Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Ingat Sides, Ingat Satu Kalimat

Saya bertemu Sides Sudyarto DS tanggal 9 bulan Juni tahun lalu. Pertemuan pertama itu rupanya yang terakhir pula. Pertemuan tersebut berlangsung saat Lesbumi meluncurkan buku antologi puisi Negeri Cincin Api, di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pada kesempatan itu, Sides didaulat sebagai salah seorang pembedah. Sayangnya saya datang terlambat, jadi tak menyimak dari awal. Tapi saya sempat melihat dia menyampaikan bahasa dan manusia sambil berdiri. Nada suaranya tinggi. Padahal usianya tak muda lagi.

Ingat Sides, Ingat Satu Kalimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingat Sides, Ingat Satu Kalimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingat Sides, Ingat Satu Kalimat

Kendati demikian, saya bisa mendengar ia mengutip Richard Rorty bahwa peran filsuf sekarang digantikan sastrawan. Kemudian ia mempertanyakannya, apakah pernyataan filsuf posmodern itu masih berlaku sekarang ini?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Bisa iya, bisa tidak. Bisa iya dengan dua sayarat. Pertama, sastrawan harus mengenal filsafat secara signifikan. Kedua, sastrawan harus memiliki integritas moral tinggi terhadap manusia dan dunianya.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan sastrawan di Indonesia? Apakah sesuai dengan yang dikatakan Rorty?

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sides menjelaskan sendiri dengan menyatakan, “Seandainya Rorty sempat mendengar nasib sastra Indonesia, pastilah ia bakal kecewa. Atau sambil senyum getir, ia akan merevisi ucapannya sendiri. Sastra Indonesia modern mengalami khaos berkepanjangan. Karya sastra mengalami khaos karena kritik sastra sudah mengalami khaos terlebihdahulu. Akibatnya, sekarang ini terlampau banyak puisi yang juga mengalami khaos,” katanya.

Menurut Sides, sastrawan kita tidak bisa mungkin menggantikan peran fillsuf karena umunya menganggap bahwa filsafat berada di luar areal pemikiran filosofis. Anehnya pula, filsafat masih merupakan barang lux bagi kebanyakan sastrawan kita.

Tidak hanya itu, sastrawan kita tidak memiliki spirit untuk mendorong masyarakat berevolusi menjadi makhluk budaya, makhluk yang bermoral. Sudah lama puisi-puisi lahir hanya untuk menunjukkan kedangkalan makna yang jauh dari etika dan estetika.

Selepas acara, saya mendatanginya. Saya bertanya, apa yang mesti dilakukan Nahdlatul Ulama terkait kebudayaan.

“Garis perjuangan NU sudah tepat. Tinggal praktiknya. Dulu, ketika NU jadi parpol, berperan banyak untuk bangsa. Peran NU sekarang harus memperkuat kebudayaan. Memperkuat berarti menyelamatkan. Menyelamatkan kebudayaan berarti menyelamatkan manusianya itu sendiri dari bahaya dan ancaman yang bisa memusnahkan manusia dan kemanusiaan.”

Baginya, NU punya potensi besar untuk menjalankan pendapatnya itu. Makanya, ia tak ragu menjadi salah seorang pengurus di Lesbumi, sebuah organisasi kebudayaan NU yang lahir tahun 1962.

“Saya orang Lesbumi, kalau tidak percaya, saya tunjukkan SK-nya,” katanya tegas.

Sejak pertemuan itu, saya tidak pernah komunikasi dengan sastrawan kelahiran Tegal, Jawa Tengah, tanggal 14 Juli 1942. Jangankan saya, Lesbumi saja tidak banyak mengingat Sides yang notebene adalah aktivisnya. Ini tentu kesedihan Sides, kesedihan kita semua.

***

Beberapa bulan lalu, saya melihat akun Facebook Naning Pranoto memosting buku terbaru Sides. Langsung saya kirim inbox, menanyakan bagaimana cara mendapatkan buku itu. Ia tak menjawab.

Hingga suatu waktu dia menanyakan, kenapa kamu menginginkan buku itu? Kemudian saya bercerita.

Saya mengetahui Sides ketika di sekolah Madrasah Diniyah Awaliyah (sekarang Madrasah Diniyah Takmiliyah) Miftahul Aulad, di kampung saya. Ketika samenan atau kenaikan kelas, salah seorang teman membacakan puisi. Pada pembacaan puisi itu dia menyebut nama pahlawan sebagai judul dan nama penulis Sides Sudyarto DS. Di kemudian hari, teman saya tahu ternyata bersumber dari Pahlawan dalam Puisi.

Kemudian akun itu off. Di lain kesempatan, akun itu menanyakan, alamat dan nomor kontak saya. Kemudian saya kirim alamat Rohis Tegal - Rohani Islam.

***

Tanggal 27 September siang, saya ditelepon nomor tak dikenal. Ternyata Sides Sudyarto DS. Ia mengatakan, jika ingin buku Kritik Atas Puisi Indonesia, segeralah main ke rumahnya. Saya mengiyakan, tapi menunda-nunda.

Hari Selasa tanggal 9 Oktober lalu, Hamzah Sahal melemparkan dua bungkusan. Satu ditujukan untuk saya, sisanya untuk teman. Saya timang bungkusan untuk saya. Di amplop itu terdapat nama Naning Pranoto sebagai pengirim. Saya langsung ingat, janji silaturahim ke Pak Sides belum dipenuhi.

Ketika dibuka, bungkusan berisi buku Kritik Atas Puisi Indonesia. Lima belas menit kemudian, ponsel saya bergetar, seorang sahabat menanyakan, apa betul Pak Sides wafat? 

Betul, ia sudah wafat. Dan saya langsung ingat satu kalimat darinya, yang sepertinya jadi wasiat (buat aktivis NU), "Peran NU sekarang harus memperkuat kebudayaan." (Abdullah Alawi, Wartawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kyai, Anti Hoax Rohis Tegal - Rohani Islam

Selasa, 06 Februari 2018

Fasilitator Asyik Itu Gus Dur

Bandarlampung, Rohis Tegal - Rohani Islam. Direktur Pusat Pemberdayaan Komunitas (Pusdakota) Universitas Surabaya Cahyo Suryanto menyarankan fasilitator meniru KH Abdurahman Wahid yang cepat menangkap kebutuhan forum. Menurut Cahyo, Gus Dur dalam forum pelatihan lebih memudahkan peserta melalui penyampaian materinya yang khas.

Fasilitator Asyik Itu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Fasilitator Asyik Itu Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Fasilitator Asyik Itu Gus Dur

“Saya diminta berbicara apa?” kata Cahyo menceritakan kalimat pembuka yang dilontarkan Gus Dur dalam mengawali sebuah forum nasional.

Cahyo menjelaskan, kehadiran fasilitator itu mestinya membuat sebuah persoalan menjadi mudah. Pada pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas kepemimpinan sipil dan demokrasi, Cahyo menyayangkan gaya fasilitator yang mengawali sebuah forum dengan memberondong para hadirin dengan banyak pernyataan dan sekelumit data menjemukan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Narasumber dan fasilitator hebat justru mengawali pertemuan atau apa yang akan difasilitasinya dengan pertanyaan seperti Gus Dur itu, bukan pernyataan apalagi data-data rumit,” kata Cahyo pada pelatihan Civic Education for Future Indonesia Leaders (CEFIL) digelar Yayasan Satu Nama di Griya Inayah, Bandarlampung, Kamis (8/5).

Rohis Tegal - Rohani Islam

Di hadapan para aktivis, pegiat HAM, pekerja sosial, dan praktisi media Lampung yang mengikuti kegiatan itu, ia menekankan pentingnya kalimat pembuka. Sentuhan pertama kali penting. Fasilitator harus bisa memberikan energi pada setiap kata sehingga kata benar-benar bertenaga di telinga pendengar.

"Fasilitator bukan staf ahli, bukan pula pakar yang membuat persoalan menjadi sukar. Fasilitator itu pemudah cara. Karena itu sederhana saja, ikuti Gus Dur. Untuk mengetahui persoalan, ia masuk dengan sebuah pertanyaan, bukan pernyataan," tandas Cahyo. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian, Kyai, Ulama Rohis Tegal - Rohani Islam

Senin, 15 Januari 2018

Pelajar NU Harus Inovatif Agar Tetap Jadi Kebanggaan

Jombang, Rohis Tegal - Rohani Islam. Ada nuansa berbeda pada kegiatan Halal Bihalal yang digagas PC IPNU dan IPPNU Jombang, Jumat (14/8) petang. Tidak hanya diisi dengan saling memaafkan, juga sejumlah motivasi dari para senior yang hadir di kediaman KH Taufiq Djalil, Mojokrapat Tembelang Jombang Jawa Timur.

Pelajar NU Harus Inovatif Agar Tetap Jadi Kebanggaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Inovatif Agar Tetap Jadi Kebanggaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Inovatif Agar Tetap Jadi Kebanggaan

Salah satunya adalah harapan dari Nyai Hj Mundjidah Wahab. Ketua PC IPPNU Jombang tahun 1967 hingga 1968 ini bercerita bahwa saat periodenya telah memiliki grup drum band yang disegani di kota santri ini. "Silakan dibayangkan, tahun segitu kami sudah memiliki grup drum band sendiri," kata Wakil Bupati Jombang ini yang disambut aplaus hadirin.

Dengan prestasi tersebut, maka setiap ada kegiatan NU selalu dinanti masyarakat. "Keberadaan drum band Fatayat NU Jombang menjadi kebanggaan bagi warga dan pengurus, juga masyarakat," terangnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

"Kalau dulu saja kita bisa memiliki grup drum band sendiri, masak kepengurusan IPNU dan IPPNU saat ini tidak bisa?" katanya sembari menantang. Bu Nyai Mundjidah tidak mempermasalahkan kalau IPNU dan IPPNU masih mempertahankan kesenian hadrah hingga saat ini. "Tapi tolong, ada inovasi agar IPNU dan IPPNU tetap bisa menjadi kebanggaan," harapnya.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Putri pahlawan nasional KH Abdul Wahab Chasbullah ini juga mengakui bahwa, banyak pengalaman yang didapat selama berkhidmat di IPPNU. "Saya jadi anggota dewan dari mulai tingkat Jombang hingga propinsi, semuanya berkat pengalaman selama aktif sebagai anggota dan pengurus IPPNU," terangnya.

Salah seorang senior IPNU, Drs H Ahmad Heri juga memberikan semangat kepada para pengurus untuk terus berkhidmat kepada NU. "Saya siap mendampingi rekan dan rekanita untuk berkhidmat kepada bangsa dan negara lewat kegiatan yang bermanfaat bagi umat," kata anggota DPRD Jatim ini.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah senior PC IPNU dan IPPNU Jombang lintas generasi. Bahkan rekanita Lilik Maslamah telah mempersiapkan buku profil para ketua PC IPPNU Jombang dari angkatan pertama. "Semoga buku yang sedang kami susun itu bisa terbit sebelum Konferensi PC IPNU dan IPPNU Jombang, Desember mendatang," kata Ketua PC IPPNU tahun 2004 ini.

Acara yang dipandu oleh Rojiful Mamduh ini juga memberikan kesempatan kepada Abdul Rosyid, Ketua PC IPNU Jombang untuk memberikan penjelasan terkait kondisi kepengurusan saat ini. Termasuk konsekwensi dari pembatasan usia yang diputuskan pada Muktamar ke-33 NU. Kegiatan dipungkasi dengan saling bersalaman. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kyai Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 07 Januari 2018

Gus Dur, Pembangun Kepercayaan Masyarakat Papua

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Persoalan Papua yang pertama dan utama adalah persoalan politik. Adapun permasalahan-permasalahan lain seperti ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya itu hanya bersifat sekunder. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan permasalahan Papua maka harus menggunakan pendekatan politik yang tepat.

Gus Dur, Pembangun Kepercayaan Masyarakat Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur, Pembangun Kepercayaan Masyarakat Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur, Pembangun Kepercayaan Masyarakat Papua

Demikian disampaikan Menteri Negara Percepatan Kawasan Timur Indonesia era Presiden Megawati, Manuel Kaisiepo, saat diskusi dengan tema Gus Dur, Papua, dan Paradigma Pembangunan di Jakarta, Rabu (26/7).

Ia menjelaskan, persoalan politik Papua tersebut setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, Integrasi Papua ke wilayah Indonesia baru terjadi pada tahun 1963. Maka dari itu, ada semacam pikiran bahwa Papua tidak mengalami perjuangan bersama dengan masyarakat Indonesia lainnya. 

Kedua, kekerasan yang terjadi pada masa Orde Baru. Manuel menyebutkan, pada zaman Orde Baru Papua diperlakukan sebagai daerah militer. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Kekerasan militer yang luar biasa. Itu yang terjadi. Itu membawa penderitaan, kekecewaan yang ikut dalam alam pikiran masyarakat Papua,” urainya.

Selain itu, pembangunan yang di bumi Cendrawasih itu dinilai sangat eksploitatif terhadap alam Papua. Oleh sebab itu, berbagai perlakuan dan kekerasan yang terjadi selama masa Orde Baru membuat masyarakat Papua tidak percaya dengan pemerintah yang ada.  

Lebih jauh, Manuel mengaku sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menjadikan KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid sebagai Presiden Indonesia. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Hal itu disebabkan karena Gus Dur lah yang telah membangun kepercayaan masyarakat Papua dengan kebijakan yang dikeluarkan dan pendekatan yang dilakukan Gus Dur kepada masyarakat Papua. 

Menurut dia, hal pertama yang mesti dibangun adalah kepercayaan masyarakat Papua terhadap pemerintah. Karena itu tidak dilakukan, maka apapun pembangunannya akan sia-sia. 

“Yang harus dibangun pertama-tama adalah rasa percaya. Dan tokoh dibalik trust building adalah Abdurrahman Wahid. Beliau memiliki pendekatan dengan semua orang Papua di luar jalur formal. Beliau punya nomer-nomer hp-nya,” ungkapnya.

Diantara hal yang dilakukan Gus Dur untuk membangun kepercayaan masyarakat Papua, lanjut Manuel, adalah mengganti nama Irian dengan Papua, ikut merayakan Natal di Papua, dan mengakomodir kepentingan rakyat Papua. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kyai, Habib, Hadits Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 31 Desember 2017

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam. Sebuah laporan terobosan meneliti pengalaman hampir 50 perempuan Inggris dengan melihat aspek umur, etnis, latar belakang dan keyakinan (termasuk penganut ateis) yang menjadi pemeluk Islam diluncurkan oleh Universitas Cambridge beberapa waktu lalu.

Laporan yang dihasilkan oleh Centre of Islamic Studies (CIS) Cambridge ini bekerjasama dengan New Muslims Project, Markfield, menghasilkan temuan menarik tentang pengalaman menjadi pemeluk Islam perempuan Inggris pada abad 21.

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Cambridge Teliti Muallaf Muslimah

Temuan tersebut memberikan sejumlah rekomendasi bagi muallaf sendiri, umat Islam, dan komunitas Inggris secara umum. Laporan setebal 129 halaman ini juga menggarisbawahi adanya masalah sosial, emosional dan kadangkala masalah ekonomi. 

Rohis Tegal - Rohani Islam

Pemimpin proyek dan direktur CIS Yasir Suleiman mengatakan “Tema yang selalu muncul dalam laporan adalah kebutuhan untuk peningkatan dukungan bagi para muallaf dan potensi yang mereka miliki agar menjadi kuat dan memiliki pengaruh transformatif pada komunitas Muslim dan masyarakat Inggris secara luas.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Tema yang selalu berulang adalah penolakan secara negatif pada Muslim dan Islam di media Inggris dan apa peran dari komunitas muallaf yang bisa dilakukan dalam membantu memberi keseimbangan.”

Laporan itu berusaha menghilangkan kesalahpahaman dan kekeliruan muallaf perempuan.

Kunci dari penelitian ini adalah perhatian yang tidak proporsional terhadap sejumlah kasus, khususnya perempuan kulit putih yang berpindah menjadi Islam, baik oleh komunitas Muslim maupun non Muslim. 

Sementara itu, muallaf dari Afrika asal Karibia, meskipun merupakan kelompok etnis muallaf terbesar, seringkali diabaikan dan merasa diisolasi, baik oleh kelompok Muslim maupun non-Muslim. 

Suleiman mengatakan, “Muallaf kulit putih seringkali diperlakukan sebagai “piala” bagi Muslim dan sering dimunculkan dalam berbagai komunitas, termasuk di media. Kelompok asal Afrika-Karibia yang menjadi muallaf sebagian besar tak terlihat, tak ada selebrasi dan seringkali tidak diketahui. Mereka merasa seperti minoritas dalam minoritas dan ini harus diatasi. Saya menemukan, bagian ini yang paling sulit.”

Penelitian ini juga mengungkapkan adanya hubungan kompleks antara wanita yang berpindah agama menjadi Islam dan keluarga mereka, mulai dari pengasingan, ketidakpercayaan dan penolakan sampai dengan penerimaan penuh atas keyakinan mereka. Hal ini juga terkait dengan isu seksualitas dan gender, termasuk homoseksualitas, peran tradisional perempuan dan transjender.

Manajer proyek Shahla Suleiman mengatakan “Dengan mempertimbangkan munculnya stereotype dan besarnya gambaran negatif tentang Islam di media dan masyarakat secara umum, dan mempertimbangkan posisi wanita dalam Islam, kami ingin memahami isu paradoks bagaimana perempuan Barat dengan pendidikan tinggi dan sukses secara profesional menjadi Islam.” 

“Basis dari masuknya mereka dalam Islam adalah keyakinan dan spiritualitas –tetapi perpindahan ini juga fenomena sosial yang menjadi politis. Dalam hal ini, perpindahan agama menjadi perhatian siapa saja dalam komunitas.”

“Perdebatan ini baru dimulai dan kami menginginkan memiliki informasi hasil penelitian lebih banyak tentang perpindahan ke Islam yang secara langsung menarik perhatian publik. Perjuangan untuk masa depan yang lebih baik tergantung pada bagaimana mengatasi pengasingan dan perbedaan secara absolut yang didasarkan pada ketidaksukaan ideologis untuk multikulturalitas, bukan hanya multikulturalisme. Ketakutan pada imigran, Islam dan perpindahan agama mewakili prasangka, kekhawatiran, dan ketakutan ras.”

Perpindahan agama ini menimbulkan isu seperti hak-hak perempuan, etika berpakaian dengan isu penggunaan hijab yang didiskusikan dengan sengit. Pandangan umum diantara para muallaf adalah adaptasi bentuk pakaian Barat untuk mengakomodasi nilai-nilai kesopanan dan kesusilaan Islam.

Hak-hak perempuan juga menjadi isu politik dalam komunitas Muslim, sementara para peserta tidak dengan bulat mendukung konsep feminisme sebagaimana didefinisikan oleh Barat, kebutuhan untuk meningkatkan status wanita dalam komunitas Muslim sepenuhnya disadari. Upaya untuk merealisasikan hak-hak tersebut terbukti lebih sulit untuk dicapai. Para peserta sangat kritis terhadap konsep peradilan syariah yang beroperasi di Inggris, terkait adanya potensi yang merugikan hak perempuan. 

Laporan ini mengatakan, “Perpindahan agama ini menantang pandangan rasis yang digambarkan di media tentang Islam karena budaya dan warisan mereka secara intrinsik mencerminkan budaya Inggris.”

“Tetapi kami juga menemukan bahwa tidak seluruh muallaf diterima secara sosial sama di mata Muslim. Muallaf kulit putih diperlakukan lebih baik secara sosial daripada wanita asal Afrika. Juga terdapat persoalan hijab yang menjadi perhatian antara Muslim dan non-Muslim. Terdapat perbedaan antara memakai dengan sukarela dan diwajibkan memakainya, yang menempatkan muallaf dalam kontrol. Hijab merupakan sinyal kesopanan, tetapi tidak dimaksudkan untuk menyembunyikan kecantikan.” (phsy.org/mukafi niam)

Foto: phsy.org

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Ahlussunnah, Anti Hoax, Kyai Rohis Tegal - Rohani Islam

Minggu, 03 Desember 2017

NU Kenalkan Kesaktian Pancasila ke Ulama Mancanegara

Jakarta, Rohis Tegal - Rohani Islam

Nahdlatul Ulama memanfaatkan forum International Summit of Moderate Islamic Leaders (Isomil) atau pertemuan internasional para pemimpin Islam moderat di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (9/5), untuk menjelaskan pengalaman Indonesia dalam memadukan agama dan nasionalisme.

NU Kenalkan Kesaktian Pancasila ke Ulama Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kenalkan Kesaktian Pancasila ke Ulama Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kenalkan Kesaktian Pancasila ke Ulama Mancanegara

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, jangkar yang mempertemuan agama dan rasa kebangsaan di Indonesia adalah Pancasila. Ia lantas membacakan satu persatu dari lima butir  Pancasila di hadapan para delegasi dari berbagai negara.

Melalui Pancasila, kata pria yang biasa dipanggil Kang Said ini, Indonesia menyatukan antara yang ketuhanan dan yang kemasyarakatan, sesuatu konsep yang mungkin tak terpikirkan oleh orang-orang Barat.

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Berbeda dari pandangan orang-orang Eropa  yang gagal memahami iman, agama, dan keadilan sosial yang menurut mereka tidak dapat dipersatukan sama sekali, mayoritas bangsa Indonesia memahami bahwa iman kepada Allah menyatu dengan keadilan sosial. Atas dasar itu, meskipun Indonesia bukan negara agama tetapi ia adalah negara beragama, sebuah negara yang menghimpun orang-orang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Kiai asal Cirebon ini mengibaratkan Pancasila sebagai jangkar bagi kapal Indonesia yang ditumpangi 248 juta jiwa dengan berbagai etnik dan latar belakang agama yang berbeda. Para ulama NU, tambahnya, memandang Pancasila sesuatu yang final, tidak bisa menggantikan posisi agama, tapi juga tidak bertentangan dengan agama.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Dalam kesempatan itu, Kang Said juga mengenalkan pemikiran Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari tentang Islam dan cinta tanah air. Menurutnya, Hadratussyekh menempatkan Indonesia sebagai rumah yang harus dijaga karena menentukan keberlangsungan menjalankan syariat secara aman.

“Pancasila tidak menghilangkan Islam tapi justru menyuburkannya,” ujarnya.

Isomil yang dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla dihadiri para ulama dari berbagai negara, antara lain Sudan, Libia, Aljazair, India, Rusia, Maroko, Thailand, Inggris, Senegal, Lithuania, Spanyol, Yunani, Korea Selatan, Yordan, Pakistan, Malaysia, Tunisia, Saudi Arabia, dan lain-lain. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kajian Islam, Kyai Rohis Tegal - Rohani Islam

Peringati Hari Pahlawan, LAZISNU Tangsel Adakan Santunan Anak Yatim

Tangerang Selatan, Rohis Tegal - Rohani Islam. Menyambut dan memperingati Hari Pahlawan 10 November, NU Care-LAZISNU Tangerang Selatan menggelar acara “Santunan dan Makan Bersama dengan Anak Yatim”. Kegiatan dijadwalkan dilaksanakan pada Ahad, 13 November 2016 di Restauran McD Perempatan Duren, Tangerang Selatan.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenang jasa dan peran para pahlawan dengan semangat berbagi, beramal dan berbahagia bersama anak yatim,” tutur Ketua Panitia Rizky Subagia, saat dihubungi Rohis Tegal - Rohani Islam, Selasa (2/11) malam.

Peringati Hari Pahlawan, LAZISNU Tangsel Adakan Santunan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Pahlawan, LAZISNU Tangsel Adakan Santunan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Pahlawan, LAZISNU Tangsel Adakan Santunan Anak Yatim

Rizky menambahkan sasaran peserta kegiatan ini adalah anak yatim berusia di bawah 12 tahun atau mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Rizky menyampaikan, untuk para Donatur yang ingin ikut berbagi kebahagian bersama dalam kegiatan tersebut, Panitia menyediakan Paket Infaq sekaligus undangan menghadiri kegiatan.?

Rohis Tegal - Rohani Islam

“Ada tiga Paket Infaq yang disediakan Panitia. Para Donatur dapat memilih salah satu dari Paket-paket Infaq yang kami sediakan,” lanjut Rizky.

Ada pun Paket Infaq yang dapat dipilih adalah:

Paket Infaq 1 dengan menyumbang senilai Rp. 75.000 (Tujuh puluh lima ribu rupiah). Dengan mengambil paket ini, donatur dapat mengikuti kegiatan makan bersama dengan anak yatim di lokasi kegiatan.

Paket Infaq 2 senilai Rp. 125. 000 (Seratus dua puluh lima ribu rupiah), yang akan memungkinkan para Donatur makan bersama dengan anak yatim, dan pemberian goodie bag berupa seperangkat alat tulis untuk anak yatim.?

Paket Infaq 3 senilai Rp. 200.000 (Dua ratus ribu rupiah). Donatur akan makan bersama dengan anak yatim, pemberian goodie bag berupa seperangkat alat tulis, dan pemberian uang santunan.

Rohis Tegal - Rohani Islam

Sebanyak minimal 100 anak yatim ditargetkan akan terlibat dalam kegiatan ini. Paniti membuka layanan informasi dan pendaftaran Donatur melalui Kantor NU-Care Tangerang Selatan di nomor 081313165757 dan Rizky Subagia di nomor kontak 085730449167. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Rohis Tegal - Rohani Islam Kyai, Pemurnian Aqidah Rohis Tegal - Rohani Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Rohis Tegal - Rohani Islam sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Rohis Tegal - Rohani Islam. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Rohis Tegal - Rohani Islam dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock