Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-Habsyi

Dua minggu pasca-Lebaran tahun 2006, umat muslim di Soloraya tersentak mendengar kabar duka. Seorang tokoh ulama panutan yang juga keturunan dari Rasulullah saw, Habib Anis Al-Habsyi dikabarkan telah menghadap ke rahmatullah. Menurut keterangan dari dokter, Habib Anis yang kala itu berusia 78 tahun, wafat karena penyakit jantung yang dideritanya.

Sontak, kabar tersebut membuat para murid dan pecinta beliau yang tersebar di penjuru dunia, bergegas untuk ikut memberikan penghormatan terakhir kepada sang guru. Kota Solo di hari wafat Habib Anis diserbu puluhan ribu pentakziah. Dengan diiringi tangisan dan air mata, mereka melepas kepergian cucu Muallif Simtuddurar tersebut.

Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-Habsyi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-Habsyi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-Habsyi

Ya, kepergian Habib Anis memang patut menjadi duka bagi semua, khususnya kaum Aswaja di wilayah Soloraya. Hal ini sama dengan yang diungkapkan Habib Abdullah Al-Haddad ketika menyaksikan kepergian gurunya itu:

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kami kehilangan kebaikan para guru kami ketika mereka meninggal dunia. Segala kegembiraan kami telah lenyap, tempat yang biasa mereka duduki telah kosong. Aku akan tetap menangisi mereka selama aku hidup dan aku rindu kepada mereka. Aku akan selalu kasmaran untuk menatap wajah mereka. Aku akan megupayakan hidupku semampukun untuk selalu mengikuti jalan hidup para guruku, menempuh jalan leluhurku.”

‘Anak Muda Berpakaian Tua’

Rohis Tegal - Rohani Islam

Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat pada tanggal 5 Mei 1928. Ayahnya, Habib Alwi, merupakan putera dari Habib Ali Al-Habsyi (Muallif Simtuddurar) yang hijrah dari Hadramaut Yaman ke Indonesia untuk berdakwah. Sedangkan ibunya bernama Khadijah. Ketika beliau berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo, sampai akhirnya menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.

Sejak kecil, Habib Anis dididik oleh ayah sendiri, juga bersekolah di madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahannya. Habib Anis tumbuh menjadi seorang pemuda nan alim dan berakhlak luhur. Habib Ali Al-Habsyi, adik beliau menyebut kakaknya seperti “anak muda yang berpakaian tua”.

Tentang maqam ilmu dan akhlak yang dimiliki Habib Anis, salah satu cucunya yang bernama Muhammad bin Husain mengungkapkan sosok Habib Anis sebagai orang yang sangat mencintai ilmu.

“Ketika usia muda, beliau gemar sekali membaca buku. Tiap malam ketika istrinya tidur, beliau membaca kalam Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (kakek Habib Anis) sampai beliau terkadang menangis ketika membaca untaian nasehat kakeknya. Ketika istrinya terbangun beliau langsung mengusap airmatanya supaya tidak terlihat oleh istrinya,” ujarnya.

Bahkan ketika usia sudah mulai tua, Habib Anis masih haus kepada ilmu. “Beliau pernah berencana untuk membeli laptop dan belajar mengetik untuk bisa mencatat ilmu yang didapatnya. Beliau juga berencana untuk datang pameran kitab di Mesir supaya bisa membeli kitab-kitab langka yang dijual disana,” imbuh Habib Muhammad.

Ditambahkan oleh Habib Muhammad, meskipun Habib Anis termasuk ahli ilmu, akan tetapi dia lebih dikenal dengan kemuliaan akhlaqnya. “Karena beliau selalu menampilkan akhlaq yang mulia, padahal keluasan ilmunya tidak diragukan lagi,” terangnya.

Akhlak Habib Anis, diantaranya tercermin dari sikap sumeh (murah senyum) dan dermawan yang dimilikinya. Ibu Nur Aini penjual warung angkringan depan Masjid Ar-Riyadh menuturkan, “Habib Anis itu bagi saya, orangnya sangat sabar, santun, ucapannya halus dan tidak pernah menyakiti hati orang lain, apalagi membuatnya marah,”

Seringkali menjelang Idul Fitri, Habib Anis memberikan sarung secara cuma-cuma kepada para tetangga, muslim maupun non muslim. “Beri mereka sarung meskipun saat ini mereka belum masuk islam. Insya Allah suatu saat nanti dia akan teringat dan masuk islam.” kata Habib Anis yang ditirukan Habib Hasan, salah seorang puteranya.

Guru Para Syuriyah

Menurut Habib Muhammad bin Husein, semasa hidupnya, Habib Anis mengabdikan untuk berdakwah dan bergelut dalam majelis ilmu. “Beliau punya pengajian setiap harinya saat bada dzuhur, kecuali Jumat dan Ahad, di kediaman beliau. Pernah, ketika istri beliau meninggal masyarakat datang untuk bertaziyah. Namun begitu tiba waktunya pengajian, langsung beliau membuka kitabnya dan mulai membaca serta mengajar. Didalam rumah jenazah istrinya sedang dimandikan tapi beliau tetap istiqomah mengajar dan membimbing ummat,” terangnya.

Habib Anis juga dikenal sebagai pribadi yang istiqomah dalam segala hal, tentang keistiqomahan ini juga diakui oleh salah satu muridnya yang kini mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo, KH Ahmad Baidlowi.

“Dalam banyak hal, Habib Anis selalu tertata rapi, meskipun di banyak aktivitasnya sebagai imam sholat, pengajian, menerima tamu, membuka toko dan sebagainya,”

Dalam dakwahnya, Kiai Baidlowi menuturkan Habib Anis memiliki beberapa konsep, yang kesemuanya dapat dilihat langsung di Masjid Riyadh sampai sekarang. “Yakni, masjid sebagai tempat ibadah. Zawiyah, sebagai pusat ilmu dan toko sebagai media penggerak ekonomi,” ujarnya.

Terkait hal ini, Habib Anis sendiri pernah menyampaikan bahwa ada empat hal yang penting: “Pertama, kalau engkau ingin mengetahui diriku, lihatlah rumahku dan masjidku. Masjid ini tempat aku beribadah mengabdi kepada Allah. Kedua, zawiyah, di situlah aku menggembleng akhlak jama’ah sesuai akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketiga, kusediakan buku-buku lengkap di perpustakaan, tempat untuk menuntut ilmu. Dan keempat, aku bangun bangunan megah. Di situ ada pertokoan, karena setiap muslim hendaknya bekerja. Hendaklah ia berusaha untuk mengembangkan dakwah Nabi Muhammad saw.

Ulama asal Pasuruan itu menambahkan, meskipun tidak pernah masuk dalam struktur NU di Solo, namun peranan Habib Anis atas kemajuan NU di wilayah Soloraya sangatlah besar. Beberapa muridnya bahkan kini menjadi Rais Syuriyah, diantaranya KH A. Baidlowi dan KH Abdul Aziz (Wonogiri).

Sebagai penerus kekhalifahan (imam) di Masjid Riyadh, Habib Anis meneruskan beerbagai kegiatan yang telah dirintis oleh para pendahulunya. Kegiatan seperti Haul Habib Ali Al-Habsyi, Khatmul Bukhari, dan Maulid yang terselenggara setiap malam Jumat selalu dihadiri oleh ratusan bahkan puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah. Para ulama terkemuka, seperti TG Zaini Abdul Ghani, Abuya Dimyati, Kiai Siraj dan lainnya, bahkan pernah hadir di Masjid Riyadh untuk mengikuti majelis ilmu yang dipimpin Habib Anis.

Sebagai seorang ulama, Habib Anis juga pernah berkeinginan untuk menulis kitab. Namun, hingga akhir hayat beliau belum berkesempatan untuk merealisasikannya. “Belum sempat menulis kitab, hanya berencana. tapi kedahuluan dijemput oleh Allah,” tutur Habib Muhammad.

Pada hari Senin, tanggal 6 November 2006 atau 14 Syawal 1427 H pukul 12.55 WIB, Habib Anis wafat di RS. Dr. Oen dalam usia 78 tahun. Beliau dimakamkan di sebelah makam ayahnya, yang terletak di sisi selatan Masjid Riyadh. Kini, meski telah wafat, hampir setiap hari makamnya dikunjungi para peziarah dan namanya juga senantiasa disebut setiap ada pembacaan kitab maulid Simtuddurar. (Ajie Najmuddin)

Sumber:

Majalah Hidayah edisi 115, Maret 2011 hal.64-68

Wawancara Habib Muhammad bin Husein bin Anis, 28 Februari 2014.

Wawancara KH Ahmad Baidlowi di Masjid Riyadh Solo, 19 Februari 2014

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Budaya Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 01 Februari 2018

Persinggahan KH Wahid Hasyim di Turipinggir

Meski telah 62 tahun berlalu, peristiwa itu masih terkenang dan tertanam  di hati sanubari masyarakat Turipinggir dan diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ya, suatu peristiwa, di saat masyarakat desa Turipinggir mendapatkan penghormatan disinggahi dan ditempati seorang tokoh besar bangsa, putra pendiri NU, Pahlawan Nasional, yaitu KH. A. Wahid Hasyim.

Beliau tinggal di desa Turipinggir semasa Perang Kemerdekaan RI (Revolusi Fisik) antara tahun 1945-1950. Zaman Perang Kemerdekaan, disebut sebagai  saat-saat yang sangat sulit, penuh perjuangan dan penderitaan di waktu  usia Republik  Indonesia yang masih sangat muda. Ibukota RI (Yokyakarta) pada 19 Desember 1948 telah  dikuasai Belanda, para pemimpin nasional RI ditangkapi, diantaranya  Presiden dan Wakil Presiden RI yang dibuang ke Pulau Bangka. Tokoh-tokoh nasional yang lain bersembunyi atau mengungsi ke desa dan membaur bersama rakyat biasa. 

Persinggahan KH Wahid Hasyim di Turipinggir (Sumber Gambar : Nu Online)
Persinggahan KH Wahid Hasyim di Turipinggir (Sumber Gambar : Nu Online)

Persinggahan KH Wahid Hasyim di Turipinggir

Beliau, KH. A. Wahid Hasyim, seorang  tokoh muda NU, pernah menjabat sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), adalah tokoh nasional yang mempunyai jasa besar dalam pendirian Republik ini. Beliau juga menjabat sebagai Menteri Negara dalam  Kabinet Presidentil I (1945), dan  Kabinet Syahrir (1946-1947).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Tidak diketahui dengan pasti kenapa beliau memilih pindah   di desa Turipinggir. Mungkin karena lokasi desa tersebut yang berada di ujung barat Kabupaten Jombang,  dan tidak tarlalu jauh dari Tebuireng. Atau juga karena adanya persahabatan yang sudah lama dengan Bapak Munandar (1913 – 1990) dan Bpk. KH. Salamun (1917-2005) yang beliau berdua sering bersilaturrahmi ke rumah para kyai di daerah Jombang. Keduanya juga penganut dan pengamal Tarekat Qodiriyyah wa al-Naqsybandiyyah.

KH. Salamun  adalah santri yang lama mondok  di Ponpes Mambaul Maarif Denanyar, santri generasi kedua KH. Bisri Syansuri, dan menurut penuturannya beliau menyaksikan sendiri peristiwa perkawinan KH. Wahid Hasyim dengan Ibu Solichah Bisri Syansuri. Mungkin sebelumnya, sudah ada perkenalan dengan KH.A. Wahid Hasyim. Dengan demikian, dengan rentang  usian yang hanya tiga tahun lebih muda dari KH A. Wahid Hasyim,  tentu KH Salamun memberikan rasa  hormat dan ta’dhim kepada menantu gurunya, KH Bisri Syansuri . 

Tidak bisa dipastikan, berapa lama KH. A. Wahid Hasyim berdiam di Desa Turipinggir. Menurut beberapa penuturan, cukup lama, apalagi dalam situasi yang masih bergejolak dan keadaan fisik beliau yang kurang sehat (kaki beliau sakit). Ada yang bercerita, sekitar 4-6 bulan tepatnya  masa di antara Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948 sampai waktu penyerahan Kedaulatan RI oleh Pemerintah Belanda yang dilakukan oleh Ratu Yuliana di Belanda, tanggal 27 Desember 1949). 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Beliau tinggal di  rumah Bpk. Munandar dan Bpk. KH. Salamun. Masjid Baitussalam (yang berada tepat di depan rumah Bpk. Munandar) adalah tempat beliau bersembahyang,  berdzikir dan berdoa. Beliau bermunajat di masjid ini, memohon perkenan doa  Allah SWT akan keselamatan dan kelangsungan bangsa dan  negara di Republik yang masih baru  diproklamirkan. 

Menurut penuturan Bapak Madaim (Ahmad Daim), 79 tahun, saksi peristiwa yang masih hidup hingga sekarang, KH Wahid Hasyim selalu beri’tikaf dan bertafakkur di masjid Turipinggir.  Beliau menderita luka yang cukup lama di jempol kaki kirinya. Sering sekali Belanda mengadakan patroli sampai ke Desa Turipinggir. Bila pasukan patroli Belanda datang, warga desa berhamburan lari menyelamatkan diri. Kebanyakan ke pinggir kali Brantas, atau menyeberang ke wilayah perbatasan di Kabupaten Nganjuk. KH. Wahid Hasyim sering digendong untuk menyelamatkan diri dari kejaran patroli Belanda. Menurut Bpk. KH. Salamun, bila Belanda datang ke Desa Turipinggir dan tidak mendapati warga, Belanda marah-marah sambil merobohkan lemari buku dan membanting buku-buku agama di rumah Bpk. KH. Salamun. 

Akan hal luka di kaki KH A. Wahid Hasyim, menurut penuturan Bpk. Madaim, sembuhnya lama sekali, sampai infeksi (maaf, mborok). Tak pasti apa sebabnya. Ada yang mengatakan karena tersandung benda keras sewaktu lari. Kalau di zaman sekarang,  mungkin beliau ada gejala diabetes. Apabila masuk waktu shalat, KH. A. Wahid Hasyim, menyuruh seorang atau beberapa orang mencarikan debu untuk bertayammum. Nanti beliau pilih debu yang terbaik. Kadang kalau tidak cocok, beliau menyuruh dicarikan lagi debu yang lebih baik. Sering kali, beliau merasa cocok dengan debu yang dicarikan Bapak Madaim. Debu yang terbaik adalah debu dari lumpur kali dari dusun Pulo di tepian Kali Brantas yang sudah mengering.

Dalam sebuah wawancara antara KH. Abdurrahman Wahid (mantan Presiden RI) dengan KH Salamun pada sekitar pertengahan tahun 2002 di  Jl. Wilis, Jombang, di rumah KH. Hasyim Karim dengan didampingi oleh Dr. Drs. Ali  Sukamtono, Msi, (Ketua MWC NU Kec. Megaluh 1991-2002), Bpk. Chudlori Masrur dan KH. Anas Salamun   terjadilah dialog sebagai berikut : 

Gus Dur: Kiai, Bapak saya (KH.A. Wachid Hasyim) kalau ke Turipinggir naik apa?

KH. Salamun : Kadang naik andong (dokar), sambil membawa mesin ketik, tak jarang sewaktu naik andong, beliau menyempatkan diri menulis dengan menggunakan mesin ketik. Kadang juga beliau dibonceng naik sepeda onthel.

Gus Dur : Kiai, Bapak saya kalau ke Turipinggir pakai sandal apa pakai sepatu?

KH. Salamun : Pakai sepatu, ya pakai jas juga.

Gus Dur : Kiai, yang paling digemari Bapak saya kalau makan sukanya pakai lauk apa?

KH. Salamun : Ini Gus, sukanya kalau makan pakai lauk kepala kambing. 

Gus Dur : Siapa yang menemani Bapak saya waktu di Turipinggir?

KH. Salamun : Yang menemani kalau pas Belanda lagi berpatroli  adalah Bpk.  Munandar. Beliau yang menemani KH. A; Wahid Hasyim dengan dibantu beberapa warga, bersembunyi  ke pinggir Kali Brantas, sampai ke Buntu dan Proko (desa tetangga). Sementara kalau keadaan sudah aman, maka yang menemani adalah KH. Salamun. 

Gus Dur :   Kiai, apakah Bapak saya ’wayuh” lagi di Desa Turipinggir? 

KH. Salamun : Mboten pernah Gus.

Gus Dur : Kiai, apa janji KH. A. Wahid Hasyim kepada Kiai?

KH. Salamun :   Beliau berjanji bahwa akan datang kembali ke  ke Desa Turipinggir dengan menaiki kapal muluk (mungkin yang dimaksud helikopter) bila Indonesia sudah merdeka penuh (sayang niatan dan janji  itu tidak pernah kesampaian karena Beliau lebih dulu dipanggil Sang Kekasih dalam sebuah kecelakaan mobil di Kota Cimahi, Bandung pada tanggal 19 April 1953 dalam usia 38 tahun).

Kelak setelah RI mendapatkan kedaulatan penuh dari pemerintah Belanda, beliau menjabat lagi sebagai Menteri Agama pada Kabinet RIS (1949- 1950), Menteri Agama pada Kabinet Natsir (1950- 1951), dan Menteri Agama pada Kabinet Sukiman (1951-1952).    Pada tanggal  24 Agustus 1964, Presiden Sukarno menganugerahkan beliau sebagai  Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Sebuah dipan sebagai tempat tidur dan beristirahat   KH A. Wahid Hasyim di  desa  Turipinggir masih terawat baik hingga  sekarang. Hubungan kekeluargaan antara  Keluarga KH A. Wahid Hasyim dengan keluarga Bpk. Munandar dan masyarakat Turipinggir terpelihara  dengan baik, yaitu dengan hadirnya  Nyai Solichah binti KH. Bisri Syansuri dan puteranya KH Abdurrahman Wahid  pada tahun 1974 sewaktu diundang oleh Bpk. Munandar yang mengadakan hajatan sunatan cucunya   Saifuddin Zuhri. Foto-foto kedatangan beliau berdua terlampir. Bahkan Gus Dur dan Ibunya Nyai Solichah telah dua kali datang ke Desa Turipinggir.

Mishbahus Shudur

Ketua Ta’mir Masjid Baitussalam Turipinggir Periode 2011-2015, dan Dosen Bahasa Arab Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) IKAHA Tebuireng

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Sunnah, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 31 Januari 2018

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan

Sejak didirikan tahun 1926, Nahdlatul Ulama langsung menyebar ke banyak wilayah di Nusantara. Para ulama tidak mengalami kesulitan berarti mengajak orang-orang untuk menjunjung tinggi Islam dan berjuang di Nusantara melalui NU. Sebab, para ulama sudah menjalin hubungan melalui para guru atau pesantren.  

Setelah tujuh tahun berdiri, pada tahun 1933 NU sudah berkembang di Kalimantan Timur. Setidaknya bisa dilacak di Kabupaten Brau, 12 jam perjalanan darat ke sebelah utara dari Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur.

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan

Menurut Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, faktor utama penerimaan Nusantara terhadap NU adalah karena jauh sebelum NU lahir dalam bentuk jam’iyyah, ia terlebih dahulu ada dan berwujud jama’ah yang terikat kuat oleh aktivitas sosial keagamaan yang mempunyai karakter sama.   

Untuk mengetahui perkembangan NU Kaltim terkini, Abdullah Alawi dari Rohis Tegal - Rohani Islam berhasil mewawancari Ketua PWNU Kalimantan Timur KH Muhammad Rasyid (53 tahun) di sela-sela Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2012 di pesantren Kempek Cirebon paruh September lalu.  

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bapak bisa cerita sejarah NU di Kaltim?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kita, generasi belakangan tidak terwarisi satu dokumen yang pasti, kapan NU, secara organisasi, berdiri di Kalimantan Timur. Cuma ada data yang saya temukan di Brau itu, salah satu kabupaten, NU sudah ada sejak tahun 1933. Apakah Brau itu lebih duluan dari Samarinda, wallahu ‘alam. Yang di Brau itu dibawa dari Banjarmasin oleh dzuriyah keempat Muhammad Arsyad Al-Banjari. Ia membawa NU ke Brau, kemudian menjadi mufti kerajaan Gunung Tabur di Brau. Itu di utara.

Berapa jauh dari Samarinda?

Perjalanan pesawat terbang satu jam. Kalau darat mungkin 12 jam. Di Samarinda, yang pertama kali secara resmi adalah KH Abdullah Marisi. Beliau Rais pertama wilayah Kalimantan Timur. Kalau ini ada dokumennya. Tapi saya lupa, nanti bisa kita akurkan.  Apakah bersamaan dengan Samarinda? Wallahu ‘alam. Tapi yang kita lihat KH Abdullah Marisi itu. Tetapi tidak berarti semua kabupaten dan kota bisa berdiri secara periodik, walaupun amaliyahnya iya, NU, Aswaja. 

Tapi struktur secara periodik, tidak berarti itu berjalan dengan baik. Keculi pada10 tahun terakhir atau 15 tahun terakhir, cabang-cabang sudah terbentuk semua secara periodik. Artinya, sudah sesuai dengan ketentuan. 15 tahun terakhir. Itu artinya setalah Reformasi.

Penyebabnya apa?

Karena kepengurusan sudah bisa dipilah antara kepengurusan NU dan kepengurusan partai. Dulu kan selalu sejalan antara kepengurusan NU dan partai politik. Maka praktis, 15 tahun yang lalu, struktur kita sudah terbenahi dengan bagus sampai pada tingkat cabang. Sampai pada tingkat kecamatan mungkin 10 tahun terakhir. Sekarang kita sudah masuk ke ranting-ranting. Oke, itu strukturnya.

Bagaimana dengan programnya?

Program NU Kalimantan Timur, tampaknya kita lebih banyak pada konsolidasi supaya terbentuk secara periodik, tidak berarti langsung mulus, karena kelemahan kita adalah pada tingkat SDM. Ada juga problem trauma politik. Selama Orde Baru kan tidak ada pegawai yang berani menamapakkan NU-nya, dan tidak ada pengusaha, aghniya, yang berani terang-terangan mengaku NU karena itu kan berarti mengalami satu kesulitan. 

Ini yang menjadi kendala kita dalam pembentukan kepengurusan NU. Orang yang status sosialnya tinggi akan merasa kesulitan kalau jadi pengurus NU. Ini baru bisa menjadi longgar setelah kembali ke khittah. Baru terasa bahwa sudah ada yang berani mengaku saya NU. Kalau sebelumnya, diam-diam.

Pengaruh Khittah NU?

Iya, pengaruhnya dari situ. Lima tahun setelah khittah, sudah berani pegawai mengatakan “saya NU”. Jadi, memang sangat kuat Pak Harto itu mengeliminir potensi NU. 

Program PWNU yang lain?

Pendidikan kita memang banyak berdiri, tapi tidak memakai nama NU. Saya kira sama dimana-mana, di sini berdiri pondok, di sana berdiri pondok. Itu tokoh-tokoh perorangan, rata-rata kiainya NU. Salah satu contoh misalnya, sekolah yang sangat bagus sekarang di Samarinda adalah Bunga Bangsa. Itu sudah go internasional. Ini miliknya mantan Ketua PWNU. Bukan punyanya NU. Nah, periode yang terakhir, 2008 sampai nanti berakhir tahun 2013 meminta semua cabang memfungsikan lembaga Ma’arif. 

Dan sekarang, dalam periode inilah baru berdiri lembaga-lembaga pendidikan Ma’arif di Kalimantan Timur, walaupun tidak semua kabupaten mampu. Tapi ada, misalnya di kabupaten Nunukan, di wilayah perbatasan sudah berdiri Aliyah. Sudah langsung Ma’arif NU. Di Brau itu ada 3 SMK Ma’arif NU. Dan masyarakat menyambut lulusannya karena dia pariwisata, pertanian. Begitu. 

Di Balikpapan juga sudah berdiri SMK Ma’arif NU. Cuma yang di Balikpapan ini masih numpang di pondoknya Rais Syuriyah. Di Kutai Timur sudah berdiri SMK Ma’arif. Jadi kita mengarahkan ke pendidikan-pendidikan SMK. Kenapa bukan Aliyah? Itu kurang pasarnya. Tapi kesulitannya SMK adalah SDM tenaga pendidik.

Di Samarinda justru mulai dari bawah. Mulai dari RA, TK-nya Muslimat, tapi namanya juga bukan Muslimat. Mereka memakai An-Nisa, itu banyak. Sama dengan di Brau. Itu ada 20 TK. Itu semua punya Muslimat. Kenapa tidak memakai nama Muslimat? Itu karena dari dulu didirikan seperti itu. Juga merupakan satu strategi supaya tidak terlalu kentara NU-nya.

Ya itu tadi karena kondisinya NU pada zaman Orde Baru. Jadi sebelum periode ini, (Reformasi), tidak ada yang memakai nama Ma’arif. Nah, sekarang, di Samarinda sudah ada 13 lembaga Ma’arif. Hanya baru sampai pada tingkat MTs. Dari TK, MI, MTs itu sudah berjumlah 13. Itu pendidikan.

Kemudian pada periode ini kita sudah mampu mendirikan fisiknya, operasional belum; adalah rumah sakit bersalin Muslimat. Belum diresmikan karena bangunannya dirancang tiga lantai, baru selesai dua lantai dan izinnya memang belum keluar. Itu di bidang kesehatan sudah ada itu, rumah sakit bersalin Muslimat NU di Samarinda.

Lalu kemampuan cabang-cabang dalam menampakkan eksistensinya ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan sekretariat yang cukup bagus. Dengan nilai bangunan yang cukup tinggi karena kita sudah bisa membuat akses NU kepada para kepala daerah. Di Kutai Kartanegara, kabupaten yang sangat kaya itu sudah berdiri gedung sekretariat berlantai 3 dan nilainya besar, sekitar 4 milyar. Dari bupati. Jadi kita sudah punya akses seperti itu. Di Bontang juga sudah berdiri yang bagus berlantai tiga. Kemudian Balikpapan sedang membangun, mungkin baru mencapai 80%.

Tapi kenapa lambat? 

Karena mereka membangun terlalu besar. Mereka membuat empat lantai. Di Pasir dua lantai. Di Samarinda akan dibangunkan oleh walikota dengan nilai yang besar dengan syarat menyediakan tanah. Kendalanya di Samarinda tanah. Kenapa? Bangunan-bangunan ini kan wakaf, Kutai itu wakaf, Pasir, wakaf, Balikpapan wakaf. Di Samarinda tidak ada wakaf karena harga mahal.

Nah, itu perkembangannya. Jadi, saya merasa, insya Allah lima tahun lagi, periode ke depan, akan makin banyak kelihatan semakin baik. Jadi, kalau sekarang membenahi struktur, membenahi sarana, kemudian pendidikan. Mungkin lima tahun ke depan sudah lebih mengarah kepada operasional. Maka akan lebih semarak kegiatannya. Januari nanti kita akan konferensi wilayah. Mudah-mudahan kepengurusan yang akan datang,lebih bagus dari yang sekarang. Itu yang kita harapkan.

Apa Kendala-kendala dalam melaksanakan program?

Ada kendala yang sangat dominan yang saya rasa sekarng ini adalah kita tidak lagi memiliki satu semangat yang tingkat ikhlasnya tinggi. Kita sudah terbawa arus "kota" termasuk di kalangan pengurus. Itu kendala yang sangat kita rasakan karena tarik-menarik kepentingan dengan para politisi. Dan semua mengaku NU. Dan kita terbiasa kalau ada kegiatan. Itu yang menjadi masalah.

Upaya untuk menanggulangi itu apa?

Saya kira melalui kaderisasi, pendidikan-pendidikan. Itu yang mungkin harus dilaksanakan periode yang akan datang. Kaderisasi untuk memahamkan bahwa berjuang di NU itu harus lebih ikhlas. Saya sangat merasakan itu. Sulit. Kita dulu biasa bekerja, bergerak, tetap dengan ikhlas. Sekarang kita bekerja dengan memikirkan biayanya mana? Uang jalannya mana? Itu kendala yang paling berat.

Yang kedua, perjuangan kita menjaga netralitas dari berbagai kepentingan ingin menarik NU ke dalam politik. Semua ingin mengatakan NU. Sekarang netralitas itu harus kita jaga. Jangan sampai kepengurusan nanti terpecah karena misalnya ada dua kubu dalam tubuh organisasi yang mendukung dua calon. Ini harus kita jaga betul dengan satu konsekuensi. Konsekuensinya adalah, karena semua orang yang ingin mendekati kita itu adalah ingin memanfaatkan kita. Dan kalau dia berhasil, kita diperhatikan. Kalau dia tidak berhasil, kita tidak diperhatikan. Nah, sekarang kalau kita netral, tidak ada yang menyambut seperti itu. Maka harus ada kemandirian, termasuk dalam pembiayaan.

Ada upaya ke arah itu?

Ada. Seperti yang kami lakukan adalah membentuk badan wakaf uang Nahdlatul Ulama. Sudah berjalan baru setahun lebih.

Bagaimana konsepnya?

Kita minta sumbangan, masuk kepada wakaf dan nanti akan diusahakan. Sekarang nilai wakaf itu sudah ada seratus juta. Baru satu tahun. Nanti hasilnya yang boleh dipakai karena wakaf. Sekarang 50 juta sedang proses membeli tanah untuk plasma kelapa sawit. Tapi baru proses. Sertifikat tanahnya pun belum keluar. Itu sedang kita proses. Nanti kalau dapat, akan ada 10 hektare. Baru tanahnya.

Itu satu. Yang kedua, untuk membiayai lembaga-lembaga pendidikan kita juga setiap tahun mengefektifkan Lazisnu. Itu sebenarnya potensi yang sangat besar. Tapi kita terlambat untuk memulainya. Dan setiap bulan itu sudah masuk, walaupun masih kecil. Tapi yang kita perlukan itu bukan besarnya, tapi rutinitasnya. Laporan terakhir, sampai tiga jutaan per bulan. Per bulan tiga juta itu kecil, tapi ini kan baru memulai. Saya ingin membangun Lazisnu Kalimanatan Timur.

Di Kalimantan Timur, BMH itu punyanya Hidayatullah, itu kan nasional, itu yang terkuat. Mereka sudah membangun sebelas tahun yang lalu. Tidak langsung kuat seperti sekarang. Mungkin baru tahun kelima, keenam, baru kelihatan. Nah, NU baru memulai satu tahun. Saya bilang sama teman-teman. Tiga juta satu bulan, itu awal yang bagus asal nanti bisa naik bisa menjadi empat juta satu bulan, lima juta sebulan. Mungkin pada tahun ketiga akan kelihatan.

Pandangan komunitas-komuntas lain terhadap NU di Kaltim?

Begini, saya pernah didatangi ketua PGI. Dia bilang, “Pak Rasyid, kami dapat pesan dari pusat kami supaya bisa menjalin kerjasama dengan Nahdlatul Ulama”. Itu PGI, Persatuan Gereja-Gereja Indonesia. Saya tanya, “Kenapa ada pesan yang seperti itu?”

Dia menjawab, “Karena pandangan pimpinan kami di Jakarta, yang memiliki wawasan yang memungkinkan bekerjasama hanya NU, yang lain masih sulit kita nilai.”Itu pandangan mereka terhadap NU.

Selama ini, bagaimana kerjasama NU dengan kalangan itu? 

Kerjasamanya sering mengadakan rapat bersama untuk saling menjaga kerukunan bersama. Atau misalnya dalam pendirian rumah ibadah, kami umat Islam dan umat Kristen sepakat sama-sama tunduk dengan keputusan bersama pemerintah dalam pendirian rumah ibadah. 

Kalau sesama ormas Islam, misalnya dengan Muhamadiyah?

Dalam peringatan Hari Besar Islam kita selalu bekerjasama. Yang terlibat misalnya Aisyiyah dan Fatayat atau Muslimat bersama Imam masjid. [] 

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Meme Islam, News, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 15 Januari 2018

PBNU Minta BPJS Tanggung Semua Jenis Penyakit, Termasuk Akibat Rokok

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Bendahara PBNU H Bina Suhendra meminta agar pemerintah menanggung semua jenis penyakit yang diderita oleh masyarakat yang ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), termasuk yang diindikasi akibat merokok.

PBNU Minta BPJS Tanggung Semua Jenis Penyakit, Termasuk Akibat Rokok (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta BPJS Tanggung Semua Jenis Penyakit, Termasuk Akibat Rokok (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta BPJS Tanggung Semua Jenis Penyakit, Termasuk Akibat Rokok

“Penyakit itu tidak ada yang tunggal penyebabnya, sangat kompleks sehingga tidak adil jika masyarakat yang sudah membayar asuransi ini tidak mendapat jaminan,” kata Bina dalam diskusi Kampenye Kondom dan Anti Rokok, Indah tapi Manipulatif? yang diselenggarakan di gedung PBNU, Senin, (16/12).

Sebelumnya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) akan bangkrut bila harus menanggung biaya kesehatan perokok. Perokok dinilai tahu bakal sakit karena kebiasaan yang dilakukannya sendiri secara sadar.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bina, yang merupakan mantan direktur utama perusahaan obat Phapros ini menambahkan, banyak sekali zat yang lebih berbahaya yang dihirup oleh manusia, seperti asap kendaraan, makanan junk food, MSG dan lainnya. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kalau mau dibatasi, ya banyak sekali. Bagaimana dengan orang yang obesitas yang lebih rentan terkena penyakit, bagaimana yang sudah memiliki diabetes,” tanyanya.

KH Arwani Faishal dari Lembaga Bahtsul Masail NU juga menegaskan, prinsip keadilan harus menjadi pegangan pemerintah dalam kebijakan kepada masyarakat. Ia mengungkapkan adanya kaidah fikih Tasharruful imam ala -roiyyah manuthun bil mashlahah, yaitu kebijakan pemerintah harus didasarkan atas prinsip kemaslahatan umum.

“Penderita HIV/AIDS, pengguna Narkoba dan alkohol yang disengaja saja mendapat jaminan kesehatan, apalagi perokok,” tegasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Humor Islam Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 31 Desember 2017

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sebuah laporan terobosan meneliti pengalaman hampir 50 perempuan Inggris dengan melihat aspek umur, etnis, latar belakang dan keyakinan (termasuk penganut ateis) yang menjadi pemeluk Islam diluncurkan oleh Universitas Cambridge beberapa waktu lalu.

Laporan yang dihasilkan oleh Centre of Islamic Studies (CIS) Cambridge ini bekerjasama dengan New Muslims Project, Markfield, menghasilkan temuan menarik tentang pengalaman menjadi pemeluk Islam perempuan Inggris pada abad 21.

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah

Temuan tersebut memberikan sejumlah rekomendasi bagi muallaf sendiri, umat Islam, dan komunitas Inggris secara umum. Laporan setebal 129 halaman ini juga menggarisbawahi adanya masalah sosial, emosional dan kadangkala masalah ekonomi. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pemimpin proyek dan direktur CIS Yasir Suleiman mengatakan “Tema yang selalu muncul dalam laporan adalah kebutuhan untuk peningkatan dukungan bagi para muallaf dan potensi yang mereka miliki agar menjadi kuat dan memiliki pengaruh transformatif pada komunitas Muslim dan masyarakat Inggris secara luas.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Tema yang selalu berulang adalah penolakan secara negatif pada Muslim dan Islam di media Inggris dan apa peran dari komunitas muallaf yang bisa dilakukan dalam membantu memberi keseimbangan.”

Laporan itu berusaha menghilangkan kesalahpahaman dan kekeliruan muallaf perempuan.

Kunci dari penelitian ini adalah perhatian yang tidak proporsional terhadap sejumlah kasus, khususnya perempuan kulit putih yang berpindah menjadi Islam, baik oleh komunitas Muslim maupun non Muslim. 

Sementara itu, muallaf dari Afrika asal Karibia, meskipun merupakan kelompok etnis muallaf terbesar, seringkali diabaikan dan merasa diisolasi, baik oleh kelompok Muslim maupun non-Muslim. 

Suleiman mengatakan, “Muallaf kulit putih seringkali diperlakukan sebagai “piala” bagi Muslim dan sering dimunculkan dalam berbagai komunitas, termasuk di media. Kelompok asal Afrika-Karibia yang menjadi muallaf sebagian besar tak terlihat, tak ada selebrasi dan seringkali tidak diketahui. Mereka merasa seperti minoritas dalam minoritas dan ini harus diatasi. Saya menemukan, bagian ini yang paling sulit.”

Penelitian ini juga mengungkapkan adanya hubungan kompleks antara wanita yang berpindah agama menjadi Islam dan keluarga mereka, mulai dari pengasingan, ketidakpercayaan dan penolakan sampai dengan penerimaan penuh atas keyakinan mereka. Hal ini juga terkait dengan isu seksualitas dan gender, termasuk homoseksualitas, peran tradisional perempuan dan transjender.

Manajer proyek Shahla Suleiman mengatakan “Dengan mempertimbangkan munculnya stereotype dan besarnya gambaran negatif tentang Islam di media dan masyarakat secara umum, dan mempertimbangkan posisi wanita dalam Islam, kami ingin memahami isu paradoks bagaimana perempuan Barat dengan pendidikan tinggi dan sukses secara profesional menjadi Islam.” 

“Basis dari masuknya mereka dalam Islam adalah keyakinan dan spiritualitas –tetapi perpindahan ini juga fenomena sosial yang menjadi politis. Dalam hal ini, perpindahan agama menjadi perhatian siapa saja dalam komunitas.”

“Perdebatan ini baru dimulai dan kami menginginkan memiliki informasi hasil penelitian lebih banyak tentang perpindahan ke Islam yang secara langsung menarik perhatian publik. Perjuangan untuk masa depan yang lebih baik tergantung pada bagaimana mengatasi pengasingan dan perbedaan secara absolut yang didasarkan pada ketidaksukaan ideologis untuk multikulturalitas, bukan hanya multikulturalisme. Ketakutan pada imigran, Islam dan perpindahan agama mewakili prasangka, kekhawatiran, dan ketakutan ras.”

Perpindahan agama ini menimbulkan isu seperti hak-hak perempuan, etika berpakaian dengan isu penggunaan hijab yang didiskusikan dengan sengit. Pandangan umum diantara para muallaf adalah adaptasi bentuk pakaian Barat untuk mengakomodasi nilai-nilai kesopanan dan kesusilaan Islam.

Hak-hak perempuan juga menjadi isu politik dalam komunitas Muslim, sementara para peserta tidak dengan bulat mendukung konsep feminisme sebagaimana didefinisikan oleh Barat, kebutuhan untuk meningkatkan status wanita dalam komunitas Muslim sepenuhnya disadari. Upaya untuk merealisasikan hak-hak tersebut terbukti lebih sulit untuk dicapai. Para peserta sangat kritis terhadap konsep peradilan syariah yang beroperasi di Inggris, terkait adanya potensi yang merugikan hak perempuan. 

Laporan ini mengatakan, “Perpindahan agama ini menantang pandangan rasis yang digambarkan di media tentang Islam karena budaya dan warisan mereka secara intrinsik mencerminkan budaya Inggris.”

“Tetapi kami juga menemukan bahwa tidak seluruh muallaf diterima secara sosial sama di mata Muslim. Muallaf kulit putih diperlakukan lebih baik secara sosial daripada wanita asal Afrika. Juga terdapat persoalan hijab yang menjadi perhatian antara Muslim dan non-Muslim. Terdapat perbedaan antara memakai dengan sukarela dan diwajibkan memakainya, yang menempatkan muallaf dalam kontrol. Hijab merupakan sinyal kesopanan, tetapi tidak dimaksudkan untuk menyembunyikan kecantikan.” (phsy.org/mukafi niam)

Foto: phsy.org

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Anti Hoax, Kyai Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 05 Desember 2017

Sekretaris PD Muhammadiyah Way Kanan Banggakan Banom NU

Way Kanan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sekretaris Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Way Kanan M Thohir di Blambangan Umpu, Lampung, mengaku bangga dengan salah satu Badan Otonom Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor, yang mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Sekretaris PD Muhammadiyah Way Kanan Banggakan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekretaris PD Muhammadiyah Way Kanan Banggakan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekretaris PD Muhammadiyah Way Kanan Banggakan Banom NU

"Saya bangga dengan kalian Ansor dan juga Banser. Kalian benteng terakhir NKRI. Kami berterima kasih kalian hingga saat ini masih aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan," ujar M Thohir pada kegiatan "Riungan (kumpulan) Kebangsaan", Senin (27/7), bertema "Mensinergikan Keberagaman Menumbuhkan Kemanusiaan" di aula Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

Thohir mengapresiasi kegiatan berisi donor darah dan diskusi kebangsaan dengan topik "Masih Perlukah Indonesia Dengan Pancasila?" yang menghadirkan pembicara I Gede Klipz Darmaja dari Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Lampung, lalu Andreas Sugiman dari Pemuda Katolik Way Kanan, dan Ketua PC Lakpesdam Supri Iswan yang dimoderatori oleh Ponita Dewi, Duta Genre (Generasi Berencana) Indonesia 2013 yang juga presenter salah satu televisi di Lampung.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Ke depan kegiatan semacam ini harus ada lagi, kita buat lagi dan kita berdoa agar semakin baik. Tidak menjadi persoalan saya di matahari (Muhammadiyah) dan kalian di bintang (Nahdlatul Ulama). Kita bisa ha ha hi hi (bercengkerama-red) dan bergandengan tangan untuk bangsa," ujar dia lagi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Senada Thohir, Ketua Komisariat Pemuda Katolik Kabupaten Way Kanan Andreas Sugiman mengapresiasi kegiatan yang merupakan sinergi dan energi cinta untuk bangsa dari Gusdurian Lampung, Alumni BPUN Way Kanan 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Pemuda Katolik, Gerakan Pemuda Ansor, Peradah, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, Palang Merah Indonesia (PMI), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), TP PKK dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) tersebut.

"Ini acara positif. Ini kegiatan yang bermanfaat untuk kita semua. Kami warga gereja menolak kekerasan atas nama agama seperti terjadi beberapa pekan lalu. Pemaknaan Pancasila tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar Kepala Kampung Sriwijaya Kecamatan Blambangan Umpu itu lagi.

Pada kegiatan dihadiri Ketua Dewan Pendidikan Way Kanan Farida Aryani, Ketua Yayasan Shuffah Blambangan Umpu Khairul Huda, Ketua Pergunu Ali Tahan Uji, alumni Sanlat BPUN Way Kanan 2015 dan Kasatkorcab Banser Alex Almukmin beserta jajaran, OSIS dari SMKN1 Blambangan Umpu dan SMAN2 Blambangan Umpu, alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Baradatu, sejumlah anggota Darma Wanita Persatuan Way Kanan, Sugiman membacakan pantun: "Pergi ke pasar bersama dia, jangan lupa membeli pala, kalau bangga sebagai warga negara Indonesia, kita wujudkan nilai-nilai Pancasila," ujar Sugiman yang tercatat sebagai Bendahara Pejuang Siliwangi Kabupaten Way Kanan itu. (Tegar Inartsa Tantra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pondok Pesantren, Nasional, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan ikhbar atau mengumumkan bahwa awal Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu bertepatan dengan 21 Juli 2012. Hal ini berdasarkan hasil ru’yatul hilal bil fi’li atau observasi hilal yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah dan sejumlah ahli falak NU di sejumlah titik rukyat di Indonesia.

“Tim rukyatul hilal NU pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2012 M / 29 Sya’ban 1433 H telah melakukan ru’yatul hilal bil fi’li di beberapa lokasi rukyat yang telah ditentukan dan tidak berhasil melihat hilal,” demikian dalam ikhbar PBNU.

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu

Karena hilal tidak terlihat maka umur bulan Sya’ban 1433 H adalah 30 hari (istikmal). “Atas dasar istikmal dan sesuai dengan pendapat al-madzahib arba’ah, maka dengan ini PBNU mengihbarkan bahwa awal bulan Ramadhan jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012.”

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam surat ikhbar yang ditandatangani KH Ubaidillah Syatori (rais syuriyah), KH Malik Madani (katib aam), KH Said Aqil Siroj (ketua umum tanfidziyah) dan H Marsudi Syuhud (Sekjen) PBNU juga mengimbau umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1433 H dengan penuh keimanan dan keyakinan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Mari menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum kerohanian untuk mensucikan diri dengan meningkatkan ketawqaan dan memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, beribadah dengan penuh kekhusyu’an dan berbagai aktifitas sosial yang bermanfaat,” demikian ikhbar PBNU.

Ikhbar PBNU ini dikeluarkan setelah sidang itsbat atau penetapan awal Ramadhan 1433 H yang dipimpin oleh Menteri Agama Suryadharma Ali di Kantor Kementerian Agama Jakarta telah menetapkan atau itsbat jatuhnya awal Ramadhan.

“Sesuai laporan dan pencermatan telah berkesimpulan bahwa hilal tidak bisa dilihat oleh karenanya 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012 M,” demikian disampaikan Menteri Agama.

Pada saat berita ini diturunkan, sidang itsbat masih sedang mendengarkan berbagai pendapat dari para peserta sidang dari berbagai ormas Islam dan para ahli falak dan astronomi.

Penulis: A. Khoirul Anam

 

 





Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Khutbah, Pertandingan, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 03 Desember 2017

NU Setuju 1 Juni Ditetapkan Hari Lahir Pancasila

Surabaya, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ketua PWNU Jawa Timur KH M Hasan Mutawakkil Alallah mengatakan, Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Pada saat mengusir penjajah, merebut dan memperjuangkan kemerdekaan, organisasi yang didirikan para kiai tersebut ikut andil. Juga dalam perumusan dasar Negara.

NU Setuju 1 Juni Ditetapkan Hari Lahir Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Setuju 1 Juni Ditetapkan Hari Lahir Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Setuju 1 Juni Ditetapkan Hari Lahir Pancasila

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, menurut dia, harus punya tanggal lahir. "Sebagai dasar negara sampai saat ini Pancasila tidak memiliki ketetapan hari lahir, masak kalah sama yayasan yang punya hari lahir," jelas Kiai Mutawakkil saat ditemui di Mercure Grand Mirana Hotel Surabaya (1/3).

Karena itulah, kata dia, PWNU Jawa Timur mengadakan seminar nasional tentang hari lahir Pancasila. "Satu Juni dimana saat Bung Karno berpidato tentang dasar negara itulah hari kelahiran pancasila," kata Kiai Mutawakkil.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Saat ditemui di tempat berbeda, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan setuju 1 Juni sebagai hari Pancasila. Pencetus dan pengusul hari lahir Pancasila di tanggal itu di antaranya tokoh NU, KH Masjkur. "PBNU Setuju kalau hari lahir Pancasila 1 Juni," pungkas Kiai Said sembari meninggalkan ruangan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam seminar ini, hadir beberapa narasumber diantaranya Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristyanto, Gubenur Jatim H Soekarwo dan pengamat sosial politik Eep Saifullah Fatah.

Lebih lanjut Kiai Mutawakkil mengatakan, hubungan Pancasila dengan Islam itu sudah final bagi NU. "Saat merumuskan Pancasila kader NU berada di dalamnya. Pada tahun 1983 NU juga mengadakan bahtsul masail di Pesantren Zainul Hasan Genggong dan memutuskan menerima Pancasila sebagai dasar negara dan dideklarasikan pada saat Muktamar NU ke 27 di Situbondo," ungkap Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong ini.

Ia berharap, dengan seminar ini bisa memberi pemahaman kepada masyarakat betapa pentingnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. (Rof maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pondok Pesantren, Meme Islam, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Mengenang Dua Sahabat, PMII UIN Bandung Gelar Tahlilan

Bandung, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus PMII UIN Sunan Gunung Djati terus berupaya menjaga silaturahmi dengan kadernya baik mereka yang masih hidup maupun sudah berpulang. Di masjid Ikomah, Cibiru, Bandung, Kamis (4/9) malam, mereka mengadakan tahlilan untuk khususnya dua kadernya yang baru saja wafat.

Salah seorang pengurus PMII UIN Bandung Niki Prasetiawan menyebutkan maksud pertemuan ini sebagai refleksi tradisi ke-NUan sekaligus sebuah penghormatan terhadap keluarga besar PMII yang sudah meninggal.

Mengenang Dua Sahabat, PMII UIN Bandung Gelar Tahlilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Dua Sahabat, PMII UIN Bandung Gelar Tahlilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Dua Sahabat, PMII UIN Bandung Gelar Tahlilan

“Kami sebagai generasi penerus ulama Aswaja ingin mentradisikan kembali di wilayah kampus apa yang sudah mentradisi di kampung-kampung,” ujar alumni pesantren Al-Ittihad, Cianjur di depan puluhan hadirin dalam acara bertajuk “Mengenang 40 Hari Sahabat Kami Tercinta Redi Hadarprawira dan mengenang 215 Hari Hani Solihat”.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Niki menilai peran PMII tidak sebatas gerakan kultural, tetapi bergerak secara dialektik dengan proses kegiatan di PMII misalnya dengan mendialogkan tradisi Aswaja dengan tradisi kemahasiswaan.

“Jadi kami mengintegrasikan nilai-nilai Aswaja ke dalam kegiatan PMII, bukan hanya dominasi mengetahui secara simbolik tetapi secara paradigmatik,” ujar Niki kepada Rohis Tegal - Rohani Islam seusai pembacaan tahlilan, Yasin, dan Al-Barjanji.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ia menginginkan PMII UIN Bandung menjadi organisasi berkarakter setelah hampir beberapa dekade ke belakang kehilangan jatidirinya.

Kami hari ini, Niki manambahkan, ingin mencoba membangkitkan kembali jatidiri dengan menciptakan sebuah karakter kami sebagai pelanjut gerakan paham Aswaja NU. (Muhammad Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Aswaja, Santri Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 01 Desember 2017

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU

Blitar, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus NU di tingkat manapun perlu mendampingi warga dalam melakukan amaliyah ke-NUan seperti istighotsah, tahlilan, maulidan, dan lainnya. Kesempatan orang tua untuk mengenalkan tradisi ke-NUan, perlu diperkuat dengan menitipkan anak mereka di pesantren dan madrasah.

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Madrasah, Sekolah Pilihan Warga NU

Demikian disampaikan KH Dimyati Zaini di tengah belasan ribu jamaah dalam peringatan Harlah ke-91 NU di Bakung Barat kecamatan Undawanu, Blitar, Selasa (10/6).

“Yang lebih penting lagi, kita harus memerhatikan pendidikan putra-putri kita. Jangan sampai salah memasukkan sekolah. Sedapat mungkin kita masukkan anak-cucu ke pesantren dan pendidikan formal milik NU,” terang Kiai Dimyati.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Menurutnya, warga tidak perlu menyangsikan kualitas pendidikan pesantren dan sekolah NU. “Lembaga pendidikan di lingkungan kita saat ini sudah baik, bahkan tidak kalah dengan milik orang lain. Sebagai contoh Mts dan Aliyah Ma’arif NU,’’ katanya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kaderisasi, menurut Kiai Dimyati, perlu diupayakan secara terpadu dengan menggerakkan amaliyah NU dan melibatkan unsur pendidikan di lingkungan sekolah NU. “Tujuannya mengamankan masa depan remaja NU.” (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Kajian Sunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 30 November 2017

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi

San Francisco, Rohis Tegal - Rohani Islam. Facebook Inc menambah alat untuk melaporkan konten pornografi "revenge porn" dan mencegahnya dibagikan kembali begitu sudah dilarang.

"Revenge porn", dikutip dari laman Reuters, adalah berbagi gambar seksual di internet tanpa izin orang yang ditampilkan di gambar, dengan maksud mempermalukan orang tersebut.

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi (Sumber Gambar : Nu Online)
FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi (Sumber Gambar : Nu Online)

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi

Aksi itu umumnya merugikan perempuan, biasanya menjadi target mantan pasangan mereka.

Facebook dituntut di Amerika Serikat dan negara lainnya oleh orang-orang yang berpendapat perusahaan tersebut seharusnya melakukan lebih banyak usaha untuk mencegah.

Rohis Tegal - Rohani Islam

2015 lalu, Facebook dengan jelas menyatakan melarang gambar "yang dibagikan dalam rangka balas dendam" dan pengguna pun dapat melaporkan unggahan yang menyalahi ketentuan penggunaan.

Mulai Rabu (5/4), pengguna dapat melihat opsi melaporkan gambar yang tidak layak karena merupakan "foto tanpa busana", kata Facebook dalam keterangan.

Mereka juga meluncurkan proses otomatis untuk mencegah pembagian berulang gambar yang sudah dilarang.

Teknologi photo-matching akan membuat foto tersebut berada di luar jaringan Facebook, termasuk juga Instagram dan Messenger.

Akun pengguna yang membagikan "revenge porn" akan dimatikan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Facebook tahun lalu bertemu perwakilan lebih dari 150 organisasi keselamatan perempuan dan berkomitmen untuk melakukan lebih banyak hal, kata Kepala Keamanan Global Facebook, Antigone Davis, melalui telepon.

Tim khusus dari Facebook akan menyertakan tinjauan manusia pada setiap gambar yang dilaporkan.

Gambar yang dilarang akan masuk ke database Facebook dan hanya segelintir orang yang memiliki akses ke data itu. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Cerita, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 26 November 2017

Ikhtiar GP Ansor Kota Bandung Ciptakan Umat Sauyunan

Sukabumi,Rohis Tegal - Rohani Islam

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung berikhtiar melakukan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya persatuan runtut raut sauyunan (damai seiring sejalan) dengan memperkuat Islam rahmatan lil alamin. Khtiar tersebut dilakukan melalui Tabligh Akbar mulai Juni hingga Desember.

Menurut Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung Abdul Rozak, tabligh akbar tersebut dilakukan sekali tiap bulan di tempat yang berbeda.

Ikhtiar GP Ansor Kota Bandung Ciptakan Umat Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar GP Ansor Kota Bandung Ciptakan Umat Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar GP Ansor Kota Bandung Ciptakan Umat Sauyunan

“Tema besar kegiatan tersebut adalah Islam Rahmatan lil Alamin menuju Keadilan dan Perdamaian Dunia”. Dengan tema tersebut kita akan melakukan proses penyadaran terhadap umat bahwa sejatinya Islam itu adalah rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Bukan hanya sebatas rahmatan lil muslimin,” jelasnya kepada Rohis Tegal - Rohani Islam, Ahad (5/6).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ikhtiar tersebut dilakukan karena menurut dia, situasi sekarang banyak umat awam yang mudah terprovokasi dengan isu-isu yang tak jelas.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Isu tersebut mengatasnamakan agama dan parahnya isu tersebut disinyalir akan menuju ke disintegrasi bangsa, perpecahan sesama warga.

Kita akan menjelaskan kepada umat bahwa menjadi muslim yang baik dan menjadi warga negara yang baik karena agama dan negara (nasionalisme) dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Masyarakat harus tahu jargon NU hubbul wathon minal iman, cinta negara adalah sebgian dari iman.

“Maka mari pelihara negara ini. Jangan sampai diadu domba? oleh kepentingan yang tak jelas yang selalu mengatsnamakan agama.”

Ia menambahkan pada Tabligh Akbar tersebut, GP Ansor akan mengundang penceramah kiai-kiai setempat, dari kader Ansor sendiri. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Aswaja, AlaNu Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 24 November 2017

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Apakah kita boleh menghadiahkan pahala bacaan dan shadaqah kepada mayit? Apakah hadiah tersebut sampai? Menurut KH Ali Masum, Rais Aam PBNU 1981-1984, masalah semacam ini merupakan masalah furu’ khilafiyah yang seharusnya tidak mendorong terjadinya fitnah, pertengkaran, perdebatan, dan sikap antipati baik terhadap orang yang setuju ataupun yang menolaknya. Walaupun berbeda pendapat, kedua belah pihak seharusnya tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh sesama saudara Muslim. Masing-masing pihak tentu memiliki dasar yang diyakini.

Meski demikian, santri dan warga NU penting mengetahui dasar setiap amal ibadahnya. Oleh karena itu KH Ali Ma’sum merasa perlu menyusun kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah ini, khususnya untuk para santri Pondok Pesantren Krapyak Yogjakarta. Dengan mengetahui dasar amal ibadah yang kita lakukan, diharapkan kita tidak ragu, was-was, salah sangka, tertipu dan tergoda oleh setan sehingga tersesat pada kelompok ahli hawa nafsu.

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Bacaan untuk Menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah yang Bijak

Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini diharapkan dapat membuat pembaca mengetahui dan yakin bahwa apa yang telah dilakukan oleh ulama kuno yang saleh (salafus shalih) merupakan kebenaran yang perlu diikuti. Hadirnya kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jam’ah ini tidak diharapkan sebagai bahan untuk berdebat dengan pihak yang berbeda pendapat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dengan tawadhu’ KH Ali Ma’shum menyatakan bahwa, dalam kitab ini beliau hanya mampu mengumpulkan dan menukil pendapat-pendapat dari para ulama’. Kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah merupakan kumpulan dari beberapa pendapat para tokoh tentang beberapa amalan Aswaja seperti shalat qabliyah Jumat dan talqin mayit setelah dikubur.

Salah satu keistimewaan kitab ini adalah KH Ali Masum mengawali uraian tentang amaliyah-amaliyah nahdhiyah seperti hadiah pahala kepada mayit dengan mengutip pendapat Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, baru kemudian mengutip beberapa pendapat ulama dari empat madzhab Aswaja.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mayit dapat mengambil manfaat dari pahala bacaan ayat Al-Qur`an orang lain yang dihadiahkan kepadanya, sebagaimana ia juga dapat mengambil manfaat dari pahala ibadah amaliyah seperti shadaqah dan sejenisnya.

Sedangkan Ibnul Qayyim mengatakan, “Sebaik-baik pahala yang dihadiahkan kepada mayit adalah pahala shadaqah, istighfar, doa untuk kebaikan mayit, dan ibadah haji atas nama mayit. Adapun pahala bacaan ayat Al-Qur`an yang dihadiahkan kepada mayit secara sukarela (bukan karena dibayar), dapat sampai seperti juga pahala puasa dan haji untuk mayit.

Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, orang yang melakukan amal ibadah, shadaqah, bacaan ayat Al-Qur`an, atau amal saleh lainnya, boleh menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan kiriman pahala tersebut sampai.

Ulama syafi’iyah sepakat bahwa pahala shadaqah dapat sampai kepada mayit.

Di kalangan ulama madzhab Maliki pada umumnya tidak ada perselisihan pendapat dalam hal sampainya pahala shadaqah kepada mayit. Namun pada prinsipnya, madzhab Maliki memakruhkan menghadiahkan pahala bacaan (Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) kepada mayit.

Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar menukil pendapat dari sekelompok ashabus-syafi’iy (para ulama madzhab Syafi’i), bahwa pahala bacaan (Al-Qur`an dan kalimat thayyibah lainnya) dapat sampai kepada si mayit, sama seperti pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan sekelompok ulama lainnya.

Menurut KH Ahmad Subki Masyhadi dari Pekalongan, kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah sangat penting bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu kaum Muslimin yang aqidahnya mengikuti imam Abil Hasan Al-Asy’ari atau imam Abu Manshur Al-Maturidi, dan fiqihnya mengikuti salah satu dari empat madhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibnu Hambal). Oleh karena itu, ketika Syekh KH Ali Ma’sum bersilaturrahmim ke kediaman KH Ahmad Fauzi Masyhadi Sampangan Pekalongan, KH Ahmad Subki Masyhadi ikut menemui sang tamu mulia dari Yogjakarta tersebut dan memohon izin untuk mencetak kitab Hujjah Ahlis Sunnah wal Jama’ah beserta terjemahan dan tambahan-tambahan yang diperlukan.

KH Ahmad Subki menerjemahkan kitab berbahasa Arab ini ke dalam bahasa Jawa dengan model makna gandul dilengkapi dengan terjemah singkat dalam bentuk uraian dan kadang ditambah dengan beberapa keterangan. Kitab terjemah ini diberi nama Ad-Durratul Lami’ah.

Pada sela-sela terjemahan, seperti pada bahasan tentang hadiah pahala terhadap mayit, KH Ahmad Subkhi menambahkan beberapa pendapat ulama tentang tata cara membayar utang mayit yang berupa shalat dan puasa.

"Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang shalat, maka sebaiknya di-qadha dengan niat shalat untuk mayit tersebut. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, bila si mayit wasiat maka setiap hutang satu shalat dibayar dengan fidyah satu mud. Bila ada mayit Muslim mempunyai hutang puasa Ramadhan, maka keluarganya dapat membayarkannya dengan puasa qadha. Hal ini berdasarkan suatu hadits muttafaqun alaihi..."

Ada sembilan bahasan yang dapat kita ikuti dalam kitab Ad-Durratul Lami’ah yang biasanya dijual dengan harga hanya sepuluh ribu rupiah ini: (1) pengiriman pahala untuk mayit, (2) shalat sunah qabliyah jum’at, (3) talqin mayit setelah dikubur, (4) shalat tarawih, (5) penetapan bulan Ramadhan dan Syawal, (6) ziarah kubur, (7) nikmat dan siksa kubur, (8) ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw, dan (9) tawasul.



Data Buku


Judul? ? ? ? ? ? ? ? : Ad-Durratul Lami’ah, Tarjamah Hujjah Ahlis Sunnah? wal Jama’ah karya Syekh Al-‘Allamah KH Ali Ma’sum al-Jogjawi

Penerjemah : KH Ahmad Subki Masyhadi

Khath? ? ? ? ? ? : Ma’mun Muhammad bin Badawi

Penerbit? ? ? ? : Ibnu Masyhadi Pekalongan

Ukuran? ? ? ? : 14,5 x 20,5 cm, 228 halaman

Peresensi? : Faiq Aminuddin, Kepala MTs NU Irsyaduth Thullab, Tedunan, Wedung, Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Halaqoh, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 20 November 2017

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Nasruddin Latif, Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatus Syubban ini awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi berselancar di dunia maya via. Namun kemudian blog yang dibuatnya dirujuk banyak orang. Khususnya sesama guru MI di berbgai daerah.

MI Raudlatus Syubban berada di Desa Wegil Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, cukup jauh dari pusat kota, sekitar 35 Km. Nasruddin Latif (36), mengaku saat pertama kali bertugas di MI Wegil pada 2006 ia menempuh perjalanan 40 menit dengan kendaraan roda dua dari kampung halamannya di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak.

Nasruddin prihatin saat awal bertugas di MI Wegil. Letak geografisnya jauh sekali dari kota kecamatan. “Informasi pun sering kali lebih banyak terlambatnya. Mungkin karena akses dan banyak hal lain,” ujar Nasruddin.

Ia mencontohkan, tiap tahun ajaran baru para guru harus merencanakan program madrasah ke depan. Senjata utamanya pakai kalender pendidikan (kaldik). Sementara jika kaldik tersebut tidak segera sampai ke madrasah, tentu menjadi persoalan tersendiri. Dari Kemenag tingkat provinsi, Kaldik turun ke kabupaten/kota, baru ke pengawas kecamatan, diteruskan ke KKM. “Terakhir para kepala madrasah diundang. Nah, baru masuk ke madrasah sini. Zaman dulu begitu,” ungkap Nasruddin.

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Blog “Abdi Madrasah” yang Dibuatnya Menjadi Rujukan Banyak Guru

Karena panjangnya birokrasi yang musti melewati beberapa pintu, belum lagi jika ada keterlambatan di salah satu pintu tersebut, kata dia, dapat dibayangkan bisa jadi sebulan kemudian pihaknya baru mempunyai kaldik.

“Padahal Juli sudah mulai kegiatan. Itu cuman sekedar salah satunya. Belum lagi informasi yang lain, misalnya tentang peraturan. Kan perlu kami ketahui juga agar selalu up to date,” ujarnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Karena merasa informasi di tempatnya mengajar sering terlambat, maka Nasruddin mencoba mencari alternatif informasi lain. Yakni menggunakan media online. Kurang lebih dua tahun ia berlangganan informasi melalui e-mail dari salah satu blog yang senantiasa memberikan informasi tentang pendidikan. Blog tersebut dikelola oleh seorang Guru Sekolah Dasar.

“Dari blog tersebut saya senantiasa mendapatkan informasi tentang pendidikan yang banyak saya butuhkan. Meski demikian, saya masih merasa kurang karena blog tersebut yang mengelola adalah seorang guru SD. Jadi, informasi-informasi yang diberikan proporsinya lebih banyak informasi yang dibutuhkan para guru SD. Padahal saya guru MI,” ujarnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebagai guru MI, Nasruddin tidak hanya membutuhkan informasi terkait pendidikan yang bersifat umum melainkan juga yang khusus berhubungan dengan madrasah. “Kalau ada pendataan yang online kadang-kadang saya kerjakan di rumah. Karena di sekolah kan nggak mungkin. Sebab sinyal internet susah sekali di sini,” kata Nasruddin.

Dari kondisi yang ia alami, ia kemudian berfikir, bisa jadi ada sebagian atau bahkan banyak juga rekan guru madrasah yang bernasib seperti dirinya yang butuh informasi up to date tentang pendidikan. Dalam rangka menunjang tugas-tugas sebagai guru madrasah, info terkini pendidikan menjadi hal penting. Nasruddin lalu membuat akun Facebook. Harapannya dapat berbagi informasi lewat update status di media sosial karya Mark Zukernberg ini.

“Saya bahkan sampai membuat sebuah laman Fanspage Facebook yang saya beri nama Mutiara Pendidikan hingga beberapa waktu. Melalui Fanspage Mutiara Pendidikan ini saya berbagi info dan terkadang berbagi tautan tentang pendidikan,” ungkap sarjana pendidikan Islam lulusan Universitas Wahid Hasyim Semarang ini.

Seiring berjalannya waktu, Nasruddin merasa berbagi informasi melalui Fandpage Facebook masih kurang efektif. Pasalnya, sulit mencari arsip-arsip informasi yang pernah di-update. Selain itu, ia juga berfikir mungkin akan lebih baik jika dia tidak hanya berbagi tautan web atau blog orang lain melainkan dapat berbagi tautan dari web/blog miliknya sendiri.

Mulailah ia belajar membuat blog secara otodidak dengan mengandalkan informasi dari hasil pencarian di google. Membuat blog ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Hanya dengan modal gmail dan petunjuk cara membuat blog dari hasil pencarian google, ia pun punya blog. Nasruddin makin keranjingan blogging sehingga dalam sepekan ia betah hingga dua jam di warnet sepulang mengajar. Ia lalu belajar mengganti template blog, posting artikel, memasang wedget, dan lain sebagainya.

“Sampai di sini saya masih belum berani untuk share. Karena ini baru blog percobaan. Setelah sekitar empat blog saya buat hanya sekedar latihan. Lalu, sekiranya kemampuan dasar blog sudah lumayan terkuasai, maka mulailah saya buat blog yang nantinya siap dipublikasikan,” ujar Nasruddin.

Menurut dia, menentukan nama blog ternyata lebih sulit ketimbang membuat blog itu sendiri. Awalnya karena ia sudah memiliki Fanspage Mutiara Pendidikan, ia pun ingin menggunakan nama yang sama. “Tetapi sebagai guru madrasah, saya ingin memperlihatkan kemadrasahan saya. Lalu, muncul ide nama blog Guru Madrasah. Ternyata sudah ada. Blog Guru Madrasah Ibtidaiyah juga sudah ada meski blog-blog tersebut jarang posting,” paparnya.

Di tengah kegalauan tersebut, terbersit dalam benak adanya kata “Abdi Negara”, dan “Abdi Masyarakat”. Akhirnya, ia memilih nama “Abdi Madrasah” yang disingkat “Abdima”. Hal yang lebih menguatkan Nasruddin memilih nama tersebut lantaran adanya kesadaran betapa pentingnya peran madrasah dalam kehidupan dirinya.

“Sebab, dari madrasah lah saya mulai dikenalkan dengan huruf dan angka. Dari madrasah lah saya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Yakni di MI kemudian melanjutkan ke MTs, terakhir di MA. Jadi, karena merasa dicetak oleh madrasah, maka sedikit banyak ingin bermanfaat bagi madrasah. Tentu, sebatas kapasitas dan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya merendah.

Tanpa menunggu lama, pada 19 Desember 2012 secara resmi Nasruddin memiliki blog bernama “Abdi Madrasah” yang beralamat di http://abdima.blogspot.com/. Setelah beberapa hari melengkapi blog dengan berbagai tulisan termasuk wedget dan lain sebagainya, terpublishlah posting perdana pada 31 Desember 2012.

Sejak ia mempunyai blog, baik Mutiara Pendidikan maupun Abdi Madrasah, ia mulai mem-posting tulisan pada 30 Desember 2012. “Otomatis fanspage saya di Facebook saya ubah menjadi Abdi Madrasah karena menyesuaikan blog tadi itu,” kata dia.

Ia berprinsip hanya ingin berbagi tanpa orang lain mengetahui jati dirinya. Ia berharap bisa berbagi tanpa diiringi rasa sombong. “Saya pernah dengar, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Yang penting tujuan saya main blog itu kan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya mantap.

Nasruddin menuturkan, dalam blognya tertulis ‘membagi informasi kepada para sahabat agar hidup ini lebih bermanfaat.’ Makanya, dalam admin itu ia tidak menuliskan database-nya. “Saya hanya menulis sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah yang mulai mengenal huruf dan angka dari madrasah. Oleh karena itu, harus berbuat yang terbaik untuk madrasah,” tegasnya.

Sebagai guru saya ia butuh informasi terbaru, jadi sederhananya Butuh Cari Dapat Bagi (BCDB). Jika ia butuh info, maka ia pun segera mencarinya. Setelah mendapatkannya, lalu ia membagikannya kepada siapa saja. Pada saat Facebook-an, Nasruddin mengaku seringkali melihat sebagian temannya membagikan berita tentang madrasah.

“Saya pun ikut nge-share. Tapi sebelumnya saya buat postingannya. Yang penting di google itu kan nggak boleh copas. Kalau sekedar mengulas kan boleh. Meski ada juga yang copas, tapi saya cantumkan sumber dan link-nya. Misal, dari website direktorat madrasah tentang prestasi atau program apa gitu,” akunya.

Menurut Nasruddin, website Abdima banyak dikunjungi orang lantaran mereka mendapatkan berbagai informasi mengenai madrasah. (Ali Musthofa Asrori)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nasional, Ahlussunnah, Warta Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 14 November 2017

PCINU Korsel Bentengi TKI dari Radikalisme

Korsel, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan terus berusaha membentengi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari paham radikalisme. Dalam berbagai kesempatan, PCINU selalu memberikan pemahaman terkait paham radikalisme dan aqidah Islam yang benar sesuai Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja).

PCINU Korsel Bentengi TKI dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Korsel Bentengi TKI dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Korsel Bentengi TKI dari Radikalisme

Ketua PCINU Korsel Zaenal Abidin mengatakan, sebagian besar TKI masih awam pemahaman terkait aliran-aliran radikalisme maupun ibadah syariat. Akibatnya, banyak para TKI terlibat dalam Jabhal an Nusro (kelompok) radikal yang berafiliasi dengan ISIS.

"Nama muslim Indonesia di Korsel sedang buruk gara-gara ada beberapa TKI menjadi militan Jabhal an Nusro. Termasuk pula banyak ustad yang berdakwah di sini," ujarnya kepada Rohis Tegal - Rohani Islam melalui Massanger pribadinya, Rabu (22/6).

Zaenal menambahkan PCINU terus mempererat silaturrahim dan kajian-kajian keislaman di mushola-musholla. Seperti bula puasa ini, pihaknya menghadirkan da-dai dari Indonesia untuk mengisi kegiatan safari Ramadhan guna menyampaikan pencerahan kepada TKI yang ada di Korsel mengenai berbagai macam aliran/paham dalam Islam.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Pada acara tersebut, kami juga memberikan jawaban penyelesaian atas permasalahan ibadah yang dialami TKI," imbuhnya.

Mengenai kegiatan-kegiatan PCINU Korsel, kata dia, masih terkendala pada jarak dan waktu. Sebab, mayoritas pekerja waktunya sangat terbatas sehingga untuk bisa berkumpul hanya pada waktu libur saja.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Seperti kegiatan safari ramadhan ini misalnya, TKI di Korea sangat antusias. Bahkan banyak permintaan dai di berbagai wilayah namun belum bisa melayani karena terbatasnya teman-teman Dai disini," kata Zaenal.

PCINU Korsel berencana mengundang ustadz dari Indonesia guna memenuhi kebutuhan tersebut. "Mungkin nanti kita akan mencoba menjalin kerjasama dengan pondok pesantren di Indonesia terkait pengadaan dai di sini," ungkap Zaenal. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Halaqoh, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 30 Oktober 2017

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU

Sumedang, Rohis Tegal - Rohani Islam - Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang menggelar pendidikan dan latihan dasar (diklatsar) Banser NU di Pondok Pesantren Al-Mamun Tanjungkerta Sumedang. Diklatsar ini diikuti oleh 60 peserta dan akan dilaksanakan selama tiga hari, Jumat-Ahad (8-10/9).

Ketua GP Ansor Tanjungkerta Syarif Hidayatullah mengatakan, Diklatsar Banser merupakan salah satu jenjang pendidikan dan pelatihan yang harus diikuti setiap kader Ansor yang ingin menjadi anggota Banser. Tujuannya adalah merapatkan barisan dalam membentengi para ulama dan menjaga NKRI dari berbagai rongrongan yang ingin memecah belah Indonesia.

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Tanjungkerta Rekrut Puluhan Anggota Banser NU

Para peserta Diklatsar akan dibekali berbagai ilmu dan pelatihan mulai dari berbagai bentuk pelatihan fisik, mental, kemampuan beladiri, ilmu tenaga dalam, pendalaman ke-NUan, ke-Indonesiaan, bela negara, peraturan baris berbaris, kelalulintasan, dan tanggap darurat bencana.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sementara Sekretaris PCNU Sumedang Jujun Juhanda mengatakan, jangan pernah keder menjadi seorang Banser. Ada tugas mulia membentang di hadapan sahabat-sahabat karena posisi dan kedudukan Banser berada sebagai pengawal ulama. Tugas dan tanggung jawab Banser juga yaitu menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah dan juga mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semoga setelah Diklatsar ini selesai, masing-masing peserta bisa memegang teguh ke-NUan dan ke-aswajaan. Bahkan, mereka harus siap menjadi garda terdepan menjaga ulama dan NKRI, tutup Jujun. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Daerah, Ahlussunnah, AlaNu Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 16 September 2017

Mengenang Kiai Ya’qub Husein Pendiri Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam?

Almarhum Kiai Yaqub Husein, Pendiri Pondok Pesantren Al-Urwatul Wutsqo (UW), Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Jombang dikenal sebagai sosok kiai yang humanis, bahkan ia pernah melindungi orang-orang PKI yang hendak dibunuh penjajah Belanda.

Di mata masyarakat, Mbah Yaqub, begitu ia kerap disapa juga dikenal dengan figur kharismatik dan alim ilmu agama. Dalam perjalanan hidupnya yang tak lepas dengan ilmu agama dan jiwa kharisma itu membuat banyak masyarakat yang ingin menimba ilmu ke Mbah Yaqub.?

Mengenang Kiai Ya’qub Husein Pendiri Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Kiai Ya’qub Husein Pendiri Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Kiai Ya’qub Husein Pendiri Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang

Hingga pada saat itu berdirilah pondok pesantren Al-Urwatul Wutsqo yang saat ini dikembangkan oleh salah satu putranya KH M Qoyyim Yaqub. Saat ini pondok tersebut memiliki ribuan santri dari berbagai daerah yang berbeda, mulai dari daerah tetangga, Madura, NTB, NTT, Aceh, Papua, dan sejumlah daerah yang lain.

Sisi humanis dari jiwa pendiri pesantren itu nampak masih melekat dan sudah menjadi karakter pondok pesantren UW. Hal itu bisa diketahui dari slogan "tiada biaya bukan penghalang untuk mencari Ilmu, dan membiayai ilmu berarti jihad fi sabilillah", slogan itu juga yang menjadi latar belakang semua aturan yang berlaku hingga saat ini.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Artinya pondok tersebut memberikan kesempatan bagi semua lapisan masyarakat yang hendak menimba ilmu, baik masyarakat yang secara ekonominya di bawah rata-rata, atau di atas rata-rata. Dan juga dari sisi pengetahuan yang bisa dikatakan dari nol sekalipun.?

Bertepatan pada momentum Hari Santri Nasional (HSN) kali ini, pesantren UW memiliki gawe perayaan haul Mbah Yaqub yang ke-40 pada Jumat-Sabtu (21-22/10). "Saat ini panitia telah merancang beragam agenda, salah satunya semarak khatmil Quran oleh santri putri yang disebar ke 40 masjid dan musholla yang berada di Desa Bulurejo dan sekitarnya," kata Moch Syaroni Hasan, salah satu pengurus pondok UW, Jumat (21/10).?

"Semua agenda yang dirancang juga dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional,” imbuhnya.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Keesokan harinya, Sabtu (22/10), giliran para santri putra meramaikan masjid dan musholla dengan khotmil Quran di 40 titik. Selain itu, sebagian santri akan diutus untuk mengikuti upacara dan kirab di alun-alun Jombang. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 07 Juni 2017

Menaker: Difabel Harus Dapatkan Akses Kerja

Solo, Rohis Tegal - Rohani Islam

Duduk di bangku bambu, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri berbincang santai dengan Suwarji dan Supono Duta, dua penyandang difabel (tuna daksa). Obrolan santai sambil menikmati hidangan angkringan itu berlangsung di Rumah Bloger Indonesia (RBI), kawasan Jajar, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7 /11) malam.



Menaker: Difabel Harus Dapatkan Akses Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker: Difabel Harus Dapatkan Akses Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker: Difabel Harus Dapatkan Akses Kerja



RBI adalah tempat ngumpul para blogger dan difebel. Pada malam hari, mereka membuka kedai angkringan dan musik akustik.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Malam itu, dengan mengenakan sarung biru dipadu kemeja putih dan bersandal jepit, Menteri Hanif sengaja mampir ke RBI untuk berbincang dengan para difabel, khususnya terkait akses pelatihan ketrampilan bagi pada difabel, serta perluasan kesempatan kerja bagi mereka. Dengan mendapatkan masukan langsung dari para difabel, kebijakan penyediaan akses pelatihan ketrampilan dan kesempatan kerja, sesuai dengan yang dibutuhkan.

“Kami punya potensi. Kami juga bekerja. Kami berharap pemerintah memberikan akses pelatihan keterampilan kerja,” kata Suwarji yang setiap hari bekerja di sebuah tailor jas.

Kepada Menaker, ia juga berharap, selain pelatihan skill, pemerintah juga diharapkan memberikan akses permodalan dan bantuan alat kerja. Alasannya, dengan keterbatasan fisiknya, banyak penyandang cacat yang  lebih nyaman bekerja secara mandiri.

Rohis Tegal - Rohani Islam





Tentang jenis pelatihan apa yang paling dibutuhkan para difabel di Solo, Suwarji menyebut pelatihan menjahit, IT atau programmer.  Atas masukan tersebut, Menaker menyatakan akan menjadikannya sebagai masukan penting dalam pengembangan Balai Latihan Kerja (BLK).





“Karena teman-teman difabel juga berhak mendapatkan akses untuk meningkatkan ketrampilan serta mendapatkan pekerjaan yang baik,” kata Menaker.

Di tengah perbincangan, hadir Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang kemudian bergabung menikmati angkringan dan musik akustik.

Menaker hanif dan Menkominfo Rudiantara lalu mendengarkan masukan dari Aprilian Bima, mahasiswa Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Solo yang juga penderita tuna rungu. Dia dan beberapa rekannya ingin mendapatkan pelatihan keterampilan membuka kafe.

Atas keinginan tersebut, Menaker menawarkan pelatihan barista kepada para penyandang tuna rungu.

“Kemnaker punya program pelatihan barista, dan pelatihan keterampilan lain untuk memperluas kesempatan kerja,” jelas Menaker. 

Melalui bantuan penerjemah bahasa isyarat, Bima mengaku girang dengan tawaran tersebut.





“Iya kami mau mengikuti pelatihan menjadi barista,” kata Bima dengan bahasa isyarat.

Keinginan tersebut sejalan dengan rencana Bima yang juga sebagai Ketua Gerakan Kesejahteraan untuk Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Solo yang sedang getol menyosialisasikan Bahasa Isyarat Indonesia (Basindo) kepada masyarakat sebagai bahasa komunikasi. Di kafe itu, mereka akan mensosialisasikan Basindo. 

Di ujung perbincangan, Menteri Hanif menyempatkan belajar bahasa isyarat kepada Bima, lalu berfoto bersama. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama, Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 24 Mei 2017

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah

Jepara, Rohis Tegal - Rohani Islam. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) kecamatan Bangsri Jepara bekerja sama dengan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) menggelar Lomba Pidato Takmir Masjid-Musholla se-kecamatan Bangsri tahun 2016 yang dipusatkan di Gedung MWCNU Bangsri, Jepara, Jawa Tengah, Rabu (16/11).?

Kegiatan yang diikuti 22 peserta itu mengangkat tema “Dengan Semangat Berdakwah ala Aswaja, Kita Teruskan Perjuangan Rasulullah Muhammad untuk Persatuan Umat”.?

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Khitobah Gali Potensi Generasi NU di Bidang Dakwah

Lomba yang diikuti oleh utusan masjid dan musholla se-kecamatan Bangsri itu untuk kategori umum dengan syarat minimal usia 15 tahun.?

Dalam kegiatan yang dirawuhi KH Taufiqul Hakim pengasuh pesantren Darul Falah Amsilati Bangsri, Kiai M. Ihsan Ketua MWCNU Bangsri, KH Hayatun Abdullah Hadziq Ketua PCNU Jepara menyatakan rasa bangga dengan semaraknya kegiatan-kegiatan NU. Menurut Gus Yatun hal itu sebagai jembatan kaderisasi Ulama di masa yang akan datang.?

Sementara itu, salah satu panitia, Ali Burhan memaparkan kegiatan dilaksanakan untuk menggali potensi generasi muda NU khususnya dalam bidang dakwah.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di samping itu kata Burhan untuk pemberdayaan takmir masjid dan musholla se-kecamatan Bangsri. Tujuan lain, tambahnya sosialisasi kitab Al-Jannah, An-Nar dan Hujjatun Nafiah karya KH. Taufiqul Hakim.?

“Sehingga materi pidato adalah ke-Aswaja-an dengan referensi dari salah satu kitab tersebut,” tambahnya.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kegiatan tersebut merupakan program tahunan dari LDNU Bangsri sebagai satu langkah konkrit pemberdayaan takmir masjid dan musholla.?

Untuk pengumuman juara rencananya akan diumumkan dalam Jepara Bershalawat yang akan dilaksanakan di lapangan Bangsri Jepara. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Meme Islam Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 14 April 2017

Demo 2 Desember Sarat Kepentingan Politik

Surabaya, Rohis Tegal - Rohani Islam. Seluruh elemen bangsa hendaknya dapat menahan diri terhadap permasalahan di negeri ini. Jangan sampai ada pihak yang ingin menekan aparat dengan maksud terselubung. Termasuk rencana demo yang akan dilakukan 2 Desember 2016 mendatang.

Demo 2 Desember Sarat Kepentingan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Demo 2 Desember Sarat Kepentingan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Demo 2 Desember Sarat Kepentingan Politik

Penegasan ini disampaikan Sekretaris PW GP Ansor Jawa Timur, H Ahmad Tamim setelah mendapatkan informasi yang menyebutkan akan ada rencana demo oleh beberapa elemen di Jakarta, Jumat (2/12) mendatang. "Semua elemen bangsa semestinya tidak mempertaruhkan nilai-nilai dasar kebhinekaan Indonesia hanya dengan tujuan yang tidak beralasan," katanya, Sabtu (19/11).

Mantan Ketua PC GP Ansor Blitar ini berpendapat bahwa tuntutan sebagian umat Islam yang menuntut penanganan kasus yang diduga menistakan agama oleh Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) telah ditindak lanjuti pemerintah.?

"Polisi telah melakukan tindakan hukum, bahkan terlihat melakukan langkah yang sangat cepat dalam penanganan kasus ini," ungkap Gus Tamim, sapaan akrabnya.

Umat Islam dianggap sudah tidak relevan lagi menekan polisi untuk melakukan tindakan hukum sebagaimana yang diinginkan. "Polisi terlihat cukup serius dan tidak main-main dalam penanganan kasus ini, bahkan telah berjanji untuk secepatnya membawa kasus ke pengadilan," sergah anggota DPRD Jatim tersebut.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam pandangan Gus Tamim, yang disampaikan oleh Kapolri sangat jelas. "Masyarakat semestinya harus sabar menunggu, apalagi umat Islam juga sudah diwakili beberapa pihak dan ikut dalam gelar perkara," terangnya. Hal tersebut, lanjutnya, tentu saja memperjelas substansi masalah untuk dikaji dan dianalisis hingga dapat dijadikan rujukan oleh anggota tim penyelidik kepolisian.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Justru Gus Tamim curiga bahwa aksi 2 Desember mendatang sudah tidak murni lagi sebagai gerakan dalam dimensi membela Islam, tetapi sudah mulai ditunggangi kepentingan lain (politis, red). "Ya, karena sudah hilang relevansi tuntututannya," tandasnya.

Terhadap rencana tersebut, negara harus berani tegas dan tidak didikte kepentingan segelintir orang. "Semua anggota masyarakat harus membela tindakan negara bila ada sekelompok orang yang sudah mulai mengancam keselamatan, terutama dalam eksistensi pengakuan kebhinekaan," tegasnya.

Sebagai bagian tidak terpisahkan dari bangsa ini, jutaan anggota Ansor Jawa Timur akan siap membela bila negara diganggu dan diancam kepentingan yang merusak. "Ansor akan menjadi garda terdepan membela kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Pendidikan Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock