Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Beberapa Tim Kalah Telak, Ini Kata Pengamat Sepak Bola

Bandung,Rohis Tegal - Rohani Islam

Memasuki hari kedua putaran final atau seri nasional Liga Santri Nusantara (LSN) 2017, beberapa tim mengalami nasib sial, mengalami kekalahan telak. Bahkan, karena di hari kedua juga mengalami hal serupa, beberapa tim dipastikan? gagal mendapatkan tiket ke babak selanjutnya.

Pada hari pertama, di stadion Siliwangi, Al-Madiniyah Tabalong, Kalimantan Selatan mengalami nasib sial itu. Mereka dikalahkan 0-7 oleh kesebelasan DDI Kaballangan, Pinrang, Sulawesi Selatan. Hal serupa dialami Al Huda Lampung Selatan. Mereka kalah 1-4 Nurul Iman Muaro Jambi.

Beberapa Tim Kalah Telak, Ini Kata Pengamat Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Tim Kalah Telak, Ini Kata Pengamat Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Tim Kalah Telak, Ini Kata Pengamat Sepak Bola

Pada hari kedua, Selasa (24/10) di stadion sama, kesebelasan Hamzan Wadi dari Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami nasib serupa. Mereka dicukur lebih telak lagi dibanding Al-Madaniyah, dengan skor 0-8 oleh kesebelasan Walisongo Sragen, Jawa Tengah. ?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Padahal Hamzan Wadi, sehari sebelumnya juga dikalahkan Nurul Fauzi Tasikmalaya, Jawa Barat. Dengan hasil seperti itu, mereka sulit untuk mendapatkan tiket ke babak selanjutnya.? ? ?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurut pengamat sepak bola, M. Kusnaeni, umumnya tim-tim yang kalah banyak karena kurang pengalaman bermain di kompetisi level nasional. Mereka demam panggung sehingga tidak bisa bermain maksimal.

“Jangan berhenti sampai di sini. Tim-tim itu sudah membuktikan diri yang terbaik di regionnya. Pengalaman kali ini justru harus memotivasi untuk tampil lebih maksimal pada tahun-tahun selanjutnya,” pintanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Santri, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 15 Februari 2018

Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia

Probolinggo, Rohis Tegal - Rohani Islam

Selamatan desa serta halal bihalal adalah dua budaya yang sangat kental dengan sejarah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keduanya adalah budaya asli Indonesia yang tak lekang oleh zaman.

Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia

Hal tersebut disampaikan Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin saat menghadiri selamatan desa sekaligus halal bihalal Desa Jambangan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Jumat (14/7) sore.

Dalam kesempatan tersebut Hasan memberikan wawasan tentang asal muasal halal bihalal. Menurutnya, KH Abdul Wahab, seorang tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng adalah pelopor budaya halal bihalal pada tahun 1948 silam.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Oleh sebab itu, kita masyarakat NU harus bangga dengan budaya ini dan sebagai penerus maka kita wajib untuk meramaikan kegiatan halal bihalal serta mempertahankannya sampai kapan pun,” katanya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurut Hasan, ada korelasi yang kuat antar budaya halal bihalal dan selamatan desa ini yakni untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan hablumminallah, karena hikmah dari selamatan desa adalah berdoa bersama untuk kemakmuran suatu desa.

“Senjata utama umat Islam adalah doa. Dan doa dari para sesepuh, alim ulama dan para habaib dalam tiap selamatan desa tentunya akan membawa barokah. Karena doa mereka istijabah bagi desa ini,” jelasnya.

Menyikapi tentang fenomena bergesernya akhlakul karimah generasi penerus bangsa pada era globalisasi ini, Hasan menyebut kurangnya kontrol dan teladan dari orang tuanya.

“Berilah contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Ajaklah mereka duduk bersama dan bicaralah dari hati ke hati agar apa yang kita sampaikan bisa masuk dan mengena pada hatinya. Insyaallah mereka akan mengingatnya sampai kapan pun,” terangnya.

Seiring dengan pesatnya peredaran gadget dengan segala fitur-fitur dan game yang disukai anak-anak saat ini pun diakui Hasan akan membawa dampak negatif bagi mereka. Dalam kesempatan itu Hasan memberikan solusi terbaik bagi para orang tua dalam menghadapi tren ini.

“Jangan dilarang, namun batasi dengan waktu yang jelas bagi anak-anak kita. Misalnya hanya Sabtu sampai dengan Minggu saja untuk bermain gadgetnya. Kemudian antarkan mereka mengaji Al-Quran di TPQ ataupun di mushala tiap hari selepas sekolah. Dengan menyibukkan mereka seperti ini keinginan mereka untuk memainkan gadgetnya akan teredam,” pungkasnya.

Sementara Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa (Kades) Jambangan Ali Munip sangat mengapresiasi sinergitas antara pemerintah desa dan kecamatan bersama organisasi kemasyarakatan yang ada di tingkat kecamatan seperti GP Ansor dan Banser, sehingga giat yang melibatkan? seluruh elemen ini berjalan lancar. (Syamsul Akbar/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Bahtsul Masail, Pondok Pesantren, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 02 Februari 2018

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Blitar, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pola dakwah wali Sembilan (wali songo) perlu diteladani oleh para kader dan penerus NU. Karena, pola yang dijalankan oleh para wali sederhana. Namun mengandung hikmah dan motivasi yang sangat tinggi.

“Dalam berdakwah para wali ini tidak terlalu muluk-muluk dalam penyampaian. Namun, dinamis dalam pelaksanaannya," ujar Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Noer Hidaytulloh Dawami kepada NU Onlie tadi pagi (10/1), usai melakukan ziarah makam dan pendiri NU di Jatim, tadi pagi.

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)
Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Sitem dakwah para wali, lanjut Kiai Noer, tidak macem-macem. Baik pola maupun bahasanya. Sehingga masyarakat luas mudah menerima apa yang disampaikan.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Para wali itu semua hafal Qur’an dan hadits. Tapi mereka tidak banyak mengunakan dalil-dalil itu untuk disampaikan ke umatnya. Namun kandungannya yang dijlentrehkan berfaedah. Misalnya kenduri. Dulu kenduri itu bentuknya sesaji kepada mahluk gaib. Namun oleh wali diluruskan bahwa kenduri itu bagian dari shodaqoh. La shodaqoh itu bagian dari li daf’il balak (menjauhkan dari mara bahaya)," ungkap Kiai Noer yang juga pengasuh pesantren Darur Roja’ Selokajang ini.?

“Jadi dakwahnya sangat sederhana. Namun mengena. Para wali tahu ini Jawa bukan Arab. Sehingga melalui tradisi dan buya itulah para wali bisa menyebarkan Islam di Jawa secara damai. Ini yang perlu diteladani," tambahnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebagimana diketahui, sukses pelaksanaan dan hasil dalam konfercab NU Kabupaten Blitar. Panitia konfercab, melakukan safari ziarah wali dan pendiri NU di Jatim. Acara dilaksanakan, 8-9 Januari 2013 kemarin. Ziarah yang diikuti anggota panitia berjumlah sekitar 55 orang itu mengambil rute, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Surabaya dan Jombang.?

“Ziarah kita mulai dari Tuban, lalu ke Lamongan, terus Gresik. Tiba di Gresik pas waktu subuh. Habis Subuhan, kita ziarah ke makam Sunan Giri. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bangkalan untuk ziarah ke makam Syakhona Cholil. Usai dari Bangkalan, rombongan menuju ke Ampel Surabaya,’’ jelas Masduki, ketua panitia.

Tiba di Ampel, lanjut Masduki, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Padahal, rombongan masih belum ke Troloyo Mojokerto dan Tebuireng Jombang. Karena waktunya mepet, maka perjalanan dilanjutkan ke Jombang. Untuk ziarah ke makam KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).?

Namun sayang, tiba di Tebuireng waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 menit. Pintu gerbang pesarehan sudah tutup. “Yak arena tutup kit abaca tahlil di depan pintu masuk di sebelah barat. Toh hal ini tidak mengurangi pahala tahlil," ujar Masduki menghibur. Setelah itu, rombongan pulang ke Blitar melalui jalur Pare dan Kediri. “Tadi malam sekitar jam 22.00 kita sampai di Blitar," tambahnya.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Imam Kusnin?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS

Tarim, Rohis Tegal - Rohani Islam. Untuk merespon kehadiran Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) yang menggemparkan media massa akhir-akhir ini Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman bekerja sama dengan Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Al-Ahgaff mengadakan acara Bahtsul Masail Diniyyah Waqi’iyyah.

Acara yang bertempat di Auditorium Fakultas Syariah wal Qanun, Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Senin (9/8), tersebut diikuti sejumlah organisasi mahasiswa Indonesia di Hadhramaut, Yaman. Sekitar 70 delegasi pelajar hadir menyemarakkan acara.

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS

Dalam forum tersebut, ada beberapa persoalan yang dibahas peserta bahtsul masail. Di antaranya tentang status pembaiatan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pemimpin ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria), dan hukum memberi dukungan kepada kelompok tersebut baik secara materi atau tenaga.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pembahasan yang berlangsung selama kurang lebih empat jam itu telah memutuskan bahwa khalifah adalah wakil umat yang diberi kepercayaan oleh umat melalui baiat. Hal ini tidak terwujud secara realita dan syar’i kecuali dengan persetujuan seluruh umat atau melalui wakil-wakil mereka yang disebut sebagai ahlul halli wa al aqdi.

Forum menilai deklarasi sebuah kelompok saja tidaklah cukup untuk mengangkat khalifah. Dengan demikian, deklarasi khilafah oleh kelompok ISIS tidak memenuhi syarat. Sehingga tidak ada keharusan bagi umat Islam untuk berbaiat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Selanjutnya, forum menyatakan bahwa deklarasi khilafah oleh kelompok ISIS dilakukan tanpa musyawarah dengan umat Islam. Dan ini tidak sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umar Ibn Khattab, “Siapa yang membaiat seseorang tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin, maka tidaklah Ia dibaiat dan tidak pula orang yang membaiatnya dikhawatirkan keduanya akan dibunuh". (HR. Bukhori).

Jelaslah bahwa pembaiatan Imam ISIS tidak bisa disahkan secara hukum, dan tidak boleh hukumnya membaiat mereka. Selain tidak sah dari sisi syariat, langkah perjuangan yang mereka tempuh dinilai sangat ekstrem, seperti membunuh sesama muslim dan menghancurkan situs-situs makam para Nabi.

Membaiat mereka berarti mengucapkan janji setia dan siap menolong serta membantu mereka. Membantu ISIS berarti membantu dalam kemaksiatan dan kezaliman, dan saling membantu dalam berbuat dosa dan pelanggaran hukumnya haram, sebagaimana firman Allah swt. dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 2.

Di akhir acara, forum ilmiah yang dipimpin Zadit Taqwa menulis surat pernyataan resmi atas nama pelajar Indonesia di Hadhramaut yang berisi penegasan bahwa ISIS adalah gerakan transnasional yang bisa mengancam keutuhan NKRI.

Hal tersebut karena ISIS menginstruksikan warga muslim dunia untuk membaiat khalifah yang diangkatnya, di tengah-tengah kondisi sosio-politik mayoritas negeri Islam yang telah memiliki pemimpin secara resmi dalam sistem negara bangsa. Karenanya, pelajar Indonesia di Hadhramaut menuntut pihak pemerintah dan semua elemen masyarakat untuk tegas dan pro aktif menangkal gerakan semacam ini. (Ahmad Thohirin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Fragmen, Quote Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 26 Januari 2018

Khutbah Jumat, Ruang Sosialisasi Ajaran Kemanusiaan

Oleh KH Husein Muhammad

Satu ruang keagamaan penting sekaligus strategis dalam komunitas Muslim adalah mimbar Jumat. Ia adalah ruang pertemuan kaum Muslimin sekali dalam sepekan yang dikemas dalam upacara keagamaan yang sangat spesifik dan memiliki sakralitas tinggi. Khutbah adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah shalat Jumat. Para jamaah diserukan untuk mendengarkannya dengan "khusyu". Mereka tidak boleh bicara, bahkan termasuk menegur orang lain. Pikiran jamaah harus difokuskan untuk memperhatikan isi khutbah. Secara literal khutbah berarti pidato atau ceramah.

Khutbah Jumat, Ruang Sosialisasi Ajaran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Jumat, Ruang Sosialisasi Ajaran Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Jumat, Ruang Sosialisasi Ajaran Kemanusiaan

Khutbah Jumat sejak awal dimaksudkan sebagai wahana penyampaian ajaran-ajaran Tuhan kepada masyarakat sekali dalam sepekan. Agama-agama Samawi yang lain: Yahudi dan Nasrani, juga menyelenggarakan hal yang sama meski dengan hari yang berbeda dan dengan metode yang juga berbeda. Cara dan hari apa bukanlah sesuatu yang esensial. Yang esensial adalah pesan-pesan kebaikan yang harus disampaikan kepada masyarakat (umat). Dalam Islam pesan kebaikan disebut dengan taqwa. Pesan ini adalah "rukun" utama khutbah. Tanpa pesan ini upacara keagamaan ini menjadi batal.

Taqwa adalah kata paling paling sentral bagi seluruh pesan-pesan Islam. Secara literal ia berarti pengendalian atau menjaga diri. Para ulama sepakat menyebut taqwa sebagai jami kulli khair, yang menghimpun segala kebaikan dan kesalehan baik personal maupun kolektif. Para khatib Jumat biasanya menyampaikan bahwa taqwa adalah melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Atau dengan kata lain yang juga populer: amar maruf nahi munkar.

Tetapi pernyataan ini tentu saja sangat umum. Apa saja bentuk tindakan yang dipandang baik yang harus diikuti, dan apa yang dianggap buruk yang harus dijauhi. Elaborasi mengenai tindakan-tindakan taqwa, kriteria-kriteria atau sifat-sifat orang yang bertaqwa secara lebih detail disebutkan dalam banyak ayat yang lain. Antara lain dalam Q.S. [2]:177). Ayat ini mengandung tiga hal besar: kepercayaan personal atau aqidah, ibadah personal (ibadah) dan komitmen kemanusiaan (masalahah ammah). Maka khutbah diarahkan, pertama, untuk memperkuat dan meneguhkan komitmen keagamaan, terutama dalam kaitannya dengan keyakinan/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan keyakinan adanya kehidupan sesudah mati. Kedua untuk memperbaiki cara menyembah kepada-Nya sebagai pengakuan formal atas keyakinan tersebut. Atau dalam bahasa yang lebih populer memperbaiki dan meningkatkan ibadah kepada Tuhan. Ketiga, menyerukan kepada masyarakat Muslim untuk melakukan kerja-kerja social-kemanusiaan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Dua yang pertama bersifat personal dan menjadi basis bagi yang ketiga.

Pesan-pesan moral kemanusiaan Islam terungkap pada banyak sekali teks suci Al-Qur’an. Antara lain :

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Hendaklah kalian saling bekerjasama dalam menegakkan "al-Birr" (kebaikan sosial kemanusiaan/universal) dan jangan bekerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya".

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah adalah bersaudara. Maka berdamai lah kalian. Bertakwalah kalian. Allah akan menyayangimu".

Dari hadits Nabi juga banyak sekali. Antara lain, Nabi menginformasikan kepada kita bahwa mendamaikan konflik antar manusia memiliki nilai lebih utama ketimbang shalat, puasa atau zakat. Karena kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik tersebut adalah kebinasaan agama". (Al-Jami’ al-Shaghir, I/197).

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Allah menolong hamba-Nya yang menolong temannya."

"Satu hari seorang pemimpin bertindak adil terhadap rakyatnya adalah lebih utama daripada orang yang beribadah selama 60 tahun".(Al-Maqashid al Hasanah, hlm. 334). Dan Jihad yang paling utama adalah menyampaikan pesan kebenaran kepada pemerintah yang zalim (Al-Jami al Shaghir, I/81).

Sejarah kehidupan kaum Muslimin generasi awal memperlihatkan kepada kita bahwa mereka tidak pernah mendikotomisasi ibadah individual dan ibadah sosial. Pada dini hari yang tenang kaum Muslimin generasi awal (as-salafus shalih) khusyuk dalam sujud, dalam doa memohon ampunan Tuhan, membaca dan mentadabburi (memikirkan dan merenungkan makna-makna Al-Qur’an, sementara pada siang harinya mereka memacu kudanya, mencari air dan rumput, berjuang, menanam kurma dan kerja-kerja sosial kemanusiaan. Seluruh kerja dan perjuangan untuk mewujudkan tatanan sosial yang adil dan menegakkan martabat kemanusiaan adalah ibadah (pengabdian kepada Tuhan) yang tidak kurang pahalanya dari ibadah individual/personal.

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Cirebon, Jawa Barat

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Makam, IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 23 Januari 2018

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak Ustad yang terhormat, saya pernah mendengar ada orang yang pernah menikah dengan jin. Bahkan ada juga dalam sinetron yang saya lihat di salah satu televisi swasta, terlepas apakah itu cerita fiktif atau bukan yang jelas ada cerita pernikahan dengan jin meskipun tidak dijelaskan bagaimana proses akadnya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum menikah dengan jin. Dan atas jawabannya, kami ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb (Yunus/Jakarta)

***

Assalamu’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Mengenai pernikahan manusia dengan jin sebenarnya bukan soal baru. Kami juga pernah mendengar cerita pernikahan manusia dan jin, yang notabenenya adalah dua makhluk yang berlainan alam dan berbeda materi penciptaannya. Namun kami belum pernah menyaksikan bagaimana pernikahan manusia dengan jin bisa berlangsung. Hanya saja dalam benak kami, jin merubah dirinya menjadi wujud manusia seperti kita.

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Pernikahan Manusia dengan Jin

Para ulama juga sebenarnya juga jauh-jauh hari sudah membincang tentang pernikahan manusia dengan jin, bahkan sampai ada yang mempuyai anak dari hasil pernikahan tersebut. Dan mayoritas ulama memakruhkan pernikahan tersebut. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Bahwa merasukinya jin pada manusia bisa jadi karena dorongan syahwat, hawa nafsu, atau jatuh cinta sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia lainnya. Dan terkadang antara manusia dengan jin terjadi pernikahan sampai melahirkan anak. Hal ini banyak terjadi dan sudah diketahui secara umum. Sungguh, para ulama telah menyebutkan hal tersebut dan membicarakannya. Dan mayoritas ulama memakruhkan pernikahan (manusia) dengan jin” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatwa, Mesir-Dar al-Wafa`, cet ke-3, 1426 H/2005 M, juz, 19, h. 39)      

Di antara barisan para pakar hukum Islam yang memakruhkan pernikahan manusia dengan jin adalah imam Malik pendiri madzhab maliki.  Alasannya adalah adanya kekhawatiran nanti kalau ada perempuan hamil akibat melakukan zina bisa saja mengaku bahwa ia dihamili jin.  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Dan terdapat riwayat dari imam Malik ra bahwa beliau membolehkan pernikahan manusia dengan jin, akan tetapi beliau memakruhkannya karena (khawatir) perempuan-perempuan yang hamil sebab zina mengaku-aku bahwa kehamilannya itu dari jin” (Lihat Ibnu Hajar al-Haitsami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 50)

Di kalangan madzhab syafii sendiri juga terjadi perselisihan pendapat. Ada yang memperbolehkan, dan ada yang tidak. Di antara pendapat yang tidak memperbolehkan pernikahan manusia dengan jin adalah al-Bariji dan Ibnu Yunus. Alasan yang dikemukakan adalah adanya perbedaan jenis antara bangsa manusia dan jin. Ini artinya manusia hanya boleh menikah dengan manusia. Hal ini didasarkan atas firman Allah swt berikut ini;

? ? ? ? ? ?. “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri” (Q.S. An-Nahl [16]: 72)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ?. “Ibnu Yunus berpendapat bahwa di antara yang menjadi penghalang pernikahan adalah perbedaan jenis. Karenanya maka tidak boleh bangsa manusia menikah dengan bangsa jin. Dan pendapat inilah yang difatwakan al-Bariji karena didasarkan kepada firman Allah swt, ‘Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri’ (Q.S. An-Nahl [16]: 72]” (Lihat Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarhu Raudl ath-Thalib, Bairut-Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, 3, h. 162)

Dari penjelasan di atas setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam soal pernikahan manusia dengan jin ternyata terjadi perbedaan di antara para ulama. Dan kami lebih memilih pendapat yang tidak memperbolehkan pernikahan tersebut.

Pertimbangan kami memilih pendapat yang tidak memperbolehkan di samping alasan yang dikemukakan oleh ulama di atas adalah, ketiadaan aturan teknis yang memadai yang menjelaskan mengenai pernikahan manusia dengan jin.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. 

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)      

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hikmah, Sejarah, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 14 Januari 2018

Ansor Negara Batin Gerakkan Organisasi dengan Sampah Plastik

Way Kanan, Rohis Tegal - Rohani Islam - Ketiadaan dana merupakan salah satu hambatan untuk pergerakan organisasi. Kesimpulan tersebut disampaikan Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Negara Batin, Kabupaten Way Kanan, Lampung, kepada Ketua PC GP Ansor Way Kanan Provinsi Lampung Gatot Arifianto, di Blambangan Umpu, Sabtu (28/5).

Menjawab itu, Gatot mengajak kader menuju tempat penampungan plastik bekas bungkus makanan ringan, deterjen, shampo dan meminta mereka mengguntingnya menjadi potong-potongan kecil.

Ansor Negara Batin Gerakkan Organisasi dengan Sampah Plastik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Negara Batin Gerakkan Organisasi dengan Sampah Plastik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Negara Batin Gerakkan Organisasi dengan Sampah Plastik

"Kita aksi dulu baru nanti saya jelaskan teori dan alasannya," ujar Gatot. Ketua PAC Negara Batin Hozin Munir dan jajarannya pun bergegas melaksanakan ajakan Koordinator The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Lampung itu.

Setelah itu, mereka diajak menyaksikan tayangan orang-orang yang sukses mendapatkan rupiah melalui sampah hingga membaca berita mengenai Bripka Seladi, anggota polisi di Polres Malang Kota, Jawa Timur yang demi mendapatkan uang sampingan menyambi pekerjaan menjadi pengumpul sampah.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Pertemuan ini bermanfaat, kami mendapat pencerahan mengatasi hambatan dana untuk pergerakkan organisasi. Insya alah Ansor Negara Batin siap mengolah sampah menjadi rupiah. Kami sampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pimpinan cabang atas wawasan diberikan," ujar Hozin seusai menjajal tidur sejenak dengan bantal berbahan baku limbah plastik.

Selain berdampak positif bagi kebersihan lingkungan, pendayagunaan sampah juga mampu menghasilkan materi. "Ternyata kita butuh pemuda-pemuda yang peduli pada lingkungan. Cerdas dan kreatif memanfaatkan hal yang tidak terpakai menjadi memiliki nilai jual, salah satunya membuat bantal dari bahan baku plastik bekas pembungkus makanan ringan," ujar Ketua Ranting Ansor Gisting Jaya Nanang Yudi Saputro.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Rata-rata kantung plastik digunakan hanya 25 menit. Tetapi untuk hancur dan terurai di alam dibutuhkan hingga 50 hingga 500 tahun. Hal tersebut menjadi masalah serius yang harus disikapi oleh berbagai pihak, termasuk pemuda Nahdlatul Ulama. Jangan sampai kualitas generasi kita mendatang menurun akibat sampah yang mencemari unsur kehidupan seperti tanah dan air," pungkas Gatot. (Syuhud Tsaqafi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Jadwal Kajian, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 08 Januari 2018

Kepada Calon Jamaah Haji, PCNU Sumedang: Bacalah Doa yang Mudah

Sumedang, Rohis Tegal - Rohani Islam - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang H Sadulloh mendoakan pengurus NU yang akan menjadi jamaah haji tahun ini. Ia berpesan kepada calon jamaah haji agar tidak terbebani dengan doa-doa panjang di setiap rukun atau sunah haji.

Demikian disampaikan H Sa’dulloh pada kegiatan yaumul ijtima’ yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tanjungkerta, Selasa (9/8).

Kepada Calon Jamaah Haji, PCNU Sumedang: Bacalah Doa yang Mudah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepada Calon Jamaah Haji, PCNU Sumedang: Bacalah Doa yang Mudah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepada Calon Jamaah Haji, PCNU Sumedang: Bacalah Doa yang Mudah

Kegiatan yang berlangsung di salah satu rumah di daerah Cikalong Budiasih Tanjungkerta ini diisi juga dengan syukuran beberapa pengurus MWCNU Tanjungkerta yang akan berangkat menunaikan ibadah haji.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurut H Sadulloh, bacaan doa yang paling utama adalah doa yang ada dalam Al-Quran, setelah itu di hadist, terakhir bacaan doa karangan para ulama.

“Dalam prosesi ibadah haji tidak mungkin seorang calon ibadah haji ke mana-mana harus membawa buku kumpulan doa-doa. Ribet rasanya kalau sedang berdesak-desakan beribadah, terus harus mengeluarkan buku kumpulan doa-doa. Solusinya doa-doa tersebut harus dihafal,” kata H Sadulloh.

Kalau seandainya masih banyak doa yang belum dihafal, cukup setiap berdoa baca doa sapu jagat yang ada dalam Al-Quran, "Rabbana atina fid duniya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina adzaban nar".

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Semoga semua calon jamaah haji Indonesia bisa selamat dan disukseskan dalam setiap melewati prosesi ibadah haji. Manfaatkanlah waktu selama di sana dengan benar-benar untuk beribadah dan bisa pulang lagi ke tanah air dengan mendapat gelar haji yang mabrur,” tutup H Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Sejarah, Internasional Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 03 Januari 2018

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

Rohis Tegal - Rohani Islam

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.? Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga? saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).



Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 01 Januari 2018

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU

Surabaya, Rohis Tegal - Rohani Islam

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya merayakan hari lahir (harlah) yang jatuh pada 16 Rajab 1437 H atau bertepatan dengan 24 April 2016 dengan berziarah makam para pendiri atau orang-orang yang berjasa besar terhadap NU.

Makam yang dikunjungi, antara lain Sunan Ampel, pencipta nama NU KH Mas Alwi Abdul Azis, Sunan Bungkul yang dikenal sebagai kakek Sunan Ampel, lalu pencipta lambang NU KH Ridlwan Abdullah di kompleks makam Tembok, Surabaya.

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU

"Instruksi PBNU, peringatan Harlah ke-93 tahun ini digelar secara sederhana. Malam ini (Sabtu) ziarah ke makam Sunan Bungkul menjadi titik terakhir ziarah ke muassis. Di makam Sunan Bungkul sekalian digelar tahlilan," kata ketua PCNU KH Mubibbin Zuhri.



Rohis Tegal - Rohani Islam

Kisah Lambang NU



Bersamaan Harlah ke-93 ini, Wakil Katib PCNU Surabaya Ustadz Maruf Khozin membuat catatan tentang penuturan Gus Saiful Halim, cucu KH Ridlwan Abdullah. Pada catatan yang dibagikan ke Nahdliyin ini disampaikan sejarah pendirian NU. Setelah malam didirikan, para kiai meminta Kiai Ridlwan membuat lambang NU. Mengapa Kiai Ridlwan yang ditunjuk?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Cucu KH Ridlwan, Gus Saiful Halim menceritakan bahwa setelah mondok di Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Ridlwan pernah bekerja di rumah orang Belanda. Pemilik rumah tersebut adalah pelukis. Suatu ketika tanpa disengaja Kiai Ridlwan menumpahkan tinta di kanvas lukisannya. Kiai Ridlwan gugup dan sedih, namun memberanikan diri memperbaiki lukisan tersebut sebisanya.

Dan ternyata si tuan Belanda tersebut tidak marah karena hasil lukisan Kiai Ridlwan bagus. Maka sejak itulah bakat seni melukis Kiai Ridlwan terlihat.

Pada Kiai Ridlwan, para Kiai memberi syarat kriteria lambang NU. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari ketika itu mengatakan, "Membuat lambang NU tidak meniru lambang lain, lambang tersebut harus punya haibah, tidak membosankan sampai kapan pun.”

Menurut Ustadz Ma’rif Khozin, tidak mudah di masa itu dengan membandingkannya di masa digital sekarang. Syarat pertama tadi karena sebelum berdirinya NU, sudah ada Muhammadiyah dan Persis yang juga memiliki lambang.

“Beberapa lambang telah beliau buat, beliau ajukan ke beberapa kiai, selalu ditolak dan tidak diterima. Seolah beliau sudah habis inspirasinya, maka beliau salat Istikharah meminta petunjuk kepada Allah, maka pada jam 3 sebelum Subuh setelah beliau merebahkan tubuh. Kiai Ridlwan bermimpi ada bumi yang dikelilingi 9 bintang,” katanya.

Ini membuatnya terperanjat dan menulisnya secara sederhana di atas kertas. Setelah salat Subuh Kiai Ridlwan menyempurnakan gambar tersebut. Paginya, ia sampaikan kepada beberapa Kiai, termasuk Rais Akbar. Kiai Ridlwan menyampaikan bahwa ini hasil istikharah.

Di lain pihak, Kiai Nawawi Sidogiri juga mendapat Istikharah Surat Ali Imran 103, yaitu tentang Tali Allah, yang oleh Kiai Wahab diilustrasikan dengan 2 tali terikat di bawah. Maka saat kongres NU pertama di Peneleh Surabaya lambang NU telah sempurna. (Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 23 Desember 2017

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Raja Yordania Abdullah Bin Al-Hussein atau Abdullah II meminta dukungan adanya penyelesaian damai konflik Suriah yang sampai sekarang belum ditemukan titik terangnya. 

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah

Jordania yang berbatasan langsung dengan Suriah dilibatkan oleh PBB untuk merumuskan penyelesaian damai, sudah 600 ribu pengungsi ditampung di Jordania.

“Butuh dukungan global untuk penyelesaian konflik ini,” katanya dalam acara Nahdlatul Ulama Sufi Gathering di Jakarta Convention Center, Rabu (26/2).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia menegaskan, inisiatif perdamaian tersebut, harus didasarkan atas keinginan rakyat Suriah sendiri.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Yordania merupakan negara yang memiliki situs-situs tua peninggalan Kristen dan Islam. Karena itu, negara yang juga berbatasan dengan Israel ini menginisiasi sejumlah upaya perdamaian antara Islam dan Kristen. Ia berharap dialog antar agama yang digagas ini bisa melahirkan perdamaian dan perdamaian akan menghasilkan persahabatan.

Pada kesempatan tersebut, Raja Abdullah II juga mendukung inisiatif perdamaian dua negara antara Palestina dan Israel dengan menggunakan batas wilayah yang ditetapkan pada 1967 dan Yerussalem Timur sebagai ibukota Palestina. 

Menanggapi pernyataan Raja Yordania tersebut, KH Said Aqil Siroj sangat mendukung upaya penyelesaian damai konflik Suriah dan Timur Tengah pada umumnya. Ia menegaskan, NU telah terlibat dalam sejumlah dialog Sunni-Syiah dan penyelesaian konflik yang terjadi di sejumlah negara Muslim. “NU mendorong penyelesaian konflik secara damai,” tegasnya.

Timur Tengah, katanya, bisa belajar dari Indonesia dalam penanganan konflik. Lulusan universitas Ummul Qura Makkah ini menyatakan, di Timur Tengah tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah jika terjadi konflik seperti di Indonesia. 

“Jika ada konflik, bedil yang bicara,” tandasnya. 

Hadir pada acara tersebut sejumlah tokoh nasional seperti Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, M Nuh, para ketua PWNU seluruh Indonesia serta kader NU dari Muslimat NU, Fatayat, Ansor dan lainnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pertandingan, Warta, Lomba Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 17 Desember 2017

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis)

Oleh: Muhammad Ali Rahman

Mengacu pada data peristiwa sejarah yang diuraikan pada tulisan terdahulu (Baca:Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I) dan Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (II), sangat tidak memungkinkan terjadinya peristiwa di Masjidil Haram yang melibatkan Kiai Hasyim Asy’ari pada tahun-tahun itu.

Kemudian, untuk memperjelas bagaimana sulitnya transportasi menuju Makkah, saat itu, di antaranya kita bisa cermati perjuangan Kiai NU ketika hendak mengirim utusannya ke Muktamar Alam Islami. Langkah awal, harus mencari dana, yang akhirnya terkumpul sebesar f 1500.28,5 (mata uang Hindia Belanda). Pendanaan siap, dan KHR Asnawi, Kudus (Jawa Tengah), sebagai utusan pun juga siap. Langkah berikutnya, Kiai Wahab menghubungi perusahaan pelayaran di Tanjung Perak, Surabaya. Ternyata, setelah beliau sampai di pelabuhan Tanjung Perak, kapal yang menuju Arab Saudi sudah berangkat. Maka gagallah pemberangkatan Kiai Asnawi untuk menghadiri muktamar di Makkah.

Dua tahun kemudian, utusan NU yang diwakili oleh Kiai Wahab dan Syaikh Ghanaim, baru bisa berangkat, yakni pada 19 Maret 1928 M, dan tiba di Makkah pada 7 Mei 1928 M. Utusan NU ini pun bukan untuk mengikuti muktamar, melainkan menemui langsung Raja Arab Saudi, Abdul Aziz Al-Saud, guna menyampaikan surat dari NU.

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis)

Uraian ini, baru persoalan transportasi, belum lagi ketatnya pengawasan pihak Raja Abdul Aziz Al-Saud terhadap semua bentuk kegiatan Aswaja di Hijaz. Pada tahun-tahun itu sulit melakukan diskusi di Masjidil Haram yang berkaitan dengan Aswaja. Satu misal, diinformasikan surat kabar Pewarta Surabaya, yang memberitakan nasib ulama asal Indonesia, yakni KH Mukhtar. Beliau nyaris dihukum mati, atau diusir dari Hijaz, hanya karena menjawab pertanyaan jamaah, mengenai sunnahnya membaca "ushalli" menjelang shalat, dengan merujuk pada kitab Tuhfah.?

Berikutnya, kita cermati kembali tugas Kiai Hasyim seperti diceritakan Habib Luhtfi. Setelah dari Habib Hasyim di Pekalongan, beliau menemui salah seorang gurunya, yakni Syaikhona Kholil, di Bangkalan. Setelah bertemu. terjadilah dialog:

Syaikhona ? : ? Laksanakan apa niatmu. Saya ridha seperti ridhanya Habib Hasyim. Tapi saya ? juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kiai Hasyim: ? Bagaimana Kiai, kok tidak mau ditulis semua?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Syaikhona ? : ? Kalau mau tulis silakan, tapi sedikit saja.?

Di luar konteks ketidakmungkinan seperti yang penulis urai tadi, keterangan dan rangkaian kalimat ini ganjil; dari sisi tatakrama atau pun dari sisi fakta.?

Pertama, Syaikhona Kholil adalah guru Kiai Hasyim. Sebagai seorang santri, apalagi santri di masa itu, lazimnya mendahulukan gurunya sebelum yang lain. Namun dalam cerita itu, Kiai Hasyim menemui Habib Hasyim terlebih dadulu, baru ke Syaikhona. Secara georafis pun, jarak tempuh dari Tebuireng lebih dekat ke Bangkalan ketimbang ke Pekalongan.

Hal lain. cerita ini menimbulkan kesan, ridhanya Syaikhona terhadap niatan santrinya, setelah diridhai Habib Hasyim. Serta mengesankan, kedua tokoh itu sama-sama memiliki tingkatan spiritual, dalam pengertian adikodrati yang tinggi. Sehingga, jarak yang jauh antara Makkah-Indonesia, dan antara Pekalongan-Bangkalan bisa disadapnya.?

Kedua, dialog antara Syaikhona dan Kiai Hasyim digambarkan begitu akrab. Sementara jika merujuk pada keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, ketika tahun 1920 M, sebanyak 66 ulama seluruh Indonesia datang ke Bangkalan, ingin bertemu Syaikhona guna memohon petunjuk terkait dengan gerakan aliran baru anti madzhab, mereka terlebih dahulu menemui Kiai Muntaha, menantu Syaikhona, yang tinggal di daerah berbeda di Bangkalan.

Setelah para ulama itu menjelaskan maksudnya, sebagaimana ditirukan oleh Kiai As’ad, satu di antara mereka berkata:

“Bagaimana Kiai Muntaha, mohon dihaturkan ke Kiai Kholil, karena kami tidak berani sowan langsung. Kami semua sudah sama-sama azam untuk bertemu Hadratus Syaikh Kiai Kholil. Kami tidak ada yang berani kalau bukan panjenengan yang mengantarkan…” Kisah ini menggambarkan betapa kharismatiknya Syaikhona serta tawadhu’-nya para ulama saat itu.

Ketiga, cerita ini terbalik dengan keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, di mana Kiai Hayim yang datang menemui Syaikhona menyampaikan amanat dari ulama di Haramain. Sedangkan dalam keterangan Kiai As’ad, beliau diutus Syaikhona untuk menemui Kiai Hasyim, yang menjadi jawaban dari istikharahnya berkenaan dengan gagasan akan membentuk wadah bagi Ulama Aswaja—seperti diurai di atas.?

Keempat, terkait dengan narasumber. Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah santri Syaikhona, pelaku peristiwa, menyampaikan sendiri kisahnya, dijelaskan dengan tahun peristiwanya, dan termasuk juga pendiri NU. Secara data, keterangan Kiai As’ad, ada bukti rekamannya, bahkan tidak hanya satu kali kisah itu disampaikan. Setidak-tidaknya, yang penulis tahu ada dua rekaman, walau redaksinya agak beda, tapi intinya sama. Kisah itu juga pernah disampaikan ke Chairul Anam ketika mewawancarai untuk materi buku Pertumbuhan & Perkembangan NU.

Sedangkan keterangan Habib Luthfi, yang katanya didapat dari Kiai Irfan, tidak dilengkapi dengan penjelasan siapa tokoh Kiai Irfan yang dimaksud. Apakah beliau terlibat langsung saat peristiwa di Masjidil Haram tersebut, sehingga mengetahui kisahnya. Apakah semasa dengan Syaikhona dan Habib Hasyim dan seterusnya dan sebagainya. Terlepas siapa Kiai Irfan, yang pasti, keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin yang runutannnya jelas dan selaras dengan data-data tertulis tentang pembentukan NU, sehingga memenuhi syarat ilmiah dalam standar penulisan sejarah.

***

Dari semua uraian di atas, menjadi jawaban, mana yang bisa diterima, mana yang tidak. Adapun keterangan: “Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur,” kiranya tidak perlu diurai lebih lanjut. Sebab tidak ada penjelasan, dicatat dalam bentuk apa, di mana, dan seperti apa rinciannya. Sedangkan Gus Dur sudah wafat, yakni pada 29/12/2009 M; sementara kisah itu disampaikan pada 2010 M—sebagaimana diurai di atas.

Namun demikian, jika Habib Luthfi, sebagai shahibul kisah memiliki bukti materi yang kuat dari apa yang dikisahkan, sebaiknya didiskusikan dalam forum ilmiah dengan melibatkan berbagai pihak, terutama para penulis sejarah NU yang selama ini menjadi rujukan. Dengan demikian akan lebih jernih dan jelas, sehingga tidak timbul kerancuan yang ujungnya bisa saja dapat mengaburkan sejarah NU dari aslinya.?

Demikian tanggapan penulis, semoga bermanfaat dan mohon maaf jika terdapat kesalahan. Wallahu a’lam.





Penulis tercatat sebagai pengurus di salah satu Lembaga dan Banom NU; penulis buku "Riwayat Syaikhona Kholil Bangkalan, Isyarah & Perjuangan di Balik Berdirinya NU", "Istighatsah An-Nahdliyah", "Syair Gus Dur", dan lain-lain.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Doa Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 16 Desember 2017

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pemerintah Jepang melalui kedutaan besarnya kembali menggelar pertukaran pelajar dalam Program Jenesys 2017. Program serupa sebelumnya dilakukan tahun 2016 lalu.

Para pelajar dan pemuda NU kembali mendapatkan kesempatan program yang bertujuan memperkuat kebudayaan masing-masing negara selain hubungan diplomatik di bidang pendidikan.

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini melapas perwakilan atau delegasi NU untuk mengikuti program tersebut. Helmy berharap, anal-anak muda NU dapat mengambil banyak ilmu dan pengalaman selama sepekan di Jepang.

“Saya berharap delegasi yang berangkat mendapatkan banyak ilmu dan belajar dari cara Jepang memajukan negara, baik dari sisi kedisiplinan, perkembangan teknologi, dan transportasi umum di sana,” ujar Helmy, Senin (2/10) saat melepas delegasi NU di Gedung PBNU Jakarta.

Helmy menjelaskan, program pertukaran ini sebetulnya sudah dirintis ketika dirinya aktif sebagai pelajar NU tahun 1997 silam. Setelah itu program ini belum berlanjut lagi untuk perwakilan pelajar dan anak muda NU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Sebagai calon para pemimpin, anak-anak muda NU harus mempunyai wawasan yang luas, baik nasional maupun internasional. Program ini sangat baik sebagai langkah meningkatkan kapasitas diri dari people to people dengan negara lain,” jelas pria kelahiran Cirebon ini.

Di antara pihak-pihak yang mengikuti program Jenesys 2017 ini yaitu dari unsur IPNU dan IPPNU, pesantren, dan para dai muda. Rombongan delegasi NU dipimpin oleh Ustadz Bukhori Muslim, salah satu pengurus di LDNU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam sepekan menjalani program tersebut, para delegasi NU akan mengunjungi tiga kota di Jepang salah satunya Tokyo. Mereka mulai berangkat pada Senin (2/10) hingga pada akhir kegiatan pada Selasa (10/10). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pendidikan, Warta, Ubudiyah Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 13 Desember 2017

Menteri Agama Sayangkan Perilaku Destruktif Mahasiswa

Ternate, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sesuai nama yang disandangnya, Menag Lukman Hakim Saifuddin berharap mahasiswa dapat mencerminkan ke-maha-annya di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Mahasiswa yang juga merupakan intelektual muda penerus bangsa harus dapat membuktikan bahwa dirinya tampil berbeda dengan pemuda yang tidak mengenyam pedidikan.?

Menteri Agama Sayangkan Perilaku Destruktif Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama Sayangkan Perilaku Destruktif Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Agama Sayangkan Perilaku Destruktif Mahasiswa

Kepada para dosen IAIN Ternate, Menag Lukman menitipkan para mahasiwa untuk dididik dan dibina, agar menjadi cendekia dan lulusan yang baik, bagi agama nusa dan bangsa. Pesan ini disampaikan Menag saat bersilaturahmi ke IAIN Ternate usai memantau UN di MTsN dan Pembinaan ASN Kemenag Maluku Utara di Pulau Sofifi, Selasa (10/5).

Dalam kesempatan itu, ? Menag menyempatkan diri berkeliling lingkungan kampus untuk melihat kondisi bangunan gedung yang ada. Melewati ? asrama mahasiswa, ? sontak Menag bertanya kepada mahasiswi yang berkerumun ingin menghampirinya. “Sudah berapa tahun tinggal di asrama?” tanya Menag. “Dua tahun Pak Menteri,” jawab mereka serempak.

“Apa kendalanya tinggal di asrama? Ada masalah?” tanya Menag lagi. “Tidak ada Pak, tidak ada masalah,” jawab mahasiswa sembari tertawa bersama Menag.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Tidak mungkin dalam hidup ini, tidak ada masalah. Rajin dan tekunlah dalam belajar,” pesannya seperti diberitakan situs kemenag.go.id.

Menag mengaku sedih, ? melihat mahasiswa ? demo sampai merusak fasilitas kampus yang sudah dibangun dengan susah payah. “Kita adalah kaum elit, kaum terdidik, siswa yang maha, maka dari itu, kita tidak sama dengan mereka yang tidak terpelajar, bukan mahasiswa,” kata Menag.

Menurut Menag, mahasiswa harus lebih pandai memeperjuangakn aspirasi. Sebab kekuatan mahasiswa terletak pada nalar atau logikanya. ? “Perjuangkan apa yang menjadi aspirasi, bangun dengan cara diskusi, bangun komunitas-komunitas publik, perjuangkan dengan bersama tanpa ada tindakan yang destruktif,” paparnya.

Sebelumnya, Rektor IAIN Ternate Abd Rahman I Marasabessy menyampaikan bahwa IAIN Ternate ? menjadi perguruan tinggi agama pertama di Ternate. Berdiri sejak 1966, IAIN Ternate kini sudah memiliki lulusan yang banyak bekerja di Kementerian Agama, khususnya di Maluku Utara. (Red: Fathoni)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 09 Desember 2017

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni

Oleh Poetra Adi Soerjo

 

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni

Yang membawa NU pertama kali ke Sumbawa adalah seorang anak muda yang lahir dari rahim kandung Muhammadiyah, dan yang membawa Muhammadiyah melejit ke panggung dunia internasional adalah anak muda Sumbawa yang lahir dari rahim kandung NU.

Adalah Abdul Majid seorang pemuda Sumbawa yang masih berusia 15 tahun pada tahun 1934, pulang ke Sumbawa melihat kegiatan yang dikembangkan oleh Badan Tablig sebuah wadah organisasi ulama yang sudah terlebih dahulu eksis di Sumbawa. Kegiatan Badan Tablig ini mendapat sokongan restu dari Sultan Sumbawa Muhammad Kaharuddin III dan mengirimkan para mubalignya keliling ke seluruh daerah di Sumbawa.

Abdul Majid sendiri adalah seorang pemuda asal Sumbawa yang kecil dan besar dalam pengasuhan KH Agus Salim seorang tokoh sentral Muhammadiyah di Jakarta. Kepada Badan Tablig, Abdul Majid menjelaskan tentang perkembangan oraganisasi kebangkitan ulama di tingkat nasional yang merupakatan geneologi dari komite Hijaz yang dikirimkan oleh ulama ulama Nusantara untuk memprotes kebijakan Raja Najed di Saudi.

Melihat begitu semangatnya dakwah Badan Tablig, Abdul Majid kemudian memperkenalkan organisasi nasional Nahdhatul Ulama (NU) yang memang secara tradisi ibadah sangat dekat dengan tradisi ibadah orang Sumbawa pada umumnya saat itu. Pembacaan Barzanji, Sarakalan, Yasinan, Gendang Tabuh Ratib Rabana Ode dan Rabana Rea, Ratib Munid yang datang dari Banjar dan lain sebagainya telah mendarah daging dalam amaliah ibadah orang Sumbawa. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sultan Sumbawa sendiri memiliki garis keturunan yang langsung dari kesultanan Banjar di kalimantan Selatan tempat di mana tradisi awal Ratib berkembang. Maka tak butuh waktu dan perdebatan yang lama untuk menjelaskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar) dan juga kitab Itiqad Ahlussunnah wal Jama’ah yang disusun oleh KH Hasyim Asyari sebagai khittah NU. Karena paham aqidah Asyariyah al-Maturidiyah sendiri telah menjadi amaliah hari-hari orang Sumbawa. Hal tersebut dibuktikan dengan hafalan sifat dua puluh karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi yang sudah umum dikenal masyarakat Sumbawa dan diajarkan di tempat-tempat mengaji.

Adalah M. Sirajudin Syamsuddin yang pidatonya hingga kini terus menggelegar di seluruh penjuru bumi dan dinanti oleh tokoh-tokoh dunia. Bagi saya pribadi, ada aura wibawa yang sangat kuat dalam pidato M. Sirajudin Syamsuddin yang kita kenal dengan nama Prof. Din Syamsuddin sejak mulai membuka salam. Seriuh apa pun audiens, nada salam pembuka dalam pidato Din selalu membuat dunia berhenti dan menoleh, Din selalu mampu mencuri perhatian audiens sejak salam pembuka, dan terus dengan tutur yang sistematis, konten yang berisi, argumentasi dalil yang kuat disertai irama nada dan retorika pidatonya membuat pendengar terkunci tak beranjak dari kursinya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di umur 12 tahun, sebagai peserta termuda dalam lomba pidato tingkat kabupaten di Sumbawa, Din telah menjadi juara dan mengalahkan peserta lain yang bahkan ada yang sudah menjadi mahasiswa. Pidato Din kala itu sekelas dengan pidato Idham Kholid (tokoh NU) dan M. Natsir (Masyumi) yang terkenal sebagai macan panggung. Kemenangan Din sang kader cilik NU dalam lomba pidato tersebut membuat Sumbawa tercengang, dan inilah pemantik awal karir Din hingga menjadi ulama dunia sampai hari ini.

Adalah Khudori HS, Orang Madura yang menjadi Kepala Depag Sumbawa dan sekaligus Ketua Pimpinan Cabang NU Sumbawa yang menempa dan mengolah teknik dan retorika pidato Din. Ayah Din adalah seorang tokoh dan pengurus NU di Sumbawa. Din mulai dari Ibtadiyah hingga Tsanawiyah menimba pendidikan di sekolah NU di Sumbawa hingga menjadi ketua IPNU. Kembali ke masalah pidato, maka terkait gaya bahasa dan olah kata, Din di bawa oleh sang ayah untuk ditempa oleh seorang punggawa penyair dan sastrawan Sumbawa yaitu Dinullah Rayes yang kini juga dikenal sebagai sastrawan nasional. Dinullah Rayes diusianya yang tak lagi muda menikahi adik dari sahabatnya sesasama penyair yaitu KH Zawawi Imron.

Di umur yang masih begitu belia, Din sudah menjadi mubalig cilik yang berkeliling ke berbagai daerah di Sumbawa untuk memberikan ceramah. Din belia telah menjadi kebanggaan tokoh tokoh NU Sumbawa. Oleh seorang tokoh NU Sumbawa bernama Muchtar Anwar kemampuan piadato dan ceramah Din kembali digembleng. Muchtar Anwar menaikkan Din ke atas kuda untuk dijadikan fodium latihan pidato. Dan oleh Muchtar Anwar, Din dibawa keliling ke berbagai daerah di Sumbawa untuk keliling berceramah sebagai mubalig cilik. Bintang ketokohan seorang Din Syamsuddin mulai menyala dan dijadikan sebagai vote getter oleh partai NU Sumbawa untuk berkampanye meraup suara dalam pemilu. 

Ada cerita menarik Din di masa kecil. Alkisah diadakan sebuah rapat rahasia para tokoh tokoh NU di rumah Ayahnya untuk membahas strategi politik Partai NU dalam Pemilu. Hasil rapat diketikkan dalam beberapa lembar kertas. Din kecil yang suka bermain layang layang tanpa dosa mengambil kertas tersebut sebagai bahan untuk membuat layang layang. Dengan riang gembira Din yang paling suka bermain dan mandi di Kali Tiu Baru memainkan layangannya. Betapa kaget sang Ayah karena tak lagi menemukan berkas rapat penting para tokoh NU di rumahnya. Dan diketahuilah bahwa ternyata kertas tersebut tak lagi berbentuk karena sudah dijadikan layangan oleh Din. Al hasil, sebagaimana orang Sumbawa pada umumnya, Din dilebak sang Ayah yang sedang asik bermain layangan di Tiu Baru. Namun Din yang karena prestasinya yang cemerlang sejak kecil tetaplah menjadi kebanggaan tokoh tokoh NU Sumbawa. Din selalu menjadi bintang dalam kampanye kampanye partai NU Sumbawa. Melihat Din yang terlalu muda dilibatkan dalam panggung politik, maka sang paman yang merupakan tokoh Muhammadiyah mengirimkan Din ke Pondok Modern Gontor, hingga Din bertemu Muhammadiyah dan mencapai puncak tertinggi karirnya dalam organisasi Muhammadiyah sebagai Ketua Pimpinan Pusat.

Maka lihatlah bagaimana investasi Muhammadiyah bagi NU Sumbawa dan demikian pula investasi NU bagi Muhammadiyah. Abdul Majid yang lahir dari rahim Muhammadiyah, anak asuh KH Agus Salim membawa NU untuk pertama kali ke Sumbawa, dan Din Syamsuddin yang lahir dari rahim NU membalas budinya dengan membawa nama besar Muhammadiyah semakin besar lagi ke pentas dunia.

Penulis adalah Sekretaris Bidang Akademik Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Aswaja, Pesantren, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 06 Desember 2017

Galang Konsolidasi, PMII Bojonegoro Temukan Seluruh Kader

Bojonegoro, Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebagai organisasi mahasiswa ekstra kampus (Omek), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kabupaten Bojonegoro sudah melahirkan ribuan kader yang militan. Termasuk mempersiapkan diri, menjelang pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kota Ledre yang direncakan tahun 2018 mendatang.

Hal itu yang disampaikan ketua umum pertama PC PMII Bojonegoro, Irsyadul Ibad diacara konsolidasi internal Keluarga Besar Ikatan Alumni (IKA) PMII dengan PC PMII Bojonegoro sekarang, di rumah makan joglo Jalan Kolonel Sugiyono Bojonegoro, Ahad (24/4).

Galang Konsolidasi, PMII Bojonegoro Temukan Seluruh Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Galang Konsolidasi, PMII Bojonegoro Temukan Seluruh Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Galang Konsolidasi, PMII Bojonegoro Temukan Seluruh Kader

Menurut, Irsyadul Ibad bahwa PMII sudah didirikan sejak tahun 1986 sampai tahun 2016 ini sudah melahirkan ribuan kader PMII di Kabupaten Bojonegoro, sehinga jangan sampai para kader PMII terpecah tanpa arah yang jelas.

"Untuk Bojonegoro sendiri, sudah saatnya mempunyai bupati atau wakil bupati Bojonegoro, konsen dalam konsolidasi ini adalah, membangun kantor PC PMII Bojonegoro yang baru dan menyiapkan Pilkada 2018," ujar pendiri PC PMII Bojonegoro dan juga pengasuh Pondok Pesantren Bumi Aswaja Gresik.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sedangkan Ketua IKA PMII, KH Abdulloh Nasihudin mengungkapkan, bahwasanya forum silaturrahim ini harus selalu dikawal bersama dan berkelanjutan. Sehingga PMII Bojonegoro mampu menjadi trend center gerakan mahasiswa di Bojonegoro.

"Gerakan literasi dan peningkatan intelektual kader menjadi sarat mutlak yang harus dibangun PMII di struktural. Sedangkan IKA PMII akan berkontribusi dan mendistribusikan kader-kader dan alumni terbaiknya untuk masa depan Bojonegoro kedepanya," terangnya.

Sementara itu, lketua mum PC PMII BoJonegoro, A Syahid menjelaskan, digagasnya acara temu alumni PMII ini, adalah dalam rangka harlah PMII ke-56 Tahun, serta bagaimana dari hasil pertemuan ini dapat menghasilkan rekomendasi untuk Bojonegoro kedepan baik untuk internal PMII maupun eksternal. Serta menyiapkan bagaimana kesiapan para alumni dalam Pilkada tahun 2018 mendatang.

"Acara konsolidasi yang dikemas dengan temu alumni ini untuk memikirkan bagaimana nantinya PMII kedepannya agar lebih meningkatkan kualitas kader dan kedekatan emosional keluarga besar PMII se-Bojonegoro. Serta untuk para alumni agar didorong mampu berpartisipasi dalam Pilkada Bojonegoro 2018, kalau PMII harus tetap netral dan independent, tetapi kalau alumni kan sudah saatnya berkontribusi di dalam sistem," tandasnya.

Tampak dalam temu kangen Keluarga Besar PMII ini dari zaman ketua umum PMII pertama pada tahun 1986 sampai pada tahun periode 2016, berlangsung harmonis. Pasalnya selain bertemu dengan sahabat seperjuangannya, para alumni PMII juga menceritakan perjalanan PMII dari masa kemasa. (M. Yazid/Fathoni)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, News, Ubudiyah Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 05 Desember 2017

Selain Kata Allah, Malaysia Larang Penggunaan 24 Kata Ini untuk Non-Muslim

Bogor, Rohis Tegal - Rohani Islam. Mahkamah Agung Malaysia pada 2004 silam menolak gugatan orang-orang Kristen untuk memperolah hak menggunakan kata "Allah". Putusan itu mengakhiri sengketa hukum bertahun-tahun yang telah menyebabkan ketegangan agama di negeri jiran itu.

Ternyata, kata “Allah” hanya satu dari 25 kata yang dilarang oleh pemerintah Malaysia untuk digunakan oleh kalangan bukan Muslim (Non-Muslim).

Selain Kata Allah, Malaysia Larang Penggunaan 24 Kata Ini untuk Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Kata Allah, Malaysia Larang Penggunaan 24 Kata Ini untuk Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Kata Allah, Malaysia Larang Penggunaan 24 Kata Ini untuk Non-Muslim

Hal itu diungkapkan oleh Ehsan Shahwahid, peneliti dari Islamic Renaissance Front (IRF) Malaysia saat mengisi materi dalam kegiatan Asia Interfaith Forum 2017 di Bogor, Selasa (17/10) yang digelar Pusat Studi Pesantren (Central of Pesantren Studies).

Dalam konstitusi Malaysia tertulis bahwa Islam adalah agama resmi negara, meski mereka juga memberi pengakuan terhadap kebebasan individual, termasuk bebas untuk memilih agama yang dianut.

 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Namun Ehsan mengakui, hal ini tidaklah selalu mudah untuk dilakukan, terutama dengan semakin menguatnya konservatisme di kalangan Muslim di Malaysia.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa kebijakan terbaru terkait dengan Islam di negeri yang merdeka sejak 1957 itu, beberapa di antaranya adalah pelarangan menggunakan kata “Allah” untuk warga Non-Muslim. 

“Tidak hanya kata itu, ada sekitar 25 kata lain yang tidak boleh digunakan oleh Non-Muslim, seperti, ibadah dan lain-lain,” jelas Ehsan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Lebih jelas, Ehsan menerangkan 25 kata yang dilarang tersebut. Sebagai berikut:

1. Allah         14. Rasul

2. Firman Allah 15. Iman

3. Ulama         16. Dakwah

4. Hadith         17. Injil

5. Ibadah 18. Salat

6. Kaabah 19. Khalifah

7. Ilahi         20. Wali

8. Wahyu 21. Fatwa

9. Mubaligh 22. Imam

10. Syariah 23. Nabi

11. Qiblat 24. Sheikh

12. Haji         25. Kadi

13. Mufti

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 20 November 2017

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Nasruddin Latif, Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatus Syubban ini awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi berselancar di dunia maya via. Namun kemudian blog yang dibuatnya dirujuk banyak orang. Khususnya sesama guru MI di berbgai daerah.

MI Raudlatus Syubban berada di Desa Wegil Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, cukup jauh dari pusat kota, sekitar 35 Km. Nasruddin Latif (36), mengaku saat pertama kali bertugas di MI Wegil pada 2006 ia menempuh perjalanan 40 menit dengan kendaraan roda dua dari kampung halamannya di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak.

Nasruddin prihatin saat awal bertugas di MI Wegil. Letak geografisnya jauh sekali dari kota kecamatan. “Informasi pun sering kali lebih banyak terlambatnya. Mungkin karena akses dan banyak hal lain,” ujar Nasruddin.

Ia mencontohkan, tiap tahun ajaran baru para guru harus merencanakan program madrasah ke depan. Senjata utamanya pakai kalender pendidikan (kaldik). Sementara jika kaldik tersebut tidak segera sampai ke madrasah, tentu menjadi persoalan tersendiri. Dari Kemenag tingkat provinsi, Kaldik turun ke kabupaten/kota, baru ke pengawas kecamatan, diteruskan ke KKM. “Terakhir para kepala madrasah diundang. Nah, baru masuk ke madrasah sini. Zaman dulu begitu,” ungkap Nasruddin.

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Karena panjangnya birokrasi yang musti melewati beberapa pintu, belum lagi jika ada keterlambatan di salah satu pintu tersebut, kata dia, dapat dibayangkan bisa jadi sebulan kemudian pihaknya baru mempunyai kaldik.

“Padahal Juli sudah mulai kegiatan. Itu cuman sekedar salah satunya. Belum lagi informasi yang lain, misalnya tentang peraturan. Kan perlu kami ketahui juga agar selalu up to date,” ujarnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Karena merasa informasi di tempatnya mengajar sering terlambat, maka Nasruddin mencoba mencari alternatif informasi lain. Yakni menggunakan media online. Kurang lebih dua tahun ia berlangganan informasi melalui e-mail dari salah satu blog yang senantiasa memberikan informasi tentang pendidikan. Blog tersebut dikelola oleh seorang Guru Sekolah Dasar.

“Dari blog tersebut saya senantiasa mendapatkan informasi tentang pendidikan yang banyak saya butuhkan. Meski demikian, saya masih merasa kurang karena blog tersebut yang mengelola adalah seorang guru SD. Jadi, informasi-informasi yang diberikan proporsinya lebih banyak informasi yang dibutuhkan para guru SD. Padahal saya guru MI,” ujarnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebagai guru MI, Nasruddin tidak hanya membutuhkan informasi terkait pendidikan yang bersifat umum melainkan juga yang khusus berhubungan dengan madrasah. “Kalau ada pendataan yang online kadang-kadang saya kerjakan di rumah. Karena di sekolah kan nggak mungkin. Sebab sinyal internet susah sekali di sini,” kata Nasruddin.

Dari kondisi yang ia alami, ia kemudian berfikir, bisa jadi ada sebagian atau bahkan banyak juga rekan guru madrasah yang bernasib seperti dirinya yang butuh informasi up to date tentang pendidikan. Dalam rangka menunjang tugas-tugas sebagai guru madrasah, info terkini pendidikan menjadi hal penting. Nasruddin lalu membuat akun Facebook. Harapannya dapat berbagi informasi lewat update status di media sosial karya Mark Zukernberg ini.

“Saya bahkan sampai membuat sebuah laman Fanspage Facebook yang saya beri nama Mutiara Pendidikan hingga beberapa waktu. Melalui Fanspage Mutiara Pendidikan ini saya berbagi info dan terkadang berbagi tautan tentang pendidikan,” ungkap sarjana pendidikan Islam lulusan Universitas Wahid Hasyim Semarang ini.

Seiring berjalannya waktu, Nasruddin merasa berbagi informasi melalui Fandpage Facebook masih kurang efektif. Pasalnya, sulit mencari arsip-arsip informasi yang pernah di-update. Selain itu, ia juga berfikir mungkin akan lebih baik jika dia tidak hanya berbagi tautan web atau blog orang lain melainkan dapat berbagi tautan dari web/blog miliknya sendiri.

Mulailah ia belajar membuat blog secara otodidak dengan mengandalkan informasi dari hasil pencarian di google. Membuat blog ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Hanya dengan modal gmail dan petunjuk cara membuat blog dari hasil pencarian google, ia pun punya blog. Nasruddin makin keranjingan blogging sehingga dalam sepekan ia betah hingga dua jam di warnet sepulang mengajar. Ia lalu belajar mengganti template blog, posting artikel, memasang wedget, dan lain sebagainya.

“Sampai di sini saya masih belum berani untuk share. Karena ini baru blog percobaan. Setelah sekitar empat blog saya buat hanya sekedar latihan. Lalu, sekiranya kemampuan dasar blog sudah lumayan terkuasai, maka mulailah saya buat blog yang nantinya siap dipublikasikan,” ujar Nasruddin.

Menurut dia, menentukan nama blog ternyata lebih sulit ketimbang membuat blog itu sendiri. Awalnya karena ia sudah memiliki Fanspage Mutiara Pendidikan, ia pun ingin menggunakan nama yang sama. “Tetapi sebagai guru madrasah, saya ingin memperlihatkan kemadrasahan saya. Lalu, muncul ide nama blog Guru Madrasah. Ternyata sudah ada. Blog Guru Madrasah Ibtidaiyah juga sudah ada meski blog-blog tersebut jarang posting,” paparnya.

Di tengah kegalauan tersebut, terbersit dalam benak adanya kata “Abdi Negara”, dan “Abdi Masyarakat”. Akhirnya, ia memilih nama “Abdi Madrasah” yang disingkat “Abdima”. Hal yang lebih menguatkan Nasruddin memilih nama tersebut lantaran adanya kesadaran betapa pentingnya peran madrasah dalam kehidupan dirinya.

“Sebab, dari madrasah lah saya mulai dikenalkan dengan huruf dan angka. Dari madrasah lah saya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Yakni di MI kemudian melanjutkan ke MTs, terakhir di MA. Jadi, karena merasa dicetak oleh madrasah, maka sedikit banyak ingin bermanfaat bagi madrasah. Tentu, sebatas kapasitas dan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya merendah.

Tanpa menunggu lama, pada 19 Desember 2012 secara resmi Nasruddin memiliki blog bernama “Abdi Madrasah” yang beralamat di http://abdima.blogspot.com/. Setelah beberapa hari melengkapi blog dengan berbagai tulisan termasuk wedget dan lain sebagainya, terpublishlah posting perdana pada 31 Desember 2012.

Sejak ia mempunyai blog, baik Mutiara Pendidikan maupun Abdi Madrasah, ia mulai mem-posting tulisan pada 30 Desember 2012. “Otomatis fanspage saya di Facebook saya ubah menjadi Abdi Madrasah karena menyesuaikan blog tadi itu,” kata dia.

Ia berprinsip hanya ingin berbagi tanpa orang lain mengetahui jati dirinya. Ia berharap bisa berbagi tanpa diiringi rasa sombong. “Saya pernah dengar, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Yang penting tujuan saya main blog itu kan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya mantap.

Nasruddin menuturkan, dalam blognya tertulis ‘membagi informasi kepada para sahabat agar hidup ini lebih bermanfaat.’ Makanya, dalam admin itu ia tidak menuliskan database-nya. “Saya hanya menulis sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah yang mulai mengenal huruf dan angka dari madrasah. Oleh karena itu, harus berbuat yang terbaik untuk madrasah,” tegasnya.

Sebagai guru saya ia butuh informasi terbaru, jadi sederhananya Butuh Cari Dapat Bagi (BCDB). Jika ia butuh info, maka ia pun segera mencarinya. Setelah mendapatkannya, lalu ia membagikannya kepada siapa saja. Pada saat Facebook-an, Nasruddin mengaku seringkali melihat sebagian temannya membagikan berita tentang madrasah.

“Saya pun ikut nge-share. Tapi sebelumnya saya buat postingannya. Yang penting di google itu kan nggak boleh copas. Kalau sekedar mengulas kan boleh. Meski ada juga yang copas, tapi saya cantumkan sumber dan link-nya. Misal, dari website direktorat madrasah tentang prestasi atau program apa gitu,” akunya.

Menurut Nasruddin, website Abdima banyak dikunjungi orang lantaran mereka mendapatkan berbagai informasi mengenai madrasah. (Ali Musthofa Asrori)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nasional, Ahlussunnah, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 13 November 2017

PMII Nganjuk Pertegas Identitas Gerakan

Nganjuk, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ratusan orang berkumpul di aula Pondok Pesantren Al Musthofa, Tegalarum, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, Ahad (30/4). Mereka adalah alumni pengurus cabang, dan pengurus komisariat PMII se-Kab Nganjuk yang mengikuti tasyakuran harlah PMII Nganjuk ke-17 dan harlah PMII ke-57.?

PMII Nganjuk Pertegas Identitas Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Nganjuk Pertegas Identitas Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Nganjuk Pertegas Identitas Gerakan

Orasi ilmiah oleh Ketua Umum IKA-PMII Nganjuk Agus Rahman Hakim menjadi sajian inti dalam kegiatan tersebut. Agus menyampaikan kondisi kekinian internasional, salah satunya adanya pertarungan pangan dunia.?

Ia menyebut negara-negara yang berada di jalur ekuator seperti Indonesia menjadi ‘ruang’ menarik bagi negara-negara di dunia.?

Agus berharap para alumni PMII semakin mempertegas identitas gerak dan meningkatkan kesadaran kolektif dalam bergerak, mengambil peran dalam penguatan ajaran aswaja An Nadhliyah.

“Baik di struktur maupun kultur, NU memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan NKRI,” kata Agus.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketua Forum Komunikasi Alumni PMII (FOKSIKA) Nganjuk periode pertama Muslih Al Faruq (Gus Muslih) dan Ketua PC PMII Nganjuk pertama Sholicul Hadimantan banyak bercerita tentang gerakan PMII Nganjuk di awal perintisan. Keduanya berharap kader PMII Nganjuk senantiasa menjaga ghirah perjuangan.

“Mendasari perjuangan dengan keihklasan serta value system yang ada di PMII, sehingga PMII kokoh menjadi organisasi yang mampu mencetak kader-kader ulilalbab serta supleyer kader masa depan guna berkontribusi untuk agama, bangsa, dan Negara,” ungkap Gus Muslih.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Musthofa KH Hambali sangat mengapresiasi apa yang menjadi pembahasan di forum harlah. Ia berharap ghirah perjuangan ini akan terjaga dan mengalir dari generasi ke generasi. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Makam Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 12 November 2017

Sastra Berkualitas Tak Harus Sesuai Selera Pasar

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Karya sastra yang berkualitas tidak harus sesuai dengan selera pasar. Karya yang sesuai dengan kaidah kesusastraeraan, katakanlah yang memperkaya peradaban belum tentu diminati oleh pihak penerbit profoesional karena tidak banyak menarik keuntungan.

”Kalau dihitung dari sisi jumlah karya-karya besar Pak Pram (Pramodya Ananta Toer: Red) tidak seberapa dibanding dengan karya-karya populer yang diminati oleh pasar dan digandrungi para pembaca,” kata Sastrawan Ahmad Tohari di sela sela acara Malam Anugerah Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006 di Taman Islail Marzuki (TIM) Jakarta, Jum’at (9/3) malam.

Ahmad Tohari bertindak sebagai dewan juri Sayembara Novel DKJ 2006. Dua dewan juri lainnya adalah Apsanti Jokosujatno, dosen sastra Perancis di Universitas Indonesia, dan Bambang Sugiharto, dosen Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung.

Sastra Berkualitas Tak Harus Sesuai Selera Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastra Berkualitas Tak Harus Sesuai Selera Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastra Berkualitas Tak Harus Sesuai Selera Pasar

Sayembara Novel DKJ 2006 yang diikuti oleh 249 peserta kali ini dimenangkan oleh Mashuri (31) dengan karya berjudul ”Hubbu” yang berkisah seputar”generasi ketiga” dalam tradisi pesantren. Mashuri adalah jebolan dua Pondok Pesantren yakni Pesantren Salafiyah Wanar dan Pesantren Ta’sisur Taqwa, keduanya berada si Lamongan, Jawa Timur. Kini Mashuri sedang aktif mengisi rubrik Ngaji Sastra di harian Duta Masyarakat.

”Dewan juri memutuskan karena Hubbu itu sangat utuh dan padu ceritannya. Sebenarnya yang saya unggulkan bukan itu tapi Buku tanpa Kisah yang berkisah seputar pesantren juga, tentang pendobrakan dinding pesantren,” kata Ahmat Tohari sembari tersenyum.

”Sebenarnya hampir semua pantas terbit, pantas disuguhkan ke masyarakat. Maka saya sarankan para peserta yang tidak menang untuk tetap mengajukan karyanya ke penerbit. Anggap saja penilaian kali ini hanyalah dari satu sudut pandang mata saja, sudut mata yang lain semisal sudut mata Gramedia dan lain-lain masih ada. Mereka inilah yang lebih tahu selera pasar,” tambah Tohari. (nam)

Rohis Tegal - Rohani Islam



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Pertandingan Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock