baru

Kegiatan tersebut sebagaimana disampaikan siaran pers yang dikirim Senin (15/9) difasilitatori tim kaderisasi Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Jawa Timur, yaitu W. Eka Wahyudi . Hadir pula ketua PW IPNU Jatim Imam Fadlli.

Pada kesempatan itu Imam Fadli mengatakan berorganisasi butuh yang namanya strategi planing dan perumusan visi juga misi agar ke depannya bisa berjalan terarah dan bisa terukur.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam kegiatan orientasi ini terdapat 5 materi yang disampaikan sebagai bekal pengurus ke depan yaitu tinjauan historis IPNU-IPPNU, Landasan perjuangan, Strategic Planing, Analisa SWOT dan perumusan visi dan misi PC. IPNU-IPPNU Bojonegoro masa bakti 2014-2016.

Dalam perumusan visi didapat visi PC IPNU-IPPNU Bojonegoro masa bakti 2014-2016 adalah terwujudnya pelajar dan santri Bojonegoro yang berkarakter dan kompetitif.

?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketua PC IPPNU BojonegoroMuqoddimatus Sholichah berharap dengan kegiatan ini bisa menjadi awal yang baik bagi organisasi dan bisa tercipta sinergitas antar-pengurus dalam menjalankan organisasi IPNU-IPPNU 2 tahun ke depan. (Red: Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock