Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Mengapa Polisi Dijadikan Sasaran Bom Bunuh Diri?

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Kepolisian diduga menjadi tujuan operasi bom bunuh diri yang meneror Jakarta semalam, Rabu (24/5). Terbukti dengan pemilihan lokasi yang berada di tempat polisi berjaga di Halte Kampung Melayu dan menewaskan 2 korban dari pihak aparat.?

Terkait teror ini Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Tsaquf, menilai bahwa serangan ini sengaja untuk merusak ketertiban sosial.

"Polisi adalah ujung tombak pemeliharaan tertib sosial. Karena tertib sosial dikerangkai dengan hukum dan polisi berdiri tepat di pagar-pagarnya. Kalau polisi rontok, itu adalah awal dari rontoknya hukum yang berarti juga rontoknya tertib sosial," tuturnya.

Mengapa Polisi Dijadikan Sasaran Bom Bunuh Diri? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Polisi Dijadikan Sasaran Bom Bunuh Diri? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Polisi Dijadikan Sasaran Bom Bunuh Diri?

Lebih lanjut, menurut beliau, kalau gerakan radikal Islam berhasil sampai tahap ini, langkah berikutnya tinggal mengganti dengan kekuatan paksa fisik punya mereka. Inilah transformasi strategi mutakhir gerakan radikal. Ketimbang meneror masyarakat luas yang susah ditakut-takuti, mendingan fokus meneror polisi.?

"Kalau polisi bisa dibikin takut keluar ke jalanan, takut menjalankan tugas, kalau ruang-ruang publik disterilkan dari polisi, masyarakat tinggal kumpulan ternak yang bingung. Tertib sosial kehilangan pagar. Itulah saatnya serigala-serigala menghambur menerjang," tambahnya.?

Beliau pun memberikan pertanyaan penting, sebenarnya, apa inti gagasan radikalisme Islam? Melawan tertib sosial yang ada saat ini. Mengapa? Karena mereka anggap dholim, tidak Islam, thoghut dan seterusnya. Mau mereka apa? Meruntuhkan tertib sosial yang ada ini untuk diganti dengan konstruk yang mereka teorikan berdasarkan imajinasi mereka tentang kejayaan politik Islam di masa lalu. (Dedik Priyanto/Mahbib)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Berita, Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 09 Februari 2018

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Selama tiga minggu, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri Jawa Timur meneliti pengelolaan keuangan di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT Jombang. Mereka yang berjumlah lima orang ini ingin mempraktikkan sejumlah pengetahuan yang telah diraih selama berada di kampus.

"Kami dari Fakultas Syariah Program Studi Ekonomi Syariah," kata Krisna Winata Putra, pimpinan kelompok tersebut saat dikonfirmasi Rohis Tegal - Rohani Islam, Rabu (11/2).

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Para mahasiswa sejak tanggal 9 hingga 28 Februari mendatang akan meneliti lebih dekat bagaimana LSPT mendapatkan dana sosial dari para donatur, pengadministrasian, penyaluran dana untuk kegiatan sosial, hingga pelaporan kepada khalayak.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Para peserta juga terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan LSPT, khususnya saat memberikan santunan kepada sejumlah kalangan," kata Krisna, sapaan akrabnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Seperti pada kegiatan penyaluran bantuan. Bersama salah seorang pengurus, mereka diikutkan kegiatan penyaluran paket susu formula kepada masyarakat. "Kami menyaksikan, bantuan ini tidak semata diberikan kepada kalangan muslim, juga masyarakat yang beragama lain," tandas mahasiswa kelahiran Kediri ini. Bagi para mahasiswa, apa yang dilakukan LSPT adalah cerminan rasa solidaritas membantu masyarakat kurang mampu dengan tanpa membedakan agama dan keyakinan, lanjutnya.

Keterlibatan dengan kegiatan LSPT juga mereka rasakan saat pemberian santunan kepada para 200 fakir miskin dan kaum dluafa di Masjid Ulul Albab yang berada di lingkungan Pesantren Tebuireng. Selama acara berlangsung, para mahasiswa ikut dalam kegiatan shalat dhuha berjamaah, mendengarkan mauidhah hasanah, pemberian santunan dan layanan kesehatan secara gratis.

Bagi mahasiswa semester 6 ini, pengalaman mengikuti sejumlah kegiatan LSPT merupakan hal menarik dan berharga. "Hal ini juga menjadi pembanding dengan ilmu yang selama ini kami peroleh di kampus," ungkapnya.

Meskipun belum genap semingu terlibat dalam kegiatan LSPT, para mahasiswa merasa bahwa secara umum pengelolaan keuangan di lembaga sosial ini lumayan baik. "Apalagi kami dibantu dengan keterbukaan informasi yang disampaikan pengurus," katanya. Keberadaan majalah dan website juga menjadi sarana dalam menyampaikan informasi keadaan keuangan yang masuk serta digunakan sejumlah kegiatan, lanjutnya.

Waktu 3 minggu akan benar-benar dioptimalkan para mahasiswa untuk mendapatkan gambaran pengelolaan administrasi dan keuangan LSPT. "Kami juga akan memberikan saran serta masukan kepada lembaga ini sesuai dengan ilmu yang telah kami dapatkan selama kuliah," pungkas Krisna. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Humor Islam, Lomba Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 05 Februari 2018

GP Ansor Surabaya Kecam Keras Tindakan Zionis Israel di Palestina

Surabaya, Rohis Tegal - Rohani Islam - Gerakan Pemuda Ansor Kota Surabaya mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Israel terhadap kaum Muslimin di Palestina, tepatnya di Kompleks Masjid Al-Aqsha pada Jumat (21/7) kemarin.

Menurut Ketua GP Ansor Surabaya M Farid Afif, tindakan Israel ini merupakan tindakan keji yang harus dilawan dan tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), termasuk pembunuhan terhadap jamaah yang berupaya menjalankan haknya untuk melakukan ibadah di Masjid Al-Aqsa.

GP Ansor Surabaya Kecam Keras Tindakan Zionis Israel di Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Surabaya Kecam Keras Tindakan Zionis Israel di Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Surabaya Kecam Keras Tindakan Zionis Israel di Palestina

"Ini merupakan tindakan keji yang harus dilawan. Mereka membunuh umat Islam yang berupaya menjalankan haknya untuk melakukan ibadah di Masjid Al-Aqsha," tegas Afif.

Rohis Tegal - Rohani Islam

GP Ansor Surabaya juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk meminta Dewan Keamanan PBB agar mengusut tuntas tindak kekerasan terorisme di wilayah Al-Quds.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Organisasi Kerja sama Islam (OKI) juga perlu dilibatkan agar dapat segera melakukan pertemuan darurat membahas situasi di kompleks Al-Aqsa," lanjut pria yang kerap di sapa Gus Afif.

GP Ansor Kota Surabaya mengajak semua pihak untuk menahan diri agar situasi tidak memburuk. Gus Afif menyerukan kader Ansor di Surabaya untuk mendoakan keluarga dan korban agar diberi kemenangan dalam menghadapi Israel.

"Kami mengimbau seluruh kader Ansor Surabaya untuk berdoa demi keselamatan dan kemenangan umat Islam di Palestina," kata Ketua GP Ansor Surabaya masa khidmat 2017-2021.

Perlu diketahui, aksi brutal Israel ini setidaknya menewaskan tiga orang jamaah dan ratusan lainnya luka-luka ketika sedang melaksanakan shalat Jumat di masjid yang kali pertama menjadi kiblat bagi umat Islam di dunia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Humor Islam, Lomba Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 03 Februari 2018

Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar

Bandung, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Jawa Barat menggelar ragam pagelaran seni budaya di halaman kantor PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung, KOta Bandung, Jabar, Sabtu (21/6) malam ini.

Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragam Pagelaran Seni Semarakkan Pelantikan Lesbumi Jabar

Ragam seni dalam rangka pelantikan Lesbumi Jabar ini, di antaranya menyajikan penampilan alat musik tiup khas Sunda, karinding, dari murid-murid SMP Maarif Bandung.

Turut memeriahkan juga aksi baca puisi oleh para seniman Bandung, di antaranya Iman Soleh, kemudian pidato kebudayaan oleh KH Maman Imanulhaq.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kegiatan tersebut akan ditutup dengan pagelaran wayang golek dengan dalang Dede S Sunandar Sunarya. Ia akan membawakan lakon Budak Buncir diiringi dengan kacapai suling.

Sebelumnya, pagi, diadakan bedah buku Baban Kana karya Kh Zamzami Amin. Buku tersebut menceritakan peristiwa perang kedongdong di daerah cirebon. Selepas dhuhur diadakan upgrading seni budaya untuk menyamakan persepsi antara agama dan budaya.

Diskusi yang dipandu Ketua PW Lesbumi Jabar, Widodo Abidarda, tersebut mendaulat M Noh, mantan Rektor Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, sebagai pembicara. Hadir pada kesempatan itu, Dinaldo, salah seorang pengurus PP Lesbumi. (Abdullah Alawi)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Doa, Fragmen, IMNU Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 29 Januari 2018

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan

Pekalongan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pekalongan akan mengawali program barunya dengan meresmikan radio komunitas Aswaja yang berjalur FM dengan kanal 107.8 M.Hz.

Acara peresmian Radio Aswaja dibarengkan dengan pembukaan Muskercab dan Pelantikan PCNU Kota Pekalongan Jumat (22/2) di Gedung Aswaja Pekalongan.

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Aswaja FM Pekalongan Siap Diluncurkan

Pilihan radio sebagai upaya untuk mensinergikan program program dari lembaga dan lajnah yang memerlukan media agar bisa sampai di tengah tengah warga NU di Kota Pekalongan yang cukup banyak.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Ahmad Rofiq mengungkapkan, biaya radio cukup murah juga masih sanggup bersaing dengan media televisi, koran maupun internet.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Dengan radio, berbagai program informasi dan pesan pesan keagamaan bisa sampai kepada masyarakat yang nantinya akan dikemas dengan baik sehingga pendengar tidak bosan," ujarnya.

Dikatakan, sebagai radio komunitas, Aswaja FM akan berusaha semaksimal mungkin dikelola secara profesional, sehingga pendengar tidak jenuh dan justru lebih terhibur dengan informasi informasi pendidikan dan dakwah dengan kemasan yang lebih menarik.

"Saya sudah punya beberapa tenaga ahli yang bisa mengelola radio Aswaja FM dan kesemuanya merupakan kader kader NU pilihan," ujar Rofiq perihal siapa yang akan mengelola radio.

Bertempat di komplek Gedung Aswaja Pekalongan, beberapa acara unggulan sudah disiapkan oleh pengelola radio antara lain, ngaji kitab kuning, tausiyah kiyai, membedah ahlus sunnah wal jamaah dan program dialog masalah rumah tangga, kesehatan, pendidikan dan santri bertanya kiyai menjawab dengan nara sumber yang cukup mumpuni.

Namun demikian, pada dua bulan pertama baru akan diluncurkan dengan lagu lagu saja, sedangkan siaran resminya baru akan dimulai pada April atau Mei mendatang.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 27 Januari 2018

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS

Tarim, Rohis Tegal - Rohani Islam. Untuk merespon kehadiran Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) yang menggemparkan media massa akhir-akhir ini Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman bekerja sama dengan Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Al-Ahgaff mengadakan acara Bahtsul Masail Diniyyah Waqi’iyyah.

Acara yang bertempat di Auditorium Fakultas Syariah wal Qanun, Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Senin (9/8), tersebut diikuti sejumlah organisasi mahasiswa Indonesia di Hadhramaut, Yaman. Sekitar 70 delegasi pelajar hadir menyemarakkan acara.

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS

Dalam forum tersebut, ada beberapa persoalan yang dibahas peserta bahtsul masail. Di antaranya tentang status pembaiatan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pemimpin ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria), dan hukum memberi dukungan kepada kelompok tersebut baik secara materi atau tenaga.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pembahasan yang berlangsung selama kurang lebih empat jam itu telah memutuskan bahwa khalifah adalah wakil umat yang diberi kepercayaan oleh umat melalui baiat. Hal ini tidak terwujud secara realita dan syar’i kecuali dengan persetujuan seluruh umat atau melalui wakil-wakil mereka yang disebut sebagai ahlul halli wa al aqdi.

Forum menilai deklarasi sebuah kelompok saja tidaklah cukup untuk mengangkat khalifah. Dengan demikian, deklarasi khilafah oleh kelompok ISIS tidak memenuhi syarat. Sehingga tidak ada keharusan bagi umat Islam untuk berbaiat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Selanjutnya, forum menyatakan bahwa deklarasi khilafah oleh kelompok ISIS dilakukan tanpa musyawarah dengan umat Islam. Dan ini tidak sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umar Ibn Khattab, “Siapa yang membaiat seseorang tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin, maka tidaklah Ia dibaiat dan tidak pula orang yang membaiatnya dikhawatirkan keduanya akan dibunuh". (HR. Bukhori).

Jelaslah bahwa pembaiatan Imam ISIS tidak bisa disahkan secara hukum, dan tidak boleh hukumnya membaiat mereka. Selain tidak sah dari sisi syariat, langkah perjuangan yang mereka tempuh dinilai sangat ekstrem, seperti membunuh sesama muslim dan menghancurkan situs-situs makam para Nabi.

Membaiat mereka berarti mengucapkan janji setia dan siap menolong serta membantu mereka. Membantu ISIS berarti membantu dalam kemaksiatan dan kezaliman, dan saling membantu dalam berbuat dosa dan pelanggaran hukumnya haram, sebagaimana firman Allah swt. dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 2.

Di akhir acara, forum ilmiah yang dipimpin Zadit Taqwa menulis surat pernyataan resmi atas nama pelajar Indonesia di Hadhramaut yang berisi penegasan bahwa ISIS adalah gerakan transnasional yang bisa mengancam keutuhan NKRI.

Hal tersebut karena ISIS menginstruksikan warga muslim dunia untuk membaiat khalifah yang diangkatnya, di tengah-tengah kondisi sosio-politik mayoritas negeri Islam yang telah memiliki pemimpin secara resmi dalam sistem negara bangsa. Karenanya, pelajar Indonesia di Hadhramaut menuntut pihak pemerintah dan semua elemen masyarakat untuk tegas dan pro aktif menangkal gerakan semacam ini. (Ahmad Thohirin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Warta, Fragmen, Quote Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 16 Januari 2018

RMI NU Jatim Gelar Pelatihan Penggalangan Dana Pesantren

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pimpinan Wilayah Rabithah Mahadil IslamiyahNahdlatul Ulama (PW RMI NU) Jawa Timur ? bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar Pelatihan Penggalangan Dana (Fundraising) Pesantren. Kegiatan yang ? berlangsung Jum’at-Sabtu, (16-17/1) tersebut ? bertema Pemberdayaan Pesantren melalui Fundraising Berbasis Kompetensi dan Usaha Pesantren di Aula Yayasan Ponpes Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Jawa Timur.

RMI NU Jatim Gelar Pelatihan Penggalangan Dana Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI NU Jatim Gelar Pelatihan Penggalangan Dana Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI NU Jatim Gelar Pelatihan Penggalangan Dana Pesantren

Gus Reza, Ketua PW RMI NU Jawa Timur berharap, peserta yang ikut dalam kegiatan ini bisa mempraktikan ilmu yang di dapat dan juga mengciptakan fundraising ? program di pesantrennya ? masing-masing sehingga dapat bermanfaat untuk sesama.

Sementara itu, Mulyono, salah satu peserta yang juga Ketua HIPSI Jombang menuturkan, dari kegiatan ini kita jadi tahu bagaimana cara menggalang dana melalui media, pendekatan komunikasi dengan donatur, cara mempersiapkan presentasi dan negosiasi yang maksimal, dan cara mengetahui karakter donor/donatur.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Selain itu, bagaimana cara menggalang dana perusahaan, dan cara menyusun perencanaan strategis untuk fundraising, ini merupakan ilmu yang jarang kita dapatkan di sekolah ataupun di kampus,” tutur Mulyono.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Acara yang ? dipandu dari tim tutor Sekolah Fundraising PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) dihadiri sekitar 50 peserta yang terdiri dari pesantren-pesantren di wilayah Jawa Timur. (Anwar Muhammad/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 12 Januari 2018

Pesantren Al-Muayyad Gelar Siberkreasi

Surakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam - Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta menggelar kegiatan bertajuk “Siberkreasi Goes to Pesantren”, Kamis (23/11). Kegiatan yang dihelat di kompleks pondok tersebut menghadirkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

Panitia acara Ferry Indar Ardiansyah menerangkan ada tiga agenda besar pada kegiatan Siberkreasi ini. “Pertama, diskusi kiat syiar online via blog dan media sosial kerjasama antara Al-Muayyad dengan AIS, yang berisikan strategi optimalisasi pemanfaatan media sosial untuk syiar Islam,” terang Ferry.

Pesantren Al-Muayyad Gelar Siberkreasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Muayyad Gelar Siberkreasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Muayyad Gelar Siberkreasi

Agenda kedua adalah workshop UMKM goes online untuk pengembangan UMKM baik masyarakat maupun alumni pondok Al-Muayyad. “Terakhir ada dialog Netizen Asik dengan menghadirkan Menkominfo Rudiantara,” imbuhnya.

Ditambahkan Ferry kegiatan ini juga diharapkan dapat mengedukasi masyarakat dan komunitas, khususnya dalam menggunakan internet dan media sosial.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam acara dialog dengan santri Menkominfo Rudiantara mengajak santri untuk menggunakan internet dengan positif, dan juga harus berkreasi yang baik.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Soal pemakaian gawai di pesantren diperbolehkan tentu mengikuti aturan disiplin ketika di dalam pondok," kata Rudiantara.

Kegiatan Siberkreasi dimulai sejak pagi, dan berakhir hingga sore. Acara ini diikuti santri Al-Muayyad dan para pemilik UMKM. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam AlaSantri, Kajian Sunnah, Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 05 Januari 2018

LAZISNU Salurkan Zakat Bank Mega Syariah 1 M

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dipercaya untuk menyalurkan zakat perusahaan dari Bank Mega Syariah dengan total 1 miliar rupiah.

Menurut Direktur Eksekutif? PP Lazisnu? H. Amir Maruf, penyerahan zakat tersebut secara simbolis diberikan oleh Direktur PT. Bank Mega Syariah Ir. Marjana, MBA kepada LAZISNU yang diwakilinya.

LAZISNU Salurkan Zakat Bank Mega Syariah 1 M (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Salurkan Zakat Bank Mega Syariah 1 M (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Salurkan Zakat Bank Mega Syariah 1 M

Zakat perusahaan itu, kata Amir, seperti tahun lalu diberikan Bank Mega Syariah pada acara buka puasa bersama di kediaman Choirul Tanjung, Jakarta. “Zakatnya sebesar 1 miliar rupiah,” katanya kepada Rohis Tegal - Rohani Islam ketika ditemui di kantor LAZISNU gedung PBNU, Jakarta, Kamis (24/7)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Amir menjelaskan, zakat ini akan disalurkan LAZISNU dalam dua kriteria distribusi. Separuh zakat akan disalurkan melalui program NUCare dan NUSmart seperti bantuan-bantuan? langsung (immediate aid) dan tanggap bencana.

Sementara sisanya, lanjut dia, akan disalurkan melalu program NUPreneur dan NuSkill. Penyaluran jenis ini sifatnya program permodalan dan pendampingan usaha seperti bagi pedagang kaki lima dan usaha rumahan yang sudah berjalan selama ini. Serta NuSkill yaitu pembekalan ilmu-ilmu terapan yang diperuntukkan bagi anak-anak putus sekolah atau yang tidak dapat melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Sebenarnya LAZISNU ingin memperbanyak NUPreneur dan NuSkill, tapi kadang tidak bisa menolak untuk memberi bantuan yang mendesak seperti berobat dan bantua-bantuan kemanusiaan. Kita sering kewalahan,” jelasnya.

Menurut Amir, Bank Mega memercayai LAZISNU sebagai penyalur zakat sejak tahun 2010. Dari tahun ke tahun totalnya terus bertambah. “Apa yang kita lakukan itu kita laporkan dan mereka suka dengan apa yang kita lakukan,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Kajian Sunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 16 Desember 2017

PCNU Rembang Ingatkan Peran Kader Muda NU Zaman Dulu

Rembang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengharapkan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) untuk meneladani peran kader muda NU zaman dahulu dalam mengemban tugas pengkaderan. Kader terdahulu dinilai sebagai kader militan dan moderat yang dapat dijadikan panutan guna menjalankan roda keorganisasian.

PCNU Rembang Ingatkan Peran Kader Muda NU Zaman Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Rembang Ingatkan Peran Kader Muda NU Zaman Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Rembang Ingatkan Peran Kader Muda NU Zaman Dulu

Demikian dikatakan Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Rembang, KH Bisri Adib Hattani saat memberi taushiyah dalam agenda hari pertama tadarus keliling PC IPNU IPPNU Rembang di Kelurahan Leteh Kecamatan/Kabupaten Rembang, Ahad (26/6) lalu.

Dia menceritakan kader-kader terdahulu yang bersungguh-sungguh dalam melakukan tugasnya di organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini, baik dari NU sendiri atau di badan otonomnya. "Jangan sampai kader sekarang kalah dengan kader dulu. Mulai transportasi ataupun alat administratifnya yang serba sulit. Namun, mereka (kader dulu) tetap bisa mencapai tujuan dalam menegakkan amalan-amalan Ahlusunnah wal Jamaah," terangnya.

Sementara itu, menurut Gus Adib sapaan akrabnya, kaderisasi yang dilakukan mulai dari masa kepengursan sejak tahun 2015 dinilai cukup berhasil. Hal ini lantaran banyaknya kader yang mengikuti acara-acara yang digelar oleh IPNU IPPNU Rembang, baik di tingkat Ranting, Anak Cabang maupun kepengurusan cabang Rembang.

"Kalau tak ada darusan, dunia sudah ambruk dari kemarin. Karena darusan merupakan adobsi dari kata darosa (bahasa arab-red) yang berarti belajar. Sehingga meskipun bacaanya ada salah sedikit, maka dimakfu (dimaafkan)," ungkapnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam acara yang sama, Ketua PC IPNU Rembang, Ahmad Humam mengaku sangat bersyukur, lantaran banyak kader dari luar kecamatan kota yang ikut meramaikan agenda tadarus keliling tersebut. Pihaknya berharap, para kader IPNU-IPPNU konsisten melaksanakan agenda yang rencananya akan digelar terus menerus hingga hari Idul Fitri tiba.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Disini ikut hadir kader dari kecamatan Gunem, Kaliori, Sumber, Sulang, Bulu dan ada kader satu dari Kecamatan Sluke. Alhamdulillah banyak kader yang ikut acara ini, walaupun mereka (kader luar daerah-red) mempunyai kegiatan masing-masing disetiap ranting atau anak cabangnya setiap hari selama bulan Ramadhan," katanya.

Pihaknya menjelaskan, agenda tadarusan PC IPNU-IPPNU Rembang pada bulan Ramadhan tahun ini akan dilaksanakan selama enam hari (26/6-2/7) dengan tempat yang berbeda-beda. Tidaknya dilaksanakan di kecamatan kota saja, tetapi juga di beberapa kecamatan lain seperti Sulang dan Bulu. (M.Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Anregurutta KH M Sanusi Baco Sampaikan Hikmah di Balik Halal bi Halal

Makassar, Rohis Tegal - Rohani Islam - Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregurutta KH M Sanusi Baco mengulas makna dan tradisi masyarakat Indonesia ketika menghadapi 1 Syawal (Idul Fitri). Kiai M Sanusi Baco membahas ucapan minal aidin wal faidzin, silaturahmi, dan halal bi halal di Auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar (UIM), Senin (11/7).

“Makna minal aidin wal faidzin mengandung doa dan harapan yang kita ucapkan kepada seluruh keluarga, tetangga, dan umat Islam pada umumnya. Ucapan ini biasanya diucapkan setelah melaksanakan shalat Id,” kata Kiai Sanusi Baco dalam taushiyahnya di hadapan peserta halal bi halal yang diselenggarakan Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar dan UIM.

Anregurutta KH M Sanusi Baco Sampaikan Hikmah di Balik Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
Anregurutta KH M Sanusi Baco Sampaikan Hikmah di Balik Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

Anregurutta KH M Sanusi Baco Sampaikan Hikmah di Balik Halal bi Halal

Kalimat itu, menurutnya, harapan kepada Allah SWT untuk mengembalikan umat Islam menemukan kesucian, kembali fitrah, kembali menemukan kebenaran.

Sedangkan silaturahmi adalah salah satu ajaran inti agama Islam. Rasullullah SAW berkata, "Siapa yang ingin umurnya diperpanjang dan reskinya diperbanyak, hendaklah ia melaksanakan silaturahmi".

Rohis Tegal - Rohani Islam

Secara bahasa ‘silah’ artinya menyambung. Kata ‘rahmi’ artinya tempat dikandungnya janin. Secara luas makna silaturahmi adalah menyambung tali persaudaraan yang telah putus, kata Kiai Sanusi Baco pada pertemuan Halal bi Halal yang juga dihadiri pengurus NU Sulawesi Selatan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sementara istilah halal bi halal bermakna adanya keseimbangan antara mau memberi maaf dan mau menerima maaf. “Kalau tidak seimbang, berarti halal bi haram.”

Dari segi bahasa halal bi halal bermakna menyelesaikan segala masalah, meluruskan tali yang kusut, dan mencairkan air yang beku. “Momentum hari ini jadikanlah semua masalah menjadi selesai, memperbaiki yang kusut, dan mencairkan suasana yang beku,” tandas Kiai Sanusi Baco di hadapan segenap civitas akademik Al-Gazali Makassar dan UIM. (Andy M Idris/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Khutbah, Fragmen, Olahraga Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 10 Desember 2017

Evaluasi Program Wajib Belajar dan Pendidikan Dasar Pesantren Salafiyah

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pemerintah Indonesia telah menyediakan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) kepada seluruh masyarakat. Program Wajar Dikdas ialah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah. Untuk menyukseskan program tersebut, Kementerian Agama mengambil peran pelaksanaannya dengan melibatkan madrasah dan pondok pesantren salafiyah yang melahirkan kesepakatan bersama antara Kemendiknas dan Kemenag. 

Evaluasi Program Wajib Belajar dan Pendidikan Dasar Pesantren Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Evaluasi Program Wajib Belajar dan Pendidikan Dasar Pesantren Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Evaluasi Program Wajib Belajar dan Pendidikan Dasar Pesantren Salafiyah

Tujuan penyelenggaraan program Wajar Dikdas di PPS adalah mengoptimalkan Pelayanan Program Nasional Wajar Dikdas  melalui salah satu jalur alternatif. Para santri dapat memiliki kemampuan setara dan kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Dari pelaksanaan program tersebut diharapkan target Angka Partisipasi Khusus (APK) akhir tahun 2008 secara nasional mencapai 95 %. Namun, berdasarkan laporan Diknas tahun 2010 APK telah mencapai 95,4 %  dengan rincian SD/MI/sederajat, 98,1 %, SMP/MTs/sederajat, dan 70,3 % SMA/MA/SMK/sederajat. Program tersebut di PPS masih berjalan hingga saat ini.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Oleh karena itu, pada tahun 2016 Puslitbang Penda Kemenag melakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana keterlaksanaan program Wajar Dikdas di PPS meliputi: konteks, input, proses, dan produk penyelenggaraan program.

Evaluasi ini diharapkan memiliki manfaat strategis. Secara teoritik dapat memberikan  kontribusi untuk pengembangan keilmuan terkait program pendidikan dasar. Secara praktis dapat memberi  saran dan masukan  untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi para pimpinan Kementerian Agama tentang langkah-langkah konkrit dan komprehensif dalam menyusun kebijakan tentang pembinaan dan pengembangan pelaksanaan program Wajar Dikdas pada Pondok Pesantren.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Selain itu  memberi saran dan masukan bagi penyelenggara program Wajar Dikdas dalam hal ini Ponpes untuk melakukan perbaikan dan peningkatan mutu penyelenggaraan program Wajar Dikdas.

Dari evaluasi tersebut, program penyelenggaraan Wajar Dikjas Ula dan Wustha dilihat dari empat dimensi, yaitu: konteks, input, proses dan produks, secara keseluruhan berada pada  tingkat terpenuhi. 

Pertama, pada aspek konteks berada pada tingkat “terpenuhi” dengan persentase 80.4 % Ula dan 84,6 % Wustha. Adapun yang masih perlu ditingkatkan adalah kemandirian membuat panduan untuk pelaksanaan Wajar Dikdas internal pesantren, dimana persentasenya hanya mencapai 64 % Ula  dan 53 % Wustha.  





Kedua, pada aspek input secara keseluruhan berada pada tingkat “cukup terpenuhi” dengan capaian Ula 61,3 % dan Wustha 61,9 %. Indikator yang berhasil ditunjukan, yaitu kepemilikan jadwal pelajaran serta mata pelajaran yang diajarkan sudah sesuai dengan program Wajar Dikdas. Namun beberapa hal yang diidentifikasi sebagai indikator masih perlu ditingkatkan dari dimensi input adalah latar belakang pendidikan guru, kurikulum mata pelajaran umum yang digunakan, mata pelajaran umum yang wajib diajarkan, ketersediaan buku paket guru dan santri, kepemilikan perpustakaan, kepemilikan buku SKL, RPP dan silabus.

Ketiga, aspek proses berada pada tingkat “cukup terpenuhi” untuk tingkat Ula dengan persentase 64,8 % Ula. Namun Wustha berada pada kategori “kurang terpenuhi” yang hanya mencapai 62,3 %. Dari indikator yang diukur terlihat adanya supervisi, monitoring, laporan serta penyesuaian program Wajar Dikdas dengan program di Ponpes. Sedangkan hal yang paling rendah, yaitu materi monitoring masih kurang lengkap menyangkut empat aspek materi, kehadiran santri dan penilaian hasil belajar  santri.

Keempat, aspek produk secara keseluruhan cukup berhasil walaupun minim kenaikannya. Rerata nilai bahasa Indonesia, matematika dan IPA meningkat pada tahun ajaran 2014 dibanding tahun ajaran sebelumnya. Demikian juga serapan pendidikan, dimana santri lulusan Ula dan Wustha 60 % ke atas melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Selain itu yang menyatakan kepuasan bahwa program Wajar Dikdas perlu  dilanjutkan ada 97.5 %  Ula dan 99.4 % Wustha.

Hal lain yang menjadi pekerjaan rumah untuk terus diperbaiki dalam menunjang suksesnya program Wajar Dikdas, yaitu teridentifikasinya kendala yang dirasakan oleh Ponpes. Beberapa kendala tersebut, yaitu: keterlambatan dana BOS, keterlambatan terbitnya ijazah, honor guru program terlambat dibayar, tidak memiliki perpustakaan dan santri banyak yang tidak mukim di Ponpes serta santri masih sering yang tidak masuk.

Untuk meningkatkan efektivitas pogram penyelenggaraan Wajar Dikdas, Puslitbang Penda Kemenag merekomendasikan beberapa hal.

Pertama, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Ponpes hendaknya melakukan pembinaan terhadap penyelenggara Wajar Dikdas agar terampil dan profesional dalam bidang akademis dan manajemen penyelenggaraan Wajar Dikdas. Kedua, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Ponpes bersama Balitbang perlu mengevaluasi kembali sistem supervisi dan monitoring penyelenggaraan Wajar Dikdas.

Ketiga, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Ponpes perlu melakukan pendampingan terhadap pesantren penyelenggara Wajar Dikdas untuk memberikan pengetahuan terkait pengelolaan Wajar Dikdas  secara efektif dan efisien. Keempat, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren perlu menerapkan sistem evaluasi dan pelaporan Wajar Dikdas berbasis database online.  

Kelima, Kementerian Agama dan Kemendikbud hendaknya meningkatkan kerjasama intensif untuk  membuat regulasi program Wajar Dikdas terkait pemenuhan  kebutuhan guru, peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru, pembinaan guru dan kesejahteraan guru.

Keenam, Kementerian Agama perlu melakukan sosialisasi secara luas kepada lembaga-lembaga  pendidikan formal dan masyarakat bahwa ijazah lulusan Wajar Dikdas  mendapat  pengakuan  yang sama seperti pendidikan formal yang sederajat lainnya agar tidak ada perlakuan yang berbeda di masyarakat. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)





Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 06 Desember 2017

Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit

Manusia adakalanya mengalami sakit. Ia mesti bersabar sambil berobat secara medis. Ia perlu meminta doa dari orang-orang saleh untuk kesembuhannya. Tetapi ia juga harus memohon kesembuhan dari Allah SWT. Ia sendiri juga dianjurkan untuk membaca doa berikut ini untuk tubuhnya yang sakit.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Dibaca pada Tubuh yang Sakit

? ? ? ? ? ? ? ?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bismillâh, bismillâh, bismillâh. U‘îdzuka bi izzatillâhi wa qudratihi min syarri mâ ajidu wa uhâdziru (dibaca tujuh kali). As’alullâhal ‘adhîma rabbal ‘arsyil ‘adhim an yasyfiyaka (dibaca tujuh kali).

Artinya, “Dengan nama Allah, dengan nama Allah, dengan nama Allah, aku lindungi kamu berkat kemuliaan Allah dan qudrah-Nya dari kejahatan barang yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan (dibaca tujuh kali). Aku memohon kepada Allah Yang Maha Besar, Tuhan Arasy yang maha besar agar Dia menyembuhkanmu (dibaca tujuh kali),”(Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Selain itu ia disunahkan membaca surat Al-Fatihah, Qulhu, Al-Falaq, An-Nas pada tubuh yang sakit. Itu semua merupakan ikhtiar manusiawi sebagai bentuk kefakiran manusia kepada pencipta-Nya. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Kiai Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 05 Desember 2017

Kisah Abu Hurairah Kabur saat Ditemui Rasulullah

Nama Abu Hurairah cukup populer di kalangan umat Islam. Sahabat Rasulullah yang bernama asli Abdurrahman bin Shakhr ini termasuk periwayat hadits terbanyak dibanding sahabat-sahabat lainnya.



(Baca: Tiga Alasan Mengapa Abu Hurairah Terbanyak Meriwayatkan Hadits)


Kisah Abu Hurairah Kabur saat Ditemui Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Abu Hurairah Kabur saat Ditemui Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Abu Hurairah Kabur saat Ditemui Rasulullah

Bagaimana bisa Abu Hurairah meriwayatkan demikian banyak hadits sementara ia hanya bersama Rasulullah kurang dari empat tahun? Selain kegigihan belajar yang luar biasa, salah satu rahasiannya adalah kesediaan Abu Hurairah membuntuti Nabi kemana pun beliau pergi.

Namun demikian, meski terkenal sangat dekat dengan Rasulullah, Abu Hurairah pernah justru buru-buru lari menghindar, begitu matanya melihat utusan Allah itu hendak menghampirinya. Kenapa?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pertanyaan itu pula yang barangkali terbesit di benak Nabi. Tapi akhirnya dalam beberapa saat Abu Hurairah menemui beliau.

“Di mana kau tadi Abu Hurairah?” Tanya Nabi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Tadi aku dalam kondisi junub hingga membuatku tak enak duduk-duduk bersamamu,” jawab Abu Hurairah. Rupanya sahabat Nabi yang satu ini buru-buru kabur untuk menunaikan mandi jinabat, menghilangkan hadats besar yang ditanggungnya.

Rasulullah segera membalas, “Subhanallah, sesungguhnya orang mukmin (dalam riwayat lain memakai redaksi ‘muslim’) tidak najis.”

Demikianlah adab Abu Hurairah kepada Rasulullah sebagaimana diceritakan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sikap Abu Hurairah ini mencerminkan akhlak dan niat penghormatan yang luar biasa. Ia tak hanya ingin tampil bersih tapi juga suci saat di hadapan Nabi. Padahal, kategori suci atau bebas dari hadats adalah hal yang tak tampak secara kasat mata.

Namun ada yang kurang dari niat baik Abu Hurairah ini. Dengan pernyataan “Orang mukmin tidak najis”, Rasulullah secara tersirat mengingatkan Abu Hurairah bahwa mandi jinabat boleh ditunda. Berhadats tidak sama dengan menanggung najis. Dan, tak sepatutnya ia mempersulit diri dengan buru-buru menghindar lalu mandi, apalagi Rasulullah yang hendak menemuinya sudah terlihat di depan mata. Hal ini adalah bagian dari penjelasan etika menghormati tamu. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Lomba, Fragmen, Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Sabtu, 02 Desember 2017

Kiai Mas Subadar, Teguh Berprinsip Lugas Berpendapat

Siang itu pengurus harian syuriyah dan tanfidhiyah PBNU menggelar rapat di Lantai 5 Gedung PBNU, Jalan Kramt Raya 164, Jakarta. Forum yang dipimpin Rais Aam PBNU Alharhum KH MA Sahal Mahfudh dan didampingi wakilnya KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) membahas persiapan perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Koferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2012.

Munas-Konbes yang bakal digelar di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat tersebut menyedot perhatian para kiai dan media. Forum tertinggi setelah muktamar ini membahas berbagai isu strategis, mulai dari merumuskan konsep negara menurut Aswaja, hingga mengaji ulang 40 klausul perundang-undangan negara dari kaca mata fiqih. Tema yang dirumuskan dalam rapat itu pun cukup gagah: “Kembali ke Khittah Indonesia 1945”.

Kiai Mas Subadar, Teguh Berprinsip Lugas Berpendapat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Mas Subadar, Teguh Berprinsip Lugas Berpendapat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Mas Subadar, Teguh Berprinsip Lugas Berpendapat

Di tengah suasana rapat syuriyah-tanfidziyah yang berat itu, Kiai Mas Subadar, Rais Syuriyah PBNU (periode 2010-2015) kala itu menyampaikan pertanyaan yang ia tujukan kepada panitia sarana-prasarana. Setelah mendengar paparan panitia bahwa sejumlah ruang kelas di kompleks Pondok Pesantren Kempek akan dibongkar untuk keperluan lokasi menginap peserta Munas, Kiai Subadar bertanya, “Bagaimana hukum membongkar bangunan pesantren yang merupakan harta wakaf milik orang banyak?”

Rohis Tegal - Rohani Islam

Tentu ia lebih dari sekadar bertanya. Kiai Subadar seperti sedang mengingatkan tentang konsekuensi syariat bagi setiap tindakan, termasuk untuk kegiatan positif selayak Munas-Konbes NU. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Pasuruan, Jawa Timur, tersebut tengah berpesan betapa kita mesti sangat hati-hati dalam mengambil keputusan.

Wafatnya Kiai Mas Subadar pada Sabtu (30/7) tadi malam sebelum purna tugas sebagai rais syuriyah PBNU periode 2015-2020 menyisakan duka dan kenangan yang mendalam bagi banyak kalangan: tentang sosok yang dikenal sangat teguh dan teliti dalam urusan fiqih. Di forum kiai, ia kerap ditunjuk sebagai juru bicara. Penguasaannya yang mendalam terhadap kajian fiqih klasik membuatnya sering dilibatkan dalam bahtsul masail? NU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kiai Subadar berkiprah di organisasi NU pada tahun 1967. Mula-mula ia aktif di IPNU, dua tahun kemudian namanya langsung mencuat sebagai ketua GP Ansor Pasuruan. Aktivitasnya di organisasi sempat terhenti setelah menikahi Aisyah pada tahun 1969. Baru pada sekitar tahun 1976, kembali terjun dalam kegiatan organisasi dan sekaligus mengemudikan kepemimpinan Pesantren Raudhotul Ulum. Pada tahun 1980, ia terpilih sebagai Rais Syuri’ah NU Cabang Pasuruan dan kemudian menjabat sebagai wakil rais syuriyah PWNU Jawa Timur.

Kiai Mas Subadar lahir pada 1942 di sebuah desa Besuk, Kejayan, Pasuruan dari pasangan KH Subadar dan Hj Maimunah. Saat masih berusia tiga bulan, ayahandanya, KH Subadar, wafat. Kondisi yatim inilah yang menempanya menjadi pribadi yang mandiri dan tegar.

Meski sang ayah tiada, ia tetap tumbuh dalam suasana pendidikan keluarga yang religius, termasuk dari kakak-kakaknya, seperti KH Ali Murtadlo dan KH Ahmad di Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan. Saat belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Kiai Mas Subadar termasuk santri yang tekun.

Keakrabannya dengan kitab kuning, dunia santri, dan jasa-jasanya dalam membina masyarakat melalui pondok pesantren dan dan berbagai majelis menjadikannya sosok yang kharismatik dan disegani. Pada Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, Agustus 2015 lalu, Kiai Mas Subadar terpilih sebagai salah satu dari sembilan anggota Ahlul Hali wal Aqdi, semacam komiter terbatas yang berwenang menunjuk orang yang pantas mengemban amanah sebagai rais aam, pemimpin tertingi di NU. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Jumat, 01 Desember 2017

Pesan Panglima TNI Untuk Generasi Muda Indonesia

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam - Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo menitipkan beberapa pesan kepada generasi muda penerus bangsa. Ia meminta kepada pemuda untuk memiliki mimpi besar. Baginya, mimpi besar ini bisa terwujud jika dibarengi dengan usaha yang maksimal, mewujudkannya dengan sepenuh hati, dan berdoa kepada Tuhan. ?

“Misalnya kalau sekolah dokter itu jangan hanya ingin menjadi dokter umum. Seharusnya mimpinya memiliki rumah sakit,” kata Jenderal Gatot di hadapan Ketua Osis SMA Jakarta dan Ketua Gerakan Pemuda serta hadirin peserta Simposium Nasional di Balai Kartini Jakarta, Senin (14/8).

Pesan Panglima TNI Untuk Generasi Muda Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Panglima TNI Untuk Generasi Muda Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Panglima TNI Untuk Generasi Muda Indonesia

Selain itu, lulusan Akademi Militer 1982 itu juga berpesan kepada pemuda untuk jangan takut mencoba hal baru dan jangan takut untuk gagal. Kalau seandainya suatu saat seseorang tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, maka ia harus meningkatkan kualitas diri.

“Kalau nilainya jelak, maka waktu belajarnya harus ditambah. Kalau sebelumnya cuma dua jam, jadi empat jam,” terangnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Selanjutnya, ia beramanat agar pemuda Indonesia untuk hidup dan berjuang untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Terakhir, ia menaruh pesan bahwa pemuda Indonesia harus percaya kepada kemampuannya sendiri.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Berpikir secara global, menang secara lokal. Satu lagi saya minta tolong sampaikan kepada ibu-ibu muda. Kalau mengantarkan anaknya ke PAUD atau ke TK atau ke SD, ketika sampai di depan pintu tolong bisikkan di telinga anak untuk rajin belajar untuk menjaga Indonesia ini,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Anti Hoax, Tokoh Rohis Tegal - Rohani Islam

Mbah Moen, Kang Said dan Bupati Rembang Resmikan Masjid Al-Amin Pamotan

Rembang, Rohis Tegal - Rohani Islam

Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Bupati Rembang H Abdul Hafidz meresmikan Masjid Al-Amin Desa Pamotan Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Selasa (17/5) sore. Mereka membubuhkan tanda tangan di atas prasasti raksasa yang dibuat oleh panitia.

Mbah Moen, Kang Said dan Bupati Rembang Resmikan Masjid Al-Amin Pamotan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen, Kang Said dan Bupati Rembang Resmikan Masjid Al-Amin Pamotan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen, Kang Said dan Bupati Rembang Resmikan Masjid Al-Amin Pamotan

Para hadirin tampak membludak mulai dari orang tua hingga anak-anak. Mereka antusias mendengarkan secara langsung taushiyah dari KH Maimoen Zubair dan KH Said Aqil Siroj. Mereka berbondong-bondong sebisa mungkin untuk mendekati podium.

Dalam kesempatan tersebut, kedua pentolan PBNU secara kompak membicarakan gagasan Islam Nusantara dan nasionalisme. Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, di hadapan jamaah mengungkapkan rasa syukur atas masih adanya jati diri pada warga Indonesia dan warga NU.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Warga Indonesia ini masih mempunyai kepribadian yang bermartabat, dan bergengsi. Walaupun di Desa Pamotan, masih bergengsi. Dibanding umat Islam di negara-negara Arab," katanya.

Ia menambahkan, di negara Timur Tengah akidahnya masih jauh. Ibadahnya masih jauh. Tapi tidak mempunyai ketahanan yang kokoh menerima arus globalisasi menimbulkan gejolak yang sangat luar biasa. "Ternyata budaya, karakter, kepribadian, jati diri, umat Islam di Timur Tengah ambruk. Mereka saling bunuh-bunuhan sesama Islam, sesama muslim," jelasnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Berbeda halnya dengan Indonesia yang masyarakatnya bersatu. Ia menilai rakyat Indonesia mempunyai kepribadian yang kuat, yang kokoh, sehingga tidak mudah tergoyahkan dan terprovokasi. Seperti halnya warga Nahdliyyin.

Selanjutnya, Mbah Moen (KH Maimoen Zubair) dalam kesempatan itu menjelaskan tentang jiwa nasionalisme yang harus ditanamkan dalam rakyat Indonesia dan warga NU. Mbah Moen menyebutkan kepanjangan dari PBNU yang merupakan dasar dari Negara Indonesia. "PBNU itu kepanjangan dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang 1945. Inilah yang harus kita jadikan pedoman," terang kiai sepuh yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Sebelumnya, dalam sambutan Bupati Rembang H Abdul Hafidz membeberkan terkait proses pembangunan masjid tersebut. Abdul Hafidz selain sebagai Bupati Rembang saat ini juga selaku ketua pembangunan Masjid Al-Amin Desa Pamotan Kecamatan Pamotan.

Di akhir acara, Mbah Moen berkesempatan untuk memimpin doa. Tampak pula beberapa tokoh yang hadir di antaranya Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto, Kapolres Rembang, Dandim Rembang, Kapolsek Pamotan, Koramil Pamotan, Camat Pamotan, dan beberapa badan otonom NU yang berada di Kabupaten Rembang. Serta Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dari beberapa Satkoryon se-Kabupaten Rembang. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Sholawat, Lomba Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 26 November 2017

LKNU Tak Terlibat Kampanye Dukung Eksistensi LGBT

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama PBNU membantah tudingan yang beredar bahwa lembaga tersebut mendukung dan melakukan kampanye dukungan eksistensi kalangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

“LKNU sama sekali tidak masuk dan atau melibatkan diri dalam agenda-agenda kampanye dan propaganda untuk memperjuangkan pengakuan eksistensi LGBT,” tegas Ketua LKNU PBNU H Hisyam Said Budairy, M.Sc. pada konferensi pers di gedung PBNU, Sabtu (5/3) ditemani Sekretaris LKNU PBNU dr Citra Fitri Agustina, SpKJ.

LKNU Tak Terlibat Kampanye Dukung Eksistensi LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Tak Terlibat Kampanye Dukung Eksistensi LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Tak Terlibat Kampanye Dukung Eksistensi LGBT

Oleh karena itu, lanjut dia, LKNU meminta kepada semua pihak untuk tidak mempolitisir kerja sama yang dibangun LKNU dengan Global Fund sebagai dukungan eksistensi LGBT. Kerja sama selama ini murni kepentingan kesehatan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hisyam menambahkan, LKNU bersedia bersama mitra meninjau ulang butir kesepatakan program yang bersumber dan hibah Global Fund dengan mengacu pada sikap resmi PBNU.

Seperti diketahui, pada tanggal 22 Februari, PBNU telah mengeluarkan pernyataan resmi terkait LGBT, salah satunya adalah menolak dengan tegas paham dan gerakan yang membolehkan atau mengakui eksistensi LGBT sebab hal itu dinilai mengingkari fitrah manusia.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebelumnya, Mantan Sekretaris LKNU PBNU Anggia Ermarini juga menegaskan bahwa selama kepengurusan dirinya, LKNU tidak pernah mendukung atau mempromosikan kaum LGBT.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU tersebut, selama ini NU sangat konsen dengan program-program kemanusiaan. Pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS yang dilakukan LKNU merupakan bagian dari kerja kemanusiaan tersebut.

Nah, kerja kemanusiaan tersebut terkait dengan LGBT yang berisiko tinggi dengan HIV/AIDS. Tujuannya adalah menanggulangi dan mencegah kerusakan yang lebih luas.

“Di sini kami memandang, LGBT merupakan kelompok beresiko tinggi terkait penularan HIV/AIDS. Kerja sama kita terkait penanggulangan penyakit berbahaya tersebut, bukan mendukung dan mempromosikan keberadaan kelompok mereka,” tegas Anggi kepada Rohis Tegal - Rohani Islam, Jumat (4/3) di Jakarta. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Aswaja, Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Kemanunggalan Kiai, Santri, dan Pesantren

Oleh Aswab Mahasin

Coba Anda ingat, Kapan terakhir kali Anda mencium tangan Kiai? Kapan terkahir kali Anda menginjakkan kaki di Pesantren? Dan kapan terkahir kali Anda merasa bahwa diri Anda adalah santri? Kiai, Pesantren, dan Santri adalah tiga dimensi yang tidak bisa dipisahkan. Pesantren sebagai rumah peradaban, sedangkan kiai dan santri adalah pengusung peradaban. Hal tersebutmerupakan satu kesatuan yang tunggal (kepaduan yang ideal).

“Kemanunggalan” ketiga pranata kebudayaan/agama tersebut mempunyai unsur geneologis, yakni; kiai sebelumnya adalah santri, dan santri ialah orang yang tinggal dan menetap di pesantren. Begitupun kiai, mempunyai santri dan pesantren, dan samahalnya dengan santri, tinggal di pesantren dan diasuh oleh Kiai.

Kemanunggalan Kiai, Santri, dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemanunggalan Kiai, Santri, dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemanunggalan Kiai, Santri, dan Pesantren

Namun, dalam realitasnya ada kiai tanpa pesantren, disebut “kiai langgar atau kiai masjid” dan ada santri yang tidak mesantren, disebut “santri kalong”. Apakah proses “kemanunggalan” itu masih terjadi? Jawabannya, masih—karena yang diajarkan oleh kiai langgar/masjid adalah pengajaran yang diajarkan di pesantren, tidak ada keterpisahan dari mulai model mengajar, bahan ajar, dan tradisi komunikasi. 

Jika diperluas lagi, maksud dari “kemanunggalan kiai, santri, dan pesantren” adalah seseorang yang selalu memegang prinsip kemandirian, kemanusiaan, kebersamaan, kesatuan, etos kerja, nasionalisme, dan keIslaman. Dengan itu, adanya kesatuan yang menginternal kedalam dirinya, ia mengikuti nasihat kiai dan ia berprilaku seperti santri. Nilai-nilai itulah yang selalu diajarkan oleh kiai, selalu diterima oleh santri, dan selalu hadir dalam lingkungan pesantren.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sekarang coba kita lihat bagaimana para ahli menguraikan makna dari kiai, santri, dan pesantren, Secara etimologis, menurut Ahmad Adaby Darban “kiai” berasal dari bahasa jawa kuno “kiya-kiya”, artinya orang yang dihormati. Sedangkan, Menurut Manfred Ziemek,kiai adalah pendiri dan pemimpin sebuah pesantren sebagai “muslim terpelajar” telah membaktikan hidupnya “demi Allah” serta menyebarluaskan dan mendalami ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam. Dalam pemikiran masyarakat, kiai diidentikan dengan ulama sebagai pewaris para Nabi (al-‘ulama waratsah al-anbiya). (Moch. Eksan, Kiai Kelana: Biografi Kiai Muchit Muzadi, 2000.Hlm. 2-4)

Santri menurut Nurcholis Madjid ada dua pengertian, pertama, berasal dari bahasa Sangsekerta yaitu “sastri” berarti orang yang melek huruf, dan kedua, berasal dari bahasa jawa “cantrik” seorang yang mengikuti kiai dimanapun untuk menguasai suatu keahlian sendiri. Berbeda dengan KH. Sahal Mahfudh, santri dimaknai sebagai bahasa Arab, dari kata santaro yang mempunyai jamak (plural) sanaatiir (beberapa santri). Dibalik kata santri tersebut mempunyai 4 huruf arab (sin, nun, ta’, ra’), oleh KH Abdullah Dimyathy dari Pandeglang, Banten mengimplementasikan kata santri dari 4 fungsi manusia. Adapun 4 huruf tersebut, yaitu; Pertama, “Sin” yang artinya “satrul al-aurah” (menutup aurat), Kedua, “Nun” yang berarti “na’ibul ulama” (wakil dari ulama), ketiga, “Ta” yang artinya “tarku al-Ma’shi” (meninggalkan kemaksiatan), dan keempat, “Ra” yang berarti “raisul ummah” (pemimpin umat). (Buku Kumpulan Tanya Jawab dan Diskusi Keagamaan: Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam, PISS-KTB, 2013. Hlm. 1626-1628)

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sedangkan Pesantren, menurut pengertian dasar ialah tempat belajar para santri. Sedangkan “pondok” berasal dari bahasa arab “funduq” yang artinya asrama. Secara etimologi pesantren berasal dari kata “santri” yang mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal santri. (Zamakhsyari Dhofir: 1982: 18)

Dari berbagai paparan tersebut, menggambarkan, kuatnya keterikatan antara Kiai, Santri, dan Pesantren.Pesantren didirikan kiai sebagai transmisi nilai-nilai keIslaman. Dalam perkembangannya,proses transmisi keIslaman di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kemanunggalan itu.

Pesantren dan transmisi nilai keislaman Indonesia

Menjadi penting terlebih dulu mengetahui keterikatan sejarah antara kajian Islam di Indonesia dengan ulama Timur Tengah, seperti Mekah, Madinah, dan Kairo. Martin van Bruinessen menuliskan, “Teks yang paling populer diseluruh Nusantara adalah karya yang dikenal sebagai Barzanji di tulis oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji. Dinamakan “barzanji” karena merujuk pada nama desa pengarangnya yang terletak di Barzanjiyah kawasan Akrad (kurdistan). Selain itu teks-teks arab yang paling banyak dijual di toko buku adalah Tanwirul al-Qulub, ditulis oleh Muhammad Amin Al-Kurdi.”

Hal tersebut menggambarkan ada proses transmisi epistimologi. Proses itu sebenarnya tidak hanya melalui produk intelektualitas, melainkan banyak juga ulama-ulama Nusantara pergi ke sana untuk menuntut ilmu, seperti ‘Abd al-Rauf Singkel menghabiskan tidak kurang dari 19 tahun waktunya di Makkah dan Madinah, ada juga Syekh Yusuf Makasar, begitupun dengan KH Muhammad Hasyim Asy’ari. 

Walaupun Indonesia memiliki kedekatakan hubungan intelektual dengan tradisi keagamaan di Arab, terutama Mekkah dan Madinah. Tidak serta-merta Islam di Indonesia lantas dianggap sebagai replika Islam Arab. Proses masuknya Islam di Indonesia sangat dinamis, unik, dan kompleks, menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya yang berkembang saat itu. 

Peristiwa tersebut menjadi sejarah tidak mandek, khususnya di pesantren—hingga sekarang terusmengkaji karya-karya ulama Timur Tengah, kajian yang diusung tentu tidak berafiliasi dengan kitab-kitab yang telah direduksi atau ditambahkan isinya olehkelompok tertentu, melainkan kitab-kitab yang tidak bertentangan dengan ide-ide ahlussunnah wal jamaah (Aswaja).

Dengan demikian, karakter Islam di Indonesia yang berkembang sekarang, tidak lepas dari matriks kiai, santri dan pesantren, sebagai penerjemah dan wadah wacana keIslaman. Proses transmisi keIslaman ini berlangsung di pesantren yang tampil dengan model paradigma pengajaran yang unik. Melalui kajian kitab kuning, didukung dengan model penulisan “arab jawa pegon” sebagai sarana untuk memahami teks-teks kitab kuning yang berbahasa Arab. Hal ini tidak ditemukan dalam tradisi Islam di Timur Tengah. Tradisi keIslaman di Indonesia berkembang melalui karakternya sendiri dengan tidak meninggalkan identitas Islam yang terlahir dengan “huruf Arab”.

Selain itu, disemua pesantren yang berbasis klasik ataupun modern, selalu ada pengajaran Nahwu dan Shorof (untuk memahami teks Arab). Dan pesantren menganggap belajar kaidah-kadaiah bahasa Arab tersebut sebagai alat untuk memahami teks-teks Arab, dengan tujuan agar para santri mampu mempelajari wacana keIslaman yang begitu luas.

Seiring dengan proses transformasi dan modernisasi di pesantren, dari mulai masa kolonial, sampai terlahirnya Madrasah Diniah, dan kemudian masuk dalam dunia global. Pada gilirannya pesantren tetap menjadi standar wajah keIslaman Indonesia, karena pesantren turut membentuk tradisi kajian Islam di Indonesia secara keseluruhan.

 

Pembentukan tersebut oleh pesantren melalui jalur pendidikan, yang terus menerus dilakukan pesantren, dari dulu sebelum nama Indonesia ada sampai sekarang. Ahmad Baso dalam Pesantren Studies 2a: Buku II: Kosmopolitanisme Peradaban Kaum Santri di Masa Kolonial berkomentar, “pendidikan pesantren adalah pendidikan seumur hidup, seumur dengan kehidupan tradisi keagamaan Aswaja dan juga sepanjang usia kehidupan nusa-bangsa ini. 

Oleh karena itu, orientasinya adalah untuk menjaga keselamatan dan kesinambungan kehidupan berbangsa itu sendiri. Dengan kata lain, seberapa panjang usia kehidupan kebagsaan ini, demikian pula usia tradisi keulamaan Aswaja. Dan pendidikan pesantren adalah bentangan garis lurus yang menjangkau dan menghubungkan kedua sisi kehidupan tersebut hingga penghujung akhir hayatnya.”

Cuplikan dari Ahmad Baso tersebut menjelaskan bahwa kemanungggalan hakikatnya tidak hanya ada pada kiai, santri, dan pesantren saja, melainkan bangsa ini sudah menjadi satu kesatuan (termanunggalkan) bersama pendidikan pesantren dan tradisi pesantren itu sendiri.

Indonesia tidak akan bisa melepaskan diri dari pesantren, dari masa ke masa dan dari presiden pertama sampai presiden sekarang, pesantren selalu mengiringi sejarah Indonesia. Entah itu dikebiri pada saat zaman Orba, di mana para kiai hanya mendapatkan jatah doa, dan pada masa Gus Dur, seorang kiai menjadi presiden, dan di era sekarang, pesantren, kiai dan santri menjadi “rebutan” aktivitas politik praktis, dengan tujuan mendapatkan legitimasi dukungan seorang kiai.

Pesantren dan kemanunggalan produktif

Beranjak dari itu semua, (saya akan meloncat ke dalam kajian yang lebih kompleks dan nyata)setelah tadi kita berlama-lamaan memetakan pesantren dan membincangkan pesantren sebagai transmisi nilai-nilai keIslaman Indonesia, sesunggugnya belum lengkap jika kita tidak mengkaji objek dari nilai keIsalaman itu sendiri, yaitu realitas yang menanti di depan mata para santi.

Dengan demikian, yang wajib kita kaji sekarang ini, poinnya adalah kemanunggalan terkesan belum sempurna pada pendidikan pesantren—di mana tidak sedikit pesantren menutup diri dari masyarakat dan menutup diri dari realitas kehidupan. Pesantren menurut Gus Dur awalnya bukan hanya lembaga pendidikan agama semata, tapi lembaga pendidikan yang bercakrawala dari berbagai penjuru pengetahuan, teoritis maupun praksis. Kesan sekarang adalah pesantren seakan-akan difungsikan sebagai pabrik “ulama”. Padahal pesantren spektrumnya lebih dari itu. Jika demikian, akan terjadi penyempitan dari fungsi pesantren itu sendiri. 

Menurut Gus Dur, terjadi penyempitan kriterium dengan sendirinya bergerak menuju lapangan bagi orang yang akan dikirim ke pesantren yaitu orang-orang yang merasa dirinya santri dan memiliki komitmen kepada Islam sebagai ideologi. Dengan mempertahankan kriterium semacam ini maka bisa dilihat bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan di mana tingkat droup-out cukup besar. (Abdurrahman Wahid, Prisma Pemikiran Gus Dur, 1999. hlm. 111-116). Kemanunggalan ini oleh lembaga pendidikan pesantren seharusnya dibarengi juga dengan produktifitas santri. 

Menurut Gus Dur dalam tulisannya yang bertajuk Pesantren, Penddikan Elitis atau Populis?, menuliskan, “Pesantren dulu sebagai pembanding dari sekolah keraton yang hanya menampung golongan elitis saja, sekarang nampaknya pesantren telah berubah, ketika berbicara pesantren kesan yang muncul adalah sebagai lembaga keagamaan. Dulunya, pesantren menampung semua lapisan masyarakat (kemanunggalan dengan semua orang) yang tidak ditampung dalam lembaga pendidikan keraton. Karena itu dimasa awalnya pesantren sebagai lembaga pendidikan adalah sebuah lembaga pendidikan umum; di dalamnya tidak hanya diajarkan agama. Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini tampak kecenderungan untuk menciptkan pesantren sebagai lembaga pencetakan para ulama.” (Abdurrahman Wahid, Prisma Pemikiran Gus Dur, 1999. Hlm. 111-116)

Saya sepakat, bukannya hal yang buruk, dalam pesantren membuat spesialisasi yang tidak hanya fokus pada bidang keagamaan. Fakta dilapangan harus kita akui, tidak semua santri ahli dalam ilmu agama, tidak semua santri jadi pendakwah, dan tidak semua santri jadi ulama. Kalau saja pesantren hanya menutut santrinya memiliki kecerdasan dan kepintaran dalam pengetahuan keagamaan, tidak ada bedanya pesantren dengan pendidikan umum lainnya, hanya mengedepankan sisi kognitif belaka, bedanya hanya dalam ranah kajian keagamaan semata.

Menurut Gus Dur, “sudah hebat sekali dari total 10.000 santri jika lulusannya 50% ahli agama.” Dalam realitasnya itu susah dilakukan, kalau kita lihat lebih jauh lagi alumni pesantren, tidak sedikit mereka yang kebingungan setelah keluar dari pesantren, tidak sedikit yang berprofesi serabutan, tidak sedikit yang berprofesi sebagai tukang ojek, dan sejenisnya. Kalaupun diantara alumni pesantrentersebut ada yang sukses menjadi pengusaha, pejabat, atau pun pemikir, jumlahnya lebih sedikit dari yang biasa-biasa saja itu. 

“Kemangunggalan” pesantren seharusnya dimaknai sebagai institusi yang terbuka, menerima segala hal, tidak ada yang keliru jika pesantren dalam salah satu kajiannya menekankan pendidikan kewirausahaan, menekankan pendidikan pertanian, menekankan pendidikan arsitektur, menekanakan pendidikan peternakan, dan sebagainya. Kata Gus Dur, dalam hal ini bukanlah pelajaran agama yang diberikan di sana, tetapi ilmu untuk menyadari pentingnya arti agama.

Di sini pesantren harus membangun kerangka yang ideal. Tidak bisa dipungkiri juga, sekarang sudah ada beberapa pesantren mencoba merubah dirinya, siap memberikan terobosan-terobosan untukmenjawabcita-cita santri dan masyarakat. Dengan ini, makna “kemanunggalan/kepaduan” akan menjadi utuh dan produktif, tanpa tabir yang menghalangi santri dan pesantren berkembang.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Amalan, Pertandingan, Fragmen Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 20 November 2017

Liga Santri Nusantara Region Jateng Dimulai Awal September

Semarang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Genderang kick off Liga Santri Nusantara (LSN) secara resmi membuka pertandingan di region-region. Zona Jawa Tengah terbagi menjadi tiga regional; region satu meliputi Banyumas Raya dan Pekalongan Raya. Region II terdiri dari Kendal, kota Semarang, Demak, Kudus, Pati, Jepara, Rembang, Blora, Grobogan, kabupaten Semarang dan kota Salatiga. Sedangkan region III Solo Raya dan Kedu Raya. Pelaksanaan pertandingan akan dimulai awal September nanti.?

Sepak bola U-18 ini merupakan liga amatir yang diperuntukkan untuk kaum santri, dimana pesantren yang berasosiasi di bawah naungan Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI NU). LSN ini merupakan tahun kedua digelar. Pesantren dengan berbagai potensinya termasuk sepakbola memiliki andil besar untuk menyumbangkan talenta yang selama ini terpendam.?

"Kompetisi ini akan dilaksanakan pada 1-4 September 2016," papar koordinator LSN regional II Jateng, Sukirman.?

Liga Santri Nusantara Region Jateng Dimulai Awal September (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Region Jateng Dimulai Awal September (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Region Jateng Dimulai Awal September

Penyelenggara juga berkerjasama dengan Asosiasi Wasit Profesional Indonesia (Awapi). Setidaknya terdapat 18 tim yang telah mendaftarkan diri kepada panpel.?

Pertandingan region II Jateng akan digelar di lapangan Arhanudse-15 Kodam IV Diponegoro, Semarang. Mekanisme pertandingan menggunakan sistem gugur, sampai akhirnya akan diambil satu tim untuk ditandingkan di tingkat nasional.?

Kirman menambahkan bahwa Kamis, (25/8) akan digelar technical meeting (TM) untuk peserta panitia pelaksana. Sebelum TM mulai akan diawali dengan diskusi dengan tema?

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Revolusi Sepakbola Nasional dari Pesantren Pembinaan Usia Muda Tanggung jawab Siapa?" dengan menghadirkan Ketua PP RMI NU KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), pengasuh pondok pesantren API Tegalrejo Magelang dan juga Owner PPSM Magelang KH. Yusuf Chudlori (Gus Yus), Wakil Ketua DPRD Jateng dan Koordinator LSN Regional 2 Jateng 2016 Sukirman SS, Kepala Dinpora Provinsi Jateng Budi Santoso, dan pelatih usia muda yang juga mantan pelatih PPLP Jateng, Edi Prayitno. Diskusi ini akan dimulai pukul 11.00 WIB bertempat di gedung Berlian DPRD Jawa Tengah. (Zulfa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam

Rohis Tegal - Rohani Islam Fragmen, Ulama, AlaSantri Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock