Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Dukung Gaza, Muslim India Boikot Pepsi dan Coca Cola

Mumbai, Rohis Tegal - Rohani Islam. Marah dengan kematian setiap hari yang terjadi di Jalur Gaza Palestina oleh pasukan Israel, ratusan hotel dan restoran yang dimiliki oleh Muslim India memprotes serangan Israel dengan cara mereka sendiri, yaitu memboikot minuman ringan yang diproduksi di Amerika Serikat. 

Dukung Gaza, Muslim India Boikot Pepsi dan Coca Cola (Sumber Gambar : Nu Online)
Dukung Gaza, Muslim India Boikot Pepsi dan Coca Cola (Sumber Gambar : Nu Online)

Dukung Gaza, Muslim India Boikot Pepsi dan Coca Cola

"Kami di sini, di India bisa melakukan banyak hal. Dan tidak ada cara yang lebih baik daripada menyerang ekonomi mereka," kata Umar Sheikh, pemilik Shalimar Restaurant, kepada OnIslam.net. 

"Mereka harus tahu bahwa orang-orang menentangnya dan mereka juga harus menyadari bahwa apa pun yang mereka lakukan adalah salah." 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Muslim di Mumbai menunjukkan kebencian mereka terhadap Amerika Serikat melalui boikot minuman ringan Amerika karena percaya AS berdiri dengan Israel dalam agresi ini. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Mereka mengatakan USA selalu mendukung Israel. 

Lebih dari seribu hotel dan restoran di Mumbai, ibukota komersial India, telah berhenti melayani merek seperti Pepsi dan Coca Cola untuk pelanggan. Mayoritas pemilik hotel adalah Muslim. 

"Kami mengikuti prinsip-prinsip Mahatma Gandhi yang mengajari kami prinsip non-kekerasan," kata Jawed Kotwal, pemilik Persia Darbar, sebuah hotel di Mumbai. 

"Kami tidak memaksa siapa pun; Kami hanya berhenti melayani produk-produk kepada pelanggan kami dan memberi mereka pengganti. Perlahan-lahan kita akan mengganti semua produk AS dengan produk India."

Ada hampir 2.000 hotel dan restoran di Mumbai yang pemiliknya adalah Muslim. Mayoritas dari mereka telah mulai menjual produk lokal untuk konsumen, bukan Pepsi dan Coke. 

Boikot Meluas

Seiring dengan Mumbai, pemilik hotel dari Mumbra, pinggiran Mumbai, juga mulai memboikot produk AS. 

Menurut pemilik hotel, boikot produk-produk Israel dan AS juga akan membantu produsen lokal menyimpan uang India pergi ke luar negeri. 

Di daerah yang didominasi Muslim, bahkan pelanggan mendukung keputusan ini. 

"Kami tidak ingin minuman ini. Kami ingin AS dan Israel menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tidak benar," kata Fahad Sheikh, seorang mahasiswa yang ingin setiap muslim memboikot produk-produk ini. 

"Sebagai warga negara India, kita tidak bisa berbuat apa-apa dari sini. Namun, melalui boikot ini kita mungkin dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan ini sampai batas tertentu. "

Pemilik restoran lain, Umar Sheikh mengatakan kepada Onislam.net, "Kami menawarkan pelanggan minuman ringan jus dan jalzeera (jintan dan mint rasa limun India) di tempat ini." 

Keputusan hotel disambut oleh pelanggan lokal. 

"Saya menghargai keputusan mereka. Saya tidak keberatan tidak minum produk ini," kata pelanggan Siraj Ahmed OnIslam.net. 

"Ini adalah dukungan kecil kami untuk rakyat Gaza. Bagaimana kita dapat mendukung perusahaan dari negara-negara yang membunuh warga Palestina yang tidak bersalah? "

Pemilik hotel dan restoran mengatakan bahwa protes mereka dilakukan secara damai terhadap negara-negara yang paling tidak peduli tentang kemanusiaan. 

"Boikot kami akan terus berlangsung sampai situasi membaik di Palestina. Kita tidak bisa membeli produk dari orang-orang yang membunuh saudara-saudara kita, saudara perempuan dan anak-anak," kata Omaer Sheikh OnIslam.net. 

Boikot serupa diselenggarakan oleh para pelaku bisnis perhotelan di India ketika AS membom Afghanistan pada tahun 2001. Produk AS Coca Cola dan Pepsi cukup populer di kalangan orang India. 

Kaum Muslim India juga mengungkapkan ketidaksenangan mereka terhadap pemerintah India yang mereka rasa tidak melakukan sesuatu yang cukup untuk melawan Israel. 

"Kita tahu bahwa pemerintah kita tidak mendukung perjuangan Palestina. Sebagai seorang Muslim, kita harus menunjukkan solidaritas kami dengan saudara-saudara kita di Gaza," kata Shakib Khan, warga Mumbai. 

Pemerintah India telah menolak resolusi mengutuk Israel di Parlemen. 

Hubungan antara India dan Israel telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, India mendukung resolusi Dewan Hak Asasi Manusia untuk penyelidikan kejahatan perang yang diduga dilakukan oleh Israel di Palestina. 

Muslim di India merupakan populasi 14 persen dari negara. 

Demonstrasi terhadap Israel telah diselenggarakan di sebagian besar kota-kota India oleh Muslim dan pekerja masyarakat sipil yang menuntut diakhirinya agresi Israel. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam AlaNu Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 30 Januari 2018

Hadapi Popda, Pagar Nusa Kudus Seleksi Ketat 120 Pesilat

Kudus, Rohis Tegal - Rohani Islam. Menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) bulan depan, Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kudus mengadakan seleksi pesilatnya di SMP NU Al-Ma’ruf Kudus Jum’at (7/2) kemarin. Sebanyak 120 pesilat Pagar Nusa dari berbagai madrasah mengikuti seleksi ini.

Hadapi Popda, Pagar Nusa Kudus Seleksi Ketat 120 Pesilat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Popda, Pagar Nusa Kudus Seleksi Ketat 120 Pesilat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Popda, Pagar Nusa Kudus Seleksi Ketat 120 Pesilat

Pengurus bidang Seni dan Budaya Pagar Nusa Kudus Rozikin menjelaskan, seleksi dimaksudkan mencari bibit-bibit atlet pesilat yang siap diterjunkan dalam Popda tahun ini. Dalam seleksi itu, para pesilat dari tingkat MTs/SMP maupun MA/SMA berkompetisi pada kategori seni dan laga tanding di semua kelas.

“Mereka yang terbaik nanti dikirim menjadi peserta kontingen Pagar Nusa dalam Popda Kudus,” katanya kepada Rohis Tegal - Rohani Islam Jum’at (7/2).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Popda tahun ini akan mempertandingkan 7 kelas tingkat SMP dan 8 kelas tingkat SMA. Masing-masing perguruan pencak silat hanya bisa mengirimkan 2 atletnya di kelas seni dan tanding.

“Kita berusaha keras sehingga Pagar Nusa mampu berprestasi lebih baik dari Popda sebelumnya. Bahkan kalau bisa, tahun ini kita bisa juara umum,” kata Rozikin penuh optimis.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Setiap Popda, kata Rozikin, Pagar Nusa selalu mengirimkan atletnya untuk bersaing dengan 7 perguruan pencak silat lainnya. Tujuannya, menambah jam terbang para pesilat Pagar Nusa serta mempererat silatrurahmi antarperguruan silat di kabupaten Kudus.

Rozikin menyatakan rasa syukurnya atas keikutsertaan Pagar Nusa setiap tahunnya dalam kejuaraan bergengsi di Kudus. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam AlaSantri, AlaNu, Pondok Pesantren Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Pembebasan Lahan Harus Utamakan Dialog

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengutuk tindakan anarkis, represif, intimidatif dan kriminalisasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun aparat keamanan kepada warga Desa Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat.?

Seperti diberitakan sebelumnya telah terjadi situasi dan ketegangan di Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka akibat pengukuran dan penggusuran yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Penggusuran dilakukan terkait dengan rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).

Pembebasan Lahan Harus Utamakan Dialog (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembebasan Lahan Harus Utamakan Dialog (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembebasan Lahan Harus Utamakan Dialog

“PB PMII mendesak Pemprov Jabar tidak menggunakan jalan pintas untuk penggusuran dengan menurunkan aparat bersenjata. Segera hentikan upaya pengukuran tanah dan penggusuran dengan cara-cara yang tidak manusiawi,” ungkap Wasekjend PB PMII Athik Hidayatul Ummah melalui rilis yang diterima Rohis Tegal - Rohani Islam, Ahad (20/11).

Athik menyebutkan, PB PMII mendorong pemerintah untuk mengkaji kembali upaya ganti rugi dan relokasi untuk warga. Program pemerintah harus pro-rakyat dan membela kaum miskin.

“Selama ini dalam pengamatan kami, banyak program pembangunan yang hanya menguntungkan para pemilik modal dan elit penguasa. Pemerintah hendaknya memikirkan dampak-dampak yang akan ditanggung oleh warga, jangan biarkan rakta semakin menderita dan sengsara,” tambah Athik.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Oleh karena itu, PB PMII mendesak Pemprov Jabar untuk bertanggungjawab atas trauma yang dialami oleh ibu-ibu, prempuan dan anak-anak akibat upaya penggusuran. PB PMMI mendorong pemerinta untuk segera menurunkan tim trauma healing untuk membantu mereka.

PB PMII juga mendesak baik kepada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk tidak melakukan tindakan semen-mena kepada warga dalam upaya pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur.?

“Warga akan menerima dengan lapang jika proses musyawarah, komunikasi, dan sosialiasi dilakukan derngan prosedur yang benar. Jadi pembebasan lahan harus mengedepankan dialog,” tegas Athik. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam Sejarah, Nusantara, AlaNu Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 19 Januari 2018

Sambut Konfercab NU, IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Makesta

Probolinggo, Rohis Tegal - Rohani Islam. Dalam rangka menyambut Konferensi Cabang (Konfercab) NU Kabupaten Probolinggo, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo serentak menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Jum’at dan Sabtu (3-4/10).

Makesta yang diikuti peserta pelajar tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA perwakilan anak cabang dan komisariat se-Kabupaten Probolinggo ini dihadiri oleh segenap jajaran pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo. Bahkan hadir pula perwakilan pengurus dari PCNU Kabupaten Probolinggo.

Sambut Konfercab NU, IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Konfercab NU, IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Konfercab NU, IPNU-IPPNU Probolinggo Gelar Makesta

Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Lika Kurniawati mengungkapkan, selain untuk menyambut Konfercab NU Probolinggo, Makesta ini merupakan salah satu upaya IPNU-IPPNU untuk ikut serta dalam pembangunan karakter generasi muda bangsa di tengah-tengah banyaknya paham baru diluar NU yang sudah mulai menyerang generasi muda NU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

”Intinya kami ingin mencetak kader muda NU yang professional dan militan yang mampu menjalankan roda organisasi dengan baik dengan harapan para kader NU tetap berpegang teguh pada tuntunan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan amaliah-amaliah ulama NU,” ujarnya.

Lika menjelaskan bahwa makesta ini digelar dengan tujuan agar dapat menjaring para kader NU dari kalangan pelajar baik putra maupun putri supaya mau belajar dan bertaqwa dalam sebuah organisasi yang tergabung dalam wadah ikatan IPNU-IPPNU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Melalui makesta ini diharapkan para kader muda NU dapat memperdalam dan memperkokoh kembali aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai langkah nyata dalam melakukan pengkaderan dalam organisasi NU. Inilah salah satu bentuk aplikasi organisasi yang dapat kami lakukan. Sebab suatu saat, mereka yang akan menggantikan kami dalam membesarkan IPNU-IPPNU di Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Dalam Makesta, para kader muda NU ini diberikan beberapa materi mulai dari Aswaja, Kepemimpinan, Ke-NU-an, Ke-IPNU-an, Ke-IPPNU-an, Keorganisasian, Leadership, Management Diri dan Administrasi serta Organisasi. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pendidikan, AlaNu, Hikmah Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 17 Januari 2018

Sekolah Lima Hari di Jateng Dinilai Bisa Rusak Budaya Religi

Semarang, Rohis Tegal - Rohani Islam

Kebijakan Sekolah Lima Hari yang dicanangkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dinilai para ulama akan merusak budaya religi yang telah tertanam kuat di masyarakat Jateng.? Budaya religi masyarakat Jateng adalah bercorak pedesaan dan mayoritas masih peduli pada moralitas anak-anaknya.

Wujud peduli pada pendidikan moral itu, para orang tua yang prihatin atas minimnya pendidikan agama di sekolah formal, memasukkan anaknya ke madrasah diniyah atau Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) di sore hari. Bahkan banyak yang mendorong anaknya mengaji di pesantren sejak sore hingga malam hari, meski tidak mondok 24 jam di pesantren.

Sekolah Lima Hari di Jateng Dinilai Bisa Rusak Budaya Religi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Lima Hari di Jateng Dinilai Bisa Rusak Budaya Religi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Lima Hari di Jateng Dinilai Bisa Rusak Budaya Religi

Jika kebijakan Gubernur Jateng yang sekarang dalam tahap uji coba itu benar-benar diberlakukan, maka para murid sekolah formal akan kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan agama dan moral. Padahal itu adalah hak konstitusional peserta didik yang selama ini tidak pernah bisa dipenuhi negara melalui sistem pendidikan nasionalnya.

Jika murid sekolah pulang sore, hingga jam 17 sampai rumah, kemungkinan besar sudah kelelahan. Itu artinya, hilang kesempatan untuk mengaji di malam ? hari. Terlebih malam hari harus belajar menggarap Pekerjaan Rumah (PR) dan sebagainya.

Hal itu mengemuka dalam Halaqoh Ulama bertema "Plus-minus Kebijakan 5 Hari Sekolah di Jawa Tengah" yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng di Kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Kamis (26/11).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Para ulama menyatakan keberatan terhadap kebijakan Gubernur Jateng yang dituangkan dalam Surat Edaran nomor 420/006752/2015. Para utusan MUI daerah mendorong MUI Jateng agar bersikap tegas menolak kebijakan tersebut atas pertimbangan kemaslahatan umat.

Tegas Menolak

Narasumber dalam Halqoh Ulama, Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyyah NU (RMI NU; asosisasi pesantren NU) Jateng KH Abdul Ghoffar Rozien tegas menolak kebijakan tersebut. Ia menyatakan, kepuitusan gubernur Jateng tersebut tidak didasari studi dan kajian yang? memadai sehingga tidak mencerminkan kebutuhan riil masyarakat Jateng.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Disebutkannya, alasan Ganjar Pranowo yang mengatakan akan meningkatkan kualitas hubungan? orang tua dan anak di hari Sabtu dan Minggu, tidak bisa diterima nalar karena mayoritas orang tua di Jateng masih beraktivitas di hari Sabtu dan Minggu.? Justru kekosongan rumah di saat orang tua tidak ada di hari libur sekolah, menurut Gus Rozien, panggilan akrabnya, berpotensi menimbulkan perilaku negatif yang tidak terkontrol.

"Marilah jujur, para siswa sekolah kita itu semakin banyak yang rusak moralnya. Miris kita kalau mengetahui di setiap malam Valentine Day, semua apotek dan toko kehabisan stok kondom," tuturnya sedih.

Pernyataan Rozien didukung para peserta Halaqoh. Setiap Rozin memaparkan argumennya tentang penolakan itu, disambut tepuk tangan hadirin. Beberapa ketua MUI daerah yang mendapat kesempatan bicara, meminta agar MUI Jateng mengeluarkan sikap tegas menolak.

Argumen paling banyak disampaikan adalah pesantren, madrasah diniyah (Madin) dan taman pendidika al-Quran (TPQ) yang telah ada puluhan tahun, bahkan sudah ada sejak Islam masuk Indonesia, akan tutup karena tiada kesempatan anak-anak mengenyam pendidikan agama di sore hari di lembaga pendidikan keagamaan tersebut.

"Madin dan TPQ akan gulung tikar. Bukan soal tutupnya yang menyedihkan, tapi tiadanya kesempatan anak-anak kita mendapat pendidikan moral agama. Mau jadi apa mereka nanti?" tutur Kasi Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng Mustasit yang juga anggota MUI itu.

Disebutkan Rozien, satu-satunya benteng moral masyarakat adalah pendidikan agama, dan itu didapat secara maksimal di Madin dan pesantren, yang umumnya diselenggarakan pada sore hari. Pemberlakukan surat edaran gubernut, jelas dia, telah mengancam keberlangsungan lebih dari 11 ribu madrasah diniyyah di Jateng dengan ratusan ribu santri.

Pengasuh Ponpes Maslakul Huda Kajen Pati ini menegaskan, libur sekolah di hari Sabtu dan Minggu, perlu ditimbang lagi manfaat dan mudharat (kerugian) nya. Jika tidak diisi dengan kegiatan produktif, maka tidak ada manfaatnya. Kebijakan? tersebut hanya cocok jika diterapkan di kota Metropolitan semisal Jakarta.

Dukungan penolakan disampaikan MUI Grobogan. Di forum tersebut, Sekretaris Umum MUI Grobogan HM Mahbub Ulil Albab meminta agar MUI Jateng tegas menolak kebijakan lima hari sekolah.

Ia mengaku prihatin mengapa pemerintah yang jelas-jelas telah melanggar konstitusi, tidak mampu memberi pendidikan agama? yang cukup sesuai amanah konstitusi, malah akan mematikan Madin? dan TPQ yang sudah puluhan tahun menutupi kesalahan dan kekurangan pemerintah tersebut.

"Pemerintah sudah tidak bisa memenuhi amanah konstitusi memberi pendidikan agama kepada anak sekolah. Buktinya pelajaran agama cuma dua jam seminggu. Jangan ditambah dengan menutup akses siswa ke madrasah diniyah," tuturnya.

Diminta Beradaptasi

Meski dinamika dalam Halaqoh cenderung menolak, namun dua narasumber menyatakan mendukung. Ketua Dewan Penasehat MUI Jateng Ali Mufiz mengajak masayrakat untuk mengambil hikmah atas kebijakan gubernur tersebut. Ia mengajak para guru Madin dan TPQ untuk menyesuaikan diri dengan membuka Sekolah Ahad, Sekolah Alternatif, Sekolah Tematik Agama, atau semacamnya.

Mantan Gubernur Jateng ini bahkan mempersilakan Gubernur Jateng menerapkan kebijakan tersebut untuk semua sekolah. Tidak hanya untuk SMA dan SMK, melainkan juga sekalian ke SMP dan SD. Agar semua anak pulang sore hari dengan masuk lima hari sekolah.

"Sekalian diterapkan untuk semua jenjang sekolah saja. Kita menyesuaikan diri dan mengambil hikmah dari kebijakan Pak Gubernur. Toh masyarakat akan memilih pendidikan untuk anak-anaknya," tuturnya seraya menyatakan bahwa Kabupaten Sragen meminta penerapan sekolah lima hari untuk SD sampai SLTA.

Narasumber lain, Rektor Unissula Anis Malik Toha menyatakan dukungannya dengan mengatakan bahwa kebijakan Gubernur Jateng membuka peluang bagi madrasah dan TPQ untuk berimprovisasi dan inovasi. Namun ia tidak merinci seperti apa wujud improvisasi dan inovasi tersebut bagi Madin dan TPQ.

Dalam makalahnya ia hanya menuliskan, perlunya diversifikasi pendidikan diniyah secara inovatif, lalu ada formalisasi pendidikan diniyah sebagai sistem pendidikan alternatif di semua level. Lalu ada reformulasi kurikulum.

Anis menyebut madrasah diniyah sebagai tempat pendidikan agama, itu terjebak pada hegemoni budaya asing yang mendikotomikan ilmu umum dan ilmu agama. Maka konsepsi seperti itu harus diubah.

Namun pernyataannya ini diprotes Mahbub dari Grobogan. Menurutnya, menyalahkan madrasah sebagai korban hegemoni asing itu kurang bijaksana. Ia menyebut perlunya formalisasi pendidikan diniyyah sebagai sistem pendidikan alternatif di semua level.

"Madrasah itu sudah ada sejak Islam masuk di Indonesia. Menyatakan Madin terjebak hegemoni asing itu kurang bijaksana," tutur Mahbub disambut tepuk tangan hadirin.

Ketua PP RMI NU Abdul Ghoffar Rozien sendiri dalam tanggapanya mengatakan, meminta madrasah menyesuaikan diri dari kebijakan gubernur Jateng itu ibarat ada orang sudah merebut rumah, lalu disuruh membuat rumah baru.

Hingga kini, kebijakan Gubernur tersebut telah ditolak oleh beberapa Pemda. Yakni Surakarta, Kendal, Pekalongan, dan Kabupaten Semarang Serta Boyolali, Temanggung, dan Batang dan Rembang.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Nur Hadi Amiyanto yang hadir sebagai narasumber menjelaskan, kebijakan tersebut baru sebatas uji coba di SMA dan SMK negeri. Setelah satu semester akan dievaluasi. Ia mempersilakan masyarakat termasuk ulama memberi masukan dan pihaknya akan membahasnya secara mendalam.

"Kebijakan ini masih uji coba. Akan kami evaluasi setelah satu semester," tuturnya.

Pemerintah Justru yang Ikut Asing

Menanggapi kebijakan Gubernur Jateng ini, seorang alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Dawam Muallim menguraikan, dulu pada zaman Wali Songo, pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang berbasis padepokan dan pondok pesantren. Pendidikan di padepokan biasanya menitikberatkan pada pengajaran ilmu silat dan bela diri serta ilmu budi pekerti, sedangkan pendidikan di pondok pesantren biasanya juga mengajarkan ilmu silat dan bela diri namun lebih dominan pada pengajaran ilmu-ilmu agama.

Ia melanjutkan, pendidikan model seperti itu berlanjut hingga zaman Belanda, dan kebanyakan laskar perebut kemerdekaan didominasi para pendekar dan para kiai yang dibantu oleh para santri.

Belanda pun selalu kewalahan menghadapi mereka, sehingga Belanda harus memeras otak untuk menghilangkan pendidikan berbasis pondok pesantren dan padepokan. Maka Belanda membuat pendidikan tandingan yang berbasis ilmu-ilmu duniawi, namun saat itu para kyai mengharamkan penduduk pribumi belajar di sekolah Belanda.

"Penduduk pribumi saat itu masih banyak yang taat kepada fatwa kiai, sehingga selama ratusan tahun sekolahan Belanda masih sepi dari penduduk pribumi," ujar ustadz yang kini mendirikan pesantren di Kalimantan ini.

Lebih lanjut ia mengatakan, ketika Belanda masih kalah sama fatwa kiai, akhirnya penjajah melarang para bupati dan wedana menerima pegawai selain dari lulusan sekolahan Belanda.? Hal itu dilawan lagi oleh kiai dengan mengeluarkan fatwa haram bagi santri dan anak cucu kiai menjadi pegawai.

"Namun lambat laun, sekolah Belanda itu akhirnya laku juga, yang pada akhirnya mampu mengalahkan pendidikan pesantren dan padepokan.? Dan sekarang guru yang dianggap sah oleh pemerintah Indonesia adalah para guru sekolah model Belanda, sungguh kenyataan yang sangat menyedihkan," pungkasnya. (Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam AlaNu, Tegal Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 18 Desember 2017

Panitia Muktamar Sediakan Operasi Katarak Gratis

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sejumlah bhakti sosial telah disiapkan dalam rangkaian menyambut Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur awal Agustus mendatang. Di antaranya pemeriksaan mata yang dilanjutkan operasi mata secara gratis.

Panitia Muktamar Sediakan Operasi Katarak Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Panitia Muktamar Sediakan Operasi Katarak Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Panitia Muktamar Sediakan Operasi Katarak Gratis

"Operasi katarak akan digelar 23 hingga 26 April di RSUM," kata Direktur Rumah Sakit Unipdu Medika (RSUM), Zahrul Azhar Asumta, Ahad (5/4). Rumah sakit itu sendiri merupakan bagian dari Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang.

Kegiatan yang mampu menangani seribu pasien ini tidak hanya bisa diikuti warga Jombang dan kota-kota lain di Jawa Timur. "Dari luar Jawa Timur bahkan luar Jawa sekalipun juga bisa ikut," kata Gus Han, sapaan akrabnya. Hanya saja ada sejumlah persyaratan yang harus dilengkapi bagi pasien dari luar, lanjutnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Salah satunya harus menyertakan surat keterangan kesehatan dari dokter di mana salah satu poinnya mengindikasikan bahwa gula darah yang bersangkutan normal," kata pimpinan di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Rejoso ini. 

Selain itu, panitia tidak menanggung akomodasi selama menjalani operasi. "Ongkos perjalanan menuju lokasi serta penginapan selama mengikuti operasi, diserahkan kepada peserta," tandas host program safar to di Rajawali Televisi (RTV) ini.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Untuk bisa mengikuti acara yang tidak dipungut biaya sepeser pun ini sangatlah mudah. "Ada dua cara," kata Ketua PW Lembaga Kesehatan NU Jatim ini. Formulir bisa didownload di website RTV.co.id yang disediakan hingga 20 April, lanjutnya. Atau bisa langsung datang dengan mengisi data yang ada serta mengembalikannya ke RSUM secara langsung.

Kelebihan yang akan diterima pasien dari Jawa Timur adalah harus mengikuti proses screening kesehatan pada 10 hingga 11 April. "Seluruh rangkaian acara dilangsungkan sejak jam 8 pagi hingga selesai," katanya.

Tidak berhenti sampai di situ. Para pasien yang nantinya mengikuti kegiatan operasi katarak akan mendapatkan fasilitas kaca mata secara cuma-cuma. "Selain operasi mata katarak gratis, pasien juga diberi kacamata gratis," kata Pengasuh Asrama At-Tien di PP Darul Ulum ini.

Seluruh kegiatan dan fasilitas ini diberikan sebagai salah satu khidmat panitia Muktamar ke-33 NU yang diselenggarakan di Jombang. Kegiatan juga sebagai mata rangkai jelang temu alumni akbar Pondok Pesantren Darul Ulum, serta Hari UlangTahun (HUT) Rajawali Televisi yang pertama.

"Bila informasi yang disampaikan di sejumlah media termasuk pamflet atau selebaran dirasa kurang jelas, para pasien atau pihak keluarga dapat datang langsung ke RSUM, atau bisa menghubungi panitia di nomor telepon 0321 873699," katanya menyudahi perbincangan. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Hadits, AlaNu, Quote Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 26 November 2017

Ikhtiar GP Ansor Kota Bandung Ciptakan Umat Sauyunan

Sukabumi,Rohis Tegal - Rohani Islam

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung berikhtiar melakukan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya persatuan runtut raut sauyunan (damai seiring sejalan) dengan memperkuat Islam rahmatan lil alamin. Khtiar tersebut dilakukan melalui Tabligh Akbar mulai Juni hingga Desember.

Menurut Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bandung Abdul Rozak, tabligh akbar tersebut dilakukan sekali tiap bulan di tempat yang berbeda.

Ikhtiar GP Ansor Kota Bandung Ciptakan Umat Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar GP Ansor Kota Bandung Ciptakan Umat Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar GP Ansor Kota Bandung Ciptakan Umat Sauyunan

“Tema besar kegiatan tersebut adalah Islam Rahmatan lil Alamin menuju Keadilan dan Perdamaian Dunia”. Dengan tema tersebut kita akan melakukan proses penyadaran terhadap umat bahwa sejatinya Islam itu adalah rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Bukan hanya sebatas rahmatan lil muslimin,” jelasnya kepada Rohis Tegal - Rohani Islam, Ahad (5/6).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ikhtiar tersebut dilakukan karena menurut dia, situasi sekarang banyak umat awam yang mudah terprovokasi dengan isu-isu yang tak jelas.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Isu tersebut mengatasnamakan agama dan parahnya isu tersebut disinyalir akan menuju ke disintegrasi bangsa, perpecahan sesama warga.

Kita akan menjelaskan kepada umat bahwa menjadi muslim yang baik dan menjadi warga negara yang baik karena agama dan negara (nasionalisme) dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Masyarakat harus tahu jargon NU hubbul wathon minal iman, cinta negara adalah sebgian dari iman.

“Maka mari pelihara negara ini. Jangan sampai diadu domba? oleh kepentingan yang tak jelas yang selalu mengatsnamakan agama.”

Ia menambahkan pada Tabligh Akbar tersebut, GP Ansor akan mengundang penceramah kiai-kiai setempat, dari kader Ansor sendiri. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Aswaja, AlaNu Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock