Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-Habsyi

Dua minggu pasca-Lebaran tahun 2006, umat muslim di Soloraya tersentak mendengar kabar duka. Seorang tokoh ulama panutan yang juga keturunan dari Rasulullah saw, Habib Anis Al-Habsyi dikabarkan telah menghadap ke rahmatullah. Menurut keterangan dari dokter, Habib Anis yang kala itu berusia 78 tahun, wafat karena penyakit jantung yang dideritanya.

Sontak, kabar tersebut membuat para murid dan pecinta beliau yang tersebar di penjuru dunia, bergegas untuk ikut memberikan penghormatan terakhir kepada sang guru. Kota Solo di hari wafat Habib Anis diserbu puluhan ribu pentakziah. Dengan diiringi tangisan dan air mata, mereka melepas kepergian cucu Muallif Simtuddurar tersebut.

Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-Habsyi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-Habsyi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-Habsyi

Ya, kepergian Habib Anis memang patut menjadi duka bagi semua, khususnya kaum Aswaja di wilayah Soloraya. Hal ini sama dengan yang diungkapkan Habib Abdullah Al-Haddad ketika menyaksikan kepergian gurunya itu:

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kami kehilangan kebaikan para guru kami ketika mereka meninggal dunia. Segala kegembiraan kami telah lenyap, tempat yang biasa mereka duduki telah kosong. Aku akan tetap menangisi mereka selama aku hidup dan aku rindu kepada mereka. Aku akan selalu kasmaran untuk menatap wajah mereka. Aku akan megupayakan hidupku semampukun untuk selalu mengikuti jalan hidup para guruku, menempuh jalan leluhurku.”

‘Anak Muda Berpakaian Tua’

Rohis Tegal - Rohani Islam

Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat pada tanggal 5 Mei 1928. Ayahnya, Habib Alwi, merupakan putera dari Habib Ali Al-Habsyi (Muallif Simtuddurar) yang hijrah dari Hadramaut Yaman ke Indonesia untuk berdakwah. Sedangkan ibunya bernama Khadijah. Ketika beliau berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo, sampai akhirnya menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.

Sejak kecil, Habib Anis dididik oleh ayah sendiri, juga bersekolah di madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahannya. Habib Anis tumbuh menjadi seorang pemuda nan alim dan berakhlak luhur. Habib Ali Al-Habsyi, adik beliau menyebut kakaknya seperti “anak muda yang berpakaian tua”.

Tentang maqam ilmu dan akhlak yang dimiliki Habib Anis, salah satu cucunya yang bernama Muhammad bin Husain mengungkapkan sosok Habib Anis sebagai orang yang sangat mencintai ilmu.

“Ketika usia muda, beliau gemar sekali membaca buku. Tiap malam ketika istrinya tidur, beliau membaca kalam Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (kakek Habib Anis) sampai beliau terkadang menangis ketika membaca untaian nasehat kakeknya. Ketika istrinya terbangun beliau langsung mengusap airmatanya supaya tidak terlihat oleh istrinya,” ujarnya.

Bahkan ketika usia sudah mulai tua, Habib Anis masih haus kepada ilmu. “Beliau pernah berencana untuk membeli laptop dan belajar mengetik untuk bisa mencatat ilmu yang didapatnya. Beliau juga berencana untuk datang pameran kitab di Mesir supaya bisa membeli kitab-kitab langka yang dijual disana,” imbuh Habib Muhammad.

Ditambahkan oleh Habib Muhammad, meskipun Habib Anis termasuk ahli ilmu, akan tetapi dia lebih dikenal dengan kemuliaan akhlaqnya. “Karena beliau selalu menampilkan akhlaq yang mulia, padahal keluasan ilmunya tidak diragukan lagi,” terangnya.

Akhlak Habib Anis, diantaranya tercermin dari sikap sumeh (murah senyum) dan dermawan yang dimilikinya. Ibu Nur Aini penjual warung angkringan depan Masjid Ar-Riyadh menuturkan, “Habib Anis itu bagi saya, orangnya sangat sabar, santun, ucapannya halus dan tidak pernah menyakiti hati orang lain, apalagi membuatnya marah,”

Seringkali menjelang Idul Fitri, Habib Anis memberikan sarung secara cuma-cuma kepada para tetangga, muslim maupun non muslim. “Beri mereka sarung meskipun saat ini mereka belum masuk islam. Insya Allah suatu saat nanti dia akan teringat dan masuk islam.” kata Habib Anis yang ditirukan Habib Hasan, salah seorang puteranya.

Guru Para Syuriyah

Menurut Habib Muhammad bin Husein, semasa hidupnya, Habib Anis mengabdikan untuk berdakwah dan bergelut dalam majelis ilmu. “Beliau punya pengajian setiap harinya saat bada dzuhur, kecuali Jumat dan Ahad, di kediaman beliau. Pernah, ketika istri beliau meninggal masyarakat datang untuk bertaziyah. Namun begitu tiba waktunya pengajian, langsung beliau membuka kitabnya dan mulai membaca serta mengajar. Didalam rumah jenazah istrinya sedang dimandikan tapi beliau tetap istiqomah mengajar dan membimbing ummat,” terangnya.

Habib Anis juga dikenal sebagai pribadi yang istiqomah dalam segala hal, tentang keistiqomahan ini juga diakui oleh salah satu muridnya yang kini mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo, KH Ahmad Baidlowi.

“Dalam banyak hal, Habib Anis selalu tertata rapi, meskipun di banyak aktivitasnya sebagai imam sholat, pengajian, menerima tamu, membuka toko dan sebagainya,”

Dalam dakwahnya, Kiai Baidlowi menuturkan Habib Anis memiliki beberapa konsep, yang kesemuanya dapat dilihat langsung di Masjid Riyadh sampai sekarang. “Yakni, masjid sebagai tempat ibadah. Zawiyah, sebagai pusat ilmu dan toko sebagai media penggerak ekonomi,” ujarnya.

Terkait hal ini, Habib Anis sendiri pernah menyampaikan bahwa ada empat hal yang penting: “Pertama, kalau engkau ingin mengetahui diriku, lihatlah rumahku dan masjidku. Masjid ini tempat aku beribadah mengabdi kepada Allah. Kedua, zawiyah, di situlah aku menggembleng akhlak jama’ah sesuai akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketiga, kusediakan buku-buku lengkap di perpustakaan, tempat untuk menuntut ilmu. Dan keempat, aku bangun bangunan megah. Di situ ada pertokoan, karena setiap muslim hendaknya bekerja. Hendaklah ia berusaha untuk mengembangkan dakwah Nabi Muhammad saw.

Ulama asal Pasuruan itu menambahkan, meskipun tidak pernah masuk dalam struktur NU di Solo, namun peranan Habib Anis atas kemajuan NU di wilayah Soloraya sangatlah besar. Beberapa muridnya bahkan kini menjadi Rais Syuriyah, diantaranya KH A. Baidlowi dan KH Abdul Aziz (Wonogiri).

Sebagai penerus kekhalifahan (imam) di Masjid Riyadh, Habib Anis meneruskan beerbagai kegiatan yang telah dirintis oleh para pendahulunya. Kegiatan seperti Haul Habib Ali Al-Habsyi, Khatmul Bukhari, dan Maulid yang terselenggara setiap malam Jumat selalu dihadiri oleh ratusan bahkan puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah. Para ulama terkemuka, seperti TG Zaini Abdul Ghani, Abuya Dimyati, Kiai Siraj dan lainnya, bahkan pernah hadir di Masjid Riyadh untuk mengikuti majelis ilmu yang dipimpin Habib Anis.

Sebagai seorang ulama, Habib Anis juga pernah berkeinginan untuk menulis kitab. Namun, hingga akhir hayat beliau belum berkesempatan untuk merealisasikannya. “Belum sempat menulis kitab, hanya berencana. tapi kedahuluan dijemput oleh Allah,” tutur Habib Muhammad.

Pada hari Senin, tanggal 6 November 2006 atau 14 Syawal 1427 H pukul 12.55 WIB, Habib Anis wafat di RS. Dr. Oen dalam usia 78 tahun. Beliau dimakamkan di sebelah makam ayahnya, yang terletak di sisi selatan Masjid Riyadh. Kini, meski telah wafat, hampir setiap hari makamnya dikunjungi para peziarah dan namanya juga senantiasa disebut setiap ada pembacaan kitab maulid Simtuddurar. (Ajie Najmuddin)

Sumber:

Majalah Hidayah edisi 115, Maret 2011 hal.64-68

Wawancara Habib Muhammad bin Husein bin Anis, 28 Februari 2014.

Wawancara KH Ahmad Baidlowi di Masjid Riyadh Solo, 19 Februari 2014

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Budaya Rohis Tegal - Rohani Islam

Kamis, 01 Februari 2018

Persinggahan KH Wahid Hasyim di Turipinggir

Meski telah 62 tahun berlalu, peristiwa itu masih terkenang dan tertanam  di hati sanubari masyarakat Turipinggir dan diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ya, suatu peristiwa, di saat masyarakat desa Turipinggir mendapatkan penghormatan disinggahi dan ditempati seorang tokoh besar bangsa, putra pendiri NU, Pahlawan Nasional, yaitu KH. A. Wahid Hasyim.

Beliau tinggal di desa Turipinggir semasa Perang Kemerdekaan RI (Revolusi Fisik) antara tahun 1945-1950. Zaman Perang Kemerdekaan, disebut sebagai  saat-saat yang sangat sulit, penuh perjuangan dan penderitaan di waktu  usia Republik  Indonesia yang masih sangat muda. Ibukota RI (Yokyakarta) pada 19 Desember 1948 telah  dikuasai Belanda, para pemimpin nasional RI ditangkapi, diantaranya  Presiden dan Wakil Presiden RI yang dibuang ke Pulau Bangka. Tokoh-tokoh nasional yang lain bersembunyi atau mengungsi ke desa dan membaur bersama rakyat biasa. 

Persinggahan KH Wahid Hasyim di Turipinggir (Sumber Gambar : Nu Online)
Persinggahan KH Wahid Hasyim di Turipinggir (Sumber Gambar : Nu Online)

Persinggahan KH Wahid Hasyim di Turipinggir

Beliau, KH. A. Wahid Hasyim, seorang  tokoh muda NU, pernah menjabat sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), adalah tokoh nasional yang mempunyai jasa besar dalam pendirian Republik ini. Beliau juga menjabat sebagai Menteri Negara dalam  Kabinet Presidentil I (1945), dan  Kabinet Syahrir (1946-1947).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Tidak diketahui dengan pasti kenapa beliau memilih pindah   di desa Turipinggir. Mungkin karena lokasi desa tersebut yang berada di ujung barat Kabupaten Jombang,  dan tidak tarlalu jauh dari Tebuireng. Atau juga karena adanya persahabatan yang sudah lama dengan Bapak Munandar (1913 – 1990) dan Bpk. KH. Salamun (1917-2005) yang beliau berdua sering bersilaturrahmi ke rumah para kyai di daerah Jombang. Keduanya juga penganut dan pengamal Tarekat Qodiriyyah wa al-Naqsybandiyyah.

KH. Salamun  adalah santri yang lama mondok  di Ponpes Mambaul Maarif Denanyar, santri generasi kedua KH. Bisri Syansuri, dan menurut penuturannya beliau menyaksikan sendiri peristiwa perkawinan KH. Wahid Hasyim dengan Ibu Solichah Bisri Syansuri. Mungkin sebelumnya, sudah ada perkenalan dengan KH.A. Wahid Hasyim. Dengan demikian, dengan rentang  usian yang hanya tiga tahun lebih muda dari KH A. Wahid Hasyim,  tentu KH Salamun memberikan rasa  hormat dan ta’dhim kepada menantu gurunya, KH Bisri Syansuri . 

Tidak bisa dipastikan, berapa lama KH. A. Wahid Hasyim berdiam di Desa Turipinggir. Menurut beberapa penuturan, cukup lama, apalagi dalam situasi yang masih bergejolak dan keadaan fisik beliau yang kurang sehat (kaki beliau sakit). Ada yang bercerita, sekitar 4-6 bulan tepatnya  masa di antara Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948 sampai waktu penyerahan Kedaulatan RI oleh Pemerintah Belanda yang dilakukan oleh Ratu Yuliana di Belanda, tanggal 27 Desember 1949). 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Beliau tinggal di  rumah Bpk. Munandar dan Bpk. KH. Salamun. Masjid Baitussalam (yang berada tepat di depan rumah Bpk. Munandar) adalah tempat beliau bersembahyang,  berdzikir dan berdoa. Beliau bermunajat di masjid ini, memohon perkenan doa  Allah SWT akan keselamatan dan kelangsungan bangsa dan  negara di Republik yang masih baru  diproklamirkan. 

Menurut penuturan Bapak Madaim (Ahmad Daim), 79 tahun, saksi peristiwa yang masih hidup hingga sekarang, KH Wahid Hasyim selalu beri’tikaf dan bertafakkur di masjid Turipinggir.  Beliau menderita luka yang cukup lama di jempol kaki kirinya. Sering sekali Belanda mengadakan patroli sampai ke Desa Turipinggir. Bila pasukan patroli Belanda datang, warga desa berhamburan lari menyelamatkan diri. Kebanyakan ke pinggir kali Brantas, atau menyeberang ke wilayah perbatasan di Kabupaten Nganjuk. KH. Wahid Hasyim sering digendong untuk menyelamatkan diri dari kejaran patroli Belanda. Menurut Bpk. KH. Salamun, bila Belanda datang ke Desa Turipinggir dan tidak mendapati warga, Belanda marah-marah sambil merobohkan lemari buku dan membanting buku-buku agama di rumah Bpk. KH. Salamun. 

Akan hal luka di kaki KH A. Wahid Hasyim, menurut penuturan Bpk. Madaim, sembuhnya lama sekali, sampai infeksi (maaf, mborok). Tak pasti apa sebabnya. Ada yang mengatakan karena tersandung benda keras sewaktu lari. Kalau di zaman sekarang,  mungkin beliau ada gejala diabetes. Apabila masuk waktu shalat, KH. A. Wahid Hasyim, menyuruh seorang atau beberapa orang mencarikan debu untuk bertayammum. Nanti beliau pilih debu yang terbaik. Kadang kalau tidak cocok, beliau menyuruh dicarikan lagi debu yang lebih baik. Sering kali, beliau merasa cocok dengan debu yang dicarikan Bapak Madaim. Debu yang terbaik adalah debu dari lumpur kali dari dusun Pulo di tepian Kali Brantas yang sudah mengering.

Dalam sebuah wawancara antara KH. Abdurrahman Wahid (mantan Presiden RI) dengan KH Salamun pada sekitar pertengahan tahun 2002 di  Jl. Wilis, Jombang, di rumah KH. Hasyim Karim dengan didampingi oleh Dr. Drs. Ali  Sukamtono, Msi, (Ketua MWC NU Kec. Megaluh 1991-2002), Bpk. Chudlori Masrur dan KH. Anas Salamun   terjadilah dialog sebagai berikut : 

Gus Dur: Kiai, Bapak saya (KH.A. Wachid Hasyim) kalau ke Turipinggir naik apa?

KH. Salamun : Kadang naik andong (dokar), sambil membawa mesin ketik, tak jarang sewaktu naik andong, beliau menyempatkan diri menulis dengan menggunakan mesin ketik. Kadang juga beliau dibonceng naik sepeda onthel.

Gus Dur : Kiai, Bapak saya kalau ke Turipinggir pakai sandal apa pakai sepatu?

KH. Salamun : Pakai sepatu, ya pakai jas juga.

Gus Dur : Kiai, yang paling digemari Bapak saya kalau makan sukanya pakai lauk apa?

KH. Salamun : Ini Gus, sukanya kalau makan pakai lauk kepala kambing. 

Gus Dur : Siapa yang menemani Bapak saya waktu di Turipinggir?

KH. Salamun : Yang menemani kalau pas Belanda lagi berpatroli  adalah Bpk.  Munandar. Beliau yang menemani KH. A; Wahid Hasyim dengan dibantu beberapa warga, bersembunyi  ke pinggir Kali Brantas, sampai ke Buntu dan Proko (desa tetangga). Sementara kalau keadaan sudah aman, maka yang menemani adalah KH. Salamun. 

Gus Dur :   Kiai, apakah Bapak saya ’wayuh” lagi di Desa Turipinggir? 

KH. Salamun : Mboten pernah Gus.

Gus Dur : Kiai, apa janji KH. A. Wahid Hasyim kepada Kiai?

KH. Salamun :   Beliau berjanji bahwa akan datang kembali ke  ke Desa Turipinggir dengan menaiki kapal muluk (mungkin yang dimaksud helikopter) bila Indonesia sudah merdeka penuh (sayang niatan dan janji  itu tidak pernah kesampaian karena Beliau lebih dulu dipanggil Sang Kekasih dalam sebuah kecelakaan mobil di Kota Cimahi, Bandung pada tanggal 19 April 1953 dalam usia 38 tahun).

Kelak setelah RI mendapatkan kedaulatan penuh dari pemerintah Belanda, beliau menjabat lagi sebagai Menteri Agama pada Kabinet RIS (1949- 1950), Menteri Agama pada Kabinet Natsir (1950- 1951), dan Menteri Agama pada Kabinet Sukiman (1951-1952).    Pada tanggal  24 Agustus 1964, Presiden Sukarno menganugerahkan beliau sebagai  Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Sebuah dipan sebagai tempat tidur dan beristirahat   KH A. Wahid Hasyim di  desa  Turipinggir masih terawat baik hingga  sekarang. Hubungan kekeluargaan antara  Keluarga KH A. Wahid Hasyim dengan keluarga Bpk. Munandar dan masyarakat Turipinggir terpelihara  dengan baik, yaitu dengan hadirnya  Nyai Solichah binti KH. Bisri Syansuri dan puteranya KH Abdurrahman Wahid  pada tahun 1974 sewaktu diundang oleh Bpk. Munandar yang mengadakan hajatan sunatan cucunya   Saifuddin Zuhri. Foto-foto kedatangan beliau berdua terlampir. Bahkan Gus Dur dan Ibunya Nyai Solichah telah dua kali datang ke Desa Turipinggir.

Mishbahus Shudur

Ketua Ta’mir Masjid Baitussalam Turipinggir Periode 2011-2015, dan Dosen Bahasa Arab Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) IKAHA Tebuireng

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Sunnah, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Rabu, 31 Januari 2018

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan

Sejak didirikan tahun 1926, Nahdlatul Ulama langsung menyebar ke banyak wilayah di Nusantara. Para ulama tidak mengalami kesulitan berarti mengajak orang-orang untuk menjunjung tinggi Islam dan berjuang di Nusantara melalui NU. Sebab, para ulama sudah menjalin hubungan melalui para guru atau pesantren.  

Setelah tujuh tahun berdiri, pada tahun 1933 NU sudah berkembang di Kalimantan Timur. Setidaknya bisa dilacak di Kabupaten Brau, 12 jam perjalanan darat ke sebelah utara dari Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur.

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kaltim, Membangun Pendidikan dan Menjaga Kerukunan

Menurut Choirul Anam dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU, faktor utama penerimaan Nusantara terhadap NU adalah karena jauh sebelum NU lahir dalam bentuk jam’iyyah, ia terlebih dahulu ada dan berwujud jama’ah yang terikat kuat oleh aktivitas sosial keagamaan yang mempunyai karakter sama.   

Untuk mengetahui perkembangan NU Kaltim terkini, Abdullah Alawi dari Rohis Tegal - Rohani Islam berhasil mewawancari Ketua PWNU Kalimantan Timur KH Muhammad Rasyid (53 tahun) di sela-sela Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2012 di pesantren Kempek Cirebon paruh September lalu.  

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bapak bisa cerita sejarah NU di Kaltim?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Kita, generasi belakangan tidak terwarisi satu dokumen yang pasti, kapan NU, secara organisasi, berdiri di Kalimantan Timur. Cuma ada data yang saya temukan di Brau itu, salah satu kabupaten, NU sudah ada sejak tahun 1933. Apakah Brau itu lebih duluan dari Samarinda, wallahu ‘alam. Yang di Brau itu dibawa dari Banjarmasin oleh dzuriyah keempat Muhammad Arsyad Al-Banjari. Ia membawa NU ke Brau, kemudian menjadi mufti kerajaan Gunung Tabur di Brau. Itu di utara.

Berapa jauh dari Samarinda?

Perjalanan pesawat terbang satu jam. Kalau darat mungkin 12 jam. Di Samarinda, yang pertama kali secara resmi adalah KH Abdullah Marisi. Beliau Rais pertama wilayah Kalimantan Timur. Kalau ini ada dokumennya. Tapi saya lupa, nanti bisa kita akurkan.  Apakah bersamaan dengan Samarinda? Wallahu ‘alam. Tapi yang kita lihat KH Abdullah Marisi itu. Tetapi tidak berarti semua kabupaten dan kota bisa berdiri secara periodik, walaupun amaliyahnya iya, NU, Aswaja. 

Tapi struktur secara periodik, tidak berarti itu berjalan dengan baik. Keculi pada10 tahun terakhir atau 15 tahun terakhir, cabang-cabang sudah terbentuk semua secara periodik. Artinya, sudah sesuai dengan ketentuan. 15 tahun terakhir. Itu artinya setalah Reformasi.

Penyebabnya apa?

Karena kepengurusan sudah bisa dipilah antara kepengurusan NU dan kepengurusan partai. Dulu kan selalu sejalan antara kepengurusan NU dan partai politik. Maka praktis, 15 tahun yang lalu, struktur kita sudah terbenahi dengan bagus sampai pada tingkat cabang. Sampai pada tingkat kecamatan mungkin 10 tahun terakhir. Sekarang kita sudah masuk ke ranting-ranting. Oke, itu strukturnya.

Bagaimana dengan programnya?

Program NU Kalimantan Timur, tampaknya kita lebih banyak pada konsolidasi supaya terbentuk secara periodik, tidak berarti langsung mulus, karena kelemahan kita adalah pada tingkat SDM. Ada juga problem trauma politik. Selama Orde Baru kan tidak ada pegawai yang berani menamapakkan NU-nya, dan tidak ada pengusaha, aghniya, yang berani terang-terangan mengaku NU karena itu kan berarti mengalami satu kesulitan. 

Ini yang menjadi kendala kita dalam pembentukan kepengurusan NU. Orang yang status sosialnya tinggi akan merasa kesulitan kalau jadi pengurus NU. Ini baru bisa menjadi longgar setelah kembali ke khittah. Baru terasa bahwa sudah ada yang berani mengaku saya NU. Kalau sebelumnya, diam-diam.

Pengaruh Khittah NU?

Iya, pengaruhnya dari situ. Lima tahun setelah khittah, sudah berani pegawai mengatakan “saya NU”. Jadi, memang sangat kuat Pak Harto itu mengeliminir potensi NU. 

Program PWNU yang lain?

Pendidikan kita memang banyak berdiri, tapi tidak memakai nama NU. Saya kira sama dimana-mana, di sini berdiri pondok, di sana berdiri pondok. Itu tokoh-tokoh perorangan, rata-rata kiainya NU. Salah satu contoh misalnya, sekolah yang sangat bagus sekarang di Samarinda adalah Bunga Bangsa. Itu sudah go internasional. Ini miliknya mantan Ketua PWNU. Bukan punyanya NU. Nah, periode yang terakhir, 2008 sampai nanti berakhir tahun 2013 meminta semua cabang memfungsikan lembaga Ma’arif. 

Dan sekarang, dalam periode inilah baru berdiri lembaga-lembaga pendidikan Ma’arif di Kalimantan Timur, walaupun tidak semua kabupaten mampu. Tapi ada, misalnya di kabupaten Nunukan, di wilayah perbatasan sudah berdiri Aliyah. Sudah langsung Ma’arif NU. Di Brau itu ada 3 SMK Ma’arif NU. Dan masyarakat menyambut lulusannya karena dia pariwisata, pertanian. Begitu. 

Di Balikpapan juga sudah berdiri SMK Ma’arif NU. Cuma yang di Balikpapan ini masih numpang di pondoknya Rais Syuriyah. Di Kutai Timur sudah berdiri SMK Ma’arif. Jadi kita mengarahkan ke pendidikan-pendidikan SMK. Kenapa bukan Aliyah? Itu kurang pasarnya. Tapi kesulitannya SMK adalah SDM tenaga pendidik.

Di Samarinda justru mulai dari bawah. Mulai dari RA, TK-nya Muslimat, tapi namanya juga bukan Muslimat. Mereka memakai An-Nisa, itu banyak. Sama dengan di Brau. Itu ada 20 TK. Itu semua punya Muslimat. Kenapa tidak memakai nama Muslimat? Itu karena dari dulu didirikan seperti itu. Juga merupakan satu strategi supaya tidak terlalu kentara NU-nya.

Ya itu tadi karena kondisinya NU pada zaman Orde Baru. Jadi sebelum periode ini, (Reformasi), tidak ada yang memakai nama Ma’arif. Nah, sekarang, di Samarinda sudah ada 13 lembaga Ma’arif. Hanya baru sampai pada tingkat MTs. Dari TK, MI, MTs itu sudah berjumlah 13. Itu pendidikan.

Kemudian pada periode ini kita sudah mampu mendirikan fisiknya, operasional belum; adalah rumah sakit bersalin Muslimat. Belum diresmikan karena bangunannya dirancang tiga lantai, baru selesai dua lantai dan izinnya memang belum keluar. Itu di bidang kesehatan sudah ada itu, rumah sakit bersalin Muslimat NU di Samarinda.

Lalu kemampuan cabang-cabang dalam menampakkan eksistensinya ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan sekretariat yang cukup bagus. Dengan nilai bangunan yang cukup tinggi karena kita sudah bisa membuat akses NU kepada para kepala daerah. Di Kutai Kartanegara, kabupaten yang sangat kaya itu sudah berdiri gedung sekretariat berlantai 3 dan nilainya besar, sekitar 4 milyar. Dari bupati. Jadi kita sudah punya akses seperti itu. Di Bontang juga sudah berdiri yang bagus berlantai tiga. Kemudian Balikpapan sedang membangun, mungkin baru mencapai 80%.

Tapi kenapa lambat? 

Karena mereka membangun terlalu besar. Mereka membuat empat lantai. Di Pasir dua lantai. Di Samarinda akan dibangunkan oleh walikota dengan nilai yang besar dengan syarat menyediakan tanah. Kendalanya di Samarinda tanah. Kenapa? Bangunan-bangunan ini kan wakaf, Kutai itu wakaf, Pasir, wakaf, Balikpapan wakaf. Di Samarinda tidak ada wakaf karena harga mahal.

Nah, itu perkembangannya. Jadi, saya merasa, insya Allah lima tahun lagi, periode ke depan, akan makin banyak kelihatan semakin baik. Jadi, kalau sekarang membenahi struktur, membenahi sarana, kemudian pendidikan. Mungkin lima tahun ke depan sudah lebih mengarah kepada operasional. Maka akan lebih semarak kegiatannya. Januari nanti kita akan konferensi wilayah. Mudah-mudahan kepengurusan yang akan datang,lebih bagus dari yang sekarang. Itu yang kita harapkan.

Apa Kendala-kendala dalam melaksanakan program?

Ada kendala yang sangat dominan yang saya rasa sekarng ini adalah kita tidak lagi memiliki satu semangat yang tingkat ikhlasnya tinggi. Kita sudah terbawa arus "kota" termasuk di kalangan pengurus. Itu kendala yang sangat kita rasakan karena tarik-menarik kepentingan dengan para politisi. Dan semua mengaku NU. Dan kita terbiasa kalau ada kegiatan. Itu yang menjadi masalah.

Upaya untuk menanggulangi itu apa?

Saya kira melalui kaderisasi, pendidikan-pendidikan. Itu yang mungkin harus dilaksanakan periode yang akan datang. Kaderisasi untuk memahamkan bahwa berjuang di NU itu harus lebih ikhlas. Saya sangat merasakan itu. Sulit. Kita dulu biasa bekerja, bergerak, tetap dengan ikhlas. Sekarang kita bekerja dengan memikirkan biayanya mana? Uang jalannya mana? Itu kendala yang paling berat.

Yang kedua, perjuangan kita menjaga netralitas dari berbagai kepentingan ingin menarik NU ke dalam politik. Semua ingin mengatakan NU. Sekarang netralitas itu harus kita jaga. Jangan sampai kepengurusan nanti terpecah karena misalnya ada dua kubu dalam tubuh organisasi yang mendukung dua calon. Ini harus kita jaga betul dengan satu konsekuensi. Konsekuensinya adalah, karena semua orang yang ingin mendekati kita itu adalah ingin memanfaatkan kita. Dan kalau dia berhasil, kita diperhatikan. Kalau dia tidak berhasil, kita tidak diperhatikan. Nah, sekarang kalau kita netral, tidak ada yang menyambut seperti itu. Maka harus ada kemandirian, termasuk dalam pembiayaan.

Ada upaya ke arah itu?

Ada. Seperti yang kami lakukan adalah membentuk badan wakaf uang Nahdlatul Ulama. Sudah berjalan baru setahun lebih.

Bagaimana konsepnya?

Kita minta sumbangan, masuk kepada wakaf dan nanti akan diusahakan. Sekarang nilai wakaf itu sudah ada seratus juta. Baru satu tahun. Nanti hasilnya yang boleh dipakai karena wakaf. Sekarang 50 juta sedang proses membeli tanah untuk plasma kelapa sawit. Tapi baru proses. Sertifikat tanahnya pun belum keluar. Itu sedang kita proses. Nanti kalau dapat, akan ada 10 hektare. Baru tanahnya.

Itu satu. Yang kedua, untuk membiayai lembaga-lembaga pendidikan kita juga setiap tahun mengefektifkan Lazisnu. Itu sebenarnya potensi yang sangat besar. Tapi kita terlambat untuk memulainya. Dan setiap bulan itu sudah masuk, walaupun masih kecil. Tapi yang kita perlukan itu bukan besarnya, tapi rutinitasnya. Laporan terakhir, sampai tiga jutaan per bulan. Per bulan tiga juta itu kecil, tapi ini kan baru memulai. Saya ingin membangun Lazisnu Kalimanatan Timur.

Di Kalimantan Timur, BMH itu punyanya Hidayatullah, itu kan nasional, itu yang terkuat. Mereka sudah membangun sebelas tahun yang lalu. Tidak langsung kuat seperti sekarang. Mungkin baru tahun kelima, keenam, baru kelihatan. Nah, NU baru memulai satu tahun. Saya bilang sama teman-teman. Tiga juta satu bulan, itu awal yang bagus asal nanti bisa naik bisa menjadi empat juta satu bulan, lima juta sebulan. Mungkin pada tahun ketiga akan kelihatan.

Pandangan komunitas-komuntas lain terhadap NU di Kaltim?

Begini, saya pernah didatangi ketua PGI. Dia bilang, “Pak Rasyid, kami dapat pesan dari pusat kami supaya bisa menjalin kerjasama dengan Nahdlatul Ulama”. Itu PGI, Persatuan Gereja-Gereja Indonesia. Saya tanya, “Kenapa ada pesan yang seperti itu?”

Dia menjawab, “Karena pandangan pimpinan kami di Jakarta, yang memiliki wawasan yang memungkinkan bekerjasama hanya NU, yang lain masih sulit kita nilai.”Itu pandangan mereka terhadap NU.

Selama ini, bagaimana kerjasama NU dengan kalangan itu? 

Kerjasamanya sering mengadakan rapat bersama untuk saling menjaga kerukunan bersama. Atau misalnya dalam pendirian rumah ibadah, kami umat Islam dan umat Kristen sepakat sama-sama tunduk dengan keputusan bersama pemerintah dalam pendirian rumah ibadah. 

Kalau sesama ormas Islam, misalnya dengan Muhamadiyah?

Dalam peringatan Hari Besar Islam kita selalu bekerjasama. Yang terlibat misalnya Aisyiyah dan Fatayat atau Muslimat bersama Imam masjid. [] 

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Meme Islam, News, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 15 Januari 2018

PBNU Minta BPJS Tanggung Semua Jenis Penyakit, Termasuk Akibat Rokok

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Bendahara PBNU H Bina Suhendra meminta agar pemerintah menanggung semua jenis penyakit yang diderita oleh masyarakat yang ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), termasuk yang diindikasi akibat merokok.

PBNU Minta BPJS Tanggung Semua Jenis Penyakit, Termasuk Akibat Rokok (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta BPJS Tanggung Semua Jenis Penyakit, Termasuk Akibat Rokok (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta BPJS Tanggung Semua Jenis Penyakit, Termasuk Akibat Rokok

“Penyakit itu tidak ada yang tunggal penyebabnya, sangat kompleks sehingga tidak adil jika masyarakat yang sudah membayar asuransi ini tidak mendapat jaminan,” kata Bina dalam diskusi Kampenye Kondom dan Anti Rokok, Indah tapi Manipulatif? yang diselenggarakan di gedung PBNU, Senin, (16/12).

Sebelumnya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) akan bangkrut bila harus menanggung biaya kesehatan perokok. Perokok dinilai tahu bakal sakit karena kebiasaan yang dilakukannya sendiri secara sadar.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bina, yang merupakan mantan direktur utama perusahaan obat Phapros ini menambahkan, banyak sekali zat yang lebih berbahaya yang dihirup oleh manusia, seperti asap kendaraan, makanan junk food, MSG dan lainnya. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kalau mau dibatasi, ya banyak sekali. Bagaimana dengan orang yang obesitas yang lebih rentan terkena penyakit, bagaimana yang sudah memiliki diabetes,” tanyanya.

KH Arwani Faishal dari Lembaga Bahtsul Masail NU juga menegaskan, prinsip keadilan harus menjadi pegangan pemerintah dalam kebijakan kepada masyarakat. Ia mengungkapkan adanya kaidah fikih Tasharruful imam ala -roiyyah manuthun bil mashlahah, yaitu kebijakan pemerintah harus didasarkan atas prinsip kemaslahatan umum.

“Penderita HIV/AIDS, pengguna Narkoba dan alkohol yang disengaja saja mendapat jaminan kesehatan, apalagi perokok,” tegasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Humor Islam Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 31 Desember 2017

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sebuah laporan terobosan meneliti pengalaman hampir 50 perempuan Inggris dengan melihat aspek umur, etnis, latar belakang dan keyakinan (termasuk penganut ateis) yang menjadi pemeluk Islam diluncurkan oleh Universitas Cambridge beberapa waktu lalu.

Laporan yang dihasilkan oleh Centre of Islamic Studies (CIS) Cambridge ini bekerjasama dengan New Muslims Project, Markfield, menghasilkan temuan menarik tentang pengalaman menjadi pemeluk Islam perempuan Inggris pada abad 21.

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah

Temuan tersebut memberikan sejumlah rekomendasi bagi muallaf sendiri, umat Islam, dan komunitas Inggris secara umum. Laporan setebal 129 halaman ini juga menggarisbawahi adanya masalah sosial, emosional dan kadangkala masalah ekonomi. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pemimpin proyek dan direktur CIS Yasir Suleiman mengatakan “Tema yang selalu muncul dalam laporan adalah kebutuhan untuk peningkatan dukungan bagi para muallaf dan potensi yang mereka miliki agar menjadi kuat dan memiliki pengaruh transformatif pada komunitas Muslim dan masyarakat Inggris secara luas.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Tema yang selalu berulang adalah penolakan secara negatif pada Muslim dan Islam di media Inggris dan apa peran dari komunitas muallaf yang bisa dilakukan dalam membantu memberi keseimbangan.”

Laporan itu berusaha menghilangkan kesalahpahaman dan kekeliruan muallaf perempuan.

Kunci dari penelitian ini adalah perhatian yang tidak proporsional terhadap sejumlah kasus, khususnya perempuan kulit putih yang berpindah menjadi Islam, baik oleh komunitas Muslim maupun non Muslim. 

Sementara itu, muallaf dari Afrika asal Karibia, meskipun merupakan kelompok etnis muallaf terbesar, seringkali diabaikan dan merasa diisolasi, baik oleh kelompok Muslim maupun non-Muslim. 

Suleiman mengatakan, “Muallaf kulit putih seringkali diperlakukan sebagai “piala” bagi Muslim dan sering dimunculkan dalam berbagai komunitas, termasuk di media. Kelompok asal Afrika-Karibia yang menjadi muallaf sebagian besar tak terlihat, tak ada selebrasi dan seringkali tidak diketahui. Mereka merasa seperti minoritas dalam minoritas dan ini harus diatasi. Saya menemukan, bagian ini yang paling sulit.”

Penelitian ini juga mengungkapkan adanya hubungan kompleks antara wanita yang berpindah agama menjadi Islam dan keluarga mereka, mulai dari pengasingan, ketidakpercayaan dan penolakan sampai dengan penerimaan penuh atas keyakinan mereka. Hal ini juga terkait dengan isu seksualitas dan gender, termasuk homoseksualitas, peran tradisional perempuan dan transjender.

Manajer proyek Shahla Suleiman mengatakan “Dengan mempertimbangkan munculnya stereotype dan besarnya gambaran negatif tentang Islam di media dan masyarakat secara umum, dan mempertimbangkan posisi wanita dalam Islam, kami ingin memahami isu paradoks bagaimana perempuan Barat dengan pendidikan tinggi dan sukses secara profesional menjadi Islam.” 

“Basis dari masuknya mereka dalam Islam adalah keyakinan dan spiritualitas –tetapi perpindahan ini juga fenomena sosial yang menjadi politis. Dalam hal ini, perpindahan agama menjadi perhatian siapa saja dalam komunitas.”

“Perdebatan ini baru dimulai dan kami menginginkan memiliki informasi hasil penelitian lebih banyak tentang perpindahan ke Islam yang secara langsung menarik perhatian publik. Perjuangan untuk masa depan yang lebih baik tergantung pada bagaimana mengatasi pengasingan dan perbedaan secara absolut yang didasarkan pada ketidaksukaan ideologis untuk multikulturalitas, bukan hanya multikulturalisme. Ketakutan pada imigran, Islam dan perpindahan agama mewakili prasangka, kekhawatiran, dan ketakutan ras.”

Perpindahan agama ini menimbulkan isu seperti hak-hak perempuan, etika berpakaian dengan isu penggunaan hijab yang didiskusikan dengan sengit. Pandangan umum diantara para muallaf adalah adaptasi bentuk pakaian Barat untuk mengakomodasi nilai-nilai kesopanan dan kesusilaan Islam.

Hak-hak perempuan juga menjadi isu politik dalam komunitas Muslim, sementara para peserta tidak dengan bulat mendukung konsep feminisme sebagaimana didefinisikan oleh Barat, kebutuhan untuk meningkatkan status wanita dalam komunitas Muslim sepenuhnya disadari. Upaya untuk merealisasikan hak-hak tersebut terbukti lebih sulit untuk dicapai. Para peserta sangat kritis terhadap konsep peradilan syariah yang beroperasi di Inggris, terkait adanya potensi yang merugikan hak perempuan. 

Laporan ini mengatakan, “Perpindahan agama ini menantang pandangan rasis yang digambarkan di media tentang Islam karena budaya dan warisan mereka secara intrinsik mencerminkan budaya Inggris.”

“Tetapi kami juga menemukan bahwa tidak seluruh muallaf diterima secara sosial sama di mata Muslim. Muallaf kulit putih diperlakukan lebih baik secara sosial daripada wanita asal Afrika. Juga terdapat persoalan hijab yang menjadi perhatian antara Muslim dan non-Muslim. Terdapat perbedaan antara memakai dengan sukarela dan diwajibkan memakainya, yang menempatkan muallaf dalam kontrol. Hijab merupakan sinyal kesopanan, tetapi tidak dimaksudkan untuk menyembunyikan kecantikan.” (phsy.org/mukafi niam)

Foto: phsy.org

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Anti Hoax, Kyai Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 05 Desember 2017

Sekretaris PD Muhammadiyah Way Kanan Banggakan Banom NU

Way Kanan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sekretaris Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Way Kanan M Thohir di Blambangan Umpu, Lampung, mengaku bangga dengan salah satu Badan Otonom Nahdlatul Ulama, Gerakan Pemuda Ansor, yang mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Sekretaris PD Muhammadiyah Way Kanan Banggakan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekretaris PD Muhammadiyah Way Kanan Banggakan Banom NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekretaris PD Muhammadiyah Way Kanan Banggakan Banom NU

"Saya bangga dengan kalian Ansor dan juga Banser. Kalian benteng terakhir NKRI. Kami berterima kasih kalian hingga saat ini masih aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan," ujar M Thohir pada kegiatan "Riungan (kumpulan) Kebangsaan", Senin (27/7), bertema "Mensinergikan Keberagaman Menumbuhkan Kemanusiaan" di aula Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

Thohir mengapresiasi kegiatan berisi donor darah dan diskusi kebangsaan dengan topik "Masih Perlukah Indonesia Dengan Pancasila?" yang menghadirkan pembicara I Gede Klipz Darmaja dari Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Lampung, lalu Andreas Sugiman dari Pemuda Katolik Way Kanan, dan Ketua PC Lakpesdam Supri Iswan yang dimoderatori oleh Ponita Dewi, Duta Genre (Generasi Berencana) Indonesia 2013 yang juga presenter salah satu televisi di Lampung.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Ke depan kegiatan semacam ini harus ada lagi, kita buat lagi dan kita berdoa agar semakin baik. Tidak menjadi persoalan saya di matahari (Muhammadiyah) dan kalian di bintang (Nahdlatul Ulama). Kita bisa ha ha hi hi (bercengkerama-red) dan bergandengan tangan untuk bangsa," ujar dia lagi.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Senada Thohir, Ketua Komisariat Pemuda Katolik Kabupaten Way Kanan Andreas Sugiman mengapresiasi kegiatan yang merupakan sinergi dan energi cinta untuk bangsa dari Gusdurian Lampung, Alumni BPUN Way Kanan 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Pemuda Katolik, Gerakan Pemuda Ansor, Peradah, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, Palang Merah Indonesia (PMI), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), TP PKK dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) tersebut.

"Ini acara positif. Ini kegiatan yang bermanfaat untuk kita semua. Kami warga gereja menolak kekerasan atas nama agama seperti terjadi beberapa pekan lalu. Pemaknaan Pancasila tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar Kepala Kampung Sriwijaya Kecamatan Blambangan Umpu itu lagi.

Pada kegiatan dihadiri Ketua Dewan Pendidikan Way Kanan Farida Aryani, Ketua Yayasan Shuffah Blambangan Umpu Khairul Huda, Ketua Pergunu Ali Tahan Uji, alumni Sanlat BPUN Way Kanan 2015 dan Kasatkorcab Banser Alex Almukmin beserta jajaran, OSIS dari SMKN1 Blambangan Umpu dan SMAN2 Blambangan Umpu, alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Baradatu, sejumlah anggota Darma Wanita Persatuan Way Kanan, Sugiman membacakan pantun: "Pergi ke pasar bersama dia, jangan lupa membeli pala, kalau bangga sebagai warga negara Indonesia, kita wujudkan nilai-nilai Pancasila," ujar Sugiman yang tercatat sebagai Bendahara Pejuang Siliwangi Kabupaten Way Kanan itu. (Tegar Inartsa Tantra/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Pondok Pesantren, Nasional, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan ikhbar atau mengumumkan bahwa awal Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu bertepatan dengan 21 Juli 2012. Hal ini berdasarkan hasil ru’yatul hilal bil fi’li atau observasi hilal yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah dan sejumlah ahli falak NU di sejumlah titik rukyat di Indonesia.

“Tim rukyatul hilal NU pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2012 M / 29 Sya’ban 1433 H telah melakukan ru’yatul hilal bil fi’li di beberapa lokasi rukyat yang telah ditentukan dan tidak berhasil melihat hilal,” demikian dalam ikhbar PBNU.

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Ikhbarkan Awal Ramadhan Jatuh pada Sabtu

Karena hilal tidak terlihat maka umur bulan Sya’ban 1433 H adalah 30 hari (istikmal). “Atas dasar istikmal dan sesuai dengan pendapat al-madzahib arba’ah, maka dengan ini PBNU mengihbarkan bahwa awal bulan Ramadhan jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012.”

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam surat ikhbar yang ditandatangani KH Ubaidillah Syatori (rais syuriyah), KH Malik Madani (katib aam), KH Said Aqil Siroj (ketua umum tanfidziyah) dan H Marsudi Syuhud (Sekjen) PBNU juga mengimbau umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1433 H dengan penuh keimanan dan keyakinan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Mari menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum kerohanian untuk mensucikan diri dengan meningkatkan ketawqaan dan memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, beribadah dengan penuh kekhusyu’an dan berbagai aktifitas sosial yang bermanfaat,” demikian ikhbar PBNU.

Ikhbar PBNU ini dikeluarkan setelah sidang itsbat atau penetapan awal Ramadhan 1433 H yang dipimpin oleh Menteri Agama Suryadharma Ali di Kantor Kementerian Agama Jakarta telah menetapkan atau itsbat jatuhnya awal Ramadhan.

“Sesuai laporan dan pencermatan telah berkesimpulan bahwa hilal tidak bisa dilihat oleh karenanya 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012 M,” demikian disampaikan Menteri Agama.

Pada saat berita ini diturunkan, sidang itsbat masih sedang mendengarkan berbagai pendapat dari para peserta sidang dari berbagai ormas Islam dan para ahli falak dan astronomi.

Penulis: A. Khoirul Anam

 

 





Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Khutbah, Pertandingan, Ahlussunnah Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock