Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Viral, Santri Tremas Ini Hadiahi Presiden Jokowi Puisi Khalifah Kami

Pacitan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ibnu Mughni Labib, santri Pesantren Tremas Pacitan tiba-tiba menjadi viral di media sosial dan pemberitaan di berbagai media nasional. Saat Presiden Jokowi berkunjung ke salah satu pesantren tertua di Indonesia itu, Ibnu merupakan satu dari ribuan santri yang ditunjuk Presiden Jokowi untuk maju menghafalkan Pancasila.

Namun, bukan saja karena keberhasilnya yang mampu menghafalkan Pancasila dengan sempurna, dia berhasil mencuri perhatian para jurnalis saat memberanikan diri meminta izin kepada Presiden untuk membaca puisi yang dibuatnya sendiri.

Viral, Santri Tremas Ini Hadiahi Presiden Jokowi Puisi Khalifah Kami (Sumber Gambar : Nu Online)
Viral, Santri Tremas Ini Hadiahi Presiden Jokowi Puisi Khalifah Kami (Sumber Gambar : Nu Online)

Viral, Santri Tremas Ini Hadiahi Presiden Jokowi Puisi Khalifah Kami

“Pak, boleh minta waktu tidak, Pak, untuk membacakan puisi?” pinta Ibnu seusai menyebutkan sila-sila Pancasila di hadapan Presiden Jokowi yang berdiri bersama pengasuh pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyathi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Sabtu (9/12).

Enggeh mpun boleh, sebentar, jangan panjang-panjang, puisinya saya baca dulu nggeh, saya tidak bisa baca, tulisanya kecil-kecil,” kata Presiden disambut ger ribuan santri yang memenuhi halaman masjid pesantren tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ibnu yang berasal dari Banyumas Jawa Tengah ini kemudian mulai membacakan puisi yang berjudul Khalifah Kami.

Khalifah Kami

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di hari ini,

Di Pondok Tremas yang kami cintai.

Datang bak seorang malaikat,

Yang datang bagai merpati.

Dengan anggun mengobati gerah hati ini,

Akibat air bah yang mertamu di pondok kami.

Dengan semangatnya memacu energi kami,

Agar kami kuat menghadapi kenyataan ini.

Kucium semerbak harum akan pengabdian sejati,

Beliaulah khalifah negeri ini.

Bukan negeri Islam yang pasti, tapi negeri yang penuh cinta, warna dan budaya.

Beliaulah khalifah kami, pemimpin kami,

Beliaulah Bapak Jokowi

Ibnu pun disambut tepuk tangan riuh oleh ribuan santri. 

“Saya bawa ya (kertas puisi),” ucap Presiden Jokowi sambil meminta secarik kertas yang dibawa Ibnu. Raut muka Ibnu tampak terkejut, seakan tak percaya kalau puisi yang dibacanya itu mendapat apresiasi dari Presiden.

Ibnu kemudian berjalan untuk kembali ke tempat semula. Namun baru beberapa langkah berjalan, dia kembali berjalan ke arah Presiden Jokowi untuk menanyakan hadiah sepeda. Maklum, dalam berbagai kesempatan kunjungan kerja ke daerah, Presiden Jokowi sering memberikan kuis berhadiah sepeda kepada santri.

Terose niki kon nyuwun sepeda teng Pak Jokowi (katanya suruh minta sepeda kepada Pak Jokowi)?” tanya Ibnu.

Kok terose, lha Mas Ibnu pingin mboten? (Kok katanya, Mas Ibnu ingin tidak)?” tanya Presiden kepada Ibnu.

Inggeh monggo kerso (iya, terserah),” jawab Ibnu. 

Lha monggo kerso, inggeh mboten mawon (kalau terserah, berarti tidak usaha saja),” timpal Presiden. 

Lagi-lagi percakapan santri lugu dengan kepala negara ini mengundang gelak tawa seluruh yang hadir.

Inggeh mboten nopo-nopo (iya tidak apa-apa),” cetus Ibnu lagi.

Presiden Jokowi yang saat itu tidak membawa sepeda, berjanji akan mengirimkan langsung kepada Ibnu. 

“Saya ini enggak bawa sepeda. Tapi besok saya kirim sampai ke sini. Sudah, empun. Besok saya kirim, alamatnya diberi ke ajudan,” ujar Presiden.

Namun Ibnu tidak perlu menunggu sampai hari esok, dua jam setelah Presiden Jokowi dan rombongan berpamitan meninggalkan pesantren Tremas, salah seorang Staf Kepresidenan datang menghantarkan sepeda kepada Ibnu. Dia pun sah memiliki sepeda yang bertuliskan Hadiah Presiden Jokowi.

Ditemui Rohis Tegal - Rohani Islam di kantor presantren, Ibnu tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Dia sangat senang dan terharu bisa memberikan hadiah puisi kepada Presiden. 

“Rasanya campur aduk, antara senang dan terharu,” kata Ibnu.

“Alhamdulillah. Terima kasih, Bapak Jokowi,” katanya dengan nada ngapak Banyumas yang kental. Rencananya sepeda itu akan dia gunakan untuk sarana berziarah tiap hari Jumat ke makam sesepuh Pesantren Tremas KH Abdul Manan Dipomenggolo di makam bukit Semanten yang terletak 10 km dari pesantren Tremas. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Bahtsul Masail Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 16 Februari 2018

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono

Pekalongan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sepekan setelah Lebaran warga Pekalongan dan sekitarnya biasanya merayakan Syawalan atau ‘Lebaran’ kedua, setelah sebagian warga yang berpuasa sunah selama enam hari, mulai pada tanggal 2 Syawal. Syawalan inilah yang menjadi pertanda puasa mereka berakhir. Di daerah lain Syawalan ini disebut pula dengan nama Lebaran Ketupat.

Syawalan di Pekalongan, beberapa tahun belakangan ini terpusat di dua tempat, di Krapyak dan Linggoasri. Meskipun esensinya sama, yakni merayakan Syawalan, akan tetapi keduanya dikemas dengan cara berbeda.

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono (Sumber Gambar : Nu Online)
Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono (Sumber Gambar : Nu Online)

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono

Di Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan, tradisi Syawalan yang digelar pada hari Kamis (15/8) dimeriahkan dengan dua lopis raksasa. Dua lopis raksasa dengan berat masing-masing 1,3 ton dan 900 kilogram itu mulai dimasak oleh warga Gang VIII dan warga di Gang III Kelurahan Krapyak Lor tiga hari sebelum hari-H.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Lopis diangkat dengan bantuan mobil derek. Lopis ini dimasak selama empat hari tiga malam," terang Syaiful, Sekretaris Panitia Syawalan dan Lopis Ageng.

Simbol perekat silaturahmi

Pada hari-H, dua lopis sudah ditempatkan di tempat pemotongan. Walikota Pekalongan, HM Basyir Ahmad, secara simbolis memotong kedua lopis kemudian membagikan kepada warga. Selang kemudian, para pengunjung yang datang dari berbagai daerah berebut lopis raksasa tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Para pengunjung memperebutkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat lopis yang lengket.

Warga sekitar biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung. Setelah pembagian lopis selesai, biasanya para pengunjung berbondong-bondong ke obyek wisata Pantai Slamaran Indah untuk menikmati pantai atau menikmati meriahnya hiburan gratis. Sebelumnya acara juga dimeriahkan dengan acara kirab budaya yang menampilkan berbagai macam kebudayaan.

Gunungan Megono

Berbeda dengan warga Krapyak yang menampilkan lupis raksasa, masyarakat Kabupaten Pekalongan memeriahkan Syawalan dengan membuat gunungan nasi megono. Megono adalah nama kuliner khas Pekalongan, yang bahannya dari buah nangka.

Objek Wisata Linggo Asri Kecamatan Kajen menjadi lokasi rebutan gunungan warga. Ribuan warga yang hadir rela berdesak-desakan memperebutkan makanan khas berasal dari Kabupaten Pekalongan itu.

Seorang warga, Tuti, mengaku ikut senang berebut gunungan nasi megono sebagai upaya mendapatkan berkah dalam hidupnya. 

"Gunungan nasi megono ini dipercaya masyarakat mempunyai kelebihan jika orang itu mampu makan nasi itu sehingga saya ikut berebut supaya dapat berkah dan tambah rejeki," ungkapnya.

Acara ini juga dimeriahkan kirab dan pertunjukan tari "Kuda Lumping" dan "Jatilan Satriyo Budoyo" dari Karanggondang, Kecamatan Karanganyar. Sedangkan kirab diikuti peserta yang terdiri atas "cucuk lampah" sebagai pimpinan rombongan yang diikuti rombongan silat temanten, grup rebana, kesenian "ngarak pengatin sunat", kuda kepang, egrang, dan sepasang gajah membawa gunungan nasi megono dan hasil bumi dari Balai Desa Linggoasri menuju lapangan parkir Wana Wisata.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pendidikan, Kiai, Bahtsul Masail Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 15 Februari 2018

Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia

Probolinggo, Rohis Tegal - Rohani Islam

Selamatan desa serta halal bihalal adalah dua budaya yang sangat kental dengan sejarah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keduanya adalah budaya asli Indonesia yang tak lekang oleh zaman.

Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia

Hal tersebut disampaikan Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin saat menghadiri selamatan desa sekaligus halal bihalal Desa Jambangan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Jumat (14/7) sore.

Dalam kesempatan tersebut Hasan memberikan wawasan tentang asal muasal halal bihalal. Menurutnya, KH Abdul Wahab, seorang tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng adalah pelopor budaya halal bihalal pada tahun 1948 silam.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Oleh sebab itu, kita masyarakat NU harus bangga dengan budaya ini dan sebagai penerus maka kita wajib untuk meramaikan kegiatan halal bihalal serta mempertahankannya sampai kapan pun,” katanya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurut Hasan, ada korelasi yang kuat antar budaya halal bihalal dan selamatan desa ini yakni untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan hablumminallah, karena hikmah dari selamatan desa adalah berdoa bersama untuk kemakmuran suatu desa.

“Senjata utama umat Islam adalah doa. Dan doa dari para sesepuh, alim ulama dan para habaib dalam tiap selamatan desa tentunya akan membawa barokah. Karena doa mereka istijabah bagi desa ini,” jelasnya.

Menyikapi tentang fenomena bergesernya akhlakul karimah generasi penerus bangsa pada era globalisasi ini, Hasan menyebut kurangnya kontrol dan teladan dari orang tuanya.

“Berilah contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Ajaklah mereka duduk bersama dan bicaralah dari hati ke hati agar apa yang kita sampaikan bisa masuk dan mengena pada hatinya. Insyaallah mereka akan mengingatnya sampai kapan pun,” terangnya.

Seiring dengan pesatnya peredaran gadget dengan segala fitur-fitur dan game yang disukai anak-anak saat ini pun diakui Hasan akan membawa dampak negatif bagi mereka. Dalam kesempatan itu Hasan memberikan solusi terbaik bagi para orang tua dalam menghadapi tren ini.

“Jangan dilarang, namun batasi dengan waktu yang jelas bagi anak-anak kita. Misalnya hanya Sabtu sampai dengan Minggu saja untuk bermain gadgetnya. Kemudian antarkan mereka mengaji Al-Quran di TPQ ataupun di mushala tiap hari selepas sekolah. Dengan menyibukkan mereka seperti ini keinginan mereka untuk memainkan gadgetnya akan teredam,” pungkasnya.

Sementara Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa (Kades) Jambangan Ali Munip sangat mengapresiasi sinergitas antara pemerintah desa dan kecamatan bersama organisasi kemasyarakatan yang ada di tingkat kecamatan seperti GP Ansor dan Banser, sehingga giat yang melibatkan? seluruh elemen ini berjalan lancar. (Syamsul Akbar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Bahtsul Masail, Pondok Pesantren, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 14 Februari 2018

Komentar Gus Mus tentang Pameran Lukisan Wajah Kiai

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam ?

Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri mengomentari pameran lukisan Nabila Dewi Gayatri dengan menunkil sebuah hadits “Innallaha jamil yuhiibul jamal”. Artinya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Ciptaan-ciptaan Allah yang serba indah menginspirasi makhluknya, manusia, untuk menirunya. Atau dengan istilah lain, berkesenian.

?

Komentar Gus Mus tentang Pameran Lukisan Wajah Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Komentar Gus Mus tentang Pameran Lukisan Wajah Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Komentar Gus Mus tentang Pameran Lukisan Wajah Kiai

“Angin dengan tinggi rendah temponya menggesek daun-daun cemara, ditingkahi irama alunan ombak laut dan rintik hujan, menginspirasi manusia untuk melahirkan seni musik,” kata kiai yang akrab disapa Gus Mus tersebut pada katalog pameran bertajuk Sang Kekasih yang akan dibuka Ketua Umum PBNU di hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (8/5). ?

Sementara keindahan laut, lanjut kiai yang penyair dan pelukis itu, dengan riak-riak ombak gelombang dan ikan-ikannya, hingga cakrawala dan langit biru dengan awan-awannya yang berarak di atasnya; gunung-gunung, kelok-kelok sungai dan gemericik airnya; pepohonan, belukar, gelaran hijau sawah, dan rerumputan; bahkan berbagai bentuk dan rona wajah manusia itu sendiri; menginspirasi manusia untuk melahirkan seni rupa.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Lihatlah pameran berjudul Sang Kekasih yang digelar oleh pelukis perempuan, Nabila Dewi Gayatri ini. Sebagai pelukis yang mecintai para kiai, alias ulama Nusantara, Nabila yang sebanrnya pelukis surealis mencoba menghadirkan sosok idolanya dalam lukisan realis, naturalis,” jelas Gus Mus.?

Dengan pameran itu, lanjut Gus Mus, sang pelukis mengajak bernostalgia, berharap orang-orang terutama para santri sekarang dapat mengenang bukan hanya kedalaman ilmu dari para ulama pendahulu tersebut, tapi terutama juga mengingat kearifan dan perjuangan mereka dalam berkhidmah kepada agama, umat, bangsa dan negara.

“Dengan kata lain, Nabila ingin lukisan-lukisan ini dapat menjadi obat kangen yang pada gilirannya dapat mengobarkan semangat penghormatan kepada ulama Nusantara yang teduh mengayomi, yang tidak hanya alim, tapi arif dan penuh dedikasi bagi agama, umat, dan tanah air mereka.”?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurut Gus Mus, Nabila yang putri seorang kiai itu, dengan lukisannya yang khusus menampilkan wajah-wajah kiai yang merupakan ahli agama (Islam) juga menghapuskan kesan keterpisahan agama (kebenaran) dengan seni (keindahan) yang dikesankan oleh sementara orang.?

Pameran dengan kurator Yaksa Agus itu menampilkan kiai-kiai Nusantara dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari hingga KH Said Aqil Siroj. hingga 14 Mei. Tak kurang 50 wajah kiai dipajang di pameran yang akan berakhir 14 Mei itu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Bahtsul Masail, Halaqoh, Pendidikan Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 13 Februari 2018

PSTPG UIN Jakarta Paparkan Hasil Riset Peran Ekonomi dalam Menangkal Radikalisme

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam 

Direktur Eksekutif Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global (PSTPG) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Badrus Sholeh memaparkan hasil riset "Assesmen Program Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda dalam Menangkal Radikalisme" di Hotel Grand Syahid Jaya Jakarta Pusat, Rabu (20/12). 

Dalam pemaparannya, Badrus mengatakan bahwa ekonomi mempunyai peran penting dalam mengubah pengalaman masa lalu para pelaku kekerasan untuk berintegrasi dalam masyarakat dan perdamaian melalui program ekonomi. 

PSTPG UIN Jakarta Paparkan Hasil Riset Peran Ekonomi dalam Menangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
PSTPG UIN Jakarta Paparkan Hasil Riset Peran Ekonomi dalam Menangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

PSTPG UIN Jakarta Paparkan Hasil Riset Peran Ekonomi dalam Menangkal Radikalisme

"Mayoritas yang kami temukan memiliki kepercayaan diri ketika mereka melakukan usaha. (Mereka dalam menjalankan usaha ekonominya) tidak hanya dibantu pemerintah tapi juga dibantu komunitas," kata pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini. 

Badrus semakin yakin bahwa ekonomi mempunyai peranan yang sangat penting, karena menurutnya, banyak pemuda yang diajak oleh Islamic State Irak and Syria (ISIS), tapi mereka mampu menahan diri untuk tidak ikut. Hal itu karena kepercayaan diri mereka untuk membangun kemandirian ekonomi. 

Riset ini dilakukan selama sebulan, yakni 25 Agustus sampai 25 September 2017 dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 100 responden, 10 Focus Group Discussion (FGD) dan observasi di lima kota, lima provinsi: Kabupaten Nunukan dan Pulau Sebatik (Kalimantan Utara), Poso (Sulawesi Tengah), Solo (Jawa Tengah), Lamongan (Jawa Timur), dan Medan (Sumatera Utara). 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hasil riset ini, kata Badrus, membantah teori yang didengungkan Barat bahwa ekonomi tidak mampu menyelesaikan masalah terorisme dan radikalisme. 

"Ini koreksi penting bahwa selama ini, mereka (barat) hanya melihat Osama Bin Laden, Hambali atau orang-orang yang kaya pelaku terorisme. Yes, mereka tidak bisa diubah secara ekonomi, tetapi mayoritas anak-anak muda terutama yang berangkat ke Suriah, mereka juga punya alasan ekonomi yang menjadi daya tarik mereka aktif dalam terorisme," jelas pria berumur 46 tahun itu. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari hasil riset tersebut, PSTPG UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memberikan tiga rekomendasi. Pertama, inovasi dan pendamping usaha terhadap kaum muda perlu diberikan, baik oleh pengusaha, stakeholder maupun dinas atau kementerian terkait. 

Kedua, program ekonomi perlu dilakukan dalam jangka panjang dan berkesinambungan melalui strategi yang jelas. Rekomendasi ditujukan kepada BNPT dan Menkopolhukam untuk mempertimbangkan strategi jangka panjang. 

Ketiga, perlunya koordinasi antar stakeholder, pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat sipil dalam melakukan program ekonomi bagi kaum muda yang lebih komprehensif. Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Sosial dan Dinas Agama untuk lebih aktif koordinasi dalam program ekonomi bagi kaum muda.  (Husni Sahal/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam RMI NU, Bahtsul Masail Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 12 Februari 2018

Waktu Indonesia NU

Suatu kali Prof Machasin yang saat itu jadi Rais Syuriyah mendapat undangan rapat PBNU. Sesuai jadwal, dosen yang birokrat ini datang tepat waktu: 14.00 waktu Indonesia Barat (WIB).

Begitu masuk ruang rapat, ia celingukan. Toleh sana, toleh sini. Setengah kaget, karena hampir seluruh kursi masih kosong. Prof Machasin pun menunggu cukup lama.

Waktu Indonesia NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Waktu Indonesia NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Waktu Indonesia NU

"Ini bagaimana. Katanya jam dua. Ini kan sudah jam tiga!?" tanyanya kepada peserta rapat yang sudah hadir.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sahabatnya itu tertawa, "Hahaha..."

"Kok ketawa?" Prof Machasin heran.

"Sampean orang NU baru ya? Haha..."

Rohis Tegal - Rohani Islam

Prof Machasin cuma nyengir, sambil membetulkan kopiahnya yang makin miring.

Pejabat Kemenag yang rajin ini rupanya belum paham betul bahwa di NU—entah sejak kapan—ada kaidah tak tertulis: waktu Indonesia terbagi menjadi empat (bukan tiga), yakni WIT, WITA, WIB, dan WI-NU. Selisih masing-masing minimal satu jam!

(Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Bahtsul Masail Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 10 Februari 2018

Dua Tanggung Jawab Pemuda Masjid Indonesia

Boalemo, Rohis Tegal - Rohani Islam. Wakil Sekretaris Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) H Muiz Ali Murtadho mengatakan, pemuda masjid Indonesia adalah mereka yang aktif ikut serta dalam memakmurkan masjid. Para pemuda masjid Indonesia ini memiliki dua tanggung jawab besar. Pertama, menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

“Pemuda masjid Indonesia memiliki tanggung jawab untuk mendakwahkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” kata H Muiz pada acara Pelatihan Pemuda Pelopor di Boalemo Gorontalo, Selasa (5/12).

Acara pelatihan ini merupakan hasil kerjasama antara LTM PBNU bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olah Raga RI. Di Provinsi Gorontalo, acara ini diadakan selama hari di lima kabupaten kota, yaitu Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pohuwato, dan Kabupaten Bone Bolango.

Dua Tanggung Jawab Pemuda Masjid Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tanggung Jawab Pemuda Masjid Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tanggung Jawab Pemuda Masjid Indonesia

Kedua, tanggung jawab keindonesiaan. Pemuda masjid Indonesia juga memiliki kesadaran untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagi dia, keislaman dan keindonesiaan itu bagai dua mata koin. Antara yang satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan dan tidak perlu dibenturkan karena keduanya berjalan beriringan.  

H Muiz menuturkan, makna dari membela Islam adalah dengan memakmurkan masyarakat Indonesia. Sementara membela Indonesia adalah bagian daripada keimanan seseorang. 

“Cinta tanah air itu adalah sebagai bagian dari iman. Cinta Indonesia adalah cinta Islam. Cinta Islam adalah cinta Indonesia,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat) 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam Syariah, Bahtsul Masail Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock