Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Maret 2018

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam?

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama H. Arifin Junaidi menegaskan pihaknya memiliki madrasah formal sejumlah 48 ribu. Menurut dia, murid dan guru lembaga tersebut menolak kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Sekolah 5 Hari.?

“Jika kebijakan ini dipaksakan, Prgunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) dan Ma’arif akan datang ke Jakarta,” ungkapnya pada konferensi bersama Pengurus Besar PBNU menyikapi kebijakan Sekolah 5 Hari di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (15/6). ?

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti (Sumber Gambar : Nu Online)
Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti (Sumber Gambar : Nu Online)

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti

Karena, menurut laporan yang diterima dari lembaga-lembaga M’arif di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Makassar, Banjarmasin, Maluku, kebijakan tersebut sangat merasahkan.?

“Saya telah berkomunikasi dengan LP Ma’arif di Makassar, di Banjarmasin; terjadi keresahan yang luar biasa kebijakan Mendikbud ini,” katanya.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia menambahkan, sebelumnya Mendikbud akan membuat kebijakan Full Day School (FDS). Kemudian diubah menjadi kebijakan Sekolah Lima Hari dengan belajar selama 8 jam sehari. Ini adalah kebijakan yang sama saja, beda nama.?

“Mendikbud telah bikin gaduh. Kami meminta Presiden untuk menggantinya,” tegasnya. ?

Arifin menambahkan, di luar 48 ribu madrasah di bawah LP Ma’arif terdapat 70 ribu Madrasah Diniyah Takmiliyah yang waktu belajarnya sore hari. Dengan demikian, kebijakan tersebut akan 7 juta murid Madrasah Diniyah Takmiliyah tersebut. (Abdullah Alawi)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Budaya, IMNU, Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 25 Februari 2018

Tafsir Lain Konflik Gus Dur-Muhaimin

Surabaya, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ketua Ikatan Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (Ikapete) M Masud Adnan punya tafsir lain yang menarik soal konflik berkepanjangan antara almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan kubu Muhaimin Iskandar di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Menurut Masud Adnan, konflik sengaja dicipta Gus Dur sebagai proses kaderisasi. Menurutnya, konflik antara Gus Dur dengan ketua umum PKB Muhaimin Iskandar yang memang sengaja dikonstruk oleh Gus Dur itu merupakan bagian dari dramaturgi.

Tafsir Lain Konflik Gus Dur-Muhaimin (Sumber Gambar : Nu Online)
Tafsir Lain Konflik Gus Dur-Muhaimin (Sumber Gambar : Nu Online)

Tafsir Lain Konflik Gus Dur-Muhaimin

"Gus Dur harus dibedakan antara di panggung politik dengan di luar politik," kata Masud, saat menjadi pembicara di bedah buku Gus Dur Ya PKB, PKB Ya Gus Dur di ruang salsabila kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Akbar Timur 9 Surabaya, Sabtu (5/4).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kesimpulan Masud ini berdasarkan sebuah kejadian beberapa tahun lalu saat konflik terbuka antara dua tokoh ini ramai diberitakan di banyak media.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Masud bercerita, suatu ketika Gus Dur dan Muhaimin menghadiri undangan seorang kiai di sebuah wilayah di pegunungan. Kiai itu, cerita Masud, bermaksud mendamaikan Gus Dur dan Muhaimin. Tapi upaya itu urung terjadi setelah Gus Dur menyampaikan bahwa tidak ada apa-apa antara dirinya dengan PKB maupun Muhaimin.

"Menariknya, setelah pulang Gus Dur dan Muhaimin satu pesawat dan tidak apa-apa," paparnya di hadapan ratusan peserta bedah buku yang mayoritas terdiri dari kader-kader muda NU ini.

"Waktu itu pas ramai-ramainya koran memberitakan konflik keduanya," imbuh penulis beberapa buku tentang Gus Dur ini.

Alhasil, Masud memahami bahwa konflik antara Gus Dur dan Muhaimin Cs tidak lebih dari sebuah dramaturgi politik Gus Dur. "Jadi Gus Dur, antara di panggung politik dan tidak, berbeda. Ini sebetulnya tradisi di Tebuireng. Di Tebuireng, Gus Dur biasa gebrak-gebrak meja, tapi setelah itu tidak ada apa-apa," katanya.

Dramaturgi yang sengaja dicipta oleh Gus Dur itu, kata Masud, adalah bagian dari kaderisasi kepemimpinan kepada kader-kadernya.

"Cara mendidik Gus Dur (kepada) kadernya (dengan cara) dibanting-banting seperti cara Nabi Khidir. Akhirnya, kader-kadernya tahan banting," Masud menguraikan.

Buku Gus Dur Ya PKB, PKB Ya Gus Dur itu berisi testimoni dari orang terdekat Gus Dur. Mereka adalah Much Munib Huda (asisten pribadi Gus Dur), Sulaiman (asisten pribadi Gus Dur 2001-akhir), Bambang Susanto (wartawan yang mengkoordinir media dalam berbagai kegiatan konferensi pers Gus Dur), dan Gus Yusuf (Pengasuh Pesantren Tegalrejo Magelang).

Sulaiman yang hadir dalam bedah buku itu bersama Munib dan Bambang mengatakan, konflik sengaja dibangun Gus Dur sebagai bagian dari kaderisasi kepemimpinan. "Gus Dur sengaja mencipta konflik untuk mengkader kader-kadernya agar siap menjadi pemimpin," tandasnya. (Abdul Hadi JM/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Doa, IMNU, Kajian Islam Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 06 Februari 2018

Kepada IKA PMII, Bupati Banyumas: Kalian adalah Emas bukan Tanah

Banyumas, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sebuah emas tidak bisa muncul begitu saja dari tanah, tapi harus melalui beberapa proses yang panjang dan berat. Tahap demi tahap harus dilaluinya, setelah itu baru terbentuklah sebuah emas.?

Demikian disampikan Bupati Banyumas, Ahmad Husein pada saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan Ikatan Keluarga Alumni Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Cabang Kabupaten Banyumas periode 2017-2022, Sabtu malam (13/5) di Pendopo Kabupaten Banyumas.?

Husain menggambarkan, semua kader IKA PMII adalah tanah yang nantinya akan menjadi emas. Emas yang dimaksudkan Husain adalah kesuksesan.

Kepada IKA PMII, Bupati Banyumas: Kalian adalah Emas bukan Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepada IKA PMII, Bupati Banyumas: Kalian adalah Emas bukan Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepada IKA PMII, Bupati Banyumas: Kalian adalah Emas bukan Tanah

"Namun tidak mudah untuk menjadi emas, harus malaui ujian yang panjang, kader-kader IKA-PMII harus kuat menghadapi ujian demi ujian tersebut," katanya.?

Husain juga menjelaskan, tidak semua tanah bisa menjadi emas. Ada yang menjadi tembaga, aluminium, besi dan sebagiannya.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Hanya tanah yang bagus yang bisa menjadi emas, hanya kader yang kuat dan cerdas yang bisa sukses," lanjutnya.

Selain itu, Husain juga berharap kepada kader IKA-PMII yang telah dilantik untuk bisa berperan aktif memajukan perekonomian desa tempat tinggalnya. "Kembangkan ide-ide kemajuan ekonomi kalian didalam lingkungan masyarakat," jelasnya.

"Tunjukan bahwa kalian adalah emas, bukan tanah," tegas Husain.? (Kifayatul Ahyar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam News, Humor Islam, IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 03 Februari 2018

Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar

Bandung, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Jawa Barat menggelar ragam pagelaran seni budaya di halaman kantor PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung, KOta Bandung, Jabar, Sabtu (21/6) malam ini.

Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar

Ragam seni dalam rangka pelantikan Lesbumi Jabar ini, di antaranya menyajikan penampilan alat musik tiup khas Sunda, karinding, dari murid-murid SMP Maarif Bandung.

Turut memeriahkan juga aksi baca puisi oleh para seniman Bandung, di antaranya Iman Soleh, kemudian pidato kebudayaan oleh KH Maman Imanulhaq.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kegiatan tersebut akan ditutup dengan pagelaran wayang golek dengan dalang Dede S Sunandar Sunarya. Ia akan membawakan lakon Budak Buncir diiringi dengan kacapai suling.

Sebelumnya, pagi, diadakan bedah buku Baban Kana karya Kh Zamzami Amin. Buku tersebut menceritakan peristiwa perang kedongdong di daerah cirebon. Selepas dhuhur diadakan upgrading seni budaya untuk menyamakan persepsi antara agama dan budaya.

Diskusi yang dipandu Ketua PW Lesbumi Jabar, Widodo Abidarda, tersebut mendaulat M Noh, mantan Rektor Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, sebagai pembicara. Hadir pada kesempatan itu, Dinaldo, salah seorang pengurus PP Lesbumi. (Abdullah Alawi)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Doa, Fragmen, IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 01 Februari 2018

Kisah Mbah Muchit Muzadi dan Kekuatan Membacanya

Jember, Rohis Tegal - Rohani Islam. Jika dihitung mundur, hari ini genap 1 tahun wafatnya KH. Abdul Muchit Muzadi. Meski telah pergi, namun banyak kenangan yang layak menjadi uswah atau teladan bagi kehidupan generasi muda. Salah satunya adalah rutinitas beliau dalam mengikuti perkembangan nasional melalui media massa.?

Kisah Mbah Muchit Muzadi dan Kekuatan Membacanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Mbah Muchit Muzadi dan Kekuatan Membacanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Mbah Muchit Muzadi dan Kekuatan Membacanya

Kendati sudah cukup sepuh dan kondisi fisiknya sudah kurang fit, Mbah Muchit masih rajin membaca koran, majalah dan sebagainya. Beliau memang langganan 1 koran nasional (Jawa Pos) dan beberapa majalah, termasuk AULA milik PWNU Jawa Timur. Bahkan beberapa kali Rohis Tegal - Rohani Islam sowan ke kediamannya, Mbah Muchit baru saja selesai membaca koran.?

“Abah memang hampir tak pernah absen membaca koran,” ucap putrinya, Ning Atiq kepada Rohis Tegal - Rohani Islam di Jember, Jumat (30/9).?

Selain itu, Mbah Muchit termasuk orang luar biasa ingatannya. Orang sesepuh beliau masih begitu lancar ketika ditanya soal sejarah dan lika-liku NU jaman dulu. Termasuk peristiwa-peristiwa politik yang bersinggungan dengan NU, begitu lancar beliau menjelaskannya secara detail. Apalagi soal sejarah perjuangan KH. Hasyim Asy’ari, mengenai santri-santrinya, bahkan beliau hafal betul soal silsilah gurunya, KH. Hasyim Asy’ari. Lebih-lebih soal khittah NU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mbh Muchit juga pandai menyimpan “kenangan” NU. Kalau kita masuk ke kamar tidurnya, di dinding temboknya yang putih itu masih digantung sekian eblek yang beliau pakai saat mengikuti acara-acara besar NU di tahun-tahun lawas, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Sebagai tokoh nasional, Mbah Muchit sering dikunjungi para pejabat maupun tokoh politik, mulai dari yang sekadar sowan hingga yang punya kepentingan politik, misalnya minta dukungan untuk kontestasi Pemilukada dan sebagainya.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Namun Mbah Muchith tak pernah ambil pusing dengan keinginan sang tamu, tapi tetap lemah lembut dan arif menyikapinya. Kalaupun beliau mendukung, paling banter hanya sebatas memberi saran, tapi tak pernah terlibat dalam aksi mendukung secara vulgar, misalnya kampanye.

Kearifan Mbah Muchit juga bisa dilihat saat riuhnnya masyarakat yang mempersoalkan ucapan dan tingkah nyleneh Gus Dur. Beliau sering bilang, “Gus Dur itu bukan malaikat yang selalu benar, tapi juga bukan setan yang selalu salah”. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, Pendidikan Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Buka Stan di NU Expo, ASBIHU Jelaskan Cara Pendirian Kantor Perwakilan

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Asosiasi Bina Haji dan Umroh Nahdlatul Ulama (Asbihu NU) bakal membuka stan di NU Expo Surabaya pada tanggal 21-24 Desember 2016.

Direktur ASBIHU Tour and Travel, H Hafidz Taftazani berharap para pengurus NU, baik tingkat Wilayah maupun Cabang untuk hadir dan mendatangi stan yang telah disiapkan.

Buka Stan di NU Expo, ASBIHU Jelaskan Cara Pendirian Kantor Perwakilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Stan di NU Expo, ASBIHU Jelaskan Cara Pendirian Kantor Perwakilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Stan di NU Expo, ASBIHU Jelaskan Cara Pendirian Kantor Perwakilan

"Di sana kita akan buka stan. Pengurus NU bisa bertanya langsung bagaimana cara mendirikan kantor perwakilan Asbihu di masing-masing daerah," kata Hafidz di Jakarta, Jumat (16/12).

Hafidz menegaskan, setiap cabang yang mendirikan kantor perwakilan bakal mendapatkan pelatihan manajemen dari pengurus pusat.

? ? ? ?

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Asbihu sudah mengembangkan profesionalisme, termasuk mendatangkan motivator-motivator ke beberapa wilayah seperti Jawa Tengah, Jatim, Jabar dan Lampung," katanya.

Asbihu memberikan insentif kepada wilayah dan cabang NU di setiap daerah yang memiliki perwakilan Asbihu. Besarnya insentif adalah senilai US$10 per jamaah di tingkat wilayah, dan US$20 per jamaah di tingkat cabang.

“Namanya ibadah umrah, jamaahnya berada di wilayah dan cabang. Insentif diberikan karena cabang dan wilayah memiliki jamaah atau warga yang berangkat umrah melalui ASBIHU. Dengan adanya insentif kepada cabang dan wilayah, perwakilan sudah melakukan imbal balik kepada cabang dan wilayah,” kata pria yang juga menjabat Bendahara PBNU ini.

Pemberian insentif dilakukan pada akhir tahun dengan mengakumulasi banyaknya jamaah yang melakukan ibadah umrah melalui ASBIHU Tour and Travel. Pihaknya berharap dengan pemberian insentif ini akan memotivasi setiap cabang dan wilayah serta setiap perwakilan untuk menjadi mitra ASBIHU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kami harapkan PWNU dan PCNU mulai tahun ini mendapatkan insentif atau fee tersebut,” kata Hafidz seraya menambahkan bahwa sementara ini sistem pemberian insentif yang sudah berjalan kebanyakan adalah di Jawa Tengah.

Saat ini, ASBIHU Tour and Travel telah memiliki 60 perwakilan di seluruh Indonesia. “Selain di Jawa Tengah, perwakilan juga tersebar di Bekasi, Sukabumi, Lampung, Malang, Banjarmasin,” kata Hafidz. (Zunus)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, Ubudiyah, Cerita Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 26 Januari 2018

Khutbah Jumat, Ruang Sosialisasi Ajaran Kemanusiaan

Oleh KH Husein Muhammad

Satu ruang keagamaan penting sekaligus strategis dalam komunitas Muslim adalah mimbar Jumat. Ia adalah ruang pertemuan kaum Muslimin sekali dalam sepekan yang dikemas dalam upacara keagamaan yang sangat spesifik dan memiliki sakralitas tinggi. Khutbah adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah shalat Jumat. Para jamaah diserukan untuk mendengarkannya dengan "khusyu". Mereka tidak boleh bicara, bahkan termasuk menegur orang lain. Pikiran jamaah harus difokuskan untuk memperhatikan isi khutbah. Secara literal khutbah berarti pidato atau ceramah.

Khutbah Jumat, Ruang Sosialisasi Ajaran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Jumat, Ruang Sosialisasi Ajaran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Jumat, Ruang Sosialisasi Ajaran Kemanusiaan

Khutbah Jumat sejak awal dimaksudkan sebagai wahana penyampaian ajaran-ajaran Tuhan kepada masyarakat sekali dalam sepekan. Agama-agama Samawi yang lain: Yahudi dan Nasrani, juga menyelenggarakan hal yang sama meski dengan hari yang berbeda dan dengan metode yang juga berbeda. Cara dan hari apa bukanlah sesuatu yang esensial. Yang esensial adalah pesan-pesan kebaikan yang harus disampaikan kepada masyarakat (umat). Dalam Islam pesan kebaikan disebut dengan taqwa. Pesan ini adalah "rukun" utama khutbah. Tanpa pesan ini upacara keagamaan ini menjadi batal.

Taqwa adalah kata paling paling sentral bagi seluruh pesan-pesan Islam. Secara literal ia berarti pengendalian atau menjaga diri. Para ulama sepakat menyebut taqwa sebagai jami kulli khair, yang menghimpun segala kebaikan dan kesalehan baik personal maupun kolektif. Para khatib Jumat biasanya menyampaikan bahwa taqwa adalah melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Atau dengan kata lain yang juga populer: amar maruf nahi munkar.

Tetapi pernyataan ini tentu saja sangat umum. Apa saja bentuk tindakan yang dipandang baik yang harus diikuti, dan apa yang dianggap buruk yang harus dijauhi. Elaborasi mengenai tindakan-tindakan taqwa, kriteria-kriteria atau sifat-sifat orang yang bertaqwa secara lebih detail disebutkan dalam banyak ayat yang lain. Antara lain dalam Q.S. [2]:177). Ayat ini mengandung tiga hal besar: kepercayaan personal atau aqidah, ibadah personal (ibadah) dan komitmen kemanusiaan (masalahah ammah). Maka khutbah diarahkan, pertama, untuk memperkuat dan meneguhkan komitmen keagamaan, terutama dalam kaitannya dengan keyakinan/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan keyakinan adanya kehidupan sesudah mati. Kedua untuk memperbaiki cara menyembah kepada-Nya sebagai pengakuan formal atas keyakinan tersebut. Atau dalam bahasa yang lebih populer memperbaiki dan meningkatkan ibadah kepada Tuhan. Ketiga, menyerukan kepada masyarakat Muslim untuk melakukan kerja-kerja social-kemanusiaan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Dua yang pertama bersifat personal dan menjadi basis bagi yang ketiga.

Pesan-pesan moral kemanusiaan Islam terungkap pada banyak sekali teks suci Al-Qur’an. Antara lain :

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Hendaklah kalian saling bekerjasama dalam menegakkan "al-Birr" (kebaikan sosial kemanusiaan/universal) dan jangan bekerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya".

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah adalah bersaudara. Maka berdamai lah kalian. Bertakwalah kalian. Allah akan menyayangimu".

Dari hadits Nabi juga banyak sekali. Antara lain, Nabi menginformasikan kepada kita bahwa mendamaikan konflik antar manusia memiliki nilai lebih utama ketimbang shalat, puasa atau zakat. Karena kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik tersebut adalah kebinasaan agama". (Al-Jami’ al-Shaghir, I/197).

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Allah menolong hamba-Nya yang menolong temannya."

"Satu hari seorang pemimpin bertindak adil terhadap rakyatnya adalah lebih utama daripada orang yang beribadah selama 60 tahun".(Al-Maqashid al Hasanah, hlm. 334). Dan Jihad yang paling utama adalah menyampaikan pesan kebenaran kepada pemerintah yang zalim (Al-Jami al Shaghir, I/81).

Sejarah kehidupan kaum Muslimin generasi awal memperlihatkan kepada kita bahwa mereka tidak pernah mendikotomisasi ibadah individual dan ibadah sosial. Pada dini hari yang tenang kaum Muslimin generasi awal (as-salafus shalih) khusyuk dalam sujud, dalam doa memohon ampunan Tuhan, membaca dan mentadabburi (memikirkan dan merenungkan makna-makna Al-Qur’an, sementara pada siang harinya mereka memacu kudanya, mencari air dan rumput, berjuang, menanam kurma dan kerja-kerja sosial kemanusiaan. Seluruh kerja dan perjuangan untuk mewujudkan tatanan sosial yang adil dan menegakkan martabat kemanusiaan adalah ibadah (pengabdian kepada Tuhan) yang tidak kurang pahalanya dari ibadah individual/personal.

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Cirebon, Jawa Barat

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Makam, IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 25 Januari 2018

Racikan Bakso Cinta ala Banser Kudus

Kudus, Rohis Tegal - Rohani Islam. Namanya saja sudah mengundang selera. Ini kesan pertama saat melihat Warung Bakso Cinta 99 yang berlokasi di Jl Kudus -  Colo km5, Bae (Karangdowo) Kudus.

Racikan Bakso Cinta ala Banser Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Racikan Bakso Cinta ala Banser Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Racikan Bakso Cinta ala Banser Kudus

Warung bakso milik Anggota Banser Kudus Noor Ahmadi (27 th) ini memang memiliki kekhasan tersendiri. Bukan saja dari namanya, sajiannya pun nikmat dirasakan dan menyehatkan. 

Disamping menu Bakso, warung ini juga menjual Mie Ayam Hijau dan berbagai minuman. Yang menjadi khasnya, nama bakso termasuk  glondong-nya  beraroma lambang cinta (hati) dan racikan bumbu serta bahannya bebas bahan pengawet. Begitu pula Mie ayamnya, pewarnanya menggunakan sayuran sawi dan kaldu ayam kampung asli. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ditemui Rohis Tegal - Rohani Islam di warungnya, Ahmadi mengatakan  terwujudnya warung  bakso khas ini terinspirasi oleh rasa  cintanya dengan Asmaul Husna yang berjumlah 99. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Dengan nama ini usaha kami mendapat berkah dari Allah melalui asmaul husna. Begitu juga menumbuhkan daya tarik selera para penggemar bakso terutama  kawula muda yang punya perasaan cinta,”ujarnya memulai bercerita.

Ia menjelaskan cinta telah menjadi naluri setiap laki-laki dan perempuan. Tetapi dalam memaknai cenderung salah kaprah, cinta sering diartikan maupun diungkapkan dengan rayuan dan nafsu.

“Di Warung kami ini, perasaan cinta tidak hanya diungkapkan dengan kata-kata rayuan tetapi bisa diungkapkan  semangkok bakso,”tambah Noor Ahmadi. 

Ahmadi menuturkan warungnya menyajikan yang khas dan berinovasi sehingga setiap yang datang memiliki kesan yang berbeda.

“Bukan saja menikmati aromanya tetapi mereka bisa merasakan menu sajian tanpa bahan pengawet alias yang menyehatkan,”tandas bnggota Banser kecamatan Dawe ini.

Menyingggung harga daging yang mahal, Ahmadi tidak merasa khawatir. Hal tersebut, menurutnya, tidak akan mempengaruhi penjualannya. 

“Termasuk isu bakso daging Babi, saya tidak terpengaruh karena bakso kami sangat aman.Mosok anggota banser menggunakan kayak begitu,”ucapnya berseloroh.

Warung Bakso cinta ini memang sederhana berukuran  4x4 m itu, tetapi desainnya penuh  dekoratif. Dinding ruangan dalam disediakan papan corat-coret ungkapan  kata-kata cinta. 

“Papan tersebut sengaja saya siapkan pada pembeli mengungkapkan perasaan cinta terutama kesan terhadap bakso cinta 99 ini,”ujar Ahmadi yang mantan aktifis IPNU Kudus.

Bagi anda penikmat bakso termasuk yang sedang perjalanan ziarah menuju makam Sunan Muria bisa mampir ke warung bakso cinta 99 ini. Selain sesuai selera, harganya pun terjangkau.Satu  porsi bakso pandangan pertama (isi daging) Rp 5.000,- dan bakso cinta terpendam Rp 6.000,- serta  Mie ayam  Rp. 6.000/porsi.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 14 Januari 2018

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana

Barru, Rohis Tegal - Rohani Islam. Dalam pembukaan kegiatan Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA) yang dilaksanakan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) bekerja sama dengan Department of Foreign and Trade (DFAT) Australia, Kepala pelaksana harian Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Barru, Abdul Kadir mengucapkan terima kasih kepada LPBINU dan BPBD Kabupaten Barru merasa terbantu oleh kegiatan-kegiatan terkait penanggulangan bencana (PB) yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh LPBINU.?

Menurut Kadir, penanggulangan bencana seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat, dan pelaku bisnis. Yang menjadi persoalan utama saat ini adalah bagaimana penyelenggaraan PB dapat berlangsung secara partisipatoris. Para pihak terutama masyarakat mampu mengenali risiko dan memiliki kapasitas untuk melakukan upaya PRB. “Oleh karena itu, diperlukan banyak kegiatan seperti pelatihan untuk meningkatkan kapasitas mereka,” ujarnya.

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana

Pelatihan PRB dan PDRA akan berlangsung selama 4 (empat) hari, 07-10 September 2016. Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai institusi, diantaranya LPBI NU Kabupaten Barru, Fatayat NU, GP Ansor, Tokoh masyarakat, TP PKK, karang taruna, Lembaga pendidikan, dan Pelaku usaha kecil dan menengah. Mayoritas peserta merupakan masyarakat Desa Lalabata. Desa Lalabata dipilih sebagai lokasi dan praktek pelatihan dengan pertimbangan bahwa desa ini memiliki risiko tinggi terjadi bencana banjir. Hampir setiap tahun Desa Lalabata terjadi banjir akibat curah hujan yang tinggi.?

Dalam Pelatihan PRB dan PDRA ini sedikitnya akan dibahas 7 (tujuh) materi, meliputi: Konsep dasar manajemen risiko bencana; Kebijakan dan sistem Penanggulangan Bencana; Daur bencana dan tahapan dalam penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; Kajian risiko partisipatif dan pengorganisian komunitas; Kajian Analisis Bencana (Ancaman, Kerentanan, Kapasitas, dan Risiko Bencana) dan Tindakan PRB; Pendekatan Kajian/Analisis Pengurangan Risiko Bencana dengan Teknik Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA); dan Menakar risiko bencana partisipatif.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hadir sebagai narasumber, Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Barru, Abdul Kadir dan ketua PCNU Kabupaten Barru, KH. Irham Djalil, dan PP LPBI NU, Rurid Rudianto. Sedangkan bertindak sebagai trainer Pelatihan PRB dan PDRA adalah Sofyan dari Sangga Buana. Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pemahaman tentang konsep dan pengertian dasar penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana; mampu menjelaskan upaya PRB secara komprehensif; mampu menyusun kajian risiko bencana dengan teknik PDRA; dan memiliki kemampuan dasar dalam menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Di akhir sesi, peserta didorong untuk membuat rencana aksi komunitas yang diharapkan dapat dilaksanakan secara nyata di tengah masyarakat untuk mewujudkan upaya PB dan PRB yang lebih baik. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Daerah, IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 03 Januari 2018

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Kementerian Agama dan Bank Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat kesepahaman dalam pengembangan ekonomi pesantren dan penggunaan layanan keuangan digital (LKD). Penguatan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) tentang Koordinasi Pelaksanaan Elektronifikasi Pembayaran Bantuan Sosial antara Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dengan Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo di Jakarta, Kamis (26/05) seperti dikutip dari laman kemenag.go.id.

Selain Menag, penandatangan NK dengan Gubernur BI juga dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pengembangan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar, serta Raden Harry Hikmat Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial yang mewakili Menteri Sosial.

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag-BI Kembangkan Layanan Keuangan Digital di Pesantren

Menag menyambut gembira Penandatangan NK ini, terlebih sebelumnya telah terjalin nota kesepahaman antara Kemenag dengan Bank Indonesia tentang Pengembangan Kemandirian Ekonomi Lembaga Pondok Pesantren dan Peningkatan Layanan Non Tunai untuk Transaksi Keuangan di Lingkungan Kementerian Agama yang ditandangani pada 5 November 2014 di Gedung Perwakilan Bank Indonesia wilayah IV Surabaya.?

Menurut Menag, NK yang kemudian dikenal dengan nama “Deklarasi Surabaya” itu ? memiliki dua substansi. Pertama, mendorong pondok pesantren sebagai penggerak sekaligus berperan sebagai instrumen sektor riil penguatan ekonomi berbasis masyarakat. Kedua, peningkatan transaksi keuangan non tunai baik yang menyangkut penyerapan anggaran berbasis APBN maupun transaksi keuangan di sejumlah mitra layanan di bawah binaan Kementerian Agama.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Deklarasi Surabaya akan berakhir pada penghujung 2016 ini. Karenanya, Menag menyambut baik penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Koordinasi Pelaksanaan Elektronifikasi Pembayaran Bantuan Sosial yang merupakan perluasan dari Deklarasi Surabaya dengan menggandeng kementerian-kementerian terkait di dalamnya.

Menag mengaku, setelah penandatanganan Deklarasi Surabaya, terdapat capaian-capaian yang cukup menggembirakan, di antaranya: peningkatan kapabilitas santri sebagai penggerak ekonomi berbasis masyarakat dan digitalisasi layanan keuangan. Selain itu, pondok pesantren kini secara bertahap juga telah melebarkan kiprahnya, tidak hanya melahirkan ahli agama Islam, tapi juga penggerak ekonomi berbasis masyarakat.

“Penggunaan Layanan Keuangan Digital (LKD) pada beberapa pondok pesantren telah memberikan ruang transaksi yang semakin mudah, dekat, dan tidak berbelit-belit,” papar Menag. ? Putera mantan Menag alm. KH Saifuddin Zuhri ini menyatakan bahwa penggunaan LKD merupakan solusi keuangan non tunai yang praktis terutama pada koperasi-koperasi yang ada di dalam pondok pesantren.?

Ke depan, Menag berharap pondok pesantren sebagai pusat kajian keilmuan fiqih muamalah dan ekonomi syariah mendapatkan ruang aplikatif yang lebih luas sehingga ? dapat menyelesaikan problem-problem transaksi ekonomi yang berkembang dewasa ini. Pesantren juga dapat menjadi model pengembangan keuangan syariah di tingkat mikro.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dengan ditandatanganinya nota kesepahaman ini, Menag optimis bahwa tata kelola Kementerian Agama berbasis APBN terutama pada akun bantuan sosial dapat meningkat akuntabilitasnya, karena penyalurannya menggunakan transaksi secara non tunai. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, IMNU, Doa Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 26 Desember 2017

Penjelasan Seputar Sejarah dan Fiqih Gerhana

Oleh Ibnu Zahid Abdo el-Moeid*

Shalat wajib 5 waktu disyariatkan saat peristiwa Isra dan Miraj. Adapun Isra dan Miraj terjadi pada hari Senin Legi tanggal 27 Rajab –3 H (hijriah)/19 Maret 619 M (masehi). Sebagian riwayat mengatakan 16 bulan sebelum hijrah, sebagian lagi mengatakan 5 tahun sebelum hijrah. Sedangkan shalat gerhana baru disyariatkan 6 tahun 2 bulan setelah Isra dan Mi’raj. Shalat gerhana disyariatkan pertama kali pada tahun ke-5 hijrah, yakni ketika terjadi gerhana bulan total pada malam Rabu 14 Jumadal Akhirah 4 H, bertepatan dengan 20 November 625 M.

Sejak disyariatkannya shalat gerhana, 14 Jumadal Akhirah 4 H/20 November 625 M sampai Rasulullah SAW wafat pada hari Senin Legi, 14 Rabi’ul Awal 11 H/8 Juni 632 M terjadi 3 kali gerhana matahari dan 5 kali gerhana bulan. Menurut riwayat, Rasulullah SAW wafat tanggal 12 Rabi’ul Awal. Lebih detalinya gerhana yang terjadi dalam kurun waktu tersebut berdasarkan perhitungan hisab tadqiqi, lihat tabel di bawah. 

Penjelasan Seputar Sejarah dan Fiqih Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan Seputar Sejarah dan Fiqih Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan Seputar Sejarah dan Fiqih Gerhana





Sejak disyariatkannya shalat gerhana sampai beliau wafat, Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana hanya dua kali. Yang pertama saat gerhana bulan, 14 Jumadal Akhirah 4 H yang bertepatan dengan 20 November 625 M; dan yang kedua saat gerhana matahari, 29 Syawal 10 H yang bertepatan dengan 27 Januari 632 M. Namun di dalam kitab Syarah Shahihul Bukhari Liibnil Bathal disebutkan bahwa Rasulullah SAW shalat gerhana beberapa kali.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kenapa Rasulullah hanya shalat satu kali gerhana bulan dan satu kali gerhana matahari, padahal setelah disyariatkannya shalat gerhana, menurut hisab masih terjadi 4 kali gerhana bulan dan 3 kali gerhan matahari? Memang betul secara hisab terjadi beberapa kali gerhana bulan dan matahari namun waktu terjadinya gerhana bulan maupun matahari terlalu dekat dengan terbit dan terbenamnya bulan atau matahari, sehingga waktunya sempit.

Berikut sedikit uraian kronologi gerhana yang ada di tabel atas.

Rohis Tegal - Rohani Islam

1.     Enam bulan setelah gerhana bulan yang pertama kali disyariatkan tepatnya 15 Dzulhijjah 4 H/17 Mei 2626 M terjadi gerhana bulan parsial namun waktunya menjelang shubuh dan beberapa saat setelah shubuh bulan tenggelam dalam keadaan gerhana.

 

2.     Sebelas bulan berikutnya tepatnya 29 Dzulqodah 5 H/21 April 627 M terjadi gerhana matahari, namun persentasi piringan matahari yang tertutup hanya 5 persen, kemungkinan besar tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

 

3.     Sebelas bulan kemudian tepatnya 14 Dzulqodah 6 H/25 Maret 628 M terjadi gerhana bulan dengan persentasi gerhana 31 persen namun terjadi saat-saat maghrib. Awal gerhana terjadi sebelum bulan terbit, sehingga saat terbit, bulan sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberpa menit sebelum waktu isya, gerhana sudah berakhir.

 

4.     Enam bulan berikutnya tepatnya 29 Jumadal Ula 7 H/3 Oktober 628 M terjadi gerhana matahari, namun persentasi piringan matahari yang tertutup hanya 12 persen. kemungkinan besar tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Awal gerhana terjadi sebelum matahari terbit dilihat dari Madinah, sehingga saat terbit, matahari sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberpa menit setelah matahari terbit, gerhana sudah berakhir.

 

5.     Lima bulan berikutnya tepatnya 14 Dzulqodah 7 H/15 Maret 629 M terjadi gerhana bulan total di tengah malam. Bulan Maret adalah mulai berakhirnya musim dingin. Aktifitas malam masyarakat Arab masih rendah karena beberapa hari sebelumnyah suhu udara masih dingin. Disamping itu sisa-sisa mendung kemungkinan masih banyak sehingga bulan yang sedang gerhana luput dari perhatian masyarakat Madinah saat itu, selebihnya wallohu Alam.

 

6.     Dua belas bulan berikutnya, tepatnya 15 Dzulqodah 8H/4 Maret 630 M terjadi gerhana sebagian dengan persentasi puncak gerhan sekitar 68 persen, namun terjadi saat-saat maghrib. Awal gerhana terjadi sebelum bulan terbit, sehingga saat terbit, bulan sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberapa menit (23 menit) setelah matahari terbenam (waktu maghrib) gerhana sudah berakhir.

 

7.     Duapuluh tiga bulan berikutnya tepatnya 29 Syawal 10 H/27 Januari 632 M terjadi gerhana matahari dengan persentasi puncak gerhana 82 persen. Bertepatan dengan peristiwa gerhana tersebut, tepatnya malam hari sebelum gerhana, Sayyid Ibrohim putra Rasulullah SAW dari ibu Maria Al-QIbtiyah wafat. Pada saat gerhana matahari inilah pertama kali sekaligus terakhir kalinya Rasulullah SAW melaksanakan shalat gerhana matahari.

 

Kontroversi Gerhana Matahari Zaman Nabi

Ketika terjadi gerhana, kita pasti teringat akan wafatnya sayyid Ibrohim, putra Rasulullah SAW dari Maria Al-Qibtiyah binti Syam’un (Istri Jariyah rosul hadiah dari penguasa Mesir, Juraij bin Mina Al-Mukaukis) yang wafat saat terjadi gerhana matahari, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? :« ? ? ? ? ? ? ? ? ». ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Dari Abdurrohman bin Hasan bin Tsabit dari ibunya Sirin katanya:“Saya telah menghadiri kematian Ibrahim putra Rosululooh SAW. Dan pada hari tersebut terjadi gerhana matahari. Lantas orang pada kasak-kusuk bahwa gerhana tersebut terjadi karena wafatnya Ibrohim, kemudian Rasulullah SAW bersabda “ Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, tidaklah keduanya gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Beliau wafat pada hari Selasa, 10 hari dari bulan Rabi’ul Awal tahun 10 H.

 

Menurut riwayat yang kuat menyebutkan bahwa gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya sayyid Ibrohim terjadi pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 10 H sementara menurut riwayat lain menyebutkan bulan Romadlon dan bulan Dzulhijjah, bahkan ada yang menyebutkan terjadi pada saat penjanjian hudaibiyah.

Hal ini sangat anomali dengan kaedah hisab yang mana gerhana matahari mestinya terjadi pada pada akhir bulan qomariyah (penileman) yakni saat ijtimak/konjungsi, sedangkan gerhana bulan terjadi pada saat purnama/badr.

Dari penelusuran hisab, sejak tahun 8 (tahun lahirnya sayyid Ibrohim) sampai 10 hijriyah hanya terjadi satu kali gerhana matahari, yaitu gerhana cincin yang terjadi pada hari Senin Pon, 29 Syawal 10 H, bertepatan dengan 27 Januari 632 M, terjadi pada pagi hari jam 07:15 dan berakhir pada jam 09:53. waktu Madinah. Dengan demikian maka kemungkinan besar wafatnya sayyid Ibrohim adalah malam Senin, 29 Syawwal 10 H.

Lalu bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan terjadi pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 10 H? Riwayat tersebut tidaklah salah karena saat itu masyarakat Arab belum mempunyai kalender baku yang menjadi patokan syar’i secara umum. Saat itu sistem kalender masih sering berubah, kabilah Arab seringkali menambah atau mengurangi bilangan bulan dalam setahun untuk kepentingan perang, kadang dalam setahun ada 13 bulan. Kalender qomariyah mulai tertib setelah nabi menyampaikan ayat ke 36 surat At-Taubah pada waktu khutbah hari Tasyrik di Mina.

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? 36)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus” (At-Taubah 36)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? 37)

 

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (At-Taubah 37)

 

Sebelum ayat tersebut turun, kalender bulan qomariyah diselaraskan dengan kalender syamsiyah sehingga dalam 3 tahun terdapat tahun yang jumlah bulannya 13 bulan. Sebelum dan sa’at berkembangnya Islam di jazirah Arab, baik kalender Qomariyah (Lunar Calendar) maupun Syamsiyah (Solar Calendar) sudah dikenal akan tetapi belum ada patokan tahunnya serta kaidah-kaidah yang baku yang menjadi ketetapan kalender sehingga baik awal tahun maupun awal bulan serta jumlah bulan dalam setahun tidak beraturan.

Baru pada masa kholifah Umar bin Khottob beliau mengumpulkan segenap sahabat serta elit-elit pemerintahan pada hari Rabu 20 Jumadil Akhir tahun 17 dari hijrah yang bertepatan dengan 8 Juli 638 M, untuk membahas perlunya sebuah kalender yang baku. Akhirnya disepakati sebuah kalender yang berbasis bulan, Lunar System. Diputuskan bahwa awal tahun hijri dimulai pada sa’at nabi berangkat hijrah ke Madinah yaitu tahun 622 M sedangkan awal bulannya dimulai dari Muharrom, karena pada sa’at itu berakhirnya aktivitas ibadah haji dan menuju kehidupan yang baru. 1 Muharrom 1 H bertepatan dengan 16 Juli 622 M tepat pada hari Jum’at Legi. 

Hukum Shalat Gerhana

Menurut Jumhurul Ulama’, shalat gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan hukumnya sunnah muakkadah, sunnah yang sangat ditekankan, seperti Shalat Hari Raya. Menurut pendapat Malikiyah dan Hanafiyah untuk gerhana bulan sunnah mandubah berbeda dengan shalat gerhana matahari yang menurut mereka sunnah muakkadah. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa hukum shalat gerhana adalah fardlu kifayah seperti shalat jenazah.

Firman Allah di dalam Al-Quran :

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? 37)

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah engka sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak.(QS. Fushshilat : 37)

 

Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan. Di dalam hadits disebutkan:

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga gerhana pulih kembali. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

 

Shalat gerhana disunnahkan dilakukan secara berjamaah, lebih utama lagi dilaksanakan di masjid. Disunnahkan mandi sebelum berangkat shalat gerhana. Tidak disunnahkan adzan dan iqomah ketika akan melaksanakan shalat gerhana, tetapi cukup dengan seruan "Asshalatu Jamiah".

Imam shalat gerhana disunnahkan dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah dan Surat untuk gerhana bulan dan dengan suara lirih untuk gerhana matahari. Menurut madzhab Hambali, Khottobi dan Ibnu Mundzir disunnahkan keras juga pada shalat gerhana matahari.

Tata cara shalat gerhana sebagai berikut:

1.     Dikerjakan dengan 2 (dua) rokaat seperti shalat sunnah biasa, tanpa rukuk dua kali. Bahkan tidak syah jika dilakukan dengan 2 kali berdiri dan 2 kali rukuk menurut pendapat imam Abu Hanifah.

 

2.     Dikerjakan dengan 2 rokaat, didalam setiap rokaat 2 kali berdiri membaca Al-Fatihan dan surat dan 2 kali ruku tanpa memanjangkan bacaan surat setelah Al-Fatihah saat berdiri, serta tanpa memanjangkan bacaan tasbih di dalam ruku dan sujudnya.

 

3.     Dikerjakan dengan 2 rokaat, didalam setiap rokaat 2 kali berdiri dan 2 kali ruku. Pada setiap rokaat setelah membaca Al-Fatihah membaca surat yang panjang, lalu ruku dan membaca tasbih yang panjang, lalu berdiri membaca Al-Fatihah lagi, lalu membaca surat yang panjang namun tidak sepanjang surat sebelumnya, lalu rukuk kembali dan membaca tasbih yang panjang, lalu Itidal, lalu sujud dua kali dengan memanjangkan tasbih, sujud yang pertama lebih lama daripada sujud yang kedua. Kemudian berdiri untuk rokaat yang kedua dengan tata cara seperti rokaat pertama. Bacaan surat dan tasbih pada rokaat yang kedua lebih pendek dari pada rokaat yang pertama.

 

Dari ketiga cara di atas yang paling utama adalah nomor tiga.

Setelah selesai shalat disunnahkan khutbah dua kali jika dilakukan secara berjamaah, jika shalat sendirian tidak disunnahkan khutbah. Namun menurut imam Ahmad, Abu Hanifah, dan Abu Yusuf tidak disunnahkan khutbah walaupun berjamaah. Di dalam khutbahnya disunnahkan menyeruhkan taubat dari maksiat, memperbanyak shodaqoh, berbuat kebaikan, memperbanyak dzikir, doa dan istighfar.

Jika gerhana berbarengan dengan shalat janazah maka didahulukan shalat janazah. jika berbarengan dengan shalat fardu dan shalat Id maka didahulukan shalat gerhana jika waktu shalat fardlu masih luas tetapi jika takut waktunya shalat fardlu habis maka didahulukan shalat fardlunya daripada shalat gerhana. Apabila berbarengan dengan shalat Jumat jika waktunya masih luas maka didahulukan shalat gerhana lalu khutbah Jumat sekaligus khutbah gerhana. jika gerhana berbarengan dengan shalat taroweh dan witir maka didahulukan shalat gerhana walaupun dikhawatirkan tidak cukup waktu untuk shalat taroweh maupun witir.

Kapan makmum masbuq terhitung mendapatkan rakaat?

Seperti kita ketahui bahwa tata cara shalat gerhana ini berbeda dengan shalat biasa dimana terdapat dua kali rukuk dan dua kali berdiri, kecuali pendapat Hanafi.

Menurut madzhab Maliki : Makmum terhitung dapat rokaat jika makmum bisa mendapati rukuk yang kedua bersama imam dengan thumaninah. Walaupun tidak mendapati rukuk yang pertama bersama imam tetap terhitung dapat rokaat karena menurut Maliki rukuk dan berdiri yang pertama adalah sunnah.

Menurut madzhab Syafii dan Hambali : Makmum terhitung dapat rokaat jika makmum bisa mendapati rukuk yang pertama bersama imam dengan thumaninah, sehingga jika hanya mendapati imam di dalam rukuk yang kedua saja maka tidak terhitung dapat rokaat bersama imam.

Waktu Shalat Gerhana

Menurut ilmu hisab, di dalam gerhana bulan, bayangan yang menutupi bulan itu ada dua. Yang pertama bayangan penumbra dan yang kedua banyak umbra. Bayangan umbra adalah bayangan inti bumi sedangkan bayangan penumbra adalah bayangan bias bumi, sehingga saat bayangan penumbra menyentuh piringan bulan, tidak bisa diidentifikasi secara kasat mata, bulan terlihat seperti biasa, utuh namun agak redup sedikit. Gerhana bulan baru bisa diidentifikasi dengan mata telanjang ketika bayangan umbra menyentuh piringan bulan.

Dengan demikian secara umum yang disebut gerhana bulan yaitu sejak bayangan umbra (bayangan inti) bumi menyentuh piringan bulan sampai seluruh bayangan umbra lepas dari piringan bulan. Adapun gerhana matahari yaitu sejak bayangan umbra bulan menyentuh piringan matahari sampai seluruh bayangan umbra lepas dari piringan matahari. 

Menurut fiqih, masuknya waktu shalat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari adalah sejak tertutupnya piringan bulan atau matahari. Batas akhir waktu shalat gerhana matahari adalah pulihnya kembali gerhana secara penuh atau terbenamnya matahari walaupun terbenam masih dalam keadaan gerhana. sedangkan batas akhir gerhana bulan adalah pulihnya kembali gerhana secara penuh atau terbitnya matahari walaupun bulan masih dalam keadaan gerhana.

Menurut imam SyafiI dan imam Malik, shalat gerhana boleh dilakukan pada saat-saat makruhat karena termasuk shalat yang ada sebabnya. Menurut imam Hanafi dan Imam Achmad tidak boleh, namun cukup dengan membaca tasbih sebagai gantinya.

Bagaimana kalau menurut hisab terjadi gerhana tetapi tertutup mendung?

Mengqiyaskan seperti halnya hilal, dari Ibnu Daqiq Al-Iidi dan Ibnu Hajar di dalam kitab Tuhfahnya, Syeikh Bakhit Al-Muthii menjelaskan bahwa jika menurut hisab yang qothi (kuat kepastinnya) hilal sudah ada dan memungkinkan untuk bisa dilihat setelah maghrib, namun ternyata tidak bisa dilihat karena terhalang mendung maka hal ini bisa menggunakan perhitungan hisab untuk penentuan awal bulan. Jika penentuan awal bulan saja yang notabene menentukan sesuatu yang wajib cukup dengan hisab yang qothi maka apalagi untuk menentukan sesuatu yang sunnah, gerhana misalnya. Kita semua tahu bahwa hisab hilal, gerhana bulan maupun gerhana matahari adalah perhitungan yang sama-sama pasti dan meyakinkan. 

Namun Ibnu Hajar di dalam kitab Tuhfah terkait shalat gerhana mengatakan bahwa: Jika bulan atau matahari terhalang oleh mendung sebelum gerhana terlihat tetapi menurut ahli hisab terjadi gerhana maka tidak ada konskuensinya, artinya tidak sunnah shalat gerhana, karena hukum asalnya tidak terjadinya gerhana. Namun jika bulan atau matahari terlihat gerhana lalu kemudian mendung dan bimbang gerhana sudah selesai atau belum walaupun menurut ahli hisab gerhana sudah selesai maka tetep sunnah shalat gerhana karena hukum asalnya terlihatnya gerhana. Beliau menegaskan tidak ada tempat bagi ahli hisab dalam hal ini, yakni tidak boleh berdasarkan hisab semata walaupun hisab yang qothi sekalipun.

Apakah sunnah takbiran saat terjadi gerhana?

Di masjid-masjid Jawa Barat, saat terjadi gerhana diramaikan dengan takbiran seperti halnya takbiran hari raya. Mulai awal gerhana sampai berakhirnya gerhana.

Rasulullah SAW bersabda:



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?)

 

Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan tidaklah terkait kematian atau kehidupan seseorang. Karenanya jika kalian melihat gerhana itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah (HR. Bukhari)

 

Sependek yang saya tahu para ulama dalam koridor madzhab empat tidak memaknai "Fakabbiru" di dalam hadits tersebut dengan takbiran seperti hari raya tetapi bermakna mengagungkan Allah dalam arti kekuasaan Allah yang sangat luar biasa di mana benda-benda langit yang besar (matahari dan bulan) tunduk dan patuh atas perintah Allah SWT. atau dengan kata lain katakanlah "Allohu Akbar".

Wallahu Alam

Harapan



Walaupun hukum shalat gerhana, baik Khusuful Qomar maupun Kusufusy Syams adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) sebagaimana shalat Hari Raya, akan tetapi sangat sedikit dari umat Islam yang peduli dengan syariat tersebut. Yakni acuh tak acuh dengan hal tersebut, seakan-akan shalat gerhana adalah shalat yang tidak ada tuntunan dan perintahnya.

Untuk itu demi melanggengkan syariat Islam yang berupa shalat gerhana yang mulai langka di negeri ini serta demi syiarnya Islam, maka apabila kita melihat/mengetahui fenomena gerhana marilah kita bersama memperbanyak takbir, tahmid, istighfar, dan shadaqah serta melaksanakan shalat gerhana. Shalat gerhana bisa dilaksanakan selama gerhana matahari berlangsung, walaupun tidak total.

Referensi:

Al-Fiqh Al-Islamy Wa Adillatuh, Prof. DR. Wahbah Al-Zuhaily

Roudloh Al-Tholibin, Muhyiddin Yahya bin Syarof Abu Zakariyah Al-Nawawy

Irsyad Al-Murid, KH. Achmad Ghozali Muhammad Fathulloh

Al-Sunan Al-Kubro Li Al-Baihaqi, Ahmad Bin Husein Bin Ali Al-Baihaqi

Al-Durru Al-Aniq, KH. Achmad Ghozali Muhammad Fathulloh

Al-Tafsir Al-Munir, Prof. DR. Wahbah Al-Zuhaily

Tuhfah Al-Muhtaj, Ibnu Hajar Al-Haitamy

Syarah Shohihu Al-Bukhori Li Ibni Al-Bathol, Abul Hasan Ali Bin Bathol Al-Qurtubi

Kompasiana : http://www.kompasiana.com/moeidzahid/sekelumit-sejarah-dan-fiqih-gerhana_56cd312e81afbd010c1ed5f4

* Penulis adalah anggota Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur; Dewan Pakar Lajnah Falakiyah PCNU Kabupaten Gresik



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 22 Desember 2017

Dimungkinkan Rukyah Menggunakan Alat Bantu

Brebes, Rohis Tegal - Rohani Islam. PBNU berpendapat bahwa penggunaan alat bantu penglihatan dalam melaksanakan rukyah dimungkinkan dengan ketentuan alat tersebut hanya membantu memperjelas pandangan mata bukan memantulkan dan posisi hilal diatas ufuk.

Demikian dikatakan oleh Rais Syuriyah PBNU KH Masyhuri Naim dihadapan peserta silaturrahmi nasional ahli hisab dan rukyah yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah NU, Sabtu (7/9).

Dimungkinkan Rukyah Menggunakan Alat Bantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Dimungkinkan Rukyah Menggunakan Alat Bantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Dimungkinkan Rukyah Menggunakan Alat Bantu

Keputusan ini merupakan hasil kesepakatan bersama antara para ahli rukyah dan hisab NU dalam pertemuan nasional yang diselenggarakan pada tahun 1994 dan kemudian dikukuhkan melalui SK PBNU No. 311/A;II;03/I/94 dengan ketentuan tinggi hilal minimal 2 derajat, lama hilal 8 jam dan azimuth atau jarak matahari dan bulan 3 derajat.

“Kesakasian hilal dengan menggunakan teropong juga harus bisa dilihat dengan mata telanjang karena apa yang dilihat teropong tidak ada bedanya dengan apa yang dilihat dengan mata telanjang,” tandasnya.

Demikian pula, dimungkinkan juga melihat hilal secara tidak langsung, tetapi direkam dan kemudian dilihat ulang. Namun harus terdapat saksi lain yang melihat secara langsung.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Ini untuk menghindari adanya rekayasa munculnya hilal, misalnya merubah gambar atau menggunakan hasil rekaman bulan sebelumnya,” paparnya.

Tentang adanya batasan hilal harus diatas ufuk, Kiai Masyhuri menjelaskan bahwa ketentuan imkanurrukyah atau batas minimal hilal dapat dilihat terjadi sesat setelah ijtima’ terjadi atau tidak mungkin hilal bisa dilihat dibawah ufuk. (mkf)



?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam RMI NU, Bahtsul Masail, IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 20 Desember 2017

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

Khutbah I

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Waktu mengalir terus. Dan “tanpa terasa” kita sampai kepada pergantian tahun hijriah untuk kesekian kalinya. Detik menuju menit, jam, hari, bulan, hingga tahun senantiasa bergerak maju yang berarti semakin bertambah pula usia manusia. Yang perlu menjadi catatan adalah: apakah bertambah pula keberkahan usia kita? Ini pertanyaan singkat dan hanya bisa dijawab dengan merefleksikan secara panjang-lebar jejak perjalan hidup kita yang sudah lewat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahun terkandung sejarah dan nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khathab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

Keputusan itu diambil melalui jalan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, di antaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik masyarakat Arab waktu itu. Karena itu kelahiran beliau adalah monumen bagi kelahiran perdaban itu sendiri. Tahun baru Masehi pun dimulai dari masa kelahiran figur yang diyakini membawa perubahan besar, yakni Isa al-Masih.

Yang menarik, Umar bin Khatab menolak usulan ini. Singkat cerita, forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender qamariyah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. Beliau kala itu hanyalah bayi putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Hal ini berbeda dari hijrah yang mengandung tekad, semangat perjuangan, perencanaan, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas: terealisasinya nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin).

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. Selama itu, Rasulullah mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Rasulullah tampil sebagai agen perubahan di tengah masyarakat Arab yang begitu bejat. Asas tauhid melenceng jauh karena menganggap berhala sebagai Tuhan. Nilai-nilai kemanusiaan juga nyaris tak ada lantaran masih maraknya perbudakan, fanatisme suku, harta riba, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, dan lain-lain. Rasulullah yang hendak mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat jahiliyah mesti berhadapan para pembesar suku yang iri dan tamak kekuasaan, termasuk dari paman beliau sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab. Pengikut Islam bertambah, dan secara bersamaan bertambah pula tekanan dari musyrikin Quraisy. Hingga akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke kota Yatsrib yang kelak dikenal dengan sebutan Madinah.

Perjalanan hijrah dilakukan di malam hari dengan cara sembunyi-sembunyi dan penuh kecemasan, menghindari kejaran kaum musyrikin Quraisy. Beruntung kala di kota Yatsrib, Rasulllah bersama sahabat-sahabatnya disambut positif penduduk setempat. Sebagian dari mereka mengenal Islam dan bahkan sudah beraiat kepada Nabi saat di Makkah. Di sinilah Nabi membangun peradaban Islam yang kokoh. Jumlah penganut semakin banyak, semangat persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor dipupuk, dan kesepakatan-kesepakatan dengan kelompok di luar Islam diciptakan, demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai.

Mula-mula yang dilakukan Nabi setelah hijrah adalah mengubah nama dari Yatsrib menjadi Madinah. Mengapa Madinah (yang sekarang dimaknai sebagai “kota”)? Secara bahasa madînah berarti tempat peradaban. Perubahan nama ini memberi pesan tentang pergeseran pola perjuangan Nabi yang semula di Makkah banyak dipusatkan pada penyadaran pribadi-pribadi, menuju dakwah dalam konteks sosial yang terorganisisasi dalam negara Madinah. Di sini konstitusi (mitsaq al-madinah atau Piagam Madinah) dibangun, struktur pemerintahan disusun, dan aturan-aturan Islam seputar muamalah (hubungan antarsesama) banyak dikeluarkan di sana. Tentang Piagam Madinah, Nabi menjadikannya sebagai titik temu dari masyarakat Madinah yang plural saat itu, yang meliputi orang Muslim, orang Yahudi, suku-suku di Madinah, dan lain-lain. Demikianlah hijrah Nabi yang monumental itu seperti mendapatkan momentum puncaknya, yakni terwujudnya masyarakat yang beradab.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Setidaknya ada dua poin yang perlu digarisbawahi dari ulasan tersebut. Pertama, tahun baru hijriah harus dimaknai dalam kerangka perjuangan Nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin). Nabi sebagai sosok—termasuk momen kelahirannya—memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni spirit dan prestasi beliau sepanjang periode risalah. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan. Yang terakhir ini menjadi sangat penting karena Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Nabi dan para sahabatnya menunjukkan ketulusan yang luar biasa semata hanya untuk jalan Allah. Namun justru karena niat seperti inilah mereka mendapatkan banyak hal, termasuk persaudaraan, keluarga baru, hingga kekayaan dan kesejahteraan selama di Madinah. Keikhlasan dan kerja kerasa dalam membangun masyarakat berketuhanan sekaligus berkeadaban berbuah manis meskipun tantangan akan selalu ada. Inilah teladan yang berikan Nabi dari hasil berhijrah.

Poin kedua adalah kenyataan bahwa Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib untuk kepentingan jaminan kebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antaranggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih relevan kita terapkan hingga sekarang. Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara harfiah “pindah tempat”, melainkan juga pindah orientasi: dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Dan Rasulullah meneladankan, perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat secara kolektif.Semoga pergantian tahun hijriah membawa keberkahan bagi umur kita dengan belajar dari peristiwa hijrah Rasulullah yang monumental lengkap dengan nilai-nilai positif di dalamnya. Wallahu a’lam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur
Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, Hikmah Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 07 Desember 2017

Soal Doa Bersama di Monas, Kang Said: Aparat Penegak Hukum Harus Berbenah

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) memandang doa, zikir, dan Jumatan bersama di lapangan Monas pada Jumat (2/12) sebagai teguran moral untuk para penegak hukum di Indonesia. Menurut Kang Said, pemerintah dan terutama aparat penegak hukum perlu melakukan reformasi kelembagaan terutama berkaitan dengan upaya penegakan hukum di Indonesia.

Demikian disampaikan Kang Said kepada Rohis Tegal - Rohani Islam di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (2/12) malam

Soal Doa Bersama di Monas, Kang Said: Aparat Penegak Hukum Harus Berbenah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Doa Bersama di Monas, Kang Said: Aparat Penegak Hukum Harus Berbenah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Doa Bersama di Monas, Kang Said: Aparat Penegak Hukum Harus Berbenah

“Ini menunjukkan masyarakat masih belum percaya dengan sikap lembaga hukum,” kata Kang Said.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Aparat penegak hukum dan lembaga peradilan, menurutnya, harus menangkap aspirasi doa bersama yang dilakukan masyarakat di Monas, Jumat lalu. Mereka diharapkan melakukan pembenahan dan menunjukkan kerja-kerja konkret terkait penguatan kelembagaan.

“Jelas ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan lembaga hukum untuk membangun kepercayaan publik.”

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini mengingatkan pemerintah terutama aparat hukum dan lembaga peradilan untuk bekerja sesuai kode etik penegak hukum yang berlaku. Pasalnya kerja mereka selama ini mendapat pantauan dan sorotan publik.

“Ini akumulasi kekecewaan atas lemahnya penegakan hukum untuk kasus apapun di Indonesia selama ini,” tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, PonPes, Sunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 30 November 2017

Peserta 16 Besar Liga Santri asal NTB Tiba di Jakarta

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Peserta Liga Santri Nusantara (LSN) asal NTB tiba di Wisma Atlit Cibubur, Jakarta Timur pukul 21. 00 WIB kamis (29/10) malam. Grup sepak bola pesantren Bayyinul Ulum yang merupakan peraih juara 1 zona NTB, bertolak dari Bandara Internasional Lombok tujuan Bandara Sukarno-Hatta dengan durasi 1.45 menit.

Peserta 16 Besar Liga Santri asal NTB Tiba di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta 16 Besar Liga Santri asal NTB Tiba di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta 16 Besar Liga Santri asal NTB Tiba di Jakarta

Mereka akan bertanding Jumat (30/10) sore melawan pesantren Darunnajah Garut di lapangan Danlanud Halim, Jakarta Timur.

Tim ini yang terdiri atas 26 orang ini meliputi 20 pemain 5 official dan 1 koordinator zona.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Ini sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami karena belum pernah terpikirkan dari sebelumnya bahwa kami akan lolos di 16 besar dan membawa santri," kata manajer klub Ustadz Mahmud Bachri.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mahmud menambahkan, pihaknya tidak menargetkan yang tinggi-tinggi dalam pertandingan yang akan merebut tiket 8 besar.

"Akan tetapi kehadiran pihaknya adalah bertujuan agar pesantrennya terkenal dan pesantren menjadi pilihan bagi anak-anak ke depan sebagai tempat menimba ilmu," kata Mahmud. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Anti Hoax, IMNU, Pahlawan Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 23 November 2017

PMII Pabelan Gelar Pelatihan dan Pameran Desain

Solo, Rohis Tegal - Rohani Islam - Memperingati Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Pabelan UMS, Solo, Jawa Tengah menggelar berbagai rangkaian acara, selama tiga hari, Selasa-Kamis (10-12/1).

Ketua PMII Pabelan, Abdul Aziz Chabiburrahman, menjelaskan acara ini dihelat bersamaan dengan perayaan setahun hari lahir komunitas Desain Santri Indonesia (DSINDONESIA).

PMII Pabelan Gelar Pelatihan dan Pameran Desain (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pabelan Gelar Pelatihan dan Pameran Desain (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pabelan Gelar Pelatihan dan Pameran Desain

“Acaranya sudah dibuka sejak kemarin, yakni Pameran & Gerakan "Desain Seikhlasnya”. Konsepnya para pengunjung bisa memesan sebuah desain. Setiap pemesanan desain bentuk Wpap, Vector, dan sebagainya akan dikenakan biaya seikhlasnya, dan biaya tersebut akan dialokasikan untuk orang yang kurang mampu di daerah Surakarta,” papar Aziz kepada Rohis Tegal - Rohani Islam, Rabu (11/1).

Kemudian, lanjut Aziz, pada hari kedua diselenggarakan "Pelatihan Desain bersama DSINDONESIA". Para pesertanya umum dari berbagai kalangan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Sedangkan untuk acara penutup, kita adakan pentas seni dan doa bersama, dilanjutkan dengan kegiatan bagi-bagi nasi bungkus,” kata dia.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ditambahkan Aziz, lokasi acara dipusatkan di Griya Lentera, Sekretariat PMII Pabelan Jl. Kasuari No. 109 Perum Nilasari, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, Kiai, Kajian Rohis Tegal - Rohani Islam

PCNU Jember Minta Gerakan LP Maarif Diperluas

Jember, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin menilai positif Festival Seni Anak Shaleh yang digelar LP Maarif Jember. Festival tersebut dapat merangsang anak-anak TK peserta fesitaval untuk berkreativitas sekaligus ajang penggalian bakat yang terpendam.?

“Namun yang lebih penting adalah pengenalan mereka terhadap ajaran Ahlussunnah wal jama’ah, karena materi yang difestivalkan adalah seputar Aswaja,” ucap Gus A’ab –sapaan akrabnya-- pada Rohis Tegal - Rohani Islam di sela-sela pembukaan festival di GOR Pemuda, Kaliwates, Sabtu (26/1).

PCNU Jember Minta Gerakan LP Maarif Diperluas (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Minta Gerakan LP Maarif Diperluas (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jember Minta Gerakan LP Maarif Diperluas

Kendati demikian, menurut ? Gus A’ab, tidak bisa dipastikan bahwa anak-anak yang meraih juara di festival tersebut menjadi anak shaleh. Sebab, perjalanan masih panjang.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Karena itu, ke depan mereka dan semua anak masih perlu bimbingan dan arahan agar tumbuh menjadi dewasa sebagai anak shaleh. “Kriteria anak shaleh itu ‘kan bertaqwa kepada Allah, tapi paling tidak ini sudah merangsang ke arah sana,” ungkapnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dosen STAIN Jember itu juba meminta agar LP Maarif Jember bisa memperluas wilayah binaanya. Tidak hanya terfokus di Jember bagian selatan dan sebagian Jember utara. Sebab, masih banyak peluang pembinaan atau bahkan mendirikan TK di wilayah Jember timur dan barat.?

“Kalau melihat jumlah warga NU di Jember yang sekitar 95 persen, tentu jumlah TK Maarif dan Muslimat yang ada, jauh dari berimbang,” urai Gus A’ab.

Menanggapi itu, Ketua PC. LP. Maarif Jember, Suroto Bawani menandaskan, pihaknya sejak beberapa tahun lalu sudah berkoordinasi dengan pesantren dan MWCNU Jember timur. “Namun masih belum maksimal hasilnya. Masih butuh dorongan terus menerus,” katanya?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Aryudi A. Razaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU, Lomba Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 19 November 2017

Sarung Aswaja, Produk Andalan NU Pekalongan

Pekalongan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan membuat gebrakan baru di bidang ekonomi dengan memproduksi sarung. Busana lazim untuk beribadah umat Islam itu diberi nama sarung “lbad Aswaja”.

NU Kota Pekalongan memilih sarung sebagai produk andalan lantaran melirik kebutuhan jutaan umat Islam khususnya warga NU (Nahdliyin) tidak bisa lepas dari sarung yang selama ini banyak diproduksi oleh orang lain.

Sarung Aswaja, Produk Andalan NU Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarung Aswaja, Produk Andalan NU Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarung Aswaja, Produk Andalan NU Pekalongan

Ha tersebut dikatakan Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Kota Pekalongan H. Hasanuddin saat meluncurkan secara resmi sarung “Ibad Aswaja” sebagai sarung resmi warga nahdliyyin, Sabtu (7/2), di Gedung Aswaja Kota Pekalongan berbarengan dengan acara Halaqoh Pemberdayaan Masjid.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dikatakan, untuk memenuhi kebutuhan Nahdliyin, pihaknya telah menyiapkan berbagai varian serta corak warna yang tidak kalah dengan sarung yang sudah beredar selama ini.

"Meski kami pemain baru dalam hal produksi sarung, LPNU siap bersaing untuk merebut pasar yang kami lihat masih cukup besar, khususnya di lingkungan NU," ujarnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Saat ini LPNU Kota Pekalongan sedang mempersiapkan produksi sebanyak-banyaknya untuk persiapan Muktamar NU yang akan berlangsung di Jombang Jawa Timur bulan Agustus mendatang, bahkan saat ini beberapa cabang NU di Jawa sudah memesan untuk dipasarkan di wilayahnya.

Langkah cerdas Nahdlatul Ulama Kota Pekalongan memproduksi sarung direspon positif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pasalnya, mayoritas warga nahdliyyin adalah konsumen dan pengguna sarung. Bahkan rata-rata tiap tahunnya tidak kurang dari 10 potong yang diperlukan untuk keperluan sehari-hari dan ini adalah pangsa pasar yang cukup menjanjikan.

Ketua PCNU Kota Pekalongan, H. Ahmad Rofiq mengatakan, meski pihaknya berangkat dari modal yang tak besar, dirinya tetap optimis sarung “Ibad Aswaja” dapat berkembang dan diminati masyarakat.

Selain sarung, LPNU Kota Pekalongan sebagai lembaga yang bergerak di bidang ekonomi juga memproduksi baju batik motif NU dengan berbagai corak, motif dan warna sesuai kebutuhan warga nahdliyyin. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 08 November 2017

Grebeg Maulud Keraton Solo

Solo, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ribuan masyarakat dari Solo dan daerah lain antusias mengikuti acara Grebeg Maulud yang diselenggarakan Keraton Solo, Kamis (24/1) pagi.?

Puncaknya setelah gunungan besar, gunungan jaler dan gunungan estri, serta sepasang gunungan kecil dikirab dari Keraton Solo menuju masjid Masjid Agung. Sebagian warga yang percaya akan berkah pada gunungan tersebut, berebutan untuk mendapatkan benda dari gunungan tersebut.?

Grebeg Maulud Keraton Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Grebeg Maulud Keraton Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Grebeg Maulud Keraton Solo

Gerebeg Maulud ini merupakan lanjutan dari acara sekaten, yang telah dibuka pada pekan lalu dengan penabuhan dua perangkat gamelan pusaka milik keraton yakni gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari di ? komplek Masjid Agung Solo.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kegiatan ini setiap tahun diadakan, bertepatan pada tanggal 12 Rabiul Awwal atau hari kelahiran Nabi Muhammad saw.

Ketua Panitia Pelaksana Maleman Sekaten 2013, dalam Jumpa Pers pada hari sebelumnya, Rabu (23/1), Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro menjelaskan, tahun ini Keraton Kasunanan Surakarta telah mempersiapkan delapan gunungan yang terdiri dua pasang gunungan Jaler (laki-laki) dan Estri (perempuan), ditambah dengan dua pasang gunungan Anakan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Total kami mengeluarkan delapan gunungan, dua pasang gunungan Jaler dan Estri serta dua pasang gunungan Anakan,” ujarnya.

Lebih lanjut Satriyo mengatakan, Grebeg Maulud tersebut menandai puncak perayaan Maleman Sekaten 2013 yang telah diadakan selama sebulan ini. Selain itu, beberapa prosesi juga telah mengiringi prosesi Grebeg Maulud, seperti prosesi turunnya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, Unguling Gamelan, dan Jamasan Meriam Nyai Setomi.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock