Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh Nadlatul Ulama (JQHNU) menggelar seminar nasional bertajuk “Kontroversi Tilawah Langgam Nusantara”, Selasa (16/6) petang, di aula PBNU, Jakarta. Salah satu narasumber hadir dari Universitas Internasional al-Mustafa, Qum, Iran.

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Iran Hadiri Seminar Tilawah Langgam Nusantara JQHNU

Ketua Umum PP JQHNU KH Abdul Muhaimin Zain mengatakan, seminar ini diselenggarakan atas permintaan masyarakat, menyusul polemik tentang kebolehan melantunkan al-Qur’an dengan langgam Jawa sebagaimana terjadi pada peringatan Isra’ dan Mi’raj pertengahan Mei lalu di Istana Negara, Jakarta. Pihaknya sengaja mengundang pakar qira’ah asal Iran lantaran langgam qira’ah yang lazim dibaca para qari’ mayoritas berasal dari Persia atau Iran.

Sayyid Ali Rabbani, ulama Iran itu, di hadapan forum yang terdiri para mahasiswa, dosen, dan para pegiat al-Qur’an, mengatakan kontroversi ini juga pernah terjadi di negaranya, Iran. Pembacaan al-Qur’an dengan lagu bersyair mendapat simpati dari sebagian kecil ulama, meski ditolak oleh kebanyakan ulama qira’ah di sana.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Soal tilawah di luar langgam Arab, katanya, secara akal bahasa Arab atau bahasa Inggris seyogianya diekspresikan menurut bahasa Arab atau Inggris. Namun ia menggarisbawahi bahwa seorang qari sebaiknya tidak terlalu fokus pada lagu, melainkan perenungan makna dan sampainya pesan al-Qur’an kepada para pendengar.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ali Rabbani mengisi seminar bersama Kepala Lajnah Pentashih al-Qur’an Kemenag Muchlis M Hanafi, Rais Majelis Ilmi PP JQHNU KH Ahsin Sakho, dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Peserta yang berpartisipasi antara lain dari qari internasional Ustadzah Maria Ulfa, serta akademisi dari Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ) Jakarta, Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta, dan Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran "Al-Hikam" Depok.

Menurut hasil penelitiannya dari berbagai kitab klasik, Muchlis berpendapat bahwa tidak ada contoh valid pada zaman Rasulullah tentang lagu tertentu yang harus digunakan saat membaca al-Qur’an. Dengan demikian, ia meyakini langgam (nagham) datang atas kreasi umat Islam setelahnya atau bersifat ijtihadi.

Sebagaimana Muchlis, KH Ahsin Sakho setuju dengan adanya kebebasan dalam memilih lagu selama tidak menyalahi tajwid, makharijul huruf, dan kekhidmatan dalam pembacaan al-Qur’an. Baginya ini masalah sekunder karena menyangkut budaya manusia yang beragam. Yang primer dan masuk kategori ibadah adalah pembacaan al-Qur’an sesuai kaidah dan makna.

“Jadi menurut saya sah-sah saja (menggunakan langgam Nusantara), sejauh tidak ada mawani’ (penghalang) yang menyebabkan ia makruh atau haram,” ujarnya usai menayangkan video pembacaan al-Quran dari Afrika dan Saudi Arabia yang berbeda dari tujuh lagu yang lazim dibaca, yakni Bayati, Shoba, Hijaz, Nahawand, Rost, Jiharkah, dan Sikah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nusantara, Nasional, Quote Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Pembebasan Lahan Harus Utamakan Dialog

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengutuk tindakan anarkis, represif, intimidatif dan kriminalisasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun aparat keamanan kepada warga Desa Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat.?

Seperti diberitakan sebelumnya telah terjadi situasi dan ketegangan di Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka akibat pengukuran dan penggusuran yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Penggusuran dilakukan terkait dengan rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).

Pembebasan Lahan Harus Utamakan Dialog (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembebasan Lahan Harus Utamakan Dialog (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembebasan Lahan Harus Utamakan Dialog

“PB PMII mendesak Pemprov Jabar tidak menggunakan jalan pintas untuk penggusuran dengan menurunkan aparat bersenjata. Segera hentikan upaya pengukuran tanah dan penggusuran dengan cara-cara yang tidak manusiawi,” ungkap Wasekjend PB PMII Athik Hidayatul Ummah melalui rilis yang diterima Rohis Tegal - Rohani Islam, Ahad (20/11).

Athik menyebutkan, PB PMII mendorong pemerintah untuk mengkaji kembali upaya ganti rugi dan relokasi untuk warga. Program pemerintah harus pro-rakyat dan membela kaum miskin.

“Selama ini dalam pengamatan kami, banyak program pembangunan yang hanya menguntungkan para pemilik modal dan elit penguasa. Pemerintah hendaknya memikirkan dampak-dampak yang akan ditanggung oleh warga, jangan biarkan rakta semakin menderita dan sengsara,” tambah Athik.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Oleh karena itu, PB PMII mendesak Pemprov Jabar untuk bertanggungjawab atas trauma yang dialami oleh ibu-ibu, prempuan dan anak-anak akibat upaya penggusuran. PB PMMI mendorong pemerinta untuk segera menurunkan tim trauma healing untuk membantu mereka.

PB PMII juga mendesak baik kepada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk tidak melakukan tindakan semen-mena kepada warga dalam upaya pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur.?

“Warga akan menerima dengan lapang jika proses musyawarah, komunikasi, dan sosialiasi dilakukan derngan prosedur yang benar. Jadi pembebasan lahan harus mengedepankan dialog,” tegas Athik. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam Sejarah, Nusantara, AlaNu Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 22 Januari 2018

Mahasantri di Tiga Kampus Ini Adakan Semarak Ramadhan Sebulan Penuh

Probolinggo, Rohis Tegal - Rohani Islam. Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1438 H, Pondok Mahasiswa (Pomas) di lingkungan Pondok Pesantren Nuru Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mengadakan kegiatan Semarak Ramadhan, Jumat (26/5). Selanjutnya kegiatan ini akan dilakukan selama Ramadhan.

Ketua Pomas Ahmad Fawaid mengungkapkan bahwa Pomas Nurul Jadid yang seluruh santrinya berasal dari 3 (tiga) perguruan tinggi di pesantren, meliputi IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid dan STIKes Nurul Jadid menyatukan kegiatan relegiusnya menyatu.?

Mahasantri di Tiga Kampus Ini Adakan Semarak Ramadhan Sebulan Penuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasantri di Tiga Kampus Ini Adakan Semarak Ramadhan Sebulan Penuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasantri di Tiga Kampus Ini Adakan Semarak Ramadhan Sebulan Penuh

Seperti Ngaji bareng pengasuh KH Zuhri Zaini, program pengembangan peminatan, shalat Tahajjud bersama dan kegiatan yang sifatnya sesuai dengan karakter santri mahasiswa. Intinya, kegiatan ini dikemas dengan berbagai kegiatan keagamaan, ubudiah dan ilmiah,” katanya.

Sementara Pembina Pomas Ustadz Faizin Samweil menuturkan bahwa aktivitas perkuliahan pada bulan suci Ramadhan diliburkan dan diganti dengan kegiatan yang berpusat di Pomas Nurul Jadid yang dikemas sedemikian rupa.

“Mudah-mudahan berbagai kegiatan Pomas Nurul Jadid ini bisa semakin meningkatkan rasa keimanan dan ketaqwaan para mahasiswa kepada Allah SWT. Sehingga nantinya benar-benar menjadi mahasiswa yang memiliki bekal akhlak dan budi pekerti yang baik,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nusantara, Pahlawan Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 17 Januari 2018

Hilal Tidak Terlihat, PCNU Bojonegoro Ikuti Pemerintah

Bojonegoro, Rohis Tegal - Rohani Islam. Badan Hisab Rukyat Bojonegoro dalam rukyatnya di bukit desa Wonocolo kecamatan Kedewan kabupaten Bojonegoro, Jumat (27/6), tidak menyaksikan bulan. Karenanya, PCNU Bojonegoro mengikuti pemerintah dalam penentukan satu Ramadhan yang jatuh pada Ahad (29/6).

Wakil Sekretaris PCNU Bojonegoro Mazroi Alwi mengatakan, "PCNU Bojonegoro akan mengikuti pemerintah dalam menentukan awal Ramadhan."

Hilal Tidak Terlihat, PCNU Bojonegoro Ikuti Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Tidak Terlihat, PCNU Bojonegoro Ikuti Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Tidak Terlihat, PCNU Bojonegoro Ikuti Pemerintah

Kegiatan rutin menjelang Ramadhan dan Syawal itu, juga dihadiri perwakilan kabupaten Ngawi, Magetan, Ponorogo dan Madiun. Tampak hadir Kementrian Agama, MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Pemkab Bojonegoro.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Seorang anggota tim Badan Hisab Rukyat Bojonegoro M Tuhri mengatakan, upaya melihat bulan sebagai penentuan awal Ramadhan sudah dilaksanakan. "Hasilnya, bulan tidak terlihat," ujar Tuhri yang juga pengurus NU Bojonegoro.

Menurutnya, kalau melihat bulan posisi di selatan matahari dengan ketinggian bulan sekarang ini 31 menit busur sama dengan dua menit jam. Pasalnya bulan kelihatan, dengan ketinggian dua derajat. "Setelah ini dilaporkan ke pusat, untuk ikut sidang isbat," sambungnya kepada Rohis Tegal - Rohani Islam usai melakukan rukyat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Lokasi ini merupakan salah satu dari 63 tempat rukyat resmi di Indonesia," terang Kepala Kemenag Bojonegoro A Munir.

Pemkab Bojonegoro dalam waktu dekat akan membeli lahan warga yang dijadikan lokasi resmi rukyat pemerintah. Di atas lahan ini untuk selanjutnya akan dibangun secara permanen agar dapat dimanfaatkan. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nusantara Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 01 Januari 2018

1 Tahun di Bawah Ade-Darmaji, Pemkot Banjar Boros Anggaran

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. PMII Kota Banjar merilis hasil kajian perihal wajah APBD Kota Banjar tahun Anggaran 2014. Ketua Kajian Kebujakan Publik PMII Kota Banjar Wahidan melihat Walikota Ade dengan Wakilnya Darmaji melakukan pemborosan pada tahun 2014 terutama penganggaran yang terlalu besar untuk pengadaan dan pemeliharaan kendaraan dinas kota dibandingkan aliran untuk sektor pertanian.

Wahidan menyampaikan sejumlah perbandingan angka penganggaran APBD Kota Banjar dalam diskusi bertajuk "Mengupas Satu Tahun Kepemimpinan Ade-Darmaji" di Sekretariat PMII jalan Cibeureum, Sukamaju, desa Mulyasari, Selasa (2/12).

1 Tahun di Bawah Ade-Darmaji, Pemkot Banjar Boros Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)
1 Tahun di Bawah Ade-Darmaji, Pemkot Banjar Boros Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)

1 Tahun di Bawah Ade-Darmaji, Pemkot Banjar Boros Anggaran

Pemerintah Kota Banjar menganggarkan 8.486.757.350 untuk 57 unit pengadaan kendaraan dinas dari seluruh SKPD, dengan rincian antara lain DPRD sebesar 1.035.000.000, sekretariat daerah 5.043.200.000, dinas PU 570.000.000, DCKLH 600.000.000, termasuk pengadaan kendaraan dinas 1 unit untuk institusi KORPRI sebesar 179.235.000.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sedangkan untuk total belanja langsung yang menyangkut publik di sektor pertanian hanya sebesar 7.712.616.362.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Perbandingan ini cukup menyakitkan. Banjar menjadi kota agropolitan tampak hanya isapan jempol. Jika kendaraan dinas yang sudah ada masih layak pakai seperti mobdin untuk pimpinan DPRD, kenapa mesti beli yang baru? Pemborosan. Ini akan berdampak pada pembengkakan biaya pemeliharaan kendaraan dinas di anggaran tahun berikutnya,” kata Wahidin yang kini diamanahkan sebagai Bendahara PMII Banjar.

Meskipun secara aturan tidak bermasalah, tetapi secara moral ini patut dipertanyakan, kata Wahidan.

Belum lagi besaran pos anggaran pemeliharaan rutin kendaraan dinas yang mencapai 6.067.661.071. jumlah itu jauh melampaui anggaran pengadaan obat dan perbekalan kesehatan yang hanya dianggarkan sebesar 2.151.700.496.

"Ini menggambarkan pemkot lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan di sektor pertanian maupun kesehatan," kata Wahidan dalam rilisnya kepada Rohis Tegal - Rohani Islam.

PMII Kota Banjar meminta Pemkot Banjar untuk memangkas secara signifikan anggaran pemeliharaan kendaraan dinas pada APBD ? tahun anggaran berikutnya. PMII juga mendesak Pemkot untuk mengurangi anggaran-anggara yang irasional.

Program yang bersifat seremonial harus dialihkan untuk kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

"Pemkot harus memahami cara penggunaan APBD yang efisien, efektif dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan rakyat. Jangan terlalu memanjakan pejabat dengan memberikan kenadaraan dinas tiap tahun, prinsip transparansi juga kewajiban mutlak pemkot," tutupnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nusantara, Tegal, Halaqoh Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 30 Desember 2017

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam
Selama ini, sejarah tentang NU lebih banyak ditulis oleh para peneliti dari kalangan non NU, para orientalis dan pengikutnya. Dalam pandangan mereka, NU dicitrakan sebagai organisasi yang bersifat Jawa yang oportunis, koservatif serta agraris yang tidak rasional. Keadaan ini perlu dirubah dengan melakukan perubahan paradigma penulisan sejarah NU yang dilakukan kalangan sendiri yang bisa mencitrakan NU sesuai dengan apa adanya dengan data serta argumen yang memadai.

Lembaga Ta’lief Wan Nasr (LTN NU) atau Lembaga Penelitian dan Pengembangan Informasi NU mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya di daerah Minang, Sunda dan Sasak di Gd. PBNU (22/8). Penelitian merupakan upaya untuk melihat sejarah NU dari sudut pandang orang NU sendiri. Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut Enceng Sobirin, Abdul Aziz Ahmad, Mun’im Dz, dan Adnan Anwar

“Walaupun dianggap tradisional, tetapi NU punya daya tahan sehingga bisa terus berkembang, ketika organisasi serupa sudah berguguran. Kekuatan itu tidak pernah diteliti, hanya kelemahan saja yang dicari,” tandas Ketua LTN NU Mun’im Dz (22/8).

Penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke daerah-daerah tersebut lebih memfokuskan pada dinamika internal, yaitu bagaimana para tokoh NU mencitrakan dirinya serta memaknai tindakannya serta menjelaskan argumennya sesuai dengan rasionalitas kaum nahdliyyin.

“Dengan pendekatan tersebut berbagai data bisa ditemukan, berbagai informasi didapatkan, beberapa pengalaman para tokoh dan saksi bisa diungkapkan dan dijadikan sumber utama penulisan,” tambahnya.

Dengan adanya sumber alternatif ini, buku babon tentang NU yang sudah dianggap klasik hanya dijadikan sumber sampingan, bahkan tidak sedikit yang terpaksa dibuang, diganti dengan sumber yang lebih orisinil dan lebih valid. Dengan cara demikian, citra NU bisa ditampakkan dan NU luar Jawa yang selama ini diabaikan juga bisa diperlihatkan eksistensi dan pengaruhnya terhadap NU Indonesia.

Budaya NU memiliki keragaman yang luas sesuai dengan lokalitasnya masing-masing. Dimanapun, baik di Jawa maupun luar Jawa, NU memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan diri dengan budaya lokal.

Di Sumatra Barat, NU berinteraksi erat dengan Perti, sementara di Sumatra Utara memiliki kesamaan cultural dengan jam’iyah Al Washiliyah. Di Sunda NU beraliansi dengan Mathla’ul Anwar sedangkan di NTB dengan Nahdlatul Wathon. Demikian juga, di Sulawesi bahu-membahu dengan Al-Khairat.

Mun’im yang juga peneliti di LP3Es tersebut menjelaskan selama berada di tiga daerah tersebut, para pimpinan NU lokal memberi sambutan yang luar biasa dengan memberikan data dan waktunya. Selama ini mereka sendiri kurang faham tentang sejarah NU di lingkungannya, bahkan banyak diantara tokohnya yang malah menulis sejarah tokoh dari ormas lainnya.

Hasil penelitian ini akan terus disempurnakan, baik dengan melakukan penelitian lebih lanjut atau mengundang para ahli untuk berdiskusi. Jika sudah dianggap memadai, penelitian ini akan diterbitkan dalam bentuk buku.(mkf)

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Tokoh, Nusantara Rohis Tegal - Rohani Islam

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah (Sumber Gambar : Nu Online)
Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah (Sumber Gambar : Nu Online)

Paradigma Penulisan Sejarah NU Perlu Dirubah

Kamis, 28 Desember 2017

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Oleh Candra Malik

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illalaahu, Allahu Akbar. Allahu Akbar, wa lillaahil hamdu.

Gelombang ribuan malaikat selalu bertawaf dan shalat di Baitul Makmur di langit ketujuh. Ketika diperjalankan Allah dalam Isra Mikraj, Muhammad SAW berjumpa dengan Ibrahim AS di Rumah Allah yang diyakini segaris lurus dengan Kabah di Makkah itu. Sementara, lautan manusia bertawaf di Baitullaah di Tanah Haram.

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Namun, Hamzah Fansuri, penyair Sufi dari Barus yang berada di bawah pendudukan Kasultanan Aceh pada kurun 1524-1668, memiliki sentuhan keindahan tersendiri mengabadikan kerinduannya pada Allah. Ia meyakini “kediaman” Allah tak jauh, yakni dalam hati manusia. Sebab, Tanah Haram bersemayam di hati insan beriman.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah

Mencari Tuhan di Bait al-Kabah

Dari Barus ke Qudus terlalu payah

Rohis Tegal - Rohani Islam

Akhirnya dapat di dalam rumah

Pengarang kitab Syarab al-Asyiqin (Minuman Pecinta yang Birahi) ini memberi pengaruh besar tidak hanya di semesta kesufian di tanah air. Ia juga menjadi rujukan penting di dunia kesusastraan hingga sekarang. Jika berbicara tentang Sastra Indonesia, niscaya kita tak bisa lepas dari Sastra Nusantara, termasuk Sastra Melayu.

Ketika percakapan sampai pada Sastra Indonesia, A. Teeuw mencatat Muhammad Yamin, yang kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh penting Sumpah Pemuda 1928 dan pendiri bangsa Indonesia, sebagai peletak tonggak. Sajaknya berjudul Bahasa, Bangsa pada 1921 dianggap membuka sastra Indonesia modern.

Selagi kecil berusia muda,

Tidur di anak di pangkuan bunda,

Ibu bernyanyi, lagu dan dendang

Memuji si anak banyaknya sedang;

Berbuai sayang malam dan siang

Buaian tergantung di tanah moyang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri

Diapit keluarga kanan dan kiri

Besar budiman di tanah Melayu

Berduka suka, sertakan rayu;

Perasaan serikat menjadi padu

Dalam bahasanya, permai merdu.

Meratap menangis bersuka raya

Dalam bahagia bala dan baya;

Bernafas kita pemanjangkan nyawa

Dalam bahasa sambungan jiwa

Di mana Sumatra, di situ bangsa,

Di mana Perca, di sana bahasa.

Andalasku sayang, jana bejana

Sejakkan kecil muda teruna

Sampai mati berkalang tanah

Lupa ke bahasa, tiadakan pernah

Ingat pemuda, Sumatra malang

Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Sungguh benar perkataan M. Yamin dalam puisi itu bahwa tiada bahasa, bangsa pun hilang. Oleh karena itu, saya bahagia menyambut gagasan para santri Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur ini. Gerakan Menulis Serentak 1.111 Sajak adalah gerakan kesadaran yang selayaknya diapresiasi dan didukung.

Gerakan dari dalam pesantren ini dapat membawa efek puncak gunung es jika digelindingkan. Apalagi, tak dapat dipungkiri, sastrawan Muslim dicatat sejarah mengoreskan pena kepenyairan. Dari Hamzah Fansuri hingga Nuruddin al-Raniri, dari Raja Ali Haji sampai Hamka. Dari Chairil Anwar hingga Acep Zamzam Noor. Dari Sunan Bonang sampai Raden Ronggowarsito. Dari Sutan Takdir Alisyahbana sampai Ahmad Mustofa Bisri. Dari H.B. Jassin hingga Emha Ainun Nadjib. Dari Asrul Sani sampai Mahbub Djunaidi. Dan, masih banyak lagi nama besar penyair Muslim, atau yang lebih khusus lagi dapat disebut sebagai penyair santri.

Nama Ronggowarsito yang abadi sebagai pujangga besar pun ternyata adalah santri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur, yang didirikan oleh Kiai Besar Hasan Besari pada awal abad 18. Salah satu dari sekian banyak syair yang ditulis Raden Mas Burham, nama kecil Ronggowarsito, adalah Serat Kalatidha.

?

Petikan:

Amenangi jaman edan

Ewuhaya ing pambudi

Melu ngedan ora tahan

Yen tan milu anglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah kersa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih bedja kang eling klawan waspada

Terjemah Bebas:

Menyaksikan zaman gila

Serba susah dalam bertindak

Ikut gila tidak akan tahan

Tapi kalau tidak mengikuti (gila)

Tidak akan mendapat bagian

Kelaparan pada akhirnya

Namun telah menjadi kehendak Allah

Seberuntung-beruntungnya orang yang lalai

Lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Sastrawan Ahmad Tohari dalam sejumlah kesempatan mendorong kalangan pesantren untuk melahirkan kembali penyair-penyair unggulan. Penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang mengasuh Pesantren Al Falah di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah ini terus mendorong tumbuh dan berkembangnya sastra Islam.

Tema tasawuf yang disarikan dari kandungan Al-Quran memang tidak pernah kering menginspirasi. Kitab Jatiswara yang berangka tahun Jawa 1711 hingga gubahannya, yaitu Suluk Tambangraras atau populer disebut Serat Centhini, yang berangka tahun 1742 (sekira 1814 Masehi), pun meneguhkan khazanah tasawuf itu.

Bagi masyarakat pesantren, yang sehari-hari bergaul dengan ilmu alat, yang salah satunya adalah balaghah, selayaknya sastra diyakini sebagai pena bertinta emas yang dengannya kalam-kalam indah dan berderajat adiluhung dapat diciptakan. Sastra santri patut ditumbuhkembangkan.

Terlebih, sejak 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, kita perlu mendorong sastra santri sebagai perwujudan dari Resolusi Jihad. Penjajahan sesungguhnya adalah penjajahan terhadap bangsa. Dan, seperti yang disajakkan oleh Muhammad Yamin: tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Kami lahir di Indonesia

minum airnya menjadi darah kami

Kami makan beras dan buah-buahan Indonesia menjadi daging kami

Kami menghirup udara Indonesia menjadi nafas kami

Kami bersujud di atas bumi Indonesia

Berarti bumi Indonesia adalah Sajadah kami

Bila tiba saatnya kami mati

Kami akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia

Syair karya KH Zawawi Imron, Penyair "Celurit Emas" dari Madura ini adalah konfirmasi betapa wajib kita sendiri yang menyelamatkan bangsa dan bahasa Indonesia. Dan dengan puisi, kata Kiai Zawawi, kita dapat kembali menjadi putra ibu dan sekaligus putra bangsa dan tanah air dengan kesadaran penuh.

Selamat bertumbuh, sastra santri.

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1437 H, 12 September 2016

Candra Malik, sastrawan sufi, Wakil Ketua Lesbumi PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Nusantara Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock